Selasa, 01 September 2009

SUATU SIANG DI PENGUNGSI PORONG


Udara panas menyengat. Aku berjalan di depan deretan rumah sederhana. Rumah darurat bagi para pengungsi lumpur Lapindo. Dari sela rumah muncul seraut wajah yang sudah aku kenali. Wajah yang kurus dan tampak berbinar melihatku.
“Wah sudah lama tidak kesini, saya sampai kangen,” katanya bahasa Jawa kromo.
“Maaf pak saya banyak acara sehingga tidak sempat kemari.” Jawabku. Bapak itu menyalami aku dengan penuh semangat.
“Tinggal pak romo lho yang masih setia kemari,” katanya basa basi
“Ah ada-ada saja. Kan masih banyak orang kemari,”
“Tidak.” jawabnya cepat. “Dulu pada awalnya memang masih banyak orang kemari. Ada artis, pejabat dan para ulama. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi yang mau membantu kami.”
“Ya mungkin mereka juga repot pak.”
“Saya bersyukur pak romo masih mau kemari. Pak romo satu-satunya orang yang masih setia mendampingi kami.”
“Bagaimana anak bapak,” kataku mengalihkan pembicaraan yang tidak ada gunanya.
“Baik. Dia naik kelas.” Jawabnya bangga. “Syukurlah dulu dibantu sama pak romo.” Kami berjalan menyusuri deretan rumah. Seorang ibu tua berdiri di depan pintu.
“Nak romo kok tumben datang.” Aku menyalami dan tersenyum. “Bagaimana ini nak kok ganti rugi belum turun. Kami ini harus makan apa kalau seperti ini?” keluhnya. Aku hanya menghela nafas panjang. Tidak tahu apa yang harus aku katakan. Sisa 80% ganti rugi kurban lumpur yang dijanjikan akan dibayar belum juga dibayar. Sudah banyak janji dan pendapat yang dilontarkan dalam media tapi realisasi masih dalam impian. Para kurban lumpur Lapindo masih berharap ada pemerintah yang peduli.

Beberapa orang muncul dan menyapaku. Sejak desember 2006 aku memang sudah sering muncul di pasar baru Porong. Kini mereka sudah pindah ke sebuah lahan baru yang merupakan hasil usaha mereka sendiri. Mereka menempati rumah-rumah darurat asal dapat untuk berlindung dari panas matahari dan embun di malam hari. Bila hujan nanti entah apa jadinya rumah mereka. Beberapa orang bersyukur meski aku beda agama dan rumahnya jauh tapi masih peduli pada mereka.

Ketika masih di pasar baru Porong dulu ada banyak orang berkunjung ke pasar baru dengan aneka alasan. Mulai dari artis, tokoh HAM, aktifis kemanusiaan, LSM, wartawan dalam dan luar negeri, politikus, pejabat dan aneka status lainnya. Tidak jarang mereka datang membawa spanduk sehingga banyak spanduk terbentang disana. Tapi dengan berjalannya waktu semakin jarang orang datang. Satu dua orang masih berusaha membangun relasi dengan para pengungsi dengan mengunjunginya, tapi semakin banyak orang lupa akan keberadaan dan masalah kurban lumpur Lapindo. Mereka seolah harus berjuang sendiri untuk menuntut hak mereka yang dirampas.

Pemerintahan berganti. Setiap ada pencalonan pemerintahan baru selalu ada janji yang dilontarkan ke berbagai media. Tapi setelah menjadi penguasa maka semua janji itu dilupakan bahkan muncul keputusan-keputusan yang merugikan para kurban. Setelah SP3 muncul lalu muncul pendapat bahwa kasus lumpur Lapindo adalah kasus bencana alam. Pemerintah akan menggunakan APBN untuk memberi ganti rugi. Bila hal ini dilaksanakan maka para kurban akan rugi besar. Bila dalam status bencana maka tidak akan ada ganti rugi akibat melainkan sumbangan pemerintah yang besarnya sudah diatur dalam kepres dan UU. Melihat ini kita bisa tahu keberpihakan pemerintah.

Kasus semburan lumpur akibat pengeboran Lapindo Inc bukanlah satu-satunya kasus di negara ini dimana perusahaan besar merugikan rakyat. Pemerintah yang seharusnya melindungi rakyat sering kali lebih berpihak pada pemilik modal. Memang pemerintah membutuhkan pengusaha tapi apakah pemerintah akan menutup mata bila mereka berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat jelata?

