Rabu, 18 September 2013

MEMBANGUN KERAJAAN ALLAH

“Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” (Luk 12:31)

Ayat ini sering diucapkan oleh orang-orang yang mengajak orang lain untuk melakukan pelayanan. Orang yang diajak menolak sebab merasa bahwa waktunya sudah habis untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidup. Maka orang yang mengajak akan mengutip ayat ini. Dia hendak menekankan bahwa kita tidak perlu kuatir akan kebutuhan pokok kita, sebab bila kita mencari Kerajaan Allah maka semua itu akan dicukupkan oleh Allah. Memang pada ayat-ayat sebelumnya tertulis bahwa Allah tahu akan kebutuhan pokok kita sehingga kita tidak perlu cemas. Hal ini dipertentangkan dengan orang yang tidak percaya pada Allah. Mereka cemas tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Pemahaman ini bagiku dapat menjadi bumerang. Dalam pelayanan tidak jarang orang akan menghadapi aneka masalah. Perpecahan dalam komunitas, fitnah, waktu yang banyak tersita, dan sebagainya. Belum lagi soal ekonomi yang dapat menjadi semakin sulit. Akibatnya orang menganggap ayat ini salah atau hanya sebuah peninabobokan belaka. Inilah bahayanya bila ayat-ayat Kitab Suci dikaitkan dengan janji kemakmuran. 

Tetapi apakah ayat itu salah? Firman Allah tidak pernah salah. Kitalah yang sering menafsirkan secara salah. Menurutku, yang tentu saja dapat salah, ayat itu benar sejauh diterapkan secara benar dalam kehidupan. Allah memerintahkan agar kita pertama-tama mencari Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan hanya situasi setelah mati atau surga, melainkan juga komunitas di dunia yang hidup seperti yang diajarkan oleh Yesus. Komunitas yang hidupnya berdasarkan kasih pada Allah dan sesama seperti kasih pada dirinya sendiri. Dengan kasih ini mereka akan berbagi, solider, melayani dan sebagainya. Komunitas inilah yang perlu dibangun. Jika kita hidup dalam komunitas seperti ini maka kita tidak perlu kuatir akan kekurangan, sebab setiap orang akan berani berbagi miliknya. Hal ini bukan berarti kita tidak perlu bekerja sehingga kita bergantung pada orang lain. Rasul Paulus melihat hal itu maka dia dengan tegas mengatakan “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2Tes 3:10). Sebaliknya kita harus bekerja keras agar dapat berbagi. “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” (Ef 4:28). Tetapi bila segala daya upaya kita menemui jalan buntu dan gagal, maka kita akan dapat tetap tenang sebab ada komunitas yang siap berbagi.

Dengan demikian ayat ini benar sejauh kita berupaya membangun Kerajaan Allah. Pembangunan Kerajaan Allah adalah pembangunan budaya kasih dalam masyarakat. Saat ini di negara kita yang berdasarkan agama, banyak sekali orang kelaparan, sakit tidak dapat berobat dan hidup dalam aneka kemiskinan. Mereka sudah berjuang keras agar dapat hidup lebih baik, tetapi usaha mereka gagal karena tidak ada kesempatan, ditindas dan dimanipulasi oleh pemilik modal atau penguas dan sebagainya. Disisi lain ada orang hidup berkelimpahan yang memboroskan uang demi kenikmatan atau gengsi, misalnya pejabat membeli jam tangan seharga 100 juta, pesta hari raya menghabiskan dana 1 M, dan sebagainya. Orang miskin akan tetap menjadi miskin dan bahkan mungkin semakin miskin sebab orang kaya semakin serakah. Jika ayat ini kita terapkan dalam kehidupan maka rakyat kita akan sejahtera, sebab orang yang kaya berani berbagi pada orang miskin dan orang miskin tetap berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Inilah tugas kita yaitu membangun Kerajaan Allah. Jika kehidupan masyarakat sejahtera maka kita pun akan sejahtera.

0 komentar:

Posting Komentar