Selasa, 16 November 2010

DAUD DAN BATSYEBA: URIA POTRET ORANG DIKALAHKAN


Uria disebut orang Het yaitu suku bangsa keturunan Nuh. Nuh mempunyai 3 anak yaitu Sem, Ham dan Yafet. Ham mempunyai anak bernama Kush, Misraim, Put dan Kanaan dan Kanaanlah nenek moyang Uria, “Kanaan memperanakkan Sidon, anak sulungnya, dan Het, serta orang Yebusi, orang Amori dan orang Girgasi; orang Hewi, orang Arki, orang Sini, orang Arwadi, orang Semari dan orang Hamati; kemudian berseraklah kaum-kaum orang Kanaan itu.” (Kej 10:15-18). Sedang Daud adalah keturuan dari Sem yang juga menjadi moyang dari Abraham dan Yakub. Dengan demikian Uria dan Daud sebetulnya masih satu saudara dari keturunan Nuh.

Uria mungkin sudah mendengar rumor bahwa istrinya diambil Daud. Sebagai seorang raja pasti Daud tidak lepas dari perhatian banyak orang terutama para pegawai di istananya. Segala gerak geriknya akan menjadi bahan pembicaraan pegawainya yang berkembang menjadi gosip. Kehadiran Batsyeba ke istana atas panggilan Daud pasti diketahui oleh pegawai istana dan menjadi bahan gunjingan. Serapat-rapatnya sebuah aib ditutupi pasti lambat laun akan tercium oleh orang. Aib Daud dan Batsyeba sampai ke telinga Uria yang sedang bertempur bersama Yoab. Dapat dibayangkan betapa hancur hati Uria ketika mendengar bahwa istrinya diambil oleh Daud.

Nabi Natan memberikan perumpamaan perbedaan yang mencolok antara Daud dan Uria. "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya.” (2 Sam 12:1-3). Bila melihat gambaran nabi Natan ini kemungkinan Batsyeba belum pernah disentuh oleh Uria. Dia dirawat sejak kecil dan suatu saat akan dijadikan istrinya. Tapi sebelum hal itu terjadi Batsyeba sudah disentuh oleh Daud hingga hamil. Tentu Uria sangat kecewa sekali. Dia pulang dengan harapan Daud akan menjelaskan duduk perkaranya dan meminta maaf padanya. Ternyata Daud hendak menjebaknya dan melepaskan tanggungjawab.

Hal yang sangat tragis Uria membawa surat kematiannya sendiri. Dia tentu paham bahwa Daud tidak berhasil menjebaknya. Maka dia disuruh segera kembali ke pertempuran dengan membawa surat kematian bagi dirinya. Apakah Uria tidak curiga dengan surat yang dibawanya? Ada kemungkinan dia sudah curiga bahwa surat itu pasti bukan hal yang menyenangkan bagi dirinya. Tapi dia setia membawanya dan menyerahkan kepada Yoab. Meski hatinya hancur Uria tetap menjalankan tugasnya sebagai prajurit. Dia berangkat ketika diutus untuk bertempur di pertempuran yang paling berat. Dia pasti kecewa ketika sedang bertempur tiba-tiba semua kawannya pergi meninggalkannya sehingga dia akhirnya mati ditangan musuh.

Uria adalah gambaran orang yang diperlakukan tidak adil tapi tidak berdaya untuk melawan ketidakadilan yang menimpanya. Ada jutaan orang yang terpaksa menjalani hidup dalam kepahitan akibat kesewenang-wenangan penguasa. Orang-orang di pedalaman yang tanah leluhurnya dirampas oleh penguasa yang telah memiliki ribuan hektar tanah dengan menggunakan hukum-hukum yang tidak dipahami oleh pemilik tanah itu. Dengan segala tipu daya dan trik-trik yang licik atau pembiusan. Bila mereka memiliki kesadaran dan berusaha mempertahankan atau merebut tanah mereka kembali maka akan datang pasukan bersenjata yang menumpas mereka dengan alasan yang dibuat-buat. Bahkan tidak jarang mereka dicap sebagai pemberontak dan diperlakukan secara tidak manusiawi. Beberapa orang kurban lumpur Lapindo menjadi gila sebab tanah milik mereka satu-satunya dirampas oleh orang yang berkuasa tanpa ganti rugi yang sesuai. Masih banyak lagi Uria-Uria jaman ini yaitu orang-orang yang dikalahkan dan tidak berdaya menghadapi kelicikan dan keserakahan penguasa. Mereka dikurbankan oleh penguasa demi keuntungan pribadi sang penguasa.

