Sabtu, 30 Juli 2011

KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN


Menurut laporan FAO pada bulan Mei 2011 di dunia ada 925 juta orang yang kelaparan akibat terjadinya kegagalan panen karena cuaca yang tidak menentu, serangan hama dan kurangnya prasaran untuk mendukung pertanian. Di negara kita yang katanya subur makmur pun tidak jarang ditemui kasus balita kurang gizi yang parah dan daerah yang kekurangan makanan. Sebetulnya bahan makan yang tersedia di dunia cukup bagi semua orang tapi karena penyaluran yang tidak berjalan baik dan pembagian yang tidak merata maka disatu sisi ada orang yang membuang makanan disisi lain ada orang yang kelaparan. Menurut FAO setiap tahun ada 1,3 milyar ton bahan makanan yang dibuang terutama di Eropa dan AS utara atau setiap orang disana membuang 95 kg sampai 115 kg setiap tahun.

Situasi ini sangat memprihatinkan dan menunjukkan kurang adanya solidaritas diantara manusia. Kita pun dapat menjadi salah satu orang yang membuang makanan tanpa peduli pada sesama yang sangat membutuhkan. Menurut sebuah penelitian 1 kg beras terdiri dari 3 juta butir beras. Bila setiap hari kita makan 3 kali dan membuang 1 butir nasi maka kita sudah membuang 3 butir tiap hari atau 1050 setiap tahun. Bila penduduk Indonesia sebanyak 250 juta dan mereka membuang 1 butir nasi tiap makan maka setiap hari akan terbuang nasi 750 juta nasi atau 250 kg beras. Bila satu orang makan 2 ons beras setiap hari maka ada 1250 orang yang dapat makan kenyang setiap hari. Ini baru 1 butir nasi setiap hari. Padahal kita sering membuang berbutir-butir nasi setiap makan tanpa pernah mengingat ada orang yang kelaparan di tempat lain.

Ketika melihat banyak orang yang mengikutiNya lapar, maka Yesus memerintahkan para murid untuk memberi mereka makan. Para murid tidak mempunyai makanan selain 5 roti dan 2 ikan. Semua itu tidak cukup untuk 5000 orang lelaki belum termasuk perempuan dan anak-anak. Yesus tidak mengharapkan turunnya manna seperti pada jaman Musa atau tergoda untuk membuat roti dari batu seperti yang pernah dikatakan iblis pada saat mencobaiNya. Dia meminta muridNya untuk membawa roti dan ikan itu. Dia ingin melibatkan para murid dalam mengatasi masalah kelaparan meski apa yang mereka miliki tidak ada artinya bagi sekian ribu orang.

Sering kali kita meremehkan apa yang sedikit kita miliki. Apa yang kita miliki tidak akan mampu menyelesaikan masalah kelaparan. Tapi ditangan Yesus apa yang kita miliki bisa berubah mampu mencukupi kebutuhan banyak orang. Memang dalam peristiwa itu tidak dipungkiri adanya mujijat atau kuasa Allah yang berkarya. Pada saat ini Yesus tidak ada ditengah kita untuk mengubah roti yang kita miliki sehingga mencukupi kebutuhan semua orang. Tapi kita dapat mengambil semangat dari peristiwa itu bahwa kita harus terlibat dalam masalah pangan. Kita diajak untuk berbagi bahan makanan dengan banyak orang yang kelaparan.

Untuk itu kita perlu mampu mengendalikan diri sehingga kita hanya memakan apa yang kita butuhkan. Tidak membeli atau membuat makanan secara berlebihan sehingga ada kemungkinan dibuang. Kita memakan semua makanan kita sampai butir nasi yang terakhir. Hal ini hanya dapat kita lakukan bila kita senantiasa menyadari bahwa ada jutaan manusia yang mati akibat kelaparan. Ada semangat solider dalam diri dan malu bahwa dengan membuang makanan maka kita telah menyebabkan saudara kita mati kelaparan. Ketika masih kecil ibu senantiasa mengingatkan aku agar menghabiskan setiap nasi yang ada di piring sebab dewa Sri, dewi padi dalam kepercayaan Jawa, akan menangis bila dibuang. Ketersediaan bahan makanan hanya dapat terjadi bila orang tidak serakah dan bertindak sewenang-wenang terhadap bahan makanan.

