Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN MENGENAI MOTHER TERESA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN MENGENAI MOTHER TERESA. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2009

PERSEMBAHAN

“Ketika orang Majus melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” (Luk 2:10-11)

Orang Majus adalah para ahli astronomi yang percaya bahwa seorang raja besar akan lahir setelah mereka melihat bintang besar di langit. Mereka berjalan jauh dari tempat asalnya untuk mencari Sang Raja yang baru lahir. Akhirnya mereka sampai di Betlehem dan menemukan Yesus. Mereka lalu mempersembahkan apa yang mereka bawa kepada Yesus. Persembahan para majus adalah sebagian kecil persembahan yang mereka bawa. Persembahan mereka yang terbesar adalah keberanian mereka untuk meninggalkan segalanya agar dapat bertemu dengan Yesus.

Persembahan adalah sesuatu yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain yang dihormatinya tanpa keinginan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Mereka memberi dengan suka cita demi kebahagiaan orang yang dihormatinya. St. Paulus mengingatkan bahwa persembahan yang terbesar adalah tubuh kita, seperti Yesus yang sudah mempersembahkan diriNya sebagai kurban untuk keselamatan manusia. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Rm 12:1)

Ibu Teresa menulis “Penyangkalan total artinya memberikan diri sepenuhnya kepada Allah karena Allah telah memberikan diriNya kepada kita. Jika Allah yang tidak berhutang apapun kepada kita, bersedia memberikan diriNya kepada kita, pantaskah kita menanggapinya hanya dengan memberiNya sebagian dari diri kita?... Kami memberikan diri kami kepadaNya dan Allah menjadi milik kami, dan sekarang kami tidak mempunyai apa-apa selain Allah. Hadiah yang diberikan Allah kepada kami sebagai imbalan atas penyangkalan diri sendiri adalah diriNya sendiri.”

Bagi Ibu Teresa pelayanan adalah suatu pemberian diri kepada Allah yang ada dalam diri kaum miskin. Pemberian diri adalah menyerahkan seluruh hidup, pikiran, tenaga dan hati kita kepada kaum miskin demi kebahagiaan mereka. Kita menyerahkan tanpa menuntut balas dan dengan suka cita. Untuk itu dibutuhkan semangat penyangkalan diri seperti Yesus yang meskipun Allah namun rela melayani manusia yang rendah dan penuh dosa.

Namun hal ini tidak mudah. Kita sering ingin memiliki diri kita bagi diri sendiri. Kita ingin mempertahankan siapa diri kita adanya. Bila kita seorang pejabat yang biasanya dilayani sangat sulit untuk memberikan diri sebagai pelayan, sebab kita punya kecenderungan ingin menunjukkan siapa diri kita. Maka kita perlu keluar dari diri kita dengan melepaskan segala status, kekayaan, jabatan dan sebagainya dan menjadi hamba dari kaum miskin. Seperti orang majus yang meninggalkan negeri dan seluruh kehidupannya untuk bertemu Yesus.

Penyangkalan diri bukan hanya melepaskan apa yang melekat dalam diri kita melainkan juga membiarkan Allah yang berkarya dalam diri, sehingga bila kita melakukan sesuatu bukan lagi kita yang berbuat melainkan kehendak Allah sendiri. Dengan demikian kita tidak akan kagum dan bangga dengan apa yang telah kita lakukan, sebab Allahlah yang telah melakukan dalam diri kita. Kita pun tidak akan kecewa bila apa yang kita lakukan tidak membuahkan hasil, sebab kita hanya sebagai saluran karya Allah dalam hidup. Kita mampu menyerahkan seluruh karya kita pada Allah. Maka tidak heran bila St. Paulus mengatakan bahwa itulah ibadah sejati. Dalam beribadah bukan hanya kita menyembah Allah melainkan kita juga dikuasai oleh Allah.

Semangat penyangkalan diri hanya dapat dimiliki oleh orang yang rendah hati yaitu sikap yang menyadari bahwa kita tidak memiliki apa-apa selain Allah yang ada dalam hati kita. Kesadaran bahwa kita tidak mampu melakukan apa-apa selain tindakan dimana Allah berkenan. Bila kita mampu mempunyai sikap rendah hati dan penyangkalan diri, maka kita tidak takut untuk melakukan segala sesuatu dan tidak mudah kecewa atau bangga akan segala sesuatu.

Sabtu, 10 Oktober 2009

PEMBERIAN TERBESAR ADALAH DIRI

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Rm 12:1)

Dalam pemahaman sehari-hari ibadat adalah sebuah tata liturgi untuk memuji Tuhan. Ibadah dilakukan sebagai perwujudan terima kasih manusia atas kebaikan Tuhan “Ibadah ini adalah karena mengingat apa yang dibuat TUHAN kepadaku pada waktu aku keluar dari Mesir.” (Kel 13:8). Sebagai perwujudan syukur dan cinta maka dalam ibadah juga dipersembahkan aneka binatang, roti dan hasil bumi.

Yesus adalah kurban persembahan sejati, “hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Ef 5:2). Salib telah mengubah tata ibadat Yahudi. Orang Kristen tidak perlu lagi mempersembahkan kurban persembahan sebab sudah dituntaskan oleh Yesus. Hilangnya kurban persembahan bagi Paulus bukan membuat ibadah kita menjadi ringan, sebab kita diminta untuk mempersembahkan diri kita. Bukan berarti kita dikurbankan seperti Yesus melainkan mempersembahkan diri untuk pelayanan. Dengan demikian pelayanan adalah ibadah sebab kita mempersembahkan diri kita. Inilah persembahan yang hidup.

Dalam sebuah kesempatan Ibu Teresa menulis, Saya tidak menginginkan Anda memberikan sesuatu dari kelimpahan Anda. Saya tidak pernah mengijinkan orang untuk menghimpun dana bagi saya. Saya tidak menginginkan itu. Saya ingin Anda memberikan sesuatu dari diri Anda sendiri. Cinta kasih yang Anda sertakan dalam setiap pemberian Anda adalah yang sangat penting.

Pada umumnya orang memberi dari kelimpahan. Maka orang sering berpendapat bahwa untuk mengadakan sebuah aktifitas pelayanan harus ada dana terlebih dahulu. Ibu Teresa menolak itu. Pemberian terbesar adalah pemberian diri yang penuh cinta kepada Tuhan yang tersamar dalam diri orang miskin dan menderita. Tuhan telah memberikan kepada kita aneka anugerah misalnya tenaga, kelengkapan tubuh dan sebagainya. Permberian itulah yang harus kita persembahkan kepada Tuhan. Bila kita hanya memiliki kaki untuk berjalan, maka persembahkan kaki kita untuk berjalan mengunjungi orang yang sakit dan sebagainya. Pelayanan bukan berasal dari kelimpahan melainkan dari kekurangan. Dengan merasa kurang maka kita akan bersandar pada penyelengaraan Ilahi. Ibu Teresa tidak pernah dicemaskan akan kekurangan dana dan barang. Dia bersandar pada penyelengaraan Ilahi. Dengan demikian untuk melayani tidak dibutuhkan harta dan benda yang berkelimpahan, melainkan hati yang tulus dan penuh kasih kepada sesama.

Pelayanan kita adalah sebuah doa bila kita sungguh ingin mempersembahkan apa yang kita miliki untuk Allah sebagai rasa syukur. Anugerah Allah yang terbesar adalah diri kita, maka persembahan terbesar adalah persembahan diri kita. Namun sering kali kita kurang melihat anugerah Allah dalam hidup kita. Kita sering merasa bahwa diri kita kurang. Kita menginginkan yang lebih dari apa yang kita miliki dalam hidup. Ketika kita masih merasa kurang, maka kita enggan untuk memberikan apa yang kita miliki untuk sesama. Kita hanya meminta kepada Allah untuk memberikan apa yang inginkan, sehingga lupa dan tidak melihat ada banyak orang lain yang lebih membutuhkan. Maka agar dapat memberikan diri, kita harus mensyukuri atas apa yang kita miliki dan alami. Kita melihat bahwa semua yang kita miliki dan alami berasal dari kemurahan hati Allah. Dari sini baru kita dapat melakukan pelayanan sebagai doa syukur kepada Allah.

SUKA CITA DALAM PELAYANAN

“Jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” (Rm 12:8)

Paulus dalam nasehatnya kepada jemaat di Roma, mengingatkan bahwa dalam jemaat ada banyak anugerah yang dapat digunakan untuk mengembangkan Kerajaan Allah. Namun semua itu harus dilakukan dengan tulus hati dan suka cita. Paulus menyadari bahwa orang yang mempunyai karunia dapat merasa lebih dari yang lain. Mereka dapat menjadi sombong. Kerajaan Allah adalah komunitas damai dan suka cita, dimana kasih menjadi dasarnya. Bila ada kesombongan maka Kerajaan Allah tidak akan terbangun. Maka setiap pelayanan hendaknya dilakukan dengan tulus iklas.

Banyak orang yang melakukan pelayanan. Namun sering kali perbuatan baik ini kurang didasari oleh sebuah motivasi yang baik. Motivasi yang baik adalah bila segala pelayanan kita mengarah pada Allah bukan pada manusia. Apa yang kita lakukan demi kemuliaan Allah. Memang ada perbedaan antara Paulus dan Yohanes. Paulus menekankan balasan dari Allah, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2Kor 9:7) sedangkan Yohanes menekankan bahwa pelayanan kita adalah kesadaran akan cinta Allah. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (1Yoh 4:19). Namun semua itu mengarahkan kita untuk melakukan pelayanan dengan suka cita dan tulus hati seperti Allah yang telah memberi kepada kita segalanya dengan suka cita dan tulus.

Ibu Teresa menulis, Missionaris Cinta Kasih adalah keluarga yang memiliki cinta kasih, kedamaian dan kegembiraan. Jika Anda tidak mempunyai kedamaian dan cinta kasih di dalam keluarga Anda atau dalam hati Anda sendiri, bagaimana mungkin Anda akan memberikan semua itu kepada orang lain? Cinta yang sejati harus menanggung sakit. Saya berharap Anda akan mempelajari kebenaran itu dalam kehidupan Anda kemudian berbagi kegembiraan dalam cinta kasih. Bila Anda sedang memasak, mencuci pakaian atau bekerja keras di kantor, lakukan semua itu dengan gembira. Itu merupakan cinta kasih Anda kepada Tuhan.

