Kamis, 30 September 2010

IMAN SEORANG HAMBA

Banyak orang ingin melakukan sesuatu yang hebat dalam hidupnya, meski ada pula orang yang ingin hidupnya berjalan biasa saja. Rasa ingin menjadi hebat merupakan dorongan yang luar biasa dalam diri seseorang. Kehebatan dapat diukur bila orang memiliki sesuatu yang sangat sulit dicari atau melakukan yang sangat sulit dilakukan oleh orang lain. Orang rela mengeluarkan uang ratusan juta rupiah demi mendapat sebuah perangko yang langka. Atau untuk mengoleksi sebuah benda seni dan lainnya. Ada orang yang mempertaruhkan nyawanya untuk mendaki gunung yang sulit didaki. Banyak orang meninggal ketika sedang mendaki gunung Himalaya tapi setiap tahun masih banyak orang berusaha menaklukkan gunung tertinggi di dunia. Bahkan ada orang yang nekad mencari rute baru yang tidak pernah ditempuh oleh pendaki lain.

Rasa ingin hebat juga terjadi dalam kehidupan beriman. Banyak orang ingin dapat melakukan sesuatu yang hebat terkait dengan imannya. Bahkan tidak jarang tampak dipaksakan. Seorang romo yang semula biasa saja tiba-tiba berubah menjadi orang yang memiliki kuasa menyembuhkan. Dia mengadakan misa-misa penyembuhan. Bila orang yang didoakannya menjadi sembuh maka dia merasa karena kekuatan doanya. Tapi bila itu meninggal dunia, maka dia mengatakan itu sudah kehendak Allah.

Yesus adalah satu-satunya orang di dunia yang mampu membuat mujijat besar. Banyak orang yang menyatakan diri sebagai utusan Allah tapi tidak ada satupun orang yang mampu melakukan mujijat lebih banyak dari Yesus. Musa mampu membelah laut Merah tapi Yesus mampu mengajak Petrus berjalan di atas air ketika badai. Elia mampu menjadikan tepung dan minyak tidak habis meski dibuat roti berulang kali untuk makan 3 orang, sedangkan Yesus mampu memberi makan 5000 orang dari 5 roti. Itu pun masih tersisa 12 bakul. Elisa mampu menyembuhkan perwira Naaman dari kusta, sedangkan Yesus mampu membangkitkan orang mati.

Yesus bukan hanya berkuasa membuat mujijat yang membuat orang kagum dan heran tapi Dia juga mampu menanggung segala penderitaan dan mencintai secara total. Para murid pun ingin memiliki kekuatan seperti itu. Mereka tahu bahwa kekuatan itu terkait dengan iman, maka mereka meminta tambahan iman. “Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" (Luk 17:5). Permohonan para murid itu tidak ditanggapi oleh Yesus. Dia hanya menjelaskan bahwa bila orang mempunyai iman sekecil apapun maka dia dapat melakukan hal yang besar.

Iman adalah penyerahan diri pada Allah secara total. Percaya pada kuasa Allah sepenuhnya. Beberapa kali Yesus memuji kebesaran iman seseorang. Perwira yang meminta agar hambanya disembuhkan dan perempuan Kanaan yang meminta agar anak perempuannya disembuhkan dipuji sebagai orang yang mempunyai iman besar. Besarnya iman ditunjukkan dari keputusan yang berani untuk menyerahkan seluruh penderitaannya kepada Yesus. Perempuan Kanaan itu ditolak baik oleh para murid maupun Yesus sendiri, tapi dia dengan berani terus memohon pada Yesus.

Besarnya iman bukan untuk menunjukkan mujijat besar. Orang disembuhkan karena imannya, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.” (Mat 9:22) tapi kuasa penyembuhan itu ada pada Yesus. Kita tidak perlu ingin melakukan hal hebat karena kekuatan iman. Yesus mengingatkan bahwa kita hanyalah hamba yang melayani Allah, “Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Luk 17:10). Kalau toh orang yang kita doakan itu sembuh, semua itu bukan karena kita tapi kuasa Yesus. Kita hanya hamba yang wajib berdoa dan menyerahkan semua kepada Yesus. Kita hanya seperti perempuan Kanaan atau perwira yang memohon kesembuhan pada Yesus. Maka tidak ada yang hebat dalam diri kita, melainkan Yesuslah yang hebat.

simak selanjutnya IMAN SEORANG HAMBA disini...

Senin, 27 September 2010

TERLIBAT

Seorang remaja pengamen berdiri dekat mobil. Suaranya keras dan cempreng. Bagiku dia lebih baik tidak bernyanyi daripada bernyanyi. Wajahnya yang kumuh mungkin sudah beberapa hari tidak mandi hampir menempel di kaca pintu mobil. Rambutnya acak-acakan dikeriting seperti Bob Marley. Kubuka kaca mobil sambil menyerahkan uang aku katakan lain kali kalau menyanyi yang agak bagus biar dapat uang. Dia hanya tersenyum sambil berlalu. Teman yang duduk di sebelahku menegurkum sebab aku membuka kaca lebar-lebar. Dia bercerita bahwa banyak sekali terjadi kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak pengamen di perempatan. Dia mengatakan boleh saja aku memberi uang pada mereka tapi tidak perlu membuka kaca lebar dan menegur cara dia bernyanyi. Kalau dia marah maka dapat memecah kaca atau membeset body mobil.

Mendengar semua penjelasannya yang panjang lebar aku hanya tersenyum. Selama ini belum pernah aku mengalami dipaksa oleh anak jalanan untuk memberi uang atau dirampas apa yang aku miliki di dalam mobil. Tapi beberapa kali aku dipaksa untuk mengaku bersalah dan harus membayar oleh oknum yang memakai seragam dan berdiri di tepi jalan sambil mengamati marka jalan. Penampilan anak jalanan yang “awut awutan” sering menyebabkan orang menilainya negatif. Mereka anak liar, penjahat keji dan sebagianya. Padahal belum tentu anak jalanan seperti apa yang dipikirkan oleh orang selama ini. Banyak orang yang lebih keji dibandingkan anak jalanan padahal mereka senantiasa berpenampilan seperti orang saleh.

Adanya penilain negatif disebabkan orang tidak memahami anak jalanan. Orang hanya mendengar cerita buruk tentang anak jalanan. Cerita buruk jauh lebih mudah tertanam dalam diri orang daripada cerita tentang kebaikan. Hal ini disebabkan manusia pada umumnya ingin merasakan hidup aman. Bebas dari aneka ketakutan. Tapi situasi dunia sering kali membuatnya tidak aman. Maka manusia berusaha membuat hukum dan tata aturan yang dapat membuatnya aman. Atau mereka menghindari sesuatu yang dapat membuat dirinya tidak aman. Maka ingatan akan situasi atau pribadi yang dapat membuatnya merasa tidak aman, melekat erat dalam pikirannya dan menjadi dasar pertimbangan untuk melakukan sesuatu atau berteman dengan seseorang.

Pikiran ini dapat dibongkar bila orang mau masuk dalam kehidupan orang yang diyakini dapat membuatnya tidak aman. Masuk dalam kehidupan membuatnya memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam diri orang itu. Dengan masuk dalam kehidupan anak jalanan maka kita akan mampu melihat bahwa mereka juga ada sisi baiknya. Sebalikya bila kita tidak mau memahami maka yang muncul dalam benak kita hanya aneka kritik dan pengadilan belaka. Memahami berarti kita terlibat dalam kehidupan mereka. Masuk dalam masalah dan latar belakang kehidupan mereka, sehingga kita melihat kehidupan dan aneka masalah dari sudut pandang mereka.

Pemahaman akan terjadi bila kita mulai berusaha mencintainya secara tulus. Memang ada orang yang berusaha berteman dan masuk dalam kehidupan anak jalanan atau orang bermasalah lainnya, tapi tidak semua orang yang masuk didorong oleh rasa cinta yang tumbuh dalam hatinya. Beberapa kali ada orang yang ingin berteman dengan anak jalanan tapi mereka sedang mengadakan penelitian untuk kepentingan tugasnya, sehingga anak jalanan hanya menjadi obyek penelitian. Ada juga orang yang mendekati anak jalanan dengan dorongan keagamaan untuk mempertobatkan. Mereka bangga bila ada anak jalanan yang memeluk agamanya. Lebih parah lagi berteman dengan anak jalanan untuk mendapatkan dana bagi kepentingan pribadi atau lembaganya.