Senin, 15 November 2010

DAUD DAN BATSYEBA: JABATAN YANG MEMABUKKAN


Daud dapat dikatakan sebagai pribadi yang sempurna. Dia seorang yang diberkati Allah dan hidupnya dikuasai oleh Roh Allah. “Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud.” (1 Sam 16:13). Dia adalah raja besar di kerajaan Israel. Sejak muda dia sudah menjadi prajurit yang handal. Hanya dengan berbekal batu sungai dia dapat mengalahkan Goliat, pahlawan Filistin yang sangat ditakuti tentara Israel. Kemenangan demi kemenangan diraihnya ketika dia memimpin pasukannya bertempur melawan musuh-musuh Israel. Dia pun dikenal sebagai pemain musik yang handal sehingga banyak mazmur ditulis seolah tulisan Daud. Semua anugerah yang telah diberikan Allah padanya membuat Daud terlena. Dia menggunakan kekuasaannya untuk melakukan kejahatan.

Dengan kekuasaan yang dimilikinya Daud telah berlaku sewenang-wenang terhadap orang lain. Dia tahu bahwa Batsyeba adalah istri Uria, salah satu prajuritnya. Tapi dia tetap melakukan dorongan hatinya untuk memiliki Batsyeba. Setelah tahu bahwa Batsyeba hamil Daud tidak mau mengakui kesalahannya. Dia bahkan menghukum mati Uria yang sebetulnya orang yang dirugikan. Hal yang sangat mengerikan adalah Uria harus membawa surat kematiannya. Sebagai bawahan Uria tidak berdaya ketika tahu bahwa istrinya telah dirampas darinya dan dia harus membawa surat kematiannya sendiri. Daud lebih mementingkan menjaga nama baiknya yang dapat tercoreng oleh tindakannya sendiri, sehingga tega membunuh salah satu prajuritnya yang telah berjuang demi mempertahankan kerajaan yang dipimpinnya.

Kekuasaan dapat membuat seseorang lupa akan dirinya. Banyak penguasa-penguasa yang semula baik tapi setelah beberapa saat berkuasa dia mulai menunjukkan kesombongannya. Dia terlelap oleh kemewahan dan kenikmatan sebagai penguasa sehingga melakukan hal-hal yang berlawanan dari hakekat penguasa yaitu melindungi rakyatnya dan membuat rakyatnya hidup sejahtera. Salomo anak Daud dari Batsyeba dikenal sebagai orang yang paling bijak di seluruh dunia. “Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut, sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir.” (1 Raj 4:29-30). Tapi dia pun akhirnya jatuh dalam dosa pada masa tuanya.

Jean Vanier (10 September 1928) pendiri komunitas L’Arche yaitu komunitas orang-orang yang mengalami keterbelakangan mental menulis bahwa menjadi pemimpin bukan untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah yang terbaik, atau sangat populer. Pemimpin bukanlah untuk menjadi seorang superior atau sangat hebat. Pemimpin adalah orang yang mampu menumbuh kembangkan orang yang dipimpinnya dan memperteguhnya. Apa yang dikatakan Jean Vanier selaras dengan prinsip Ki Hadjar Dewantara (2 Mei 1889 – 26 April 1959) bahwa pemimpin itu “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” artinya di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat dan mendukung dari belakang. Pemimpin semacam ini tidak akan menggunakan kekuasaannya untuk berbuat sewenang-wenang.