IMAGINE

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

Syair di atas merupakan cuplikan dari lagu “Imagine” yang ditulis oleh John Lenon pada tahun 1971. Dalam lagu itu John Lenon membayangkan manusia bisa hidup dalam damai bila tidak ada beberapa hal termasuk agama. Memang kekerasan berdasarkan agama atau agama hanya dijadikan alasan untuk berbuat kekerasan sudah sering terjadi baik dalam skala kecil maupun besar. Sesungguhnya sangat memprihatinkan bila terjadi kekerasan berdasarkan agama atau menggunakan agama untuk melegalkan kekerasan, sebab agama adalah pandangan manusia untuk menghayati Tuhan atau BEING yang menciptakan semesta termasuk manusia. Semua agama percaya bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia. Semua agama juga mengajarkan perdamaian dan saling mencintai antar manusia.

DR Theo Huijbers, dosen universitas Parahiyangan, dalam bukunya yang berjudul Manusia Merenungkan Makna Hidupnya menulis, bahwa agama bisa dilihat dari segi etimologi dan ontologinya. Dari etimologi agama atau religio berasal dari religare yang artinya mengendalikan atau mengikat. Hal ini berarti agama merupakan norma hidup atau norma etika yang mengikat manusia. Dari segi ontologis secara sederhana diartikan bahwa agama membuat manusia sadar tempatnya sebagai mahluk dunia yang bertransendensi akan tetapi dibawah kekuasaan Allah. Transendental artinya bahwa kesadaran manusia jauh melebihi apa yang dilihatnya, sehingga dia mampu memahami adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta. Kesadaran akan adanya sesuatu yang lebih besar membuat manusia sadar bahwa dia adalah kecil dan bagian dari keseluruhan alam semesta.

Jika dilihat dari segi etimologi maka percuma orang menghapus agama, sebab akan muncul agama baru. Sebuah pemahaman yang dijadikan norma untuk mengendalikan tingkah lakunya. Komunisme dan kapitalisme juga dapat menjadi agama baru, sebab semua itu berpengaruh terhadap moral, etika dan perilaku manusia. Impian John Lenon akan tetap sebagai impian. Bila melihat dari segi ontologis dimana manusia disebut sebagai mahluk transendental maka dalam diri manusia ada cita-cita untuk membangun sebuah dunia dimana diterapkan norma dan etika ideal sehingga terwujud masyarakat ideal. Hal ideal ini berdasarkan pada kondisi dan situasi nyata yang mereka hadapi atau alami pada saat ini yang mempunyai banyak kekurangan. Dunia dan masyarakat ideal yang diimpikan oleh manusia adalah bila manusia dapat hidup penuh kasih tanpa ada kekerasan. Semua agama mengimpikan kehidupan yang damai dan sejahtera.

Yesus datang ke dunia untuk mengajak orang menciptakan dunia ideal. Dia bukan hendak membuat agama baru dengan menghilangkan Taurat, sebagai dasar agama Yahudi “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat 5:17). Penggenapan yang dilakukan oleh Yesus adalah dengan mencari inti Taurat dan melakukan dalam kehidupan sehari-hari. Inti Taurat dan kitab para nabi adalah kasih kepada Allah dan manusia seperti diri sendiri. Dengan demikian dunia ideal dapat tercapai bila ada perubahan dalam diri manusia, bukan dengan menghilangkan segala sesuatu seperti bayangan John Lenon dalam lagu Imagine. Kesadaran akan kelemahan dan keterbatasan diri membuat manusia membutuhkan sesama. Hal ini menyebabkan dia akan mencintai sesama. Kekerasan terjadi karena orang merasa tidak membutuhkan sesama dan ingin hidup sendiri. dia menganggap sesama sebagai musuh dan neraka seperti kata para pendukung individualis.

Rabu, 26 Agustus 2009

KITA MENJADI AUTIS


Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Anak autis membangun dunianya sendiri dan hidup dalam dunianya sendiri.

Saat ini banyak sekali anak autis. Tapi bagi saya lebih banyak lagi orang yang menjadi autis. Orang yang maksud adalah orang yang memilih hidup dengan dunianya sendiri. Dia sibuk dengan dunianya meski di sekitarnya ada banyak orang. Dia menarik diri sedemikian rupa sehingga meninggalkan rasa sosialnya. Di ruang tunggu bandara dan banyak tempat umum, sering aku melihat orang tenggelam dalam dunia ipod atau HP. Mereka duduk bersanding dengan sesamanya tapi sama-sama tidak berkomunikasi satu dengan yang lain sebab telinga mereka sama-sama dijejali oleh earphone entah yang tersambung pada ipod atau HP. Mereka menikmati dunia yang mereka bangun sendiri sehingga terisolasi dari sesamanya. Dia terasing dari sesama.