Bagi Ibu Teresa cinta kasih adalah sumber kebahagiaan. Bila semua pelayanan dilakukan berdasarkan cinta kasih maka orang akan melayani dengan bahagia. Maka Ibu Teresa menekankan agar kita memiliki cinta kasih sebelum melakukan pelayanan. Sumber cinta kasih yang besar adalah kesadaran akan cinta kasih Allah yang telah dianugerahkan kepada kita. Memang dapat saja orang kurang memiliki cinta kasih melakukan pelayanan, namun hal itu akan tampak dari segala tindakannya. Dia akan mudah menuntut orang yang dilayani. Dia mudah frustasi dan kecewa kepada orang yang dilayani dan sebagainya. Pelayanannya menjadi kering dan rutinitas belaka.

Pelayanan adalah tindakan cinta kasih kepada Tuhan, bukan hanya sekedar melakukan sebuah tindakan pada manusia yang menderita. Bila kita melakukan demi Tuhan, entah Tuhan akan membalas atau tidak, maka semua itu akan kita lakukan dengan suka cita. Kita akan setia melakukan pelayanan meski apa yang kita kerjakan kurang diterima oleh orang lain atau dicemooh oleh sesama. Kita tidak mudah putus asa dan menyerah oleh aneka rintangan. Kita tidak mengukur besar kecilnya sebuah pelayanan. Di mata Tuhan tidak ada tindakan besar atau kecil melainkan ada cinta kasih dan rasa syukur. Bila pelayanan itu berdasarkan pada Tuhan maka pelayanan itu menjadi sebuah doa.

PEMBERIAN YANG PENUH KASIH

Rata Penuh“Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1Yoh 13:16)

Pada Perjanjian Lama sebelum Kristus sudah banyak nabi dan orang suci yang diutus Allah untuk membawa manusia kembali padaNya. Mereka mengaja agar manusia saling mengasihi, berlaku adil terhadap sesama, serta membela kaum miskin dan tertindas. Namun tidak satupun yang mati demi orang yang dibelanya. Yesus bukan hanya mengajar dengan perkataan dan tindakan keselamatan seperti menyembuhkan, memberi makan dan sebagainya, namun Dia menyerahkan diriNya demi keselamatan manusia. inilah puncak kasih Kristus yaitu peristiwa penyaliban. Tidak ada pemberian yang lebih besar daripada pemberian nyawa demi kedamaian dan keselamatan orang lain. Apa yang dilakukan Kristus adalah sebuah wujud keteladanan bagaimana seharusnya kita hidup dan bersikap.

Namun penyerahan nyawa bukanlah segalanya bila tidak didasari oleh cinta. Paulus mengingatkan kita bahwa dari segalanya yang terbesar adalah cinta. “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.” (1Kor 13:3). Hal ini mengingatkan kita bahwa segala pemberian entah besar atau kecil harus didasari oleh kasih yang besar.

Suatu hari Ibu Teresa menemukan seorang yang sangat mabok di tengah jalan. Tampaknya dia orang yang cukup mampu, tapi saat itu dia sangat mabok, sehingga berdiripun dia tidak mampu. Orang itu dibawa ke rumah penampungan. Disana para suster merawatnya dengan penuh kasih, perhatian dan keramahan. Setelah dua minggu dia berkata pada para suster, “para suster hatiku terbuka. Kini saya menyadari bahwa Tuhan mencintai saya. Saya telah merasakan kasihnya yang lembut. Saya mau pulang.” Sebulan kemudian dia datang lagi membawa cek. Cinta kasih berhasil membawa dia kembali kepada lingkungan keluarganya, ke lingkungan anaknya yang ramah dan istrinya yang sangat mencintainya. Cinta kasih yang Anda sertakan dalam pemberian Anda adalah yang paling penting. Jika Anda ingin berbahagia, jika Anda ingin mempunyai keluarga yang suci, ulurkan tangan Anda untuk melayani dan berikan hati Anda untuk mencintai.

Pada jaman ini banyak orang yang memberi. Ketika terjadi gempa di Jogjakarta banyak sekali orang yang berbondong-bondong kesana untuk membantu. Hal ini bukan hanya ketika terjadi di Jogjakarta melainkan dimana-mana. Banyak orang berani memberikan apa yang mereka miliki untuk orang lain. Jika demikian apakah negara kita sudah penuh dengan orang yang saling mencintai? Suatu pemberian bukan tolok ukur sebuah cinta. Ada banyak orang memberi tanpa cinta namun dengan aneka alasan lain. Pemberian cinta adalah pemberian diri yang dapat mengubah seseorang. Ibu Teresa memberikan kasihnya yang terungkap dalam merawat orang mabok. Orang itu merasakan kasih yang besar dan berubah. Dia pun memberi cek agar Ibu Teresa dan para suster memperlakukan orang lain seperti mereka memperlakukan dirinya. Kasih itu mengubah orang. Mengubah bukan berarti hanya mengubah secara fisik misalnya orang miskin menjadi kaya. Namun mengubah untuk lebih bisa saling mengasihi. Kasih yang kita berikan menyadarkan orang akan kasih Allah dan membantunya untuk mampu mengasihi orang lain seperti yang pernah dia rasakan dari kita.

ADORASI

“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.” (Luk 6:12)

Beberapa kali Yesus masuk tempat sepi untuk berdoa pada Bapa. Bahkan dalam kesibukanNya dan ketika sangat dibutuhkan banyak orang, Dia pun pergi ke tempat sepi untuk berdoa (Mrk 1:33-37). Apakah Yesus begitu egois sehingga meninggalkan banyak orang untuk berdoa? Berdoa adalah menjalin hubungan dengan Allah. Bagi Yesus menjalin hubungan yang mesra dengan Allah adalah diatas segalanya. Bila dekat dengan Allah maka akan semakin memahami kehendak Allah. Berdoa berarti juga mempersatukan diri dengan Allah, sehingga terbangun satu kesatuan yang erat “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Yesus berdoa ditempat-tempat sepi dan sendiri. Dalam keheningan itu Dia dapat berbicara dengan Bapa secara khusus. Dia mencari kehendak Bapa (bdk. Mat 26:37-44).

Dalam dunia ini orang menikmati keramaian. Orang juga terjebak dalam arus jaman yang sibuk, sehingga orang berusaha untuk masuk dalam kesibukan. Orang modern adalah orang yang sibuk. Akibatnya doa dalam hening ditinggalkan. Orang lebih menikmati doa dalam keramaian. Orang pun tidak mempunyai waktu doa, sebab tenggelam dalam kesibukannya. Bila belajar dari Yesus maka kita butuh waktu hening untuk mempersatukan diri dengan Allah sehingga dapat melihat kehendakNya. Adorasi adalah doa hening dimana kita berhadapan dengan Yesus. Melihat belas kasih Yesus yang sedemikian besar sehingga menyerahkan nyawaNya bagi kita. Melihat kesederhanaan Yesus yang siap menjadi roti yang kita santap.

Ibu Teresa menulis, “Kami mempunyai banyak pekerjaan bagi kaum miskin. Kami tidak perlu mengurangi pekerjaan kami untuk dapat mengadakan adorasi itu. Sering kali kesibukan pekerjaan dijadikan alasan bagi banyak orang untuk tidak mengadakan adorasi setiap hari. Saya dapat menceritakan kepada Anda bahwa ada perubahan besar sejak di dalam konggregasi kami ada adorasi setiap hari. Cinta kasih kami kepada Yesus semakin mendalam….Hati Kudus Yesus merupakan pusat cinta kasih kita. Ekaristi merupakan kekuatan kita, kebahagiaan dan cinta kasih kita, kedamaian yang memungkinkan kita menerima Yesus dan kemudian membagikan Dia kepada orang-orang lain,”

Pelayanan kepada kaum miskin membutuhkan energi yang besar. Mengasihi orang menderita membutuhkan kasih yang tulus dan besar. Bagi Ibu Teresa sumber kasih yang besar itu didapatkanya ketika dia mempersatukan diri dengan Allah dalam adorasi dan keheningan. Menurut Ibu Teresa setelah mengadakan adorasi setiap hari, jumlah anggota konggregasinya semakin banyak. Hal ini bukan mujijat adorasi melainkan dengan adorasi dan hening, Ibu Teresa semakin bersatu dengan Allah, sehingga apa yang dikatakan dan dilakukan merupakan cerminan karya Allah yang berbelas kasih.

Dalam hening kita bisa melihat karya kita dalam terang Allah. Kita dapat menilai diri sendiri apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan kehendak Allah? Apakah karya kita sudah mencerminkan kehendak Allah? Terlebih adalah melihat belas kasih Allah dalam hidup kita. Kesadaran belas kasih itulah yang kita wartakan pada dunia. Namun pada umumnya sering kita meremehkan adorasi. Kita menganggap bahwa bertindak belas kasih jauh lebih berguna daripada duduk dalam hening. Padahal bila kita terus bertindak maka akan mengalami kejenuhan. Kita akan mudah marah dan putus asa. Kita akan mengalami kekeringan sebab usaha yang kita lakukan adalah usaha pribadi bukan melaksanakan kehendak Allah.

KITA ADALAH PANCARAN KASIH ALLAH

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa." (Yoh 14:12)

Iman dan perbuatan adalah satu kesatuan. Penulis surat Yakobus mengatakan bahwa seseorang dapat disebut sebagai orang beriman bila dia dapat menunjukkan iman itu dalam perbuatannya (Yak 2:18-20). Dengan demikian tidak cukup seseorang mengaku diri sebagai orang beriman dengan mengatakan bahwa “aku percaya pada Allah,” melainkan harus mewujudnyatakan dalam segala tindakannya. Tindakan iman bukan hanya berdoa atau melakukan aktifitas kerohanian. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21).

Salah satu syarat bagi orang yang menentap di Indonesia adalah dia harus memeluk sebuah agama. Akibatnya banyak orang terpaksa memeluk agama sebab kuatir akan mendapatkan kesulitan dalam hidupnya. Dia hanya beragama tapi tidak menunjukkan diri sebagai orang beriman. Kalau toh dia menunjukkan imannya hanya menggunakan atribut keagamaan atau mengikuti kewajiban perayaan agama pada hari yang sudah ditentukan. Namun dalam kehidupan sehari-hari tidak mencerminkan keimanannya.

