Jumat, 02 Agustus 2013
DONA DONA DONA
Suatu hari aku mendengarkan lagu berjudul Donna Donna Donna yang dinyanyikan Joan Baez. Sebuah lagu kuno yang dulu waktu kecil sering aku dengar dinyanyikan oleh kakak-kakak mahasiswa yang sedang makan di rumah. Beberapa teman mengatakan lagu itu menjadi soundtrack film Gie. Sayang aku tidak nonton film itu. Semula aku mengira lagu itu bercerita tentang gadis yang bernama Donna, tetapi waktu membaca liriknya ternyata bukan. Dari Wikipedia aku tahu bahwa lagu itu merupakan ungkapan seorang Yahudi yang melihat kekejaman Nazi.
Lagu Donna Donna Donna diciptakan oleh Aaron Zeitlin (1898-1973) dan Sholmon Secunda (1894-1974) sebagai komposernya. Lagu ini menceritakan seekor sapi yang akan dibawa ke pembantaian. Dia sedih dan tidak tahu mengapa dia harus dipotong. Seorang petani mengatakan agar sapi tidak perlu mengeluh. Bahkan dia menyalahkan mengapa sapi tidak mempunyai sayap seperti burung walet yang dapat terbang bebas. Kepedihan hati sapi ini ditertawakan oleh angin dan walet yang bebas terbang di angkasa. Refrein Donna Donna Donna semula adalah Dana Dana. Dana sebetulnya merujuk pada Adonai atau Allah yang perkasa. Sebuah sebutan lain bagi Allah, sebab orang Yahudi takut menyebut Allah dengan sebutah Yahweh seperti nama yang diberikan Allah kepada Musa. Maka Dana Dana adalah teriakkan sapi itu kepada Allah. Sebetulnya lagu ini mengisahkan bangsa Yahudi yang digambarkan sebagai sapi yang akan dibawa ke tempat pembantaian oleh Nazi pada saat perang dunia kedua. Mereka diolok mengapa menjadi Yahudi sehingga tidak dapat bebas dan terbang tinggi. Lagu ini menjadi terkenal setelah liriknya diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwart lalu dinyanyikan oleh Joan Baez pada tahun 1960. Judulnya yang semula Dana Dana berubah menjadi Donna Donna.
Bagiku lagu Donna Donna Donna masih sangat relevan hingga saat ini. Donna Donna Donna adalah jeritan keputusasaan dari orang tertindas yang tidak mempunyai daya lagi. Mereka hanya dapat menatap sedih atas nasib yang harus mereka alami tanpa ada orang yang mau menolongnya. Orang lain hanya seperti petani yang menegur agar mereka tidak perlu mengeluh tentang nasib yang harus mereka alami. Atau menyalahkan mengapa kamu bernasib miskin. Mengapa kamu dilahirkan sebagai orang miskin atau cacat atau kaum marginal. Mengapa kamu tidak dilahirkan untuk memiliki kekuatan yang dapat membuatmu dapat menikmati kebebasan dan kebanggaan. Sebagian orang hanya mentertawakan nasib yang harus dialami oleh orang tertindas. Mereka seperti burung walet yang menunjukkan kebebasannya atau seperti angin yang mentertawakan sepanjang malam.
Ada jutaan orang-orang tak berdaya seperti sapi yang akan dibawa ke pembantaian. Mereka tidak tahu mengapa hidup mereka menderita seperti ini. Mereka pun sebetulnya tidak ingin menjalani hidup seperti ini. Semua manusia ingin menikmati kebebasan dan mampu menjadi dirinya sendiri apa adanya yang membuatnya bangga sebagai dirinya. Penindasan terjadi disebabkan adanya orang-orang yang merasa dirinya kuat atau mempunyai kekuatan sehingga dia dapat memperlakukan sesamanya seperti apa yang diinginkannya. Dia dapat merampas kemerdekaan sesamanya dan menjadikannya seperti sapi yang tidak berdaya.
Pembantaian ala Nazi terhadap Yahudi memang sudah jarang terjadi. Tetapi pembantaian terjadi dalam bentuk lain. Arogansi mayoritas yang menindas kebebasan minoritas dalam aneka bentuk. Arogansi kekuasaan yang menindas orang yang tidak berkuasa dan sebagainya masih terjadi di depan mata kita. Petani yang dirampas hak atas tanahnya oleh aparat penguasa dan keamanan. Orang beragama yang dirampas kebebasanannya untuk hidup sesuai dengan agamanya. Orang lahir dari etnis tertentu yang ditindas sebab dia lahir dalam etnis itu. Semua itu masih terjadi di negara kita.
Para korban seperti sapi yang hanya dapat menatap sedih akan semua itu. Orang lain hanya menyalahkan mereka mengapa mereka memeluk agama minoritas. Mengapa dia lahir di etnis tertentu. Mengapa petani tidak mau mengikuti kemauan para penguasa yang telah dibeli oleh para pemilik modal. Para penguasa yang mempunyai kekuasaan seperti burung walet yang hanya menatap dan mendiskusikan di ruang-ruang aman tanpa berusaha berbuat sesuatu. Mereka membuat pernyataan-pernyataan hebat yang bukan bersumber dari keinginan untuk membela tetapi demi menjaga popularitas dan merebut hati rakyat. Hal ini sama saja dengan mentertawakan kebodohan kaum tertindas. Kaum tertindas akhirnya hanya berteriak pada Allah. Mereka mengharap kekuatan Allah sendiri yang akan mengubah situasi hidup mereka. Teriakan putus asa ini disebabkan mereka merasa sudah tidak ada lagi orang yang mau menolong dan peduli atas hidupnya.
Gereja adalah komunitas pengikut Yesus. Allah telah hadir di dunia untuk membebaskan kaum tertindas, orang yang tertawan, orang yang menderita seperti yang dikatakan oleh Yesus pada awal karyaNya (Luk 4:18-19). Pernyataan Yesus itu adalah misi yang akan dijalani sepanjang hidup dan diteruskan pada para pengikutNya. Tugas Gereja bukan hanya berkutat pada hal karitatif dan keindahan liturgi atau menambah jumlah anggota. Tugas Gereja adalah melakukan pembebasan dan pembentukan sebuah masyarakat yan berbudaya baru. Masyarakat yang adil, semartabat, sejahtera dan melepaskan aneka sekat manusia berdasarkan kasih kepada Allah dan sesama. Jika Gereja melakukan tugasnya maka tidak ada lagi orang yang berteriak pada Allah sebab Allah sudah sungguh nyata dalam tubuh Gereja. Tetapi apakah sejauh ini Gereja sudah menjalankan misi Yesus yang tertuang dalam Injil Lukas? Sudahkah Gereja membangun budaya baru dengan terus menyerukan pertobatan seperti yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis (Luk 3:3-17)? Tampaknya hal ini masih jauh dari kenyatan, sehingga masih banyak orang akan bernyanyi Donna Donna Donna.
Rabu, 11 April 2012
KISAH SENGSARA DI SERAWAI: KAYAFAS

Dalam kisah sengsara perhatian orang banyak terpusat pada beberapa pribadi yang dianggap biang keladi atau orang jahat. Pertama adalah Yudas Iskariot seorang murid yang mengkhianati gurunya, Petrus murid yang menyatakan akan berani mati tetapi akhirnya menyangkal gurunya dan Pilatus pemimpin Romawi yang menyerahkan Yesus pada pengadilan rakyat yang membenciNya setelah menyiksannya dengan keji. Ketiga tokoh ini banyak dibahas dan disalahkan, terutama Yudas Iskariot. Tetapi jarang sekali orang membahas sumber masalahnya yaitu Kayafas.
“Kayafaslah yang telah menasihatkan orang-orang Yahudi: "Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa.” (Yoh 18:14). Memang apa yang dikatakan Kayafas ini hanya ada dalam Injil Yohanes. Dalam Injil Matius para imam kepala berkumpul di rumah Kayafas untuk merencanakan penangkapan Yesus dengan keputusan agar tidak pada saat perayaan Paskah agar tidak menimbulkan kekacauan. “Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas, dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia.” (Mat 26:3-4). Injil Markus tidak sekalipun menyebut Kayafas sedangkan Injil Lukas hanya sekali menyebut nama Kayafas yaitu pada saat Yesus lahir. Mungkin oleh karena tidak ditulis oleh semua Injil maka peran Kayafas terlewatkan dari perhatian orang.
Jika melihat apa yang dikatakan oleh Kayafas pada Injil Yohanes maka jelaslah bahwa ide pembunuhan Yesus itu dimunculkan oleh Kayafas. Dialah orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan Yesus dan penyusun skenarionya. Kayafas sebagai imam kepala sangat berkepentingan atas kematian Yesus, sebab tindakan dan ajaran Yesus telah mampu menarik banyak orang sehingga mereka mengikutiNya. “Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.” (Yoh 12:10-11). Kehadiran Yesus telah menggoyahkan kedudukan dan posisi para imam di dalam masyarakat Yahudi. Mereka yang semula ditaati, dihargai dan mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Yahudi, kini mulai kehilangan pengaruhnya. Satu-satunya jalan untuk mengembalikan semua itu adalah dengan menghilangkan Yesus.
Jika semakin banyak rakyat yang lebih percaya pada Yesus daripada para imam dan mereka mengikuti Yesus, maka para imam akan kehilangan banyak pemasukan. Imam kepala atas persetujuan kekuasaan Romawi menguasai bait Allah. Sebetulnya bait Allah bukan hanya pusat keagamaan dan adat melainkan juga pusat perputaran uang. Ada pajak bait Allah yang dibebankan pada rakyat, “Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?” (Mat 17:24). Bait Allah juga menjual hewan yang akan dipersembahkan pada bait Allah dengan harga yang berlipat lipat sehingga Yesus mengatakan sebagai sarang penyamun. "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." (Mat 21:13). Bait Allah juga menerima persembahan-persembahan dari umat. Maka di bait Allah ada banyak uang. Jika semakin banyak orang meninggalkan para imam dan bait Allah maka para imam akan kehilangan pemasukan uang. Dengan demikian pembunuhan Yesus adalah usaha Kayafas untuk memulihkan posisi imam kepala di dalam masyarakat Yahudi dan menyelamatkan pemasukan uang yang dapat hilang..
Kayafas bukanlah satu-satunya orang yang melakukan cara-cara kejam mengurbankan sesamanya dengan berlindung dibalik nasionalisme, hukum agama, adat istiadat dan sebagainya demi mempertahankan kedudukan, pengaruh dan pemasukannya. Sampai saat ini terus bermunculan Kayafas-Kayafas baru dalam berbagai versi. Kurban pun terus berjatuhan. Dalam perjalanan sejarah bangsa kita pun hadir Kayafas-Kayafas yang tega menghilangkan atau membunuh orang yang berani mengusik kedudukannya. Munir, Wiji Thukul, Petrus Bima dan sebagainya adalah deretan kurban yang dianggap dapat mengusik kedudukan seseorang. Masih banyak lagi kurban yang tidak sampai dibunuh atau dihilangkan tapi dimatikan kehidupan sosialnya.
