Jumat, 12 November 2010

YESUS, YOHANES DAN MURID PERTAMA: MARI LIHATLAH


Ketika dua murid Yohanes bertanya dimanakah Yesus tinggal, Dia tidak menjelaskan tempat dimana Dia tinggal tapi mengajak mereka. "Marilah dan kamu akan melihatnya." (Yoh 1:39). Jawaban ini menunjukkan bahwa Yesus ingin murid Yohanes mengalami hidup bersamaNya. Dengan tinggal bersama Dia maka mereka diharapkan dapat mengenalNya secara pribadi. Mereka diajak menyatu denganNya sehingga mereka dapat memahami sendiri arti Anak Domba Allah seperti yang dikatakan oleh gurunya. Pemahaman yang berasal dari pengalaman berbeda jauh dengan pemahaman yang berasal dari penjelasan seseorang atau teori-teori. Pemahaman dari pengalaman akan tertanam kuat dalam hati seseorang, sebab mereka melibatkan seluruh diri. Mereka berproses sampai akhirnya mampu menyimpulkan apa yang mereka alami.

Anthony de Mello dalam bukunya berjudul Burung Berkicau mengisahkan ada seorang petualang yang mendaki sebuah gunung tinggi. Disana dia menemukan danau yang sangat indah sekali. Lalu dia menceritakan pada penduduk kota. Kagum akan cerita itu maka penduduk kota membuat lukisan danau dan membuat rutenya. Mereka lalu memasang lukisan itu di rumahnya dan menceritakan keindahan danau itu kepada setiap orang. Seolah-olah dengan memasang gambar dan mampu menceritakan kembali betapa sulitnya jalan yang ditempuh untuk mencapai ke danau itu serta betapa mengagumkan keindahannya, maka mereka merasa sudah mengetahui tentang danau itu. Mereka puas dengan mendengar pengalaman orang tanpa berusaha mencari.

Kisah ini adalah gambaran tentang iman kita. Banyak dari kita mengenal Yesus dari pengajaran para katekis, biarawan, biarawati, guru-guru agama atau orang yang sudah berusaha mencari Allah. Mendengar cerita mereka dan mengaggumi apa yang mereka ceritakan membuat orang merasa sudah menemukan Allah bagi hidupnya. Kita memang dapat mendengarkan kisah atau sharing tentang pengetahuan akan Allah. Banyak buku yang membahas siapa Allah itu dan bagaimana cara menemukanNya. Tapi iman bukanlah pengetahuan. Iman adalah keputusan untuk menyerahkan seluruh hidup kepada Allah. Keputusan itu bersumber dari pengalaman yang didukung oleh kemampuan akal budi untuk semakin meneguhkan pilihan kita. Maka tidak cukup bila hanya pengetahuan. Kita perlu berproses untuk mencari siapa Allah bagi kita. Hal ini mengandaikan kita mau tinggal bersama Yesus sehingga mengenalNya.

Saat ini banyak orang yang berpindah-pindah agama. Suatu saat memeluk agama A lalu beberapa waktu kemudian pindah ke agama B lalu C dan sebagainya. Mereka berpindah-pindah agama disebabkan kecewa dengan agamanya atau melihat bahwa agama orang lain lebih baik daripada agamanya sendiri. Hal ini dapat terjadi sebab orang hanya mendengar siapa Yesus tapi tidak berproses untuk menemukan Yesus sendiri, Mereka mendengar dari seseorang bahwa Yesus adalah Allah lalu mereka tertarik dan mengikuti Yesus tapi ternyata setelah mengikutiNya dia melihat apa yang dikatakan orang itu tidak benar. Maka mereka kecewa lalu meninggalkan Yesus. Orang yang bercerita sudah berproses sampai akhirnya dia yakin bahwa Yesus adalah Mesias. Pengalaman orang itu adalah pengalamannya pribadi. Miliknya sendiri yang dapat berbeda dengan pengalaman orang lain.

