Tampilkan postingan dengan label REFLEKSI IMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REFLEKSI IMAN. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 September 2013
KOPI Rp 2000 AJA ENAK KOK.....
“Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10)
Banyak orang Katolik yang terpengaruh oleh teologi sukses sering mengatakan bahwa jika kita dekat dengan Tuhan maka Dia akan melimpahkan segalanya. Dasar argumen mereka adalah ayat di atas dan masih banyak ayat lain terutama dalam Perjanjian Lama. Teologi sukses memang menekankan adanya imbalan dari Allah berupa materi bagi siapa saja yang dekat denganNya. Mereka juga mengatakan bahwa bila kita memberi untuk Allah maka akan mendapatkan ganti 100 kali lipat. Atau jika mereka terus berdoa maka Allah akan memberikan apa yang mereka butuhkan secara berkelimpahan. Pendek kata semua ditekankan pada pemenuhan kehidupan duniawi.
Banyak teolog yang sudah menyanggah ajaran teologi sukses, sebab ada jutaan orang pengikut Kristus yang hidup dalam kemiskinan dan penindasan. Jika pengikut Kristus pasti kaya atau mendapat kelimpahan dari Allah, maka akan ada jutaan pengikut Kristus yang kecewa, sebab mereka masih berada dibawah garis kemiskinan. Dulu salah satu yang membuat Karl Marx jengkel dengan ajaran agama adalah agama dianggap telah menina bobokkan umatnya dengan janji-janji kebahagiaan di surga meski di dunia ini menderita. Baginya kemakmuran harus dirasakan oleh rakyat saat ini di dunia. Bukan nanti setelah mati. Kesejahteraan hanya dapat diraih melalui revolusi dimana rakyat berkuasa dan semua kekayaan dibagi rata. Maka dia mengatakan agama adalah candu bagi masyarakat. Suatu bentuk peninabobokan masyarakat akan situasi hidupnya yang menderita sehingga para kapitalis tetap dapat hidup tenang.
Aku bukan pengikut Karl Marx juga bukan pengikut teologi sukses. Aku percaya bahwa orang yang dekat dengan Allah maka dia akan mendapatkan kelimpahan. Hal ini bukan berarti bahwa dengan beriman aku akan mendapatkan kekayaan berlimpah seperti ajaran para penganut teologi sukses. Iman bukan untuk mencari kekayaan. Tetapi aku juga tidak percaya bahwa janji Allah hanya dipenuhi pada saat setelah mati, sebab ajaran agama bukan hanya untuk hidup setelah mati, tetapi juga saat hidup di dunia ini. Kelimpahan dari Allah harus sudah aku rasakan saat ini.
Menurutku jika orang dekat dengan Allah maka dia akan mensyukuri segala sesuatu yang dia terima dari Allah. Dia bersyukur ketika hujan. Dia juga bersyukur ketika panas. Dia bersyukur atas semua penghasilan yang diterimanya hari ini. Jika hari ini mendapat Rp 10.000 dia akan bersyukur, tetapi dia akan terus berjuang bagaimana caranya agar mendapatkan Rp 15.000. Tidak berhenti dengan apa yang diperolehnya saat ini. Bersyukur itu bukan hanya pasif atau menerima begitu saja situasi dan kondisi hidup kita dengan mimpi bahwa suatu saat kita akan mendapat kelimpahan dari Allah. Bersyukur itu tetap menuntut kita untuk aktif berjuang keluar dari situasi hidup yang kurang bagus. Apapun hasil dari perjuangan ini kita syukuri sebagai berkat Allah yang berlimpah dalam hidup kita, sehingga kita tidak mudah protes atau mengeluh.
Dengan dekat dengan Allah maka kita akan melihat bahwa segala yang kita terima saat ini adalah berkat yang berlimpah dari Allah meski mungkin itu hanya kopi seharga Rp 2000 saja. Semua hal meski sederhana akan kita terima dengan penuh syukur bila kita melihatnya sebagai berkat dari Allah. Kedekatan dengan Allah membuat hidup kita penuh kelimpahan bukan diartikan bahwa kita akan menjadi kaya raya tetapi kita bisa melihat semua yang kita alami, hadapi, terima, nikmati dan sebagainya sebagai berkat dari Allah yang berlimpah dalam hidup kita.
Rabu, 19 Januari 2011
KENIKMATAN DAN KEMEWAHAN
Sepasang suami istri datang padaku menceritakan anaknya. Dengan sedih mereka bercerita bahwa anaknya sering kali enggan ke sekolah bila tidak diberi uang saku atau sepeda motor dipakai oleh ayahnya sehingga dia harus naik kendaraan umum. Mereka menceritakan bahwa situasi ekonomi mereka saat ini sedang sulit. Bila mereka mempunyai uang tentu akan memberi uang saku. Mereka tahu beratnya sekolah saat ini. Tapi saat ini mereka sedang mengalami krisis keuangan, sehingga harus mengatur pengeluaran sedemikian ketat agar penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Maka mereka meminta agar aku berusaha menasehati anaknya. Aku kenal dengan anak ini dan kurasa dia anak yang baik. Maka aku berjanji kepada mereka akan mengajak bicara anaknya.
Pada jaman ini memang sangat kuat ajaran tentang kenikmatan dan kemewahan. Kita setiap saat ditawari untuk meraih segala kenikmatan dan kemewahan. Entah berapa kali ada orang yang menawari kartu kredit, baik melalui telepon, ketika di rumah makan, ruang tunggu bandara dan sebagainya. Mereka mengatakan dengan kartu kredit kita bisa membeli barang dengan mudah atau bila kehabisan uang dapat mendapatkan uang dengan mudah. Mengurus untuk mendapatkan kartu kredit pun tidak sulit dan berbelit. Apalagi orang yang menawarkan sangat pandai membujuk, sehingga banyak orang tertarik akan kemudahan kartu kredit tanpa berpikir tentang resiko bunga akibat pemakaian kartu itu. Maka tidak jarang orang terbelit hutang akibat kartu kredit.
Kuatnya keinginan hidup mewah dan penuh kemudahan telah merasuk dalam diri sehingga menghilangkan semangat untuk berjuang. Anak pasangan suami istri itu marah bila pergi ke sekolah harus naik angkutan umum. Dia tidak ingin susah harus menunggu angkutan umum, duduk berdesakan dan sebagainya. Padahal masih banyak anak yang pergi ke sekolah harus jalan kaki beberapa kilometer. Masih banyak anak yang pergi ke sekolah tanpa makan pagi dan uang saku. Aku pun dulu pergi ke sekolah harus berjalan kaki dan jarang sekali mendapat uang saku. Saat itu aku sangat senang sebab dapat sekolah di sekolah yang cukup bagus. Memang tawaran kenikmatan dan kemewahan pada jaman itu masih belum sekuat saat ini, sehingga tidak ada godaan yang cukup kuat untuk menikmati segalanya.
Keinginan untuk merasakan kenikmatan dan kemewahan juga sudah masuk dalam kehidupan beragama. Banyak umat yang pindah ke gereja lain sebab disana ada AC, musik yang bagus, ruang yang nyaman dan sebagainya. Mereka ke gereja bukan hanya mencari Yesus melainkan Yesus yang ada dalam kemewahan dan kenikmatan. Maka gereja-gereja pun berlomba menawarkan aneka kenikmatan. Bahkan para pemimpin agama pun berlomba untuk mengejar kenikmatan dan kemewahan, sehingga melupakan perjuangan dan kesederhanaan. Ada pemimpin Gereja yang selalu minta dijemput pakai mobil bila hendak melayani umat. Ada yang menumpuk berbagai barang yang membuat hidupnya nyaman. Bahkan ada pula pemimpin Gereja yang menawari kenikmatan dan kemewahan kepada orang untuk menarik mereka menjadi anggotanya.
Kuatnya tawaran kenikmatan dan kemewahan itu menyebabkan orang kehilangan arah hidup. Korupsi disebabkan orang ingin mengejar kenikmatan tanpa harus bekerja keras. Kasus jual beli nilai di sekolah atau les pada guru yang dapat memberikan soal ulangan sebelum ulangan dilaksanakan. Kasus pemimpin Gereja yang lebih suka melayani umat yang dapat memberikan kenikmatan sehingga dia meninggalkan tempat tugasnya atau menjauh dari orang miskin dan masih banyak lagi contoh lainnya. Untuk itu perlu ditumbuhkan dalam diri kita semangat berjuang. Keberanian untuk mati raga yaitu mengendalikan diri agar tidak tergoda aneka tawaran yang menggiurkan. Keberanian hidup sederhana yaitu kita mensyukuri apa yang ada pada diri kita dan menggunakan secara maksimal. Segala kenikmatan dan kemewahan dapat menghilangkan tujuan hidup kita. Sekolah tujuannya belajar bukan untuk jajan. Menjadi pemimpin Gereja tujuannya untuk melayani umat bukan mengejar kenikmatan dan sebagainya.
Pada jaman ini memang sangat kuat ajaran tentang kenikmatan dan kemewahan. Kita setiap saat ditawari untuk meraih segala kenikmatan dan kemewahan. Entah berapa kali ada orang yang menawari kartu kredit, baik melalui telepon, ketika di rumah makan, ruang tunggu bandara dan sebagainya. Mereka mengatakan dengan kartu kredit kita bisa membeli barang dengan mudah atau bila kehabisan uang dapat mendapatkan uang dengan mudah. Mengurus untuk mendapatkan kartu kredit pun tidak sulit dan berbelit. Apalagi orang yang menawarkan sangat pandai membujuk, sehingga banyak orang tertarik akan kemudahan kartu kredit tanpa berpikir tentang resiko bunga akibat pemakaian kartu itu. Maka tidak jarang orang terbelit hutang akibat kartu kredit.
Kuatnya keinginan hidup mewah dan penuh kemudahan telah merasuk dalam diri sehingga menghilangkan semangat untuk berjuang. Anak pasangan suami istri itu marah bila pergi ke sekolah harus naik angkutan umum. Dia tidak ingin susah harus menunggu angkutan umum, duduk berdesakan dan sebagainya. Padahal masih banyak anak yang pergi ke sekolah harus jalan kaki beberapa kilometer. Masih banyak anak yang pergi ke sekolah tanpa makan pagi dan uang saku. Aku pun dulu pergi ke sekolah harus berjalan kaki dan jarang sekali mendapat uang saku. Saat itu aku sangat senang sebab dapat sekolah di sekolah yang cukup bagus. Memang tawaran kenikmatan dan kemewahan pada jaman itu masih belum sekuat saat ini, sehingga tidak ada godaan yang cukup kuat untuk menikmati segalanya.
Keinginan untuk merasakan kenikmatan dan kemewahan juga sudah masuk dalam kehidupan beragama. Banyak umat yang pindah ke gereja lain sebab disana ada AC, musik yang bagus, ruang yang nyaman dan sebagainya. Mereka ke gereja bukan hanya mencari Yesus melainkan Yesus yang ada dalam kemewahan dan kenikmatan. Maka gereja-gereja pun berlomba menawarkan aneka kenikmatan. Bahkan para pemimpin agama pun berlomba untuk mengejar kenikmatan dan kemewahan, sehingga melupakan perjuangan dan kesederhanaan. Ada pemimpin Gereja yang selalu minta dijemput pakai mobil bila hendak melayani umat. Ada yang menumpuk berbagai barang yang membuat hidupnya nyaman. Bahkan ada pula pemimpin Gereja yang menawari kenikmatan dan kemewahan kepada orang untuk menarik mereka menjadi anggotanya.
Kuatnya tawaran kenikmatan dan kemewahan itu menyebabkan orang kehilangan arah hidup. Korupsi disebabkan orang ingin mengejar kenikmatan tanpa harus bekerja keras. Kasus jual beli nilai di sekolah atau les pada guru yang dapat memberikan soal ulangan sebelum ulangan dilaksanakan. Kasus pemimpin Gereja yang lebih suka melayani umat yang dapat memberikan kenikmatan sehingga dia meninggalkan tempat tugasnya atau menjauh dari orang miskin dan masih banyak lagi contoh lainnya. Untuk itu perlu ditumbuhkan dalam diri kita semangat berjuang. Keberanian untuk mati raga yaitu mengendalikan diri agar tidak tergoda aneka tawaran yang menggiurkan. Keberanian hidup sederhana yaitu kita mensyukuri apa yang ada pada diri kita dan menggunakan secara maksimal. Segala kenikmatan dan kemewahan dapat menghilangkan tujuan hidup kita. Sekolah tujuannya belajar bukan untuk jajan. Menjadi pemimpin Gereja tujuannya untuk melayani umat bukan mengejar kenikmatan dan sebagainya.
Minggu, 05 September 2010
BAPTIS INSTANT
Seorang datang dan protes padaku. Dia protes mengenai sulitnya untuk menjadi Katolik. Mengapa untuk menjadi Katolik harus melalui masa katekumen selama setahun? Mengapa tidak bisa diperpendek menjadi 3 atau 6 bulan saja? Menurutnya di gereja yang lain masa katekumen tidak terlalu lama. Beberapa kali pertemuan saja bisa langsung dibaptis. Aku katakan bahwa di Gereja Katolik ada aturan yang sama bahwa masa katekumen selama setahun. Orang ini membantah lagi bahwa di beberapa Gereja Katolik ada yang hanya 3 bulan saja. Dia lalu menyebut nama sebuah paroki dimana pegawai memberi penawaran mau memakai jalur lambat atau jalur cepat.
Aku memang sudah mendengar dari beberapa orang bahwa di sebuah paroki, yang seharusnya menjadi panutan, pegawainy memberi penawaran pada orang yang ingin dibaptis apakah dia mau menempuh jalur lambat artinya masa katekumen selama setahun atau jalur cepat yang artinya masa katekumen hanya 3 bulan saja. Bagiku mengapa gereja tidak berbeda dengan kantor pemerintahan bila orang ingin mengurus KTP atau SIM? Bila ingin mengurus KTP atau SIM atau mungkin juga urusan lain ada petugas yang menawari apakah mau melalui jalur lambat atau cepat. Bila di kantor pemerintahan untuk bisa jalur cepat maka harus memberi uang lebih kepada petugas, aku tidak tahu apakah di paroki itu juga terjadi hal yang sama. Bila sungguh terjadi maka sangat memprihatinkan sebab Gereja sudah kembali ke jaman sebelum Luther dimana terjadi jual beli sakramen. Tapi kali ini jual beli waktu katekumenat.
Salah satu ciri jaman ini adalah menguatnya budaya atau mentalitas instant. Orang ingin melakukan segala sesuatu dengan cepat dan tanpa proses yang panjang. Ternyata hal ini juga sudah masuk dalam soal iman. Orang tidak ingin berproses lama untuk menjadi seorang Katolik. Masa katekumen bukanlah masa pembelajaran tentang iman saja, melainkan juga proses untuk mengubah diri menjadi seorang Katolik. Maka dalam masa ketekumenat seharusnya orang harus mulai berproses untuk hidup secara Katolik. Dia mengikuti doa lingkungan, perayaan sakramen, dan sebagainya. Dia mulai mengenal dan bersekutu dengan sesama orang Katolik. Masa katekumenat adalah masa pengenalan iman dan memproses diri untuk hidup sesuai dengan iman.
Ajaran Yesus berbeda dengan ajaran dunia. Dalam Kotbah di Bukit jelas sekali bahwa ajaran Yesus berbeda dengan ajaran dunia. Yesus membuka ajaranNya dengan bersabda “Kamu telah mendengar yang difirmankan…” lalu disusul dengan “Tetapi Aku berkata kepadamu…” bahkan kadang dipertegas dengan kata “sesungguhnya”. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang ada di dunia berbeda dengan yang dikehendaki Yesus. Maka mengikuti Yesus berarti berani mengubah diri. Perubahan ini tidak mudah, sebab menyangkut perubahan cara pandangan, cara hidup, cara berpikir dan keseluruhan diri kita. “Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.” (Luk 5:37-38). Ajaran Yesus adalah ajaran baru yang tidak dapat disimpan dalam ajaran yang lama, sebab akan saling merusak. Menjadi Katolik harus menjadi manusia baru.
Baptisan Katolik tidaklah sulit. Orang hanya perlu dituangi air di kepalanya oleh petugas Gereja maka dia sudah dibaptis. Tapi apakah setelah dibaptis maka dia akan berubah menjadi orang Katolik atau hanya orang yang dibaptis secara Katolik? Baptis adalah tanda nyata bahwa kita sungguh menjadi anggota Gereja yang sah, sedangkan benih iman sudah sejak awal ketika kita ingin dibaptis. Seperti benih yang tumbuh menjadi pohon demikian pula iman kita bertumbuh secara perlahan. Membutuhkan proses agar mengakar dalam diri, sehingga kita semakin yakin bahwa Yesuslah yang ingin kita ikuti. Kita secara perlahan berproses mengubah sikap, pandang hidup, dan sebagainya sesuai dengan Kristus. Tapi hal ini kurang dipahami. Orang hanya ingin dibaptis, maka setelah baptis tidak ada perubahan dari cara hidup lama menjadi cara hidup baru.
Aku memang sudah mendengar dari beberapa orang bahwa di sebuah paroki, yang seharusnya menjadi panutan, pegawainy memberi penawaran pada orang yang ingin dibaptis apakah dia mau menempuh jalur lambat artinya masa katekumen selama setahun atau jalur cepat yang artinya masa katekumen hanya 3 bulan saja. Bagiku mengapa gereja tidak berbeda dengan kantor pemerintahan bila orang ingin mengurus KTP atau SIM? Bila ingin mengurus KTP atau SIM atau mungkin juga urusan lain ada petugas yang menawari apakah mau melalui jalur lambat atau cepat. Bila di kantor pemerintahan untuk bisa jalur cepat maka harus memberi uang lebih kepada petugas, aku tidak tahu apakah di paroki itu juga terjadi hal yang sama. Bila sungguh terjadi maka sangat memprihatinkan sebab Gereja sudah kembali ke jaman sebelum Luther dimana terjadi jual beli sakramen. Tapi kali ini jual beli waktu katekumenat.
Salah satu ciri jaman ini adalah menguatnya budaya atau mentalitas instant. Orang ingin melakukan segala sesuatu dengan cepat dan tanpa proses yang panjang. Ternyata hal ini juga sudah masuk dalam soal iman. Orang tidak ingin berproses lama untuk menjadi seorang Katolik. Masa katekumen bukanlah masa pembelajaran tentang iman saja, melainkan juga proses untuk mengubah diri menjadi seorang Katolik. Maka dalam masa ketekumenat seharusnya orang harus mulai berproses untuk hidup secara Katolik. Dia mengikuti doa lingkungan, perayaan sakramen, dan sebagainya. Dia mulai mengenal dan bersekutu dengan sesama orang Katolik. Masa katekumenat adalah masa pengenalan iman dan memproses diri untuk hidup sesuai dengan iman.
Ajaran Yesus berbeda dengan ajaran dunia. Dalam Kotbah di Bukit jelas sekali bahwa ajaran Yesus berbeda dengan ajaran dunia. Yesus membuka ajaranNya dengan bersabda “Kamu telah mendengar yang difirmankan…” lalu disusul dengan “Tetapi Aku berkata kepadamu…” bahkan kadang dipertegas dengan kata “sesungguhnya”. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang ada di dunia berbeda dengan yang dikehendaki Yesus. Maka mengikuti Yesus berarti berani mengubah diri. Perubahan ini tidak mudah, sebab menyangkut perubahan cara pandangan, cara hidup, cara berpikir dan keseluruhan diri kita. “Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.” (Luk 5:37-38). Ajaran Yesus adalah ajaran baru yang tidak dapat disimpan dalam ajaran yang lama, sebab akan saling merusak. Menjadi Katolik harus menjadi manusia baru.