Kayafas menghasut rakyat untuk membunuh Yesus agar kepentingannya tetap terjaga. Dalam melakukan usahanya itu Kayafas bekerja sama dengan kaum Farisi, ahli Taurat, tua-tua bangsa dan penjajah Romawi. Mereka berhasil menghasut rakyat agar Yesus dihukum mati. Di sini pun ada Kayafas yang menghasut rakyat untuk membunuh secara sosial siapa saja yang berani melawan kehendaknya untuk menguasai tanah. Dia bekerja sama dengan para ketua adat yang menguasai hukum adat, pemerintahan yang menguasai hukum negara dan aparat kepolisian yang menegakkan hukum negara. Seperti Kayafas yang membeli Yudas Iskariot dengan 30 keping uang perak agar dia mengkhianati Yesus, maka Kayafas disini pun membeli beberapa orang dengan uang atau jabatan agar mengkhianati sesamanya, kelompoknya, keluarganya bahkan dirinya dan perjuangannya sendiri.
Seperti Kayafas yang berlindung demi keselamatan bangsa, maka Kayafas disini pun berlindung dibalik anjuran presiden, peraturan menteri, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat untuk merampas tanah rakyat demi kemakmuran pribadi. Mereka tidak peduli rakyat yang tidak berdaya menjadi kurban keserakahan dan kepentingannya. Mereka tidak peduli rakyat akan mati sebab alam menjadi rusak, orang kehilangan ladang, anak cucu mereka tidak mempunyai ladang untuk menyambung kehidupannya. Mereka telah menjatuhkan hukuman mati bukan bagi orang yang hidup saat ini tapi juga anak cucu mereka yang hidup saat ini. Inilah Kayafas disini. Masih banyak lagi contoh Kayafas lain yang hanya hidup demi mempertahankan kepentingan diri sendiri meskipun harus mengurbankan masyarakat yang tidak berdaya.
“Kayafaslah yang telah menasihatkan orang-orang Yahudi: "Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa.” (Yoh 18:14). Memang apa yang dikatakan Kayafas ini hanya ada dalam Injil Yohanes. Dalam Injil Matius para imam kepala berkumpul di rumah Kayafas untuk merencanakan penangkapan Yesus dengan keputusan agar tidak pada saat perayaan Paskah agar tidak menimbulkan kekacauan. “Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas, dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia.” (Mat 26:3-4). Injil Markus tidak sekalipun menyebut Kayafas sedangkan Injil Lukas hanya sekali menyebut nama Kayafas yaitu pada saat Yesus lahir. Mungkin oleh karena tidak ditulis oleh semua Injil maka peran Kayafas terlewatkan dari perhatian orang.
Jika melihat apa yang dikatakan oleh Kayafas pada Injil Yohanes maka jelaslah bahwa ide pembunuhan Yesus itu dimunculkan oleh Kayafas. Dialah orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan Yesus dan penyusun skenarionya. Kayafas sebagai imam kepala sangat berkepentingan atas kematian Yesus, sebab tindakan dan ajaran Yesus telah mampu menarik banyak orang sehingga mereka mengikutiNya. “Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.” (Yoh 12:10-11). Kehadiran Yesus telah menggoyahkan kedudukan dan posisi para imam di dalam masyarakat Yahudi. Mereka yang semula ditaati, dihargai dan mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Yahudi, kini mulai kehilangan pengaruhnya. Satu-satunya jalan untuk mengembalikan semua itu adalah dengan menghilangkan Yesus.
Jika semakin banyak rakyat yang lebih percaya pada Yesus daripada para imam dan mereka mengikuti Yesus, maka para imam akan kehilangan banyak pemasukan. Imam kepala atas persetujuan kekuasaan Romawi menguasai bait Allah. Sebetulnya bait Allah bukan hanya pusat keagamaan dan adat melainkan juga pusat perputaran uang. Ada pajak bait Allah yang dibebankan pada rakyat, “Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?” (Mat 17:24). Bait Allah juga menjual hewan yang akan dipersembahkan pada bait Allah dengan harga yang berlipat lipat sehingga Yesus mengatakan sebagai sarang penyamun. "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." (Mat 21:13). Bait Allah juga menerima persembahan-persembahan dari umat. Maka di bait Allah ada banyak uang. Jika semakin banyak orang meninggalkan para imam dan bait Allah maka para imam akan kehilangan pemasukan uang. Dengan demikian pembunuhan Yesus adalah usaha Kayafas untuk memulihkan posisi imam kepala di dalam masyarakat Yahudi dan menyelamatkan pemasukan uang yang dapat hilang..
Kayafas bukanlah satu-satunya orang yang melakukan cara-cara kejam mengurbankan sesamanya dengan berlindung dibalik nasionalisme, hukum agama, adat istiadat dan sebagainya demi mempertahankan kedudukan, pengaruh dan pemasukannya. Sampai saat ini terus bermunculan Kayafas-Kayafas baru dalam berbagai versi. Kurban pun terus berjatuhan. Dalam perjalanan sejarah bangsa kita pun hadir Kayafas-Kayafas yang tega menghilangkan atau membunuh orang yang berani mengusik kedudukannya. Munir, Wiji Thukul, Petrus Bima dan sebagainya adalah deretan kurban yang dianggap dapat mengusik kedudukan seseorang. Masih banyak lagi kurban yang tidak sampai dibunuh atau dihilangkan tapi dimatikan kehidupan sosialnya.
Kayafas menghasut rakyat untuk membunuh Yesus agar kepentingannya tetap terjaga. Dalam melakukan usahanya itu Kayafas bekerja sama dengan kaum Farisi, ahli Taurat, tua-tua bangsa dan penjajah Romawi. Mereka berhasil menghasut rakyat agar Yesus dihukum mati. Di sini pun ada Kayafas yang menghasut rakyat untuk membunuh secara sosial siapa saja yang berani melawan kehendaknya untuk menguasai tanah. Dia bekerja sama dengan para ketua adat yang menguasai hukum adat, pemerintahan yang menguasai hukum negara dan aparat kepolisian yang menegakkan hukum negara. Seperti Kayafas yang membeli Yudas Iskariot dengan 30 keping uang perak agar dia mengkhianati Yesus, maka Kayafas disini pun membeli beberapa orang dengan uang atau jabatan agar mengkhianati sesamanya, kelompoknya, keluarganya bahkan dirinya dan perjuangannya sendiri.
Seperti Kayafas yang berlindung demi keselamatan bangsa, maka Kayafas disini pun berlindung dibalik anjuran presiden, peraturan menteri, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat untuk merampas tanah rakyat demi kemakmuran pribadi. Mereka tidak peduli rakyat yang tidak berdaya menjadi kurban keserakahan dan kepentingannya. Mereka tidak peduli rakyat akan mati sebab alam menjadi rusak, orang kehilangan ladang, anak cucu mereka tidak mempunyai ladang untuk menyambung kehidupannya. Mereka telah menjatuhkan hukuman mati bukan bagi orang yang hidup saat ini tapi juga anak cucu mereka yang hidup saat ini. Inilah Kayafas disini. Masih banyak lagi contoh Kayafas lain yang hanya hidup demi mempertahankan kepentingan diri sendiri meskipun harus mengurbankan masyarakat yang tidak berdaya.
Jumat, 30 Maret 2012
JALAN SALIB: PERHENTIAN I : YESUS DIHUKUM MATI

Yesus telah berbuat baik sepanjang hidupNya. "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata." (Mrk 7:37). Dia mengajar penuh kuasa tidak seperti para guru di jamanNya. “Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.” (Mrk 1:22). Tapi kehadiran Yesus dan ajaranNya meresahkan para penguasa, sebab Yesus berpihak pada kaum miskin dan terbuang. Ajaran Yesus telah menyadarkan masyarakat miskin akan kebobrokan para penguasa. Mereka berlindung dibalik hukum dan adat istiadat untuk menindas rakyat. Mereka membebani rakyat dengan aneka aturan sedangkan mereka sendiri tidak melakukannya. Mereka pun bekerja sama dengan penjajah demi mendapatkan kedudukan dan kenikmatan.
Hukuman mati bagi Yesus adalah bentuk ketidakadilan dari segelintir penguasa yang berusaha tetap menduduki jabatannya. Pengadilan ini tidak adil dan penuh kelicikan, fitnah dan manipulasi. Bergabungnya antara pemimpin agama, tua-tua bangsa, dan kekuatan politik yaitu kekuasaan Romawi, membentuk suatu kekuatan yang hebat. Rakyat miskin tidak berdaya menghadapi kekuatan itu. Maka mereka memilih diam, melarikan diri atau turut menyalahkan Yesus demi keselamatan diri mereka sendiri. Pengadilan yang tidak adil berlangsung. Yesus disiksa, dihujat dan akhirnya dihukum mati.
Hukuman mati yang dialami oleh Yesus terus terjadi sampai saat ini. Banyak orang yang tidak bersalah diadili dengan penuh kesewenang-wenangan oleh orang yang merasa terganggu kedudukan, status, jabatan apalagi menyangkut penghasilannya. Telah banyak orang yang berpihak pada rakyat miskin dan berjuang untuk membela mereka mengalami perlakuan yang tidak adil. Mereka disingkirkan dan dimatikan karakternya dengan diberi cap sebagai komunis dan sebagainya. Mereka pun dimasukan penjara dalam proses pengadilan yang tidak adil sama sekali. Bahkan beberapa dari mereka mengalami penyiksaan dan kematian yang mengenaskan.
Wajah para yang menuntut Yesus agar dihukum mati saat ini diwakili oleh para pemimpin yang korup, kekuatan bersenjata, dan pemodal. Mereka bahu membahu menjadi kekuatan yang mengerikan untuk mencari keuntungan bagi diri mereka sendiri. Mereka bekerja sama untuk menghukum mati siapa saja yang berani melakukan penyadaran-penyadaran pada masyarakat tertindas. Mereka membuat hukum untuk melindungi kepentingan, kekayaan dan kedudukannya. Mereka melegalkan keserakahannya meski harus mengurbankan rakyat banyak yang seharusnya mereka lindungi. Rakyat banyak merasa jerih, sehingga mereka berusaha mencari keselamatan diri mereka masing-masing. Mereka menjadi diam bahkan turut menghujat siapa saja yang berani membela kaum tertindas.
Wajah Yesus jaman kini tergambar pada para kurban pengadilan yang tidak adil. Kita sering menyesali dan mengutuki sikap kaum Farisi, ahli Taurat, tua-tua bangsa yang telah menghukum mati Yesus. Tetapi kita sering memilih diam dan turut menyalahkan bila ada orang yang diperlakukan tidak adil, meski harus bertentangan dengan hati nurani kita. Renungan jalan salib bukan mengajak kita untuk menangisi Yesus melainkan menyadarkan kita bahwa Yesus masih terus diadili sampai saat ini. Dimana kita berada saat Yesus sendirian menghadapi orang-orang yang sangat membenciNya? Apa yang akan kita lakukan bila melihat ada penindasan?
Minggu, 04 Desember 2011
MISI
Hpku bergetar. Ada SMS yang masuk. Kubaca pesan singkat dari seroang teman. “Akhirnya pergi juga ke tanah misi. Selamat bermisi.”
“Thanks, maksudnya apa nih?” tanyaku
“Kamu kan selalu di kota besar dan sekarang pergi misi. Sekali lagi selamat.”
“Thanks lagi,” aku mengakhiri SMS
Setelah membaca SMS itu aku bertanya pada diri sendiri. Apakah aku sedang di tanah misi? Apakah aku sedang bermisi? Bila misi masih dipahami pergi untuk mewartakan Kristus agar semakin banyak orang yang mengenal Kristus, bagiku saat ini aku tidak bermisi. Dapat dikatakan disini Katolik adalah mayoritas. Di hampir semua kampung dapat dikatakan 95% adalah umat Katolik. Lalu kepada siapa lagi aku harus mewartakan Kristus? Disini aku hanya hidup dalam situasi masyarakat yang masih dapat dikategorikan miskin dan terbelakang.