Ibu Teresa menulis bahwa “seorang kerabat Missionari Cinta Kasih adalah pembawa dan cermin dari kasih Tuhan. Kita semua harus mempunyai tekad untuk membawa cinta kasihNya kemana-mana. Mengapa? Karena Yesus pernah bersabda,”Kamu lakukan itu kepadaKu. Ketika Aku lapar, telanjang, tidak mempunyai rumah, dan kesepian. Dan kamu melakukannya untuk Aku.” Itulah sebabnya para Missionaris Cinta Kasih, demikian pula rekan-rekan yang melayani orang-orang sakit, para karyawan, kaum kontemplatif, kaum muda, dan rekan-rekan dokter semuanya disebut sebagai pembawa cinta kasih Tuhan.

Ibu Teresa mengimani Allah yang penuh kasih pada kaum miskin. Iman ini diwujudkan dalam seluruh kehidupannya yang penuh kasih pada setiap orang yang membutuhkan. Setiap keputusan dan perkataannya menunjukkan cinta kasih Allah yang besar pada kaum miskin sehingga setiap orang yang memandang dan bertemu dengannya dapat merasakan kasih Allah yang terpancar dari pribadinya. Bagi Ibu Teresa beriman adalah keberanian untuk mencintai Yesus dengan sepenuh diri. Mencintai Yesus bukan hanya menganggumi tapi berjalan sesuai dengan apa yang diperintahkanNya. Mengerjakan apa yang dikerjakanNya bahkan lebih besar lagi. Pada jaman Yesus tidak ada penyakit AIDS, orang yang mati akibat sistem kasta dan sebagainya. Inilah pekerjaan-pekerjaan besar lain yang diwariskan Yesus kepada para pengikutNya. Inilah tantangannya, sebab orang mudah sekali kagum pada orang yang berbuat baik melainkan enggan untuk menjalankan apa yang dijalankan oleh orang yang dikagumi.

Ibu Teresa juga menghendaki kita menjadi cermin. Cermin adalah sarana seseorang untuk melihat diri sendiri. Maka segala tindakan cinta kasih kita hendaknya mampu membawa orang untuk menyadari akan dirinya sendiri. Menyadari akan siapa dirinya dan perutusan hidupnya. Bila dia seorang beragama maka dia akan menyadari untuk mewujudkan imannya dalam hidupnya. Dengan melihat sikap hidup kita maka orang pun menjadi tergerak untuk melakukan tindakan kasih. Dalam pelayanan, maka tindakan kita menyadarkan pada orang yang kita layani bahwa dia adalah manusia yang bermartabat meski kemiskinan dan penderitaan menimpanya. Dia menyadari bahwa dia adalah ciptaan Allah yang utama.

BELAJAR DARI ANAK KECIL

Yesus bersabda: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Mat 18:3)

Pada jaman Yesus hidup anak-anak dan perempuan adalah termasuk orang yang menduduki bagian terendah dalam struktur masyarakat akibatnya mereka kurang dihargai. Mereka dianggap orang yang tidak tahu apa-apa. Padahal anak-anak adalah manusia yang masih diliputi oleh pikiran-pikiran yang tulus dan murni. Bila mereka bertindak tanpa didasari oleh motivasi-motivasi tersembunyi. Misalnya mereka memberi sebab memang mereka ingin memberi bukan untuk mencari keuntungan diri sendiri. Sedangkan orang dewasa sering kali melakukan sebuah tindakan dengan aneka motivasi tersembunyi untuk keuntungan diri mereka sendiri.

Anak-anak pun senantiasa bersuka cita dalam aneka masalah hidupnya. Inilah dasar untuk pembangunan Kerajaan Allah, sebab Kerajaan Allah adalah situasi dimana orang dapat mencintai secara tulus dan penuh suka cita. Maka Yesus mengajak para murid untuk belajar dari mereka. Bahkan para murid dituntut untuk bertobat untuk menjadi seperti anak kecil. Hal ini bukan berarti mereka harus menjadi kekanak-kanakan, melainkan meniru ketulusan dan kemurnian sikap anak-anak.

Suatu hari Ibu Teresa memberikan roti kepada beberapa anak miskin. Ternyata ada seorang anak yang tidak memakan roti itu. Ibu Teresa bertanya mengapa roti itu tidak dimakan? Anak itu menjawab, “Ayah saya sakit. Saya lapar sekali, tapi ayah saya sakit, dan saya kira dia akan senang sekali kalau mendapat roti ini.” Dalam renungannya Ibu Teresa menulis, anak itu rela memberikan rotinya agar dapat menggembirakan ayahnya karena mendapat sepotong roti. Kaum miskin itu orang yang berjiwa besar! Mereka tidak memerlukan simpati dari kita. Mereka tidak minta agar kita kasihan pada mereka. Mereka orang-orang yang berjiwa besar.

Kita dapat belajar dari pengalaman Ibu Teresa yang belajar dari ketulusan anak-anak. Meski dia sendiri membutuhkan namun karena terdorong oleh cinta yang besar kepada ayahnya maka dia rela menahan laparnya demi ayahnya. Inilah kebesaran cinta. Cinta yang berani mengurbankan kepentingan-kepentingan diri sendiri demi kebahagiaan orang lain. Inilah kebesaran jiwa seperti Yesus yang berani berkurban untuk manusia.

Dalam dunia saat ini banyak orang melakukan suatu tindakan dengan aneka macam motivasi. Orang memberi dengan motivasi akan menerima kembali. Banyak orang mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dari setiap yang dia lakukan bahkan dalam tindakan amal. Keuntungan bukan hanya dalam wujud materi namun juga prestasi, nama baik, kebanggaan diri dan sebagainya. Hal ini tampak adanya banyak orang yang beramal akhirnya menemukan kekecewaan sebab orang yang diberi tidak membalas seperti yang dia inginkan. Akhirnya mereka tidak mau beramal kembali.

Dalam mengasihi dibutuhkan ketulusan dan sikap tanpa pamrih. Kita tidak berpikir mengenai diri kita, melainkan memikirkan orang yang kita beri. Kita tidak menuntut mereka menjadi seperti yang kita inginkan melainkan membiarkan mereka seperti yang mereka inginkan. Tindakan kasih yang kita lakukan bukan untuk membentuk orang menjadi seperti yang kita harapkan. Tindakan kasih adalah untuk membahagiakan orang. Maka Yesus menyerukan pertobatan agar kita menjadi anak-anak yang berjiwa besar. Manusia yang berani berkurban demi orang lain tanpa mempunyai maksud lain selain kebahagiaan orang yang dicintainya.

ANAK DAN KELUARGA

Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. (Mat 15:28)

Suatu hari Ibu Teresa menemukan anak kecil di jalan. Dia membawa ke rumah dan memberi pakaian yang layak. Tapi anak itu melarikan diri. Ibu Teresa mengutus seorang suster untuk mengikutinya. Ternyata anak itu kembali kepada ibunya yang menjadi pengemis. Ketika ditanya mengapa dia tidak mau tinggal di rumah yang disediakan? Anak itu menjawab bahwa dia tidak dapat berpisah dengan ibunya sebab dia sangat mencintainya. Dari pengalaman ini Ibu Teresa belajar bahwa kebahagiaan seseorang bila dia menemukan cinta dalam keluarga. “Tidak ada anak muda atau gadis muda melarikan diri dari rumah karena tidak mempunyai ini atau itu. Mereka hanya melarikan diri dari rumah yang tidak mempunyai kasih sayang.”

Dalam dunia dewasa ini banyak anak yang kehilangan kasih sayang dari keluarganya. Mereka menjadi anak yang putus asa, mudah menyerang, hidup seenaknya, tidak punya harapan dan sebagainya. Persoalan ini menimpa keluarga tanpa memandang status sosial, ekonomi, suku dan sebagainya. Tidak jarang kasus anak yang putus asa muncul dari keluarga yang dianggap baik oleh masyarakat. Orang tuanya aktif melakukan aktifitas sosial, hidup menggerejanya baik, dalam kehidupan bermasyarakat tidak mempunyai masalah, dan sebagainya, namun ternyata anaknya menjadi anak yang kesepian dan putus asa sehingga melakukan hal-hal yang tidak terpuji.

Dalam Injil seorang perempuan Kanaan rela diusir oleh para murid bahkan dihina oleh Yesus sebab dia memohon terus menerus pada Yesus untuk kesembuhan anaknya yang sedang sakit. Cinta pada anaknya membuatnya mampu bertahan menghadapi segala tantangan. Cinta yang besar membuatnya berserah pada Tuhan. Iman adalah perwujudan cinta pada Tuhan, bila seseorang mampu mencintai anaknya sedemikian besar maka dapat dipastikan dia dapat mencintai Tuhan secara penuh.

Mencintai anak secara penuh sering kali menjadi tantangan dalam dunia dewasa ini. Saat ini banyak orang aktif mengadakan pelayanan-pelayanan bagi kaum miskin dan menderita. Orang aktif menjalankan ajaran agamanya. Namun mengapa semakin banyak anak yang tumbuh dalam kesepian dan kefrustasian? Hal ini mungkin disebabkan banyak orang lebih memilih mencintai orang diluar keluarga dibandingkan dalam keluarganya sendiri. Memang sangat mudah mencintai orang di luar keluarga sebab hal itu hanya dilakukan sesaat saja. Tidak ada ikatan emosional, sebab lebih pada pelayanan. Kita pun dapat berpura-pura mencintai dan baik. Ada aneka topeng yang kita kenakan. Sebaliknya bila melayani dan mencintai keluarga tidak dapat sesaat saja. Keluarga ada bersama kita. Kita tidak dapat memakai topeng kelemah lembutan, murah hati, senyum dan sebagainya. Kita menjadi diri kita apa adanya. Bila pelayanan di luar kita dapat berusaha menahan diri bila orang yang kita layani tidak sepaham dengan kita, sebab setelah itu kita pergi meninggalkan mereka. Tapi di dalam keluarga kita tidak dapat meninggalkan anak kita meski dia tidak sepaham dengan kita. Disinilah yang menyebabkan timbulnya keinginan melayani diluar tapi melupakan keluarga.