Kita semua juga menjadi pemimpin entah dalam skala kecil di rumah sendiri atau dalam skala yang lebih luas di tengah masyarakat atau di tengah umat Gereja. Sering kali kita pun menemui pemimpin yang menggunakan kekuasaannya untuk berbuat sewenang-wenang. Membuat aturan sesuai yang diinginkan meski mengurbankan banyak pihak. Kita pun dapat mabuk kekuasaan sehingga melakukan tindakan-tindakan yang sangat merugikan orang lain. Menjadi sombong dan melihat kekuasaan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan sehingga lupa bahwa kekuasaan adalah untuk melayani dan mengembangkan sesama. Allah memberi kekuasaan untuk mensejahterakan orang lain bukan untuk menyengsarakan. Maka Yesus mengingatkan bahwa pemimpin adalah hamba yang berusaha untuk membahagiakan orang yang dipimpinnya.

Minggu, 14 November 2010

DAUD DAN BATSYEBA: DOSA MULA-MULA KECIL DAN BIASA


Daud melihat Batsyeba mandi adalah sebuah dosa tapi masih merupakan dosa kecil, sebab hal itu dilakukan tanpa sengaja. Tapi dosa yang kecil ini tidak dihentikan. Daud lalu mulai mencari tahu siapa perempuan cantik yang dilihatnya. Setelah diberitahu bahwa itu adalah Batsyeba istri Uria salah satu perwiranya yang sedang berperang melawan Bani Anom, Daud tidak mau berhenti memupuk dosanya. Dia lalu memanggil Batsyeba ke istananya. Sebagai seorang rakyat apalagi istri seorang asing, sebab Uria orang Het. Orang Het adalah keturunan Kanaan anak dari Ham, anak dari Nuh. Ternyata Daud melakukan hal yang tidak pantas terhadap istri perwiranya sampai Batsyeba hamil. Kehamilan Batsyeba membuat Daud panik.

Seorang raja yang menghamili istri perwiranya tentu akan menjadi skandal besar. Batsyeba pun menuntut agar Daud bertanggungjawab terhadap perbuatannya. Untuk menutupi kebusukan dirinya Daud menggunakan akal licik. Dia memanggil Uria untuk kembali dari pertempuran. Lalu berusaha menyenangkan hati Uria dengan memberi hadiah-hadiah dan menyuruhnya pulang. Daud berharap bahwa kepulangan Uria dapat menutupi dosanya, sebab orang akan menduga bahwa kehamilan Batsyeba sebab Uria telah pulang dari peperangan. Tapi rencana Daud tidak berjalan dengan baik. Skandal yang telah dibuatnya tentu telah menjadi rumor dan sampai ke telinga Uria, tapi sebagai bawahan Uria tidak kuasa melawan Daud yang dianggap sebagai raja besar dan orang pilihan Allah. Bila dia melawan Daud maka dia akan melawan seluruh orang Israel, apalagi dia seorang asing.

Uria tidak mau pulang meski dibujuk oleh Daud agar pulang ke rumahnya. Uria tidak ingin dijadikan kurban untuk menutupi kesalahan Daud. Seharusnya Daud meminta maaf padanya tapi hal itu tidak dilakukan. Uria menolak perintah Daud untuk pulang ke rumahnya dengan memberi alasan yang tepat. “Tetapi Uria berkata kepada Daud: "Tabut serta orang Israel dan orang Yehuda diam dalam pondok, juga tuanku Yoab dan hamba-hamba tuanku sendiri berkemah di padang; masakan aku pulang ke rumahku untuk makan minum dan tidur dengan isteriku? Demi hidupmu dan demi nyawamu, aku takkan melakukan hal itu!" (2 Sam 11:11). Jawaban ini menunjukkan betapa besar rasa solidaritas Uria terhadap kawan-kawan seperjuangannya. Tapi jawaban itu juga dapat dilihat sebagai sindiran kepada Daud. Dimana dia seharusnya turut bertempur ternyata dia memilih menikmati diri bahkan melakukan hal yang tidak pantas.