Bila misi dipahami sebagai pewartaan Kristus pada orang yang belum mengenalnya, maka aku lebih merasa bermisi ketika di kota besar di pulau Jawa, dimana sebagian besar penduduknya bukan umat Katolik. Bahkan orang yang mempunyai keyakinan yang salah mengenai kekristenan, sehingga dapat menumbuhkan kebencian dalam hati yang siap untuk diwujudkan dalam tindakan anarkis. Selama di kota besar aku berusaha datang dalam komunitas-komunitas bukan Katolik. Pada masyarakat yang tidak mengenal kekristenan kecuali mengetahui Yesus Kristus adalah orang Yahudi.
Caraku bermisi tidak melalui dialog-dialog keagamaan dalam forum resmi melainkan melalui membangun persahabatan dan dialog karya. Bagiku dialog dalam forum resmi dengan mengundang para pakar hanyalah sebuah basa basi belaka. Pada umumnya hanya saling memujia dan seolah saling memahami. Selain itu peserta dialog adalah kaum intelektual yang mengutamakan intelektual daripada emosi. Sedangkan yang sering melakukan tindakan anarkis adalah masyarakat akar rumput yang lebih sering mengedepankan emosi daripada intelektual dan juga mudah dihasut.
Selama di kota besar aku mengadakan pertemanan dengan masyarakat akar rumput. Dalam pertemanan terbuka ruang dialog sebagai sehabat. Pada saat bertemu sambil minum kopi aku memasukan dan menjabarkan ajaran-ajaran Katolik, sehingga mereka dapat memahami kekatolikan itu seperti apa. Tidak jarang mereka pun melakukan nilai-nilai yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Ketika aku mendampingi anak jalanan dan kaum miskin lainnya, dalam pembicaraan aku mengajarkan tentang kekatolikan. Bagiku cukup bila mereka memahami dan mau menjalankan nilai-nilai Katolik seperti kasih, pengampunan, solidaritas dan sebagainya, meski mereka tidak dibaptis. Demikian pula ketika mendampingi kurban lumpur Lapindo, aku berteman dengan beberapa kyai yang mengasuh pondok pesantren. Ketika berbicara soal masalah lumpur pun aku tidak jarang memasukan ajaran Katolik dengan menyebut Yesus dan Injil. Dari situ aku tahu bahwa mereka kurang memahami Yesus dan kekatolikan. Bila kyai yang mempunyai ratusan santri kurang memahami Yesus bagaimana dengan para santrinya?
Selama di kota besar aku pun beberapa kali membangun persahabatan melalui budaya dengan orang bukan Katolik. Membuat karya bagi orang bukan Katolik. Mereka kupersilahkan masuk dalam areal gereja yang semula dianggap tidak pantas mereka masuki. Oleh karena mereka bersahabat maka mereka mau masuk dan melakukan aktifitas di areal gereja. Bagiku bermisi bila dipahami untuk mewartakan Kristus peluang yang terbesar ada di daerah yang belum mengenal Kristus yaitu di Jawa, entah di kota besarnya atau di daerah.
Oleh karena kesalahan konsep misi yang dipahami sebagai pergi ke daerah terpencil, maka imam yang ada di kota besar merasa bahwa dia tidak perlu bermisi lagi. Dia sibuk dengan acara liturgi dan mengurus umat atau acara lain yang disukainya, sehingga tidak mau meluangkan waktu untuk membangun persahabatan dengan orang bukan Katolik untuk mewartakan kekatolikan. Temanku pun salah dalam konsep misi.
“Thanks, maksudnya apa nih?” tanyaku
“Kamu kan selalu di kota besar dan sekarang pergi misi. Sekali lagi selamat.”
“Thanks lagi,” aku mengakhiri SMS
Setelah membaca SMS itu aku bertanya pada diri sendiri. Apakah aku sedang di tanah misi? Apakah aku sedang bermisi? Bila misi masih dipahami pergi untuk mewartakan Kristus agar semakin banyak orang yang mengenal Kristus, bagiku saat ini aku tidak bermisi. Dapat dikatakan disini Katolik adalah mayoritas. Di hampir semua kampung dapat dikatakan 95% adalah umat Katolik. Lalu kepada siapa lagi aku harus mewartakan Kristus? Disini aku hanya hidup dalam situasi masyarakat yang masih dapat dikategorikan miskin dan terbelakang.
Bila misi dipahami sebagai pewartaan Kristus pada orang yang belum mengenalnya, maka aku lebih merasa bermisi ketika di kota besar di pulau Jawa, dimana sebagian besar penduduknya bukan umat Katolik. Bahkan orang yang mempunyai keyakinan yang salah mengenai kekristenan, sehingga dapat menumbuhkan kebencian dalam hati yang siap untuk diwujudkan dalam tindakan anarkis. Selama di kota besar aku berusaha datang dalam komunitas-komunitas bukan Katolik. Pada masyarakat yang tidak mengenal kekristenan kecuali mengetahui Yesus Kristus adalah orang Yahudi.
Caraku bermisi tidak melalui dialog-dialog keagamaan dalam forum resmi melainkan melalui membangun persahabatan dan dialog karya. Bagiku dialog dalam forum resmi dengan mengundang para pakar hanyalah sebuah basa basi belaka. Pada umumnya hanya saling memujia dan seolah saling memahami. Selain itu peserta dialog adalah kaum intelektual yang mengutamakan intelektual daripada emosi. Sedangkan yang sering melakukan tindakan anarkis adalah masyarakat akar rumput yang lebih sering mengedepankan emosi daripada intelektual dan juga mudah dihasut.
Selama di kota besar aku mengadakan pertemanan dengan masyarakat akar rumput. Dalam pertemanan terbuka ruang dialog sebagai sehabat. Pada saat bertemu sambil minum kopi aku memasukan dan menjabarkan ajaran-ajaran Katolik, sehingga mereka dapat memahami kekatolikan itu seperti apa. Tidak jarang mereka pun melakukan nilai-nilai yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Ketika aku mendampingi anak jalanan dan kaum miskin lainnya, dalam pembicaraan aku mengajarkan tentang kekatolikan. Bagiku cukup bila mereka memahami dan mau menjalankan nilai-nilai Katolik seperti kasih, pengampunan, solidaritas dan sebagainya, meski mereka tidak dibaptis. Demikian pula ketika mendampingi kurban lumpur Lapindo, aku berteman dengan beberapa kyai yang mengasuh pondok pesantren. Ketika berbicara soal masalah lumpur pun aku tidak jarang memasukan ajaran Katolik dengan menyebut Yesus dan Injil. Dari situ aku tahu bahwa mereka kurang memahami Yesus dan kekatolikan. Bila kyai yang mempunyai ratusan santri kurang memahami Yesus bagaimana dengan para santrinya?
Selama di kota besar aku pun beberapa kali membangun persahabatan melalui budaya dengan orang bukan Katolik. Membuat karya bagi orang bukan Katolik. Mereka kupersilahkan masuk dalam areal gereja yang semula dianggap tidak pantas mereka masuki. Oleh karena mereka bersahabat maka mereka mau masuk dan melakukan aktifitas di areal gereja. Bagiku bermisi bila dipahami untuk mewartakan Kristus peluang yang terbesar ada di daerah yang belum mengenal Kristus yaitu di Jawa, entah di kota besarnya atau di daerah.
Oleh karena kesalahan konsep misi yang dipahami sebagai pergi ke daerah terpencil, maka imam yang ada di kota besar merasa bahwa dia tidak perlu bermisi lagi. Dia sibuk dengan acara liturgi dan mengurus umat atau acara lain yang disukainya, sehingga tidak mau meluangkan waktu untuk membangun persahabatan dengan orang bukan Katolik untuk mewartakan kekatolikan. Temanku pun salah dalam konsep misi.
Kamis, 10 November 2011
AKU ANAK KOPRAL ANUMERTA (mengenang para prajurit yang gugur di Timor Timur dalam operasi Seroja1975-1978)

Saya adalah anak seorang kopral anumerta. Ya! Benar! Bapak adalah seorang anggota ABRI yang berpangkat kopral. Dia sudah tewas tertembak dalam suatu pertempuran maka dibelakangnya diberi tambahan anumerta.
Bapak bagi saya adalah sosok pribadi yang menyenangkan. Disetiap kesempatan luang, dia mengajak ibu, dua adik dan saya jalan jalan. Kami hanya jalan jalan menikmati keindahan kota. Sebelum jalan jalan bapak atau ibu senantiasa berpesan agar kami tidak meminta apa-apa. Kalau bapak atau ibu punya uang, maka kami akan dibelikan sesuatu, entah mainan yang dijual di emper toko atau kue kue di pedagang kaki lima. Kata ibu gaji bapak sangat kecil, sehingga tidak mungkin beli mainan di toko atau makan di restoran. Bapak hanyalah seorang prajurit. Tapi meski hidup susah, saya bangga pada bapak. Apalagi kalau melihat bapak dengan seragam lengkap. Dia tampak gagah dan tampan.
Kedekatan saya dengan bapak tidaklah lama. Saya masih kelas tiga SD ketika bapak mendapat tugas ke Timor Timur. Saya sendiri tidak tahu dimana tempat itu. Ibu hanya bilang bahwa Timor Timur itu jauh di timur negara Indonesia. Malam sebelum berangkat bapak mengambil peta Indonesia dan menunjukan dimana tempat yang namanya Timor Timur. Suatu daerah kecil yang diberi warna lain, sebab tidak termasuk negara Indonesia. Bapak menjelaskan bahwa dia bersama teman temanya harus naik kapal laut selama beberapa hari baru bisa mencapai tempat tersebut.
Kata ibu bapak kesana akan berjuang. Ini sudah menjadi tugas seorang prajurit yaitu siap diperintah kemana saja dan berjuang melawan musuh. Saya sendiri tidak tahu apa yang diperjuangkan bapak disana. Saya juga tidak tahu pasti siapa musuh bapak di sana. Apakah berjuang melawan penjajah seperti cerita kakek yang berjuang melawan Belanda dan Jepang. Atau berjuang melawan pemberontak seperti cerita kakek tentang pemberontakan Kahar Muzakar, RMS, DI/TII atau yang lain. Saya tidak tahu, ibu pun tidak tahu. Maklum ibu bukan orang yang berpendidikan tinggi. Kami juga kekurangan informasi, sebab tidak berlangganan surat kabar. Beberapa kali saya melihat bapak membaca surat kabar yang dibeli eceran atau hasil dari pinjam ke tetangga. Kami juga tidak mempunyai TV. Ini suatu barang yang sangat mewah. Yang kami punya hanya radio kecil dan hanya bisa menangkap siaran radio amatir. Atasan bapak juga tidak menjelaskan dengan rinci untuk apa dia harus mengirim bapak kesana. Bapak hanya mengatakan bahwa sebagai prajurit yang menjalankan sapta marga, maka dia harus siap untuk diutus kemana saja.
Bapak hanya mengatakan bahwa negara kita hendak mengintegrasi Timor Timur. Sampai bapak berangkat saya tidak tahu apa maksud integrasi. Apa yang menyebabkan kerusuhan. Siapa yang dianggap perusuh. Yang saya tahu pasti ialah bahwa bapak mendapat tugas untuk pergi ke Timor Timur bersama teman temannya. Kedua, hal itu berarti bahwa saya akan lama untuk tidak bertemu dengan bapak. Saya hanya akan memandang foto bapak yang gagah dalam seragam prajurit.