Menemukan Yesus secara pribadi bukanlah hal yang mudah. Para rasulpun ditanya oleh Yesus siapakah Dia menurut mereka. Petrus sebagai wakil para rasul mengatakan bahwa Engkaulah Mesias. Yesus pun melarang agar Petrus tidak mengatakan hal itu kepada siapapun agar semua orang berani mencari sendiri, bukan hanya menerima warisan atau apa kata orang. Untuk itu kita perlu datang pada Yesus dan tinggal bersama Dia. Memahami Dia dan segala yang dilakukanNya. Menjalankan SabdaNya dan mencari karyaNya dalam hidup sehari-hari. Banyak orang sudah merasa mengenal Yesus dari cerita orang, sehingga dia merasa tidak perlu lagi mencari siapa Yesus bagi dirinya. Tapi sungguhkah kita sudah mengenal Yesus secara pribadi dan menjadikan Dia terlibat dan berperan dalam kehidupan kita sehari-hari?

Kamis, 11 November 2010

YESUS, YOHANES DAN MURID PERTAMA: DIMANAKAH ENGKAU TINGGAL

Pertanyaan Yesus kepada dua murid Yohanes apakah yang engkau cari dijawab dengan pertanyaan baru, “Rabi dimanakah Engkau tinggal?” Apa yang dikatakan oleh kedua murid itu tampaknya tidak wajar. Mereka ditanya tapi malah balik bertanya yang tidak terkait dengan pertanyaan pertama. Tapi dalam Injil Yohanes memang beberapa kali ada “kesalah fahaman” antara apa yang dikatakan Yesus dengan tanggapan dari orang yang mendengarnya. Mungkin dua murid ini bukan orang yang suka basa basi, tapi hendak menunjukkan apa yang mereka inginkan. Mereka mengikuti Yesus hendak tinggal bersama Yesus. Dengan hidup bersama maka Yesus akan memahami apa yang dicari oleh mereka dan mereka pun dapat memahami Yesus yang diikutinya.

Saat ini banyak sekali orang membangun gereja yang dianggap sebagai rumah Yesus. Dalam gereja Katolik diletakkan Yesus yang berupa hosti di tabernakel. Bahkan saat ini ada trend untuk membangun ruangan khusus untuk ruang doa dimana orang berdoa dan bermeditasi selama beberapa waktu dihadapan tabernakel atau biasanya disebut adorasi. Beberapa orang pun mengusulkan padaku agar membangun ruang khusus untuk adorasi. Tapi permintaan itu selalu kutolak sebab selain tidak ada tempat lagi untuk membangun sebuah ruangan khusus, juga bagiku sudah ada gereja mengapa harus ada ruangan khusus lagi untuk berdoa? Bukankah mereka dapat saja berdoa dan bermeditasi di dalam gereja? Tapi mereka menganggap bahwa gereja berbeda dengan ruang adorasi, sebab ruang adorasi tidak diberi bangku dan tertutup rapat agar tidak bising oleh suara yang ada diluar ruang, sehingga mereka dapat hening. Bagiku keheningan bukan berasal dari luar tapi dari dalam diri sendiri.

Kedua murid ingin tinggal bersama Yesus bukan hendak hening melainkan hendak mengenal Yesus secara lebih pribadi. Maka setelah tinggal bersama Yesus mereka pergi dan mengatakan kepada orang lain bahwa mereka menemukan Mesias. “Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." (Yoh 1:41) Perkataan Andreas inilah jawabab atas pertanyaan Yesus. Mereka mencari Mesias. Penemuan Mesias terjadi setelah mereka tinggal bersama Yesus. Maka adorasi adalah saat kita berusaha menemukan Yesus secara pribadi. Bukan sekedar duduk bersila dalam diam di ruang ber AC dan tanpa suara. Pemahaman Yesus secara pribadi mengubah seseorang dan membuat mereka menjadi pewarta seperti Andreas yang menjadi pewarta bagi Simon.

