Rabu, 06 Mei 2009

ROBOHNYA SURAU KAMI


Pada tahun 1956 AA Navis menerbitkan kumpulan cerpen yang diberi judul Robohnya Surau Kami, yang merupakan salah satu judul cerpennya. Cerpen Robohnya Surau Kami intinya berisi dialog antara Tuhan dengan Haji Saleh. Haji Saleh adalah orang yang sangat saleh dan tekun beribadah tapi ketika meninggal dia masuk neraka. Maka terjadi dialog antara dia dan Tuhan. Dia protes mengapa masuk neraka. Tuhan menjelaskan bahwa dia masuk neraka sebab kurang bertanggungjawab terhadap dirinya. Tuhan sudah memberikan tanah air Indonesia yang subur, tetapi mengapa Haji Saleh tetap miskin. Cerpen ini sebetulnya mengkritik bangsa Indonesia pada saat itu.

Siang ini dibawah terik matahari yang membakar kota Surabaya, aku berdiri di depan reruntuhan bangunan sepanjang jalan Jagir. Beberapa tahun lalu aku membangun sebuah surau atau mushola bagi para pemulung di tempat ini. Kini semua sudah tinggal puing-puing akibat terjangan bego (back hoe) yang memporakporandakan seluruh perkampungan di tepi sungai. Sepanjang tepi sungai ini sudah tidak ada lagi satu rumah yang berdiri tegak. Dalam waktu sehari deretan rumah yang padat sudah menjadi reruntuhan.

Beberapa orang penghuni perkampungan masih bingung. Wajah mereka tampak putus asa. Pedih melihat tempat tinggal yang mereka miliki selama ini dihancurkan tanpa kuasa menolak. Tahun 1967 pemerintah melalui departemen sosial menempatkan beberapa pemulung di tepi sungai. Saat itu daerah sekitar sini masih merupakan tempat pembuangan sampah. Lambat laun akibat pembangunan kota, tempat pembuangan sampah itu sedikit demi sedikit berubah menjadi jalan raya dan perkampungan serta bangunan-bangunan besar di lahan seberang jalan. Sedangkan lahan di tepi sungai tetap menjadi tempat bagi para pemulung yang telah beranak pinak selama bertahun-tahun tinggal di tempat itu. Jumlah mereka menjadi besar dan akhirnya ada pula yang tidak bekerja sebagai pemulung. Disini mereka memiliki KTP dan KSK serta setiap tahun rutin membayar PBB. Dengan demikian mereka seolah sudah sah menempati tanah di tepi sungai.

Beberapa kali pemerintah mengeluarkan surat agar mereka pindah, sebab bantaran sungai tidak boleh dijadikan perkampungan. Namun mereka masih berusaha bertahan. Bukan mereka tidak ingin pindah dari tepi sungai, namun keadaan memaksa mereka untuk tetap tinggal disana. Siapa orang yang mau tinggal di rumah yang berukuran 3X3 m atau 4X3 m bahkan ada yang 2X4 m? Mereka terpaksa tinggal disana sebab tidak punya uang untuk membeli rumah di kampung atau daerah sekitar Surabaya. Pernah pemerintah menyarankan agar mereka kembali ke desa. Bagaimana mungkin mereka kembali ke desa bila sejak tahun 1960 an mereka sudah tinggal disana? Mereka sudah tidak mempunyai tanah di desa. Lalu kalau pulang ke desa mereka akan tinggal dimana? Apa yang akan mereka kerjakan untuk menyambung hidup?

Beberapa hari yang lalu kembali datang surat dari camat agar masyarakat mengosongkan tempatnya. Masyarakat lalu mengutus perwakilannya ke DPRD untuk memohon bantuan dari para anggota dewan. Dalam pertemuan itu disepakati bahwa masyarakat disitu tidak akan digusur. Semua yang datang dalam pertemuan membubuhkan tanda tangan, termasuk anggota DPRD komisi C. Tapi beberapa hari kemudian penggusuran itu tetap terjadi. Masyarakat yang sudah merasa aman karena ada janji tertulis dari anggota DPRD menjadi terkejut. Mereka tidak siap untuk pindah. Mereka juga bingung mau pindah kemana? Konon pemerintah menyediakan rumah susun, tapi apakah rumah itu sudah siap untuk dihuni? Rumah susun yang ditunjuk masih belum ada listrik dan air. Bagaimana mungkin mereka harus menempati rumah yang tanpa air? Usulan pemerintah memang bagus, tapi tidak sebagus realitanya.