Sebulan bapak tidak terdengar kabar beritanya. Bagi ibu ini hal biasa. Ibu sudah tahu konsekwensi sebagai istri prajurit. Dia akan sering ditinggal pergi oleh suaminya. Tapi saya tidak senang bapak pergi terlalu lama. Saya kangen dengan bapak. Saya kangen belaian tangannya yang kasar. Saya kangen digendong belakang. Saya kangen diajak jalan jalan. Saya kangen untuk menunjukan pada teman teman bahwa bapak saya adalah seorang ABRI yang sangat gagah dalam pakaian seragamnya. Saya yakin ibu juga kangen, tapi tidak ditunjukan pada kami. Saya juga yakin bahwa adik adik kangen pada bapak, tapi mereka tidak bisa mengungkapkan, sebab mereka masih umur 3 th dan 4 bulan. Saya yang sudah besar, sudah klas 3 SD, dapat merasakan rasa kangen itu dan mengungkapkannya.
Hampir menginjak bulan keenam bapak belum juga pulang. Beberapa kali saya tanya ibu, kapan bapak kembali. Ibu selalu mengatakan tidak tahu atau kalau keadaan sudah aman. Kata ibu situasi di Timor Timur sangat berat dan gawat. Beberapa teman bapak tewas di sana. Ada yang pulang tapi mengalami gangguan jiwa. Dia sering teriak teriak pada malam hari dan sangat ketakutan dalam gelap. Padahal dulu dia pemberani. Kalau tidak pasti dia tidak akan jadi prajurit. Tapi kini dia menjadi penakut dan sikapnya aneh. Pernah dia menangkap cicak di rumah kami, langsung dimakan. Tentu saja saya jadi jijik. Kata ibu teman bapak itu mengira bahwa dia masih berada di Timor Timur. Ada juga teman bapak yang pulang dengan menyandang cacat tubuh. Ada yang kakinya hilang satu ada yang tangannya hilang. Melihat teman bapak itu, saya jadi takut. Jangan jangan bapak pulang nanti menjadi seperti itu. Tapi bapak belum pulang, maka saya hanya bisa berdoa semoga bapak bisa cepat pulang dan tidak berubah. Masih seperti bapak yang dulu.
24 September 2976 seorang tentara datang ke rumah kami. Saya tidak tahu apa yang dia ceritakan. Yang saya tahu tiba tiba ibu menjerit dan menangis histeris, sampai beberapa tetangga berusaha menenangkannya. Melihat ibu menangis semua adik juga ikut menangis. Tapi saya tidak, sebab tidak tahu mengapa ibu menangis. Banyak tetangga yang berkumpul di rumah kami sampai tentara itu pergi. Saya melihat ibu beberapa kali pingsan. Jika sadar dia berteriak teriak memanggil nama bapak. Saya mengira ibu bertengkar dengan tetantara itu dan memanggil bapak untuk membelanya. Akhirnya saya bertanya pada ibu apa yang terjadi. Dengan sedih tetangga sebelah menceritakan bahwa bapak tewas dalam pertempuran di Baucau. Ya bapak saya tewas dalam berjuang, meski saya sendiri tidak tahu apa yang diperjuangkan. Bapak juga tidak menjelaskan apa yang diperjuangkan.
Bapak tewas. Saya tidak berani mengatakan bapak gugur. Kata itu hanya untuk para pahlawan dan para tentara yang mempunyai pangkat. Bapak bukan pahlawan. Dia juga bukan perwira. Dia hanya seorang prajurit yang mati ditembak. Saya kehilangan bapak. Padahal saya masih membutuhkan bapak. Apalagi adik adik. Tentu si bungsu tidak akan pernah tahu siapa bapaknya. Dia hanya akan tahu dari sebuah foto di ruang tamu. Saya sedih sekali. Bapak telah ditembak. Saya tidak tahu siapa yang menembak bapak. Saya tidak tahu apakah yang menembak bapak bisa disebut musuh atau bapaklah yang dianggap sebagai musuh. Saya tidak tahu siapa yang benar, siapa yang dibela, siapa yang diperjuangkan. Yang saya tahu dengan pasti ialah bahwa bapak diperintahkan untuk pergi ke Timor Timur dan mati ditembak orang di sana.
Beberapa minggu kemudian peti mati bapak datang. Ibu histeris di depan peti mati. Tapi bapak tetap mati. Sebetulnya saya ingin sekali melihat wajah bapak yang gagah untuk terakhir kalinya. Tapi ada larangan untuk membuka peti mati. Saya tidak kuasa dengan perintah itu. Ibu pun tidak kuasa menolak perintah atasan bapak. Ibu harus percaya bahwa yang ada dalam peti mati itu adalah jenasah bapak. Betapa sedihnya hati saya. Untuk melihat wajah bapak yang terakhir saja tidak bisa. Dengan berderai air mata, saya mengatar bapak ke pemakaman. Dalam pemakaman ada beberapa sambutan yang saya sendiri tidak tahu apa yang dikatakan oleh atasan bapak. Hanya yang saya tahu dia menyerahkan sebuah amplop berisi uang dan sebuah tanda penghargaan. Ganti nyawa bapak adalah uang yang ada dalam amplop dan selembar kertas yang katanya berisi tanda penghargaan atas keberanian bapak dalam membela negara. Saya nangis saat itu. Saya tidak mau nyawa bapak diganti oleh lembaran itu. Saya lebih memilih bapak tidak mendapat tanda jasa dan kenaikan pangkat, dari pada harus kehilangan bapak yang saya cintai.
Ternyata bapak bukanlah satu satunya dan yang terakhir. Masih banyak teman teman bapak yang tewas atau pulang dengan cacat. Mereka pada umumnya adalah prajurit dengan pankat rendah. Saya belum mendengar seorang jendral yang tewas atau pulang dengan cacat tubuh. Tapi hal ini semakin membanggakan saya bahwa bapak jauh lebih berani berjuang dari pada para jendral, sebab buktinya bapak berani tewas ditembak, sedangkan para jendral pulang dengan selamat. Tapi merekalah yang terkenal, sedangkan bapak tetap sebagai kopral anumerta, yang tidak pernah disebutkan dalam sejarah. Bapak hanyalah seorang prajurit yang harus taat pada perintah atasan bahkan siap mati demi membela bangsa dan negara.
Sampai kini kesedihan terus berlanjut. Kehilangan bapak dan kemiskinan akibat pensiun bapak yang kecil tidak mampu memenuhi semua kebutuhan hidup. Ibu dan saya harus berjuang untuk bisa bertahan hidup. Tapi saat ini saya sedih sekali. Timor Timur yang dulu diperjuangkan bapak dan teman-temannya sampai memberikan nyawanya kini merdeka. Menjadi negara baru yang bernama Timor Leste. Lebih sedih lagi adalah hujatan dari banyak orang pada bapak dan teman-temannya yang terlibat dalam operasi Seroja. Mereka dicaci maki sebagai pelanggar HAM. Mereka dianggap sebagai biang kerusuhan. Bapak menjadi tentara bukan untuk menindas, tapi punya tujuan mulia yaitu mempertahankan negara dan bangsa dari serangan musuh, seperti kakek dulu mempertahankan negara dari serangan Belanda. Saya yakin kalau boleh memilih bapak pasti menolak untuk pergi ke Timor Timur. Dia berangkat kesana karena taat pada perintah atasan. Disana dia pasti pernah menembak dan dia mati terkena tembakan. Oleh siapa? Musuh bangsa? Pejuang bangsa?
Bapak dan teman-teman dituduh telah melakukan kekerasan di Timor Timur. Bapak bukan orang yang suka kekerasan. Dia pasti menembak supaya tidak mati ditembak. Tapi toh akhirnya dia ditembak. Pengurbanan nyawa bapak tidak ada gunanya, bahkan saya saat ini malu jika ingin mengatakan bahwa bapak adalah salah satu personil ABRI dalam operasi Seroja untuk pengintegrasian Timor Timur pada tahun 1975. Seolah apa yang dilakukan bapak adalah kesalahan besar, padahal bapak hanya seorang prajurit yang harus taat pada pimpinan.
Di depan kuburan bapak saya hanya bisa mengeluh pada sebuah batu nisan. Saya ingin protes mengapa bapak dulu memilih sebagai tentara, mengapa bukan sebagai pekerja pabrik, kantor, bahkan tukang becak atau pemulung sekalipun. Mengapa bapak memilih menjadi tentara? Mengapa bapak mau dikirim ke Timor Timur? Apakah itu dosa bapak, sehingga banyak orang sekarang sinis pada saya? Pernah ibu meneguhkan saya, ketika saya digelisahkan oleh persoalan ini. Ibu mengutip dari Injil Yohanes, "Barang siapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah dia yang melemparkan batu yang pertama pada perempuan itu." Saya hanya berdoa semoga bapak hanyalah sebagai perempuan yang tertangkap berbuat zinah. Bapak dan teman teman harus diadili sedangkan yang berkepentingan tidak diadili. Dan yang mengadili bapak adalah masa yang sebenarnya juga penuh dengan dosa, sering berbuat kekerasan, tidak adil, penindas. Ini meneguhkan saya agar saya tidak melihat nyawa bapak sebagai sebuah kesia siaan.
Tapi bagaimanapun juga salib masih harus kami pikul. Kemiskinan, status kami sebagai anak piatu, kerinduan kami pada bapak yang tidak mungkin dipenuhi dan terlebih nama jelek bapak karena dia adalah tentara yang tergabung dalam operasi Seroja. Ya, saya hanyalah anak seorang kopral anumerta. Seorang kopral yang katanya membela nusa dan bangsa sehingga harus menyerahkannya nyawanya.
Bapak bagi saya adalah sosok pribadi yang menyenangkan. Disetiap kesempatan luang, dia mengajak ibu, dua adik dan saya jalan jalan. Kami hanya jalan jalan menikmati keindahan kota. Sebelum jalan jalan bapak atau ibu senantiasa berpesan agar kami tidak meminta apa-apa. Kalau bapak atau ibu punya uang, maka kami akan dibelikan sesuatu, entah mainan yang dijual di emper toko atau kue kue di pedagang kaki lima. Kata ibu gaji bapak sangat kecil, sehingga tidak mungkin beli mainan di toko atau makan di restoran. Bapak hanyalah seorang prajurit. Tapi meski hidup susah, saya bangga pada bapak. Apalagi kalau melihat bapak dengan seragam lengkap. Dia tampak gagah dan tampan.
Kedekatan saya dengan bapak tidaklah lama. Saya masih kelas tiga SD ketika bapak mendapat tugas ke Timor Timur. Saya sendiri tidak tahu dimana tempat itu. Ibu hanya bilang bahwa Timor Timur itu jauh di timur negara Indonesia. Malam sebelum berangkat bapak mengambil peta Indonesia dan menunjukan dimana tempat yang namanya Timor Timur. Suatu daerah kecil yang diberi warna lain, sebab tidak termasuk negara Indonesia. Bapak menjelaskan bahwa dia bersama teman temanya harus naik kapal laut selama beberapa hari baru bisa mencapai tempat tersebut.