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam da.” (Yoh 6:56). Bagi orang Katolik Yesus tidak tinggal di luar diri tapi di dalam diri kita, Setiap kita merayakan ekaristi dan menerima tubuh Kristus maka Yesus tinggal dalam diri kita dan kita tinggal dalam diri Yesus. Maka sebetulnya kita tidak perlu susah membangun ruang untuk bisa tinggal bersama Yesus sebab Dia sudah tinggal dalam diri kita. Tapi sering kali hal ini tidak disadari sehingga kita berusaha mencari Yesus di luar diri kita. Hal yang dibutuhkan adalah hening agar dapat mendengarkan sabdaNya, sehingga kita semakin mengenal dan memahamiNya sebagai Mesias. Tapi banyak orang sangat kesulitan untuk hening. Hening bukan sekedar tidak berbicara atau tidak ada suara. Tapi hening adalah sikap batin yang siap mendengarkan. Hal yang sering terjadi dalam hening di hadapan Yesus kita sibuk dengan segala masalah hidup. Saat hening menjadi saat untuk mengungkapkan segala gejolak hati. Akibatnya dalam diri kita menjadi ribut oleh segala pemikiran yang simpang siur atau khayalan-khayalan yang meloncat-loncat. Dalam hening semua pikiran kita tertuju pada Yesus seperti seorang hamba yang menanti tuannya berbicara. Kita berusaha mendengarkan Sabda Yesus sehingga kita sungguh menyakini bahwa Dia adalah Mesias.

Minggu, 07 November 2010

YESUS, YOHANES DAN MURID PERTAMA: APAKAH YANG KAMU CARI?

Ketika dua murid Yohanes Pembaptis mengikuti Yesus, maka Yesus bertanya pada mereka, “Apakah yang kamu cari?” Bila dibaca sepintas maka pertanyaan ini dapat dianggap kurang tepat. Seharusnya Yesus bertanya “Mengapa kamu mengikuti Aku?”. Yesus tahu bahwa dua orang yang mengikutiNya adalah murid Yohanes yang sangat terkenal pada jaman itu. Sebagai murid seorang nabi maka mereka telah mendapat pengajaran dari Yohanes. Tapi kini mereka meninggalkan guru mereka dan mengikuti Yesus. Maka Yesus langsung bertanya langsung ke pokok persoalan apa yang hendak mereka cari lagi? Bukankah mereka sudah menjadi murid Yohanes lalu mengapa mereka meninggalkan gurunya dan mengikuti DiriNya?

Bila seorang murid meninggalkan gurunya lalu mengikuti guru yang lain, mungkin ada sesuatu yang tidak mereka temukan dalam gurunya tapi sesuatu itu ada pada guru yang baru. Atau dia tidak setuju dengan ajaran gurunya sehingga meninggalkannya lalu mencari guru lain yang dirasa memiliki atau mampu memberikan ajaran yang sesuai dengan harapannya. Padahal saat itu Yohanes sangat terkenal sedangkan Yesus masih belum menunjukkan siapa diriNya sesungguhnya. Yohanes Pembaptis pun tidak menyuruh kedua muridnya untuk mengikuti Yesus. Dia hanya menunjukkan Yesus sebagai Anak Domba Allah. Maka pertanyaan Yesus adalah sebuah pertanyaan yang langsung pada pokok masalahnya. Mereka murid orang terkenal lalu apa yang akan mereka cari dengan mengikuti Yesus?

“Apakah yang kamu cari?” pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan bagi kita. Dalam hidup ini apakah yang kita cari? Waktu kecil kita punya cita-cita untuk menjadi dokter, atlit dan sebagainya. Kita berjuang untuk mewujudkan cita-cita itu meski kadang kala Allah membelokkan jalan hidup kita sehingga apa yang kita jalani hari ini jauh dari cita-cita yang pernah kita bayangkan pada masa kecil. Bila kita sudah mampu mewujudkan cita-cita kita apakah kita sudah menemukan apa yang kita cari dan berhenti melakukan pencarian? Ataukah ada cita-cita baru yang kita cari lagi? Sebagian orang menjalani hidupnya hanya mengikuti saja kemana arah hidup bergerak seperti gabus yang terbawa arus air. Mereka tidak tahu apa yang dicari dalam hidupnya.