Kelaparan sesama adalah tanggungjawab kita bersama. Maka dalam masa puasa kita diingatkan agar mengurangi makan dan minum sehingga kita mampu mengumpulkan dari apa yang sedikit demi kesejahteraan sesama. Yesus tidak perlu lagi datang untuk membuat mujijat pergandaan roti, tapi tugas tanggungjawab ini sekarang ada di pundah kita. Oleh karena itu hendaknya kita rela berbagi makanan. Bukan menyuruh Tuhan untuk memberi orang yang lapar seperti seringkali kudengar pada saat doa makan.

Minggu, 24 Juli 2011

MAKAN DI RESTORAN MEWAH

Suatu hari aku diajak oleh seseorang untuk makan di sebuah tempat yang sangat mewah. Dia ingin agar aku bisa merasakan situasi yang berbeda dari yang sering aku alami di tengah kaum sederhana dan warung sederhana di trotoar. Memasuki suatu ruang yang mewah dan penuh makanan yang asing bagiku membuatku bingung mau makan apa terlebih dahulu. Temanku menunjukkan apa yang sebaiknya aku makan. Ketika sedang makan seorang pelayang mengamatiku dengan tatapan yang aneh. Aku bertanya pada temanku kenapa pelayan itu melihatku dengan tatapan yang aneh? Temanku meminta agar aku mengabaikan saja. Dia sadar bahwa aku merasa tidak nyaman berada di tempat ini.

Temanku tersenyum sambil berbisik dia mengatakan agar aku menurunkan kakiku dari kursi. Memang aku sedang duduk bersila di atas kursi. Aku terbiasa duduk seperti itu, sebab bagiku cara duduk seperti itu sangat nyaman. Setelah selesai makan, temanku bertanya bagaimana makan di tempat itu? Aku katakan bahwa makanan menjadi tidak nyaman sebab terlalu banyak tata cara yang membuatku tidak nyaman.

Kita mempunyai banyak tata cara saat dalam kehidupan, meski tata cara suatu daerah dapat berbeda dengan daerah yang lain. Sebagian orang berpendapat bahwa pada saat makan orang tidak boleh berbicara. Sedangkan sebagian lagi mengatakan bahwa saat makan adalah saat yang nyaman untuk mengadakan pembicaraan. Sering kali tata cara hanya untuk menambah keindahan atau kesopanan bukan untuk menambah hakekat yang dari yang sedang dikerjakan. Ketika makan di tempat mewah itu aku dihadapkan pada beberapa sendok, ada kain besar yang harus aku letakkan di paha, ada urutan masakan yang harus kumakan dan sebagainya. Bagiku sendok adalah alat untuk mempermudah memasukan makanan ke dalam mulut, maka aku tidak peduli mau sendok sup atau sendok nasi. Hal yang terpenting bagiku adalah makanan itu terasa enak di mulut dan berguna bagi tubuhku. Maka mengapa orang mempersoalkan sendok yang kugunakan bukan rasa makanan dan kegunaan makanan bagi tubuhku? Mengapa orang mempersoalkan caraku duduk bukan mempersoalkan kenikmatan yang kuperoleh? Apakah bila aku duduk dengan rapi maka akan lebih menikmati makanan?

Sering orang terpaku pada tata cara sehingga melupakan hakekatnya. Suatu hari Yesus ditegur oleh orang Farisi mengapa murid-muridNya makan tanpa cuci tangan? Orang Farisi sangat teguh dalam memegang tata cara. Bagi mereka keselamatan akan didapat bila mereka mentaati semua tata cara yang sudah ditetapkan. Banyak tata cara sampai hal yang terkecil dan sederhana pun harus diikuti. Mencuci peralatan dapur pun ada tata caranya yang harus dijalankan. Yesus mengkritik mereka sebab mereka terlalu memusatkan perhatian pada pelaksanaan tata cara sedetil mungkin bukan mencari hakekat yang terdalam dari apa yang mereka kerjakan.

Apa yang dilakukan oleh orang Farisi pun terus terjadi sampai saat ini. Orang terpusat pada tata cara liturgi saat misa sampai dia melupakan apakah hakekat misa itu. Baginya misa yang baik adalah bila semua tata cara dijalankan dengan urut dan benar. Padahal misa adalah sakramen kesatuan antara Allah dengan manusia dan manusia dengan sesamanya. Hakekat ini sering diabaikan sebab lebih memperhatikan tata cara. Bila terlalu memusatkan diri pada tata cara, maka sebagian orang mungkin tidak dapat merasakan kenikmatan misa. Seperti ketika aku disibukkan untuk menjalankan semua tata cara makan di sebuah rumah makan mewah sehingga aku tidak dapat menikmati makanan. Maka aku merasa lebih nyaman makan di warung sederhana dimana aku makan demi makan tanpa harus disibukkan dengan tata cara.