Mencintai anak jalanan berarti melepaskan segala kepentingan pribadi. Kita hanya ingin mencintai mereka. Menghargainya sebagai manusia yang setara dengan kita. Kasih yang kita berikan untuk membantu mereka belajar untuk mengasihi dan menghargai sesama. Kasih hanya dapat dirasakan oleh anak jalanan bila kita ada bersama mereka. Kita hadir ditengah mereka dan memahami mereka dan menerima apa adanya.

simak selanjutnya TERLIBAT disini...

ACUH

Injil hari ini tentang perumpamaan orang kaya dan Lazarus. Yesus membuat cerita yang mempertentangkan situasi yang ekstrim. Disatu sisi ada orang kaya yang memiliki segalanya. Penampilannya hebat dengan pakaian bagus dan mahal. Dia senantiasa dapat makan kenyang dan enak. Disisi lain ada Lazarus, seorang pengemis. Dia tidak mempunyai apa-apa. Penampilannya buruk dan menjijikan, sebab tubuhnya penuh borok. Dia kelaparan sampai mencari remah-remah yang jatuh. Diantara keduanya tidak ada komunikasi. Semuanya tenggelam dalam dunianya masing-masing. Ketika mati orang kaya masuk neraka sedangkan orang miskin masuk surga.

Apakah orang miskin akan masuk surga dan sebaliknya orang kaya masuk neraka? Pendapat semacam ini pernah berkembang dalam Gereja. Karl Marx dapat dikatakan jengkel melihat pendapat ini, maka dia mengatakan bahwa agama adalah candu. Marx merasa agama hanya menina bobokkan orang miskin untuk menerima situasi hidupnya dengan janji akan dapat hidup di surga bila mati nanti. Agama tidak mendorong kaum miskin untuk berjuang membebaskan diri dari kemiskinan. Sampai saat ini sisa-sisa pendapat meninabobokkan untuk melanggengkan kemapaman terus ada.

Apakah Yesus sengaja ingin mengajak orang miskin agar pasrah akan situasi hidupnya dengan janji akan menikmati kehidupan di surga kelak? Bukankah Yesus datang ke dunia untuk membebaskan kaum miskin dan tertindas? Seperti layaknya nabi-nabi yang pernah ada, Yesus menyerukan suara kenabian. Suara yang mengkritik ketidakadilan dan kesewenang-wenangan para pemimpin, baik agama maupun masyarakat. Yesus adalah seorang revolusioner sejati. Dia lebih dari Marx, sebab pembebasan Yesus bukan hanya soal materi, tapi mencakup keseluruhan diri. Bukan perang antar kelas tapi penyadaran bahwa semua manusia adalah sesama. Pembebasan yang dilakukan Yesus untuk menciptakan masyarakat adil dan sejahtera bukan karena kemenangan kelas kaum tertindas, tapi karena adanya kasih yang berani mengorbankan diri.

Perumpamaan orang kaya dan Lazarus bukan soal kaya miskin atau antar kelas sosial melainkan soal sikap manusia yang tidak mengacuhkan sesamanya. Diantara mereka ada jurang yang dalam dan tidak terjembatani. Mereka hidup dalam dunianya masing-masing. Meski mereka berdekatan sebab Lazarus ada di muka pintu tapi orang kaya itu tidak melihat atau pura-pura tidak melihat, sehingga dia tetap melanjutkan kenikmatan yang sedang dinikmatinya. Sikap acuh atau tidak peduli pada sesama inilah yang menciptakan neraka dalam dunia.

Dalam dunia saat ini situasi seperti orang kaya dan Lazarus masih ada dan semakin menguat dengan menguatnya individualisme. Orang semakin memusatkan diri pada diri sendiri dan tidak peduli pada situasi hidup sesamanya. Di tengah banyaknya petani mengalami gagal panen akibat cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, LSM Fitra melaporkan bahwa uang untuk furnitur rumah dinas presiden seharga 42 M dan untuk rumah dinas presiden dialokasikan dana sebesar 203,8 M. Anggaran baju presiden sebesar 839 juta, pengamanan fisik dan non fisik sebesar 52 M. Pembangunan gedung DPR sebesar 1,8 T. Studi banding dianggarkan 100 M lebih. Biaya perjalanan presiden, anggota dewan dan menteri pada tahun 2010 sebesar 19,5 T. Sebuah angka yang sangat fantastis. Bila sebagian besar rakyat hidup sejahtera maka biaya seperti itu tidak menjadi masalah, tapi bila banyak rakyat hidup di bawah garis kemiskinan, maka penggeluaran biaya sebesar itu menunjukkan tidak adanya rasa peduli.

Kita pun dapat menjadi seperti orang kaya dalam perumpamaan itu yang tidak mengacuhkan sesama yang sedang menderita. Kita tenggelam dalam kesibukan dan tidak ingin direpotkan oleh urusan orang lain. Kita hanya berpikir tentang diri sendirim sehingga mata kita dibutakan akan penderitaan sesama. Atau kita telah menumpulkan hati akan situasi dihadapan kita sehingga kita tidak mampu melihat penderitaan sesama yang sangat dekat di depan mata kita.

simak selanjutnya ACUH disini...

Minggu, 26 September 2010

ANAK SEMIR SEPATU

Waktu masih SD kelas IV suatu sore aku dan dua adik diajak bapak ke pasar Blauran untuk membeli sepatu, sebab sepatuku sudah robek besar dan tidak mungkin dijahit lagi. Dari rumah ke pasar Blauran cukup jauh, tapi untuk menghemat pengeluaran maka kami jalan kaki sekitar 3 atau 4 km. Bagiku jalan sejauh itu tidak masalah sebab hatiku senang dapat sepatu baru. Sebuah sepatu merk Bata yang terbuat dari karet semuanya. Dari toko sepatu itu sudah kupakai, akibatnya kaki jadi lecet. Mungkin bapak melihatku jalan agak pincang, maka dia mengajak berhenti untuk beli es di warung tepi jalan. Ketika kami sedang menikmati es campur, yang merupakan sebuah kemewahan bagi kami, datang dua anak kecil membawa kotak semir sepatu. Mereka dengan wajah memelas menawarkan jasanya. Bapak menolak, sebab semua memakai sandal jepit dan sepatuku tidak mungkin di semir.

Sambil berjalan bapak bertanya bagaimana bila aku menjadi anak semir sepatu? Aku bingung menjawab bagaimana. Bapak menjelaskan tentang penderitaan anak semir sepatu dan mengajakku untuk senantiasa bersyukur meski hidup dalam kemiskinan. Intinya aku tidak boleh mengeluh atau malu bila sekolah memakai sepatu yang sudah robek. Jarang mempunyai uang saku. Atau harus memakai buku tulis yang dibuat sendiri dari gabungan kertas-kertas yang masih kosong dari buku-buku tulis yang sudah dipakai atau dari kertas-kertas yang didapat bapak dari kantor. Bagaimanapun aku masih dapat sekolah dan tidak menjadi tukang semir.

Pengalaman pertemuan dengan anak tukang semir sering diulang dalam cerita atau nasehat bila aku mulai mengeluh akan situasi hidup yang serba kurang. Lambat laun pengalaman itu membuatku untuk berusaha terus bertahan bila mengalami kekurangan atau menghadapi situasi hidup yang sulit. Seperti ada kekuatan dalam diri untuk terus berjuang. Tidak mudah mengeluh. Di lain pihak pengalaman itu juga membuatku untuk peduli pada orang miskin. Kepedulian ini lebih pada cerminan akan hidupku yang harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu meski untuk hal yang kecil. Terlebih pengalaman itu membuatku bersyukur. Meski miskin tapi tidak menjadi anak semir sepatu.

Dalam masyarakat saat ini jurang antara kaya dan miskin semakin lebar. Di satu sisi banyak orang kaya, sehingga tumbuh mall-mall besar. Konon Jakarta adalah kota yang paling banyak mempunyai mall di dunia. Hukum ekonomi yang paling dasar adalah dimana ada permintaan maka akan ada penambahan jumlah barang. Bertumbuhnya mall menunjukkan adanya banyak permintaan atau semakin menguatnya kebutuhan orang berbelanja di mall. Jika dilihat dari sini maka masyarakat sudah banyak yang menjadi kaya. Tapi disisi lain kemiskinan semakin meningkat, meski pemerintah selalu menyatakan bahwa ada penurunan angka kemiskinan. Hal ini disebabkan definisi dan patokan kemiskinan yang dibuat pemerintah sangat memprihatinkan.