Senin 4 Mei sejak pagi ratusan aparat sudah datang dan mengepung daerah itu. Seperti akan terjadi kerusuhan besar atau perang. Rakyat yang tidak puas mengadakan aksi akibatnya ada 18 orang ditangkap dan tidak sedikit yang mengalami kekerasan. Mengapa memperlakukan rakyat seperti itu? Lurah dan camat orang yang dianggap menjadi pejabat daerah tidak menampakkan batang hidungnya. Maka dalam waktu sekejap rakyat kalah. 2 bego dengan dikawal puluhan polisi, puluhan satpol serta TNI dengan leluasa meluluh lantakkan semua bangunan diiringi tangisan rakyat yang tidak berkuasa dan tatapan mata putus asa penuh kemarahan terpendam.

Hari senin surau kami masih dibiarkan berdiri, namun pada hari selasa pagi surau itu pun dihancurkan. Bila membaca buku AA Navis, apakah aparat dan penguasa akan masuk surga atau neraka? Bila Haji Soleh masuk neraka karena tetap membiarkan dirinya miskin meski Tuhan memberikan kekayaan yang melimpah pada bumi Indonesia. Apakah pemerintah yang membiarkan rakyatnya miskin akan masuk surga? Berat manakah dosa antara Haji Soleh dibandingkan dengan penguasa yang tidak peduli pada rakyat yang miskin?

Di tepi jalan beberapa orang kasak kusuk. Beberapa bulan lagi akan ada PEMILU presiden. Apakah mereka akan ikut mencontreng? Kalau tidak didaftar maka pemerintah salah sebab mereka adalah warga negara Indonesia yang sah dengan memiliki KTP serta KSK yang sah. Tapi kalau diberi kartu suara maka mereka termasuk penduduk mana, sebab kampung halaman mereka sudah tinggal reruntuhan. Tapi aku yakin mereka pasti akan dicatat sebagai warga sebab mereka dibutuhkan suaranya. Setelah suara mereka diperoleh maka nasib mereka bukan urusan dari penguasa. Ketika PEMILU legislatif ada beberapa orang caleg yang datang dan menawarkan janji. Tapi setelah PEMILU selesai maka mereka sudah tidak diperdulikan lagi. Hal ini akan terus terulang. Rakyat miskin hanya dibutuhkan bila saat PEMILU atau PILKADA.

Di tengah terik matahari aku bertanya pada angin, kemanakah negara ini akan dibawa? Akankan nasib rakyat kecil akan terus begini? Mereka sudah miskin dan senantiasa dimanfaatkan oleh yang kuat dan berkuasa. Ketika masih berupa lahan sampah mereka ditempatkan disini. Tetapi setelah daerah ini bagus maka mereka diusir begitu saja. Kuhela napas panjang. Ada rasa jengkel yang memenuhi kepala.

Minggu, 15 Maret 2009

APAKAH HEBATNYA SEBUAH JABATAN?

Seorang berkata padaku sambil memuji-muji seseorang yang memangku jabatan tinggi di Gereja. Mendengar itu aku hanya tersenyum. Dia bertanya mengapa aku tersenyum sinis? Padahal aku tersenyum biasa saja. Dia berharap aku pun ikut memuji kehebatan bila orang mampu memangku jabatan tinggi di Gereja. Aku tanya apakah hebatnya sebuah jabatan? Dia lalu menjelaskan banyak hal tentang hebatnya sebuah jabatan.

Gereja adalah kumpulan umat manusia yang beriman pada Yesus. Mereka adalah bagian dari dunia, yang berarti semua pola pikirnya tetap mengikuti pola pikir yang berkembang di dunia. Bila umat manusia di dunia menganggungkan jabatan maka anggota Gereja pun menganggungkan jabatan. Memang banyak orang yang tahu dan pernah baca Injil dimana Yesus mengkritik para rasul yang berebut jabatan untuk duduk di sebelah kanan dan kiri atau mengklaim siapa yang terbesar diantara mereka. Tapi apa yang dibaca itu hanya sekedar pengetahuan. Masih jauh dari penghayatan. Bila Yesus menegaskan bahwa orang yang ingin menjadi besar harus melayani atau jabatan untuk melayani, namun kenyataannya jauh dari itu. Tidak jarang jabatan itu menjadi ajang pamer kekuasaan, sebab memang dunia mengajarkan bahwa sebuah kedudukan terkait erat dengan kekuasaan dan kehormatan. Banyak umat yang jengkel dengan seorang romo yang sering menunjukkan kekuasaanya. Tidak jarang dia mengatakan saya ini romo kepala yang berkuasa atas paroki ini. Bila kebijakannya diserang maka dengan cepat dia mengatakan “Yang menjadi romo paroki itu kamu atau aku?” Aku yakin bahwa Yesus tidak mengajarkan hal itu, tapi pola pikir dunia yang sudah menancap dalam di dalam sanubarinya maka pola pikir dunialah yang muncul sedangkan ajaran Yesus hanyalah sebuah perkataan dan pengetahuan.