Sabtu, 23 Juli 2011

KERAJAAN SORGA


“Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:45-46)

Yesus mengajarkan kerajaan sorga dengan berbagai perumpamaan. Kerajaan sorga bukanlah situasi pada saat setelah manusia mati saja, melainkan gambaran kerajaan sorga sudah ada di bumi yaitu bila manusia mampu menciptakan situasi yang damai, tentram, bahagia, dan rukun, sebab semua anggotanya hidup berdasarkan kasih yang penuh pengorbanan. Orang yang menemukan situasi ini akan rela melepaskan semua apa yang dimilikinya. Seorang teman mengatakan bahwa ajaran ini terlalu berlebihan, tapi sebetulnya tidak. Situasi yang tercipta dalam kerajaan sorga sangat diharapkan oleh seluruh manusia di muka bumi. Maka salah satu permohonan dalam doa Bapa Kami adalah menjadikan bumi seperti di dalam sorga.

Tapi situasi ini tidak mudah dicapai. Selama ribuan tahun sejarah manusia mencatat aneka peperangan. Mungkin belum pernah sehari pun di bumi tidak ada pertengkaran, pembunuhan, bahkan dalam skala lebih besar yaitu peperangan antar bangsa. Sejarah mencatat beberapa kali terjadi perang besar yang menelan kurban harta benda yang sangat besar dan jutaan jiwa manusia. Belum lagi pertengkaran dalam skala kecil di dalam rumah tangga dan masyarakat sekeliling kita yang membuat hidup menjadi seperti di neraka. Mengapa disatu sisi orang berharap terjadinya situasi damai tapi disisi lain mereka melakukan kekerasan dan perseteruan?

Mungkin kita masih ingat film komedi satire tentang kehidupan manusia yang berjudul The Gods Must Be Crazy (1980) yang dibintangi secara bagus oleh N!xau dan Marius Weyers. Film itu mengisahkan kehidupan manusia semak yang sangat berbeda dengan manusia modern. Manusia semak yang tinggal di gurun Kalahari hidup rukun dan selalu ceria sampai semua rusak akibat kehadiran sebuah botol Coca Cola yang dilemparkan oleh seorang pilot dari jendela pesawat terbang. Mereka kagum terhadap botol itu sebab mutifungsi. Botol itu digunakan untuk menumbuk, menggiling, membuat lubang dan sebagainya. Tiba-tiba semua orang ingin menggunakan botol itu dan merasa bahwa kepentingannya menjadi paling penting. Akhirnya mereka saling berebut sebab botol itu belum selesai mereka gunakan. Terjadi pertengkaran dan pemukulan. Suatu hal yang belum pernah mereka lakukan. Pada malam hari dimana biasanya mereka bercerita dan bergembira tiba-tiba semua menjadi kehilangan kegembiraannya, sebab merasa malu telah melakukan kekerasan. Akhirnya Xi berusaha membuang botol yang dianggapnya kekuatan jahat ke ujung dunia.

Kegembiraan orang semak hilang akibat orang mulai mempunyai keinginan untuk memiliki dan merasa bahwa kepentingannya harus didahulukan. Dua sikap inilah yang kerap menjadi awal perselisihan yang menghilangkan persaudaraan dan kegembiraan. Rasa ingin memiliki dan ingin didahulukan dapat terus berkembang menjadi sifat keserakahan dan kesewenang-wenangan yang merugikan sesama. Yesus mengajar agar para murid tidak berusaha menjadi yang utama, melainkan menjadi hamba yang melayani dan menjadikan apa yang dimiliki menjadi milik bersama. Orang tidak lagi terlekat pada apa yang dimilikinya sehingga dia rela berbagi dengan sesama. Bila hal ini terjadi maka terciptalah kerajaan sorga yang sangat didambakan oleh semua orang.

Dengan demikian kerajaan sorga bukanlah sesuatu yang kita nantikan dengan hanya memusatkan diri pada ibadah tapi adalah sebuah usaha bersama untuk membangun kehidupan yang lebih baik lagi yaitu dengan mengasihi sesama manusia. Kasih yang rela berkorban seperti yang telah diteladankan oleh Yesus sendiri. Pada jaman yang semakin egois seperti saat ini tampaknya kerajaan sorga semakin kabur dan sulit terbentuk. Maka perlu adanya perubahan dari diri sendiri untuk mulai hidup penuh kasih dan melepaskan keinginan untuk memiliki dan menjadi utama.