Diantara dua kaya miskin ini kurang ada jembatan yang mampu menghubungkan keduanya. Banyak orang kaya yang terus berusaha memperkaya diri meski harus melalui cara-cara yang merugikan orang banyak. Pencurian merajalela dalam jumlah ratusan juta bahkan sudah mencapai milyardan rupiah. Para pencuri itu pada umumnya sudah termasuk orang kaya. Mereka mencuri bukan untuk mempertahankan hidup agar tidak mati tapi untuk menambah kekayaan mereka, sehingga dapat memboroskannya dalam aneka kenikmatan. Hal ini dapat terjadi sebab mereka tidak peduli pada sesamanya. Mereka tidak berpikir bahwa perbuatan mereka memiskinkan sesama.

Pencurian uang rakyat juga disebabkan orang hidup dalam keserakahan. Dia tidak mampu bersyukur atas apa yang menjadi miliknya. Mungkin mereka tidak punya pengalaman bertemu dengan anak semir sepatu atau kalau toh bertemu mereka tidak berusaha belajar dari anak semir sepatu. Mereka dapat makan yang cukup sedangkan dihadapan mereka ada jutaan orang yang tidak mampu makan. Aku bersyukur bertemu dengan anak semir sepatu dan selalu diingatkan akan pertemuan itu.

simak selanjutnya ANAK SEMIR SEPATU disini...

Sabtu, 25 September 2010

BERBAGI

Mark Zuckerberg (14 Mei 1984) mungkin kurang dikenal orang, tapi orang mengenal situs sistem jejaring sosial “Facebook” (FB) yang merupakan ciptaannya. FB yang diciptakan 4 Februari 2004 dalam waktu singkat sudah menjadi situs jejaring sosial yang terbesar. Pada tahun 2007 anggota aktif FB sudah 34 juta yang tersebar di seluruh dunia. Tahun 2009 jumlah anggota meningkat tajam menjadi 200 juta. Anggota FB beragam mulai anak-anak, pengusaha, kaum relegius sampai presiden. Barack Obama, presiden AS dan Nicholas Sarkozy, presiden Perancis juga menggunakan FB untuk kampanye. Semakin banyak anggota aktif, maka keuntungan FB dari iklan semakin meningkat. Konon pada tahun ini FB meraup keuntungan sebesar $ 1 milyard.

Hal ini mengangkat Zuckerberg menjadi anak muda yang kaya raya dan berpengaruh. Tapi tampaknya dia tidak ingin menikmati semua kekayaan itu bagi dirinya sendiri. Situs yahoo.com, 25 September 2010, memuat berita bahwa Zuckerberg akan mendonasikan uangnya sebesar $ 100 juta atau hampir 1 milyard rupiah untuk pendidikan di kota Newark, California. Sebuah angka yang sangat fantastis bagi kita disini. Zuckerberg bukan satu-satunya orang yang rela membagikan kekayaannya untuk kemanusiaan. Bill Gates, orang terkaya di dunia nomor dua, juga akan menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk kemanusiaan. Anak-anak dan istrinya hanya diberi sedikit saja. Memang belum ada pengumuman resmi tentang jumlah nominal yang akan didonasikan untuk kemanusiaan. Tapi bila mengingat dia adalah orang terkaya kedua di dunia menurut versi majalah Forbes dengan total kekayaan $ 54 milyard, andai 50% saja disumbangkan untuk kemanusiaan sudah merupakan angka yang besar sekali.

Chow Yun Fat, aktor laga Cina memiliki kekayaan sekitar 1,15 trilyun rupiah. Dia pun akan menghibahkan 99% kekayaannya itu untuk kegiatan amal bila nanti dia meninggal dunia. Masih banyak lagi orang yang menyumbangkan ratusan juta bahkan milyardan rupiah untuk kemanusiaan atau orang miskin. Bukankah mereka bekerja keras untuk memperoleh kekayaan itu lalu mengapa setelah memperolehnya mereka memberikan pada orang lain? Menarik apa yang dikatakan oleh Chow Yun Fat pada Sun Daily, Hongkong, "Uang sebanyak itu bukanlah milik saya, namun dari hasil jerih payah. Ini bukanlah berarti saya ingin memilikinya selama-lamanya," Dia menyadari bahwa uang yang dimilikinya bukanlah miliknya dan tidak akan dimiliki selama-lamanya.

Orang berbagi dengan sesama bila dia menyadari bahwa apa yang ada padanya bukanlah miliknya sepenuhnya. Mungkin kita dapat mengatakan bahwa mereka sudah kaya dan sudah puas menikmati kekayaan itu. Tapi keberanian untuk berbagi bukan hanya milik orang yang kaya. Banyak orang miskin yang juga memberikan apa yang dimilikinya untuk orang lain. Ibu Teresa dari Kalkuta beberapa kali mensharingkan pengalamannya menerima sumbangan dari orang yang sangat miskin. Seorang pengemis yang sakit parah suatu hari memberikan penghasilannya untuk pelayanan Ibu Teresa. Dengan demikian berbagi bukan hanya kalau orang sudah kaya dan puas menikmati kekayaannya itu. Tapi keberanian berbagi adalah ketika orang mulai sadar bahwa segala kekayaan yang dimilikinya bukanlah miliknya sendiri.

Yesus mengajarkan lebih tegas lagi pada para muridNya. "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Luk 18:22). Bahkan orang yang tidak mau berbagi pada sesama dia akan masuk dalam neraka seperti dalam perumpamaan orang kaya dan Lazarus. Orang enggan berbagi sebab dia ingin memiliki sebanyak mungkin kekayaan. Dia hanya berpikir tentang dirinya sendiri, sehingga tega mengkorupsi milyardan rupiah meski dia sudah termasuk orang kaya. Koruptor di negara kita jumlahnya ribuan bahkan mungkin jutaan dan akan terus bertambah. Mereka merasa bahwa kekayaan negara ini harus dimiliki untuk dirinya sendiri. Maka sejauh ada kesempatan dia akan mengeruk sebanyak mungkin. Harusnya kita malu pada pemuda seperti Zuckerberg.

simak selanjutnya BERBAGI disini...

Jumat, 24 September 2010

KASIH DAN CEMBURU

Seorang tanya padaku apakah boleh orang Katolik menyantet (mengguna-guna atau meneluh) orang? Sambil tertawa aku tanya mengapa kok ada pikiran untuk melakukan hal itu? Dengan nada marah dia mengatakan ingin sekali menyantet orang. Dia lalu menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Dia merasa bahwa selama ini telah diperlakukan secara tidak adil oleh pimpinannya. Setiap hari selalu saja ada yang dianggap salah dan dapat dijadikan bahan untuk memarahinya dengan kata-kata yang sangat kasar dan kadang kala kemarahan itu diungkapkan dimuka umum. Dia sudah berusaha hati-hati dalam setiap tindakan tapi kesalahan kecil saja dapat membuat bos marah. Tidak jarang ketika marah dia menghina imannya. Dia sudah berdoa agar Allah menyadarkan bosnya tapi doanya tidak dikabulkan. Sebaliknya hidup bosnya semakin hari semakin kaya seolah dilindungi Allah. Melihat hal itu maka dia ingin sekali menyantet bosnya biar tahu rasa.

Hidup kadang dapat dianggap tidak adil. Orang yang kejam dan dapat dikatakan tidak beriman dapat hidup penuh kelimpahan, sebaliknya orang yang berusaha hidup baik ternyata terus menerus dirundung malapetaka. Situasi ini dapat membuat orang yang sedang menderita mempertanyakan keadilan Allah. Mengapa Allah melindungi orang yang jahat dan menghukum orang yang berusaha hidup baik? Padahal Allah berulang kali dikatakan bahwa Dia akan melindungi orang yang miskin dan menderita. Yesus datang ke dunia untuk membebaskan orang yang menderita dan tertindas. Dimana pembebasan yang dilakukan Yesus? Mana hukuman Allah bagi orang yang berdosa?

“Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.” (Mzm 73:3). Penulis Mazmur cemburu melihat orang fasik dapat hidup dengan penuh kemewahan, sehingga dia frustasi “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.” (13-14). Banyak orang mengalami seperti yang dialami oleh pemazmur, sehingga dia ingin mengambil jalan pintas untuk menghukum orang yang dianggapnya jahat itu. Dia tidak berharap pertolongan dari Allah lagi dan ingin menjadi Allah bagi sesamanya.