Baptisan Katolik tidaklah sulit. Orang hanya perlu dituangi air di kepalanya oleh petugas Gereja maka dia sudah dibaptis. Tapi apakah setelah dibaptis maka dia akan berubah menjadi orang Katolik atau hanya orang yang dibaptis secara Katolik? Baptis adalah tanda nyata bahwa kita sungguh menjadi anggota Gereja yang sah, sedangkan benih iman sudah sejak awal ketika kita ingin dibaptis. Seperti benih yang tumbuh menjadi pohon demikian pula iman kita bertumbuh secara perlahan. Membutuhkan proses agar mengakar dalam diri, sehingga kita semakin yakin bahwa Yesuslah yang ingin kita ikuti. Kita secara perlahan berproses mengubah sikap, pandang hidup, dan sebagainya sesuai dengan Kristus. Tapi hal ini kurang dipahami. Orang hanya ingin dibaptis, maka setelah baptis tidak ada perubahan dari cara hidup lama menjadi cara hidup baru.
Rabu, 16 Juni 2010
SALIB KEHINAAN ATAU KEMULIAAN???

Seorang temang mengatakan sambil bercanda bahwa Allah orang Kristen adalah Allah yang kalah dan mati. Dia melihat wafat Yesus disalib sebagai kekalahan. Dia kalah terhadap manusia. Dia pun kalah terhadap penderitaan sehingga menjelang wafat berteriak pada Allah yang telah meninggalkanNya. Temanku membandingkan dengan nabinya yang mampu membangun kerajaan besar dan mampu menaklukkan aneka kerajaan yang semula menguasai dunia. Dia seorang pemenang yang pantas dan layak diikuti oleh semua orang. Kemenangan adalah tanda perlindungan dan restu Tuhan atas gerakan kenabian yang dicanangkannya.
“Memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,” (1Kor 1:23) Rasul Paulus melihat bahwa pemberitaan tentang salib tidak mudah. Orang Yahudi percaya bahwa Mesias adalah orang yang mampu membebaskan bangsa Israel dari penjajahan dan mengembalikan kejayaan Daud. Bila Yesus adalah Mesias maka tidak mungkin Dia wafat di salib. Bila Dia adalah Mesias maka Allah akan menolongNya ketika disalibkan. Oleh karena itu pada saat disalibkan orang Yahudi menunggu apakah Allah akan menolongNya. Bila Allah menolongNya maka mereka akan percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Sedangkan bagi orang diluar bangsa Yahudi, salib merupakan lambang kehinaan. Hanya penjahat kelas berat yang dihukum salib. Bagaimana mungkin orang diajak untuk percaya bahwa orang yang disalibkan adalah penyelamat manusia?
Tapi kekristenan mempunyai pandangan lain. Salib yang dianggap hina dan lambang kekalahan diyakini sebagai bagian dari karya keselamatan dan kemuliaan. Salib adalah lambang kemenangan, sebab melalui salib Kristus segala dosa kita dihapuskan. “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” (1Ptr 2:24). Hal ini memang sulit dipahami bagaimana situasi kekalahan dianggap sebagai kemenangan. Kehinaan diyakini sebagai kemuliaan. Perbedaan mendasar terletak dari cara melihat. Iman melihat jauh menembus kenyataan atau realita. Bila berhenti pada realita maka kita hanya melihat kelemahan dan kekalahan. Untuk itu perlu melihat jauh dari realita.
Kemenangan Yesus bukan karena Dia turun dari salib melainkan keberanianNya untuk wafat disalib demi semua orang. Dia berani menyerahkan diri secara total mengikuti kehendak Allah. Bila Yesus menginginkan untuk turun dari salib pasti hal itu mampu dilakukanNya. Belum pernah ada orang yang mampu membangkitkan orang mati, bahkan orang yang telah berada dalam kubur. Tapi Yesus mampu melakukannya. Kematian adalah kekalahan manusia yang absolut. Manusia tidak akan pernah mampu mengalahkannya. Yesus telah menguasai maut dan mampu mengalahkan maut. “Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal!” (!Tim 6:16). Dengan demikian Yesus bukan orang yang kalah melainkan Dia orang yang taat pada kehendak Allah.
Salib lambang kemuliaan. Yesus adalah orang yang penuh kuasa. Tapi Dia tidak menggunakan kekuasaanNya itu untuk mengalahkan salib. Kemuliaan Yesus bukan sebab kematianNya disalib, tapi kerendahhatianNya yang rela menjalani kehinaan meski Dia sebetulnya tidak pantas menjalaninya dan mampu keluar dari kehinaan itu. KerendahhatianNya membuat Dia rela melepaskan martabat dan kekuasaan yang telah diberikan Allah padaNya. Dia rela menjalani penghinaan sebab terdorong rasa cinta yang sangat besar kepada manusia. Semua orang ingin dihargai setinggi mungkin, maka dia akan berontak bila dihina. Dia ingin membuktikan kemampuannya agar semua orang tahu bahwa dia bukan orang sehina itu. Sebaliknya Yesus memasrahkan diriNya untuk dihina. Dia mengosongkan diriNya. Dia tidak mempedulikan reputasiNya. Kemuliaan Yesus tampak dalam kerelaanNya untuk dihina demi keselamatan manusia.
“Memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,” (1Kor 1:23) Rasul Paulus melihat bahwa pemberitaan tentang salib tidak mudah. Orang Yahudi percaya bahwa Mesias adalah orang yang mampu membebaskan bangsa Israel dari penjajahan dan mengembalikan kejayaan Daud. Bila Yesus adalah Mesias maka tidak mungkin Dia wafat di salib. Bila Dia adalah Mesias maka Allah akan menolongNya ketika disalibkan. Oleh karena itu pada saat disalibkan orang Yahudi menunggu apakah Allah akan menolongNya. Bila Allah menolongNya maka mereka akan percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Sedangkan bagi orang diluar bangsa Yahudi, salib merupakan lambang kehinaan. Hanya penjahat kelas berat yang dihukum salib. Bagaimana mungkin orang diajak untuk percaya bahwa orang yang disalibkan adalah penyelamat manusia?
Tapi kekristenan mempunyai pandangan lain. Salib yang dianggap hina dan lambang kekalahan diyakini sebagai bagian dari karya keselamatan dan kemuliaan. Salib adalah lambang kemenangan, sebab melalui salib Kristus segala dosa kita dihapuskan. “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” (1Ptr 2:24). Hal ini memang sulit dipahami bagaimana situasi kekalahan dianggap sebagai kemenangan. Kehinaan diyakini sebagai kemuliaan. Perbedaan mendasar terletak dari cara melihat. Iman melihat jauh menembus kenyataan atau realita. Bila berhenti pada realita maka kita hanya melihat kelemahan dan kekalahan. Untuk itu perlu melihat jauh dari realita.
Kemenangan Yesus bukan karena Dia turun dari salib melainkan keberanianNya untuk wafat disalib demi semua orang. Dia berani menyerahkan diri secara total mengikuti kehendak Allah. Bila Yesus menginginkan untuk turun dari salib pasti hal itu mampu dilakukanNya. Belum pernah ada orang yang mampu membangkitkan orang mati, bahkan orang yang telah berada dalam kubur. Tapi Yesus mampu melakukannya. Kematian adalah kekalahan manusia yang absolut. Manusia tidak akan pernah mampu mengalahkannya. Yesus telah menguasai maut dan mampu mengalahkan maut. “Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal!” (!Tim 6:16). Dengan demikian Yesus bukan orang yang kalah melainkan Dia orang yang taat pada kehendak Allah.
Salib lambang kemuliaan. Yesus adalah orang yang penuh kuasa. Tapi Dia tidak menggunakan kekuasaanNya itu untuk mengalahkan salib. Kemuliaan Yesus bukan sebab kematianNya disalib, tapi kerendahhatianNya yang rela menjalani kehinaan meski Dia sebetulnya tidak pantas menjalaninya dan mampu keluar dari kehinaan itu. KerendahhatianNya membuat Dia rela melepaskan martabat dan kekuasaan yang telah diberikan Allah padaNya. Dia rela menjalani penghinaan sebab terdorong rasa cinta yang sangat besar kepada manusia. Semua orang ingin dihargai setinggi mungkin, maka dia akan berontak bila dihina. Dia ingin membuktikan kemampuannya agar semua orang tahu bahwa dia bukan orang sehina itu. Sebaliknya Yesus memasrahkan diriNya untuk dihina. Dia mengosongkan diriNya. Dia tidak mempedulikan reputasiNya. Kemuliaan Yesus tampak dalam kerelaanNya untuk dihina demi keselamatan manusia.
Rabu, 26 Mei 2010
KEHADIRAN YANG MENGUBAH
Anthony de Mello menulis catatan pendek, “Bila uskup datang teh yang akan keluar, bila Yesus datang revolusi yang akan keluar.” Kalimat ini sangat menggelitik yang dapat membuat orang tersenyum atau terkejut. De Mello tidak menjelaskan apa-apa mengenai kalimat itu. Dia sengaja membiarkan orang untuk merenungkannya sendiri. Dengan demikian tulisan itu terbuka. Setiap orang boleh menafsirkan sesuai dengan cara pandangnya sendiri. Terlepas dari latar belakang dan tujuannya dari munculnya ide yang dituangkan dalam kalimat itu. Bagiku tidak mungkin orang menulis tanpa tujuan dan latar belakang yang mendorongnya untuk menulis.
Apakah kehadiran Yesus memunculkan revolusi? Menurut Wikipedia revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Hidup Yesus sangat pendek. Dia berkarya hanya 3 tahun. Selama berkarya Dia mengajarkan yang membawa perubahan mendasar dalam bangsa Yahudi. Dia mengubah cara pandang orang Yahudi terhadap orang lain. Bagi bangsa Yahudi sesama adalah sesama kaumnya. Tapi bagi Yesus sesama adalah orang yang mempunyai belas kasih dan kaum miskin. Tidak peduli itu Samaria atau Yahudi. Bagi bangsa Yahudi Sabat itu hari keramat. Bagi Yesus Sabat itu untuk manusia bukan manusia untuk Sabat. Bagi bangsa Yahudi Allah itu jauh dan tidak tersentuh. Bagi Yesus Allah itu Bapa yang penuh belas kasih. Bagi bangsa Yahudi orang berdosa itu harus dikucilkan. Bagi Yesus orang berdosa itu harus dicari dan diselamatkan, sebab mereka juga anak Abraham. Masih banyak perubahan mendasar yang dilakukan oleh Yesus untuk terbangunnya budaya baru yaitu budaya yang didasarkan pada hukum utama dan terutama yaitu kasih kepada Allah dan sesama. Tapi Yesus menentang revolusi berdarah. Maka Dia menegur Petrus yang membawa pedang. Dia juga menegur Yohanes yang ingin menghancurkan sebuah desa.
Kehadiran Yesus membawa perubahan mendasar dalam masyarakat. Kehadiran Yesus kini diwakili oleh Gereja. “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Mat 18:20). Dengan demikian bila Gereja hadir di suatu tempat maka akan terjadi revolusi dalam masyarakat itu. Tidak jarang kita mendengar penolakan gedung gereja di suatu tempat. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada masyarakat yang mempunyai pandangan sempit bahwa saudara atau sesama ialah mereka yang beragama sama, sehingga pemeluk agama lain dianggap musuh yang harus dihilangkan. Maka perlu ada revolusi yang mengubah cara pandang masyarakat. Apakah Gereja sudah melakukan revolusi dalam masyarakat?
Revolusi membutuhkan keteladanan pemimpin. Yesus membangun komunitas sebagai contoh komunitas yang telah berevolusi. Komunitas dengan hukum-hukum baru. Tapi semua dimulai dari diriNya sendiri. Dia memberikan teladan. “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13:15). Apakah keteladanan Yesus hanya untuk mencuci kaki orang lain? Seluruh hidup Yesus adalah keteladanan yang harus kita ikuti. Hanya masalahnya kita mengikuti keteladanan Yesus dengan mencari mana yang aman atau menguntungkan diri. Bila tidak maka pura-pura tidak tahu. Mengikuti Yesus adalah sebuah resiko dan kesiapan untuk memikul salib setiap hari.
Revolusi membutuhkan keberanian. Banyak orang Katolik yang penakut atau hanya jago kandang. Di dalam komunitas Katolik mereka seolah hebat dan berlaku keras terhadap umat dan sesama tapi di luar Gereja tidak berani menyerukan apa-apa. Mereka diam ketika ada keadilan diinjak-injak. Ketika kaum miskin ditindas. Bahkan ketika tempat ibadah dihancurkan. Alasan klasik adalah kita harus mengasihi atau kita tidak perlu terlibat hal itu, sebab dapat membahayakan. Maka benar apa kata de Mello di atas. Bila kita datang hanya teh yang muncul. Tidak ada perubahan.
Apakah kehadiran Yesus memunculkan revolusi? Menurut Wikipedia revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Hidup Yesus sangat pendek. Dia berkarya hanya 3 tahun. Selama berkarya Dia mengajarkan yang membawa perubahan mendasar dalam bangsa Yahudi. Dia mengubah cara pandang orang Yahudi terhadap orang lain. Bagi bangsa Yahudi sesama adalah sesama kaumnya. Tapi bagi Yesus sesama adalah orang yang mempunyai belas kasih dan kaum miskin. Tidak peduli itu Samaria atau Yahudi. Bagi bangsa Yahudi Sabat itu hari keramat. Bagi Yesus Sabat itu untuk manusia bukan manusia untuk Sabat. Bagi bangsa Yahudi Allah itu jauh dan tidak tersentuh. Bagi Yesus Allah itu Bapa yang penuh belas kasih. Bagi bangsa Yahudi orang berdosa itu harus dikucilkan. Bagi Yesus orang berdosa itu harus dicari dan diselamatkan, sebab mereka juga anak Abraham. Masih banyak perubahan mendasar yang dilakukan oleh Yesus untuk terbangunnya budaya baru yaitu budaya yang didasarkan pada hukum utama dan terutama yaitu kasih kepada Allah dan sesama. Tapi Yesus menentang revolusi berdarah. Maka Dia menegur Petrus yang membawa pedang. Dia juga menegur Yohanes yang ingin menghancurkan sebuah desa.
Kehadiran Yesus membawa perubahan mendasar dalam masyarakat. Kehadiran Yesus kini diwakili oleh Gereja. “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Mat 18:20). Dengan demikian bila Gereja hadir di suatu tempat maka akan terjadi revolusi dalam masyarakat itu. Tidak jarang kita mendengar penolakan gedung gereja di suatu tempat. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada masyarakat yang mempunyai pandangan sempit bahwa saudara atau sesama ialah mereka yang beragama sama, sehingga pemeluk agama lain dianggap musuh yang harus dihilangkan. Maka perlu ada revolusi yang mengubah cara pandang masyarakat. Apakah Gereja sudah melakukan revolusi dalam masyarakat?
Revolusi membutuhkan keteladanan pemimpin. Yesus membangun komunitas sebagai contoh komunitas yang telah berevolusi. Komunitas dengan hukum-hukum baru. Tapi semua dimulai dari diriNya sendiri. Dia memberikan teladan. “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13:15). Apakah keteladanan Yesus hanya untuk mencuci kaki orang lain? Seluruh hidup Yesus adalah keteladanan yang harus kita ikuti. Hanya masalahnya kita mengikuti keteladanan Yesus dengan mencari mana yang aman atau menguntungkan diri. Bila tidak maka pura-pura tidak tahu. Mengikuti Yesus adalah sebuah resiko dan kesiapan untuk memikul salib setiap hari.
Revolusi membutuhkan keberanian. Banyak orang Katolik yang penakut atau hanya jago kandang. Di dalam komunitas Katolik mereka seolah hebat dan berlaku keras terhadap umat dan sesama tapi di luar Gereja tidak berani menyerukan apa-apa. Mereka diam ketika ada keadilan diinjak-injak. Ketika kaum miskin ditindas. Bahkan ketika tempat ibadah dihancurkan. Alasan klasik adalah kita harus mengasihi atau kita tidak perlu terlibat hal itu, sebab dapat membahayakan. Maka benar apa kata de Mello di atas. Bila kita datang hanya teh yang muncul. Tidak ada perubahan.
GEREJA RAKYAT
Gustavo Guiterrez Merino OP (8 Juni 1928-) dikenal sebagai pencetus teologi pembebasan di Amerika Selatan. Teologi ini sangat berpihak pada rakyat miskin, sehingga dituduh berbau Marxis atau mengusung ideologi Marx ke dalam Gereja. Vatikan menjadi gerah dan melarang teologi ini, sebab dianggap dapat mengajak rakyat untuk mengangkat senjata seperti gerilyawan Sandinista di Nikaragua. Sandinista adalah partai yang didirikan oleh Augusto Ceasare Sandino pada tahun 1930. Mereka melawan kekuasaan Amerika yang menguasai Nikaragua. Gerakan ini menganut paham Marxis atau sosialis.
Gustavo yang hidup dalam kemiskinan rakyat Peru berusaha menafsirkan Kitab Suci sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Baginya iman adalah perbuatan untuk menegakkan keadilan dan membebaskan rakyat miskin dari penindasan. Yesus datang ke dunia untuk membebaskan rakyat miskin. Hal ini diungkapkan sejak awal sebelum Dia melakukan karyaNya. "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk 4:18-19). Selama hidup Yesus berpihak dan membela orang yang dikucilkan, ditindas, dan kelompok minoritas. Dia pun melawan sistem yang memberatkan rakyat. Akibatnya Dia sering bertengkar melawan para penguasa baik pemerintahan maupun agama, kaum Farisi yang menjaga adat istiadat Yahudi, para imam kepala dan tua-tua Yahudi. Mereka kuatir bahwa gerakan yang diajarkan Yesus akan mengguncangkan kedudukan mereka.
Menurut Gustavo, Gereja adalah, atau seharusnya, orang miskin yang menerima Injil. Mereka yang solider dengan kepentingan-kepentingan, aspirasi dan perlawanan orang-orang tertindas dan tertekan dalam dunia. Gereja adalah Gereja rakyat miskin yang berusaha menanggapi panggilan Yesus untuk membebaskan diri dari penindasan dan membangun persaudaraan yang setara. Injil tidak lagi berbicara hanya masa depan yang jauh tentang akhir jaman, neraka atau surga tapi juga berbicara situasi kongkrit yang sedang terjadi ditengah masyarakat. Injil itu menyejarah bukan kitab yang turun dari surga. Yesus adalah Firman Allah. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,” (Yoh 1:14). Firman yang membawa terang dan harapan bagi manusia yang tertindas akibat sistem yang tidak adil.
Di lain pihak Yesus dengan belas kasihNya mengajak orang untuk bertobat dengan mengubah perilaku tidak adil dan sewenang-wenang menjadi perilaku yang berbelas kasih terutama kepada kaum miskin. Seruan keadilan dimulai oleh Yohanes Pembaptis (Luk 3:10-14). Bila orang bertobat maka dia harus solider dengan orang miskin, tidak memeras dan merampas. Yesus pun dengan tegas menyatakan bahwa siapa yang ingin selamat dia harus berani berbagi dengan orang miskin, sebab Dia ada dalam diri orang miskin (Mat 25:31-46). Dengan demikian iman bukan sekedar percaya akan Yesus sebagai juruselamat melainkan terwujud dalam tindakan nyata yaitu berbelas kasih kepada kaum lemah dan terlibat dalam karya pembebasan kaum miskin.
“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” (Yak 2:19). Setan percaya pada Tuhan tapi tidak mewujudkan dalam tindakan, sedangkan orang beriman percaya pada Tuhan dan mewujudkan dalam tindakan belas kasih. Gustavo menekankan bahwa iman bukan sekedar berdoa dan percaya tapi iman adalah tindakan penyelamatan manusia dari kemiskinan seperti Allah yang berpihak dan terlibat dalam penderitaan manusia. Iman adalah mewartakan kabar gembira pada kaum miskin dalam perkataan dan perbuatan. Hal ini tidak mudah. Berpihak dan terlibat dalam perjuangan kaum miskin sering dituduh memberontak. Yesus pun dituduh menghasut rakyat untuk melawan kaisar. Tapi inilah pilihan kita. Mengikuti Yesus berarti siap untuk berjuang melawan ketidakadilan.