Daud kecewa bahwa rencananya tidak berjalan baik. Maka dia mengutus Uria kembali sambil membawa surat kematiannya. Daud meminta Yoab agar menempatkan Uria di pertempuran yang paling hebat lalu meninggalkannya. Perintah itu dilaksanakan oleh Yoab dengan baik sehingga Uria mati. Kematian Uria menjadi alasan bagi Daud untuk mengambil Batsyeba sebagai istrinya. Pada jaman itu adalah sebuah kemuliaan bagi seorang prajurit bila dia tewas di pertempuran maka istrinya dijadikan istri rajanya. Ini penghargaan seorang raja terhadap prajuritnya yang dianggap sebagai pahlawan. Daud menggunakan kematian Uria untuk menunjukkan kebesaran hatinya dengan mengambil Batsyeba sebagai istri. Daud berusaha menampilkan diri sebagai pahlawan dari penderitaan sesama. Ini sebuah tindakan yang sangat jahat.

Apa yang dilakukan oleh Daud terus berlangsung sampai saat ini. Orang berbuat dosa dan tidak mau menghentikan dosanya tapi terus menutupinya dengan dosa lain yang lebih besar. Semua orang malu bila berbuat dosa, sebab dosa dapat merusak harga diri dan martabatnya maka dia berusaha mencari alasan untuk membenarkan tindakannya dan membuat pembelaan diri bahkan tidak jarang mencari kambing hitam. Hal ini sebetulnya akan semakin memperdalam dosa dan melukai semakin banyak orang. Oleh karena itu perlu kerendahan hati untuk mengakui dosa dan kelemahan yang telah dibuatnya, sehingga dosa dapat dihentikan. Kebesaran seseorang bukan karena dia tidak punya dosa melainkan dia berdosa dan berani bertobat untuk mempertanggung jawabkan dosanya. Pertobatan dapat menghentikan dosa yang lebih besar.

DAUD DAN BATSYEBA: LUPA DIRI


Dalam 2 Sam 11:1-27 dikisahkan tentang Daud dan Batsyeba. Daud sedang tidak berperang. Ketika bangun tidur pada sore hari dia berjalan-jalan di atas atap rumahnya. Dia melihat Batsyeba sedang mandi dan tertarik dengan kecantikan Batsyeba. Mungkin hal ini terjadi tanpa disengaja. Daud tidak merencanakan untuk melihat Batsyeba yang sedang mandi. Mungkin juga hal ini telah direncanakan, sebab harusnya dia berperang tapi dia tetap tinggal di istananya dan menyuruh Yoab untuk berperang melawan Bani Amon. “Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem.” (2 Sam 11:1).

Daud tampaknya sudah menikmati kemewahan dan kemapaman sebagai raja sehingga dia tidak maju berperang lagi meski biasanya pada saat itu raja-raja sedang berperang. Daud menikmati istirahat sore ketika pasukannya sedang berjuang melawan Bani Amon. Seorang pemimpin yang baik dia selalu terikat dengan rakyatnya. Daud bukan hanya raja tapi dia juga panglima perang, sebab dari muda dia sudah menjadi pemimpin pasukan. Kehadiran seorang raja sangat penting dalam sebuah pertempuran. Kehadiranya sangat menguatkan moral pasukan dalam berperang. Mereka akan lebih berani dan bersemangat sebab melihat rajanya ada di tengah mereka. Kemapaman tampaknya telah membuat Daud lupa akan tugasnya sebagai panglima perang.

Baru-baru ini berbagai media banyak mengungkapkan keprihatinnya atas sikap Irwan Prayitno, gubernur Sumatera Barat yang pergi ke Jerman pada saat Mentawai terkena tsunami. Memang sumber disana mengatakan bahwa kepergian gubernur untuk masa depan Sumatera Barat agar lebih maju dan berkembang. Niat itu sangat baik dan patut dipuji, sebab gubernur sangat memikirkan perkembangan daerah yang dipimpinnya. Tapi hal yang sangat memprihatinkan adalah dia pergi saat daerahnya terkena tsunami yang menelan ratusan korban meninggal, hilang dan terpaksa mengungsi. Seharusnya dia berada ditengah para korban untuk menguatkan mereka dan mengatur bagaimana agar mereka dapat terpenuhi kebutuhan pokoknya. Kalau toh dia menjadi pembicara maka semua pendengarnya pun akan sangat memaklumi ketidakhadirannya. Kalau toh pertemuan itu sangat penting, orang yang diajak bertemu pun akan memahami dan bersedia untuk membuat agenda ulang. Ketidakhadirannya pada saat daerahnya terkena tsunami menunjukkan bahwa dia seorang pemimpin yang tidak punya rasa empati pada rakyatnya meski dia berasal dari partai yang berbasis agama.