Keadilan Allah memang tidak dapat dipahami oleh manusia. Allah adalah Allah yang berkuasa. Dia dapat memberikan apa saja dan kepada siapa saja sesuai dengan kehendakNya. Dalam perumpamaan tentang orang yang bekerja di kebun anggur, orang yang bekerja sejak pagi dibayar sama dengan orang yang bekerja di sore hari. Memang semua itu sudah ada perjanjian yang disepakati bersama. Tapi bila kita yang menjadi pekerja itu mungkin kita juga akan mempertanyakan hal yang sama. Tapi tuan itu menjawab, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat 20:15)

Kita sering merasa iri hati melihat kemujuran orang, sebab kita pun ingin semujur orang itu tapi tidak bisa. Oleh karena tidak mampu maka kita pun protes pada Allah. Di sisi lain memang kita harus menyadari bahwa Allah adalah pribadi yang berkuasa. Dialah yang memiliki seluruh semesta bahkan manusia. Sebetulnya disinilah letak kehebatan Allah. Dia memiliki kasih yang sangat besar, sehingga Dia memberikan kasih kepada siapa saja secara adil “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat 5:45). Sedangkan kasih kita adalah kasih yang terbatas. Kasih yang ditujukan pada orang yang mengasihi kita. Andai orang itu memiliki kasih yang besar tentu dia akan dapat menerima bosnya dengan penuh kasih. Andai dia mengasihi Allah maka dia akan memberikan kebebasan pada Allah. Tidak memberiNya pagar agar Allah mengikuti keinginannya. Rasa cemburu dan iri hati disebabkan kurangnya kasih dalam hati. Kasih yang membebaskan orang yang dikasihi, sehingga tidak terlintas dalam benaknya untuk menyantet musuhnya yang telah bertindak tidak adil padanya.

simak selanjutnya KASIH DAN CEMBURU disini...

Selasa, 21 September 2010

AGAMA SEBAGAI ORGANISASI

Seorang sahabat mengirim email berisi berita tentang masuknya Rianti Cartwright menjadi Katolik. Hal ini dilakukan sebab beberapa waktu lalu aku menulis tentang Jessica yang masuk Islam. Tulisanku itu mendapat tanggapan aneka macam dan beberapa menyoroti soal kepindahan agama. Padahal bagiku masalahnya bukan soal masuk Islam atau masuk Katolik, melainkan soal media yang kurang bijak dalam menayangkan berita. Pada masa yang kurang kondusif seperti saat ini sebaiknya berita semacam itu tidak perlu diungkapkan. Selain itu mengapa orang pindah agama saja perlu diberitakan? Agama adalah pilihan pribadi dan merupakan sesuatu yang sangat pribadi sebab mengkaitkan antara manusia dengan Allah jadi tidak perlu dipersoalkan.

Soren Kierkegaard (5 Mei 1813 – 11 November 1855) seorang filsuf Denmark yang hidup dalam lingkungan Kristen sehingga dia merasa semua orang adalah Kristen kecuali orang Yahudi. Kierkegaard mengkritik bahwa orang Kristen telah kehilangan kekristenannya sebab hidupnya sudah berbeda dengan apa yang diajarkan Injil. Mereka mengaku Kristen tetapi dalam hidupnya tidak pernah berpikir tentang Tuhan. Mereka tidak mau memikul salib dan mengatakan bahwa penderitaan adalah kejahatan. Mereka kehilangan perasaannya untuk berkorban dan melayani. Bahkan mereka telah hidup dalam kenikmatan dunia dan kekayaan padahal Yesus menyatakan bahwa kita harus melepaskan kekayaan.

Bagi Kierkegaard agama bukanlah suatu ajaran untuk dipelajari tapi lebih merupakan kehidupan untuk diikuti. Dihayati secara pribadi dan dijadikan miliknya sendiri. Orang harus terlibat mendalam dan pribadi dalam agama sehinga apa yang ditulis dalam Kitab Suci sesungguhnya tetang kita dan untuk kita saat ini dan disini. Allah berbicara pada kita dan tentang kita. Maka Kitab Suci tidak dapat dibaca sebagai kisah, sebab bila demikian maka kita hanya akan menjadi penonton dari segala kejadian yang terjadi pada umat Israel seperti kita membaca buku sejarah.

Membaca tulisan Kierkegaard memang ada yang kurang saya setujui, sebab dia pada akhirnya terlalu menekankan hubungan manusia dengan Allah sehingga mengabaikan hubungan dengan manusia. Dia mengatakan bahwa kesempurnaan manusia ialah bila dia mempunyai relasi personal dengan Allah maka dia bisa mengabaikan relasi dengan sesama. Menurut pendapat saya relasi pada Allah tidak boleh memisahkan diri kita dari relasi dengan sesama. Tapi bagaimana pun juga Kierkegaard menunjukkan bagaimana kita harus beriman. Iman adalah relasi pribadi manusia dengan Allah. Agama adalah jalan agar manusia bisa membangun relasi pribadi dengan Allah.

Saat ini agama lebih ditonjolkan sebagai organisasi, sehingga ada sebutan agama mayoritas dan minoritas. Tergantung berapa banyak jumlah pengikutnya. Mayoritas berarti agama besar, maka perlu diperhitungkan, mendapat fasilitas yang lebih, yang lebih parah adalah timbulnya arogansi mayoritas yang dapat memunculkan perilaku yang sewenang-wenang. Di Bali pada hari Nyepi semua orang tidak peduli agamanya apa harus berada dalam rumah. Di Aceh diterapkan hukum Islam sehingga ada polisi moral yang dapat menangkap orang yang dianggap melanggar hukum Islam. Di Samosir gereja ada dimana-mana sedangkan mushola sangat jarang sekali.

Akibat agama lebih sebagai organisasi maka jumlah pengikut menjadi sangat penting. Salah satu syarat sebuah organisasi yang besar ditentukan oleh jumlah anggotanya. Maka terjadilah perebutan anggota. Orang bangga bila ada anggota agama lain beralih menjadi pengikut agamanya. Tidak peduli apakah dia nanti akan jadi lebih baik atau tidak. Apalagi bila anggota baru itu adalah orang terkenal, maka menjadi kebanggaan sebab diharapkan dia akan menarik banyak anggota baru. Sama dengan partai politik yang merekrut artis dan orang terkenal untuk menarik orang agar mau menjadi anggotanya. Jika demikian maka agama kehilangan jati dirinya. Benar kata Kierkegaard bahwa agama sudah menjadi membosankan dan memuakkan.

simak selanjutnya AGAMA SEBAGAI ORGANISASI disini...

Sabtu, 18 September 2010

KOPI DARI MUK KAKEK

Dulu nenek dan kakek tinggal serumah dengan keluargaku. Setiap pagi ibu selalu menghidangkan segelas kopi untuk kakek. Gelas kopi kakek sangat spesial. Sebuah gelas besar terbuat dari seng dengan gambar bunga-bunga merah yang besar-besar. Kami biasanya menyebut muk. Aku tidak tahu sudah berapa tahun umur gelas itu, sebab kakek membawa gelas itu dari rumahnya di Semarang. Di bibir gelas itu tampak bentuk hitam-hitam yang tidak berarturan karena catnya mengelupas akibat jatuh atau berbenturan ketika dicuci. Beberapa cekungan akibat benturan juga ada di bagian bawahnya. Ibu sudah berulang kali meyarankan agar muk itu dibuang saja dan diganti yang baru. Tapi kakek bersikukuh tidak ingin membuangnya.

Entah berapa kali aku mencuri minum kopi kakek dari muk itu. Ibu selalu ngomel atau minimal melototkan matanya bila mengetahui aku sedang menikmati kopi kakek. Tapi kakek dan nenek hanya tertawa dan menegur ibu bila mengomel panjang lebar akan hal itu. Minum kopi dari muk kakek memang enak. Padahal aku bisa membuat kopi sendiri atau minum dari gelas milik bapak. Tapi entah mengapa aku suka sekali menikmati sedikit kopi dari muk kesayangannya meski harus tanpa sepengetahuan ibu.

Kopi dalam muk kakek adalah kopi yang sama dengan di gelas lain. Muk kakek sangat jelek. Ibu sering mengatakan bahwa muk itu seperti kaleng yang dibawa pengemis untuk minta-minta. Tapi bagiku ada kenikmatan yang tidak aku temukan bila minum kopi di gelas lain atau aku membuat sendiri. Jika demikian yang membuat nikmat bukan jenis kopi atau muk tempat kopi itu, melainkan ada sesuatu yang lain yang tidak dapat diuraikan oleh akal budi. Orang tuaku menyatakan itu sebagai bentuk kenakalan atau ketidaksopanan, sebab kadang aku sudah meminum sebelum kakek meminumnya.