Dalam hidup beragama pun orang sering tidak tahu mengapa dia memeluk agama ini atau itu. Mereka beragama sebab agama ini diwariskan oleh orang tua. Atau semua orang di sekitarnya beragama itu. Atau dia diminta oleh pacarnya memeluk agama itu. Masih banyak alasan lain dimana orang memeluk agama tanpa tahu apa yang dicari dari agama yang dipeluknya itu. Yesus menggambarkan Kerajaan Allah sebagai seorang saudagar yang mencari mutiara. Setelah menemukan mutiara yang indah, maka dia menjual semua hartanya untuk membeli mutiara itu. Bila orang menemukan apa yang dicari dalam imannya maka dia berani melepaskan segalanya demi iman itu. Para santo dan santa telah menemukan apa yang dicarinya dalam imannya maka mereka tidak gentar ketika harus disiksa sampai mati atau pergi jauh untuk bermisi di daerah sulit atau meninggalkan segala kepentingan dirinya demi iman itu.

Dalam hidup baik kehidupan beragama maupun kehidupan yang kita jalani di dunia, perlu kita bertanya pada diri sendiri apakah yang kita cari dalam hidup ini? Kita perlu mencari mutiara seperti yang digambarkan Yesus sehingga kita berani melepaskan semua saja demi mutiara itu. Kita mungkin masih ingat sosok Mbah Surip. Bagiku Mbah Surip sudah menemukan mutiara dalam hidupnya yaitu bermain musik. Maka dia berani meninggalkan segalanya demi bermain musik. Dia bahagia meski harus hidup susah dan jauh dari keteraturan. Masih banyak orang seperti Mbah Surip yang kadang sulit dipahami oleh orang lain. Tapi lebih banyak lagi orang yang sepanjang hidupnya tidak menemukan mutiara itu. Mereka hidup seturut yang diharapkan oleh masyarakat atau keluarganya, sehingga tidak berusaha mencari mutiara itu. Untuk menemukan mutiara itu kita perlu berusaha mengetahui apa yang kita cari dalam hidup. Setelah menemukan kita berjuang untuk mendapatkannya meski harus kehilangan banyak hal dalam hidup.

Jumat, 05 November 2010

YESUS, YOHANES DAN MURID PERTAMA: ANAK DOMBA YANG MENDERITA


Sebutan Anak Domba dapat dikaitkan dengan gambaran tentang hamba Yahwe dalam Yesaya. Dalam Yesaya 53 menggambarkan orang pilihan Allah yang akan menjalani sengsara dan menanggung dosa manusia. “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.” (4) dan “karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.” (12). Gambaran tentang hamba Yahwe atau orang yang dipilih Allah sama dengan gambaran Yesus yang mengalami penderitaan demi menanggung dosa manusia.

Penderitaan yang dialami oleh Yesus dapat dianggap sebagai hukuman Allah. Masih banyak orang yang memiliki konsep bahwa penderitaan merupakan hukuman Allah. Dalam kisah Ayub, Bildad salah satu temannya meminta agar Ayub mengakui dosanya, sebab tidak mungkin Allah menghukum orang yang tidak bersalah. “kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu.” (Ayb 8:6). Konsep kaitan antara penderitaan dan dosa terus dipegang oleh banyak orang sampai saat ini. Maka ketika ada bencana alam orang lalu mengkaitkan dengan dosa penduduk setempat atau ada anak cacat maka dikaitkan dengan karma atau kutukan dari Allah dan sebagainya.

Penderitaan yang dialami Yesus bukan karena kutukan Allah atau dosa. Dia menjalani penderitaan dengan tujuan keselamatan manusia. Ini adalah sebuah pilihan bebas yang diputuskan ketika Dia berdoa di taman Getsmani. Dia dapat menghindari penderitaan itu, tapi Dia sadar bahwa semua itu adalah kehendak Allah. Dia berusaha menjalankan kehendak Allah sampai tuntas. Maka penderitaan Yesus adalah sebuah kurban yang dijalani dengan sepenuh hati dan dalam diam.