Dalam budaya Jawa sering orang mengatakan “Wong jawa kok ora njawani.” Hal ini bila ada orang yang bersikap atau bertutur kata tidak sesuai dengan budaya dan adat Jawa. Dari kalimat ini tersirat arti bahwa kejawaan seseorang dilihat dan diukur dari cara dia bersikap dan bertutur kata. Bila dia tidak mampu bersikap atau bertutur selayaknya tata aturan budaya Jawa maka dia dianggap tidak njawani. Dia bukan orang Jawa. Dengan demikian kejawaan seseorang bukan karena dia dilahirkan sebagai orang Jawa atau di tanah Jawa tapi dari cara dia bersikap, bertindak dan bertutur kata.

Sebetulnya prinsip ini juga dapat diterapkan pada jabatan. Jabatan adalah sebuah tempat dalam sebuah struktur yang dibuat dan disepakati oleh masyarakat atau sebuah komunitas. Dalam Gereja ada herarki yang sudah disepakati oleh umat Katolik dimana dalam herarki itu ada tempat-tempat yang diduduki oleh seseorang. Bila prinsip orang Jawa itu diterapkan dalam Gereja maka seorang romo itu baru bisa disebut sebagai romo bila dia bersikap dan bertutur selayaknya seorang romo. Bukan karena dia menduduki jabatan atau ditahbiskan begitu saja.

Yesus disebut Anak Allah bukan karena Dia dikandung oleh Maria dari Roh Kudus, melainkan karena Dia melakukan banyak karya bagi manusia. Dia mengajarkan agar manusia kembali kepada Allah. Keanakallahan Yesus terpancar dari sikap hidup, perkataan dan apa saja yang dilakukanNya. Maka ketika disalib seorang prajurit dengan melihat cara Yesus mati, dia menjadi percaya bahwa orang ini adalah sungguh Anak Allah. Pertanyaan kecil apakah para romo sudah menunjukkan keromoannya dari tutur kata dan sikapnya? Bila dia sudah menunjukkan keromoannya dari perilakunya, maka dia tidak perlu mengatakan “saya ini romo paroki” atau “siapa yang menjadi romo, saya atau kamu?” Orang yang masih menyatakan jabatan apa yang disandangnya mungkin sebetulnya dia tidak mampu menunjukkan jabatan itu dari sikap hidupnya. Dia adalah seorang romo yang tidak ngromoi, maka perlu menyatakan diri siapa adanya. Bagiku orang seperti ini adalah orang yang patut dikasihani. Maka aku tersenyum.

KATA DAN MAKNA DIRI

Suatu saat seorang pembina anak-anak sekolah minggu mengkritikku. Dia menyatakan keberatan kalau aku memaki dan sampai didengar oleh anak sekolah minggu. Aku berpikir sejenak untuk mengingat apakah aku pernah memaki anak sekolah minggu. Pembina itu mengatakan bahwa aku mengatakan “jangkrik!” pada salah satu anak jalanan yang sedang berkunjung di pasturan dan kebetulan di dekatku ada anak sekolah minggu. Anak itu menyampaikan pada pembinanya bahwa aku memaki. Mendengar itu aku hanya menghela napas.

Di tengah anak jalanan aku dianggap orang yang tidak pernah memaki, sebab kata “jangkrik” itu bukan sebuah makian. Mereka terbiasa mengucapkan kata yang lebih kotor dan kasar lagi misalnya kata “j…k” atau sebutan hewan. Tapi kata yang sama ditangkap berbeda. Bagi anak sekolah minggu kata “jangkrik” itu sangat kasar maka perlu melaporkan pada pembinanya. Kata yang sama bisa ditangkap dan ditafsirkan secara berbeda oleh orang yang berbeda.