Apa yang dikatakan orang tuaku benar. Tapi bagiku menikmati minum dari muk kakek bukan soal kenakalan atau kekurangajaran seorang cucu. Bila argumen itu yang digunakan maka kakek dan nenek juga akan marah. Tapi mereka hanya tertawa bahagia bila memergokiku sedang menikmati kopinya. Atau kadang kakek hanya batuk-batuk kecil untuk menunjukkan kehadirannya bila aku merasa dia tidak ada. Bila demikian ada suatu lain yang perlu dijelaskan. Sesuatu yang menyangkut rasa yang tidak dapat diuraikan. Suatu rasa kedekatan antara aku dan kakek. Kenikmatan itu muncul dari adanya relasi yang mendalam antara aku dan kakek.

Ketika minum kopi dari muk kakek, aku melepaskan apa yang tampak, yaitu muk yang jelek, kopi dan tata aturan sopan santun, tapi masuk pada apa yang tidak nampak yaitu hubungan batin antara cucu dan kakeknya. Kenikmatan itu muncul dari relasi yang mendalam. Bukan dari materialnya. Indra kita terbatas pada apa yang dapat diindrai yaitu materi atau non materi seperti bau, rasa dan sebagainya. Tapi dibalik semua itu ada sesuatu yang lain yang tidak dapat diindrai. Banyak bunga yang indah di pasar bunga. Tapi bunga yang diberikan oleh seorang yang kita cintai akan tampak lebih indah. Ini disebabkan adanya rasa relasi cinta yang mengkaitkan antara dua orang yang saling mencintai. Tidak dapat dijabarkan secara nalar hanya dapat dirasakan.

Dalam kehidupan beragama, sakramen adalah tanda. Hosti dalam misa adalah tanda. Bila hanya menggunakan indra maka hosti adalah sebuah roti kecil berwarna putih dan rasanya tawar. Tapi kita mengimaninya sebagai Tubuh Kristus. Orang dapat bertanya dimana tubuhnya? Atau inikah Kristus? Bila hanya mengindrai dan menggunakan nalar atau dalil-dalil ilmu pengetahuan atau aturan yang ada maka semua tidak akan ketemu. Penemuan hosti sebagai Tubuh Kristus bila ada cinta yang mendalam antara aku dan Yesus. Aku tidak lagi melihat hosti sebagai roti tapi sebagai TubuhNya. Hal ini tidak dapat dijelaskan tapi dirasakan. Filsafat berusaha memecahkan dengan mengatakan transubstansia (perubahan substansi atau hakekatnya), tapi itu pun tidak dapat diindrai. Menikmati kopi dari muk kakek pun tidak dapat dinalar. Hanya aku yang dapat merasakan dan kakek yang mengetahui perasaan itu. Inilah sakramen.

simak selanjutnya KOPI DARI MUK KAKEK disini...

Jumat, 17 September 2010

AKU SEORANG KAYA

Pernah suatu sore aku duduk bersama teman-teman anak jalanan di dekat sebuah restoran siap saji. Sambil menikmati es teh dalam kantung plastik kami berbicara aneka hal. Akhirnya seorang anak menyatakan betapa enaknya jadi orang kaya, sebab mereka bisa makan makanan yang enak sampai kenyang. Bahkan mereka sampai kekeyangan sehingga membuang potongan daging ayam yang masih besar. Kami memang bisa melihat jelas orang-orang yang sedang makan di dalam restoran, sebab jarak kami hanya sekitar 2 m saja. Batas kami hanya sebuah dinding kaca. Restoran macam ini sering kali membuat dindingnya dari kaca sehingga orang di luar dapat melihat mereka yang sedang menikmati makanan di dalam.

Hampir semua orang di dunia ini ingin menjadi kaya. Jika kaya maka dia dapat membeli apa yang mereka butuhkan. Mereka dapat pergi ke tempat yang mereka inginkan. Mereka dapat memenuhi segala keinginannya. Jacob Needleman dalam bukunya yang berjudul “Uang dan Maknanya dalam Kehidupan” memberikan definisi tentang kaya dan miskin. Orang disebut kaya bila dia dapat memenuhi apa yang diinginkannya. Sebaliknya orang disebut miskin bila dia ingin sesuatu tapi tidak dapat memenuhinya. Definisi ini tampaknya sederhana tapi pengertiannya luas dan dapat kita renungkan bagi diri kita masing-masing.

Dalam hidup sering kali kita menginginkan banyak hal. Satu keinginan sudah terpenuhi muncul keinginan baru lagi. Seolah keinginan itu tidak pernah ada habisnya. Kadang keinginan itu tidak terpenuhi. Jika demikian maka kita disebut miskin meski mungkin kita memiliki banyak sekali harta. Michael Jackson almarhum adalah seorang artis yang sangat kaya. Tapi bila mengikuti definis Needleman maka dia termasuk orang miskin, sebab selalu ingin mengubah wajahnya, sehingga museum madame Tussauds di London kebingungan mau memajang wajah yang mana. Orang semacam Michael Jackson sangat banyak sekali. Orang yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki atau yang ada pada dirinya sendiri. Hidupnya selalu mengejar aneka keinginan.

Akibat dalam diri penuh dengan keinginan, maka orang tidak mampu menikmati apa yang ada dihadapannya atau yang sedang dijalankannya. Orang makan tapi dia sudah ingin mengerjakan sesuatu, sehingga makan pun menjadi tidak nikmat lagi. Atau dia tidak lapar tapi ingin makan maka dia tidak mampu menghabiskan makanannya dan membuang sisa makanan, padahal dia harus mengeluarkan uang cukup banyak untuk mendapatkan makanan itu. Jika demikian di dunia ini sangat banyak orang miskin meski dia memiliki harta berlimpah.

Kita boleh saja mempunyai keinginan untuk memiliki atau memperoleh sesuatu. Tapi keinginan itu harus ada batasnya. Bila tidak maka kita akan terus mengejar keinginan demi keinginan dan tidak pernah akan cukup. Pernah aku dipinjami sebuah villa yang bagus dan megah. Ketika kutanya pada pegawai disana apakah pemilik villa sering kemari? Dia menjawab sudah sangat lama pemilik villa tidak pernah datang menginap disini. Setiap bulan hanya pegawainya saja yang disuruh untuk membayar gaji dan mengecek keadaan villa. Pengkotbah menulis “Orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatu pun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.” (Pkh 6:2). Bagiku sebagian orang yang ada di dalam restoran seperti apa yang dikatakan oleh Pengkotbah. Mereka membeli makanan mahal tapi tidak dapat menikmatinya

Aku merasa bahwa aku dan teman-teman saat itu sangat kaya, sebab kami haus dan dapat membeli es teh manis dalam plastik. Kami dapat menikmati dan menyedot habis tanpa sisa. Memang kami tentu memiliki berbagai keinginan. Tapi semua keinginan kami abaikan, sebab kami sedang menikmati menjadi orang kaya. Menikmati seplastik es teh manis. Kami pun bersyukur bahwa kami masih bisa minum es teh manis.

simak selanjutnya AKU SEORANG KAYA disini...

Kamis, 16 September 2010

JESSICA OH JESSICA

Seorang teman kirim SMS meminta pendapatku tentang seorang artis Jessica Iskandar yang menjadi Islam. Beritanya katanya ada di yahoo. Maka aku buka yahoo, ternyata memang ada kisah Jessica Iskandar yang masuk Islam atau menjadi mualaf. Membaca apa yang dikatakannya aku jadi tersenyum prihatin. Aku sendiri tidak tahu siapa Jessica itu, sebab mungkin kurang mengikuti perkembangan artis Indonesia yang banyak sekali dan kadang sekali muncul langsung menghilang entah kemana. Di yahoo dikisahkan bahwa Jessica belajar dari anak kecil. Sebuah hal yang mengherankan. Tapi mungkin itu sudah menjadi panggilannya, sehingga apapun bisa terjadi.

Saat ini hubungan antara Kristen dan Islam boleh dikatakan sedang kurang bagus terkait masalah HKBP Bekasi dimana sampai jatuh kurban akibat penusukan dan pemukulan. Koran Tempo di halaman muka menulis bahwa ketua FPI Bekasi sudah menjadi tersangka. Gubernur Jawa Barat turun tangan dengan memberi alternatif dua lahan baru sebagai ganti lahan yang diributkan. Tapi tampaknya pengurus HKBP masih belum sepakat, sebab mereka merasa diperlakukan tidak adil. Kasus ini tampaknya tidak akan berakhir dengan mudah. Aneka protes sudah muncul di berbagai tempat.