Kata ibu bapak kesana akan berjuang. Ini sudah menjadi tugas seorang prajurit yaitu siap diperintah kemana saja dan berjuang melawan musuh. Saya sendiri tidak tahu apa yang diperjuangkan bapak disana. Saya juga tidak tahu pasti siapa musuh bapak di sana. Apakah berjuang melawan penjajah seperti cerita kakek yang berjuang melawan Belanda dan Jepang. Atau berjuang melawan pemberontak seperti cerita kakek tentang pemberontakan Kahar Muzakar, RMS, DI/TII atau yang lain. Saya tidak tahu, ibu pun tidak tahu. Maklum ibu bukan orang yang berpendidikan tinggi. Kami juga kekurangan informasi, sebab tidak berlangganan surat kabar. Beberapa kali saya melihat bapak membaca surat kabar yang dibeli eceran atau hasil dari pinjam ke tetangga. Kami juga tidak mempunyai TV. Ini suatu barang yang sangat mewah. Yang kami punya hanya radio kecil dan hanya bisa menangkap siaran radio amatir. Atasan bapak juga tidak menjelaskan dengan rinci untuk apa dia harus mengirim bapak kesana. Bapak hanya mengatakan bahwa sebagai prajurit yang menjalankan sapta marga, maka dia harus siap untuk diutus kemana saja.
Bapak hanya mengatakan bahwa negara kita hendak mengintegrasi Timor Timur. Sampai bapak berangkat saya tidak tahu apa maksud integrasi. Apa yang menyebabkan kerusuhan. Siapa yang dianggap perusuh. Yang saya tahu pasti ialah bahwa bapak mendapat tugas untuk pergi ke Timor Timur bersama teman temannya. Kedua, hal itu berarti bahwa saya akan lama untuk tidak bertemu dengan bapak. Saya hanya akan memandang foto bapak yang gagah dalam seragam prajurit.
Sebulan bapak tidak terdengar kabar beritanya. Bagi ibu ini hal biasa. Ibu sudah tahu konsekwensi sebagai istri prajurit. Dia akan sering ditinggal pergi oleh suaminya. Tapi saya tidak senang bapak pergi terlalu lama. Saya kangen dengan bapak. Saya kangen belaian tangannya yang kasar. Saya kangen digendong belakang. Saya kangen diajak jalan jalan. Saya kangen untuk menunjukan pada teman teman bahwa bapak saya adalah seorang ABRI yang sangat gagah dalam pakaian seragamnya. Saya yakin ibu juga kangen, tapi tidak ditunjukan pada kami. Saya juga yakin bahwa adik adik kangen pada bapak, tapi mereka tidak bisa mengungkapkan, sebab mereka masih umur 3 th dan 4 bulan. Saya yang sudah besar, sudah klas 3 SD, dapat merasakan rasa kangen itu dan mengungkapkannya.
Hampir menginjak bulan keenam bapak belum juga pulang. Beberapa kali saya tanya ibu, kapan bapak kembali. Ibu selalu mengatakan tidak tahu atau kalau keadaan sudah aman. Kata ibu situasi di Timor Timur sangat berat dan gawat. Beberapa teman bapak tewas di sana. Ada yang pulang tapi mengalami gangguan jiwa. Dia sering teriak teriak pada malam hari dan sangat ketakutan dalam gelap. Padahal dulu dia pemberani. Kalau tidak pasti dia tidak akan jadi prajurit. Tapi kini dia menjadi penakut dan sikapnya aneh. Pernah dia menangkap cicak di rumah kami, langsung dimakan. Tentu saja saya jadi jijik. Kata ibu teman bapak itu mengira bahwa dia masih berada di Timor Timur. Ada juga teman bapak yang pulang dengan menyandang cacat tubuh. Ada yang kakinya hilang satu ada yang tangannya hilang. Melihat teman bapak itu, saya jadi takut. Jangan jangan bapak pulang nanti menjadi seperti itu. Tapi bapak belum pulang, maka saya hanya bisa berdoa semoga bapak bisa cepat pulang dan tidak berubah. Masih seperti bapak yang dulu.
24 September 2976 seorang tentara datang ke rumah kami. Saya tidak tahu apa yang dia ceritakan. Yang saya tahu tiba tiba ibu menjerit dan menangis histeris, sampai beberapa tetangga berusaha menenangkannya. Melihat ibu menangis semua adik juga ikut menangis. Tapi saya tidak, sebab tidak tahu mengapa ibu menangis. Banyak tetangga yang berkumpul di rumah kami sampai tentara itu pergi. Saya melihat ibu beberapa kali pingsan. Jika sadar dia berteriak teriak memanggil nama bapak. Saya mengira ibu bertengkar dengan tetantara itu dan memanggil bapak untuk membelanya. Akhirnya saya bertanya pada ibu apa yang terjadi. Dengan sedih tetangga sebelah menceritakan bahwa bapak tewas dalam pertempuran di Baucau. Ya bapak saya tewas dalam berjuang, meski saya sendiri tidak tahu apa yang diperjuangkan. Bapak juga tidak menjelaskan apa yang diperjuangkan.
Bapak tewas. Saya tidak berani mengatakan bapak gugur. Kata itu hanya untuk para pahlawan dan para tentara yang mempunyai pangkat. Bapak bukan pahlawan. Dia juga bukan perwira. Dia hanya seorang prajurit yang mati ditembak. Saya kehilangan bapak. Padahal saya masih membutuhkan bapak. Apalagi adik adik. Tentu si bungsu tidak akan pernah tahu siapa bapaknya. Dia hanya akan tahu dari sebuah foto di ruang tamu. Saya sedih sekali. Bapak telah ditembak. Saya tidak tahu siapa yang menembak bapak. Saya tidak tahu apakah yang menembak bapak bisa disebut musuh atau bapaklah yang dianggap sebagai musuh. Saya tidak tahu siapa yang benar, siapa yang dibela, siapa yang diperjuangkan. Yang saya tahu dengan pasti ialah bahwa bapak diperintahkan untuk pergi ke Timor Timur dan mati ditembak orang di sana.
Beberapa minggu kemudian peti mati bapak datang. Ibu histeris di depan peti mati. Tapi bapak tetap mati. Sebetulnya saya ingin sekali melihat wajah bapak yang gagah untuk terakhir kalinya. Tapi ada larangan untuk membuka peti mati. Saya tidak kuasa dengan perintah itu. Ibu pun tidak kuasa menolak perintah atasan bapak. Ibu harus percaya bahwa yang ada dalam peti mati itu adalah jenasah bapak. Betapa sedihnya hati saya. Untuk melihat wajah bapak yang terakhir saja tidak bisa. Dengan berderai air mata, saya mengatar bapak ke pemakaman. Dalam pemakaman ada beberapa sambutan yang saya sendiri tidak tahu apa yang dikatakan oleh atasan bapak. Hanya yang saya tahu dia menyerahkan sebuah amplop berisi uang dan sebuah tanda penghargaan. Ganti nyawa bapak adalah uang yang ada dalam amplop dan selembar kertas yang katanya berisi tanda penghargaan atas keberanian bapak dalam membela negara. Saya nangis saat itu. Saya tidak mau nyawa bapak diganti oleh lembaran itu. Saya lebih memilih bapak tidak mendapat tanda jasa dan kenaikan pangkat, dari pada harus kehilangan bapak yang saya cintai.
Ternyata bapak bukanlah satu satunya dan yang terakhir. Masih banyak teman teman bapak yang tewas atau pulang dengan cacat. Mereka pada umumnya adalah prajurit dengan pankat rendah. Saya belum mendengar seorang jendral yang tewas atau pulang dengan cacat tubuh. Tapi hal ini semakin membanggakan saya bahwa bapak jauh lebih berani berjuang dari pada para jendral, sebab buktinya bapak berani tewas ditembak, sedangkan para jendral pulang dengan selamat. Tapi merekalah yang terkenal, sedangkan bapak tetap sebagai kopral anumerta, yang tidak pernah disebutkan dalam sejarah. Bapak hanyalah seorang prajurit yang harus taat pada perintah atasan bahkan siap mati demi membela bangsa dan negara.
Sampai kini kesedihan terus berlanjut. Kehilangan bapak dan kemiskinan akibat pensiun bapak yang kecil tidak mampu memenuhi semua kebutuhan hidup. Ibu dan saya harus berjuang untuk bisa bertahan hidup. Tapi saat ini saya sedih sekali. Timor Timur yang dulu diperjuangkan bapak dan teman-temannya sampai memberikan nyawanya kini merdeka. Menjadi negara baru yang bernama Timor Leste. Lebih sedih lagi adalah hujatan dari banyak orang pada bapak dan teman-temannya yang terlibat dalam operasi Seroja. Mereka dicaci maki sebagai pelanggar HAM. Mereka dianggap sebagai biang kerusuhan. Bapak menjadi tentara bukan untuk menindas, tapi punya tujuan mulia yaitu mempertahankan negara dan bangsa dari serangan musuh, seperti kakek dulu mempertahankan negara dari serangan Belanda. Saya yakin kalau boleh memilih bapak pasti menolak untuk pergi ke Timor Timur. Dia berangkat kesana karena taat pada perintah atasan. Disana dia pasti pernah menembak dan dia mati terkena tembakan. Oleh siapa? Musuh bangsa? Pejuang bangsa?
Bapak dan teman-teman dituduh telah melakukan kekerasan di Timor Timur. Bapak bukan orang yang suka kekerasan. Dia pasti menembak supaya tidak mati ditembak. Tapi toh akhirnya dia ditembak. Pengurbanan nyawa bapak tidak ada gunanya, bahkan saya saat ini malu jika ingin mengatakan bahwa bapak adalah salah satu personil ABRI dalam operasi Seroja untuk pengintegrasian Timor Timur pada tahun 1975. Seolah apa yang dilakukan bapak adalah kesalahan besar, padahal bapak hanya seorang prajurit yang harus taat pada pimpinan.
Di depan kuburan bapak saya hanya bisa mengeluh pada sebuah batu nisan. Saya ingin protes mengapa bapak dulu memilih sebagai tentara, mengapa bukan sebagai pekerja pabrik, kantor, bahkan tukang becak atau pemulung sekalipun. Mengapa bapak memilih menjadi tentara? Mengapa bapak mau dikirim ke Timor Timur? Apakah itu dosa bapak, sehingga banyak orang sekarang sinis pada saya? Pernah ibu meneguhkan saya, ketika saya digelisahkan oleh persoalan ini. Ibu mengutip dari Injil Yohanes, "Barang siapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah dia yang melemparkan batu yang pertama pada perempuan itu." Saya hanya berdoa semoga bapak hanyalah sebagai perempuan yang tertangkap berbuat zinah. Bapak dan teman teman harus diadili sedangkan yang berkepentingan tidak diadili. Dan yang mengadili bapak adalah masa yang sebenarnya juga penuh dengan dosa, sering berbuat kekerasan, tidak adil, penindas. Ini meneguhkan saya agar saya tidak melihat nyawa bapak sebagai sebuah kesia siaan.
Tapi bagaimanapun juga salib masih harus kami pikul. Kemiskinan, status kami sebagai anak piatu, kerinduan kami pada bapak yang tidak mungkin dipenuhi dan terlebih nama jelek bapak karena dia adalah tentara yang tergabung dalam operasi Seroja. Ya, saya hanyalah anak seorang kopral anumerta. Seorang kopral yang katanya membela nusa dan bangsa sehingga harus menyerahkannya nyawanya.