Sejak jaman dulu telah terjadi pertentangan dalam melihat hubungan manusia dengan sesama. Ada yang mendukung individualis sebaliknya ada yang menolaknya. Jean Jacques Rousseau (1712-1778) filsuf Perancis, berpendapat bahwa manusia sebagai molekul atau atom yang telah lengkap dalam dirinya. Bukan sel yang mengandaikan perlunya hubungan dengan sel lain. Menurutnya manusia adalah mahluk mandiri yang mengkaitkan diri dengan sesama bukan berdasarkan kebutuhan batin melainkan struktur. Hal senada juga diungkapkan oleh John Locke (1632-1704), filsuf Inggris. Dia mengatakan bahwa manusia bersedia mengikatkan diri dengan sesamanya supaya sama dalam segi hukum. Hal ini demi keamanan diri sendiri. Lebih keras lagi adalah pendapat Thomas Hobbes (1588-1679), dia mengatakan bahwa masyarakat adalah himpunan individu-individu yang masing-masing secara egoistis mengejar kepentingan mereka sendiri. Akibatnya adalah manusia perang melawan sesamanya. Homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya). Kalau mereka membangun pertemanan dengan sesama hanya untuk cease fire, sebab mereka takut dengan sesamanya yang akan menelannya. Jean Paul Sartre berpendapat bahwa manusia adalah neraka bagi sesamanya. Maka lebih baik tidak berhubungan dengan sesama.

Apa yang dikatakan oleh beberapa filsuf di atas sudah terbukti dalam masyarakat kita saat ini. Banyak orang telah mengasingkan diri atau terasing dari sesamanya. Seseorang mengatakan inilah paradoks jaman ini. Orang mudah berhubungan dengan sesamanya yang jauh tapi sulit berhubungan dengan sesama yang dekat. Dia SMS atau chatting dengan teman-temannya dalam dunia maya tapi mengabaikan orang yang nyata disebelahnya. Selain itu alat hiburan sudah berubah bukan lagi menjadi sarana hiburan untuk mengisi waktu luang melainkan sudah menjadi tuan yang mengasingkan manusia dari sesamanya. Orang dapat tenggelam dalam dunia hiburan entah game atau lagu, sehinga tidak sadar kalau dia berada di tengah masyarakat.

Manusia hanya bisa berkembang bila ada manusia lain. Gabriel Marcel (1889-1973), filsuf Perancis berpendapat bahwa manusia hanya bisa mencapai kesempurnaannya jika dia mengarahkan diri pada orang lain dengan cinta, sebab manusia tidak sempurna dari dirinya sendiri. Maka kesatuan antara "aku" dengan "kamu" menghasilkan kepenuhan hidup. Demikian pula Martin Heidegger (1889-1976) seorang filsuf Jerman dia mengatakan bahwa, persatuan antar manusia mulai pada asal mula dan sepanjang seluruh hidupnya bahkan sampai yang dianggap paling pribadi misalnya hati nurani, sifat dan sebagainya. Dengan demikian manusia ada untuk sesama dan hanya dapat menjadi manusia hanya bila dia bersama sesama yang riil. Dua pendapat yang berbeda antara para pemikir itu tidak akan habis bila dibahas. Namun kita bisa memilih apakah kita akan menjadi orang autis atau mulai menyapa sesama yang ada di dekat kita.

Rabu, 19 Agustus 2009

INIKAH BANGSA MERDEKA?? (Sebuah catatan pada HUT RI ke 59)

Ruang sekretariat sangat sumpek. Ruang 2,5X2,5 m ini selain sebagai ruang sekretariat juga sebagai kamar tidur. Tikar kumuh, bantal lecek, pakaian kotor, meja komputer dan lemari pakaian yang sangat sederhana berjubel di dalamnya. Malam ini sebetulnya aku mau membetulkan komputer yang katanya kurang beres. Namun ternyata anak-anak ingin ngobrol. Maka beberapa anak duduk berdesakan di sekitarku. Tampang mereka tidak lebih bersih dari pada ruang sekretariat. Aku yakin sebagian besar dari mereka belum mandi padahal saat ini sudah hampir tengah malam. Mereka baru saja datang dari ngamen.

Bermula bicara soal tikar untuk tidur, sebab tikar yang ada sudah mulai robek dan kurang. Saat ini setiap malam berkumpul sekitar 20 anak. Mereka tidur berdesakan seperti pindang di lantai tanpa tikar. Aku janji akan membelikan mereka tikar baru. Obrolan terus berkembang masuk dalam kehidupan. Seorang anak mengatakan sebetulnya yang lebih penting bukan fasilitas rumah, melainkan masa depan mereka. Aku tersentak. Mereka lebih senang kalau aku bisa memberikan masa depan daripada aneka fasilitas untuk rumah. Aku jelaskan bahwa kesulitanku terbesar adalah menyalurkan mereka untuk bekerja. Tidak satupun dari mereka yang mempunyai ijasah SD. Setiap orang yang mencari pegawai sudah memberikan satu syarat utama adalah ijasah sekolah formal minimal SMA. Memang mereka tidak menuntut pekerjaan yang hebat. Mereka hanya ingin keluar dari perempatan jalan.