Di tengah situasi yang kurang bagus ini yahoo menampilkan berita tentang seorang yang masuk Islam. Berita itu memang benar tapi kurang bijak bila ditayangkan pada saat dimana situasi sedang tidak kondusif seperti ini. Menurut pendapatku memang agama adalah soal panggilan hidup yang tidak dapat diganggu gugat. Maka setiap orang boleh memeluk agama apa saja. Hal ini dijamin oleh UUD ps 28 dan 29. Sidang umum PBB pada 25 November 1981, mengeluarkan resolusi PBB No.36/55/1981 Declaration of the Elimination of All Forms of Intolerance and of Discrimination Based on Religion or Belief. Deklarasi ini mendukung kebebasan orang untuk memeluk dan menjalankan agamanya masing-masing. Maka sah dan boleh saja bila Jessica pindah dari agama Kristen menjadi pemeluk Islam atau agama apapun.

Jessica menyatakan bahwa semua agama sama. Hal ini memang sering diungkapkan oleh orang yang tidak memahami agamanya. Orang yang hanya beragama sebab memang di negara kita orang harus memeluk sebuah agama. Atau dia memeluk agama warisan dari orang tua atau keluarga, sehingga tidak perlu lagi mempelajarinya. Atau dia pengikut new age. Tapi bila dia adalah pengikut new age maka dia tidak akan menyatakan memeluk salah satu agama. Jadi mungkin kurang memahami agamanya.

Memang sepintas semua agama tampak sama sebab mengajarkan kebenaran dan kebaikan, tapi dalam versi yang berbeda. Yesus mengajar kebenaran dan kebaikan tapi versi Yesus berbeda dengan versi Farisi dan ahli Taurat, sehingga Yesus sering bertengkar dengan mereka. Muhammad pun mengajar kebenaran dan kebaikan tapi berbeda dengan versi Yesus. Demikian pula Sidharta Budha Gautama dan Hindu semua mengajar kebenaran dan kebaikan versi mereka masing-masing. Kebaikan dan kebenaran semakin rumit akibat agama terpecah-pecah. Kristen Protestan, Pantekosta dan Katolik berbeda, demikian pula Suni dan Syiah atau Mahayana dan Hinayana dan segala cabang dari perpecahan itu. Jadi kurang tepat bila mengatakan bahwa semua mengajarkan kebenaran dan kebaikan yang sama.

Perbedaan ini yang sering menimbulkan konflik seperti yang terjadi di Bekasi. Pada saat ada konflik seperti ini sebaiknya semua orang dapat mengendalikan diri. Salah satu penyebar konflik adalah media. Media terkadang memuat berita sensasional agar dibaca orang. Terry Jones, seorang pendeta di Florida dengan jemaat yang kecil menyerukan ajakan membakar Al Quran ternyata mampu menghebohkan dunia, sehingga presiden Indonesia pun perlu menulis surat resmi kepada presiden AS dan PBB. Andai pernyataan itu tidak dimuat dan dibesarkan oleh media maka pendeta itu tetap akan menjadi pendeta yang tidak dikenal sama sekali. KWI, PGI dan FPI pun tidak perlu bertemu untuk menolak rencana itu.

Pendeta Terry Jones dia berhasil mempopulerkan dirinya dengan membuat pernyataan yang menghebohkan karena dukungan media. Seorang artis pun membutuhkan media untuk mempublikasikan dirinya agar dikenal orang. Hal yang mudah membuat orang terkenal adalah bila dia membuat sebuah pernyataan atau melakukan tindakan yang sensasional termasuk pindah agama. Tapi bagiku apa yang dipublikasikan oleh yahoo akan pilihan Jessica Iskandar untuk saat ini adalah suatu ulasan yang kurang bijak meski itu benar. Selain itu mengapa pindah agama saja perlu dipublikasikan? Ataukah media sudah kekurangan berita yang dapat menarik minat pembaca? Sungguh memprihatinkan.

simak selanjutnya JESSICA OH JESSICA disini...

Selasa, 14 September 2010

AKU TIDAK PUNYA WAKTU


Aku menelpon seorang teman untuk mengajaknya melakukan aktifitas yang sering aku lakukan. Beberapa waktu lalu dia menyatakan tertarik dan ingin melihat aktifitasku. Dia mengatakan kalau aku ke tempat teman-teman agar memberinya kabar siapa tahu dia dapat ikut bersamaku. Ketika aku telpon dengan agak malu dia mengatakan bahwa hari ini dia tidak bisa ikut sebab sangat sibuk. Lalu dia mengeluh akan aneka aktifitas yang harus dijalani sehingga dia merasa tidak mempunyai waktu lagi. Dia menceritakan apa saja yang dikerjakan dalam sehari. Aku membayangkan apa yang diceritakan dan memahami bahwa dia sungguh orang yang sangat sibuk. Setelah beberapa saat kami berbicara akhirnya telpon aku tutup.

Aku sering mendengar orang mengeluh, tidak punya waktu atau jadwal acara yang padat. Dia tidak memiliki waktu pribadi untuk rekreasi (dari kata re creation atau penciptaan kembali) dalam arti bukan berpergian ke tempat yang indah saja, melainkan untuk menyegarkan diri kembali sehingga memunculkan daya cipta. Orang juga kehilangan waktu untuk membangun relasi dengan sesama bahkan dengan anggota keluarga. Banyak orang merasa rumah lebih menjadi house daripada home. Akibatnya semakin banyak muncul krisis dalam keluarga, orang yang kesepian, atau menurut J J Rousseau manusia menjadi molekul yang telah lengkap dari dirinya sendiri. Bukan seperti sel yang terkait satu dengan yang lain. Bahkan orang tidak punya waktu lagi untuk menjalin relasi dengan Tuhan. Waktunya telah habis untuk berbagai kesibukan.

Salah satu tanda jaman modern adalah perkembangan tehnologi, transportasi dan komunikasi. Kedua tehnologi itu sangat membantu manusia untuk membuat dunia menjadi sebuah area yang tanpa batas dan jarak lagi. Seorang misionaris Belanda bercerita bahwa dia datang dari Belanda ke Indonesia pada tahun 1930 an dengan naik kapal dari Marseilles ke Jakarta selama 3 bulan. Kini jarak itu hanya ditempuh selama beberapa jam saja. Pada tahun 1980 an jarang sekali orang naik pesawat terbang, tapi kini bandara penuh sesak, sebab harga tiket pesawat cukup murah. Pada tahun 1980 an masih sedikit sekali orang yang mempunyai telpon, tapi sekarang hampir semua orang menggenggam telpon kemana saja dia pergi. Penemuan aneka mesin membuat kerja manusia menjadi lebih ringan dan cepat.

Tapi anehnya ternyata kecanggihan segala tehnologi, yang seharusnya membuat kerja manusia menjadi lebih ringan dan cepat sehingga dia mempunyai waktu luang lebih banyak ternyata membuat manusia kehilangan waktu. Lalu kita bisa bertanya mengapa semakin banyak orang kehilangan waktu? Apakah segala penemuan tidak menolong manusia untuk memiliki waktu? Ataukah manusia sudah menjadi bagian dari mesin yang terus menerus dituntut untuk berproduksi menghasilkan uang? Ataukah semakin banyak orang yang menjadi workaholic atau gila kerja?

Pada umumnya orang tenggelam dalam kesibukan sebab berusaha mendapatkan uang sebanyak yang dapat diraihnya. Dengan uang yang cukup maka dia terbebas dari kemiskinan. Dia dapat memenuhi segala yang diinginkannya. Donald Trump menulis dalam biografinya bahwa uangnya jauh dari cukup untuk membiayai hidupnya, tapi dia terus melakukan transaksi bisnis sebab dia menemukan kesenangan disana. Transaksi bisnis dianggap sebagai rekreasi, sehingga sampai larut malam pun dia masih berbisnis. Jacob Needleman, seorang profesor filsafat di San Fransisco, mendefinisikan orang miskin sebagai orang yang ingin sesuatu tapi dia tidak mampu memperolehnya. Pada jaman ini industri bukan menawarkan apa yang dibutuhkan oleh orang melainkan berusaha menciptakan sesuatu agar dibutuhkan oleh orang. Industri mendorong orang untuk mempunyai kebutuhan yang baru. Akibatnya orang berusaha memenuhi kebutuhan itu. Agar dapat memenuhinya, maka dia harus mempunyai uang. Untuk mempunyai uang maka dia harus bekerja lebih keras lagi. Dengan demikian di dunia masih banyak orang miskin meski dia sudah mempunyai banyak uang. Kemiskinan itu sedemikian parah sehingga dia tidak mempunyai waktu. Dia tidak punya waktu pribadi.

simak selanjutnya AKU TIDAK PUNYA WAKTU disini...