Kamis, 21 Juli 2011

MENGELUH

“Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." (Kel 16:2-3)

Ketika umat Israel masih berada di Mesir mereka merasa tertekan sebab diperlakukan tidak adil oleh orang Mesir. Puncak penderitaan mereka adalah ketika anak lelaki yang lahir harus dibunuh. Padahal bagi orang Israel anak lelaki adalah sangat diharapkan, maka ada ahli yang mengatakan bahwa meski sudah punya anak perempuan bila belum punya anak lelaki maka dianggap belum mempunyai anak. Teriakkan derita mereka sampai ke telinga Tuhan, sehingga Tuhan mengutus Musa untuk membawa orang Israel keluar dari Mesir. Tapi dalam perjalanan menuju tanah terjanji umat Israel sering mengeluh pada Musa. Bahkan mereka menyatakan lebih enak di Mesir.

Kita pun dapat menjadi seperti umat Israel yang sudah ditolong keluar dari penderitaan tapi masih terus mengeluh dan menuntut bila merasa menghadapi kesulitan. Seorang teman semula tidak bekerja padahal dia sudah berkeluarga. Dia mengatakan hidupnya berat dan meminta untuk dicarikan pekerjaan. Saat mendapat pekerjaan pada awalnya dia sangat senang, tapi lambat laun mulai mengeluh akan beratnya pekerjaan yang harus dijalani. Begitu pula suatu keluarga dia sudah lama mendambakan anak. Tapi setelah mempunyai anak mulai banyak keluhan tentang anaknya yang dianggap cukup merepotkan dan menguras pikirannya.

Semua orang ingin terus mendapatkan yang dianggap membahagiakan bagi hidupnya. Dia enggan masuk dalam sesuatu yang sulit. Padahal dalam perjalanan hidup ada hal-hal yang diluar kehendak manusia. Kesulitan belum tentu merupakan akhir perjalanan hidup. Seperti umat Israel beratnya perjalanan menuju tanah terjanji berbuah ketika mereka mampu membangun kerajaan. Andai mereka terus hidup di Mesir maka sulit bagi mereka untuk menjadi bangsa yang merdeka. Mereka akan tetap menjadi warga negara Mesir bukan warga negara Israel.

Tuhan mempunyai rencana yang tersembunyi bagi hidup kita. Sering kali untuk sampai kesana melalui jalan-jalan yang menyakitkan. Inilah tantangan kita untuk bertahan dan terus berjalan mengikuti kehendakNya. Keluhan dapat muncul bila kita hidup di masa lampau. Umat Israel hidup di masa lampau, maka membandingkan hidup sekarang dengan masa lampau. Maka perlu kesadaran bahwa hidup adalah hari ini dan disini. Apa pun yang terjadi pada saat ini dihadapi tanpa perlu membandingkan dengan masa lampau. Keberanian menjalani hidup saat ini dan disini akan menumbuhkan semangat juang. Berusaha untuk menyelesaikan masalah dan terus menanamkan harapan bahwa besok pasti akan lebih baik. Membandingkan hidup hanya akan membuat putus asa dan tidak menyelesaikan masalah. Kita akan terus protes pada Tuhan.

KOMUNIKASI (2)

“Bukankah panas terik disusutkan embun? Demikianpun sebuah perkataan baik lebih berhargalah dari pada pemberian.” (Sir 18:16)

Setiap hari kita selalu berbicara, kecuali pada saat kita sedang retret atau tinggal sendiri di suatu tempat. Bila kita hitung dalam persen, dalam sehari berapakah pembicaraan kita yang bermutu dan berapa yang tidak bermutu? Pembicaraan bermutu adalah bila apa yang kita katakan membuat orang lain menjadi lebih berkembang, lebih baik atau menjadi manusia yang lebih mampu menghargai martabatnya dan martabat sesama. Sedangkan pembicaraan yang tidak bermutu adalah rumor atau yang menimbulkan perpecahan dan sakit hati atau yang tidak menambah sesuatu pun bagi sesama.