Aku selama ini memang dibingungkan masalah ini. Beberapa kali aku mencoba membuka usaha untuk menampung tenaga mereka namun semua gagal. Mungkin saja aku kurang faham akan dunia usaha atau memang mereka belum mempunyai etos kerja. Seorang anak cerita bahwa dia sudah bosan dipandang rendah oleh sesamanya. Pernah dia diludahi wajahnya oleh seseorang sebab dia memaksa ngamen di sebuah tempat. Teman yang lain sangat jengkel bila dikatakan sebagai pemalas yang tidak mau bekerja. Masih beberapa teman lagi yang menceritakan pengalaman buruk mereka di jalanan.

Mereka ingin bekerja seperti layaknya orang lain, tapi bagaimana bisa? Siapakah yang mau menerima mereka menjadi pegawainya bila sebuah cap sudah ditempelkan di dahi mereka? Beberapa teman keluar dari tempat kerja sebab disana sering direndahkan. Mereka tidak dilihat kemampuannya melainkan hanya latar belakang hidupnya. Salah satu teman mengatakan kecewa ketika mendengar perkataanku bahwa salah satu syarat diterima kerja adalah selembar ijasah. Dia langsung protes bahwa aku tidak beda dengan orang lain yang tidak memahami mereka. Aku hanya tersenyum mendengar protesnya. Beberapa teman lalu bercerita mengapa mereka sampai tidak sekolah. Mengapa mereka keluar dari sekolah sebelum lulus SD. Mereka ingin sekolah tapi keadaan memaksa mereka meninggalkan bangku sekolah.

Obrolan terus berlanjut sampai dini hari. Mataku sudah ngantuk maka aku pamit pulang. Dalam perjalanan pulang aku melihat beberapa orang sibuk memasang bendera untuk menyambut hari kemerdekaan. Indonesia sudah merdeka 59 tahun. Sebuah perjalanan sebagai bangsa merdeka yang sudah cukup lama. Apakah kemerdekaan itu sudah bisa dinikmati oleh semua penduduk? Anak-anak di rumah singgah belum menikmati arti kemerdekaan itu. Dalam UUD dan pancasila jelas ditulis keadilan bagi seluruh bangsa Indonesia. Apakah anak-anak sudah diperlakukan adil oleh negara? UUD mengatakan setiap warga negara berhak mendapat pendidikan yang layak. Apakah cukup mendapat hak sedang untuk memperoleh hak itu dia harus membayar sekian ratus ribu bahkan jutaan rupiah? Betapa mahal untuk menikmati hak pendidikan. UUD juga menulis bahwa kaum miskin dan anak terlantar dipelihara negara. Sejauh mana negara memelihara anak-anak ini?

Merdeka dalam kamus bahasa Indonesia diartikan bebas atau terlepas dari, menjadi diri sendiri dan tidak tergantung atau terikat pada orang atau sesuatu. Melihat arti ini maka timbul pertanyaan apakah bangsa ini sudah merdeka? Memang disini sudah tidak ada lagi Belanda atau Jepang yang menjadi penjajah. Indonesia sudah lepas dari penjajahan. Namun apakah bangsa ini sudah lepas dari ketergantungan dan keterikatan pada orang atau sesuatu? Apakah bangsa ini sudah menjadi bangsa yang mampu mengungkapkan dirinya sendiri? Aku merasa bahwa masih banyak orang belum merdeka. Mereka hanya bebas untuk bukan bebas dari. Pemahaman kemerdekaan yang semula bebas dari dibelokkan menjadi kebebasan untuk. Akibat pemahaman ini maka setiap orang bebas untuk korupsi. Bebas untuk menarik uang sekolah setinggi mungkin. Bebas untuk tidak peduli pada sesamanya dan sebagainya. Aku pikir teman-temanku adalah kurban dari sikap sekian banyak orang yang memaknai kemerdekaan sebagai cara untuk mementingkan diri sendiri.