Kenyamanan dan kemapaman dapat mengubah seseorang. Orang yang semula berjuang demi sesamanya tapi setelah menikmati jabatan dan kenyamanan hidup dia melupakan teman-teman seperjuangan dan perjuangannya sendiri. Sikap ini dapat merasuk dalam diri setiap orang. Seorang bapa yang semula ketika usahanya masih kecil dan sederhana merupakan bapa yang baik bagi anak dan istrinya, tapi setelah usahanya berkembang pesat dia menjadi bapa yang dibenci oleh anak dan istrinya. Sikapnya berubah. Semula dia suka di tinggal di rumah bersama keluarga tapi kini dia lebih suka menghabiskan waktunya untuk mencari kesenangan di luar rumah. Lambat laun keluarganya mulai berantakan dan akhirnya semua bubar.

Harta, jabatan dan kesuksesan dapat membuat orang lupa diri sehingga meninggalkan keluarga, visi dan komitmen hidupnya. Yesus suatu kali akan diangkat menjadi raja tapi Dia segera meninggalkan orang-orang itu. Dia tahu bahwa harta, kesuksesan dan kekuasaan merupakan godaan besar yang dapat membuatNya meninggalkan tujuan hidupNya yaitu menyelamatkan manusia. Memang kita boleh dan sah saja untuk menikmati apa yang sudah kita peroleh tapi jangan sampai semua itu membuat kita melupakan tujuan hidup kita. Jangan sampai semua yang ada pada kita memisahkan kita dari orang yang telah turut membesarkan kita. Semua yang kita peroleh hendaknya menjadi dorongan untuk lebih maju lagi dan memperteguh komitmen serta visi hidup.

Sabtu, 13 November 2010

DAUD DAN BATSYEBA: PENGGEMBALA MENJADI RAJA


Dalam Kitab Suci, nama Daud sering muncul. Dalam Perjanjian Lama ditulis sebanyak 921 kali dan dalam Perjanjian Baru disebut 56 kali. Musa dalam Perjanjian Lama hanya 725 kali dan 86 kali dalam Perjanjian Baru. Dari seringnya nama ditulis dan tersebar dalam banyak kitab, maka menunjukkan bahwa Daud adalah orang penting di Israel. Dia seorang pemimpin besar Israel yang mampu memimpin bangsa Israel menjadi sebuah bangsa besar. Daud dipilih Allah melalui Samuel untuk menggantikan Saul yang dianggap sudah dikuasai oleh roh jahat “Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama. Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN.” (1Sam 16:13-14).

Daud menjadi raja pada tahun 1000 SM sampai 970 SM. Karirnya dimulai dengan mengalahkan Goliat, pejuang Filistin yang tubuhnya sangat besar. Kemenangan ini membuatnya diperhatikan Saul. Dia pun bersahabat dengan Yonatan anak Saul. Sejak itu dia sering diutus oleh Saul untuk bertempur. Kemenangan demi kemenangan diraihnya sehingga dia pun diangkat menjadi pempimpin. Kemenangan Daud dalam berbagai peperangan membuatnya menjadi sangat terkenal dan dicintai rakyat. Banyak rakyat memuji-mujinya, sehingga membuat Saul menjadi iri hati. Beberapa kali dia ingin membunuh Daud tapi selalu gagal. Dia pun menyusun rencana licik untuk membunuh Daud. Saul mengijinkan Daud menikah dengan Milkha anak perempuannya dengan mas kawin 200 kulit khatan orang Filistin dengan harapan Daud akan dibunuh oleh orang Filistin. Tapi Daud mampu memenuhi mas kawin itu dan dia menikah dengan Milkha. Akhirnya Daud berhasil menjadi raja setelah Saul mati dalam peperangan.