Di tengah anak jalanan aku adalah bagian dari mereka. Mereka tahu bahwa aku seorang romo tapi mereka tidak peduli dengan jabatan itu. Bagi mereka jabatan romo hanya diketahui sebagai seorang Katolik. Tidak mempunyai muatan apa-apa selain dianggap sebagai pemimpin. Tapi bagi anak bina iman, jabatan romo itu mempunyai makna tertentu. Jabatan itu memuat di dalamnya tentang kesucian, keteladanan, kewibawaan dan sebagainya, sehingga sedikit saja kata makian sudah dianggap masalah besar, sebab tidak mencerminkan kesucian, keteladanan dan sebagainya. Dengan demikian sebuah kata dimaknai secara berbeda sebab terkait erat dengan jabatan, dimana dia berada dan kepada siapa dia berbicara.

Dalam kitab Amsal beberapa kali dikatakan agar orang hati-hati dalam berbicara. alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya! (Ams 15:23) Kata “jangkrik” bila tepat di tengah anak jalanan tidak ada masalah, tapi bila di tengah anak sekolah minggu akan jadi masalah. Ini sebuah pembelajaran bagi bagaimana aku harus berkata tidak hanya berkata tapi harus tepat dimana aku berada. Namun hal ini tidak mudah. Tidak jarang kata meluncur begitu saja akibat kebiasaan atau kurang kesadaran diri siapa aku ini dan dimana aku berada. Hal ini dapat menimbulkan masalah.

Dalam budaya Jawa ada istilah, ajining diri soko lati, terjemahan sederhananya adalah orang dihargai dari lidahnya atau perkataannya. Perkataan merupakan perwujudan dari pikiran, perasaan, karakter dan keseluruhan diri seseorang. Memang untuk memahami perkataan seseorang perlu juga melihat apa yang implisit, sebab ada orang yang mengungkapkan dirinya lebih besar pada yang implisit daripada yang eksplisit. Namun apa yang eksplisit itulah yang ditangkap orang secara cepat dan jelas. Oleh karena itu perlu berhati-hati dalam berkata-kata, sebab dari situ orang akan dinilai.

Disinilah perlu kesadaran yang terus menerus baik kesadaran akan siapa diriku sesungguhnya maupun kesadaran tempat dan lawan bicara. Semakin tinggi jabatanku dalam masyarakat semakin harus mampu mengontrol diri sehingga dapat berhati-hati dalam berucap, sebab setiap ucapanku dapat dijadikan pegangan oleh umat. Aku tidak bisa berbicara seenaknya di tengah umat seperti kalau aku sedang duduk-duduk di tepi jalan bersama anak-anak jalanan. Kerunyaman dapat muncul bila aku tidak sadar siapa diriku, dimana aku berkata dan kepada siapa aku berkata.

Jumat, 06 Maret 2009

PONARI

Di dusun Kedongsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang ada anak kecil bernama Ponari yang tiba-tiba menjadi dukun. Ribuan orang datang padanya setiap hari untuk meminta kesembuhan. Menurut cerita beberapa orang saat ini pasien Ponari mencapai sekitar 20.000 orang dan akan terus bertambah setiap harinya. Bila satu pasien memberi Rp 2000 saja pada Ponari maka saat ini uang Ponari sudah 40 juta rupiah. Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa uang Ponari di tabungan sudah mencapai angka 1 milyard lebih. Maka tidak heran bila Ponari menjadi rebutan dan muncul pula dua dukun baru yang hampir sama dengan Ponari.

Hadirnya dukun Ponari yang menghebohkan menimbulkan pro dan kontra. Mulai dari kalangan masyarakat bawah yang berdiskusi di warung kopi atau tepi jalan sampai ahli-ahli dalam berbagai bidang yang berdiskusi di ruang-ruang yang nyaman, berusaha menanggapi masalah Ponari. Seorang teman yang menyempatkan diri datang ke tempat Ponari dan melihat aktifitasnya memberikan pendapat bahwa banyak orang sembuh sebab mereka yakin akan sembuh. Sejak datang mereka yakin bahwa Ponari akan mampu menyembuhkan penyakitnya. Bahkan orang yang tidak dapat datang dan hanya memberikan foto atau KTPnya saja merasa bahwa mereka akan sembuh bila meminum air yang sudah dicelupi batu sakti milik Ponari. Apakah batu itu memang sangat sakti sehingga hanya dicelupkan beberapa detik saja sudah membuat air menjadi air yang sakti? Ataukah karena kepercayaan orang begitu kuat akan sembuh maka dia bisa sembuh?