Gustavo yang hidup dalam kemiskinan rakyat Peru berusaha menafsirkan Kitab Suci sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Baginya iman adalah perbuatan untuk menegakkan keadilan dan membebaskan rakyat miskin dari penindasan. Yesus datang ke dunia untuk membebaskan rakyat miskin. Hal ini diungkapkan sejak awal sebelum Dia melakukan karyaNya. "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk 4:18-19). Selama hidup Yesus berpihak dan membela orang yang dikucilkan, ditindas, dan kelompok minoritas. Dia pun melawan sistem yang memberatkan rakyat. Akibatnya Dia sering bertengkar melawan para penguasa baik pemerintahan maupun agama, kaum Farisi yang menjaga adat istiadat Yahudi, para imam kepala dan tua-tua Yahudi. Mereka kuatir bahwa gerakan yang diajarkan Yesus akan mengguncangkan kedudukan mereka.
Menurut Gustavo, Gereja adalah, atau seharusnya, orang miskin yang menerima Injil. Mereka yang solider dengan kepentingan-kepentingan, aspirasi dan perlawanan orang-orang tertindas dan tertekan dalam dunia. Gereja adalah Gereja rakyat miskin yang berusaha menanggapi panggilan Yesus untuk membebaskan diri dari penindasan dan membangun persaudaraan yang setara. Injil tidak lagi berbicara hanya masa depan yang jauh tentang akhir jaman, neraka atau surga tapi juga berbicara situasi kongkrit yang sedang terjadi ditengah masyarakat. Injil itu menyejarah bukan kitab yang turun dari surga. Yesus adalah Firman Allah. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,” (Yoh 1:14). Firman yang membawa terang dan harapan bagi manusia yang tertindas akibat sistem yang tidak adil.
Di lain pihak Yesus dengan belas kasihNya mengajak orang untuk bertobat dengan mengubah perilaku tidak adil dan sewenang-wenang menjadi perilaku yang berbelas kasih terutama kepada kaum miskin. Seruan keadilan dimulai oleh Yohanes Pembaptis (Luk 3:10-14). Bila orang bertobat maka dia harus solider dengan orang miskin, tidak memeras dan merampas. Yesus pun dengan tegas menyatakan bahwa siapa yang ingin selamat dia harus berani berbagi dengan orang miskin, sebab Dia ada dalam diri orang miskin (Mat 25:31-46). Dengan demikian iman bukan sekedar percaya akan Yesus sebagai juruselamat melainkan terwujud dalam tindakan nyata yaitu berbelas kasih kepada kaum lemah dan terlibat dalam karya pembebasan kaum miskin.
“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” (Yak 2:19). Setan percaya pada Tuhan tapi tidak mewujudkan dalam tindakan, sedangkan orang beriman percaya pada Tuhan dan mewujudkan dalam tindakan belas kasih. Gustavo menekankan bahwa iman bukan sekedar berdoa dan percaya tapi iman adalah tindakan penyelamatan manusia dari kemiskinan seperti Allah yang berpihak dan terlibat dalam penderitaan manusia. Iman adalah mewartakan kabar gembira pada kaum miskin dalam perkataan dan perbuatan. Hal ini tidak mudah. Berpihak dan terlibat dalam perjuangan kaum miskin sering dituduh memberontak. Yesus pun dituduh menghasut rakyat untuk melawan kaisar. Tapi inilah pilihan kita. Mengikuti Yesus berarti siap untuk berjuang melawan ketidakadilan.
REVOLUSI SOSIAL
Media akhir-akhir ini membuat aku dan banyak teman menjadi bingung. Ketika orang kagum pada kinerja KPK tiba-tiba pimpinan KPK tersangkut kasus pembunuhan dan perempuan. Belum lagi kasus itu selesai muncul kasus Century Bank. Muncul pansus DPR yang ditayangkan stasiun TV setiap hari. Belum tuntas kasus Century muncul kasus Susno Duaji lalu Gayus yang membuat orang terbelalak. Seorang pegawai golongan IIIA mempunyai uang dalam rekening 25 M, rumah sekitar 1,3 M, apartemen dan sebagainya. Belum selesai kasus Gayus muncul lagi kasus mundurnya Sri Mulyani dari kedudukannya sebagai menteri keuangan. Lalu diikuti terbentuknya sekber dengan Bakrie sebagai ketua, yang menimbulkan pro dan kontra. Belum lagi berita tentang penembakan terhadap para teroris yang semakin sering.
Rakyat seperti diajak menonton sebuah sinetron dengan cerita yang loncat-loncat. Mungkin memang dari semua kejadian itu ada benang merahnya tapi masih banyak orang yang tidak mampu melihat benang merah kecuali benang ruwet. Hal yang pasti adalah adanya ketidakberesan di pusat kekuasaan. Akibat ketidakberesan dalam waktu yang lama maka kasus demi kasus muncul berurutan. Rakyat seperti diajak melihat aneka borok yang sudah menahun di tubuh bangsa ini. Orang jadi bingung borok mana yang parah dan perlu diobati terlebih dahulu? Semua seperti borok yang kait mengkait membuat bangsa ini terpuruk. Banyak orang menjadi sadar bahwa selama ini telah terjadi pembodohan rakyat yang terus menerus dan sistematis.
Akibat pembodohan ini banyak orang menjadi apatis terhadap pemerintahan dan slogan pembangunan pemerintah yang bersih dan jujur. Apakah mungkin akan terjadi pemerintahan yang bersih? Melihat semua itu maka aku berpikir yang dibutuhkan bangsa ini bukan reformasi melainkan revolusi. Selama ini didengungkan adanya reformasi dalam aneka bidang. Janji beberapa tokoh bahwa reformasi ini membutuhkan puluhan tahun untuk sampai pada pemerintahan yang baik. Tapi pertanyaanya apakah reformasi akan berjalan sesuai dengan tahapan demi tahapan? Ada kemungkinan ditengah jalan reformasi ini macet dan kembali ke habitus lama.
Kita membutuhkan revolusi seperti yang dijalankan oleh Yesus. Revolusi biasanya dipahami sebagai revolusi politik yaitu usaha untuk merebut kekuasaan politik dan menggantikannya dengan orang yang baru. Negara kita pernah melakukan revolusi politik. Tapi hasilnya masih tetap seperti sekarang. Yesus menawarkan revolusi yang lain yaitu revolusi sosial. Sebuah perubahan mendasar dalam hukum, budaya, dan mentalitas manusia. Perubahan ini terarah pada akar masalah dan dilakukan secara cepat. Pokok sasaran bukan hanya sistem tapi terlebih manusianya. Setiap orang harus menjadi manusia baru. Bila hanya mengubah pemerintahan dengan melakukan kudeta, maka penggantinya tidak akan beda dengan yang digantikan, misalnya beberapa negara di Afrika yang kudeta berulang kali tapi tetap miskin.
Bagi Yesus reformasi tidak menyelesaikan masalah. Reformasi berarti pembaharuan dimana mentalitas lama tetap masih dipertahankan. “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.” (Mat 9:16). Reformasi bagaikan menambal kain baru pada baju yang tua. Di negara kita beberapa tokoh baru yang bagus masuk dalam pemerintahan yang tua, maka mereka menjadi terpental atau mereka menjadi sama dengan orang yang lama. Bila ingin mengadakan perubahan maka perlu membuang semuanya dan membuat baru.
Revolusi dimulai dari diri sendiri. Bagaimana mungkin kita akan mengubah pemerintah bila kita sendiri tidak berubah. Kita lebih suka membayar pada polisi di jalan daripada sidang atau membayar pegawai kelurahan daripada mengurus KTP sendiri. Mulai dari kita untuk hidup jujur dan adil. Apakah mungkin? Yesus pun dulu mengawali perubahan hanya dengan 12 rasul dan satu berkhianat, namun kini gerakanNya sudah mendunia.
Rakyat seperti diajak menonton sebuah sinetron dengan cerita yang loncat-loncat. Mungkin memang dari semua kejadian itu ada benang merahnya tapi masih banyak orang yang tidak mampu melihat benang merah kecuali benang ruwet. Hal yang pasti adalah adanya ketidakberesan di pusat kekuasaan. Akibat ketidakberesan dalam waktu yang lama maka kasus demi kasus muncul berurutan. Rakyat seperti diajak melihat aneka borok yang sudah menahun di tubuh bangsa ini. Orang jadi bingung borok mana yang parah dan perlu diobati terlebih dahulu? Semua seperti borok yang kait mengkait membuat bangsa ini terpuruk. Banyak orang menjadi sadar bahwa selama ini telah terjadi pembodohan rakyat yang terus menerus dan sistematis.
Akibat pembodohan ini banyak orang menjadi apatis terhadap pemerintahan dan slogan pembangunan pemerintah yang bersih dan jujur. Apakah mungkin akan terjadi pemerintahan yang bersih? Melihat semua itu maka aku berpikir yang dibutuhkan bangsa ini bukan reformasi melainkan revolusi. Selama ini didengungkan adanya reformasi dalam aneka bidang. Janji beberapa tokoh bahwa reformasi ini membutuhkan puluhan tahun untuk sampai pada pemerintahan yang baik. Tapi pertanyaanya apakah reformasi akan berjalan sesuai dengan tahapan demi tahapan? Ada kemungkinan ditengah jalan reformasi ini macet dan kembali ke habitus lama.
Kita membutuhkan revolusi seperti yang dijalankan oleh Yesus. Revolusi biasanya dipahami sebagai revolusi politik yaitu usaha untuk merebut kekuasaan politik dan menggantikannya dengan orang yang baru. Negara kita pernah melakukan revolusi politik. Tapi hasilnya masih tetap seperti sekarang. Yesus menawarkan revolusi yang lain yaitu revolusi sosial. Sebuah perubahan mendasar dalam hukum, budaya, dan mentalitas manusia. Perubahan ini terarah pada akar masalah dan dilakukan secara cepat. Pokok sasaran bukan hanya sistem tapi terlebih manusianya. Setiap orang harus menjadi manusia baru. Bila hanya mengubah pemerintahan dengan melakukan kudeta, maka penggantinya tidak akan beda dengan yang digantikan, misalnya beberapa negara di Afrika yang kudeta berulang kali tapi tetap miskin.
Bagi Yesus reformasi tidak menyelesaikan masalah. Reformasi berarti pembaharuan dimana mentalitas lama tetap masih dipertahankan. “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.” (Mat 9:16). Reformasi bagaikan menambal kain baru pada baju yang tua. Di negara kita beberapa tokoh baru yang bagus masuk dalam pemerintahan yang tua, maka mereka menjadi terpental atau mereka menjadi sama dengan orang yang lama. Bila ingin mengadakan perubahan maka perlu membuang semuanya dan membuat baru.
Revolusi dimulai dari diri sendiri. Bagaimana mungkin kita akan mengubah pemerintah bila kita sendiri tidak berubah. Kita lebih suka membayar pada polisi di jalan daripada sidang atau membayar pegawai kelurahan daripada mengurus KTP sendiri. Mulai dari kita untuk hidup jujur dan adil. Apakah mungkin? Yesus pun dulu mengawali perubahan hanya dengan 12 rasul dan satu berkhianat, namun kini gerakanNya sudah mendunia.
ALLAH YANG BERPIHAK
Sejak awal kisah penciptaan Allah sudah menunjukkan posisiNya yaitu berpihak pada kaum tertindas dan lemah. Ketika Kain membunuh Habel, maka Allah berpihak pada Habel. “Firman-Nya: "Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.” (Kej 4:10). Dalam perjalanan sejarah bangsa Israel selanjutnya Allah selalu menunjukkan posisiNya dengan tegas. Melalui orang-orang pilihanNya, Allah mengadakan pembelaan pada kaum tertindas. Musa diutus untuk membebaskan bangsa yang diperbudak oleh Mesir. Samson, Amos, Hosea, Yesaya dan semua nabi mendapat perutusan untuk membela kaum miskin dan lemah. Puncaknya adalah Yesus yang membongkar akar dari penindasan dan membangun komunitas yang lebih baik.
Para nabi dalam Perjanjian Lama mengecam para penguasa yang bertindak tidak adil. Misalnya Amos yang mengecam orang yang memperkaya dirinya sendiri, "Dengarlah firman ini, hai lembu-lembu Basan, yang ada di gunung Samaria, yang memeras orang lemah, yang menginjak orang miskin,” (Am 4:1) atau Yesaya yang mengecam pembuat aturan, “Celakalah mereka yang menentukan ketetapan-ketetapan yang tidak adil, dan mereka yang mengeluarkan keputusan-keputusan kelaliman,” (Yes 10:1). Para nabi menyerukan hukuman Allah yang akan menimpa orang yang berlaku kejam terhadap sesamanya. Gambaran hukuman Allah yang diserukan para nabi sangat mengerikan. Bahkan pembuangan Babel dianggap sebagai hukuman Allah terhadap Israel yang telah berlaku tidak adil dan rajanya tidak mau mendengarkan suara Allah.
Yesus tidak melakukan sama seperti para nabi terdahulu. Dia tidak mengecam para penindas atau mengancam hukuman yang mengerikan, melainkan mengubah sistem yang tidak adil. Bila yang diubah hanya orangnya sedangkan sistem tidak diubah maka penindasan akan terjadi lagi. Lebih jauh lagi Yesus mencabut akar kejahatan yaitu karena orang telah kehilangan kasih kepada Allah dan sesamanya. Hukum-hukum pun diberi pendasaran baru. Dalam Kotbah di bukit Yesus dengan jelas dan tegas memberi nilai baru pada hukum yang telah dimanipulasi. Dia memberi tafsiran baru. “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Mat 5:27-28). Disini orang tidak lagi berpatok pada hukum tertulis tapi pada hati nurani. Maka perubahan Yesus sangat mendasar yaitu dari hati nurani manusia. Segala hukum, sistem dan tata aturan ibadah dapat dimanipulasi atau disesuaikan demi kepentingan yang berkuasa. Sedangkan hati nurani tidak dapat dimanipulasi. Maka orang harus jujur. “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Mat 5:37)
Kehadiran Yesus bukan saja membongkar sistem dan hukum yang ada, tapi juga menunjukkan keterlibatan Allah dalam masalah manusia. Dia menunjukkan dalam hidupNya yang miskin dan keberpihakkannya pada orang-orang yang ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang. Dia berteman dengan Zakheus, membela perempuan yang tertangkap berbuat jinah, mengangkat Simon orang Zelot menjadi salah satu muridNya. Zelot adalah kelompok pemberontak melawan penjajah Romawi. Membela anak-anak yang dianggap warga kelas dua. Membela orang Samaria. Tindakan penyembuhannya juga untuk mengangkat martabat manusia. Akibatnya Dia banyak menuai kritik dan menciptakan permusuhan dengan para pemimpin yang ingin tetap mapan. Tapi Yesus tetap konsisten. Dia terus berjuang bersama rakyat miskin.
Gereja adalah kelanjutan komunitas yang dibangun oleh Yesus. Maka mau tidak mau Gereja harus secara nyata terlibat dalam penderitaan dan aneka masalah kaum miskin. Tidak bisa Gereja hanya menjadi penyeru seperti para nabi, tapi Gereja harus berada di tengah kaum miskin dan berjuang bersama kaum miskin melawan penindasan. Bila Gereja hanya sibuk membenahi tata cara ibadah, lagu-lagu atau gedung tapi tidak tegas berpihak pada kaum miskin, maka Gereja kehilangan semangat awalinya. Gereja menjadi mandul dan tidak mencerminkan kehadiran Allah yang berpihak.
Para nabi dalam Perjanjian Lama mengecam para penguasa yang bertindak tidak adil. Misalnya Amos yang mengecam orang yang memperkaya dirinya sendiri, "Dengarlah firman ini, hai lembu-lembu Basan, yang ada di gunung Samaria, yang memeras orang lemah, yang menginjak orang miskin,” (Am 4:1) atau Yesaya yang mengecam pembuat aturan, “Celakalah mereka yang menentukan ketetapan-ketetapan yang tidak adil, dan mereka yang mengeluarkan keputusan-keputusan kelaliman,” (Yes 10:1). Para nabi menyerukan hukuman Allah yang akan menimpa orang yang berlaku kejam terhadap sesamanya. Gambaran hukuman Allah yang diserukan para nabi sangat mengerikan. Bahkan pembuangan Babel dianggap sebagai hukuman Allah terhadap Israel yang telah berlaku tidak adil dan rajanya tidak mau mendengarkan suara Allah.
Yesus tidak melakukan sama seperti para nabi terdahulu. Dia tidak mengecam para penindas atau mengancam hukuman yang mengerikan, melainkan mengubah sistem yang tidak adil. Bila yang diubah hanya orangnya sedangkan sistem tidak diubah maka penindasan akan terjadi lagi. Lebih jauh lagi Yesus mencabut akar kejahatan yaitu karena orang telah kehilangan kasih kepada Allah dan sesamanya. Hukum-hukum pun diberi pendasaran baru. Dalam Kotbah di bukit Yesus dengan jelas dan tegas memberi nilai baru pada hukum yang telah dimanipulasi. Dia memberi tafsiran baru. “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Mat 5:27-28). Disini orang tidak lagi berpatok pada hukum tertulis tapi pada hati nurani. Maka perubahan Yesus sangat mendasar yaitu dari hati nurani manusia. Segala hukum, sistem dan tata aturan ibadah dapat dimanipulasi atau disesuaikan demi kepentingan yang berkuasa. Sedangkan hati nurani tidak dapat dimanipulasi. Maka orang harus jujur. “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Mat 5:37)
Kehadiran Yesus bukan saja membongkar sistem dan hukum yang ada, tapi juga menunjukkan keterlibatan Allah dalam masalah manusia. Dia menunjukkan dalam hidupNya yang miskin dan keberpihakkannya pada orang-orang yang ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang. Dia berteman dengan Zakheus, membela perempuan yang tertangkap berbuat jinah, mengangkat Simon orang Zelot menjadi salah satu muridNya. Zelot adalah kelompok pemberontak melawan penjajah Romawi. Membela anak-anak yang dianggap warga kelas dua. Membela orang Samaria. Tindakan penyembuhannya juga untuk mengangkat martabat manusia. Akibatnya Dia banyak menuai kritik dan menciptakan permusuhan dengan para pemimpin yang ingin tetap mapan. Tapi Yesus tetap konsisten. Dia terus berjuang bersama rakyat miskin.
Gereja adalah kelanjutan komunitas yang dibangun oleh Yesus. Maka mau tidak mau Gereja harus secara nyata terlibat dalam penderitaan dan aneka masalah kaum miskin. Tidak bisa Gereja hanya menjadi penyeru seperti para nabi, tapi Gereja harus berada di tengah kaum miskin dan berjuang bersama kaum miskin melawan penindasan. Bila Gereja hanya sibuk membenahi tata cara ibadah, lagu-lagu atau gedung tapi tidak tegas berpihak pada kaum miskin, maka Gereja kehilangan semangat awalinya. Gereja menjadi mandul dan tidak mencerminkan kehadiran Allah yang berpihak.
TEOLOGI KAUM MISKIN
Teologi secara sederhana dapat diartiakan sebagai ilmu tentang refleksi rasional sistematis mengenai iman. Pemaknaan sederhana tentang teologi menunjukkan adanya 3 unsur dalam teologi yaitu refleksi, rasional dan iman. Refleksi adalah usaha manusia untuk melihat situasi yang dialami atau yang terjadi di sekitarnya dalam terang iman. Rasional adalah usaha manusia untuk mengungkapkan imannya dengan pertimbangan akal budi. Sedangkan iman adalah suatu pengalaman dimana kita menanggapi kabar gembira Allah dan mengakui Allah sebagai pencipta semesta serta mengakui apa yang dikerjakan bagi keselamatan kita.