Ibu Teresa menegaskan pelayanan dimulai dari keluarga. Dia berkata “Cinta kasih itu hidup ditengah keluarga.” Dalam keluarga cinta kita diuji. Kita dituntut mencintai setiap pribadi sepenuhnya. Bila kita menemukan cinta dalam keluarga maka kita akan mempunyai akar yang kuat dalam pelayanan kita

MARIA SEBAGAI TELADAN

Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." (Mat 12:48-50)

Ibu Teresa sangat menganggumi Maria, bukan hanya karena dia adalah ibu Yesus melainkan karena sikap dan teladan Maria. Dalam sebuah tulisannya Ibu Teresa menulis “Panggilan Bunda Maria adalah menerima Yesus ke dalam hidupnya. Dia bersedia menjadi abdi bagi Tuhan. Kemudian bergegaslah dia pergi untuk menyerahkan Yesus kepada St. Yohanes Pemandi dan ibunya.” Bagi Ibu Teresa Maria bukan hanya menerima Yesus dalam hidupnya namun dia juga mendidik Yesus di Nasaret dan membawa Yesus pada orang lain sehingga orang lain memuji Tuhan seperti Yohanes memuji Tuhan dalam kandungan Elisabet.

Maria adalah orang beriman yang pertama. Dia percaya pada Yesus dan segala yang disabdakan oleh Tuhan padanya meski hal itu sangat membingungkannya. Bagaimana mungkin dia yang belum bersuami akan mengandung dan melahirkan seorang putra dari Roh Kudus? Namun dia memposisikan diri sebagai hamba yang taat pada perintah tuannya. Hal yang menganggumkan dari Maria adalah kepeduliannya pada orang lain yang menderita. Ketika mendengar Elisabet mengandung maka dia bergegas ke rumah Elisabet dan membantunya sampai Elisabet melahirkan. Padahal saat itu dia juga sedang mengandung. Maria adalah pelaku firman. Maka ketika Yesus ditanya siapa ibunya? Yesus menjawab ibunya adalah orang yang melakukan firman. Siapakah orang yang hebat menjalankan firman selain Maria, bunda Yesus?

Di dunia ini banyak orang yang memeluk agama dan merasa bahwa dirinya sudah beriman. Sebenarnya iman adalah perwujudan dari penyerahan hidup manusia kepada Tuhan. Dia percaya secara penuh dan utuh akan Tuhan. Kepercayaan ini terungkap dalam sikap hidup dan tindakan nyata. Yakobus mengatakan iman tanpa perbuatan hakekatnya adalah mati. Bila orang mengaku bahwa dirinya orang beragama dan beriman namun hidupnya tidak diwarnai oleh iman itu maka sebetulnya dia bukan orang beriman. Mungkin dia orang beragama namun bukan orang beriman.

Ibu Teresa berusaha mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dia percaya bahwa Yesus akan memberi apa yang dibutuhkannya, maka dia tidak pernah kuatir dalam semua hal, sebab dia percaya bahwa Yesus akan memberikan segalanya pada saat yang tepat. Iman Ibu Teresa juga bersumber dari iman Maria yang siap melayani semua orang. Maria yang menerima Yesus dan membawaNya pada orang lain. Ibu Teresa menulis, “Dewasa ini Yesus mendatangi kita dan kita pun seperti Bunda Maria harus bergegas memberikan Dia kepada orang-orang lain.”

Kita sudah menerima Yesus dalam hati. Maka tugas kita adalah membawaNya kepada setiap orang agar mereka mengenal Yesus dan memujiNya. Membawa Yesus pada orang bukan berarti hendak mengkristenkan. Ibu Teresa menghendaki agar orang mengenal Allah bukan untuk menjadi Kristen. Dengan demikian pelayanan kita harus murni demi menolong orang miskin bukan sebagai sarana untuk mengkristenkan orang yang bukan Kristen. Inilah kemurnian pelayanan.

YESUS YANG MISKIN DAN MENYEDIHKAN

“Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia -- begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi.” (Yes 52:13-14)

Di komunitas MC di Calcuta ada seorang gadis kaya lulusan sebuah perguruan tinggi yang menjadi postulan (calon suster). Dia harus melakukan kunjungan pada kaum miskin. Sebelum dia berangkat menjalankan tugasnya Ibu Teresa mengatakan, “Kamu telah melihat imam dalam misa yang dengan cinta dan perhatian yang manis dia menyentuh tubuh Kristus.Yakinlah kamu telah melakukan hal yang sama ketika kamu sampai di rumah orang miskin, sebab Yesus ada disana dalam penyamaran yang menyedihkan.”

Ibu Teresa senantiasa berefleksi dan hening di depan salib dan tabernakel. Dia melihat kemiskinan dan penderitaan Yesus disana. Yesus yang Putra Allah wafat dalam kemiskinan dan penderitaan yang sangat menyedihkan. Kepedihan dan penderitaan Yesus saat ini terpancar dalam diri orang miskin. Yesus ada dalam diri orang miskin. Maka Ibu Teresa mengatakan bahwa Yesus bukan hanya ada dalam hosti melainkan Dia hidup dalam diri orang miskin. Siapa yang menyentuh orang miskin, maka dia sudah menyentuh Yesus seperti dia menyentuh Yesus yang berupa hosti.

Demi keselamatan manusia Yesus menyerahkan diriNya kepada manusia. Dia melepaskan kesetaraanNya dengan Allah menjadi manusia yang miskin dan wafat secara mengerikan di salib. Kemiskinan yang dialami Yesus adalah kemiskinan total. Di salib Dia kehilangan kekayaanNya, statusNya, dan martabatNya sebagai Putra Allah. Yesaya menggambarkan dengan tepat sekali apa yang akan dialami oleh Yesus. Dia begitu buruk rupa seperti bukan manusia lagi. Kemiskinan adalah bila orang diperlakukan tidak seperti manusia. Dia diperlakukan sewenang-wenang, ditinggalkan, tidak dicintai dan sebagainya. Dia dihilangkan jati dirinya sebagai manusia yang bermartabat, sehingga mereka kehilangan jati dirinya sebagai citra Allah.

Ibu Teresa berusaha menjadikan kaum miskin sebagai manusia yang bermartabat kembali. Manusia yang merupakan citra Allah. Maka pelayanan yang dilakukan adalah berusaha mencari orang-orang yang telah dibuang dan tidak dianggap manusia lagi. Mereka seperti Yesus yang disalibkan. Agar dapat melayani kaum miskin, maka orang harus berani hidup miskin. Berani melepaskan apa yang menjadi miliknya seperti Yesus melepaskan seluruh kepemilikanNya. Dalam pelayanan pun Ibu Teresa berusaha menjadi miskin. Dia tidak ingin mempertahankan apa yang dimilikinya supaya dapat memahami dan merasakan makna kemiskinan itu. Mengalami betapa beratnya dihilangkan segala sesuatu yang dimiliki sampai kemanusiaannya. Dalam sebuah wawancara Ibu Teresa mengatakan “Kami akan menyesuaikan diri dalam bentuk pakaian jika itu bisa lebih diterima oleh kaum miskin dimana kami merasa terpanggil untuk melaksanakan karya kami.” Para suster MC mengenakan sari sebab sari adalah pakaian umum masyarakat India. Namun Ibu Teresa berani meninggalkan sari bila memang kaum miskin tidak dapat menerimannya sebab dia berpakain seperti itu. Inilah salah satu bentuk pelepasan diri dan menjadi miskin.

Selasa, 23 Juni 2009

PELAYANAN DAN DOA

“Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (1Yoh 4:20-21)

Allah menyelamatkan dunia dengan mengutus PutraNya menjadi manusia. Peristiwa inkarnasi (Allah menjadi manusia) menjadi dasar karya keselamatan. Pada Perjanjian Lama manusia adalah gambaran Allah (Kej 1:26), tapi kehadiran Yesus mengubah semua itu. Allah ada dalam manusia “Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” (Yoh 14:20). Yesus pun bersabda bahwa Dia ada dalam saudara yang miskin.

Doa adalah sarana kita menjalin hubungan dengan Allah. Pada Perjanjian Lama Allah begitu jauh dan menakutkan, sehingga siapa yang melihat Allah akan mati. “Berkatalah Manoah kepada isterinya: "Kita pasti mati, sebab kita telah melihat Allah." (Hak 13:22). Maka mereka membuat Bait Allah dengan tempat khusus bagi Allah. Hanya para imam yang diijinkan untuk masuk ke tempat khusus itu. Inkarnasi Allah dalam diri Yesus membuat hubungan Allah manusia menjadi dekat. Allah dapat disentuh. Inkarnasi membuat Allah bukan lagi di tempat kudus melainkan ada dalam sesama kita (bdk Yoh 4:20-24). Maka apa yang dikatakan dalam surat Yohanes ini sangat benar bahwa mencintai Allah berarti mencintai manusia.

Sering kali kita memisahkan antara Allah dan sesama. Banyak orang tekun berdoa dan sudah merasa puas. Mereka merasa sudah menjalin hubungan yang baik dengan Allah melalui doa-doa. Bila menghayati peristiwa inkarnasi maka doa saja belum cukup. Allah bukan lagi di surga yang jauh tapi ada dalam saudara yang miskin. Doa tanpa pelayanan adalah mati. Namun pelayanan tanpa doa adalah kosong. Pelayanan adalah perwujudan doa-doa kita. Dalam doa kita melihat belas kasih Allah dalam hidup. Belas kasih ini kita bagikan pada sesama. Kesadaran Allah ada di saudara yang miskin bukanlah sesuatu yang mudah, sebab kita sudah terbiasa dengan konsep Allah ada di surga yang jauh dan tinggi. Selain itu kita sering mencari jalan yang mudah dan menyenangkan. Doa adalah sebuah tindakan yang mudah. Namun pelayanan adalah tindakan penuh pengurbanan. Dari sinilah dapat kita pahami bahwa keselamatan bukanlah hal yang mudah, melainkan harus melalui pintu yang sempit. Kita harus berjuang untuk mencapai dan memperoleh keselamatan.

Ibu Teresa mengkaitkan doa dan pelayanan secara seimbang. Semua pelayanannya merupakan wujud dari pengenalan akan Allah. Suatu hari Ibu Teresa berkata pada para susternya, “Kalian tahu bahwa kalian harus kesana (tempat pelayanan). Selama misa, kami selalu mengadakan misa sebelum berangkat kerja setiap paginya, renungkanlah kelembutan yang bagaimana dan kasih sebesar apa, Bapa memperlakukan tubuh Kristus. Yakinlah bahwa tubuh yang sama inilah yang akan kalian sentuh dalam diri orang miskin. Berilah kasih dan kelembutan yang sama.” Ibu Teresa mengalami kasih Allah dalam doa-doanya. Dengan pengalaman kasih itulah beliau memperlakukan orang miskin. Dalam doa-doanya Ibu Teresa mengalami keselamatan dari Allah, maka beliau mewartakan keselamatan ini dengan tindakan belas kasih seperti yang dilakukan oleh Allah pada dirinya.