Kapankah anak-anakku menikmati situasi bangsa yang merdeka? Dimana mereka bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah. Mereka bebas mengamen tanpa harus diludahi. Mereka bisa berjalan tegak tanpa harus dihina dan dicap sebagai pemalas. Kapankah pemerintah mau mensubsidi uang sekolah mereka? Kapankan pemerintah mampu membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang hanya mampu menempuh pendidikan rendah? Siapakah yang akan bertanggungjawab akan nasih mereka? Anak-anak yang ada di rumah singgah hanya 20 an anak. Aku yakin masih ribuan anak yang menjalani hidup seperti mereka. Tidak mampu sekolah karena kemiskinan keluarganya. Aku tidak akan menyalahkan keluarganya mengapa mereka miskin. Beberapa anak bercerita bahwa orang tuanya ingin mereka sekolah sampai pandai. Namun apa daya jerat kemiskinan tidak mampu mereka lepaskan. Jangankan sekolah untuk makan saja mereka merasa sangat kesulitan.

Bendera di tepi jalan berkibar dihembus angin dini hari. Aku memacu kendaraanku melalui deretan bendera. 59 th merdeka ternyata belum mampu mengubah banyak bangsa ini. Bukan perubahan fisik seperti pembangunan dan penyediaan sarana namun perubahan mental dan moral. Suatu perubahan mendasar dalam diri manusia. Manusia yang tidak terikat pada rasa ingin memiliki dan menguasai. Rasa ingin menindas dan berlaku sewenang-wenang terhadap sesama. Manusia yang mampu menciptakan situasi dimana orang lain mampu menjadi dirinya sendiri. Orang yang mandiri. Aku hanya bermimpi di dini hari.

YESUS SANG REVOLUSIONER

Revolusi adalah perubahan sosial budaya yang cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Sistem masyarakat yang lama dibongkar secara radikal (seakar-akarnya) dan dibangun budaya, ideologi, dasar-dasar hukum, ekonomi yang baru demi tercapainya sebuah perbaikan. Sebuah revolusi dapat mengakibatkan pertumpahan darah, sebab muncul pertentangan antar kelas dan kelompok. Tapi tidak semua revolusi menumpahkan darah. Sebuah revolusi dapat berdampak luas, sehingga mempengaruhi banyak orang dalam aneka jaman namun juga dapat hanya berdampak di suatu tempat saja dan dalam waktu tertentu saja.

Jean Paul Sartre (1905-1980) seorang filsuf Perancis menulis artikel berjudul “Sang Revolusioner”. Menurut Sartre “sang Revolusioner” adalah orang yang lahir dari rakyat tertindas. Memang tidak semua kaum tertindas akan menjadi revolusioner, sebab mereka mengharapkan dapat menikmati apa yang dinikmati oleh kelas menengah. Bagi saya mereka tidak bergerak mungkin dikooptasi oleh kelas menengah atau mereka pesimis dan pasrah akan hidupnya. Banyak orang menganut fatalisme, pasrah pada nasib. Seorang revolusioner berjuang demi transformasi radikal atas eksistensi dirinya. Mungkin dia sadar bahwa dia tidak mampu mengubah seluruhnya seketika, namun dia berjuang untuk menciptakan tahap yang mendasar untuk mencapai masyarakat yang adil sejahtera. Dia tidak bergerak sendiri melainkan membangun solidaritas. Solidaritas hanya tercapai bila masyarakat tanpa kelas. Sartre mengkritik orang yang dianggap “pribumi”, sebutan bagi penduduk yang terjajah. “Pribumi” adalah orang yang tidak mampu menunjukkan eksistensinya. Dia adalah kaum miskin yang tidak peduli akan eksistensinya. Orang yang hidup hanya menjalankan kehidupannya. Dia tidak punya tujuan hidup, segalanya dijalankan karena memang harus menjalankan. Seperti buruh yang hidup hanya untuk bekerja bukan untuk tahap memiliki modal usaha atau kapital.

Membaca tulisan Sartre, maka saya berusaha melihat apakah Yesus termasuk sang revolusioner? Pada jaman Yesus ada kelas-kelas dalam masyarakat Yahudi. Ada Saduki orang yang mengurus keuangan Bait Allah. Ada imam yang melakukan persembahan. Untuk jadi imam butuh restu dari orang Romawi dan mereka juga harus memberi upeti. Ada Farisi dan ahli Kitab. Selain itu masih ada orang-orang yang diangkat oleh penjajah Romawi sebagai pegawai pemerintahan dan penguasa Romawi sendiri. Yesus ada dalam pihak kaum miskin yang sering ditindas.