Para teolog yang terlibat dalam kehidupan masyarakat berusaha merefleksi realitas yang ada dan berusaha membuat sistematisnya. Munculnya teologi pembebasan, teologi Minjung, teologi Dailit, teologi Hitam dan sebagainya disebabkan para teolognya terlibat dan bergulat dengan realitas masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, disingkirkan, ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang. Mereka merasa teologi yang ada tidak memberikan jawaban atas aneka masalah yang digulatinya. Maka mereka membangu sebuah konstrukis teologi yang baru. Teologi yang dilihat dari sudut pandang rakyat miskin dan menderita. Mereka bertanya apa yang akan dilakukan Yesus bila menghadapi situasi seperti ini. Mereka membangun harapan-harapan akan pembebasan seperti yang dikehendaki Allah. Mereka berusaha menterjemahkan tindakan Allah bagi manusia dalam situasi seperti ini. Maka meski semua teologi itu melihat dari sudut rakyat miskin tapi ada perbedaan satu dengan yang lain, sebab realitas kemiskinan masyarakatnya yang berbeda. Masalah kemiskinan masyarakat dan budaya masyarakat miskin di Amerika Selatan berbeda dengan India dan Korea. Dengan demikian teologi sangat kontekstual sebab muncul dari masyarakat dan berusaha menanggapi masalah masyarakat setempat.
Menurut DR Joseph Neetilal IMS (Serikat Misionaris India) munculnya teologi Dailit dari masyarakat kasta Avarna, masyarakat diluar keempat kasta. Orang yang paling rendah kedudukannya dalam strata kasta di India. Teologi ini berkembang bukan dari para pemimpin Gereja tapi dari masyarakat. Sebab para pemimpin Gereja di India berasal dari strata kasta atas dan menikmati rasa aman baik secara institusional maupun finansial. Mereka kurang terlibat dalam perjuangan kaum tertindas sehingga tidak mampu merefleksikan pengalaman penderitaan dan perjuangan masyarakat. Kotbah-kotbah mereka hanya menyatakan ada kemiskinan tapi pembebasan kaum miskin tidak menjadi pilihan utamanya. Pembelaan pada kaum miskin hanya dapat muncul bila seseorang mau terlibat secara penuh dalam kehidupan kaum miskin.
Kemiskinan ada dimana-mana dan dalam aneka bentuk. Indonesia pun mempunyai banyak realitas kemiskinan yang berbeda. Kemiskinan di Jawa berbeda dengan di Nusa Tenggara, Papua, Kalimantan dan sebagainya. Setiap daerah mempunyai bentuk kemiskinan yang berbeda meski intinya sama dimana manusia diperlakukan tidak adil oleh sesamanya. Ada manusia yang merasa dirinya memiliki kekuasaan lebih sehingga dapat merampas tanah, menindas sesama, memanipulasi dan membeli hukum dan aparat keamanan demi kepentingannya dan sebagainya. Untuk itu perlu digali teologi-teologi lokal. Untuk memunculkan teologi Papua, Kalimantan atau sebagianya, perlu ada komitmen dari orang-orang untuk terlibat dan sungguh berjuang bersama dan untuk rakyat miskin. Membuat metode-metode pembebasan dan mengorganisir rakyat.
Keterlibatan dalam masyarakat miskin bukanlah sebuah pilihan yang mudah. Orang akan dicurigai dan dicap sebagai orang kiri, revolusioner atau subversif. Dia akan berhadapan dengan aparat negara dan Gereja sendiri. Gereja yang sudah menikmati keamanan dan kenyamanan dapat merasa terganggu, sebab kuatir apa yang dinikmati saat ini akan hilang. Yesus memilih terlibat dalam perjuangan rakyat miskin daripada menjadi raja atau berkompromi dengan penguasa agama dan pemerintahan yang tidak adil. Sebuah pilihan yang membawaNya ke bukit Golgota.
Para teolog yang terlibat dalam kehidupan masyarakat berusaha merefleksi realitas yang ada dan berusaha membuat sistematisnya. Munculnya teologi pembebasan, teologi Minjung, teologi Dailit, teologi Hitam dan sebagainya disebabkan para teolognya terlibat dan bergulat dengan realitas masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, disingkirkan, ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang. Mereka merasa teologi yang ada tidak memberikan jawaban atas aneka masalah yang digulatinya. Maka mereka membangu sebuah konstrukis teologi yang baru. Teologi yang dilihat dari sudut pandang rakyat miskin dan menderita. Mereka bertanya apa yang akan dilakukan Yesus bila menghadapi situasi seperti ini. Mereka membangun harapan-harapan akan pembebasan seperti yang dikehendaki Allah. Mereka berusaha menterjemahkan tindakan Allah bagi manusia dalam situasi seperti ini. Maka meski semua teologi itu melihat dari sudut rakyat miskin tapi ada perbedaan satu dengan yang lain, sebab realitas kemiskinan masyarakatnya yang berbeda. Masalah kemiskinan masyarakat dan budaya masyarakat miskin di Amerika Selatan berbeda dengan India dan Korea. Dengan demikian teologi sangat kontekstual sebab muncul dari masyarakat dan berusaha menanggapi masalah masyarakat setempat.
Menurut DR Joseph Neetilal IMS (Serikat Misionaris India) munculnya teologi Dailit dari masyarakat kasta Avarna, masyarakat diluar keempat kasta. Orang yang paling rendah kedudukannya dalam strata kasta di India. Teologi ini berkembang bukan dari para pemimpin Gereja tapi dari masyarakat. Sebab para pemimpin Gereja di India berasal dari strata kasta atas dan menikmati rasa aman baik secara institusional maupun finansial. Mereka kurang terlibat dalam perjuangan kaum tertindas sehingga tidak mampu merefleksikan pengalaman penderitaan dan perjuangan masyarakat. Kotbah-kotbah mereka hanya menyatakan ada kemiskinan tapi pembebasan kaum miskin tidak menjadi pilihan utamanya. Pembelaan pada kaum miskin hanya dapat muncul bila seseorang mau terlibat secara penuh dalam kehidupan kaum miskin.
Kemiskinan ada dimana-mana dan dalam aneka bentuk. Indonesia pun mempunyai banyak realitas kemiskinan yang berbeda. Kemiskinan di Jawa berbeda dengan di Nusa Tenggara, Papua, Kalimantan dan sebagainya. Setiap daerah mempunyai bentuk kemiskinan yang berbeda meski intinya sama dimana manusia diperlakukan tidak adil oleh sesamanya. Ada manusia yang merasa dirinya memiliki kekuasaan lebih sehingga dapat merampas tanah, menindas sesama, memanipulasi dan membeli hukum dan aparat keamanan demi kepentingannya dan sebagainya. Untuk itu perlu digali teologi-teologi lokal. Untuk memunculkan teologi Papua, Kalimantan atau sebagianya, perlu ada komitmen dari orang-orang untuk terlibat dan sungguh berjuang bersama dan untuk rakyat miskin. Membuat metode-metode pembebasan dan mengorganisir rakyat.
Keterlibatan dalam masyarakat miskin bukanlah sebuah pilihan yang mudah. Orang akan dicurigai dan dicap sebagai orang kiri, revolusioner atau subversif. Dia akan berhadapan dengan aparat negara dan Gereja sendiri. Gereja yang sudah menikmati keamanan dan kenyamanan dapat merasa terganggu, sebab kuatir apa yang dinikmati saat ini akan hilang. Yesus memilih terlibat dalam perjuangan rakyat miskin daripada menjadi raja atau berkompromi dengan penguasa agama dan pemerintahan yang tidak adil. Sebuah pilihan yang membawaNya ke bukit Golgota.
Selasa, 25 Mei 2010
IMAM KOMUNIS (Renungan 4 tahun Lapindo)
Siang itu warga Renokenongo yang tinggal di Pasar Baru Porong mengadakan aksi di jalanan Porong. Mereka menuntut realisasi ganti rugi yang dijanjikan pihak Lapindo. Aku sudah lama terlibat dalam pendampingan kurban lumpur. Pada akhir pertemuan malam itu aku diberitahu oleh seorang warga agar hati-hati sebab namaku dan nama seorang teman sudah dicatat dan diawasi oleh pihak aparat. Beberapa aparat sudah mengenal wajahku, tapi belum mengenal wajah temanku.
Aksi dimulai pukul 9 dan dibuka dengan iring-iringan memakamkan seorang warga yang meninggal di pengungsian. Sejak pagi aparat sudah mengepung Pasar Baru Porong tempat para pengungsi kurban lumpur. Ratusan aparat keamanan dan intel menyebar di warung-warung makan dan setiap sudut pasar. Setelah pemakanan aksi dilanjutkan dengan menutup sebagian jalan. Ketika sedang berada di tengah aksi masa ada seorang berbadan gemuk datang menghampiriku. Dalam pembicaraan beberapa kali dia menyebut namaku. Aku semula berpikir dia adalah salah satu warga kurban lumpur. Tapi kemudian dia memegang tanganku dan membawaku ke asrama brimob yang tidak jauh dari sana. Ternyata dia seorang intel. Dia tanya dimana temanku. Aku jawab mungkin sedang memotret, padahal temanku berdiri hanya tiga langkah dariku.
Di asrama brimob aku berhadapan dengan beberapa aparat yang dipimpin kapolres. Mereka menegurku sebab terlibat dalam aksi perlawanan rakyat Porong. Menurut mereka tempatku bukan disini. Aku mengatakan bahwa aku akan berada di tempat orang tertindas dan miskin. Seorang aparat lalu menyebutku imam kiri, komunis. Aku terhenyak mengapa aku dikatakan komunis? Mengapa orang yang berjuang bersama kuam miskin disebut komunis? Setelah 30 menit ditahan untuk mendengarkan ceramah dan perintah agar menyingkir dari tempat ini, aku dilepas oleh mereka. Aku pun kembali ke tengah masa aksi dan terus diawasi oleh intel.
Bagi banyak orang keterlibatan seorang imam dalam sebuah gerakan perjuangan rakyat miskin dianggap sebagai salah tempat. Mereka berpendapat bahwa tempat seorang imam adalah di dalam perayaan sakramen. Bukan di tempat demonstrasi. Pendapat ini bukan hanya muncul di antara orang non Katolik tapi juga di tengah umat Katolik. Banyak imam dan umat Katolik yang tidak setuju bila imam menyerukan ketidak adilan, penindasan, dan perjuangan rakyat miskin. Imam hanya boleh berbicara soal kesabaran, kasih, dan sebagainya. Apakah Yesus mengajarkan seperti itu?
Dom Helder Camara (7 Februari 1909-27 Agustus 1999) uskup Olinda dan Recife, Brasil menulis dalam Church and Colonialism, bila dia berkotbah dihadapan para buruh dalam misa yang diselengarakan oleh orang kaya agar buruh taat pada atasan, sabar dan menunaikan tugasnya untuk para majikan, maka dia akan disebut uskup yang saleh. Dia pun akan diundang untuk misa disana lagi. Tapi bila dia berkotbah agar para tuan tanah mengedepankan hak-hak buruh, maka dia akan dikatakan sebagai uskup progresif, revolusioner, komunis. Tulisan ini merupakan kritik keras bahwa Gereja pun sering terjebak oleh kekuasaan yang tidak adil, sehingga menindas kaum miskin.
Yesus datang ke dunia untuk berpihak pada kaum marginal. Orang yang disingkirkan dan kaum miskin. KeberpihakanNya pada kaum miskin membuat Dia menolak untuk menjadi penguasa. “Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.” (Yoh 6:15). Dia pun akhirnya harus berhadapan dengan penguasa dengan tuduhan menghasut rakyat. “Di situ mereka mulai menuduh Dia, katanya: "Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar.” (Luk 23:2). Bila Yesus tegas mengambil posisi bagaimana dengan Gereja terutama para imamNya? Apakah ingin menjadi imam saleh atau berani menjadi imam yang dicap sebagai progresif, revolusioner dan komunis?
Aksi dimulai pukul 9 dan dibuka dengan iring-iringan memakamkan seorang warga yang meninggal di pengungsian. Sejak pagi aparat sudah mengepung Pasar Baru Porong tempat para pengungsi kurban lumpur. Ratusan aparat keamanan dan intel menyebar di warung-warung makan dan setiap sudut pasar. Setelah pemakanan aksi dilanjutkan dengan menutup sebagian jalan. Ketika sedang berada di tengah aksi masa ada seorang berbadan gemuk datang menghampiriku. Dalam pembicaraan beberapa kali dia menyebut namaku. Aku semula berpikir dia adalah salah satu warga kurban lumpur. Tapi kemudian dia memegang tanganku dan membawaku ke asrama brimob yang tidak jauh dari sana. Ternyata dia seorang intel. Dia tanya dimana temanku. Aku jawab mungkin sedang memotret, padahal temanku berdiri hanya tiga langkah dariku.
Di asrama brimob aku berhadapan dengan beberapa aparat yang dipimpin kapolres. Mereka menegurku sebab terlibat dalam aksi perlawanan rakyat Porong. Menurut mereka tempatku bukan disini. Aku mengatakan bahwa aku akan berada di tempat orang tertindas dan miskin. Seorang aparat lalu menyebutku imam kiri, komunis. Aku terhenyak mengapa aku dikatakan komunis? Mengapa orang yang berjuang bersama kuam miskin disebut komunis? Setelah 30 menit ditahan untuk mendengarkan ceramah dan perintah agar menyingkir dari tempat ini, aku dilepas oleh mereka. Aku pun kembali ke tengah masa aksi dan terus diawasi oleh intel.
Bagi banyak orang keterlibatan seorang imam dalam sebuah gerakan perjuangan rakyat miskin dianggap sebagai salah tempat. Mereka berpendapat bahwa tempat seorang imam adalah di dalam perayaan sakramen. Bukan di tempat demonstrasi. Pendapat ini bukan hanya muncul di antara orang non Katolik tapi juga di tengah umat Katolik. Banyak imam dan umat Katolik yang tidak setuju bila imam menyerukan ketidak adilan, penindasan, dan perjuangan rakyat miskin. Imam hanya boleh berbicara soal kesabaran, kasih, dan sebagainya. Apakah Yesus mengajarkan seperti itu?
Dom Helder Camara (7 Februari 1909-27 Agustus 1999) uskup Olinda dan Recife, Brasil menulis dalam Church and Colonialism, bila dia berkotbah dihadapan para buruh dalam misa yang diselengarakan oleh orang kaya agar buruh taat pada atasan, sabar dan menunaikan tugasnya untuk para majikan, maka dia akan disebut uskup yang saleh. Dia pun akan diundang untuk misa disana lagi. Tapi bila dia berkotbah agar para tuan tanah mengedepankan hak-hak buruh, maka dia akan dikatakan sebagai uskup progresif, revolusioner, komunis. Tulisan ini merupakan kritik keras bahwa Gereja pun sering terjebak oleh kekuasaan yang tidak adil, sehingga menindas kaum miskin.
Yesus datang ke dunia untuk berpihak pada kaum marginal. Orang yang disingkirkan dan kaum miskin. KeberpihakanNya pada kaum miskin membuat Dia menolak untuk menjadi penguasa. “Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.” (Yoh 6:15). Dia pun akhirnya harus berhadapan dengan penguasa dengan tuduhan menghasut rakyat. “Di situ mereka mulai menuduh Dia, katanya: "Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar.” (Luk 23:2). Bila Yesus tegas mengambil posisi bagaimana dengan Gereja terutama para imamNya? Apakah ingin menjadi imam saleh atau berani menjadi imam yang dicap sebagai progresif, revolusioner dan komunis?
Minggu, 23 Mei 2010
ALLAH DALAM PENDERITAAN
Banyak orang mulai serius bergulat dengan Allah ketika dia masuk dalam penderitaan. Orang mempertanyakan kaitan antara kekuasaan Allah dengan penderitaan atau kejahatan manusia yang membuat sesamanya menderita. Epikurus (341 SM-270 SM) seorang filsuf Yunani menulis, “Atau Allah mau untuk melenyapkan kejahatan tapi tidak mampu, atau Dia mampu tapi tidak mau atau Dia tidak mampu dan tidak mau. Jika Dia tidak mampu melenyapkan kejahatan berarti Dia lemah. Bila Dia tidak mau melenyapkan kejahatan berarti Dia jahat. Ini sesuatu yang asing bagi kita. Bila Dia tidak mampu sekaligus tidak mau maka Dia lemah sekaligus jahat.” Bila Dia mampu dan mau maka tidak akan ada kejahatan dan penderitaan di dunia sehingga orang tidak perlu lagi bergulat atau mempertanyakan Allah.
Bagi orang beriman yang menyakini bahwa Allah itu Mahakuasa dan penuh belas kasih, adanya penderitaan semakin membuatnya bergolak. Apalagi bila penderitaan itu menimpa atau orang saleh atau orang yang beriman pada Kristus. Sejak kekristenan muncul sudah jutaan orang dibunuh sebab mereka percaya pada Kristus. Stefanus adalah orang Kristen pertama yang dibunuh. Setelah para rasul yang dibunuh satu demi satu. Pada jaman Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus menjadi kaisar Roma tahun 54-68 ada banyak ribuan orang Kristen yang dibunuh termasuk Petrus dan Paulus hanya demi kepuasan diri. Pada abad XX ribuan orang Kristen dibunuh di Turki, Cina, Jepang dan sebagainya. Mengapa Tuhan membiarkan mereka dibunuh?
Shusaku Endo (27-3-1923 sampai 29-9-1996) menulis novel berjudul Silence (1966) yang menceritakan tentang pergulatan misionaris Portugis bernama Rodriques yang menjadi saksi pembunuhan banyak umat Katolik oleh gubernur Chikugo sampai akhirnya Rodriques sendiri ditangkap dan disiksa. Dia bergulat dimana Tuhan? Mengapa Tuhan diam saja melihat penderitaan umatNya? Siksaan membuat Rodriques terpaksa menginjak-injak gambar Yesus dan Maria dari perungu yang disebut fumie. Dia melakukan atas dorongan Yesus sendiri untuk menginjak-injakNya, sebab Dia memang lahir untuk dinjak-injak, untuk menanggung penderitaan manusia. Yesus tidak bersembunyi tapi ada di sebelah Rodriques untuk menanggung penderitaannya.
Kita mengikuti Yesus sering berharap bahwa kita akan mendapat banyak berkat dan kebahagiaan. Doa-doa akan dikabulkan dan kita dibebaskan dari segala penderitaan. Kita akan sukses dan bahagia. Pandangan ini ada benarnya, sebab Tuhan memang menjanjikan dan melakukan semua itu. Tapi ada tindakan-tindakan Tuhan yang penuh misteri yang tidak bisa kita pahami. Penderitaan, kegagalan, doa yang tidak dikabulkan dan aneka hal yang tidak kita harapkan. Pada saat itulah kita menjadi goyah dan bertanya-tanya. Sebetulnya bila kita memandang salib, kita melihat Tuhan yang rapuh. Tuhan yang kalah. Tuhan yang dihina. Bukan Tuhan yang kuat dan berkuasa. Orang-orang disekitar salib pun berharap ada kekuasaan yang akan muncul, tapi harapan mereka tidak terwujud. Yesus tetap tergantung disalib dengan mengerikan.
“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku.” (Mat 27:46). Penderitaan yang sedemikian hebat membuat Yesus merasa Allah telah meninggalkan Dia. Dia berteriak tapi Allah diam. Teriakan Yesus merupakan teriakan ribuan bahkan jutaan orang yang menderita sehingga mereka merasa Allah diam bahkan ada yang mengatakan Allah telah mati. Apakah Allah diam dan tidak menyelamatkan Yesus? Allah memberikan kemuliaan dengan kebangkitanNya yang mulia. Bila kuasa Allah menurunkan Yesus dari salib, mungkin kebangkitan tidak akan terjadi. Dia diam sebab mempunyai rencana lebih besar lagi yaitu kebangkitan yang mulia. Yesus pun tidak akan pernah meninggalkan kita. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:20). Dia akan tetap disamping kita dalam suka dan duka. Yesus ada disamping kita merasakan penderitaan kita.