BERBAGI

"Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian." (Luk 3:11)

Mengikuti Yesus adalah sebuah keradikalan. Keberanian meninggalkan segala sesuatu dan keberanian untuk berbagi dengan sesama bahkan sampai nyawa. Semangat ini diteruskan oleh Gereja perdana, dimana mereka memberikan apa yang mereka miliki untuk sesamanya. “Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya” (Kis 4:34-35). Namun semangat ini telah bergeser jauh ketika Gereja memasuki jaman keemasannya yaitu setelah agama Kristen menjadi agama kerajaan Romawi.

Kita boleh memiliki harta benda. Segala yang kita miliki adalah anugerah Allah. Sesuatu yang dipercayakan Allah pada kita dengan tujuan untuk melayani sesama mencapai kesejahteraan bersama. Oleh karena tujuan adalah untuk kesejahteraan bersama maka apa bila kita memiliki harta yang lebih hendaknya dibagikan pada yang kekurangan. Berbagi membutuhkan keberanian, sebab orang selalu ingin mempertahankan apa yang dimilikinya. Bahkan kalau memungkinkan dia akan menambah kepemilikannya. Lebih jauh lagi orang terlekat dengan apa yang dimiliki. Disinilah tantangannya sejauh mana kita meski memiliki namun tidak ingin dikuasai oleh kepemilikan kita. Kita punya harta tapi tidak dikuasai oleh harta. Kita mengatur harta bukan diatur oleh harta.

Semangat berbagi dapat ditumbuhkan bila dalam hati ada semangat belas kasih pada sesama serta kesadaran bahwa Allah telah berbelas kasih pada kita. Segala yang kita miliki berasal dari belas kasih Allah. Kesadaran akan belas kasih ini menumbuhkan kesadaran akan belas kasih pada sesama. Belas kasih Allah kita terima setiap saat. Tidak selalu dalam hal yang besar dan hebat. Maka belas kasih pada sesama tidak perlu menunggu bila kita sudah mempunyai kelebihan, sebab manusia sulit untuk merasa cukup. Agar mampu berbelas kasih juga dibutuhkan kepekaan hati. Rasa yang membuat kita empati yaitu membayangkan seandainya aku menjadi dia. Bila melihat orang lapar kita membayangkan bagaimana bila kita yang lapar? Dari kepekaan ini akan tumbuh belas kasih dan dorongan untuk bertindak.

Suatu hari Ibu Teresa diberitahu bahwa ada satu keluarga Hindu dengan 8 anak yang kelaparan. Maka Ibu Teresa berangkat ke rumah keluarga itu sambil membawa nasi. Sesampai disana Ibu Teresa memberikan nasi itu pada ibu yang kelaparan. Ibu itu segera membagi nasi untuk anak-anaknya dan membawa sebagian lagi ke rumah tetangganya yang beragama Islam. Ketika ditanya oleh Ibu Teresa mengapa dilakukan hal itu? Ibu itu menjawab bahwa keluarga tetangganya juga sudah beberapa hari tidak makan. Ibu Teresa menulis, “Tak dapat aku lukiskan wajah anak-anak itu. Ketika aku masuk, aku tahu mereka menderita. Aku dapat melihat wajah-wajah kurus mereka. Aku dapat melihat mata mereka yang menyorotkan kelaparan. Ketika aku pulang, mata mereka bersinar suka cita sebab baik ibu maupun anak-anaknya mampu berbagi kasih pada sesamanya yang sangat menderita.”

BERSYUKUR

Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini? (Luk 17:17-18)

Orang kusta pada jaman itu dihilangkan hak-haknya dan dikucilkan dari masyarakat. Lembaga yang menentukan semua itu adalah para imam kepala yang dianggap sebagai pemimpin tertinggi bangsa Israel setelah kerajaan Israel runtuh. Para imam kepala jugalah yang dapat memulihkan status mereka di masyarakat bila mereka sembuh. Maka ketika ada 10 orang kusta yang memohon kesembuhan, Yesus memerintahkan mereka untuk pergi ke imam kepala agar dipulihkan status mereka di masyarakat. Diterima kembali oleh masyarakat sebab telah sembuh. Namun dari 10 orang itu hanya satu yang kembali pada Yesus untuk berterima kasih.

Dalam hidup Allah telah memberikan berbagai anugerah kepada manusia. Anugerah terbesar adalah pemulihan martabat manusia. Pada awal penciptaan manusia menjadi ciptaan yang mulia. Namun karena dosa Adam dan Hawa maka manusia diusir dari taman Firdaus. Dosa menyebabkan manusia kehilangan martabat sejatinya sebagai gambaran diri Allah. Dosa pula membuat manusia juga terkucil dari dirinya dan sesamanya. Manusia saling menyalahkan dan menghakimi sesamanya seperti Adam menyalahkan Hawa dan Hawa menyalahkan ular. Yesus datang ke dunia untuk memulihkan martabat manusia yang rusak akibat dosa. Dia mengangkat manusia menjadi anak Allah dan Allah menjadi Bapa manusia.

Namun banyak orang tidak menyadari anugerah terbesar itu. Mereka tidak berterima kasih bahkan sebaliknya masih mudah sekali mengeluh pada Allah yang dianggap kurang berbelas kasih. Seharusnya kesadaran pemulihan martabat ini menjadi dasar ucapan syukur yang tiada habisnya. Ucapan syukur bukan hanya dengan kata melainkan juga dengan tindakan. Maka hendaknya kita melihat tindakan kita apakah sudah merupakan perwujudan rasa syukur? Kita pun dapat bertanya pada diri sendiri bila Allah sudah memulihkan martabat kita mengapa kita tidak memulihkan martabat sesama dan tidak memandang rendah sesama? Apakah aku sudah mensyukuri semua yang ada dalam hidupku? Apakah yang sudah kulakukan sebagai buah syukurku?

Ibu Teresa adalah orang yang berusaha memulihkan martabat manusia. Dia merawat orang-orang yang sudah dibuang oleh keluarga dan masyarakatnya. Orang yang sudah tidak dianggap manusia sehingga dibiarkan mati di tempat-tempat sampah dan selokan. Suatu hari Ibu Teresa bersama para suster menemukan seorang perempuan yang sudah sekarat di tepi jalan. Ibu Teresa memutuskan untuk merawat sendiri perempuan itu. Saat dirawat perempuan itu tersadar lalu mengucapkan “Terima kasih.” Setelah itu dia meninggal. Dalam permenungannya, Ibu Teresa berkata, “Seandainya aku menjadi dia apa yang akan kuperbuat? Aku jawab sendiri, “Pasti akan berbuat sebisanya untuk menarik perhatian orang lain. Pasti aku akan merengek, “Aku aya lapar. Aku kedinginan.” Atau “Aku sekarat.” Sebaliknya perempuan itu sungguh luar biasa. Dia mengucapkan “Terima kasih.” Orang miskin sungguh menganggumkan.

Dalam kesederhanaan dan kemiskinan banyak orang yang mudah sekali mengucapkan syukur. Mereka mengucapkan terima kasih atas hal-hal kecil yang diterima. Mereka tidak menuntut hal besar. Sebaliknya kita sering kali ingin mendapatkan anugerah Allah yang lebih banyak atau besar dari yang sudah dimiliki. Oleh karena itu Ibu Teresa senantiasa mengajarkan agar kita mau belajar dari orang miskin.

Minggu, 21 Desember 2008

BELAJAR DARI SALIB

“Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya..Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” (1Ptr 2:21.24)

Yesus mengurbankan diri secara total demi menyelamatkan manusia. Allah dapat menyelamatkan manusia melalui berbagai cara. Para nabi datang membawa ajaran dan seruan pertobatan agar manusia kembali pada Allah dan mentaati perintahNya. Allah pun pernah memusnahkan manusia melalui air bah pada jaman Nuh, sehingga hanya menyisakan Nuh dan keluarganya yang dianggap sebagai orang baik. Allah juga pernah menurunkan hujan api di Sodom dan Gomora pada jaman Abraham, sebab Abraham tidak menemukan orang baik. Namun akhirnya Allah mengurbankan diri. Inilah puncak keselamatan.

Mengapa harus mengurbankan diri? Menurut penulis surat Petrus pengurbanan Yesus juga sebagai bentuk keteladanan bahwa bila orang ingin menyelamatkan sesamanya maka dia harus mengurbankan diri. Tidak ada keselamatan tanpa kurban. Demikian pula dengan kita saat ini. Bila kita ingin menyelamatkan sesama maka kita dituntut untuk berkurban baginya. Misalnya saja kita mengunjungi orang sakit, maka kita harus meluangkan waktu, tenaga, dana dan sebagainya. Inilah kurban bagi kita bagi sesama. Semakin besar keselamatan yang ingin kita berikan pada sesama semakin besar kurban yang harus kita lakukan.

Dalam kata sambutannya saat menerima penghargaan Discovery Award pada 13 Juni 1981 Ibu Teresa mengatakan, “Bila kita memandang salib, kita menyadari betapa besar kasih Yesus terhadap kita. Bila kita memandang tabernakel, kita menyadari betapa besar cintaNya kepada kita saat ini. Itulah sebabnya mengapa penting sekali bagi kita untuk belajar berdoa, jika kita memang ingin mencintai dan dicintai.” Ibu Teresa menganjurkan kepada para suster dan kita untuk beradorasi dan meditasi di depan tabernakel. Dalam adorasi kita diajak untuk merenungkan kasih Yesus kepada kita sehingga mengurbankan diri dan menjadi hosti yang kecil dan sederhana demi keselamatan manusia. Dalam adorasi kita dapat merasakan cinta Yesus yang mendorong kita untuk semakin mencintai sesama.

Dunia saat ini penuh dengan penderitaan. Setiap hari kita melihat ada banyak penderitaan di sekitar kita. Hal ini disebabkan semakin banyak orang yang enggan untuk berkurban bagi sesama sebaliknya semakin banyak orang yang tega menindas dan memperlakukan sesamanya dengan sewenang-wenang. Saat ini sulit dicari orang Samaria yang baik hati. Orang yang berani meninggalkan kepentingannya demi keselamatan orang lain. Orang jaman ini cenderung egois dan individualis, sehingga dia hanya berpikir demi kepentingannya dan tidak peduli pada sesama. Orang rela melakukan apa saja demi kepentingannya dan kenikmatannya. Orang tetap berpesta meski ada ribuan bahkan jutaan orang yang tidak dapat makan. Mereka tidak peduli akan keadaan sesamanya, sebab bagi mereka itu bukan urusannya.