Yesus bukan datang untuk memberontak dan mengusir penjajah. Dia membangun suatu masyarakat baru yang tanpa kelas. Semua adalah saudara baik Yahudi maupun non Yahudi yang diwakili oleh orang Samaria. Dia menghargai perempuan dan anak-anak. Masyakarat tanpa kelas ini mendasarkan diri pada hukum kasih. Inilah sebuah perubahan radikal. Bila Yesus berontak maka suatu saat akan terjadi pemberontakan lagi. Kudeta akan menimbulkan kudeta baru. Keputusan Yesus untuk membangun masyarakat baru tanpa melakukan pemberontakan tampaknya kurang dipahami oleh murid muridNya. Mereka ingin menjadikan Yesus raja yang artinya membangun kekuatan politis tandingan. Mereka telah siap untuk melakukan pemberontakan, maka Petrus membawa pedang. Dia adalah nelayan dan tampak janggal ketika membawa pedang dan siap melawan para tentara yang berusaha menangkap Yesus.

Dalam membangun masyarakat baru Yesus melihat jauh ke depan. Komunitas yang baru dibentukNya adalah cikal bakal dari dunia baru. Dunia yang damai sejahtera dan adil seperti gambaran Yesaya dimana pemangsa dan yang siap dimangsa dapat hidup berdampingan secara rukun (Yes 11:6-10). Bagaimana dengan Gereja saat ini? Apakah tetap memposisikan diri pada kaum miskin untuk membangun masyarakat baru? Ataukah masyarakat baru menjadi sebuah utopia yang tidak menyejarah? Ataukah Gereja sudah menikmati kemampanan sebuah kelas tertentu sehingga lupa akan tugas dan perannya seperti yang dikehendaki Yesus? Apakah Gereja masih terus melakukan revolusi yaitu melakukan transformasi radikal akan budaya dalam masyarakat?

Jumat, 14 Agustus 2009

GEREJA YANG BERJUANG

Tulisan sebelumku yang berjudul “Yesus Kaum Kiri” ternyata menimbulkan pertanyaan bagi seseorang. Baginya Yesus itu penyelamat manusia dari dosa bukan soal kiri atau kanan. Gereja tidak boleh terlibat dalam politik praktis. Apa yang dikatakan memang benar bahwa Gereja tidak boleh terlibat dalam politik praktis misalnya mendukung satu partai politik atau seorang imam mencalonkan menjadi anggota legislatif atau kepala daerah. Tapi bukan berarti Gereja melepaskan diri dari masalah kemanusiaan. Gereja tidak hanya berbicara soal Kerajaan Allah ketika sudah kebangkitan nanti. Gereja harus menempatkan diri dan menunjukkan perannya sesuai dengan posisinya.

Beberapa tahun lalu Gereja dihebohkan oleh teologi pembebasan yang muncul di Amerika Selatan yang menimbulkan pro dan kontra. Francis Wahono Nitiprawiro dalam bukunya yang berjudul “Teologi Pembebasan” menjelaskan panjang lebar mengenai perbedaan antara teologi pembebasan dengan Marxisme. Teologi pembebasan adalah upaya Gereja untuk menjalankan salah satu tugasnya yaitu kenabian. Dalam situasi masyarakat yang tidak adil dimana banyak rakyat dimiskinkan dan ditindas, maka Gereja tidak boleh diam. Gereja harus terlibat dalam masalah dunia seperti harapan Konsili Vatikan II yang tertuang dalam konstitusi dogmatik Gaudium et Spes. Gereja tidak boleh menjadi getho atau menikmati kenyamanan menara gading. Dalam hal inilah sering kali Gereja lupa atau berusaha menikmati kemampanan kaum kanan atau tidak mau repot. Keterlibatan dalam perjuangan kaum miskin membutuhkan banyak energi bahkan kesiapan untuk memberikan nyawanya seperti uskup Oscar Romero (1917-1980) yang dibunuh karena menyuarakan kenabian di El Salvador. Sering kali perjuangan seperti para tokoh teologi pembebasan ini dicap sebagai orang kiri.

Edicio de la Torre seorang teolog dari Philipina membedakan orang yang berjuang. Ada orang yang menderita tapi tidak berjuang. Ada orang yang menderita maka berjuang. Ada orang yang berjuang maka menderita. Yesus adalah orang yang berjuang maka menderita. Dia berjuang untuk membangun sebuah dunia baru. Dunia ini dinikmati mulai saat ini. Kerajaan Allah sudah datang. “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” (Mat 12:28). Kehadiran Kerajaan Allah merupakan hadirnya tatanan baru dalam masyarakat. Siapa saja yang ingin masuk dalam tatanan baru ini harus mengubah dirinya secara total. Gaya hidup, pemikiran, pandangan hidup dan budaya lama tidak bisa dicampur dengan tatanan baru ini. Dalam kotbah di bukit Yesus mengkonfrontasikan antara tata kehidupan baru dengan tata kehidupan lama. Hukum utama adalah kasih. Kasih pada Allah yang semula hanya dipusatkan pada doa dan liturgi diubah menjadi kasih nyata kepada sesama. “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,” (Mat 9:13). Terbuka bagi siapa saja dan bukan milik satu kelompok saja.