Beberapa ahli bebatuan menyatakan pendapat bahwa tidak mungkin sebuah batu dicelupkan dalam beberapa detik bisa memberi efek pada air satu ember. Seorang ahli sosiologi dari sebuah universitas di Semarang mengatakan bahwa itu hanya sebuah sugesti saja. Ahli psikologi anak mengatakan bahwa itu hanya eksploitasi anak saja. Seorang yang terlibat dalam partai mengatakan bahwa kasus Ponari terkait dengan semakin dekatnya Pemilu. Beberapa kali dalam sejarah Indonesia menjelang Pemilu muncul orang yang menyatakan diri sebagai ratu adil dan sebagainya. Ahli agama mengatakan bahwa hal itu musryik. Seorang tokoh masyarakat mengatakan bahwa hal itu terjadi sebab biaya rumah sakit semakin mahal. Masih ada banyak pendapat dari berbagai disiplin ilmu. Tetapi apapun pendapat para ahli tidak didengarkan oleh banyak orang. Mereka tetap berdatangan dan ada banyak yang merasa telah disembuhkan.

Saya tidak ingin menambah deretan panjang pendapat yang pro dan kontra. Tapi saya berusaha mengkaitkan dengan Injil. Beberapa kali dalam peristiwa penyembuhan Yesus bersabda “imanmu telah menyelamatkan engkau.” Contoh yang paling jelas adalah seorang perempuan yang sakit pendarahan dan sudah parah. Ketika melihat Yesus dia berkata, seandainya aku sentuh jubahNya saja, aku akan sembuh (Mrk 5:25-34). Kesembuhan perempuan itu bukan karena jubah Yesus melainkan imannya pada Yesus. Maka Yesus pun menegaskan bahwa imanmu telah menyelamatkan engkau.

Menurut saya kesembuhan orang-orang itu karena dia beriman pada Ponari. Apakah pantas seseorang beriman pada Ponari?

Rabu, 11 Februari 2009

IMANMU MENYELAMATKAN ENGKAU

Beberapa tahun lalu aku pernah memimpin sebuah lembaga sosial masyarakat yang memiliki beberapa poliklinik. Salah satu masalah poliklinik adalah terjadi penurunan jumlah pasien setiap ada pergantian dokter. Bila ditanya mengapa pasien tidak mau datang lagi, jawaban mereka biasanya hampir sama yaitu bahwa dokter yang baru kurang pandai dan obat yang diberikan tidak manjur. Padahal bila dilihat dari IPKnya tidak semua dokter baru mempunyai IPK lebih rendah. Ada dokter baru yang IPKnya sangat tinggi dan sangat cerdas. Selain itu obat yang diberikan tidak ada bedanya, sebab semua obat yang disediakan poliklinik selalu sama. Pasien merasa tidak cocok dengan dokter baru sebab mereka kurang percaya padanya. Kesembuhan bukan hanya tergantung pada obat dan dokter tapi kepercayaan pada dokter itu.

Beberapa kisah penyembuhan yang terjadi dalam Kitab Suci juga dimulai dari kepercayaan. Naaman seorang perwira yang terkena kusta semula tidak percaya pada saran Elia bahwa dia akan sembuh bila memasukan diri dalam sungai Yordan yang jelek. Semula dia menolak tapi atas saran beberapa penasehatnya akhirnya dia menuruti juga perintah itu dan ternyata sembuh. Yesus pun dalam beberapa kali penyembuhan bersabda imanmu telah menyelamatkan engkau.

Iman adalah kepercayaan pada seseorang atau pribadi yang lebih tinggi dari orang yaitu Tuhan. Namun iman bukan sekedar percaya. Dalam iman ada penyerahan diri secara total dan keyakinan pada yang diimaninya. Dalam Injil ada kisah seorang perempuan yang sakit pendarahan parah. Dia sudah berobat kemana-mana tapi tidak sembuh bahkan semakin parah. Ketika dia mendengar Yesus akan lewat maka dia berkata, “Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.” (Mrk 5:28) Inilah iman itu. kepercayaan yang penuh dan tidak ragu.