Rabu, 09 November 2011
PERJALANAN
Suatu hari Saul disuruh oleh ayahnya untuk mencari keledai-keledai mereka yang hilang. Ditemani seorang bujang, maka pergilah Saul mencari keledai-keledai itu. Namun mereka tidak mampu menemukannya. Dalam keputusaasaan Saul memutuskan untuk kembali, tapi bujangnya mengajak untuk menemui penglihat. Mereka berangkat kesana dan itulah awal perubahan hidup Saul. Dia bertemu dengan Samuel yang kelak akan menahbiskannya sebagai raja Yahudi (1Sam 9:3-..).
Perjalanan hidup seseorang tidak bisa diduga sebelumnya. Sebuah kejadian yang tidak terduga bisa mengubah jalan hidup seseorang. Menurut buku The Celentin's Phropecy, bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang kebetulan. Semua sudah masuk dalam suatu kerangka besar hidup. Saul tidak pernah menduga sebelumnya bahwa perutusan ayahnya untuk mencari keledai dan kegagalan usaha dalam pencarian itu ternyata suatu berkah yang mampu mengubah hidupnya bahkan lebih besar lagi perubahan sejarah bangsa Israel. Saul tidak pernah menduga bahwa dia akan menjadi raja, sebab dia hanyalah seorang pemuda yang berasal dari suku Benyamin, suku yang terkecil. Saul bahkan berasal dari kaum yang paling hina dari suku Benyamin (1Sam 9:21).
Dalam Perjanjian Baru kisah perubahan hidup yang senada ada dalam diri Paulus. Dia tidak pernah mengira bahwa dia akan menjadi seorang pewarta agama Kristen. Dia yang semula pergi ke Damsyik dengan penuh kebencian untuk menghancurkan umat Kristen, ternyata dalam perjalanan dia berubah total. Perjalanan ke Damsyik tidak hanya mengubah cara pandang Saulus terhadap kekristenan, namun lebih dari itu dia mengubah sejarah Kekristenan. Banyak orang mengakui bahwa Paulus merupakan tokoh kunci perkembangan agama Kristen. Jika tidak ada Paulus, mungkin agama Kristen masih merupakan agama kecil di Yahudi.
Sidharta Budha Gautama semula hanyalah seorang pangeran di sebuah kerajaan kecil. Suatu hari dia memutuskan untuk keluar dari istana dan mengadakan suatu perjalanan yang mampu mengubah hidupnya. Pertemuannya dengan orang miskin dan orang mati mampu mengubah pandangan hidupnya, bahkan keseluruhan pribadinya. Perjalanannya itu merupakan satu titik tolak atau titik balik yang mengubahnya.
Perjalanan dapat menjadi suatu perubahan dalam diri manusia. Suatu peristiwa entah suka atau duka, yang ditemukan dalam perjalanan dapat menjadi cahaya dalam hidup dan mengubah pola pikir manusia. Perubahan bisa frontal seperti Paulus atau Sidharta maupun seperti Saul. Perjalanan Saul mengubahnya dari seorang gembala menjadi seorang pemimpin Israel. Saulus yang semula orang musuh agama Kristen berubah menjadi tokoh kekristenan. Sidharta yang semula pangeran yang sangat terjamin hidupnya, berubah total menjadi pertapa yang hidup dalam kemiskinan. Perubahan bukan hanya soal yang menyangkut hal-hal lahiriah, melainkan keseluruhan cara hidup, pandangan, visi dan seluruh kepribadiannya.
Contoh di atas menunjukan bahwa perubahan hidup dimulai dengan sebuah perjalanan. Perubahan hidupku juga dimulai oleh suatu perjalanan. Semula keluargaku tinggal di Bogor yang merupakan daerah muslim yang taat. Suatu saat orang tuaku mendapat tugas di Surabaya, maka mulailah aku memasuki kota Surabaya. Disinilah aku berubah menjadi seorang Katolik dan lebih lanjut menjadi imam. Jika direnungkan, pilihan hidupku ini tidak masuk akal. Aneh. Aku yang dibesarkan dalam agama Islam yang bercampur kejawen memutuskan untuk menjadi Katolik. Aku yang tidak pernah memiliki cita-cita menjadi imam kemudian memutuskan menjadi imam. Kekatolikanku yang hanya terbatas pada misa di hari Natal saja, ternyata berani memutuskan diri untuk menjadi imam.
Aktifitasku terlibat dalam pertemanan dengan anak-anak jalanan dan kaum miskin lainnya juga dimulai dari suatu perjalanan. Aku bersama seorang teman berjalan ke terminal Joyoboyo untuk mencari seseorang. Di terminal aku mulai ngobrol dengan beberapa orang miskin dan perhatianku tertuju pada anak-anak miskin. Mulailah aku sedikit demi sedikit melakukan pertemanan dengan mereka hingga mengumpulkan mereka dan memiliki rumah singgah.
Memang keputusanku untuk menjadi Katolik dan menjadi imam dan terlibat dalam pertemanan dengan kaum miskin, tidak mutlak akibat perpindahan atau kepergianku itu. Saul bisa menjadi raja Israel dan Paulus bisa menjadi rasul juga bukan disebabkan hanya kepergian saja. Banyak hal-hal yang mengubah hidup dalam perjalanan itu. Seandainya Saul menemukan keledainya secepat mungkin, dia pasti akan kembali ke rumah orang tuanya dan mungkin dia akan tetap sebagai warga biasa. Demikian pula dengan Paulus, jika dia tidak mendapatkan penampakan di jalan, kemungkinan dia masih dikenang sebagai salah satu tokoh pembunuh umat Kristen. Maka perjalanan tidak bisa dijadikan tolok ukur suatu perubahan manusia. Pertemuan dengan orang lain dan aneka peristiwa yang direfleksi inilah yang menentukan sebuah perubahan. Seandainya Saul tidak bertemu dengan Samuel, mungkin dia hanya tetap akan menjadi penggembala. Seandainya Saulus tidak bertemu dengan Yesus mungkin dia akan melanjutkan perjuangannya membunuh orang Kristen. Pertemuan tidak langsung mengubah, melainkan perlu waktu untuk merenung. Saulus membutuhkan beberapa tahun untuk merenung sebelum keluar sebagai pewarta. Aneka peritiswa akan berlalu begitu saja jika tanpa sebuah permenungan yang sungguh-sungguh. Dalam buku Sang Alkemis karangan Paulo Coelho, dikatakan bahwa semua peristiwa itu biasa saja. Peristiwa akan menjadi baru dan mengubah jika direfleksikan.
Yesus mengajak orang untuk mengikuti Dia melakukan suatu perjalanan dari Galilea menuju ke Yerusalem. Untuk mengikuti Yesus hanya ada satu syarat yaitu keberanian untuk meninggalkan segala sesuatu, menyangkal diri sendiri dan memikul salib. Suatu syarat yang tidak mudah. Hal ini memang sengaja dilakukan Yesus sebab perjalanan yang dilakukanNya bukan suatu wisata melainkan pewartaan Kerajaan Allah. Perjalanan pertobatan dan pengampunan. Perjalanan belas kasih dan keberpihakan pada kaum miskin dan tertindas. Perjalanan menuju bukit Golgota. Maka sebagai langkah awal untuk menguji keberanian para murid adalah membunuh keegoisan dan keindividualisan untuk mampu dibunuh demi orang-orang yang dilayani.
Kekatolikan adalah suatu perjalanan. Kita telah memutuskan untuk bersama Yesus berjalan menuju bukit Golgota. Suatu perjalanan yang penuh tantangan dan penderitaan. Perjalanan yang telah dimulai dengan pembunuhan diri sendiri dan kesiapan untuk memikul salib. Perjalanan ini sering sangat membosankan, memasuki kegelapan, kesepian, pergulatan dengan diri sendiri, membuat putusa asa dan sebagainya. Beranikah kita terus untuk melakukan perjalanan bersama Yesus? Kita tidak perlu membayangkan untuk menjadi seperti Saul ataupun Saulus, melainkan cukuplah menjadi diri kita, namun ada perubahan pandangan hidup, visi dan sikap hidup yang merupakan hasil sebuah refleksi.
Perjalanan hidup seseorang tidak bisa diduga sebelumnya. Sebuah kejadian yang tidak terduga bisa mengubah jalan hidup seseorang. Menurut buku The Celentin's Phropecy, bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang kebetulan. Semua sudah masuk dalam suatu kerangka besar hidup. Saul tidak pernah menduga sebelumnya bahwa perutusan ayahnya untuk mencari keledai dan kegagalan usaha dalam pencarian itu ternyata suatu berkah yang mampu mengubah hidupnya bahkan lebih besar lagi perubahan sejarah bangsa Israel. Saul tidak pernah menduga bahwa dia akan menjadi raja, sebab dia hanyalah seorang pemuda yang berasal dari suku Benyamin, suku yang terkecil. Saul bahkan berasal dari kaum yang paling hina dari suku Benyamin (1Sam 9:21).
Dalam Perjanjian Baru kisah perubahan hidup yang senada ada dalam diri Paulus. Dia tidak pernah mengira bahwa dia akan menjadi seorang pewarta agama Kristen. Dia yang semula pergi ke Damsyik dengan penuh kebencian untuk menghancurkan umat Kristen, ternyata dalam perjalanan dia berubah total. Perjalanan ke Damsyik tidak hanya mengubah cara pandang Saulus terhadap kekristenan, namun lebih dari itu dia mengubah sejarah Kekristenan. Banyak orang mengakui bahwa Paulus merupakan tokoh kunci perkembangan agama Kristen. Jika tidak ada Paulus, mungkin agama Kristen masih merupakan agama kecil di Yahudi.
Sidharta Budha Gautama semula hanyalah seorang pangeran di sebuah kerajaan kecil. Suatu hari dia memutuskan untuk keluar dari istana dan mengadakan suatu perjalanan yang mampu mengubah hidupnya. Pertemuannya dengan orang miskin dan orang mati mampu mengubah pandangan hidupnya, bahkan keseluruhan pribadinya. Perjalanannya itu merupakan satu titik tolak atau titik balik yang mengubahnya.
Perjalanan dapat menjadi suatu perubahan dalam diri manusia. Suatu peristiwa entah suka atau duka, yang ditemukan dalam perjalanan dapat menjadi cahaya dalam hidup dan mengubah pola pikir manusia. Perubahan bisa frontal seperti Paulus atau Sidharta maupun seperti Saul. Perjalanan Saul mengubahnya dari seorang gembala menjadi seorang pemimpin Israel. Saulus yang semula orang musuh agama Kristen berubah menjadi tokoh kekristenan. Sidharta yang semula pangeran yang sangat terjamin hidupnya, berubah total menjadi pertapa yang hidup dalam kemiskinan. Perubahan bukan hanya soal yang menyangkut hal-hal lahiriah, melainkan keseluruhan cara hidup, pandangan, visi dan seluruh kepribadiannya.
Contoh di atas menunjukan bahwa perubahan hidup dimulai dengan sebuah perjalanan. Perubahan hidupku juga dimulai oleh suatu perjalanan. Semula keluargaku tinggal di Bogor yang merupakan daerah muslim yang taat. Suatu saat orang tuaku mendapat tugas di Surabaya, maka mulailah aku memasuki kota Surabaya. Disinilah aku berubah menjadi seorang Katolik dan lebih lanjut menjadi imam. Jika direnungkan, pilihan hidupku ini tidak masuk akal. Aneh. Aku yang dibesarkan dalam agama Islam yang bercampur kejawen memutuskan untuk menjadi Katolik. Aku yang tidak pernah memiliki cita-cita menjadi imam kemudian memutuskan menjadi imam. Kekatolikanku yang hanya terbatas pada misa di hari Natal saja, ternyata berani memutuskan diri untuk menjadi imam.