Agar dapat melakukan kurban kita dituntut untuk memiliki hati yang penuh belas kasih kepada sesama dan keberanian untuk meninggalkan diri atau pengosongan diri. Hati yang dipenuhi oleh belas kasih mendorong kita berani untuk mengabaikan aneka kepentingan diri sendiri dan hanya memusatkan perhatian pada kepentingan sesama. Hal ini tidak mudah, sebab kita ingin hidup kita bahagia dan nyaman. Kurban adalah pemberian yang pasti akan mengurangi apa yang kita miliki. Mengunjungi orang sakit dapat mengurangi waktu kita untuk urusan pribadi. Memang banyak orang melakukan pelayanan namun dalam melakukannya masih sering mendasarkan tindakan diri pada untung rugi dan kepentingan sendiri. Mereka melakukan pelayanan hanya demi sebuah prestise dan kebanggaan diri sendiri. Akibatnya sering terjadi pertengkaran dengan teman sepelayanan, kecewa sebab yang dilayani tidak hidup sesuai dengan yang diharapkan dan sebagainya. Akibatanya banyak karya pelayanan yang berhenti atau bubar.

Bila kita ingin berkurban maka kita harus berani melupakan kepentingan diri sendiri. Kekuatan kita untuk memiliki semangat kurban seperti ini adalah bila kita mau setiap saat merenungkan kurban salib. Kita menyadari bahwa Yesus sudah mengurbankan diri terlebih dahulu secara total. Bahwa Yesus sudah memberikan keteladanan bagaimana seharusnya menyelamatkan manusia. Semakin sering kita meditasi atau adorasi di depan tabernakel dan salib semakin kuat belas kasih dan semangat berkurban. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk sesering mungkin hening di depan tabernakel untuk merasakan kasih Tuhan kepada kita, sehingga dapat memberikan kekuatan kepada kita untuk berani berkurban.

MARIA BUNDA PENOLONG

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm 11:36)

Umat Kristen di Roma semula dibangun oleh orang Yahudi, tapi karena mereka diusir dari Roma, maka tinggallah umat Kristen bukan Yahudi yang masih bertahan di Roma. Mereka adalah kelompok minoritas dan banyak mendapatkan tekanan. Maka St. Paulus berusaha meneguhkan mereka agar tetap setia dan meletakkan Yesus sebagai pusat hidupnya. St. Paulus mengingatkan bahwa apa saja yang mereka terima semua berasal dari kemurahan hati Yesus, maka semua harus dikembalikan pada Yesus.

Sebetulnya apa yang ditulis oleh St. Paulus juga ditujukan kepada kita. Hidup kita adalah anugerah dari Allah. Apa yang kita miliki saat ini semua berasal dari Allah. Memang kita pun berusaha untuk mencapai apa yang ada saat ini. Kita pun berjuang untuk dapat mempertahankan kehidupan. Namun semua itu akan sia-sia bila Allah tidak berkenan. Kesadaran akan segala sesuatu yang kita alami berasal dari Allah, maka kita pun hendaknya mengembalikan kepada Allah bila Allah memintanya kembali. Kita dianugerahi Allah tenaga yang cukup, maka kita harus memberikan tenaga kita bila Allah membutuhkannya. Kita pun telah menerima Yesus dalam hidup kita. Dia tidak ada diluar diri, melainkan Dia ada dalam diri kita. Bila kita menerima hosti maka kita bersatu secara penuh dengan Yesus secara nyata. Dia hidup dalam diri kita dan menggerakkan kita.

Ketika akan menerima hadiah Magsaysay, sebuah hadiah tertinggi yang diberikan oleh pemerintah Philipina kepada orang yang dianggap hebat, Ibu Teresa selama di Manila tinggal di rumah suster Puteri Kasih. Dia menulis surat kepada Rm. Neuner “For me please pray, Would that I could tell but that too is empty and it seems to me I have nothing to tell you, I wonder what He gets from all this when there is nothing in me. I had to go to Manila for the Magsaysay award. It was one big sacrifice. Why does He give all these but Himself. I want Him, not His gifts or creatures. I must not write like this for it takes from the joy of letting God be free with me. I am not only willing but also happy to be at His disposal. Let Him taka all, even Himself if this increases His pleasure, in return I ask to make my Sisters holy.” Dari tulisan ini kita dapat melihat betapa rendah hatinya Ibu Teresa. Baginya sudah merasa cukup akan hadiah yang diberikan oleh Yesus pada manusia yaitu diriNya. Ibu Teresa hanya mengingkan Yesus bukan yang lain.

Bila kita telah hidup dalam Yesus dan menyadari akan karya Yesus dalam hidup kita, maka kita tidak lagi digelisahkan oleh aneka penghargaan yang diberikan oleh manusia. Dalam melakukan segala sesuatu kita tidak peduli lagi apakah yang kita lakukan dihargai oleh manusia atau tidak, sebab kita melakukan demi Yesus. Hanya Yesus yang menjadi pusat segala aktifitas kita. Tapi hal ini tidak mudah. Kita masih sering melakukan sesuatu agar dihargai oleh sesama. Salah satu ciri jaman ini adalah persaingan prestasi. Maka pelayanan pun dapat dijadikan sebagai sarana untuk bersaing dengan sesamanya dan mencari prestasi. Akibatnya tidak jarang dalam pelayanan kita dapat menemukan orang yang bertengkar, tersinggung, marah pada sesama dan akhirnya meninggalkan pelayanan itu. Banyak orang menjadi kecewa sebab apa yang dilakukan tidak dihargai oleh sesamanya.

Pelayanan bukanlah sarana mencari kepuasan diri atau penghargaan diri. Pelayanan adalah pemberian diri kepada Yesus yang telah menyelamatkan. Pusat perhatian kita adalah Yesus yang membutuhkan kita. Pelayanan adalah saat kita membalas cinta kasih Yesus yang telah mengurbankan diri. Untuk itu sebelum melayani hendaknya kita merefleksi diri. Melihat karya Allah dalam diri. Semakin kita menyadari akan kasih Allah yang telah kita terima maka semakin besar pula semangat kita untuk melayani. Pelayanan adalah membagi kasih pada sesama yang membutuhkan. Agar kita mampu berbagi kasih, maka kita harus mengalami kasih terlebih dahulu. Kasih yang terbesar adalah kasih Allah yang tidak berkesudahan.

Kasihlah yang menggerakkan kita untuk melayani, sebab tanpa kasih pelayanan kita hanya menjadi aksi sosial, dimana kita menolong orang miskin hanya karena tuntutan moral bukan perwujudan kasih pada sesama. Oleh karena pelayanan adalah perwujudan kasih kepada Allah, maka kita tidak akan gentar bila dikritik oleh sesama bahkan dijauhi oleh sesama karena melakukan pelayanan. Pusat perhatian kita adalah Allah bukan manusia. Memang kita membutuhkan pujian. Kita senang bila apa yang kita lakukan dikagumi orang. tapi pujian bukan menjadi pusat perhatian, sebab kita sudah dipuaskan oleh pujian yang nantinya akan kita terima bila Yesus datang untuk kedua kali.

MARIA BUNDA PENOLONG

“Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.” (Kis 1:14)

Maria sangat berperan dalam karya keselamatan. Dengan berani dia menerima tawaran malaikat untuk mengandung Yesus meski dia masih dalam status tunangan Yusuf meski sebagai orang Yahudi dia tahu bahwa perempuan yang mengandung diluar nikah akan dirajam sampai mati. Maria mendampingi Yesus sampai dibawah kaki salib dan akhirnya Maria tetap mendampingi para murid pada Gereja perdana. Maka tidak heranlah bila Gereja Katolik menempatkan Maria pada tempat yang tinggi. Sampai saat ini masih banyak mujijat yang diperoleh oleh orang yang berdoa kepada Maria. Tidak terhitung penampakan Maria untuk meneguhkan manusia ketika dunia sedang dalam penderitaan. Maria senantiasa menolong manusia.

Ibu Teresa juga sangat percaya akan pertolongan Maria pada saat sulit. Dia menceritakan pengalamannya ketika menghadiri misa yang dipimpin oleh Paus Yohanes Paulus II di halaman St. Petrus pada tahun 1984. Saat itu banyak orang yang hadir termasuk sekelompok suster-suster MC, tiba-tiba turun hujan. Ibu Teresa mengatakan pada para suster “Mari kita berdoa novena memorare pada Bunda Maria agar hujan berhenti.” Ketika para suster sedang berdoa memorare untuk kedua kalinya hujan turun dengan lebatnya. Maka kami berdoa mengulang tiga kali, empat kali, lima, enam, tujuh dan delapan kali dan payung-payung mulai ditutup. Ketika kami menyelesaikan doa yang kesembilan ternyata hanya payung kami yang masih terbuka. Kami berdoa sedemikian tekun sehingga tidak memperhatikan cuaca. Ternyata hujan sudah berhenti. Demikian pula ketika Ibu Teresa akan membangun rumah induk MC maka dia berjanji pada perawan Maria untuk berdoa 85.000 kali memorare. Dia juga mengajarkan kepada banyak orang untuk berdoa memorare kepada perawan Maria.

Maria adalah sosok orang yang sangat peduli. Ketika dia mendengar bahwa Elisabet yang sudah tua sedang mengandung maka dia bergegas ke rumah Elisabet yang cukup jauh. Selama beberapa bulan dia tinggal di rumah Elisabet untuk membantunya, padahal saat itu dia juga sedang mengandung Yesus. Ketika dia hadir di pesta perkawinan di Kana dan ternyata mereka kehabisan anggur, maka Maria berusaha meminta pada Yesus untuk melakukan sesuatu agar penyelenggara pesta tidak malu. Yesus menegurnya bahwa waktuNya belum tiba, namun Maria tetap percaya bahwa Yesus akan menolong maka dia mengatakan kepada para pegawai agar mereka menjalankan apa yang diperintahkan oleh Yesus dan terjadilah mujijat. Dalam kisah ini tampak bahwa Maria sangat percaya pada Yesus.