Sirakh mengingatkan bahwa perkataan yang baik lebih berharga daripada pemberian. Bila orang menerima pemberian maka cepat atau lambat pemberian itu akan habis dan orang hanya dapat mengingat bahwa dulu dia pernah diberi oleh kita. Tapi bila orang menerima perkataan, maka perkataan itu dapat terus melekat dalam ingatannya dan menjadi pegangan hidupnya. Bahkan mungkin dapat mengubah perjalanan hidupnya. Sudah banyak contoh orang yang berubah jalan hidupnya karena membaca atau mendengar perkataan seseorang. Orang jahat berubah menjadi baik dan sebaliknya. Kadang kala kita tidak menyadari bahwa apa yang kita katakan dapat mengubah orang. Maka perlu berhati-hati dalam mengungkapkan kata-kata. Bila kita berkata-kata seolah kita sedang memberikan pemberian yang berharga pada sesama demi kebaikannya.

KOMUNIKASI

Jaman ini ditandai dengan semakin canggihnya alat komunikasi. Orang menjadi lebih mudah berkomunikasi. Tapi menurut penilitian yang dilakukan oleh University of North Carolina tentang komunikasi di tempat kerja menunjukkan hasil yang berbeda. Orang semakin mudah salah paham, sehingga terjadi perselisihan. Orang menjadi lebih kasar dan tidak peka terhadap sesamanya. Akibatnya kerja sama tidak berjalan dengan baik, padahal dalam sebuah perusahaan dibutuhkan kerja sama untuk mencapai tujuan.

Komunikasi yang baik dapat menumbuhkan saling percaya yang sangat penting dalam kerja sama di semua bidang. Tapi karena orang berpikir tentang efektif dan efesien maka komunikasi dilakukan melalui internet, SMS, telepon dan alat lainnya. Dalam menggunakan bahasa pun orang berusaha sesingkat mungkin, maka muncul istilah LOL, OTW, BTW, q, dan sebagainya. Kalimat yang singkat dapat ditangkap berbeda sehingga menimbulkan salah duga dan menghilangkan perasaan. Komunikasi menjadi kering, kurang sopan santun, kurang ada seni untuk mendengarkan dan lainnya.

Alat komunikasi dapat menghilangkan kemanusiaan, sebab orang tidak menangkap perasaan yang terungkap dalam ekspresi wajah dan gerakkan tubuh. Jika kita mendengarkan orang menceritakan lelucon maka kita tertawa. Temanmu pun senang melihat kegembiraan kita. Tapi bila melalui SMS maka kita hanya menulis LOL dan temanpun tidak menangkap ekspresi kebahagiaan kita, sehingga cerita lucu pun menjadi kering dan membosankan. Kita pun menjadi kehilangan rasa komunikasi.

Jumat, 15 Juli 2011

ALLAH ADALAH MISTERI -3

Menurut para ahli fisika quantum cahaya adalah misteri yang bukan partikel atau gelombang. Tapi kita masih dapat melihat dan merasakan cahaya meski pikiran kita belum mampu menguak apa sebenarnya cahaya itu. Jika Allah adalah misteri maka apakah Allah adalah sesuatu yang dapat diindrai tapi belum mampu dipahami sepenuhnya? Jika Allah dapat diindrai meski belum mampu dikuak maka Allah menjadi materi. Padahal Allah bukan materi seperti cahaya. Bila Allah tidak dapat diindrai maka orang dapat berpendapat bahwa Alllah adalah ketiadaan.

Tidak semua dapat diindrai secara langsung. Kita dapat mengatakan sesuatu ada tanpa harus mengindrai sesuatu itu. Kita mendengarkan suara seruling yang indah yang ditiup oleh seorang yang berbakat. Suara seruling dapat kita indrai tapi bakat peniupnya tidak dapat kita indrai. Kita hanya dapat mengagumi kemampuan orang itu. Maka sesuatu dapat kita anggap ada juga dari buah yang kita rasakan.

Pengenalan akan Allah bukan dimulai dari usaha memecahkan misteri Allah tapi dari rasa takjub dari apa yang telah diciptakanNya. Usaha memecahkan misteri Allah dapat menimbulkan diskusi panjang yang dapat berujung pada perpecahan dan kekerasan, sebab setiap orang meyakini kebenarannya masing-masing. Tapi bila berdasarkan takjub orang akan melepaskan akal budi. Aku takjub saat melihat matahari terbenam, sedangkan orang lain takjub saat melihat gelombang laut. Kami tidak bisa memaksakan agar mengagumi hal yang sama. Demikian pula dalam hal iman.

Powered By Blogger