Sikap pengurbanan diri sudah semakin hilang dalam masyarakat kita. Dua hari lalu yahoo Indonesia menulis bahwa kemacetan di Jakarta disebabkan semua orang ingin menjadi raja dan dianggap sebagai raja yang harus didahulukan dan mendapat fasilitas. Akibatnya jalanan jadi macet sebab semua orang hanya berpikir tentang dirinya dan ingin dinomorsatukan. Tidak ada yang mau mengalah. Bila memberi jalan pada sesama saja sudah merasa berat bagaimana hendak memberikan nyawanya? Berkurban berarti orang tidak lagi memusatkan segala sesuatu demi kepentingannya, haknya, dan lain sebagainya yang berpusat pada diri sendiri melainkan mulai berpikir tentang orang lain. Apa yang ingin kita peroleh kita berikan pada orang lain. Bila kita ingin dapat sampai tujuan dengan cepat begitu pula orang lain. Maka beranikah kita melepaskan keinginan kita demi orang lain?

Menderita demi kebahagiaan orang lain memang berat. Kita semua ingin bahagia maka pilihan untuk menderita sering kita hindari. Bahkan yang terjadi sering kali orang demi kebahagiaan dirinya tega membuat orang lain menderita. Seorang tokoh demi merebut sebuah jabatan dia tega menebar fitnah tentang rekannya sehingga rekannya dibuang dari kedudukannya dan dia dapat menduduki jabatan yang ditinggalkan rekannya itu. Bahkan seorang anak tega menyita kekayaan orang tuanya demi menumpuk kekayaan bagi diri sendiri. Masih banyak lagi kasus dimana orang tega membuat orang lain menderita demi kebahagiaan diri sendiri. Yesus mengajarkan sebaliknya. Kita harus berani menderita demi kebahagiaan orang lain.

Memang ada orang yang tampak berkurban tapi dibalik itu ada maksud tersembunyi. Pengurbanan yang sejati tidak mempunyai maksud lain selain kebahagiaan orang lain. Bila kurban tetap terarah pada kepentingan diri sendiri, maka itu hanya sebuah tindakan manipulasi dan penipuan. Orang yang sedang jatuh cinta berani berkurban untuk pacarnya. Ini sebetulnya bukan kurban. Pengurbanan sejati adalah untuk orang yang lain bahkan musuh-musuh seperti yang dikatakan oleh Yesaya tentang hamba Yahwe.

Kamis, 04 November 2010

LIDAH MARZUKI

Akhir-akhir ini nama Marzuki Alie menjadi bahan perbincangan di berbagai media dan jejaring sosial. Hal yang membuat dia menjadi bulan-bulanan adalah pernyataannya di media yang tidak simpatik tentang kurban tsunami di Mentawai. Menurut Kompas, dia menyatakan "Kalau tinggal di pulau itu sudah tahu berisiko, pindah sajalah. Namanya kita negara di jalur gempa dan tsunami luar biasa. Kalau tinggal di pulau seperti itu, peringatan satu hari juga tidak bisa apa-apa," (27 Oktober). Sedangkan Detik.com mengutipnya "Kalau tahu berisiko pindah sajalah," imbuhnya. "Kalau rentan dengan tsunami dicarikanlah tempat. Banyak kok di daratan," sambungnya” (28 Oktober). Pernyataan yang tidak menunjukkan rasa empati dan kapasitasnya sebagai ketua DPR.