Kepedulian Maria akan penderitaan manusia membuat banyak orang yang berdoa memohon sesuatu dengan perantaraannya. Ribuan orang memberi kesaksian telah mengalami mujijat karena berdoa dengan perantaraan Maria. Sebetulnya kesucian Maria bukan karena dia peduli pada penderitaan manusia, melainkan karena imannya kepada Yesus. Dia sering tidak memahami akan tindakan Yesus atau apa yang dikatakan mengenai Yesus, namun semua itu disimpannya dalam hati dan direnungkannya. Maria adalah seorang kontemplatif yang berusaha merenungkan setiap peristiwa dalam hidupnya.

Dalam pelayanan dan hidup tidak jarang kita memasuki saat-saat gelap dimana kita tidak memahami akan peristiwa hidup. Tidak jarang kita mengalami kekecawaan dan putus asa. Pada saat inilah hendaknya kita menyerahkan diri pada Maria. Kita memohon bantuannya untuk mengatasi masalah yang sedang kita hadapi. Kepercayaan bahwa Maria akan senantiasa menolong membuat kita senantiasa mempunyai harapan dan keberanian untuk terus melangkah meski tampaknya sangat sulit. Namun sebenarnya yang dapat menolong bukanlah Maria melainkan Yesus. Maria adalah pengantara antara kita dengan Yesus. Bila kita berdoa pada Maria, maka Maria akan berdoa bersama kita untuk membawa permohonan kita pada Yesus. Dengan demikian Yesuslah pusat iman kita bukan Maria.

Beberapa orang kecewa sebab permohonannya tidak dikabulkan oleh Tuhan meski sudah berdoa bersama Maria. Terkabulnya doa bukan karena kita berdoa pada Maria, namun karena iman kita pada Yesus. Dalam perkawinan di Kana Maria memohon pada Yesus dan memerintahkan pelayan pesta untuk mentaati perkataan Yesus. Inilah perintah Maria kepada kita. Bukan hanya memohon melainkan juga taat pada sabda Yesus. Dalam hal inilah kita sering lemah. Kita sudah sering membaca kitab suci yang berisi firman Allah tapi seberapa jauh kita sudah mentaati perintahNya? Melaksanakan yang dikehendakiNya?

MEMIKUL SALIB

“Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus.” (Luk 23:26)
Setelah mengalami siksaan semalam suntuk Yesus harus memanggul salib menuju bukit Golgota. Para prajurit takut Yesus akan meninggal sebelum penyaliban, maka mereka memaksa Simon orang Kirene untuk menggantikan Yesus memanggul salib. Kirene adalah sebuah daerah dekat sungai Nil dan termasuk daerah Libya saat ini, dengan demikian Simon bukanlah orang Yahudi. Kisah Simon yang menggantikan Yesus hanya ada dalam Injil Lukas yang juga penulis Kisah Para Rasul. Dalam Kisah Para Rasul ditulis bahwa ada orang Kirene semula tidak percaya pada Yesus. Mereka termasuk yang menghasut orang untuk membunuh Stefanus (Kis 6:9-11) namun akhirnya mereka juga ikut menyebarkan Injil (Kis 11:20). Simon dari Kirene dikatakan berjalan mengikuti Yesus. Ini adalah gambaran kemuridan. Maka mungkin tampilnya sosok Simon orang Kirene adalah untuk menggambarkan bahwa menjadi murid Yesus tidak selalu merupakan sebuah pilihan bebas melainkan terkadang dengan paksaan.

Menjadi murid Yesus bukan untuk menikmati keselamatan namun terlibat dalam karya keselamatan seperti Simon dari Kirene. Membantu Yesus untuk memikul salibNya. Dalam dunia saat ini masih banyak penderitaan. Mereka membutuhkan penyelamat. Kita sebagai pengikut Kristus tidak mungkin diam dan hanya melihat saja. Kita dituntut untuk terlibat, sebab kita adalah penerus karya keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Dia mewarisi kepada kita kaum miskin yang membutuhkan keselamatan.

Dalam sambutannya kepada kaum muda di Philadelphia 5 Agustus 1970, Ibu Teresa mengatakan, “Simon dari Kirene mulai mengikuti Yesus ketika dia membantuNya memikul salibNya. Itulah yang kalian, muda mudi, telah lakukan sepanjang tahun ini sebagai lambang kasihmu: ribuan hal yang telah kamu tawarkan kepada Yesus dalam diri yang miskin. Kalian telah menjadi orang Kirene sejati setiap kali kalian melakukan perbuatan seperti itu….Apakah kita siap menghilangkan duka mereka? Apakah kita siap menanggung penderitaan mereka?Apakah kita siap?Atau apakah kita seperti orang sombong yang lewat, yang melanjutkan perjalanannya setelah melihat yang kekurangan?Yesus kembali jatuh. Berapa kalikah kita membangunkan manusia di jalanan yang telah hidup seperti hewan dan ingin mati seperti malaikat? Apakah kita siap membantu mereka bangun?....Dia adalah Yesus dan Dia membutuhkan tangan kalian untuk menyeka wajahNya. Apakah kalian siap melakukannya?Apakah kalian akan pergi begitu saja?”

Ibu Teresa menekankan bahwa kita harus seperti Simon orang Kirene yang menolong Yesus dalam diri orang miskin. Yesus memang berada dalam diri orang miskin, sehingga barang siapa menolong orang yang menderita dia telah melakukan untuk Yesus. Tapi Yesus juga ada dalam diri kita untuk melakukan karya keselamatan. Dengan demikian bila kita melihat ada orang miskin, maka kita diingatkan akan tugas perutusan kita sebagai penerus karya keselamatan dan disisi lain kita diteguhkan bahwa yang kita tolong adalah Yesus sendiri yang sedang membutuhkan pertolongan.

Yesus memanggil kita untuk diutus mewartakan Injil, tapi kita sering kurang sadar atau mengabaikannya. Kita lebih suka mengikuti Yesus untuk memperoleh keselamatan tanpa perjuangan. Kita puas dengan mengikuti sakramen atau berdoa. Padahal mengikuti Yesus adalah berjalan memikul salib seperti Simon dari Kirene. Sering kita enggan melakukan karya kasih sebab kita sibuk dengan diri kita sendiri atau kita merasa bahwa kita masih membutuhkan pertolongan, sehingga memusatkan perhatian pada diri sendiri. Untuk itu perlulah kita melepaskan kesulitan diri dan mulai membuka mata terhadap penderitaan sesama.

Dalam masa Prapaskah biasanya diadakan ibadat jalan salib. Kita diajak oleh Gereja untuk merenungkan kisah sengsara Yesus yang rela menderita demi keselamatan kita. Bila Yesus sudah menyerahkan nyawaNya untuk kita maka apa balasan kita padaNya? Yesus tidak mengenal kita tapi rela mengurbankan diri bagi kita. Inilah yang oleh Ibu Teresa dimaksukan sebagai hutang yang tidak mungkin terbayarkan. Maka sebagai silih atas hutang itu, kita diajak untuk berani menderita bagi sesama yang membutuhkan. Namun di dunia banyak sekali orang yang menderita dan mungkin kita adalah salah satunya. Akibat kita sering melihat penderitaan maka hati kita dapat menjadi tumpul atau tidak peka pada penderitaan kecuali bila penderitaan itu sangat besar misalnya bencana alam yang merenggut banyak kurban. Maka sangat penting bagi kita untuk merefleksikan secara sungguh bila mengikuti ibadat jalan salib.

DASAR TINDAKAN ADALAH KASIH

“Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.” (1Kor 13:3)

St. Paulus menekankan bahwa dari aneka keutamaan yang paling besar adalah kasih. Segala perbuatan besar akan sia-sia bila tidak didasarkan atas kasih. St. Paulus menjabarkan apa yang diajarkan oleh Yesus sebagai hukum yang utama dan utama yaitu kasih kepada Allah dan manusia. Keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Kasihlah yang menentukan orang dapat diselamatkan atau tidak. Bila orang mampu melakukan tindakan kasih sekecil apa pun maka dia akan diselamatkan (bdk Mat 25:31-46).

Dalam pidato di Washington DC pada tahun 1974 Ibu Teresa mengatakan, “Demikian juga bagi kita: tidaklah penting apa yang kita kerjakan atau dimana kita berada, selama kita ingat bahwa kita adalah kepunyaanNya, bahwa Yesus dapat berbuat apa saja sesukaNya kepada kita, bahwa kita berhutang kasih padaNya, dan bahwa kita mengasihiNya. Entah kita bekerja bagi orang kaya atau atas nama orang miskin, entah kita bekerja diantara orang-orang kalangan atas atau para pemukim lingkungan kumuh, yang penting hanyalah kasih yang kita tanamkan dalam melaksanakan pekerjaan kita.” Dari kutipan di atas kita dapat melihat bahwa bagi Ibu Teresa yang penting dalam melakukan segala sesuatu adalah kasih bukan dimana kita melakukan atau kepada siapa kita melakukan pelayanan.

Kasih itu harus muncul dari kesadaran akan kasih Allah yang telah menyelamatkan kita. Bagi Ibu Teresa kita telah berhutang kasih pada Yesus yang telah menebus kita melalui kurban salib. Hutang kasih ini tidak akan pernah mampu kita bayar seluruhnya, sebab kita tidak mungkin mampu mengurbankan diri kita demi Yesus, seperti kita tidak mungkin membayar air susu ibu yang telah kita terima waktu bayi atau membayar kasih ibu yang telah mengandung kita, sebab kita tidak mungkin akan mengandung ibu. Kasih Yesus yang telah kita terima hanya dapat kita syukuri dan kita limpahkan pada semua orang yang membutuhkan.

Bila kita memiliki kasih maka kasih itu akan mengalir dari diri kita dimana saja dan kapan saja. Banyak orang berusaha membela kaum miskin dan tertindas dengan melakukan perlawanan terhadap kaum kaya dan penguasa. Sebetulnya tindakan ini bukan tindakan kasih atau yang berdasarkan kasih. Bila dia melakukan dengan tindakan kasih maka dia tidak akan melakukan perlawanan terhadap orang yang kaya atau berkuasa, sebab mereka pun membutuhkan kasih. Semua orang butuh dikasihi tanpa memandang status sosial, kepemilikan dan sebagainya. Melayani kaum miskin bukan untuk melawan kaum kaya, melainkan membantu kaum miskin sadar akan harkat dan martabatnya sebagai ciptaan Allah. Melayani kaum miskin adalah untuk memulihkan kembali mereka yang telah kehilangan martabatnya sebagai manusia.