Meski Daud adalah orang yang dikuasai oleh Roh Allah tapi dia juga adalah manusia yang tidak luput dari dosa. Dosa yang paling berat adalah perkawinannya dengan Batsyeba istri Uria. Akibat dosa ini maka dia dihukum Allah yang diwartakan oleh nabi Natan. “Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati.” (2Sam 12:13-14). Daud menyesali dosanya dan dia mohon ampun pada Allah dengan melakukan puasa tapi hukuman Allah tidak berubah. Anak yang dikandung Batsyeba akhirnya meninggal dunia setelah mengalami sakit. Daud menjadi raja sekitar 30 tahun sampai meninggal pada masa tuanya. Dia digantikan oleh Salomo anaknya dari Batsyeba

Salomon dikenal sebagai raja yang bijaksana, tapi dia pun tidak luput dari dosa. “Bukankah Salomo, raja Israel, telah berbuat dosa karena hal semacam itu? Walaupun di antara begitu banyak bangsa tidak ada seorang raja seperti dia, yang dikasihi Allahnya dan diangkat oleh Allah itu menjadi raja seluruh Israel, namun dia pun terbawa ke dalam dosa oleh perempuan-perempuan asing itu.” (Neh 13:26). Setelah Salomo wafat kerajaan Israel pada tahun 931 SM terpecah menjadi dua. Kerajaan di utara disebut kerajaan Israel dengan ibu kota Samaria sedang yang diselatan disebut kerajaan Yehuda dengan ibu kota Yerusalem. Kerajaan Israel pada tahun 722 SM dikalahkan oleh Asyur dan semua penduduknya dibuang ke Asyur. Sedang kerajaan Yahuda pada tahun 586 dikalahkan kerajaan Babel dan penduduknya dibuang ke Babel. Hancurnya kerajaan Yehuda membuat bangsa Israel mengharap akan ada keturunan Daud yang akan memulihkan kejayaan kerajaan Israel.

Harapan bangkitnya kembali kerajaan Daud terus berkumandang dalam hati orang Israel. Ketika Yesus berkarya bangsa Israel berharap bahwa Dia lah mesias yang akan memulihkan kerajaan Israel. Maka beberapa kali orang memberiNya gelar Anak Daud, yaitu tokoh harapan Israel. Dengan demikian Daud adalah tokoh besar bangsa Israel dan terus hidup sebab dia masih dinantikan kedatangannya untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Israel.

Jumat, 12 November 2010

YESUS, YOHANES DAN MURID PERTAMA: MARI LIHATLAH


Ketika dua murid Yohanes bertanya dimanakah Yesus tinggal, Dia tidak menjelaskan tempat dimana Dia tinggal tapi mengajak mereka. "Marilah dan kamu akan melihatnya." (Yoh 1:39). Jawaban ini menunjukkan bahwa Yesus ingin murid Yohanes mengalami hidup bersamaNya. Dengan tinggal bersama Dia maka mereka diharapkan dapat mengenalNya secara pribadi. Mereka diajak menyatu denganNya sehingga mereka dapat memahami sendiri arti Anak Domba Allah seperti yang dikatakan oleh gurunya. Pemahaman yang berasal dari pengalaman berbeda jauh dengan pemahaman yang berasal dari penjelasan seseorang atau teori-teori. Pemahaman dari pengalaman akan tertanam kuat dalam hati seseorang, sebab mereka melibatkan seluruh diri. Mereka berproses sampai akhirnya mampu menyimpulkan apa yang mereka alami.