Pernyataan dia memang benar bahwa orang yang tinggal di pantai mempunyai resiko terkena tsunami sedang orang tinggal di gunung terkena resiko gunung meletus. Tapi orang memilih tinggal di pantai sebab dia seorang nelayan. Kalau semua orang tinggal di gunung siapa yang akan menjadi nelayan? Padahal negara kita adalah negara kepulauan. Disinilah tampak kedangkalan penalaran Marzuki, yang seharusnya sebagai ketua wakil rakyat dapat berpikir lebih baik lagi. Bukan seperti orang tanpa pendidikan yang suka ngobrol di tepi jalan. Meski Anas Urbaningrum menyatakan pada Detik.com “Saya tahu Pak Marzuki punya empati yang sangat mendalam. Jiwa sosialnya sangat tinggi. Mudah tergerak untuk meringankan beban orang lain yang kesulitan. Saya tahu persis karakternya yang baik dan peduli," (29 Oktober) Tapi dari lidah Marzuki sendiri dapat dinilai apakah pernyataan Anas itu benar atau salah.

Orang dikatakan mempunyai empati bukan sekedar orang memberi pada orang miskin. Menjelang pemilu atau pemilihan caleg banyak para calon yang tiba-tiba menjadi orang dermawan yang membantu orang-orang miskin. Hal ini bukan menunjukkan bahwa dia mempunyai empati tapi dia sedang mencari muka agar dipilih oleh rakyat. Sedangkan orang yang mempunyai empati itu tidak terbatas pada saat-saat tertentu. Rasa terlibat dalam penderitaan orang lain akan muncul secara otomatis bila melihat ada orang yang menderita. Rasa ini diwujudkan dalam perkataan, perbuatan dan sikapnya. Bila orang seperti Marzuki yang membuat pernyataan tidak simpatik sama sekali apalagi dalam kapasitasnya sebagai wakil rakyat, maka dapat dikatakan bahwa dia bukan orang yang memiliki rasa empati kepada sesama yang sedang menderita.

Lidah memang bagian tubuh yang sangat berbahaya, sebab lidah menyatakan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan seseorang. Maka penulis surat Yakobus memuji orang yang mampu mengendalikan perkataannya, “barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya” (Yak 3:2). Apalagi sebagai seorang pejabat yang seharusnya melindungi rakyatnya maka setiap perkataan harus dijaga, sebab setiap perkataan mencerminkan pemerintahan dan dapat menjadi pegangan masyarakat. Perkataan Marzuki akan tidak berdampak luas bila dia seorang yang tidak berpendidikan atau bukan sebagai pejabat. Seandainya dia orang bodoh maka orang akan maklum dengan pernyataannya.

“Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan, tetapi mulut orang bebal mencurahkan kebodohan.” (Ams 15:2). Jelas sekali apa yang dikatakan oleh penulis Amsal bahwa lidah seseorang dapat menjadi ukuran diri orang itu. Apakah orang itu bijak atau tidak, bodoh atau pandai semua dapat diukur dari pernyataan-pernyataannya yang keluar dari mulutnya. Maka pembelaan Anas Urbaningrum tampaknya sia-sia, bahkan akan lebih tampak sebagai sebuah perlindungan terhadap anggotanya daripada sebuah sharing pengalaman tentang sosok Marzuki. Apalagi bila ditambahkan dengan perkataan sebaiknya pernyataan itu tidak dipolitisir. Hal ini semakin mempertegas bahwa apa yang dikatakan oleh Anas bukan menunjukkan kebenaran pribadi Marzuki tapi hanya sebagai perlindungan agar orang tidak menilai jelek partai yang dipimpinnya. Apa yang dialami oleh Marzuki dapat menimpa setiap orang yang sembrono terhadap lidahnya. Maka sebaiknya kita pun dapat mengendalikan lidah kita agar tidak dinilai bebal.

Rabu, 03 November 2010

YESUS, YOHANES DAN MURID PERTAMA: ANAK DOMBA YANG DIKURBANKAN


Yesus adalah Anak Domba Allah yang menawarkan keselamatan, tapi Dia juga Anak Domba yang akan dikurbankan sebagai silih atas dosa manusia. Yesus bagaikan anak domba yang menjadi kurban Abraham sebagai pengganti Ishak. Ketika Ishak melihat bahwa Abraham membawa kayu dan api tapi tidak membawa anak domba sebagai kurban bakaran maka dia bertanya “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” (Kej 22:7-8). Abraham yakin bahwa Allah akan menyediakan anak domba sebagai kurban bakaran.