Iman adalah kekuatan yang maha hebat sehingga membuat orang berani melakukan sesuatu yang dalam kaca mata manusia biasa dianggap tidak masuk akal. Ketika aku membaca buku karangan Shusaku Endo yang berjudul Silence aku menjadi tertegun. Bagaimana orang-orang Kristen Jepang pada jaman itu dapat tahan mengalami siksaan yang sangat mengerikan dari para penguasanya. Dalam buku itu ditulis bahwa siksaan di Jepang sangat mengerikan bahkan Nero, kaisar Roma yang terkenal sangat keji dan banyak membunuh orang Kristen termasuk St. Paulus, pun tidak pernah memikirkan siksaan yang demikian. Namun mengapa orang-orang Kristen itu mampu bertahan bahkan meminta untuk disiksa dan dibunuh? Imanlah yang menguatkan mereka untuk tetap bertahan dalam siksaan yang sangat mengerikan.

Iman memberikan kekuatan yang tidak terbayangkan pada setiap orang. Bila dia orang beriman maka dia dapat melakukan hal-hal yang luar biasa. Yesus bersabda bahwa bila kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja maka dapat memerintahkan gunung untuk pindah, sebab tidak ada yang mustahil (Mat 17:20). Sering kali orang mempunyai keinginan lalu dia berdoa pada Tuhan, namun akhirnya dia menyerah sebab Tuhan dianggap tidak mengabulkan doa-doanya. Ada juga orang yang putus asa sebab hidup terasa begitu berat dan aneka masalah datang silih berganti. Dia tidak tahu bagaimana mengatasi masalah yang dihadapinya. Bila membaca sabda Yesus di Matius itu apakah sabda itu hanya sebuah penghiburan semu? Apakah Yesus bohong?

Sering kali kita tidak mempunyai iman. Kepercayaan yang kita bangun sering kali runtuh dalam keraguan. Dalam doa kita pun sering ragu dan kuatir Tuhan tidak akan mengabulkan permohonan kita. Kita pun sering percaya tapi tidak beriman, sebab tidak menyertai kepercayaan itu dengan penyerahan diri secara total kepada Allah. Maka Yesus pun bertanya ketika Dia datang lagi masih adakah iman di bumi? (Luk 18:8). Ini sebuah pertanyaan yang tragis, sebab ada jutaan orang yang mengaku percaya padaNya mengapa Dia melontarkan pernyataan itu? Apakah Dia meragukan para muridNya? Ataukah memang ini realitanya bahwa tidak ada iman di bumi pada saat ini?

BERILAH YANG TERBAIK

Suatu saat menjelang lebaran, bapak dan ibu mengajak kami semua untuk berlebaran di rumah nenek. Ini berita yang sangat menggembirakan sebab kami jarang sekali pergi bersama-sama keluar kota. Nenek tinggal di Babat, sebuah kota kecil yang berjarak 73 km dari Surabaya, tempat tinggal kami. Bapak mengatakan bahwa kami akan menginap disana sekitar 4 hari. Beberapa hari menjelang berangkat bapak membagi hadiah lebaran berupa satu stel pakaian baru. Inilah pakaian baruku sepanjang tahun, sebab kami hanya membeli pakaian baru menjelang lebaran kecuali baju seragam sekolah. Gaji bapak sebagai pegawai negeri yang kecil tidak memungkinkan kami membeli pakaian kapan saja yang kami mau. Apalagi prinsip keadilan yang diterapkan oleh ibu bahwa kalau satu beli baju baru maka semua juga harus beli. Padahal kami enam bersaudara, maka anggaran baju baru cukup besar dan berat bagi bapak.

Malam takbir kami rayakan dengan menyalakan petasan. Beberapa tetangga membuat petasan memakai bambu atau tanah yang dilubangi lalu diisi air dan karbit. Suara petasan ini menggelegar dasyat sehingga membuat dinding kayu rumah nenek bergetar. Menjelang dini hari terdengar suara orang berteriak-teriak. Ternyata ada rumah yang terbakar akibat petasan. Dalam sekejap sebuah rumah yang terbuat dari bambu telah menjadi onggokkan arang yang menyala. Semua harta yang ada dalam rumah tidak ada yang dapat diselamatkan. Bersyukur tidak ada yang terluka.