Bagi orang beriman yang menyakini bahwa Allah itu Mahakuasa dan penuh belas kasih, adanya penderitaan semakin membuatnya bergolak. Apalagi bila penderitaan itu menimpa atau orang saleh atau orang yang beriman pada Kristus. Sejak kekristenan muncul sudah jutaan orang dibunuh sebab mereka percaya pada Kristus. Stefanus adalah orang Kristen pertama yang dibunuh. Setelah para rasul yang dibunuh satu demi satu. Pada jaman Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus menjadi kaisar Roma tahun 54-68 ada banyak ribuan orang Kristen yang dibunuh termasuk Petrus dan Paulus hanya demi kepuasan diri. Pada abad XX ribuan orang Kristen dibunuh di Turki, Cina, Jepang dan sebagainya. Mengapa Tuhan membiarkan mereka dibunuh?
Shusaku Endo (27-3-1923 sampai 29-9-1996) menulis novel berjudul Silence (1966) yang menceritakan tentang pergulatan misionaris Portugis bernama Rodriques yang menjadi saksi pembunuhan banyak umat Katolik oleh gubernur Chikugo sampai akhirnya Rodriques sendiri ditangkap dan disiksa. Dia bergulat dimana Tuhan? Mengapa Tuhan diam saja melihat penderitaan umatNya? Siksaan membuat Rodriques terpaksa menginjak-injak gambar Yesus dan Maria dari perungu yang disebut fumie. Dia melakukan atas dorongan Yesus sendiri untuk menginjak-injakNya, sebab Dia memang lahir untuk dinjak-injak, untuk menanggung penderitaan manusia. Yesus tidak bersembunyi tapi ada di sebelah Rodriques untuk menanggung penderitaannya.
Kita mengikuti Yesus sering berharap bahwa kita akan mendapat banyak berkat dan kebahagiaan. Doa-doa akan dikabulkan dan kita dibebaskan dari segala penderitaan. Kita akan sukses dan bahagia. Pandangan ini ada benarnya, sebab Tuhan memang menjanjikan dan melakukan semua itu. Tapi ada tindakan-tindakan Tuhan yang penuh misteri yang tidak bisa kita pahami. Penderitaan, kegagalan, doa yang tidak dikabulkan dan aneka hal yang tidak kita harapkan. Pada saat itulah kita menjadi goyah dan bertanya-tanya. Sebetulnya bila kita memandang salib, kita melihat Tuhan yang rapuh. Tuhan yang kalah. Tuhan yang dihina. Bukan Tuhan yang kuat dan berkuasa. Orang-orang disekitar salib pun berharap ada kekuasaan yang akan muncul, tapi harapan mereka tidak terwujud. Yesus tetap tergantung disalib dengan mengerikan.
“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku.” (Mat 27:46). Penderitaan yang sedemikian hebat membuat Yesus merasa Allah telah meninggalkan Dia. Dia berteriak tapi Allah diam. Teriakan Yesus merupakan teriakan ribuan bahkan jutaan orang yang menderita sehingga mereka merasa Allah diam bahkan ada yang mengatakan Allah telah mati. Apakah Allah diam dan tidak menyelamatkan Yesus? Allah memberikan kemuliaan dengan kebangkitanNya yang mulia. Bila kuasa Allah menurunkan Yesus dari salib, mungkin kebangkitan tidak akan terjadi. Dia diam sebab mempunyai rencana lebih besar lagi yaitu kebangkitan yang mulia. Yesus pun tidak akan pernah meninggalkan kita. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:20). Dia akan tetap disamping kita dalam suka dan duka. Yesus ada disamping kita merasakan penderitaan kita.
Sabtu, 24 April 2010
PASKAH TELAH BERLALU
Hari raya Paskah sudah berlalu. Semua aktifitas Gereja sudah kembali seperti semula. Tidak ada lagi rapat-rapat untuk merencanakan perayaan Paskah. Tidak ada lagi orang berlatih koor sampai larut malam agar perayaan Paskah dapat meriah dan bagus. Tidak ada lagi orang sibuk membetulkan dan menambah aneka peralatan dan kursi agar umat yang hadir dalam perayaan Tri Hari Suci dapat mengikuti semua upacara dengan nyaman. Tidak ada latihan drama untuk mevisualisasikan kisah sengsara. Tidak ada lagi orang berkumpul untuk mengadakan pendalaman iman yang sesuai dengan tema APP. Kesibukan menjelang Paskah sudah selesai. Kini semua tinggal kenangan. Orang hanya berbicara mengenai kemeriahan Minggu Palma dimana orang berarak mengelilingi jalan sekitar gereja sambil membawa daun palma. Atau memuji drama visualisasi kisah sengsara yang menyentuh dan sebagainya.
Apakah Paskah sudah berhenti dan kita mulai mempersiapkan hari paroki, Natal atau hari raya lain? Paskah adalah peringatan kebangkitan Yesus. Kebangkitan membuat Yesus berubah. Menurut Albert Enstein (1879-1955), seorang yang dianggap paling genius di dunia, setelah bangkit Yesus mengenakan tubuh sempurna. Tubuh yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dia dapat menembus rumah yang tertutup rapat tapi Dia dapat disentuh. Dia dapat menghilang tapi Dia dapat makan dan minum. Dia dapat berada di dua tempat secara bersamaan. Menurut Einstein tubuh semacam inilah yang diharapkan oleh manusia.
Bila setelah bangkit Yesus mengenakan tubuh baru yang sempurna bagaimanakah dengan kita? Salah satu bagian dalam liturgi malam Paskah adalah pembaptisan. Bila tidak ada yang dibaptis maka orang yang dibaptis diajak untuk mengingat kembali upacara pembaptisan yang telah mereka terima. Orang diajak untuk mengulangi lagi janji baptis yang pernah mereka ucapkan ketika menerima pembaptisan. Dengan baptis atau menerima Yesus kita menjadi manusia baru. “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru” (Ef 4:22-24). Dengan baptis terjadi pembaharuan diri. St. Paulus dalam Ef 4:25-32 sangat jelas memaparkan apa yang harus kita lakukan sebagai manusia baru.
Bila Paskah menjadi titik tolak perubahan tubuh Yesus dari tubuh manusiawi, yang terikat ruang dan waktu, menjadi tubuh yang sempurna, maka kita pun hendaknya menjadikan Paskah sebagai titik tolak dari hidup lama menjadi hidup baru. Tubuh kita tetap sama terikat ruang dan waktu. Tapi ada kebaruan dalam tubuh kita yaitu perubahan sikap dan perkataan kita. Kita tidak lagi bersikap, bertindak atau berkata-kata seperti layaknya manusia lama, manusia yang belum mengenal penebusan atau manusia yang beluk mengikuti Yesus. Melainkan seluruh perkataan dan perbuatan kita didasari dan disemangati oleh ajaran Yesus. Dengan demikian Paskah bukan hanya sekedar peringatan liturgi yang melelahkan melainkan dapat kita maknai sebagai titik tolak perubahan diri.
Namun hal ini tidak mudah, sebab kita masih terikat dengan keinginan duniawi dan mudah jatuh dalam dosa. Kita masih hidup dalam kedagingan. Paulus mengingatkan agar kita memohon Roh Kudus, supaya Dia berkarya dalam hati diri kita. Rohlah yang mendorong dan menyemangati kita untuk senantiasa berusaha menjalankan apa yang dikehendaki oleh Allah. Bila kita terus memohon kehadiran Roh dalam hati maka hidup kita akan dikuasi oleh Roh. Kita tidak lagi mengikuti keinginan daging melainkan keinginan Roh yang akan membaharui diri. Maka pertanyaan bagi kita semua setelah Paskah berlalu adalah apakah kebaruan yang ada dalam diriku? Memang kita tidak mampu mengubah hidup secara total, kecuali ada anugerah khusus dari Tuhan. Tapi minimal kita bisa mengubah satu dua sifat kedagingan kita, sehingga hidup kita dari tahun ke tahun akan menjadi lebih baik lagi.
Apakah Paskah sudah berhenti dan kita mulai mempersiapkan hari paroki, Natal atau hari raya lain? Paskah adalah peringatan kebangkitan Yesus. Kebangkitan membuat Yesus berubah. Menurut Albert Enstein (1879-1955), seorang yang dianggap paling genius di dunia, setelah bangkit Yesus mengenakan tubuh sempurna. Tubuh yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dia dapat menembus rumah yang tertutup rapat tapi Dia dapat disentuh. Dia dapat menghilang tapi Dia dapat makan dan minum. Dia dapat berada di dua tempat secara bersamaan. Menurut Einstein tubuh semacam inilah yang diharapkan oleh manusia.
Bila setelah bangkit Yesus mengenakan tubuh baru yang sempurna bagaimanakah dengan kita? Salah satu bagian dalam liturgi malam Paskah adalah pembaptisan. Bila tidak ada yang dibaptis maka orang yang dibaptis diajak untuk mengingat kembali upacara pembaptisan yang telah mereka terima. Orang diajak untuk mengulangi lagi janji baptis yang pernah mereka ucapkan ketika menerima pembaptisan. Dengan baptis atau menerima Yesus kita menjadi manusia baru. “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru” (Ef 4:22-24). Dengan baptis terjadi pembaharuan diri. St. Paulus dalam Ef 4:25-32 sangat jelas memaparkan apa yang harus kita lakukan sebagai manusia baru.
Bila Paskah menjadi titik tolak perubahan tubuh Yesus dari tubuh manusiawi, yang terikat ruang dan waktu, menjadi tubuh yang sempurna, maka kita pun hendaknya menjadikan Paskah sebagai titik tolak dari hidup lama menjadi hidup baru. Tubuh kita tetap sama terikat ruang dan waktu. Tapi ada kebaruan dalam tubuh kita yaitu perubahan sikap dan perkataan kita. Kita tidak lagi bersikap, bertindak atau berkata-kata seperti layaknya manusia lama, manusia yang belum mengenal penebusan atau manusia yang beluk mengikuti Yesus. Melainkan seluruh perkataan dan perbuatan kita didasari dan disemangati oleh ajaran Yesus. Dengan demikian Paskah bukan hanya sekedar peringatan liturgi yang melelahkan melainkan dapat kita maknai sebagai titik tolak perubahan diri.
Namun hal ini tidak mudah, sebab kita masih terikat dengan keinginan duniawi dan mudah jatuh dalam dosa. Kita masih hidup dalam kedagingan. Paulus mengingatkan agar kita memohon Roh Kudus, supaya Dia berkarya dalam hati diri kita. Rohlah yang mendorong dan menyemangati kita untuk senantiasa berusaha menjalankan apa yang dikehendaki oleh Allah. Bila kita terus memohon kehadiran Roh dalam hati maka hidup kita akan dikuasi oleh Roh. Kita tidak lagi mengikuti keinginan daging melainkan keinginan Roh yang akan membaharui diri. Maka pertanyaan bagi kita semua setelah Paskah berlalu adalah apakah kebaruan yang ada dalam diriku? Memang kita tidak mampu mengubah hidup secara total, kecuali ada anugerah khusus dari Tuhan. Tapi minimal kita bisa mengubah satu dua sifat kedagingan kita, sehingga hidup kita dari tahun ke tahun akan menjadi lebih baik lagi.
Senin, 22 Februari 2010
INKULTURASI

Seorang teman yang melayani di pedalaman Kalimantan Barat sharing bagaimana dia memberikan nilai baru dalam budaya yang sudah ada. Sebagian suku Dayak di Kalbar masih memegang budaya kayau atau budaya memenggal kepala. Kayau dari kata kayo yang artinya mencari. Dari beberapa cerita ada beberapa pemahaman tentang budaya kayau. Ada yang mengatakan bahwa mengkayau itu untuk menunjukkan kegagahan seseorang. Ada yang mengatakan sebagai tanda bakti kepada orang tua yang meninggal. Arwah orang tua diiringi oleh arwah orang dari desa lain yang dikayau. Memang pada jaman ini budaya kayau sudah nyaris tidak ada lagi. Namun bisa muncul lagi bila ada kerusuhan seperti pada kasus Sampit pada tahun 2001.
Temanku mengajarkan agar suku Dayak tetap menjalankan budaya kayau tapi diberi arti yang baru. Kayau yang berarti membunuh orang diberi nilai baru. Orang yang dikayau bukan dibunuh fisiknya melainkan jiwanya. Seperti Yesus yang dibunuh dan bangkit, maka orang yang dibunuh itu harus dibangkitkan lagi menjadi manusia baru yaitu sebagai pengikut Kristus. “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rm 6:4) Orang yang ingin mengkayau harus mencari orang untuk dikayau dalam arti baru. Dialah yang harus mengajar kurbannya untuk mengenal Kristus. Orang yang mengkayau itu pun mengatakan pada kurbannya bahwa sebetulnya dia adalah orang yang akan dikayau tapi sekarang dikayau dalam arti baru. Dengan demikian budaya kayau tetap ada tapi dalam nilai baru untuk pewartaan iman.
Yesus datang ke dunia bukan untuk meniadakan apa yang sudah diyakini oleh umat Yahudi pada jaman itu. "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat 5:17) Benturan Yesus dengan orang Farisi bukan soal Yesus berniat mengubah adat yang ada, tapi oleh karena orang Farisi membuat ajaran yang membebani orang miskin “Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” (Mat 23:4). Penggenapan yang dilakukan oleh Yesus memberikan nilai yang baru. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yoh 13:34). Perintah mengasihi bukanlah perintah baru dari Yesus sebab perintah itu sudah ada dalam Taurat. Kebaruan yang diberikan oleh Yesus adalah kalimat, sama seperti Aku telah mengasihi kamu. Dalam Taurat kasih dibatasi pada sebangsa dan tidak sampai mengurbankan nyawa.
Dalam setiap budaya ada nilai-nilai kebenaran yang tidak bertentangan dengan ajaran Katolik. Maka konsili Vatikan II menyerukan agar agama Katolik menghargai budaya lokal atau budaya setempat yang disebut sebagai inkulturasi atau masuk dalam budaya. Kalau toh ada budaya yang berlawanan dengan iman Katolik seperti kayau, maka dapat diubah dan diberi nilai Katolik. Hal ini membutuhkan usaha yang serius baik untuk memahami budaya setempat maupun nilai iman Katolik. Tapi salah satu dampak globalisasi adalah krisis budaya, dimana orang tidak lagi paham akan budayanya. Orang hanya tahu kulit luar atau kurang memahami nilai-nilai apa yang terkandung di dalamnya. Orang hanya melihat barongsai sebagai sebuah tarian, tapi apakah dia sudah mempelajari nilai dan filsafat dari tarian itu? Selain itu orang mudah mengadili sebuah budaya. Orang melihat reog adalah budaya yang menggunakan kekuatan setan maka harus disingkirkan dari lingkungan gereja. Maka perlu kerendahan hati untuk belajar dan terbuka akan budaya lokal dan bukan hanya menghakimi.
Tata cara liturgi yang ada dalam gereja saat ini sangat kental dengan budaya Romawi, sehingga banyak orang tidak memahami makna sebuah liturgi sebab dia tidak paham akan budaya Romawi. Maka perlu ada keberanian melakukan terobosan inkulturasi.
Temanku mengajarkan agar suku Dayak tetap menjalankan budaya kayau tapi diberi arti yang baru. Kayau yang berarti membunuh orang diberi nilai baru. Orang yang dikayau bukan dibunuh fisiknya melainkan jiwanya. Seperti Yesus yang dibunuh dan bangkit, maka orang yang dibunuh itu harus dibangkitkan lagi menjadi manusia baru yaitu sebagai pengikut Kristus. “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rm 6:4) Orang yang ingin mengkayau harus mencari orang untuk dikayau dalam arti baru. Dialah yang harus mengajar kurbannya untuk mengenal Kristus. Orang yang mengkayau itu pun mengatakan pada kurbannya bahwa sebetulnya dia adalah orang yang akan dikayau tapi sekarang dikayau dalam arti baru. Dengan demikian budaya kayau tetap ada tapi dalam nilai baru untuk pewartaan iman.
Yesus datang ke dunia bukan untuk meniadakan apa yang sudah diyakini oleh umat Yahudi pada jaman itu. "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat 5:17) Benturan Yesus dengan orang Farisi bukan soal Yesus berniat mengubah adat yang ada, tapi oleh karena orang Farisi membuat ajaran yang membebani orang miskin “Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” (Mat 23:4). Penggenapan yang dilakukan oleh Yesus memberikan nilai yang baru. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yoh 13:34). Perintah mengasihi bukanlah perintah baru dari Yesus sebab perintah itu sudah ada dalam Taurat. Kebaruan yang diberikan oleh Yesus adalah kalimat, sama seperti Aku telah mengasihi kamu. Dalam Taurat kasih dibatasi pada sebangsa dan tidak sampai mengurbankan nyawa.
Dalam setiap budaya ada nilai-nilai kebenaran yang tidak bertentangan dengan ajaran Katolik. Maka konsili Vatikan II menyerukan agar agama Katolik menghargai budaya lokal atau budaya setempat yang disebut sebagai inkulturasi atau masuk dalam budaya. Kalau toh ada budaya yang berlawanan dengan iman Katolik seperti kayau, maka dapat diubah dan diberi nilai Katolik. Hal ini membutuhkan usaha yang serius baik untuk memahami budaya setempat maupun nilai iman Katolik. Tapi salah satu dampak globalisasi adalah krisis budaya, dimana orang tidak lagi paham akan budayanya. Orang hanya tahu kulit luar atau kurang memahami nilai-nilai apa yang terkandung di dalamnya. Orang hanya melihat barongsai sebagai sebuah tarian, tapi apakah dia sudah mempelajari nilai dan filsafat dari tarian itu? Selain itu orang mudah mengadili sebuah budaya. Orang melihat reog adalah budaya yang menggunakan kekuatan setan maka harus disingkirkan dari lingkungan gereja. Maka perlu kerendahan hati untuk belajar dan terbuka akan budaya lokal dan bukan hanya menghakimi.
Tata cara liturgi yang ada dalam gereja saat ini sangat kental dengan budaya Romawi, sehingga banyak orang tidak memahami makna sebuah liturgi sebab dia tidak paham akan budaya Romawi. Maka perlu ada keberanian melakukan terobosan inkulturasi.
Rabu, 17 Februari 2010
HIDUP BARU
Ketika naik pesawat dari Jakarta aku duduk dekat serombongan perempuan yang penampilannya sangat modis. Semula aku mengira mereka adalah rombongan artis yang hendak ke Surabaya. Ketika pesawat sudah take off, mereka ribut berbicara menggunakan bahasa Inggris yang pronunciation-nya aneh, dicampur Cina dan Indonesia dialek Jakarta. Orang yang duduk disebelahku tersenyum sinis sambil berbisik padaku, dasar TKI. Ketika kuamati memang dandanan dan gaya mereka cukup berlebihan dan ada yang kurang pas antara penampilan dan sikap mereka.
Orang dibentuk oleh suatu lingkungan dan bisa tetap menjadi dirinya seperti semula meski dia sudah berada dalam lingkungan yang berbeda. Seharusnya orang dapat beradaptasi dengan lingkungan, status, jabatan dan sebagainya. Tapi hal ini tidak mudah sebab membutuhkan proses. Bila perubahan begitu cepat seperti para TKI maka akan timbul ketidakseimbangan. Mereka berasal dari desa yang sangat terbatas, tiba-tiba hidup di Hongkong. Mereka biasanya direndahkan di tempat kerja tiba-tiba menjadi orang merdeka dan dianggap hebat sebab dapat hidup di luar negeri dan mempunyai uang yang banyak. Maka mereka berusaha untuk menunjukkan siapa dirinya dengan berbicara keras-keras menggunakan bahasa yang campur aduk. Perubahan yang cepat dan dratis ini membuat mereka bersikap yang “aneh”.