Kerajaan Allah adalah situasi hidup yang nyata, menyejarah pada saat ini dan disini. Bukan sebuah utopia atau situasi setelah kematian saja. Pembebasan yang dilakukan oleh Yesus bukan melulu diakhir jaman, tapi dimulai ketika Dia ada di dunia. Orang buta dapat melihat, orang lumpuh dapat berjalan dan sebagainya. Yesus membangun Kerajaan Allah secara nyata dan kongkrit yang dapat dirasakan oleh manusia hidup. Yesus membangun Kerajaan Allah mulai dari komunitas kecil yang diharapkan akan bertumbuh dan berjuang untuk membangun sebuah tatanan baru dalam masyarakat.

Syarat untuk pembangunan Kerajaan Allah adalah pertobatan yang mampu mengubah situasi dan kondisi kehidupan. Maka dalam Kerajaan Allah keselamatan bukan menjadi urusan perorangan melainkan komunitas. Aku dapat masuk surga bila menyelamatkan sesama. Orang diselamatkan bila dia memberi makan orang yang lapar (Mat 25:31-46). Inilah pertobatan yaitu bukan sekedar mengakui dosanya, melainkan kembali kepada hukum kasih. Dosa adalah penyebab rusaknya hukum kasih. Maka orang bertobat bila dia mengembalikan apa yang sudah dirampasnya. Tidak mempunyai dendam dan kebencian, sehingga mampu mencintai musuh. Tidak terbelenggu SARA, seperti orang Samaria yang menolong orang Yahudi. Pemimpin adalah orang yang melayani bahkan rela memberikan nyawanya demi keselamatan pengikutnya. Maka Kerajaan Allah bergerak untuk mengubah masyarakat secara total menuju situasi hidup yang adil, bersatu dan damai sejahtera.

Namun Yesus menyadari bahwa Kerajaan Allah yang dibangunNya tidak luput dari para pengkhianat yang mencoba membelokkannya. “Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya.” (Mat 11:12). Munculnya mesianis-mesianis yang mengatasnamakan Yesus memberikan janji kebahagiaan setelah meninggal. Mereka tidak peduli dengan penderitaan dunia, sebab hal yang penting adalah kebahagiaan di surga setelah mati. Orang miskin diajak untuk berdoa dan diberi janji kebahagiaan surga. Yesus tidak menyepelekan kehidupan doa. Dia berdoa secara khusus. Tapi Dia mengubah situasi kemiskinan yang menyebabkan manusia tidak dihargai martabatnya menjadi dihargai martabatnya. Mesianis palsu mengajak orang untuk tidak mempermasalahkan situasi dan kondisi hidupnya di dunia dan memberi janji kebahagiaan surga setelah mati.

Yesus bukan praktisi politik seperti para mesianis dunia. Para calon presiden ketika masa kampanye semua menjanjikan kehidupan yang lebih baik agar rakyat memilihnya. Rakyat hanya menjadi obyek bagi pencapaian kedudukan yang diinginkan. Seorang caleg DPRD di Surabaya memberi janji kepada warga pinggir kali kalau dia menjadi anggota dewan maka para penghuni pinggir kali tidak akan digusur. Tapi begitu terjadi penggusuran maka dia tidak muncul. Dia tidak berani merealisasikan janjinya. Yesus tidak membius rakyat dengan janji kehidupan yang adil sejahtera. Rakyat bukanlah obyek untuk mencapai kedudukan. Yesus mengajarkan agar semua orang bertobat. Berubah kembali ke hakekatnya sebagai citra Allah. Hidup bersatu dengan Allah yang adalah kasih, sehingga hidupnya merupakan pacaran kasih Allah bagi sesama.

Gereja adalah kelanjutan dari Kerajaan Allah yang dibangun oleh Yesus. Dengan demikian Gereja adalah agen perubahan masyarakat. Gereja menjadi garam yang mempengaruhi masyarakat agar bertobat sehingga dapat mencapai kehidupan yang damai sejahtera. Gereja adalah terang yang memberikan gambaran kehidupan adil sejahtera itu seperti apa. Gereja adalah komunitas orang yang terus menerus berjuang membangun perubahan dalam masyarakat sehingga tercapai kehidupan adil, bersatu dan damai sejahtera. Di negara kita masih banyak terjadi ketidakadilan dan kesewang-wenangan seperti kasus Lapindo. Bila Gereja masih merasa dirinya adalah penerus Kerajaan Allah yang dibangun oleh Yesus apakah yang akan dilakukan? Apakah diam saja dan memusatkan diri pada liturgi dan doa-doa atau mulai menyuarakan suara kenabian meski harus menderita? Apakah Gereja akan mengejar kemapanan sehingga melupakan tugas perutusannya di dunia yaitu membuat dunia yang lebih baik?