Pagi hari setelah orang-orang selesai menjalankan sholat ied aku dan adik-adik pergi ke makam nenek dan kakek buyut. Ketika pulang ibu mengumpulkan kami semua. Ibu menceritakan akan penderitaan tetangga yang rumahnya terbakar. Dia baru saja datang dari menemuinya. Ibu menyarankan agar kami memberikan pakaian kami untuk anak-anaknya sebab mereka merayakan lebaran, sedangkan kami beragama Katolik sehingga tidak merayakan lebaran. Kasihan mereka tidak berpakaian yang pantas ketika lebaran. Saran ibu hanya kami tanggapi dengan gerutuan. Bagiku salah dia sendiri mengapa membuat petasan besar. Mereka juga tidak aku kenal. Selain itu pakaian yang kubawa hanya beberapa dan itu yang terbagus yang aku miliki.

Sampai siang ibu masih bertanya siapa yang akan memberikan pakiannya kepada mereka? Kebetulan tetangga itu mempunyai beberapa anak yang sepantar dengan kami. Akhirnya ibu membentangkan jariknya yang masih baru di meja tamu. Dia mengatakan siapa yang akan menambah akan ditunggu sampai sore. Ibu pun terus merayu agar kami rela berbagi. Akhirnya satu demi satu kami meletakkan pakaian kami di atas jarik ibu. Sore harinya semua itu diberikan pada tetangga. Sebelum berangkat ibu mengatakan nanti kalau ada rejeki kami akan dibelikan yang baru dan lebih bagus. Bagiku itu sebuah kata hiburan yang tidak akan terwujud. Kami harus menunggu lebaran tahun depan baru dapat baju baru lagi.

Bila mengingat pengalaman itu aku menjadi bersyukur. Aku bersyukur bahwa aku pernah, meski dengan terpaksa, memberikan yang terbaik apa yang aku miliki pada orang lain yang sedang membutuhkan. Aku sering prihatin bila melihat setumpuk pakaian layak pakai yang disumbang orang saat menjelang Natal atau Paskah atau ketika ada bencana. Aku beberapa kali harus membuang tumpukan pakaian yang tidak layak dipakai lagi. Memang sering diumumkan bahwa dibutuhkan pakaian bekas tapi bukan bekas pakaian. Pakaian bekas adalah pakaian yang pernah dipakai, sedangkan bekas pakaian adalah secarik kain yang dulu pernah menjadi pakaian tapi kini sudah tidak bisa disebut pakaian lagi.

Dorothy Day seorang suci dari Amerika mempunyai banyak rumah untuk melayani kaum miskin. Suatu hari ada seorang menyumbangkan cincin berlian yang sangat bagus padanya. Cincin itu lalu diberikan pada seorang perempuan tua yang sangat miskin. Beberapa orang protes mengapa cincin seindah itu diberikannya? Bukankah cincin itu dapat dijual lalu uangnya digunakan untuk membeli makanan atau kebutuhan yang lain? Tapi Dorothy Day menjawab bahwa orang miskin juga ingin tampil cantik dan memiliki barang bagus.

Kadang orang salah menilai orang miskin. Orang mengira bahwa orang miskin tidak perlu memakai pakaian yang bagus, sehingga yang diberikankan adalah pakaian yang dirinya sendiri sudah tidak ingin memakainya atau malu memakainya. Sebetulnya kaum miskin juga sama seperti manusia pada umumnya yang bangga bila memakai pakaian bagus atau memiliki barang bagus. Mengapa kita memberi mereka sesuatu yang sangat buruk dan tidak layak digunakan?

Yesus bersabda bahwa seorang sahabat adalah orang yang berani memberikan nyawanya kepada sahabatnya. Bila nyawa saja sudah diberikan lalu apa artinya barang dan pakaian yang kita miliki? Yesus menghendaki pemberian bukan hanya pada saudara tapi juga pada sesama, seseorang yang kita temui di sepanjang hidup. Orang yang tidak kenal sama sekali atau orang asing seperti kisah seorang Samaria yang menolong orang Yahudi yang dirampok. Mereka pun harus diperlakukan secara istimewa. Bila kita memberi saudara kita barang yang tidak layak mungkinkah kita akan memberikan yang terbaik untuk sesama?

MELEPASKAN

Waktu SMA aku mempunyai sebuah jam tangan murahan yang kubeli di tepi jalan. Setelah satu tahun lebih kupakai jam itu rusak. Sejak saat itu aku tidak lagi mempunyai jam tangan. Aku hanya mempunyai sebuah jam weker kecil yang dapat kubawa kemana-mana dan dapat membunyikan alarm yang sangat penting bagiku sebab untuk membangunkanku kalau sedang tidur. Bertahun-tahun aku hanya mempunyai jam itu.