Aktifitasku terlibat dalam pertemanan dengan anak-anak jalanan dan kaum miskin lainnya juga dimulai dari suatu perjalanan. Aku bersama seorang teman berjalan ke terminal Joyoboyo untuk mencari seseorang. Di terminal aku mulai ngobrol dengan beberapa orang miskin dan perhatianku tertuju pada anak-anak miskin. Mulailah aku sedikit demi sedikit melakukan pertemanan dengan mereka hingga mengumpulkan mereka dan memiliki rumah singgah.
Memang keputusanku untuk menjadi Katolik dan menjadi imam dan terlibat dalam pertemanan dengan kaum miskin, tidak mutlak akibat perpindahan atau kepergianku itu. Saul bisa menjadi raja Israel dan Paulus bisa menjadi rasul juga bukan disebabkan hanya kepergian saja. Banyak hal-hal yang mengubah hidup dalam perjalanan itu. Seandainya Saul menemukan keledainya secepat mungkin, dia pasti akan kembali ke rumah orang tuanya dan mungkin dia akan tetap sebagai warga biasa. Demikian pula dengan Paulus, jika dia tidak mendapatkan penampakan di jalan, kemungkinan dia masih dikenang sebagai salah satu tokoh pembunuh umat Kristen. Maka perjalanan tidak bisa dijadikan tolok ukur suatu perubahan manusia. Pertemuan dengan orang lain dan aneka peristiwa yang direfleksi inilah yang menentukan sebuah perubahan. Seandainya Saul tidak bertemu dengan Samuel, mungkin dia hanya tetap akan menjadi penggembala. Seandainya Saulus tidak bertemu dengan Yesus mungkin dia akan melanjutkan perjuangannya membunuh orang Kristen. Pertemuan tidak langsung mengubah, melainkan perlu waktu untuk merenung. Saulus membutuhkan beberapa tahun untuk merenung sebelum keluar sebagai pewarta. Aneka peritiswa akan berlalu begitu saja jika tanpa sebuah permenungan yang sungguh-sungguh. Dalam buku Sang Alkemis karangan Paulo Coelho, dikatakan bahwa semua peristiwa itu biasa saja. Peristiwa akan menjadi baru dan mengubah jika direfleksikan.
Yesus mengajak orang untuk mengikuti Dia melakukan suatu perjalanan dari Galilea menuju ke Yerusalem. Untuk mengikuti Yesus hanya ada satu syarat yaitu keberanian untuk meninggalkan segala sesuatu, menyangkal diri sendiri dan memikul salib. Suatu syarat yang tidak mudah. Hal ini memang sengaja dilakukan Yesus sebab perjalanan yang dilakukanNya bukan suatu wisata melainkan pewartaan Kerajaan Allah. Perjalanan pertobatan dan pengampunan. Perjalanan belas kasih dan keberpihakan pada kaum miskin dan tertindas. Perjalanan menuju bukit Golgota. Maka sebagai langkah awal untuk menguji keberanian para murid adalah membunuh keegoisan dan keindividualisan untuk mampu dibunuh demi orang-orang yang dilayani.
Kekatolikan adalah suatu perjalanan. Kita telah memutuskan untuk bersama Yesus berjalan menuju bukit Golgota. Suatu perjalanan yang penuh tantangan dan penderitaan. Perjalanan yang telah dimulai dengan pembunuhan diri sendiri dan kesiapan untuk memikul salib. Perjalanan ini sering sangat membosankan, memasuki kegelapan, kesepian, pergulatan dengan diri sendiri, membuat putusa asa dan sebagainya. Beranikah kita terus untuk melakukan perjalanan bersama Yesus? Kita tidak perlu membayangkan untuk menjadi seperti Saul ataupun Saulus, melainkan cukuplah menjadi diri kita, namun ada perubahan pandangan hidup, visi dan sikap hidup yang merupakan hasil sebuah refleksi.
Selasa, 08 November 2011
YIN YANG

Buku I-Ching menuliskan dua prinsip yang menjadi sumber segala eksistensi dan transformasi di alam semesta yaitu Yin-Yang. Yin artinya yang tertutup, yang pasif, mewakili bumi, malam, kegelapan, bulan, betina, air dan sebagainya. Sedangkan Yang yang terbuka, aktif, terang, dan mewakili matahari, langit, jantan, api, aksi, kuat, gembira dan sebagainya. Yin-Yang membentuk sebuah lingkaran yang berarti sempurna dan dibatasi oleh garis lengkung, bukan garis lurus tegas, sebab hendak menggambarkan bahwa keduanya saling mendukung. Menyatu. Bahkan keduanya saling memuat. Dalam Yin ada Yang demikian pula sebaliknya. Hal ini disebabkan bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Tidak ada ketotalan. Dalam kebaikan ada kejahatan demikian pula sebaliknya.
Pemahan diatas adalah pemahaman orang yang berusaha masuk dalam dunia filsafat Cina. Bagiku yang awam filsafat, aku hanya berusaha menarik hal sederhana saja. Hal yang bisa dikaitkan dengan hidup kongkrit. Pemahaman Yin-Yang menunjukan bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kebaikan apapun masih ada hitamnya, sebaliknya kejahatan apapun masih ada kebaikannya. Bahkan perpaduan antara putih dan gelap membentuk sebuah lingkaran yang sempurna. Apakah penulis buku I Ching hendak mengatakan bahwa kesempurnaan dunia itu tersusun dari sisi gelap dan putih? Jika demikian maka manusia pun tersusun dari gelap dan putih.
Awal bulan ini TV di rumah singgah dicuri oleh anak yang dipercaya untuk menjaga barang-barang milik bersama. Minggu lalu ada dua anak lagi yang wajahnya masuk dalam koran Memorandum akibat membacok seorang bapak penjual rokok di tepi jalan. Usia bapak ini sudah sekitar 60 th. Kini 3 anak masuk tahanan polsek dan satu anak menjadi buron. Seorang bertanya mengapa aku masih bertahan mendampingi anak-anak yang penuh kejahatan seperti itu? Dia mengusulkan agar aku menutup rumah singgah, sebab mereka semua dalam kuasa kegelapan. Tapi begitu ada niat menutup, maka muncul wajah-wajah yang masih membutuhkan. Wajah yang ketakutan akan tidur di jalanan lagi.
Aku yakin dalam diri anak jalanan yang dianggap jahat masih ada titik-titik baiknya juga. Mereka pasti mempunyai benih kebaikan, hanya tertimbun oleh kejahatan yang diakibatkan situasi dan sejarah buruk hidup mereka. Bagaikan Yin yang memuat Yang. Aku teringat suatu hari ada anak yang bertengkar sampai salah satu sudah hendak mengeluarkan pisau untuk membacok temannya. Setelah kami pisah, salah satu dari mereka pergi. Tidak beberapa lama kemudian dia datang lagi dengan membawa nasi bungkus. Ternyata teman yang hampir dibacok itupun diberi nasi bungkus. Ketika kutanya kok memberi nasi pada anak itu? Dia menjawab bahwa dia kasihan melihat anak itu kelaparan. Dari sini aku terheran-heran, baru saja dia hampir membacoknya akibat kejengkelan hati dan sekarang dia sudah melupakan kejengkelan hatinya dan memberikan sebagian miliknya untuk anak yang telah membuatnya marah. Bukankah ini sebuah aplikasi ajaran Yesus soal pengampunan? Kadang aku sendiri pun tidak mampu begitu mudah melupakan kesalahan orang, ternyata teman ini dapat melakukannya. Bukankah ini sebuah benih kebaikan?
Dalam komunitas anak jalanan ternyata tidak semua anak jalanan mempunyai gambaran mengerikan seperti yang sering dikatakan oleh orang. Tidak semua anak jalanan suka mabuk, mencuri, berkelahi dan sebagainya. Ada anak-anak yang menjadi anak jalanan sebab terpaksa. Mereka tidak mempunyai pilihan hidup yang lain. Memang orang akan mengatakan bahwa itu tidak mungkin. Tapi jika sudah berdekatan dengan mereka dan mendengar kisah hidup mereka sampai menjadi anak jalanan, baru orang akan memahaminya. Ada anak-anak jalanan yang baik, namun karena cerita soal mereka sudah hitam, sehingga semua anak jalanan dianggap hitam. Pengadilan semacam ini yang membuat anak jalanan tidak bisa keluar dari situasi hidupnya saat ini, sebab banyak orang sudah menutup jalan keluar.
Menurut Yin Yang setiap kebaikan pasti masih ada keburukannya. Sebab dalam Yang mengandung Yin. Sekarang tergantung kita mau melihat kemana. Persoalanya banyak orang mudah tertarik melihat warna hitam daripada wahana yang lebih luas. Dalam Yang yang putih itu, banyak orang yang tertarik dengan bulatan Yin di tempat yang paling terang. Tapi sebaliknya banyak orang mengalami kesulitan untuk melihat bulatan Yang yang ada dalam gambaran Yin. Kegelapan atau warna hitam mungkin lebih menarik indra seseorang, sehingga orang lebih mudah melihat hitam di atas putih daripada putih diatas hitam.
Melihat Yin-Yang kita bisa belajar dalam menghadapi dunia. Dalam kejahatan anak jalanan pasti ada kebaikannya. Di dalam kebaikan teman kita pasti ada titik celah yang bisa dikritik. Orang yang berpikir positif akan berusaha mencari kebaikan dalam kejahatan. Atau memaklumi noda hitam yang ada dalam kebaikan, sehingga dia mampu bersyukur atas kebaikan yang ada. Pandangan ini akan memberinya harapan untuk tetap berjuang. Tidak mudah putus asa dan menyerah.
Memaklumi kejahatan anak jalanan bukan berarti aku menyetujui aneka kejahatan yang dilakukan oleh mereka. Aku harus berani menegur dan mengajak mereka berproses untuk menyadari diri dan hidup mereka agar siap keluar dari lingkaran kejahatan. Pemakluman adalah keberanianku untuk tidak memusatkan perhatian pada hal negatif melainkan berusaha mencari titik-titik positif meski sekecil apapun. Dari satu titik itulah aku berusaha menunjukan pada mereka bahwa masih ada sisi diri mereka yang positif dan bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya. Dengan demikian bagiku Yin Yang adalah sebuah bentuk cara pandang untuk senantiasa percaya bahwa di dalam kehidapan anak jalanan yang kelam masih ada sisi baiknya. Bahwa mereka masih mempunyai harapan untuk berubah. Harapan bahwa masih ada hari esok yang lebih baik. Hal ini memberiku semangat untuk terus berteman dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka.
Yesus adalah orang yang berpikir sangat positif. Dia tetap melihat kebaikan dalam diri para murid meski sering kali mereka menunjukan noda-noda hitam. Dia sudah mengetahui Petrus akan berkhianat dan itu sungguh terjadi, namun Dia tetap memberikan kepercayaan. Dia tetap melihat sisi positif dalam diri Petrus. Namun bukan berarti Dia mendiamkan kejahatan. Dia dengan tegas menegur para murid, bahkan Dia juga tidak segan-segan mengkritik para ahli Taurat dan kaum Farisi di depan publik, sebab mereka memiliki sisi gelap dalam hidupnya. Ini bukan bentuk ungkapan kebencian melainkan gebrakanNya terhadap para tokoh masyarakat yang tidak bisa dijadikan teladan agar mereka menyadari akan kekeliruan hidupnya.