Senin, 13 September 2010

HP DALAM MISA

Sepasang suami istri setelah misa datang padaku. Wajah suaminya menunjukkan rasa ketidaknyaman hatinya. Tanpa basa basi dia lalu mengungkapkan kejengkelannya pada beberapa umat yang asyik mengoperasikan HP waktu misa berlangsung. Mereka mungkin sedang berkirim atau menerima SMS. Dia mengusulkan agar aku memasang pengacak signal HP di daerah sekitar gereja, sehingga tidak ada lagi umat yang sibuk dengan HPnya ketika sedang mengikuti misa. Itu sangat menganggu umat lain yang ingin sungguh berdoa. Beberapa gereja sudah memasang alat itu. Dia pun menyatakan akan membelikan kalau memang gereja tidak mempunyai dana untuk membeli alat itu. Aku pun mengatakan bahwa hal itu akan kami pertimbangkan.

Saat ini memang HP sudah menjadi bagian integral hidup manusia. Bagian yang tidak dapat dipisahkan atau sudah menyatu dengan manusia. Kemanapun dan dimana pun orang berada dia tidak dapat melepaskan HPnya. Apalagi sekarang HP bukan hanya menjadi alat komunikasi tapi juga alat hiburan sebab ada HP yang sekaligus TV, radio, musik dan game. Ada yang juga berfungsi sebagai kamera dan alat perekam. Bahkan ada juga yang diisi program Kitab Suci dan dapat dibuat untuk menyimpan catatan. Dengan demikian HP merupakan alat multi fungsi yang ringan, kecil, dan mudah pengoperasiannya sehingga dapat menunjang aktifitas seseorang.

Apakah bila mengikuti perayaan ekaristi orang membutuhkan HP? Misa adalah saat kita secara khusus berkumpul bersama semua jemaat untuk memuji dan memuliakan Tuhan serta mengenang karya penyelamatan yang telah dilakukan. Kita berkumpul untuk bersatu membangun tubuh Kristus, dimana kita adalah anggota dan Yesus sebagai kepalanya. Kesatuan tubuh itu demikian erat. Memang HP bisa menjadi penghalang kesatuan itu, sebab kita akan komunikasi dengan orang yang jauh. Bukan orang yang ada di dekat kita atau dengan Tuhan melalui doa-doa kita.

Mengikuti misa minggu bagai pulang ke rumah Allah. Setelah seminggu kita disibukkan aneka aktifitas dan tidak menutup kemungkinan jatuh dalam dosa, maka hari minggu adalah saat kita kembali menemui Allah. Memperbaiki relasi kita dengan Allah yang telah rusak oleh dosa. Memang kita dapat memperbaiki relasi pribadi dengan Tuhan dalam doa-doa pribadi. Tapi dosa yang kita lakukan tidak hanya merusak relasi dengan Allah tapi juga merusak relasi dengan sesama anggota Gereja. Bila aku mencuri, maka aku tidak hanya merusak hubungan dengan Allah tapi juga dengan keluargaku, sebab mereka akan malu. Mereka juga menanggung beban dosaku. Setiap dosa yang kita lakukan juga melukai Gereja. Maka saat misa kita berusaha memperbaikinya.

Kesadaran akan pentingnya memulihkan relasi dengan Allah dan sesama, seharusnya membuat kita berani meninggalkan apa saja yang dapat menghalangi terbangunnya relasi itu. Kita menggunakan HP pasti untuk membangun relasi dengan orang yang jauh atau orang yang tidak ada di sekitar kita. Padahal yang perlu dilakukan adalah menjalin kembali relasi dengan saudara yang ada di dekat kita dan Allah. Maka sebetulnya HP tidak diperlukan pada saat misa, sebab akan menjadi pembatas antara kita dengan saudara yang ada di dekat kita.

Tapi bagiku semua itu harus muncul dari kesadaran pribadi. Sebetulnya orang harus tahu bahwa dia datang ke gereja mengikuti misa untuk berdoa dan bersekutu. Jadi dia tidak membutuhkan HP. Memang orang dapat berpendapat bahwa mungkin orang itu belum dewasa imannya, maka perlu dilarang. Tapi larangan dapat membuat orang tidak dewasa. Orang menjadi budak yang melakukan segalanya dengan takut dan perintah bukan menjadi orang merdeka yang menjalankan segala sesuatu atas kesadaran diri dan pertimbangan yang matang. Yesus sendiri tidak membuat banyak larangan. Hal yang perlu dilakukan adalah penyadaran mengenai tujuan mengikuti misa. Bila orang sadar bahwa tujuanya adalah untuk menjalin relasi kembali dengan Allah dan sesama, maka dia tidak akan sibuk dengan HP saat misa. Ini membutuhkan waktu dan proses.

simak selanjutnya HP DALAM MISA disini...

SIAPAKAH YANG BUKAN MANUSIA?

Seorang yang tampak saleh mengkritik seorang perempuan yang bekerja sebagai PSK. Dia mengatakan bahwa PSK itu bukan manusia yang bermoral dan bermartabat, sebab mau merendahkan dirinya bekerja seperti itu. Mengobral tubuhnya demi beberapa lembar ribuan rupiah. Pembicaraannya sampai pada hukuman neraka yang kejam. Dia menunjukkan hukuman bagi PSK dalam Perjanjian Lama dan Al Quran. Orang yang berzina akan dihukum rajam. Selama dia berbicara hanya sedikit sekali menyinggung tetang lelaki yang datang ke PSK. Dia hanya mengatakan bahwa lelaki itu salah sebab mudah tergoda oleh PSK. Disinilah letak ketidakadilan dimana dua orang dianggap berdosa tapi satu orang diminimalkan sedangkan yang lain dibesarkan dosanya.

Seorang teman PSK bercerita bahwa setiap malam dia mendapat kunjungan tamu lebih dari 4 orang. Bahkan seorang PSK yang menjadi favorit dalam sehari bisa melayani 10 tamu lebih. Aku tanya bagaimana bila dia sedang melayani tamu ternyata ada tamu lain yang datang? Sambil tertawa dia mengatakan biar saja menunggu. Sebuah jawaban ringan yang membuatku tertegun. Menunggu? Bagaimana mungkin seorang menunggu seorang yang akan dikencani? Selama menunggu apakah dalam pikirannya tidak terlintas apa yang sedang dikerjakan oleh orang yang ditunggunya bersama orang lain? Pada saat dia melakukan apakah tidak terlintas dalam kepalanya bahwa apa yang sedang dilakukannya sekarang beberapa waktu lalu juga dilakukan dengan orang lain?

Orang sering mengatakan hubungan seksual sebagai hubungan intim. Sebuah relasi yang mendalam antara lelaki dan perempuan, sehingga mereka bukan lagi dua melainkan satu. Mereka meleburkan diri satu dengan yang lain. Maka relasi ini harusnya berdasarkan cinta yang mendalam, sebab menyatukan diri secara utuh dan penuh. Relasi ini merupakan sebuah ungkapan cinta yang tak terkatakan. Tapi dalam relasi dengan PSK hal ini tidak ditemui. Mereka hanya menekankan segi biologis tanpa berhitung dengan segi cinta dan keagungan seksualitas.

Seorang teman mengatakan aku naif, sebab orang datang ke tempat PSK bukan untuk cinta dan rasa. Mereka hanya didorong untuk memuaskan keinginan biologis belaka. Bila demikian siapakah yang bukan manusia? PSK atau orang yang datang pada PSK? Mendengar cerita teman-teman tentang seorang langganan PSK yang rela menunggu, atau cerita yang bagiku sangat aneh lainnya diseputar kehidupan PSK membuatku merasa bahwa manusia telah kehilangan kemanusiaannya. Bila dia masih menjunjung martabat manusianya, maka dia tidak akan mudah menggandeng orang yang tidak dikenalnya untuk melakukan hubungan intim. Bagaimana mereka akan intim bila mengenalpun tidak. Seorang teman bercerita bahwa pada saat melakukan hubungan itu mereka tidak perlu banyak berbicara sebab tujuannya adalah melakukan. Bagiku hal ini tidak masuk akal. Binatang saja bila akan kawin mereka selalu melakukan saling menarik perhatian dan melakukan komunikasi, bahkan beberapa jenis binatang hanya mau melakukan dengan pasangannya. Mengapa manusia yang dianugerahi akal dan kemampuan tidak dapat meniru hewan?