Anthony de Mello dalam bukunya berjudul Burung Berkicau mengisahkan ada seorang petualang yang mendaki sebuah gunung tinggi. Disana dia menemukan danau yang sangat indah sekali. Lalu dia menceritakan pada penduduk kota. Kagum akan cerita itu maka penduduk kota membuat lukisan danau dan membuat rutenya. Mereka lalu memasang lukisan itu di rumahnya dan menceritakan keindahan danau itu kepada setiap orang. Seolah-olah dengan memasang gambar dan mampu menceritakan kembali betapa sulitnya jalan yang ditempuh untuk mencapai ke danau itu serta betapa mengagumkan keindahannya, maka mereka merasa sudah mengetahui tentang danau itu. Mereka puas dengan mendengar pengalaman orang tanpa berusaha mencari.

Kisah ini adalah gambaran tentang iman kita. Banyak dari kita mengenal Yesus dari pengajaran para katekis, biarawan, biarawati, guru-guru agama atau orang yang sudah berusaha mencari Allah. Mendengar cerita mereka dan mengaggumi apa yang mereka ceritakan membuat orang merasa sudah menemukan Allah bagi hidupnya. Kita memang dapat mendengarkan kisah atau sharing tentang pengetahuan akan Allah. Banyak buku yang membahas siapa Allah itu dan bagaimana cara menemukanNya. Tapi iman bukanlah pengetahuan. Iman adalah keputusan untuk menyerahkan seluruh hidup kepada Allah. Keputusan itu bersumber dari pengalaman yang didukung oleh kemampuan akal budi untuk semakin meneguhkan pilihan kita. Maka tidak cukup bila hanya pengetahuan. Kita perlu berproses untuk mencari siapa Allah bagi kita. Hal ini mengandaikan kita mau tinggal bersama Yesus sehingga mengenalNya.

Saat ini banyak orang yang berpindah-pindah agama. Suatu saat memeluk agama A lalu beberapa waktu kemudian pindah ke agama B lalu C dan sebagainya. Mereka berpindah-pindah agama disebabkan kecewa dengan agamanya atau melihat bahwa agama orang lain lebih baik daripada agamanya sendiri. Hal ini dapat terjadi sebab orang hanya mendengar siapa Yesus tapi tidak berproses untuk menemukan Yesus sendiri, Mereka mendengar dari seseorang bahwa Yesus adalah Allah lalu mereka tertarik dan mengikuti Yesus tapi ternyata setelah mengikutiNya dia melihat apa yang dikatakan orang itu tidak benar. Maka mereka kecewa lalu meninggalkan Yesus. Orang yang bercerita sudah berproses sampai akhirnya dia yakin bahwa Yesus adalah Mesias. Pengalaman orang itu adalah pengalamannya pribadi. Miliknya sendiri yang dapat berbeda dengan pengalaman orang lain.

Menemukan Yesus secara pribadi bukanlah hal yang mudah. Para rasulpun ditanya oleh Yesus siapakah Dia menurut mereka. Petrus sebagai wakil para rasul mengatakan bahwa Engkaulah Mesias. Yesus pun melarang agar Petrus tidak mengatakan hal itu kepada siapapun agar semua orang berani mencari sendiri, bukan hanya menerima warisan atau apa kata orang. Untuk itu kita perlu datang pada Yesus dan tinggal bersama Dia. Memahami Dia dan segala yang dilakukanNya. Menjalankan SabdaNya dan mencari karyaNya dalam hidup sehari-hari. Banyak orang sudah merasa mengenal Yesus dari cerita orang, sehingga dia merasa tidak perlu lagi mencari siapa Yesus bagi dirinya. Tapi sungguhkah kita sudah mengenal Yesus secara pribadi dan menjadikan Dia terlibat dan berperan dalam kehidupan kita sehari-hari?