Kita hidup dalam lingkungan dunia dan terbentuk oleh nilai-nilai dunia. Tapi ketika kita dibaptis maka kita berubah menjadi anak Allah. Kita mendapat anugerah Roh Kudus bahkan bukan lagi kita yang hidup melainkan Yesus yang hidup dalam diri kita. Keduniawian kita dikuburkan dan bangkit manusia baru yaitu manusia yang dijiwai oleh Roh dan kebenaran. Dalam baptis kita ditandai dengan nama baru. Nama bukan hanya sekedar panggilan tapi menunjukkan keseluruhan diri kita. Maka perubahan nama berarti perubahan diri kita secara penuh. Maka seharusnya ada perubahan besar pada orang yang telah dibaptis. Dia bukan lagi si A yang dulu tapi si A yang baru.
“Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula." (Mrk 2:22). Hidup baru bukan hanya luar atau dalam tapi keseluruhan diri. Hal ini tidak mudah. Banyak orang setelah dibaptis tetap bersikap atau bertindak seperti sebelum baptis. Lalu dimana ke-baru-an pembaptisan? Untuk itu perlu ada kesadaran diri yang tinggi. Dia sadar bahwa sekarang dia bukan lagi manusia yang dulu. Dia sadar bahwa hidupnya sekarang digerakkan oleh Roh. Kesadaran hidup baru dalam Roh tidak tumbuh secara mendadak tapi membutuhkan proses dan keberanian diri untuk diubah. Tapi sering orang kurang menyadari hal ini. Mereka ingin cepat dibaptis sebab merasa bahwa dengan baptis dia sudah mengikuti Kristus dan akan memperoleh keselamatan. Padahal keselamatan ditentukan oleh ketaatan pada perintah Allah. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Mat 7:21).
Pem-baru-an diri membutuhkan sikap rendah hati yang siap diubah. Ada orang yang sombong dan mengatakan bahwa dirinya sudah seperti itu dan tidak dapat diubah. Seorang pemarah mengatakan bahwa dia adalah pemarah dan tidak bisa diubah. Lalu dimana ke-baru-an yang diterimanya? Apakah cukup dengan mempunyai nama baptis? Bila orang rendah hati maka dia memberikan ruang yang cukup lebar bagi Allah. Dia menyerahkan dirinya untuk diubah oleh Allah yang berbicara melalui aneka cara.
Semua itu membutuhkan refleksi. Melihat dan menilai semua apa yang telah dikerjakan dalam terang iman. Bila tindakannya dirasa tidak sesuai dengan kehendak Allah maka dia bertobat untuk mengubah yang sesuai dengan kehendak Allah. Tapi hal ini tidak mudah, akibatnya seperti para TKI di pesawat. Mereka hanya berubah kulitnya saja tapi keseluruhan dirinya tetap manusia lama. Penampilan dan bahasa mereka berubah tapi mentalitas mereka tetap sama, sehingga kelihatan kurang pas dan hanya menjadi bahan tertawaan bagi orang sekitarnya saja.
Orang dibentuk oleh suatu lingkungan dan bisa tetap menjadi dirinya seperti semula meski dia sudah berada dalam lingkungan yang berbeda. Seharusnya orang dapat beradaptasi dengan lingkungan, status, jabatan dan sebagainya. Tapi hal ini tidak mudah sebab membutuhkan proses. Bila perubahan begitu cepat seperti para TKI maka akan timbul ketidakseimbangan. Mereka berasal dari desa yang sangat terbatas, tiba-tiba hidup di Hongkong. Mereka biasanya direndahkan di tempat kerja tiba-tiba menjadi orang merdeka dan dianggap hebat sebab dapat hidup di luar negeri dan mempunyai uang yang banyak. Maka mereka berusaha untuk menunjukkan siapa dirinya dengan berbicara keras-keras menggunakan bahasa yang campur aduk. Perubahan yang cepat dan dratis ini membuat mereka bersikap yang “aneh”.
Kita hidup dalam lingkungan dunia dan terbentuk oleh nilai-nilai dunia. Tapi ketika kita dibaptis maka kita berubah menjadi anak Allah. Kita mendapat anugerah Roh Kudus bahkan bukan lagi kita yang hidup melainkan Yesus yang hidup dalam diri kita. Keduniawian kita dikuburkan dan bangkit manusia baru yaitu manusia yang dijiwai oleh Roh dan kebenaran. Dalam baptis kita ditandai dengan nama baru. Nama bukan hanya sekedar panggilan tapi menunjukkan keseluruhan diri kita. Maka perubahan nama berarti perubahan diri kita secara penuh. Maka seharusnya ada perubahan besar pada orang yang telah dibaptis. Dia bukan lagi si A yang dulu tapi si A yang baru.
“Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula." (Mrk 2:22). Hidup baru bukan hanya luar atau dalam tapi keseluruhan diri. Hal ini tidak mudah. Banyak orang setelah dibaptis tetap bersikap atau bertindak seperti sebelum baptis. Lalu dimana ke-baru-an pembaptisan? Untuk itu perlu ada kesadaran diri yang tinggi. Dia sadar bahwa sekarang dia bukan lagi manusia yang dulu. Dia sadar bahwa hidupnya sekarang digerakkan oleh Roh. Kesadaran hidup baru dalam Roh tidak tumbuh secara mendadak tapi membutuhkan proses dan keberanian diri untuk diubah. Tapi sering orang kurang menyadari hal ini. Mereka ingin cepat dibaptis sebab merasa bahwa dengan baptis dia sudah mengikuti Kristus dan akan memperoleh keselamatan. Padahal keselamatan ditentukan oleh ketaatan pada perintah Allah. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Mat 7:21).
Pem-baru-an diri membutuhkan sikap rendah hati yang siap diubah. Ada orang yang sombong dan mengatakan bahwa dirinya sudah seperti itu dan tidak dapat diubah. Seorang pemarah mengatakan bahwa dia adalah pemarah dan tidak bisa diubah. Lalu dimana ke-baru-an yang diterimanya? Apakah cukup dengan mempunyai nama baptis? Bila orang rendah hati maka dia memberikan ruang yang cukup lebar bagi Allah. Dia menyerahkan dirinya untuk diubah oleh Allah yang berbicara melalui aneka cara.
Semua itu membutuhkan refleksi. Melihat dan menilai semua apa yang telah dikerjakan dalam terang iman. Bila tindakannya dirasa tidak sesuai dengan kehendak Allah maka dia bertobat untuk mengubah yang sesuai dengan kehendak Allah. Tapi hal ini tidak mudah, akibatnya seperti para TKI di pesawat. Mereka hanya berubah kulitnya saja tapi keseluruhan dirinya tetap manusia lama. Penampilan dan bahasa mereka berubah tapi mentalitas mereka tetap sama, sehingga kelihatan kurang pas dan hanya menjadi bahan tertawaan bagi orang sekitarnya saja.
Jumat, 22 Januari 2010
JUALAN AIR DI TEPI SUNGAI

Anthony de Mello SJ (4 September 1931, Bombay - 2 June 1987, New York) dalam bukunya yang berjudul “Burung Berkicau” mengkisahkan ada seorang menjual air di tepi sungai. Setiap hari dia berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Banyak orang berbondong-bondong membeli air darinya, padahal dia mengambil air itu di sungai yang ada di belakangnya. Cerita ini tampak lucu, tapi sebetulnya Anthony de Mello sedang mengkritik kebanyakan dari kita. Kitalah orang “bodoh” yang membeli air dari pedagang meski kita bisa mengambil air itu dari sungai secara gratis.
Yesus adalah air hidup. “barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yoh 4:14). Air yang diberikan kepada kita adalah firmanNya. Bila kita menerima Firman Yesus maka kita tidak pernah akan kehausan sehingga tidak sibuk mencari-cari firman yang lain. Firman itu tidak akan pernah habis. Firman itu akan terus memancar memberikan kehidupan kepada orang di sekitar kita.
Saat ini banyak umat yang menjadi kutu loncat. Dia berpindah-pindah Gereja dengan alasan dia tidak menemukan apa yang dicarinya. Bila ditanya apakah yang dicarinya? Pusat pencarian adalah kesenangan mendengarkan kotbah. Dia mencari pengkotbah yang dirasa mampu memberinya semangat. Pengkotbah adalah penjual air yang mampu menawarkan airnya sedemikian rupa. Maka tidak jarang pengkotbah pun berusaha mencari cara dan terobosan-terobosan baru agar dagangannya tetap laris. Menarik perhatian, sehingga banyak orang akan datang padanya. Pengkotbah yang bagus seharusnya mampu mengajak orang untuk berani mengambil air sendiri di sungai. Bukan bergantung padanya. Yesus adalah jalan. Dia tidak membuat kita berpusat padaNya tapi Dia mengajak kita untuk sampai kepada Bapa. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Mat 5:16). Pengkotbah seharusnya menjadi jalan bagi kita untuk menemukan Yesus bukan menjadi tempat perhentian.
Umat enggan untuk pergi ke sumber air, sebab saat ini kuatnya budaya instan. Budaya instan mengajar kita untuk tidak perlu repot-repot mempersiapkan segalanya melainkan tinggal langsung menikmati. Demikian pula dalam hal iman. Kita tidak ingin repot datang ke sumber air dan menggalinya. Kita ingin firman yang siap saji dan tinggal menikmati saja. Bila kita percaya pada Yesus maka Dia ada di dalam diri kita menjadi sumber air. “Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” (Yoh 7:38). Tapi kita tidak menyadarinya, sebab kagum pada penjual air yang mampu mengemasnya sedemikian rupa. Oleh karena kita tidak menggali sumber air yang ada dalam diri kita, maka kita tetap akan merasa haus.
Air yang ada dalam diri kita dapat memberi kehidupan bukan hanya bagi kita tapi juga bagi orang di sekitar kita. Sumber air itu akan memancar ke sekitar kita. Pancaran air itu adalah sikap, tindakan dan perkataan kita yang memberi hidup. Dalam keseharian tidak jarang kita membuat orang lain menjadi mati. Kata-kata kita kasar, sikap kita membuat orang lain menjadi malu dan direndahkan martabatnya. Orang menjadi takut dan kehadiran kita membuat suasana menjadi tegang dan sebagainya. Sebetulnya kita telah membunuh orang itu. Dia tidak mengalami suka cita, kreatif dan berani menjadi dirinya apa adanya. Dengan demikian kita tidak memancarkan air melainkan racun yang mematikan. Kita dapat memancarkan air hidup bila kita berani menggali air yang ada dalam diri kita sendiri. Bukan membeli dari para pedagang. Air yang mereka berikan akan membuat kita haus dan haus. Atau kita terpuaskan dapat mereguknya untuk dinikmati sendiri. Tidak memancar pada sesama kita. Maka Anthony de Mello mengajak kita untuk berani menggali air yang ada dalam diri kita sendiri agar kita terus memancarkan air hidup.
Yesus adalah air hidup. “barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yoh 4:14). Air yang diberikan kepada kita adalah firmanNya. Bila kita menerima Firman Yesus maka kita tidak pernah akan kehausan sehingga tidak sibuk mencari-cari firman yang lain. Firman itu tidak akan pernah habis. Firman itu akan terus memancar memberikan kehidupan kepada orang di sekitar kita.
Saat ini banyak umat yang menjadi kutu loncat. Dia berpindah-pindah Gereja dengan alasan dia tidak menemukan apa yang dicarinya. Bila ditanya apakah yang dicarinya? Pusat pencarian adalah kesenangan mendengarkan kotbah. Dia mencari pengkotbah yang dirasa mampu memberinya semangat. Pengkotbah adalah penjual air yang mampu menawarkan airnya sedemikian rupa. Maka tidak jarang pengkotbah pun berusaha mencari cara dan terobosan-terobosan baru agar dagangannya tetap laris. Menarik perhatian, sehingga banyak orang akan datang padanya. Pengkotbah yang bagus seharusnya mampu mengajak orang untuk berani mengambil air sendiri di sungai. Bukan bergantung padanya. Yesus adalah jalan. Dia tidak membuat kita berpusat padaNya tapi Dia mengajak kita untuk sampai kepada Bapa. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Mat 5:16). Pengkotbah seharusnya menjadi jalan bagi kita untuk menemukan Yesus bukan menjadi tempat perhentian.
Umat enggan untuk pergi ke sumber air, sebab saat ini kuatnya budaya instan. Budaya instan mengajar kita untuk tidak perlu repot-repot mempersiapkan segalanya melainkan tinggal langsung menikmati. Demikian pula dalam hal iman. Kita tidak ingin repot datang ke sumber air dan menggalinya. Kita ingin firman yang siap saji dan tinggal menikmati saja. Bila kita percaya pada Yesus maka Dia ada di dalam diri kita menjadi sumber air. “Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” (Yoh 7:38). Tapi kita tidak menyadarinya, sebab kagum pada penjual air yang mampu mengemasnya sedemikian rupa. Oleh karena kita tidak menggali sumber air yang ada dalam diri kita, maka kita tetap akan merasa haus.
Air yang ada dalam diri kita dapat memberi kehidupan bukan hanya bagi kita tapi juga bagi orang di sekitar kita. Sumber air itu akan memancar ke sekitar kita. Pancaran air itu adalah sikap, tindakan dan perkataan kita yang memberi hidup. Dalam keseharian tidak jarang kita membuat orang lain menjadi mati. Kata-kata kita kasar, sikap kita membuat orang lain menjadi malu dan direndahkan martabatnya. Orang menjadi takut dan kehadiran kita membuat suasana menjadi tegang dan sebagainya. Sebetulnya kita telah membunuh orang itu. Dia tidak mengalami suka cita, kreatif dan berani menjadi dirinya apa adanya. Dengan demikian kita tidak memancarkan air melainkan racun yang mematikan. Kita dapat memancarkan air hidup bila kita berani menggali air yang ada dalam diri kita sendiri. Bukan membeli dari para pedagang. Air yang mereka berikan akan membuat kita haus dan haus. Atau kita terpuaskan dapat mereguknya untuk dinikmati sendiri. Tidak memancar pada sesama kita. Maka Anthony de Mello mengajak kita untuk berani menggali air yang ada dalam diri kita sendiri agar kita terus memancarkan air hidup.
Rabu, 20 Januari 2010
KITA ORANG BERIMAN ATAU SETAN?
Surat Yakobus adalah salah satu surat pastoral artinya surat yang tidak banyak mengajarkan dogma atau teologi melainkan lebih merupakan ajaran praktis bagi kehidupan umat beriman sehari-hari. Ciri Yakobus adalah mempertentangkan antara baik dan buruk, kaitannya antara iman yang terwujud dalam perbuatan baik dan doa, serta ketekunan dan pertobatan yang terus menerus. Yakobus mendesak agar umat segera memilih dengan tegas ajaran keselamatan dan hidup sesuai nilai Injili. Inti nilai Injili adalah keseimbangan antara cinta pada Allah dan sesama.
“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” (2:19). Perkataan ini sangat keras dan tegas. Yakobus membedakan antara percaya dan beriman. Orang dapat percaya akan Allah yang satu dan maha segalanya. Tapi dia belum tentu beriman. Setan juga percaya akan Allah yang Mahakuasa. Dalam Injilpun sebelum para murid percaya bahwa Yesus adalah Mesias dalam arti yang sesungguhnya setan sudah percaya akan hal itu. “Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” (Luk 4:33-34).
Bagi Yakobus iman bukan hanya sekedar percaya melainkan mampu mewujudkan dalam perbuatan nyata. Bahkan dari perbuatanlah orang dapat menunjukkan imannya. "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” (2:18). Perbuatan yang dimaksudkan oleh Yakobus adalah tindakan belas kasih pada sesama. Maka dia mengkritik orang yang tidak peduli pada sesamanya yang miskin dan berkekurangan. Apa yang ditulis oleh Yakobus merupakan bagian dari ajaran Yesus dalam kotbah di bukit, yaitu bahwa kasih pada Allah harus nyata dalam kasih pada sesama terutama yang miskin. Bila orang ingin memperoleh keselamatan maka dia melakukan tindakan kasih yang merupakan perwujudan dari ketaatan akan kehendakNya. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21).
Bila keselamatan hanya dapat diperoleh dengan melakukan tindakan belas kasih pada sesama, maka apakah orang tidak perlu berdoa? Doa adalah komunikasi kita dengan Allah. Dalam doa kita bukan hanya bersyukur atas berkat dari Allah tapi juga mencari kehendak Allah dalam hidup kita. Kita berusaha memahami tugas perutusan yang diberikan Allah pada kita. Bila mendapat berkat atau malapetaka maka kita bertanya pada Allah apa maksud semua ini? Apa yang harus kita lakukan? Dengan mendengar suara Allah maka kita akan melakukan kehendakNya. Dalam doa kita merenungkan Yesus yang telah wafat demi kita. Kiat pun diajak untuk melihat diri sejauh mana kita telah berani berkurban untuk sesama. Maka doa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bila orang hanya melakukan belas kasih pada sesama tanpa berdoa, maka dia akan kehilangan dasar perbuatannya itu. Dia tidak mempunyai ukuran dari tindakan kasih itu. Sebaliknya bila dia hanya berdoa tanpa melakukan tindakan kasih maka dia tidak dapat dinilai sebagai orang beriman. Dia orang percaya.
Doa adalah ungkapan kasih kita pada Allah. Yohanes dalam suratnya mengingatkan “Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1Yoh 4:20). Kasih pada Allah harus nyata dalam kasih pada sesama. Inilah yang menjadi tantangan kita. Sering kita puas telah berdoa dan bermeditasi dihadapan tarbenakel selama berjam-jam, tapi lupa untuk melakukan belas kasih pada sesama. Bila demikian mari kita nilai diri kita sendiri, apakah kita orang beriman atau setan?
“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” (2:19). Perkataan ini sangat keras dan tegas. Yakobus membedakan antara percaya dan beriman. Orang dapat percaya akan Allah yang satu dan maha segalanya. Tapi dia belum tentu beriman. Setan juga percaya akan Allah yang Mahakuasa. Dalam Injilpun sebelum para murid percaya bahwa Yesus adalah Mesias dalam arti yang sesungguhnya setan sudah percaya akan hal itu. “Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” (Luk 4:33-34).
Bagi Yakobus iman bukan hanya sekedar percaya melainkan mampu mewujudkan dalam perbuatan nyata. Bahkan dari perbuatanlah orang dapat menunjukkan imannya. "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” (2:18). Perbuatan yang dimaksudkan oleh Yakobus adalah tindakan belas kasih pada sesama. Maka dia mengkritik orang yang tidak peduli pada sesamanya yang miskin dan berkekurangan. Apa yang ditulis oleh Yakobus merupakan bagian dari ajaran Yesus dalam kotbah di bukit, yaitu bahwa kasih pada Allah harus nyata dalam kasih pada sesama terutama yang miskin. Bila orang ingin memperoleh keselamatan maka dia melakukan tindakan kasih yang merupakan perwujudan dari ketaatan akan kehendakNya. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21).
Bila keselamatan hanya dapat diperoleh dengan melakukan tindakan belas kasih pada sesama, maka apakah orang tidak perlu berdoa? Doa adalah komunikasi kita dengan Allah. Dalam doa kita bukan hanya bersyukur atas berkat dari Allah tapi juga mencari kehendak Allah dalam hidup kita. Kita berusaha memahami tugas perutusan yang diberikan Allah pada kita. Bila mendapat berkat atau malapetaka maka kita bertanya pada Allah apa maksud semua ini? Apa yang harus kita lakukan? Dengan mendengar suara Allah maka kita akan melakukan kehendakNya. Dalam doa kita merenungkan Yesus yang telah wafat demi kita. Kiat pun diajak untuk melihat diri sejauh mana kita telah berani berkurban untuk sesama. Maka doa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bila orang hanya melakukan belas kasih pada sesama tanpa berdoa, maka dia akan kehilangan dasar perbuatannya itu. Dia tidak mempunyai ukuran dari tindakan kasih itu. Sebaliknya bila dia hanya berdoa tanpa melakukan tindakan kasih maka dia tidak dapat dinilai sebagai orang beriman. Dia orang percaya.