Rabu, 12 Agustus 2009

YESUS ADALAH ORANG KIRI

Anthony Giddens (1938 - ) sosiolog Inggris dalam bukunya yang berjudul “The Third Way” menyinggung buku berjudul “Left and Right” karangan Norberto Bobbio (1909-2004) seorang politikus Italia yang membahas soal kaum kiri dan kanan. Secara singkat Giddens menyimpulkan bahwa kaum kiri saat ini sudah mulai memudar sedangkan kaum kanan semakin menguat. Kaum kiri memperjuangkan kesetaraan dan keadilan sosial. Tanpa persamaan derajat maka keadilan sosial tidak akan tercapai. Untuk itu rakyat harus terlibat dalam membangun dunia yang adil. Sebaliknya kaum kanan berusaha menekankan herarki dan melindungi ekonomi dan kultur mereka. Seperti Pat Buchanan yang menyerukan “America first” atau yang pertama adalah orang Amerika. Demikian pula Jean Marie Le Pen di Perancis yang diskriminatif. Kaum kanan berusaha mempertahankan kenikmatan dan kemampanan yang diperoleh dari neoliberalisme.

Meski dalam konteks situasi ekonomi dan politik yang berbeda, namun kita bisa belajar dari Yesus tentang nilai-nilai yang diperjuangkan. Sejak awal Yesus menyerukan bahwa Dia akan berjuang bersama rakyat miskin (Luk 4:18-19). Hal ini disebabkan kaum miskin banyak ditindas dan tidak dipedulikan oleh para pemimpin. Mereka tidak diperhatikan oleh para pemimpinnya yang terlalu sibuk mengurus soal adat istiadat seperti orang Farisi, yang membebani rakyat dengan aneka peraturan seperti para ahli kitab, dan membuat hukum yang tidak berpihak pada rakyat miskin seperti para ahli Taurat. Penjajah Romawi pun menindas rakyat dengan aneka pajak yang berat. Pilihan Yesus membuatNya berhadapan dengan para pemimpin agama dan penjajah Romawi.

Yesus memperjuangkan kesamaan. Dia menghapus herarki “Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.” (Mat 23:3). Herarki dapat membuat orang tidak menghargai sesamanya dan tidak bisa terlibat dalam diri sesama, sebab ada batasan yang menghalanginya. St Paulus lebih tegas lagi menghilangkan aneka perbedaan yang ada. “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Gal 3:8). Kesamaan bukan hanya mereka menghilangkan sekat yang ada tapi juga membuat mereka menjadikan miliknya adalah milik bersama “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.” (Kis 4:32). Tujuan semua ini adalah membangun komunitas surgawi atau Kerajaan Allah. Maka kehadiran Yesus adalah kehadiran Kerajaan Allah yang menjadi nyata bukan saja setelah kematian tapi juga saat di dunia.

Pergerakan Yesus dalam usaha membangun komunitas baru dengan budaya baru yang setara dan untuk keadilan sosial membuat gerah para pemimpin Yahudi. Herarki dan kemampanan yang sudah mereka bangun selama ini akan goyah. Yesus dengan keras mengkritik atau mengutuk kebejatan para pemimpin (Mat 23:1-36). Mereka berlindung dibalik hukum dan tata aturan yang dibuatnya sendiri untuk melindungi kemapanan dan sebaliknya menindas rakyat kecil. Mereka tidak mampu menjadi pengayom rakyat kecil sebab mereka lebih mencitai kekuasaan dan fasilitas yang dimilikinya. Maka melalui berbagai cara mereka berusaha untuk mengenyahkan Yesus.

Yesus tidak berusaha menguraikan kemiskinan tapi Dia mengajak pengikutNya untuk peduli dan terlibat dalam kehidupan kaum miskin. Bagi Yesus mencintai Allah harus terwujud pada mencintai orang miskin. Pribadi kaum miskin bukan kemiskinan. Maka ukuran untuk dapat masuk surga adalah kalau orang rela berbagi pada orang miskin (Mat 25:31-46), sebab Yesus ada dalam diri orang miskin. Inilah solidaritas yaitu keterlibatan dalam kehidupan manusia (Rm 12:15) dengan penuh rasa empati. Dengan demikian Yesus adalah orang kiri yang berusaha membangun sebuah kehidupan yang adil berdasarkan kesetaraan dan solidaritas. Lalu mengapa kita bangga menjadi orang kanan? Bukankah dengan demikian kita berhadapan dengan Yesus sendiri?

Powered By Blogger