Allah yang pada jaman Abraham menyediakan anak domba untuk menjadi pengganti Ishak, kini Allah menyediakan PutraNya sebagai anak domba yang akan dikurbankan. Anak domba merupakan hewan yang penting dalam upacara keagamaan Yahudi. Anak domba dikurbankan sebagai nazar setelah sembuh dari kusta (Im 14:10-32), tebusan anak sulung (Kel 34:20), silih dosa (Im 4:32-35) dan sebagainya. Pendek kata anak domba adalah kurban silih untuk memulihkan hubungan antara manusia dengan Allah dan sesamanya. Yesus sebagai Anak Domba Allah pun dikurbankan untuk menjadi silih atas dosa kita sehingga hubungan kita dengan Allah yang rusak oleh dosa dipulihkan. Maka keselamatan yang kita peroleh sangat mahal harganya sebab keselamatan itu menggunakan darah Putra Allah. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya.” (Ef 1:7).

Kita yang sudah menikmati keselamatan dari pengurbanan Anak Domba Allah sering tidak menyadari akan mahalnya harga keselamatan itu. Bahkan sering meremehkan arti penebusan itu misalnya tidak serius dalam mengikuti misa, tidak persiapan cukup ketika akan menerima hosti dan sebagainya. Atau kita mensyukuri keselamatan yang telah kita terima, sehingga segala dosa dihapuskan, tapi tidak berusaha mempertahankan kesucian yang telah kita terima. Kita mensyukuri sebab diangkat sebagai anak Allah tapi tidak mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa kali aku mengikuti pertemuan doa. Orang yang datang memuji dan bersyukur atas pengurbanan yang mahal yang telah mereka terima. Tapi apakah cukup hanya bersyukur tanpa mewujudkan pada kehidupan sehari-hari? Bila Yesus sudah menjadi silih atas dosa kita apakah kita juga siap menjadi silih bagi dosa orang lain? Jika Yesus sudah berkurban bagi kita agar mendapat keselamatan apakah kita juga berani berkurban bagi sesama agar mereka selamat? Dunia saat ini menjadi egois, dimana orang hanya berpikir akan kepentingan dirinya. Orang enggan terlibat dalam masalah sesama. Apalagi bila keterlibatan itu dapat mengancam kenyamanan, posisi, jabatan apalagi jiwa kita, maka sering kita menghindarinya dan seolah tidak mengetahui ada saudara kita yang sedang mengalami masalah. Sikap yang enggan menjadi kurban bagi sesama maka tugas Gereja mengenai kemartiran diperhalus menjadi kesaksian. Padahal kemartiran adalah jelas memberikan nyawanya demi sesama dan imannya.

Pernah beberapa orang menegurku sebab aku terlibat dalam masalah sosial yang dapat membahayakan diriku. Mereka berpendapat bahwa tempatku bukan ditengah orang yang sedang berjuang untuk memperoleh hak-haknya. Alasan mereka adalah bahwa aku dapat membahayakan Gereja Katolik. Tapi bagiku pengurbanan Yesus harus terus dilakukan dalam banyak bidang. Orang tidak boleh puas hanya menerima sebaliknya harus pula mampu memberi. Apa arti pengurbananku dibandingkan dengan darah Yesus yang telah menyelamatkan bukan hanya badan tapi terlebih jiwa. Menghapus segala dosa dan memberikan kehidupan kekal. Keberanian berkurban dimulai dari rasa syukur atas keselamatan yang telah diperoleh dari pengurbanan Yesus. Inilah dasar dari segala aktifitas tindak keselamatan bagi sesama. Aku bersyukur bahwa aku menjadi pengikut Yesus sehingga mendapatkan berkah yang sedemikian besarnya. Tidak ada nabi atau pemimpin agama yang menjadi silih bagi dosa manusia. Maka sangatlah egois bila rasa syukur itu hanya dinikmati sendiri.