Suatu hari ada seorang teman meminjami sebuah jam tangan, sebab dia memiliki beberapa buah. Aku sangat senang sekali, meski bukan milikku pribadi. Kini kemana-mana aku tidak perlu lagi membawa jam weker. Hampir dua tahun jam itu melekat di tanganku sampai akhirnya teman itu memintanya kembali. Saat itu hatiku sedih. Aku harus melepaskan jam yang sudah melekat selama ini. Aku sadar bahwa jam itu bukan milikku. Aku hanya dipinjami saja. Namun tetap saja rasa kehilangan itu melanda hatiku. Aku sedih melepaskan jam yang seolah telah menjadi milikku.

Beberapa saat rasa sedih itu terus mengeram dalam hati. Bila kulihat bekas jam di pergelangan tangan maka rasa sedih itu kembali muncul. Aku kecewa mengapa aku tidak mampu memilikinya. Rasa keinginan untuk memiliki selamanya dan kenyataan bahwa aku harus melepaskannya membuat hatiku sedih. Rasa kehilangan itu kuproses dalam diri. Aku tidak mau larut dalam kesedihan karena keterlepasan dari benda. Setelah beberapa saat berproses akhirnya aku bisa menerima. Aku meyakinkan diri sendiri bahwa segala sesuatu di dunia ini hanya sekedar tempelan dan titipan atau pinjaman. Suatu saat pasti akan diambil oleh pemiliknya lagi. Aku bersyukur bahwa selama ini aku telah dipercaya untuk merawat apa yang bukan menjadi milikku. Kini jam itu kembali kepada pemiliknya. Aku hanya bisa mengingat bahwa suatu saat dulu aku pernah mempunyai jam. Aku mengingat kebahagiaan ketika memilikinya.

Kadang memang orang ingin menjadi pemilik apa yang dititipkan padanya bahkan menguasainya. Dalam Injil Yesus memberi gambaran tentang ladang yang dititipkan pada para pekerja oleh tuannya. Tapi para penggarap itu berusaha untuk menguasai. Keinginan itu begitu kuat sampai mereka sampai tega membunuh orang-orang utusan tuannya bahkan membunuh anak tuannya agar ladang itu tetap menjadi miliknya. Keinginan memiliki dan menguasai secara penuh membuat orang tega melakukan hal keji bahkan melegalkan segala cara. Tidak jarang orang berebut hak kepemilikan dan tega melakukan hal-hal yang keji demi mempertahankan apa yang dia miliki.

Sebetulnya semakin erat orang mengenggam segala sesuatu maka semakin sakit bila apa yang digenggamnya terlepas. Kepemilikan ini bukan hanya bicara soal harta tapi segala sesuatu, misalnya teman, pasangan hidup, keluarga, jabatan dan sebagainya. Banyak pejabat ketika dilantik mengatakan bahwa jabatan itu amanah yang dipercayakan Tuhan padanya. Tapi ketika jabatan itu lepas banyak pula yang tidak siap. Mereka masih ingin terus berkuasa dan menguasai jabatan itu. Kesadaran bahwa apa yang ada padanya bukan miliknya membuat orang tidak takut lagi akan kehilangan. Segala sesuatu adalah milik Tuhan yang dipercayakan pada manusia. Manusia hanya diminta untuk merawat dan mengembangkannya. Dalam perumpamaan tentang talenta, Tuhan marah kepada orang yang tidak mau mengembangkan talentanya. Jadi meski bukan miliknya namun orang tetap bertanggungjawab untuk mengembangkannya.

Pengalaman kehilangan jam membuatku tidak berani lagi begitu terikat pada apa yang kumiliki. Aku berusaha menanamkan dalam diriku bahwa apa yang ada padaku saat ini suatu saat akan hilang atau diambil lagi. Kesadaran ini membuatku lebih nyaman dan ringan. Aku tidak gelisah bila apa yang ada padaku diambil oleh orang lain. Bila aku menduduki sebuah jabatan lalu suatu saat diambil alih oleh orang maka aku tidak kecewa dan bertanya mengapa kok diambil? aku hanya berpikir bahwa dulu aku pernah menduduki jabatan itu. Dengan mengenang apa yang pernah ada aku bisa bahagia dan tidak iri bila ada orang yang saat ini mendapat apa yang dulu pernah ada padaku.

Powered By Blogger