Tapi sebaliknya ada orang yang berpikiran negatif, dia akan selalu melihat bagian hitam dalam hidup. Akibatnya dia tidak akan puas dengan banyak hal. Memprotes apa saja yang terjadi. Bahkan mungkin dia tidak puas dengan apa yang ada dalam dirinya. Banyak orang yang menyesali mengapa dia dilahirkan. Mengapa dia tidak mempunyai talenta seperti yang lain dan sebagainya. Orang ini tidak akan mampu bersyukur. Kalau toh dia berdoa, isi doanya hanya akan berisi keluhan dan protes tidak puas pada Tuhan. Hidupnya tidak akan tenang sebab senantiasa melihat hal-hal negatif dalam diri, sesama dan lingkungan.
Aku punya seorang teman yang jika bertemu selalu mengeluh. Ada saja hal yang dijadikan sebagai bahan untuk dikeluhkan. Aku kadang jengkel juga dengannya, sebab bagiku hal yang tidak perlu dipersoalkan, baginya sudah menjadi sebuah persoalan. Akibat memusatkan diri pada pandangan negatif, maka dia tidak bisa menikmati hidup. Dia tidak puas dengan apa yang dimiliki, apa yang terjadi dan apa yang dihadapi. Dia sulit untuk bersyukur dan bergembira. Jika dikritik dia marah, sebaliknya jika dipuji juga tidak senang sebab dia curiga bahwa orang memuji pasti ada maksudnya. Hidupnya penuh dengan kecurigaan dan keluhan. Bagaimana dia bisa bersyukur pada Tuhan jika selalu mengkritik Tuhan yang menganugerahkan hujan dan panas?
Dalam diri anak jalanan memang memuat unsur Yin yang sangat besar. Namun semua itu bukan akhir, sebab mereka juga mempunyai unsur Yang, maka yang terpenting adalah bagaimana kita mulai mencari unsur Yang dalam diri anak jalanan dan memperluasnya. Keberanian untuk melihat unsur Yang akan sangat besar artinya bagi usaha membangun pertemanan dengan anak jalanan. Hal ini pun akan membantu kita untuk berproses melihat unsur Yang dalam aneka peristiwa hidup dan diri kita sendiri. Aku yakin jika kita mampu melihat unsur Yang dalam bagian Yin maka hidup akan menjadi semakin hidup.
Pemahan diatas adalah pemahaman orang yang berusaha masuk dalam dunia filsafat Cina. Bagiku yang awam filsafat, aku hanya berusaha menarik hal sederhana saja. Hal yang bisa dikaitkan dengan hidup kongkrit. Pemahaman Yin-Yang menunjukan bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kebaikan apapun masih ada hitamnya, sebaliknya kejahatan apapun masih ada kebaikannya. Bahkan perpaduan antara putih dan gelap membentuk sebuah lingkaran yang sempurna. Apakah penulis buku I Ching hendak mengatakan bahwa kesempurnaan dunia itu tersusun dari sisi gelap dan putih? Jika demikian maka manusia pun tersusun dari gelap dan putih.
Awal bulan ini TV di rumah singgah dicuri oleh anak yang dipercaya untuk menjaga barang-barang milik bersama. Minggu lalu ada dua anak lagi yang wajahnya masuk dalam koran Memorandum akibat membacok seorang bapak penjual rokok di tepi jalan. Usia bapak ini sudah sekitar 60 th. Kini 3 anak masuk tahanan polsek dan satu anak menjadi buron. Seorang bertanya mengapa aku masih bertahan mendampingi anak-anak yang penuh kejahatan seperti itu? Dia mengusulkan agar aku menutup rumah singgah, sebab mereka semua dalam kuasa kegelapan. Tapi begitu ada niat menutup, maka muncul wajah-wajah yang masih membutuhkan. Wajah yang ketakutan akan tidur di jalanan lagi.
Aku yakin dalam diri anak jalanan yang dianggap jahat masih ada titik-titik baiknya juga. Mereka pasti mempunyai benih kebaikan, hanya tertimbun oleh kejahatan yang diakibatkan situasi dan sejarah buruk hidup mereka. Bagaikan Yin yang memuat Yang. Aku teringat suatu hari ada anak yang bertengkar sampai salah satu sudah hendak mengeluarkan pisau untuk membacok temannya. Setelah kami pisah, salah satu dari mereka pergi. Tidak beberapa lama kemudian dia datang lagi dengan membawa nasi bungkus. Ternyata teman yang hampir dibacok itupun diberi nasi bungkus. Ketika kutanya kok memberi nasi pada anak itu? Dia menjawab bahwa dia kasihan melihat anak itu kelaparan. Dari sini aku terheran-heran, baru saja dia hampir membacoknya akibat kejengkelan hati dan sekarang dia sudah melupakan kejengkelan hatinya dan memberikan sebagian miliknya untuk anak yang telah membuatnya marah. Bukankah ini sebuah aplikasi ajaran Yesus soal pengampunan? Kadang aku sendiri pun tidak mampu begitu mudah melupakan kesalahan orang, ternyata teman ini dapat melakukannya. Bukankah ini sebuah benih kebaikan?
Dalam komunitas anak jalanan ternyata tidak semua anak jalanan mempunyai gambaran mengerikan seperti yang sering dikatakan oleh orang. Tidak semua anak jalanan suka mabuk, mencuri, berkelahi dan sebagainya. Ada anak-anak yang menjadi anak jalanan sebab terpaksa. Mereka tidak mempunyai pilihan hidup yang lain. Memang orang akan mengatakan bahwa itu tidak mungkin. Tapi jika sudah berdekatan dengan mereka dan mendengar kisah hidup mereka sampai menjadi anak jalanan, baru orang akan memahaminya. Ada anak-anak jalanan yang baik, namun karena cerita soal mereka sudah hitam, sehingga semua anak jalanan dianggap hitam. Pengadilan semacam ini yang membuat anak jalanan tidak bisa keluar dari situasi hidupnya saat ini, sebab banyak orang sudah menutup jalan keluar.
Menurut Yin Yang setiap kebaikan pasti masih ada keburukannya. Sebab dalam Yang mengandung Yin. Sekarang tergantung kita mau melihat kemana. Persoalanya banyak orang mudah tertarik melihat warna hitam daripada wahana yang lebih luas. Dalam Yang yang putih itu, banyak orang yang tertarik dengan bulatan Yin di tempat yang paling terang. Tapi sebaliknya banyak orang mengalami kesulitan untuk melihat bulatan Yang yang ada dalam gambaran Yin. Kegelapan atau warna hitam mungkin lebih menarik indra seseorang, sehingga orang lebih mudah melihat hitam di atas putih daripada putih diatas hitam.
Melihat Yin-Yang kita bisa belajar dalam menghadapi dunia. Dalam kejahatan anak jalanan pasti ada kebaikannya. Di dalam kebaikan teman kita pasti ada titik celah yang bisa dikritik. Orang yang berpikir positif akan berusaha mencari kebaikan dalam kejahatan. Atau memaklumi noda hitam yang ada dalam kebaikan, sehingga dia mampu bersyukur atas kebaikan yang ada. Pandangan ini akan memberinya harapan untuk tetap berjuang. Tidak mudah putus asa dan menyerah.
Memaklumi kejahatan anak jalanan bukan berarti aku menyetujui aneka kejahatan yang dilakukan oleh mereka. Aku harus berani menegur dan mengajak mereka berproses untuk menyadari diri dan hidup mereka agar siap keluar dari lingkaran kejahatan. Pemakluman adalah keberanianku untuk tidak memusatkan perhatian pada hal negatif melainkan berusaha mencari titik-titik positif meski sekecil apapun. Dari satu titik itulah aku berusaha menunjukan pada mereka bahwa masih ada sisi diri mereka yang positif dan bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya. Dengan demikian bagiku Yin Yang adalah sebuah bentuk cara pandang untuk senantiasa percaya bahwa di dalam kehidapan anak jalanan yang kelam masih ada sisi baiknya. Bahwa mereka masih mempunyai harapan untuk berubah. Harapan bahwa masih ada hari esok yang lebih baik. Hal ini memberiku semangat untuk terus berteman dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka.
Yesus adalah orang yang berpikir sangat positif. Dia tetap melihat kebaikan dalam diri para murid meski sering kali mereka menunjukan noda-noda hitam. Dia sudah mengetahui Petrus akan berkhianat dan itu sungguh terjadi, namun Dia tetap memberikan kepercayaan. Dia tetap melihat sisi positif dalam diri Petrus. Namun bukan berarti Dia mendiamkan kejahatan. Dia dengan tegas menegur para murid, bahkan Dia juga tidak segan-segan mengkritik para ahli Taurat dan kaum Farisi di depan publik, sebab mereka memiliki sisi gelap dalam hidupnya. Ini bukan bentuk ungkapan kebencian melainkan gebrakanNya terhadap para tokoh masyarakat yang tidak bisa dijadikan teladan agar mereka menyadari akan kekeliruan hidupnya.
Tapi sebaliknya ada orang yang berpikiran negatif, dia akan selalu melihat bagian hitam dalam hidup. Akibatnya dia tidak akan puas dengan banyak hal. Memprotes apa saja yang terjadi. Bahkan mungkin dia tidak puas dengan apa yang ada dalam dirinya. Banyak orang yang menyesali mengapa dia dilahirkan. Mengapa dia tidak mempunyai talenta seperti yang lain dan sebagainya. Orang ini tidak akan mampu bersyukur. Kalau toh dia berdoa, isi doanya hanya akan berisi keluhan dan protes tidak puas pada Tuhan. Hidupnya tidak akan tenang sebab senantiasa melihat hal-hal negatif dalam diri, sesama dan lingkungan.
Aku punya seorang teman yang jika bertemu selalu mengeluh. Ada saja hal yang dijadikan sebagai bahan untuk dikeluhkan. Aku kadang jengkel juga dengannya, sebab bagiku hal yang tidak perlu dipersoalkan, baginya sudah menjadi sebuah persoalan. Akibat memusatkan diri pada pandangan negatif, maka dia tidak bisa menikmati hidup. Dia tidak puas dengan apa yang dimiliki, apa yang terjadi dan apa yang dihadapi. Dia sulit untuk bersyukur dan bergembira. Jika dikritik dia marah, sebaliknya jika dipuji juga tidak senang sebab dia curiga bahwa orang memuji pasti ada maksudnya. Hidupnya penuh dengan kecurigaan dan keluhan. Bagaimana dia bisa bersyukur pada Tuhan jika selalu mengkritik Tuhan yang menganugerahkan hujan dan panas?
Dalam diri anak jalanan memang memuat unsur Yin yang sangat besar. Namun semua itu bukan akhir, sebab mereka juga mempunyai unsur Yang, maka yang terpenting adalah bagaimana kita mulai mencari unsur Yang dalam diri anak jalanan dan memperluasnya. Keberanian untuk melihat unsur Yang akan sangat besar artinya bagi usaha membangun pertemanan dengan anak jalanan. Hal ini pun akan membantu kita untuk berproses melihat unsur Yang dalam aneka peristiwa hidup dan diri kita sendiri. Aku yakin jika kita mampu melihat unsur Yang dalam bagian Yin maka hidup akan menjadi semakin hidup.
Langganan:
Postingan (Atom)