Selasa, 02 November 2010

YESUS, YOHANES DAN MURID PERTAMA: ANAK DOMBA KESELAMATAN


Suatu hari Yohanes Pembaptis sedang bersama dua muridnya. Dia melihat Yesus lewat lalu mengatakan kepada mereka, "Lihatlah Anak domba Allah!” (Yoh 1:36). Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah. Yesus yang lewat dan sebutan anak domba Allah mengingatkan akan saat akan pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Musa mendapat perintah dari Allah agar semua orang Israel menyembelih anak domba yang tidak bercacat dan mengoleskan darahnya di palang pintu, sehingga ketika Allah yang akan membunuh semua anak sulung baik manusia maupun hewan akan melewati rumah yang diberi tanda darah anak domba. “Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.” (Kel 12:27) Yohanes seperti Musa yang menunjukkan keselamatan kepada para murid saat Yesus lewat.

Yohanes Pembaptis sebelumnya sudah memproklamasikan Yesus sebagai Anak Domba Allah kepada khalayak ramai ketika dia membaptisNya. Pada saat itu dia lebih menerangkan jati diri Yesus yang akan membaptis orang dengan Roh Kudus. Sampai akhirnya dia menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. “Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:34). Ketika bersama para muridnya Yohanes Pembaptis melihat Yesus yang lewat. Sekali lagi dia menyatakan kepada para muridnya bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah. Penunjukkan ini bukan sekedar menunjuk untuk memberitahu siapa nama atau julukan orang yang sedang lewat seperti bila kita menunjukkan kepada teman kita seseorang yang sedang lewat di dekat kita. Penunjukkan ini mempertegas tetang peran Yesus sebagai Anak Domba Paskah sehingga kedua murid Yohanes Pembaptis mengikuti Yesus.

Kehadiran Yesus sebagai Anak Domba Allah adalah kehadiran yang menyelamatkan manusia dari perbudakan dosa. Keselamatan terjadi bila orang mau mengikuti dan menerima ajaran Yesus. Keselamatan ini terbuka bagi siapa saja yang menanggapi tawaran dari Allah. Memang tawaran itu pertama-tama ditujukan kepada umat Israel setelah itu kepada semua orang yang mau menerimanya, sebab umat Israel menolak tawaran keselamatan yang daripadanya. Yesus menggambarkan Kerajaan Allah seperti seorang yang mengadakan perjamuan tapi orang yang diundang tidak mau datang bahkan membunuh orang yang diutus untuk mengundang. Akhirnya tuan rumah mengundang semua orang (Mat 22:1-14). Inilah gambaran orang Israel yang menolak undangan keselamatan yang diwartakan para nabi, maka tawaran keselamatan itu dialihkan kepada semua orang.

Pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan dosa ini bukan secara otomatis seperti pada saat umat Israel mengoleskan darah anak domba maka mereka secara otomatis terluput dari bencana. Keselamatan adalah sebuah tawaran kepada manusia yang dapat dipilih secara bebas. Kita dapat memilih untuk menerima atau menolakNya. Allah tidak lagi sewenang-wenang seperti pada jaman Musa yang tidak memberikan tawaran kepada orang Mesir. Tawaran ini setiap saat diajukan kepada semua manusia. Bukan sekali untuk selamanya. Ada orang yakin bahwa dengan baptis maka pasti dia sudah menanggapi tawaran Allah. maka baptis seperti sebuah prestasi yang perlu diraih setelah itu selesai. Setelah baptis dia tidak berusaha menjalankan kehidupannya sesuai dengan hidup baru. Bahkan dia mulai jarang berdoa, membaca firman atau belajar tentang imannya. Dia sudah merasa cukup. “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:13-14). Keselamatan harus diperjuangkan setiap saat, sebab setiap saat kita dihadapkan pada aneka tawaran yang dapat menjauhkan kita dari keselamatan. Mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar misalnya apakah mau membaca firman atau membaca tabloid gosip. Godaan untuk menjauh dari keselamatan itu cukup besar dan selalu muncul. Inilah jalan sempit yang harus diperjuangkan setiap hari.

Powered By Blogger