Doa adalah ungkapan kasih kita pada Allah. Yohanes dalam suratnya mengingatkan “Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1Yoh 4:20). Kasih pada Allah harus nyata dalam kasih pada sesama. Inilah yang menjadi tantangan kita. Sering kita puas telah berdoa dan bermeditasi dihadapan tarbenakel selama berjam-jam, tapi lupa untuk melakukan belas kasih pada sesama. Bila demikian mari kita nilai diri kita sendiri, apakah kita orang beriman atau setan?
Jumat, 14 Agustus 2009
GEREJA YANG BERJUANG
Tulisan sebelumku yang berjudul “Yesus Kaum Kiri” ternyata menimbulkan pertanyaan bagi seseorang. Baginya Yesus itu penyelamat manusia dari dosa bukan soal kiri atau kanan. Gereja tidak boleh terlibat dalam politik praktis. Apa yang dikatakan memang benar bahwa Gereja tidak boleh terlibat dalam politik praktis misalnya mendukung satu partai politik atau seorang imam mencalonkan menjadi anggota legislatif atau kepala daerah. Tapi bukan berarti Gereja melepaskan diri dari masalah kemanusiaan. Gereja tidak hanya berbicara soal Kerajaan Allah ketika sudah kebangkitan nanti. Gereja harus menempatkan diri dan menunjukkan perannya sesuai dengan posisinya.
Beberapa tahun lalu Gereja dihebohkan oleh teologi pembebasan yang muncul di Amerika Selatan yang menimbulkan pro dan kontra. Francis Wahono Nitiprawiro dalam bukunya yang berjudul “Teologi Pembebasan” menjelaskan panjang lebar mengenai perbedaan antara teologi pembebasan dengan Marxisme. Teologi pembebasan adalah upaya Gereja untuk menjalankan salah satu tugasnya yaitu kenabian. Dalam situasi masyarakat yang tidak adil dimana banyak rakyat dimiskinkan dan ditindas, maka Gereja tidak boleh diam. Gereja harus terlibat dalam masalah dunia seperti harapan Konsili Vatikan II yang tertuang dalam konstitusi dogmatik Gaudium et Spes. Gereja tidak boleh menjadi getho atau menikmati kenyamanan menara gading. Dalam hal inilah sering kali Gereja lupa atau berusaha menikmati kemampanan kaum kanan atau tidak mau repot. Keterlibatan dalam perjuangan kaum miskin membutuhkan banyak energi bahkan kesiapan untuk memberikan nyawanya seperti uskup Oscar Romero (1917-1980) yang dibunuh karena menyuarakan kenabian di El Salvador. Sering kali perjuangan seperti para tokoh teologi pembebasan ini dicap sebagai orang kiri.
Edicio de la Torre seorang teolog dari Philipina membedakan orang yang berjuang. Ada orang yang menderita tapi tidak berjuang. Ada orang yang menderita maka berjuang. Ada orang yang berjuang maka menderita. Yesus adalah orang yang berjuang maka menderita. Dia berjuang untuk membangun sebuah dunia baru. Dunia ini dinikmati mulai saat ini. Kerajaan Allah sudah datang. “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” (Mat 12:28). Kehadiran Kerajaan Allah merupakan hadirnya tatanan baru dalam masyarakat. Siapa saja yang ingin masuk dalam tatanan baru ini harus mengubah dirinya secara total. Gaya hidup, pemikiran, pandangan hidup dan budaya lama tidak bisa dicampur dengan tatanan baru ini. Dalam kotbah di bukit Yesus mengkonfrontasikan antara tata kehidupan baru dengan tata kehidupan lama. Hukum utama adalah kasih. Kasih pada Allah yang semula hanya dipusatkan pada doa dan liturgi diubah menjadi kasih nyata kepada sesama. “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,” (Mat 9:13). Terbuka bagi siapa saja dan bukan milik satu kelompok saja.
Kerajaan Allah adalah situasi hidup yang nyata, menyejarah pada saat ini dan disini. Bukan sebuah utopia atau situasi setelah kematian saja. Pembebasan yang dilakukan oleh Yesus bukan melulu diakhir jaman, tapi dimulai ketika Dia ada di dunia. Orang buta dapat melihat, orang lumpuh dapat berjalan dan sebagainya. Yesus membangun Kerajaan Allah secara nyata dan kongkrit yang dapat dirasakan oleh manusia hidup. Yesus membangun Kerajaan Allah mulai dari komunitas kecil yang diharapkan akan bertumbuh dan berjuang untuk membangun sebuah tatanan baru dalam masyarakat.
Syarat untuk pembangunan Kerajaan Allah adalah pertobatan yang mampu mengubah situasi dan kondisi kehidupan. Maka dalam Kerajaan Allah keselamatan bukan menjadi urusan perorangan melainkan komunitas. Aku dapat masuk surga bila menyelamatkan sesama. Orang diselamatkan bila dia memberi makan orang yang lapar (Mat 25:31-46). Inilah pertobatan yaitu bukan sekedar mengakui dosanya, melainkan kembali kepada hukum kasih. Dosa adalah penyebab rusaknya hukum kasih. Maka orang bertobat bila dia mengembalikan apa yang sudah dirampasnya. Tidak mempunyai dendam dan kebencian, sehingga mampu mencintai musuh. Tidak terbelenggu SARA, seperti orang Samaria yang menolong orang Yahudi. Pemimpin adalah orang yang melayani bahkan rela memberikan nyawanya demi keselamatan pengikutnya. Maka Kerajaan Allah bergerak untuk mengubah masyarakat secara total menuju situasi hidup yang adil, bersatu dan damai sejahtera.
Namun Yesus menyadari bahwa Kerajaan Allah yang dibangunNya tidak luput dari para pengkhianat yang mencoba membelokkannya. “Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya.” (Mat 11:12). Munculnya mesianis-mesianis yang mengatasnamakan Yesus memberikan janji kebahagiaan setelah meninggal. Mereka tidak peduli dengan penderitaan dunia, sebab hal yang penting adalah kebahagiaan di surga setelah mati. Orang miskin diajak untuk berdoa dan diberi janji kebahagiaan surga. Yesus tidak menyepelekan kehidupan doa. Dia berdoa secara khusus. Tapi Dia mengubah situasi kemiskinan yang menyebabkan manusia tidak dihargai martabatnya menjadi dihargai martabatnya. Mesianis palsu mengajak orang untuk tidak mempermasalahkan situasi dan kondisi hidupnya di dunia dan memberi janji kebahagiaan surga setelah mati.
Yesus bukan praktisi politik seperti para mesianis dunia. Para calon presiden ketika masa kampanye semua menjanjikan kehidupan yang lebih baik agar rakyat memilihnya. Rakyat hanya menjadi obyek bagi pencapaian kedudukan yang diinginkan. Seorang caleg DPRD di Surabaya memberi janji kepada warga pinggir kali kalau dia menjadi anggota dewan maka para penghuni pinggir kali tidak akan digusur. Tapi begitu terjadi penggusuran maka dia tidak muncul. Dia tidak berani merealisasikan janjinya. Yesus tidak membius rakyat dengan janji kehidupan yang adil sejahtera. Rakyat bukanlah obyek untuk mencapai kedudukan. Yesus mengajarkan agar semua orang bertobat. Berubah kembali ke hakekatnya sebagai citra Allah. Hidup bersatu dengan Allah yang adalah kasih, sehingga hidupnya merupakan pacaran kasih Allah bagi sesama.
Gereja adalah kelanjutan dari Kerajaan Allah yang dibangun oleh Yesus. Dengan demikian Gereja adalah agen perubahan masyarakat. Gereja menjadi garam yang mempengaruhi masyarakat agar bertobat sehingga dapat mencapai kehidupan yang damai sejahtera. Gereja adalah terang yang memberikan gambaran kehidupan adil sejahtera itu seperti apa. Gereja adalah komunitas orang yang terus menerus berjuang membangun perubahan dalam masyarakat sehingga tercapai kehidupan adil, bersatu dan damai sejahtera. Di negara kita masih banyak terjadi ketidakadilan dan kesewang-wenangan seperti kasus Lapindo. Bila Gereja masih merasa dirinya adalah penerus Kerajaan Allah yang dibangun oleh Yesus apakah yang akan dilakukan? Apakah diam saja dan memusatkan diri pada liturgi dan doa-doa atau mulai menyuarakan suara kenabian meski harus menderita? Apakah Gereja akan mengejar kemapanan sehingga melupakan tugas perutusannya di dunia yaitu membuat dunia yang lebih baik?
Beberapa tahun lalu Gereja dihebohkan oleh teologi pembebasan yang muncul di Amerika Selatan yang menimbulkan pro dan kontra. Francis Wahono Nitiprawiro dalam bukunya yang berjudul “Teologi Pembebasan” menjelaskan panjang lebar mengenai perbedaan antara teologi pembebasan dengan Marxisme. Teologi pembebasan adalah upaya Gereja untuk menjalankan salah satu tugasnya yaitu kenabian. Dalam situasi masyarakat yang tidak adil dimana banyak rakyat dimiskinkan dan ditindas, maka Gereja tidak boleh diam. Gereja harus terlibat dalam masalah dunia seperti harapan Konsili Vatikan II yang tertuang dalam konstitusi dogmatik Gaudium et Spes. Gereja tidak boleh menjadi getho atau menikmati kenyamanan menara gading. Dalam hal inilah sering kali Gereja lupa atau berusaha menikmati kemampanan kaum kanan atau tidak mau repot. Keterlibatan dalam perjuangan kaum miskin membutuhkan banyak energi bahkan kesiapan untuk memberikan nyawanya seperti uskup Oscar Romero (1917-1980) yang dibunuh karena menyuarakan kenabian di El Salvador. Sering kali perjuangan seperti para tokoh teologi pembebasan ini dicap sebagai orang kiri.
Edicio de la Torre seorang teolog dari Philipina membedakan orang yang berjuang. Ada orang yang menderita tapi tidak berjuang. Ada orang yang menderita maka berjuang. Ada orang yang berjuang maka menderita. Yesus adalah orang yang berjuang maka menderita. Dia berjuang untuk membangun sebuah dunia baru. Dunia ini dinikmati mulai saat ini. Kerajaan Allah sudah datang. “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” (Mat 12:28). Kehadiran Kerajaan Allah merupakan hadirnya tatanan baru dalam masyarakat. Siapa saja yang ingin masuk dalam tatanan baru ini harus mengubah dirinya secara total. Gaya hidup, pemikiran, pandangan hidup dan budaya lama tidak bisa dicampur dengan tatanan baru ini. Dalam kotbah di bukit Yesus mengkonfrontasikan antara tata kehidupan baru dengan tata kehidupan lama. Hukum utama adalah kasih. Kasih pada Allah yang semula hanya dipusatkan pada doa dan liturgi diubah menjadi kasih nyata kepada sesama. “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,” (Mat 9:13). Terbuka bagi siapa saja dan bukan milik satu kelompok saja.
Kerajaan Allah adalah situasi hidup yang nyata, menyejarah pada saat ini dan disini. Bukan sebuah utopia atau situasi setelah kematian saja. Pembebasan yang dilakukan oleh Yesus bukan melulu diakhir jaman, tapi dimulai ketika Dia ada di dunia. Orang buta dapat melihat, orang lumpuh dapat berjalan dan sebagainya. Yesus membangun Kerajaan Allah secara nyata dan kongkrit yang dapat dirasakan oleh manusia hidup. Yesus membangun Kerajaan Allah mulai dari komunitas kecil yang diharapkan akan bertumbuh dan berjuang untuk membangun sebuah tatanan baru dalam masyarakat.
Syarat untuk pembangunan Kerajaan Allah adalah pertobatan yang mampu mengubah situasi dan kondisi kehidupan. Maka dalam Kerajaan Allah keselamatan bukan menjadi urusan perorangan melainkan komunitas. Aku dapat masuk surga bila menyelamatkan sesama. Orang diselamatkan bila dia memberi makan orang yang lapar (Mat 25:31-46). Inilah pertobatan yaitu bukan sekedar mengakui dosanya, melainkan kembali kepada hukum kasih. Dosa adalah penyebab rusaknya hukum kasih. Maka orang bertobat bila dia mengembalikan apa yang sudah dirampasnya. Tidak mempunyai dendam dan kebencian, sehingga mampu mencintai musuh. Tidak terbelenggu SARA, seperti orang Samaria yang menolong orang Yahudi. Pemimpin adalah orang yang melayani bahkan rela memberikan nyawanya demi keselamatan pengikutnya. Maka Kerajaan Allah bergerak untuk mengubah masyarakat secara total menuju situasi hidup yang adil, bersatu dan damai sejahtera.
Namun Yesus menyadari bahwa Kerajaan Allah yang dibangunNya tidak luput dari para pengkhianat yang mencoba membelokkannya. “Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya.” (Mat 11:12). Munculnya mesianis-mesianis yang mengatasnamakan Yesus memberikan janji kebahagiaan setelah meninggal. Mereka tidak peduli dengan penderitaan dunia, sebab hal yang penting adalah kebahagiaan di surga setelah mati. Orang miskin diajak untuk berdoa dan diberi janji kebahagiaan surga. Yesus tidak menyepelekan kehidupan doa. Dia berdoa secara khusus. Tapi Dia mengubah situasi kemiskinan yang menyebabkan manusia tidak dihargai martabatnya menjadi dihargai martabatnya. Mesianis palsu mengajak orang untuk tidak mempermasalahkan situasi dan kondisi hidupnya di dunia dan memberi janji kebahagiaan surga setelah mati.
Yesus bukan praktisi politik seperti para mesianis dunia. Para calon presiden ketika masa kampanye semua menjanjikan kehidupan yang lebih baik agar rakyat memilihnya. Rakyat hanya menjadi obyek bagi pencapaian kedudukan yang diinginkan. Seorang caleg DPRD di Surabaya memberi janji kepada warga pinggir kali kalau dia menjadi anggota dewan maka para penghuni pinggir kali tidak akan digusur. Tapi begitu terjadi penggusuran maka dia tidak muncul. Dia tidak berani merealisasikan janjinya. Yesus tidak membius rakyat dengan janji kehidupan yang adil sejahtera. Rakyat bukanlah obyek untuk mencapai kedudukan. Yesus mengajarkan agar semua orang bertobat. Berubah kembali ke hakekatnya sebagai citra Allah. Hidup bersatu dengan Allah yang adalah kasih, sehingga hidupnya merupakan pacaran kasih Allah bagi sesama.
Gereja adalah kelanjutan dari Kerajaan Allah yang dibangun oleh Yesus. Dengan demikian Gereja adalah agen perubahan masyarakat. Gereja menjadi garam yang mempengaruhi masyarakat agar bertobat sehingga dapat mencapai kehidupan yang damai sejahtera. Gereja adalah terang yang memberikan gambaran kehidupan adil sejahtera itu seperti apa. Gereja adalah komunitas orang yang terus menerus berjuang membangun perubahan dalam masyarakat sehingga tercapai kehidupan adil, bersatu dan damai sejahtera. Di negara kita masih banyak terjadi ketidakadilan dan kesewang-wenangan seperti kasus Lapindo. Bila Gereja masih merasa dirinya adalah penerus Kerajaan Allah yang dibangun oleh Yesus apakah yang akan dilakukan? Apakah diam saja dan memusatkan diri pada liturgi dan doa-doa atau mulai menyuarakan suara kenabian meski harus menderita? Apakah Gereja akan mengejar kemapanan sehingga melupakan tugas perutusannya di dunia yaitu membuat dunia yang lebih baik?
Rabu, 11 Februari 2009
IMANMU MENYELAMATKAN ENGKAU
Beberapa tahun lalu aku pernah memimpin sebuah lembaga sosial masyarakat yang memiliki beberapa poliklinik. Salah satu masalah poliklinik adalah terjadi penurunan jumlah pasien setiap ada pergantian dokter. Bila ditanya mengapa pasien tidak mau datang lagi, jawaban mereka biasanya hampir sama yaitu bahwa dokter yang baru kurang pandai dan obat yang diberikan tidak manjur. Padahal bila dilihat dari IPKnya tidak semua dokter baru mempunyai IPK lebih rendah. Ada dokter baru yang IPKnya sangat tinggi dan sangat cerdas. Selain itu obat yang diberikan tidak ada bedanya, sebab semua obat yang disediakan poliklinik selalu sama. Pasien merasa tidak cocok dengan dokter baru sebab mereka kurang percaya padanya. Kesembuhan bukan hanya tergantung pada obat dan dokter tapi kepercayaan pada dokter itu.
Beberapa kisah penyembuhan yang terjadi dalam Kitab Suci juga dimulai dari kepercayaan. Naaman seorang perwira yang terkena kusta semula tidak percaya pada saran Elia bahwa dia akan sembuh bila memasukan diri dalam sungai Yordan yang jelek. Semula dia menolak tapi atas saran beberapa penasehatnya akhirnya dia menuruti juga perintah itu dan ternyata sembuh. Yesus pun dalam beberapa kali penyembuhan bersabda imanmu telah menyelamatkan engkau.
Iman adalah kepercayaan pada seseorang atau pribadi yang lebih tinggi dari orang yaitu Tuhan. Namun iman bukan sekedar percaya. Dalam iman ada penyerahan diri secara total dan keyakinan pada yang diimaninya. Dalam Injil ada kisah seorang perempuan yang sakit pendarahan parah. Dia sudah berobat kemana-mana tapi tidak sembuh bahkan semakin parah. Ketika dia mendengar Yesus akan lewat maka dia berkata, “Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.” (Mrk 5:28) Inilah iman itu. kepercayaan yang penuh dan tidak ragu.
Iman adalah kekuatan yang maha hebat sehingga membuat orang berani melakukan sesuatu yang dalam kaca mata manusia biasa dianggap tidak masuk akal. Ketika aku membaca buku karangan Shusaku Endo yang berjudul Silence aku menjadi tertegun. Bagaimana orang-orang Kristen Jepang pada jaman itu dapat tahan mengalami siksaan yang sangat mengerikan dari para penguasanya. Dalam buku itu ditulis bahwa siksaan di Jepang sangat mengerikan bahkan Nero, kaisar Roma yang terkenal sangat keji dan banyak membunuh orang Kristen termasuk St. Paulus, pun tidak pernah memikirkan siksaan yang demikian. Namun mengapa orang-orang Kristen itu mampu bertahan bahkan meminta untuk disiksa dan dibunuh? Imanlah yang menguatkan mereka untuk tetap bertahan dalam siksaan yang sangat mengerikan.
Iman memberikan kekuatan yang tidak terbayangkan pada setiap orang. Bila dia orang beriman maka dia dapat melakukan hal-hal yang luar biasa. Yesus bersabda bahwa bila kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja maka dapat memerintahkan gunung untuk pindah, sebab tidak ada yang mustahil (Mat 17:20). Sering kali orang mempunyai keinginan lalu dia berdoa pada Tuhan, namun akhirnya dia menyerah sebab Tuhan dianggap tidak mengabulkan doa-doanya. Ada juga orang yang putus asa sebab hidup terasa begitu berat dan aneka masalah datang silih berganti. Dia tidak tahu bagaimana mengatasi masalah yang dihadapinya. Bila membaca sabda Yesus di Matius itu apakah sabda itu hanya sebuah penghiburan semu? Apakah Yesus bohong?
Sering kali kita tidak mempunyai iman. Kepercayaan yang kita bangun sering kali runtuh dalam keraguan. Dalam doa kita pun sering ragu dan kuatir Tuhan tidak akan mengabulkan permohonan kita. Kita pun sering percaya tapi tidak beriman, sebab tidak menyertai kepercayaan itu dengan penyerahan diri secara total kepada Allah. Maka Yesus pun bertanya ketika Dia datang lagi masih adakah iman di bumi? (Luk 18:8). Ini sebuah pertanyaan yang tragis, sebab ada jutaan orang yang mengaku percaya padaNya mengapa Dia melontarkan pernyataan itu? Apakah Dia meragukan para muridNya? Ataukah memang ini realitanya bahwa tidak ada iman di bumi pada saat ini?