Ibu Teresa mengingatkan bahwa kemiskinan bukan hanya disebabkan miskin materi melainkan yang jauh lebih parah adalah kemiskinan akibat kekurangan kasih. Miskin kasih dapat menimpa siapa saja. Maka kita pun tidak boleh menghindari kaum kaya, sebab mereka pun dapat menjadi kaum miskin. Namun mereka bukan prioritas utama sebab kita diutus untuk mengasihi orang yang miskin dari yang termiskin.

Memang kita sering tergoda untuk merasa bangga bila melakukan pelayanan yang bagi kaum miskin yang sangat berat. Kita bangga mampu berteman dengan gelandangan. Kita ingin membuat karya besar bagi kaum miskin. Tapi bila kita memahami apa yang dikatakan oleh St. Paulus maka semua adalah sia-sia, sebab bukan karya besar dan kehebatan yang dinilai oleh Allah melainkan apakah dalam melakukan itu didasarkan pada kasih pada kaum miskin atau hanya memuaskan rasa diri kita sendiri. Ibu Teresa mengatakan bahwa bukan besarnya karya yang dihargai oleh Allah melainkan besarnya kasih yang ada dalam karya itu. Maka tersenyum pada sesama dengan penuh kasih itu sudah merupakan karya besar dibandingkan membuat proyek besar namun akhirnya hanya menimbulkan kemarahan dan pertengkaran diantara kita. Atau melakukan sebuah karya besar demi mencari kepuasan dan kebanggaan diri. Tindakan kasih bukan sesuatu yang dibuat-buat atau direncanakan melainkan mengalir begitu saja dari dalam diri kita sebab kita senantiasa menyadari akan kasih Allah kepada kita.

HIDUP DAMAI

“Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” (Rm 14:19).
Dalam Gereja perdana beberapa kali terjadi gejolak yang menyebabkan perpecahan. Padahal Gereja adalah gambaran Kerajaan Allah di dunia yang mewartakan damai dan hidup penuh kasih. Maka beberapa kali Yesus menegur dan mengingatkan para murid agar mau hidup berdamai. Pada jaman Gereja awali, Paulus juga mengingatkan agar umat mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera.

Dunia mendambakan damai namun hampir setiap hari kita disuguhi berita kekerasan yang menyebabkan perpecahan dalam masyarakat dan menghilangkan damai. Penulis sejarah Romawi pada jaman dahulu kala yang bernama Publius Flavius menulis semboyan bagi para prajurit Romawi, si vis pacem para bellum, untuk menciptakan damai kita harus berperang. Semboyan ini memang sudah tidak didengungkan lagi pada jaman ini, tapi ternyata masih diikuti oleh banyak orang. Masih banyak orang yang tidak suka hidup berdamai. Dalam tubuh Gereja pun masih sering terjadi pertengkaran, bahkan dalam komunitas-komunitas yang ada dalam tubuh Gereja tidak jarang berantakan akibat pertengkaran.

Ibu Teresa menulis, “Kita harus membawa kasih dan suka cita ke dunia jaman sekarang. Kita tidak butuh meriam atau bom untuk membawa damai. Kita hanya butuh kasih dan kemurahan hati. Dan kita juga butuh kesatuan yang mendalam dengan Allah serta doa. Doa yang disertai pengorbanan diri dan pengorbanan yang disertai dengan adorasi.” Ibu Teresa menghedaki semua pengikutnya mampu menciptakan damai dengan memberikan kasih dan suka cita bukan seperti yang diserukan oleh Publius Flavius.

Dengan demikian agar kita mampu hidup berdamai maka syaratnya adalah bahwa kita mempunyai kasih yang bersumber dari kedekatan hubungan kita dengan Allah melalui doa dan meditasi. Semakin kita banyak berdoa dan bermeditasi, maka hati kita akan dipenuhi oleh kasih Allah yang akan memancar di sekeliling kita. Hati kita akan penuh dengan damai sehingga dapat menawarkan damai kepada orang yang ada disekitar kita.

Di negara kita sangat mudah untuk menemukan rumah ibadah. Banyaknya rumah ibadah menunjukkan ada banyak orang yang berdoa dan percaya pada Allah. Namun mengapa di negara kita masih sering terjadi kekerasan? Hal ini disebabkan masih banyak orang yang melepaskan antara kehidupan doa dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang mempunyai jam-jam doa yang ketat dan berdoa dengan tekun, namun mereka kurang mampu membangun hidup damai dengan sesamanya. Hal ini disebabkan adanya keterpisahan antara kehidupan doa dengan kehidupan sehari-hari. Mereka tidak mampu menjadikan kehidupan doanya sebagai dasar dari kehidupannya sehari-hari.

Dalam berdoa kita merenungkan karya Allah dalam hidup kita. Kita mensyukuri atas segala karunia yang dianugerahkan Allah sepanjang hidup. Namun hidup kita tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Ada banyak kepahitan yang kita alami dan menimbulkan luka yang mendalam. Kebencian, dendam, penyesalan dan aneka kepahitan hidup bercampur aduk dalam lubuk hati yang terdalam. Kita ingin menyingkirkan semua itu, namun tidak mampu sebab semua itu menyatu dalam hidup kita. Kita marah dan jengkel akan semua luka dan kepahitan hidup. Kemarahan dan kejengkelan dalam diri kita ungkapkan pada sesama. Akibatnya kita tidak mampu menciptakan damai. Oleh karena itu agar mampu menciptakan damai, kita harus terlebih dahulu berdamai dengan diri sendiri. Kita serahkan seluruh kepahitan hidup pada Allah dalam doa-doa kita. Kita mensyukuri akan semua pengalaman hidup sebagai bagian dari rencana Allah untuk membentuk kita seperti saat ini. Dalam hening kita melihat kasih Allah yang senantiasa menyertai kita sampai saat ini. Kasih Allah yang terbesar adalah mengangkat kita sebagai anaknya melalui kurban salib. Menghapus segala dosa kita dan menyertai kita sampai akhir jaman. Kesadaran akan kasih Allah yang tidak berkesudahan membuat kita mampu menutup segala luka dan kepahitan hidup, sehingga kita akan mampu berdamai dengan diri. Bila kita mampu berdamai dengan diri, maka kita akan mampu berdamai dengan sesama.

PERSEMBAHAN

“Ketika orang Majus melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” (Luk 2:10-11)

Orang Majus adalah para ahli astronomi yang percaya bahwa seorang raja besar akan lahir setelah mereka melihat bintang besar di langit. Mereka berjalan jauh dari tempat asalnya untuk mencari Sang Raja yang baru lahir. Akhirnya mereka sampai di Betlehem dan menemukan Yesus. Mereka lalu mempersembahkan apa yang mereka bawa kepada Yesus. Persembahan para majus adalah sebagian kecil persembahan yang mereka bawa. Persembahan mereka yang terbesar adalah keberanian mereka untuk meninggalkan segalanya agar dapat bertemu dengan Yesus.

Persembahan adalah sesuatu yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain yang dihormatinya tanpa keinginan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Mereka memberi dengan suka cita demi kebahagiaan orang yang dihormatinya. St. Paulus mengingatkan bahwa persembahan yang terbesar adalah tubuh kita, seperti Yesus yang sudah mempersembahkan diriNya sebagai kurban untuk keselamatan manusia. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Rm 12:1)

Ibu Teresa menulis “Penyangkalan total artinya memberikan diri sepenuhnya kepada Allah karena Allah telah memberikan diriNya kepada kita. Jika Allah yang tidak berhutang apapun kepada kita, bersedia memberikan diriNya kepada kita, pantaskah kita menanggapinya hanya dengan memberiNya sebagian dari diri kita?... Kami memberikan diri kami kepadaNya dan Allah menjadi milik kami, dan sekarang kami tidak mempunyai apa-apa selain Allah. Hadiah yang diberikan Allah kepada kami sebagai imbalan atas penyangkalan diri sendiri adalah diriNya sendiri.”

Bagi Ibu Teresa pelayanan adalah suatu pemberian diri kepada Allah yang ada dalam diri kaum miskin. Pemberian diri adalah menyerahkan seluruh hidup, pikiran, tenaga dan hati kita kepada kaum miskin demi kebahagiaan mereka. Kita menyerahkan tanpa menuntut balas dan dengan suka cita. Untuk itu dibutuhkan semangat penyangkalan diri seperti Yesus yang meskipun Allah namun rela melayani manusia yang rendah dan penuh dosa.

Namun hal ini tidak mudah. Kita sering ingin memiliki diri kita bagi diri sendiri. Kita ingin mempertahankan siapa diri kita adanya. Bila kita seorang pejabat yang biasanya dilayani sangat sulit untuk memberikan diri sebagai pelayan, sebab kita punya kecenderungan ingin menunjukkan siapa diri kita. Maka kita perlu keluar dari diri kita dengan melepaskan segala status, kekayaan, jabatan dan sebagainya dan menjadi hamba dari kaum miskin. Seperti orang majus yang meninggalkan negeri dan seluruh kehidupannya untuk bertemu Yesus.

Penyangkalan diri bukan hanya melepaskan apa yang melekat dalam diri kita melainkan juga membiarkan Allah yang berkarya dalam diri, sehingga bila kita melakukan sesuatu bukan lagi kita yang berbuat melainkan kehendak Allah sendiri. Dengan demikian kita tidak akan kagum dan bangga dengan apa yang telah kita lakukan, sebab Allahlah yang telah melakukan dalam diri kita. Kita pun tidak akan kecewa bila apa yang kita lakukan tidak membuahkan hasil, sebab kita hanya sebagai saluran karya Allah dalam hidup. Kita mampu menyerahkan seluruh karya kita pada Allah. Maka tidak heran bila St. Paulus mengatakan bahwa itulah ibadah sejati. Dalam beribadah bukan hanya kita menyembah Allah melainkan kita juga dikuasai oleh Allah.

Semangat penyangkalan diri hanya dapat dimiliki oleh orang yang rendah hati yaitu sikap yang menyadari bahwa kita tidak memiliki apa-apa selain Allah yang ada dalam hati kita. Kesadaran bahwa kita tidak mampu melakukan apa-apa selain tindakan dimana Allah berkenan. Bila kita mampu mempunyai sikap rendah hati dan penyangkalan diri, maka kita tidak takut untuk melakukan segala sesuatu dan tidak mudah kecewa atau bangga akan segala sesuatu.

Powered By Blogger