Kamis, 11 November 2010

YESUS, YOHANES DAN MURID PERTAMA: DIMANAKAH ENGKAU TINGGAL

Pertanyaan Yesus kepada dua murid Yohanes apakah yang engkau cari dijawab dengan pertanyaan baru, “Rabi dimanakah Engkau tinggal?” Apa yang dikatakan oleh kedua murid itu tampaknya tidak wajar. Mereka ditanya tapi malah balik bertanya yang tidak terkait dengan pertanyaan pertama. Tapi dalam Injil Yohanes memang beberapa kali ada “kesalah fahaman” antara apa yang dikatakan Yesus dengan tanggapan dari orang yang mendengarnya. Mungkin dua murid ini bukan orang yang suka basa basi, tapi hendak menunjukkan apa yang mereka inginkan. Mereka mengikuti Yesus hendak tinggal bersama Yesus. Dengan hidup bersama maka Yesus akan memahami apa yang dicari oleh mereka dan mereka pun dapat memahami Yesus yang diikutinya.

Saat ini banyak sekali orang membangun gereja yang dianggap sebagai rumah Yesus. Dalam gereja Katolik diletakkan Yesus yang berupa hosti di tabernakel. Bahkan saat ini ada trend untuk membangun ruangan khusus untuk ruang doa dimana orang berdoa dan bermeditasi selama beberapa waktu dihadapan tabernakel atau biasanya disebut adorasi. Beberapa orang pun mengusulkan padaku agar membangun ruang khusus untuk adorasi. Tapi permintaan itu selalu kutolak sebab selain tidak ada tempat lagi untuk membangun sebuah ruangan khusus, juga bagiku sudah ada gereja mengapa harus ada ruangan khusus lagi untuk berdoa? Bukankah mereka dapat saja berdoa dan bermeditasi di dalam gereja? Tapi mereka menganggap bahwa gereja berbeda dengan ruang adorasi, sebab ruang adorasi tidak diberi bangku dan tertutup rapat agar tidak bising oleh suara yang ada diluar ruang, sehingga mereka dapat hening. Bagiku keheningan bukan berasal dari luar tapi dari dalam diri sendiri.

Kedua murid ingin tinggal bersama Yesus bukan hendak hening melainkan hendak mengenal Yesus secara lebih pribadi. Maka setelah tinggal bersama Yesus mereka pergi dan mengatakan kepada orang lain bahwa mereka menemukan Mesias. “Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." (Yoh 1:41) Perkataan Andreas inilah jawabab atas pertanyaan Yesus. Mereka mencari Mesias. Penemuan Mesias terjadi setelah mereka tinggal bersama Yesus. Maka adorasi adalah saat kita berusaha menemukan Yesus secara pribadi. Bukan sekedar duduk bersila dalam diam di ruang ber AC dan tanpa suara. Pemahaman Yesus secara pribadi mengubah seseorang dan membuat mereka menjadi pewarta seperti Andreas yang menjadi pewarta bagi Simon.

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam da.” (Yoh 6:56). Bagi orang Katolik Yesus tidak tinggal di luar diri tapi di dalam diri kita, Setiap kita merayakan ekaristi dan menerima tubuh Kristus maka Yesus tinggal dalam diri kita dan kita tinggal dalam diri Yesus. Maka sebetulnya kita tidak perlu susah membangun ruang untuk bisa tinggal bersama Yesus sebab Dia sudah tinggal dalam diri kita. Tapi sering kali hal ini tidak disadari sehingga kita berusaha mencari Yesus di luar diri kita. Hal yang dibutuhkan adalah hening agar dapat mendengarkan sabdaNya, sehingga kita semakin mengenal dan memahamiNya sebagai Mesias. Tapi banyak orang sangat kesulitan untuk hening. Hening bukan sekedar tidak berbicara atau tidak ada suara. Tapi hening adalah sikap batin yang siap mendengarkan. Hal yang sering terjadi dalam hening di hadapan Yesus kita sibuk dengan segala masalah hidup. Saat hening menjadi saat untuk mengungkapkan segala gejolak hati. Akibatnya dalam diri kita menjadi ribut oleh segala pemikiran yang simpang siur atau khayalan-khayalan yang meloncat-loncat. Dalam hening semua pikiran kita tertuju pada Yesus seperti seorang hamba yang menanti tuannya berbicara. Kita berusaha mendengarkan Sabda Yesus sehingga kita sungguh menyakini bahwa Dia adalah Mesias.

Powered By Blogger