Beberapa kisah penyembuhan yang terjadi dalam Kitab Suci juga dimulai dari kepercayaan. Naaman seorang perwira yang terkena kusta semula tidak percaya pada saran Elia bahwa dia akan sembuh bila memasukan diri dalam sungai Yordan yang jelek. Semula dia menolak tapi atas saran beberapa penasehatnya akhirnya dia menuruti juga perintah itu dan ternyata sembuh. Yesus pun dalam beberapa kali penyembuhan bersabda imanmu telah menyelamatkan engkau.
Iman adalah kepercayaan pada seseorang atau pribadi yang lebih tinggi dari orang yaitu Tuhan. Namun iman bukan sekedar percaya. Dalam iman ada penyerahan diri secara total dan keyakinan pada yang diimaninya. Dalam Injil ada kisah seorang perempuan yang sakit pendarahan parah. Dia sudah berobat kemana-mana tapi tidak sembuh bahkan semakin parah. Ketika dia mendengar Yesus akan lewat maka dia berkata, “Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.” (Mrk 5:28) Inilah iman itu. kepercayaan yang penuh dan tidak ragu.
Iman adalah kekuatan yang maha hebat sehingga membuat orang berani melakukan sesuatu yang dalam kaca mata manusia biasa dianggap tidak masuk akal. Ketika aku membaca buku karangan Shusaku Endo yang berjudul Silence aku menjadi tertegun. Bagaimana orang-orang Kristen Jepang pada jaman itu dapat tahan mengalami siksaan yang sangat mengerikan dari para penguasanya. Dalam buku itu ditulis bahwa siksaan di Jepang sangat mengerikan bahkan Nero, kaisar Roma yang terkenal sangat keji dan banyak membunuh orang Kristen termasuk St. Paulus, pun tidak pernah memikirkan siksaan yang demikian. Namun mengapa orang-orang Kristen itu mampu bertahan bahkan meminta untuk disiksa dan dibunuh? Imanlah yang menguatkan mereka untuk tetap bertahan dalam siksaan yang sangat mengerikan.
Iman memberikan kekuatan yang tidak terbayangkan pada setiap orang. Bila dia orang beriman maka dia dapat melakukan hal-hal yang luar biasa. Yesus bersabda bahwa bila kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja maka dapat memerintahkan gunung untuk pindah, sebab tidak ada yang mustahil (Mat 17:20). Sering kali orang mempunyai keinginan lalu dia berdoa pada Tuhan, namun akhirnya dia menyerah sebab Tuhan dianggap tidak mengabulkan doa-doanya. Ada juga orang yang putus asa sebab hidup terasa begitu berat dan aneka masalah datang silih berganti. Dia tidak tahu bagaimana mengatasi masalah yang dihadapinya. Bila membaca sabda Yesus di Matius itu apakah sabda itu hanya sebuah penghiburan semu? Apakah Yesus bohong?
Sering kali kita tidak mempunyai iman. Kepercayaan yang kita bangun sering kali runtuh dalam keraguan. Dalam doa kita pun sering ragu dan kuatir Tuhan tidak akan mengabulkan permohonan kita. Kita pun sering percaya tapi tidak beriman, sebab tidak menyertai kepercayaan itu dengan penyerahan diri secara total kepada Allah. Maka Yesus pun bertanya ketika Dia datang lagi masih adakah iman di bumi? (Luk 18:8). Ini sebuah pertanyaan yang tragis, sebab ada jutaan orang yang mengaku percaya padaNya mengapa Dia melontarkan pernyataan itu? Apakah Dia meragukan para muridNya? Ataukah memang ini realitanya bahwa tidak ada iman di bumi pada saat ini?
MELEPASKAN
Waktu SMA aku mempunyai sebuah jam tangan murahan yang kubeli di tepi jalan. Setelah satu tahun lebih kupakai jam itu rusak. Sejak saat itu aku tidak lagi mempunyai jam tangan. Aku hanya mempunyai sebuah jam weker kecil yang dapat kubawa kemana-mana dan dapat membunyikan alarm yang sangat penting bagiku sebab untuk membangunkanku kalau sedang tidur. Bertahun-tahun aku hanya mempunyai jam itu.
Suatu hari ada seorang teman meminjami sebuah jam tangan, sebab dia memiliki beberapa buah. Aku sangat senang sekali, meski bukan milikku pribadi. Kini kemana-mana aku tidak perlu lagi membawa jam weker. Hampir dua tahun jam itu melekat di tanganku sampai akhirnya teman itu memintanya kembali. Saat itu hatiku sedih. Aku harus melepaskan jam yang sudah melekat selama ini. Aku sadar bahwa jam itu bukan milikku. Aku hanya dipinjami saja. Namun tetap saja rasa kehilangan itu melanda hatiku. Aku sedih melepaskan jam yang seolah telah menjadi milikku.
Beberapa saat rasa sedih itu terus mengeram dalam hati. Bila kulihat bekas jam di pergelangan tangan maka rasa sedih itu kembali muncul. Aku kecewa mengapa aku tidak mampu memilikinya. Rasa keinginan untuk memiliki selamanya dan kenyataan bahwa aku harus melepaskannya membuat hatiku sedih. Rasa kehilangan itu kuproses dalam diri. Aku tidak mau larut dalam kesedihan karena keterlepasan dari benda. Setelah beberapa saat berproses akhirnya aku bisa menerima. Aku meyakinkan diri sendiri bahwa segala sesuatu di dunia ini hanya sekedar tempelan dan titipan atau pinjaman. Suatu saat pasti akan diambil oleh pemiliknya lagi. Aku bersyukur bahwa selama ini aku telah dipercaya untuk merawat apa yang bukan menjadi milikku. Kini jam itu kembali kepada pemiliknya. Aku hanya bisa mengingat bahwa suatu saat dulu aku pernah mempunyai jam. Aku mengingat kebahagiaan ketika memilikinya.
Kadang memang orang ingin menjadi pemilik apa yang dititipkan padanya bahkan menguasainya. Dalam Injil Yesus memberi gambaran tentang ladang yang dititipkan pada para pekerja oleh tuannya. Tapi para penggarap itu berusaha untuk menguasai. Keinginan itu begitu kuat sampai mereka sampai tega membunuh orang-orang utusan tuannya bahkan membunuh anak tuannya agar ladang itu tetap menjadi miliknya. Keinginan memiliki dan menguasai secara penuh membuat orang tega melakukan hal keji bahkan melegalkan segala cara. Tidak jarang orang berebut hak kepemilikan dan tega melakukan hal-hal yang keji demi mempertahankan apa yang dia miliki.
Sebetulnya semakin erat orang mengenggam segala sesuatu maka semakin sakit bila apa yang digenggamnya terlepas. Kepemilikan ini bukan hanya bicara soal harta tapi segala sesuatu, misalnya teman, pasangan hidup, keluarga, jabatan dan sebagainya. Banyak pejabat ketika dilantik mengatakan bahwa jabatan itu amanah yang dipercayakan Tuhan padanya. Tapi ketika jabatan itu lepas banyak pula yang tidak siap. Mereka masih ingin terus berkuasa dan menguasai jabatan itu. Kesadaran bahwa apa yang ada padanya bukan miliknya membuat orang tidak takut lagi akan kehilangan. Segala sesuatu adalah milik Tuhan yang dipercayakan pada manusia. Manusia hanya diminta untuk merawat dan mengembangkannya. Dalam perumpamaan tentang talenta, Tuhan marah kepada orang yang tidak mau mengembangkan talentanya. Jadi meski bukan miliknya namun orang tetap bertanggungjawab untuk mengembangkannya.
Pengalaman kehilangan jam membuatku tidak berani lagi begitu terikat pada apa yang kumiliki. Aku berusaha menanamkan dalam diriku bahwa apa yang ada padaku saat ini suatu saat akan hilang atau diambil lagi. Kesadaran ini membuatku lebih nyaman dan ringan. Aku tidak gelisah bila apa yang ada padaku diambil oleh orang lain. Bila aku menduduki sebuah jabatan lalu suatu saat diambil alih oleh orang maka aku tidak kecewa dan bertanya mengapa kok diambil? aku hanya berpikir bahwa dulu aku pernah menduduki jabatan itu. Dengan mengenang apa yang pernah ada aku bisa bahagia dan tidak iri bila ada orang yang saat ini mendapat apa yang dulu pernah ada padaku.
Suatu hari ada seorang teman meminjami sebuah jam tangan, sebab dia memiliki beberapa buah. Aku sangat senang sekali, meski bukan milikku pribadi. Kini kemana-mana aku tidak perlu lagi membawa jam weker. Hampir dua tahun jam itu melekat di tanganku sampai akhirnya teman itu memintanya kembali. Saat itu hatiku sedih. Aku harus melepaskan jam yang sudah melekat selama ini. Aku sadar bahwa jam itu bukan milikku. Aku hanya dipinjami saja. Namun tetap saja rasa kehilangan itu melanda hatiku. Aku sedih melepaskan jam yang seolah telah menjadi milikku.
Beberapa saat rasa sedih itu terus mengeram dalam hati. Bila kulihat bekas jam di pergelangan tangan maka rasa sedih itu kembali muncul. Aku kecewa mengapa aku tidak mampu memilikinya. Rasa keinginan untuk memiliki selamanya dan kenyataan bahwa aku harus melepaskannya membuat hatiku sedih. Rasa kehilangan itu kuproses dalam diri. Aku tidak mau larut dalam kesedihan karena keterlepasan dari benda. Setelah beberapa saat berproses akhirnya aku bisa menerima. Aku meyakinkan diri sendiri bahwa segala sesuatu di dunia ini hanya sekedar tempelan dan titipan atau pinjaman. Suatu saat pasti akan diambil oleh pemiliknya lagi. Aku bersyukur bahwa selama ini aku telah dipercaya untuk merawat apa yang bukan menjadi milikku. Kini jam itu kembali kepada pemiliknya. Aku hanya bisa mengingat bahwa suatu saat dulu aku pernah mempunyai jam. Aku mengingat kebahagiaan ketika memilikinya.
Kadang memang orang ingin menjadi pemilik apa yang dititipkan padanya bahkan menguasainya. Dalam Injil Yesus memberi gambaran tentang ladang yang dititipkan pada para pekerja oleh tuannya. Tapi para penggarap itu berusaha untuk menguasai. Keinginan itu begitu kuat sampai mereka sampai tega membunuh orang-orang utusan tuannya bahkan membunuh anak tuannya agar ladang itu tetap menjadi miliknya. Keinginan memiliki dan menguasai secara penuh membuat orang tega melakukan hal keji bahkan melegalkan segala cara. Tidak jarang orang berebut hak kepemilikan dan tega melakukan hal-hal yang keji demi mempertahankan apa yang dia miliki.
Sebetulnya semakin erat orang mengenggam segala sesuatu maka semakin sakit bila apa yang digenggamnya terlepas. Kepemilikan ini bukan hanya bicara soal harta tapi segala sesuatu, misalnya teman, pasangan hidup, keluarga, jabatan dan sebagainya. Banyak pejabat ketika dilantik mengatakan bahwa jabatan itu amanah yang dipercayakan Tuhan padanya. Tapi ketika jabatan itu lepas banyak pula yang tidak siap. Mereka masih ingin terus berkuasa dan menguasai jabatan itu. Kesadaran bahwa apa yang ada padanya bukan miliknya membuat orang tidak takut lagi akan kehilangan. Segala sesuatu adalah milik Tuhan yang dipercayakan pada manusia. Manusia hanya diminta untuk merawat dan mengembangkannya. Dalam perumpamaan tentang talenta, Tuhan marah kepada orang yang tidak mau mengembangkan talentanya. Jadi meski bukan miliknya namun orang tetap bertanggungjawab untuk mengembangkannya.
Pengalaman kehilangan jam membuatku tidak berani lagi begitu terikat pada apa yang kumiliki. Aku berusaha menanamkan dalam diriku bahwa apa yang ada padaku saat ini suatu saat akan hilang atau diambil lagi. Kesadaran ini membuatku lebih nyaman dan ringan. Aku tidak gelisah bila apa yang ada padaku diambil oleh orang lain. Bila aku menduduki sebuah jabatan lalu suatu saat diambil alih oleh orang maka aku tidak kecewa dan bertanya mengapa kok diambil? aku hanya berpikir bahwa dulu aku pernah menduduki jabatan itu. Dengan mengenang apa yang pernah ada aku bisa bahagia dan tidak iri bila ada orang yang saat ini mendapat apa yang dulu pernah ada padaku.
Minggu, 01 Februari 2009
DOA DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Doa dan kehidupan sehari-hari sangat berkaitan erat. Untuk melihat kehidupan doa seseorang, kita bisa melihat kehidupan sehari-harinya dan sebaliknya. Dalam Luk 18:9-14 Yesus mengkritik orang yang memandang rendah sesamanya dengan memberikan perumpamaan tentang 2 orang yang sedang berdoa. Orang Farisi yang berdoa dengan sombong, menunjukan bahwa kehidupan sehari-harinya juga sombong. Dia merasa bahwa dia lebih hebat dari pada orang lain, apalagi pemungut cukai yang dianggap sebagai orang berdosa sebab dia bekerja sama dengan pemerintahan Romawi, bangsa penjajah.
Namun banyak orang melepaskan kehidupan doa dengan kehidupan sehari-hari. Orang dengan tekun berdoa di gereja, namun keluar dari gereja orang sudah melupakan doanya. Misalnya dalam upacara Kamis Putih, ada bagian dimana seorang imam mencuci kaki para tokoh umat, bahkan ada yang sampai mencium kaki itu. Pertanyaan besar apakah dalam kesehariannya imam itu berani melayani umat sampai mencuci kakinya? Yesus memberikan teladan itu agar semua murid juga melakukan hal yang sama. Ini tidak hanya imam tapi juga semua umat. Beranikah seorang bapak meminta maaf dan mencium kaki anaknya? seorang direktur meminta maaf dan mencuci kaki office boy? Kalau tidak berani berarti apa yang dilakukan dalam Kamis Putih hanyalah suatu kebohongan belaka. Hanya suatu ritus yang tidak ada artinya.
Ada seorang bapak yang memberikan kesaksian dan pengajaran Kitab Suci dimana-mana. Dia sangat bagus dalam menjelaskan ayat-ayat Kitab Suci, sehingga banyak orang kagum dan mengundangnya kemana-mana. Suatu hari ketika saya datang ke penjara Kalisosok, Surabaya, saya melihat seorang muda. Anak muda itu kenal saya dan tidak lama kemudian kami berbincang-bincang. Dia cerita bahwa dia adalah anak dari bapak itu. Dia masuk ke penjara sebab kasus sabu-sabu. Dia menceritakan keadaan keluarganya yang tidak harmonis dan kesepian hidupnya. Saya tidak tahu apakah ini suatu pembelaan diri. Tapi bukti adanya anak itu dalam penjara membuat saya bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa bapak itu bisa dengan bagus menjabarkan ayat-ayat suci sedangkan keluarganya ditelantarkan? Mengapa bapak itu bisa berdoa dengan panjang dan bagus, namun keluarganya sendiri hancur?
Masih banyak lagi contoh kontradiksi antara kehidupan iman seseorang dengan sikap hidupnya sehari-hari. Banyak orang berdoa bagus-bagus namun kehidupan sehari-harinya menyebabkan orang lain menjadi jengkel dengan sikap hidupnya yang sewenang-wenang. Di dalam gereja orang menghormati Yesus yang miskin tapi begitu keluar dari gereja dia berselisih dengan tukang becak gara-gara uang Rp 500 saja. Mengapa di dalam gereja orang berlutut di depan tabernakel sedang di luar orang berlaku sewenang-wenang terhadap orang miskin? Bukankah Tuhan ada di dalam orang miskin?
Dalam doa kita berhadapan dengan Allah yang tidak kelihatan. Kita memuji Allah dan mencintai Allah yang tidak kelihatan. Bagaimana kita bisa mencintai Allah yang tidak kelihatan jika kita tidak bisa mencintai sesama yang kelihatan (bdk 1Yoh 4:20)? Doa bukan hanya saat kita di dalam gereja atau sedang dalam kamar sendirian atau bersama umat lain dalam suatu waktu tertentu, melainkan doa terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Sepanjang kehidupan kita adalah suatu doa, dimana kita berhadapan dengan Allah yang kelihatan. Kita memuji, memuliakan dan bersyukur pada Allah.
Namun banyak orang melepaskan kehidupan doa dengan kehidupan sehari-hari. Orang dengan tekun berdoa di gereja, namun keluar dari gereja orang sudah melupakan doanya. Misalnya dalam upacara Kamis Putih, ada bagian dimana seorang imam mencuci kaki para tokoh umat, bahkan ada yang sampai mencium kaki itu. Pertanyaan besar apakah dalam kesehariannya imam itu berani melayani umat sampai mencuci kakinya? Yesus memberikan teladan itu agar semua murid juga melakukan hal yang sama. Ini tidak hanya imam tapi juga semua umat. Beranikah seorang bapak meminta maaf dan mencium kaki anaknya? seorang direktur meminta maaf dan mencuci kaki office boy? Kalau tidak berani berarti apa yang dilakukan dalam Kamis Putih hanyalah suatu kebohongan belaka. Hanya suatu ritus yang tidak ada artinya.
Ada seorang bapak yang memberikan kesaksian dan pengajaran Kitab Suci dimana-mana. Dia sangat bagus dalam menjelaskan ayat-ayat Kitab Suci, sehingga banyak orang kagum dan mengundangnya kemana-mana. Suatu hari ketika saya datang ke penjara Kalisosok, Surabaya, saya melihat seorang muda. Anak muda itu kenal saya dan tidak lama kemudian kami berbincang-bincang. Dia cerita bahwa dia adalah anak dari bapak itu. Dia masuk ke penjara sebab kasus sabu-sabu. Dia menceritakan keadaan keluarganya yang tidak harmonis dan kesepian hidupnya. Saya tidak tahu apakah ini suatu pembelaan diri. Tapi bukti adanya anak itu dalam penjara membuat saya bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa bapak itu bisa dengan bagus menjabarkan ayat-ayat suci sedangkan keluarganya ditelantarkan? Mengapa bapak itu bisa berdoa dengan panjang dan bagus, namun keluarganya sendiri hancur?
Masih banyak lagi contoh kontradiksi antara kehidupan iman seseorang dengan sikap hidupnya sehari-hari. Banyak orang berdoa bagus-bagus namun kehidupan sehari-harinya menyebabkan orang lain menjadi jengkel dengan sikap hidupnya yang sewenang-wenang. Di dalam gereja orang menghormati Yesus yang miskin tapi begitu keluar dari gereja dia berselisih dengan tukang becak gara-gara uang Rp 500 saja. Mengapa di dalam gereja orang berlutut di depan tabernakel sedang di luar orang berlaku sewenang-wenang terhadap orang miskin? Bukankah Tuhan ada di dalam orang miskin?
Dalam doa kita berhadapan dengan Allah yang tidak kelihatan. Kita memuji Allah dan mencintai Allah yang tidak kelihatan. Bagaimana kita bisa mencintai Allah yang tidak kelihatan jika kita tidak bisa mencintai sesama yang kelihatan (bdk 1Yoh 4:20)? Doa bukan hanya saat kita di dalam gereja atau sedang dalam kamar sendirian atau bersama umat lain dalam suatu waktu tertentu, melainkan doa terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Sepanjang kehidupan kita adalah suatu doa, dimana kita berhadapan dengan Allah yang kelihatan. Kita memuji, memuliakan dan bersyukur pada Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)