Seorang teman mengatakan lebih baik tempat PSK itu ditutup saja. Bagiku pendapat ini yang naif. Mengapa susah-susah menutup? Mereka akan tutup sendiri bila orang tidak datang dan menggunakan jasanya. Bila orang sadar akan martabatnya sebagai manusia yang terhormat, maka mereka akan menolak untuk datang ke tempat PSK. Melakukan hubungan seksual dengan orang yang tidak dikenalnya. Kalau toh mereka mengenalnya, tapi mereka sadar bahwa orang yang dikenalnya baru saja melakukan hubungan dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Kalau toh PSK itu memujanya, hal yang sama juga dilakukan pada orang lain. Seorang teman PSK bercerita bahwa dia sudah membunuh perasaannya. Dia sudah mati. Dia melakukan demi uang. Tapi yang datang apakah juga sudah tidak mempunyai rasa? Apakah mereka juga sudah mati? Lalu apa yang dikejarnya? Bagiku PSK lebih tahu apa yang dilakukan daripada yang datang padanya. Mereka tidak tahu apa tujuannya. Sungguh orang mati.

simak selanjutnya SIAPAKAH YANG BUKAN MANUSIA? disini...

Jumat, 10 September 2010

LEBARAN... LEBARAN

Bagi banyak orang di Jawa hari raya Lebaran merupakan salah satu hari yang sangat dinantikan. Waktu kecil dulu aku juga sangat menantikan hari Lebaran, sebab pada hari ini berarti aku dapat pakaian baru, ibu memotong ayam dan membuat kue-kue. Suatu yang sangat jarang terjadi pada hari biasa. Malam hari bisa menyalakan petasan atau kembang api. Pagi hari aku dan teman-teman sudah siap datang ke rumah-rumah tetangga untuk memberi selamat lebaran dan pulang mendapat uang serta kue. Setelah sholat Ied di lapangan acara mengunjungi rumah tetangga dimulai. Memakai pakaian baru, sandal baru dan mengantongi uang yang cukup banyak bagi ukuran kami anak desa yang miskin merupakan kebahagiaan tersendiri.

Lebaran adalah hari yang membahagiakan bagi banyak orang. Aku ingat dulu beberapa tetangga datang dari Jakarta dengan pakaian dan barang yang bagus-bagus. Mereka berbicara seperti orang Jakarta. Berbagai perhiasan menempel di tubuh para gadis yang bekerja di ibu kota. Sepanjang hari suasana desa yang sepi menjadi riuh oleh tawa dan percakapan orang. Kami tidak mempersoalkan apakah pada masa puasa mereka ikut menjalankan ibadah puasa atau tidak. Apakah mereka juga menjalankan sholat pada hari jumat atau tidak. Tidak pernah satu orang pun bertanya akan hal itu. Lebaran yang merupakan hari suka cita atas kemenangan mengendalikan hawa nafsu selama masa puasa bergeser menjadi hari bahagia sebab bisa berkumpul keluarga, makan enak dan pakaian baru.

Tapi lebaran kali ini aku bertemu dengan wajah-wajah suram. Beberapa hari sebelum lebaran aku berkumpul dengan beberapa teman yang rumahnya berada di bibir sungai. Ada sekitar 200 kepala keluarga yang tinggal berhimpitan di sepanjang bibir sungai. Mereka adalah kaum miskin dengan aneka profesi. Ada pemulung, PSK kelas teri, pengamen, pengemis, kuli bangunan dan sebagainya. Beberapa hari ini mereka digelisahkan oleh isyu penggusuran. Perkampungan di diseberang sungai sudah dihancurkan setahun lalu. Rencananya pemerintah kota akan segera menggusur perkampungan ini. Isyu yang berkembang diantara mereka bahwa pada saat lebaran dimana semua penghuni kampung pergi semua, maka kampung akan dibakar. Isyu ini sangat menggelisahkan hati, sebab bila kampung mereka digusur maka mereka tidak tahu harus kemana pergi dan mendirikan rumahnya.

Maka kami berkumpul di mushola dan merencanakan bagaimana mempertahankan kampung ini. Mereka sepakat tidak akan mudik tapi secara bergiliran menjaga kampung untuk itu perlu mendirikan posko. Kami juga menyusun beberapa agenda kegiatan sebagai antisipasi penggusuran dan perjuangan mempertahankan kampung. Lebaran dimana merupakan hari membahagiakan menjadi saat yang mendebarkan. Saat yang dapat menentukan akhir dari perkampungan mereka yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun. Mereka cemas sebab bila sampai penggusuran itu terjadi maka mereka tidak tahu harus tinggal dimana lagi. Mereka tidak mungkin kembali ke desa. Mereka meninggalkan desa, sebab di desa mereka tidak mempunyai penghasilan untuk menunjang kehidupan. Di kota ini meski hanya menjadi pemulung atau pengamen mereka memperoleh penghasilan untuk menyambung hidup.

Kaum miskin sering tidak dapat menikmati hari kemenangan ini. Bukan hanya penduduk kampung itu yang hanya mampu melihat gebyar lebaran di televisi. Melihat orang bersuka cita menikmati pakaian baru dan makanan enak serta rumah penuh kue-kue. Masih banyak ribuan bahkan jutaan orang miskin yang merasa bahwa lebaran bukan hari kemenangan dan kesukacitaannya. Lebaran dilalui dengan kecemasan dan ketidakpunyaan banyak hal. Mereka hanya menonton orang bersuka cita. Dalam dunia saat ini agama sering dibungkus oleh kenikmatan dan kemewahan sehingga menjadi jauh dari masyarakat miskin. Lebaran yang menjadi hari kemenangan lebih menonjol pada tawaran kenikmatan daripada hakekat kemenangan itu sendiri. Natal pun sama saja. kehadiran Yesus yang harusnya menjadi suka cita sebab jaman keselamatan bagi orang miskin sudah datang menjadi saat mengumbar kenikmatan. Akibatnya kaum miskin tidak melihat pembebasan dan kemenangan itu. Selamat Lebaran..

simak selanjutnya LEBARAN... LEBARAN disini...

Kamis, 09 September 2010

APA UNTUNGNYA AKU BERTEMU KRISTUS?

Tulisanku yang berjudul “Apa yang kamu cari?” ditanggapi oleh seseorang dengan satu pertanyaan yang membuatku penasaran ingin menjawab. Dia bertanya apa untungnya bila aku sudah bertemu Yesus? Dasar pemikiran dia bahwa pelayanan bukan hak khusus orang Katolik. Semua orang di dunia apapun agamanya harus saling melayani. Bila mereka bukan beragama Katolik apakah harus sampai menemukan Yesus? Kalau pun dia seorang Katolik apa untungnya bila dia akhirnya sampai menemukan Yesus sebagai Mesias? Sayang diskusi kami berhenti sebab ada beberapa orang yang berusaha mengajakku berbicara tentang hal lain. Tapi meski tubuhku rasanya sudah capek pertanyaan ini terus berdengung di telingaku sehingga aku ingin menjawabnya.

Pada jaman ini dimana prinsip ekonomi begitu merasuki diri orang sehingga menjadi dasar pertimbangan pilihan hidupnya, maka dalam memilih suatu tindakan orang akan berpikir apakah tindakan ini menguntungkan atau tidak. Pencarian untung terjadi dalam seluruh aspek kehidupan. Orang berteman dengan sesama bila menguntungkan bagi dirinya, sehingga orang lebih suka berteman dengan orang yang dianggap kaya dan terkenal atau mempunyai kedudukan daripada dengan kaum miskin yang tidak memberikan keuntungan apapun. Pencarian keuntungan juga terjadi dalam kehidupan beriman. Agama yang dianggap tidak menguntungkan akan ditinggalkan orang. Maka banyak agama yang menawarkan keuntungan mulai dari keuntungan finansial yang dapat dinikmati saat ini maupun keuntungan surgawi yang dinikmati nanti setelah mati.

Maka tidak heran bila ada orang bertanya padaku apakah untungnya setelah bertemu dengan Yesus secara pribadi? Rasul Paulus menulis “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal 2:20). Pertemuan dengan Yesus secara pribadi mengubah hidup seseorang. Meski dia masih hidup di dunia tapi bukan lagi dia yang hidup, tapi Kristus yang hidup di dalam dirinya, sehingga segala tingkah laku, sikap dan pikiranku mencerminkan Kristus. Dia berpikir, bersikap dan bertindak tidak lagi sebagai manusia yang melakukan tapi Kristus yang melakukan di dalam diriku. Dia menjadi manusia baru yang dikuasai oleh Kristus.

Tapi hal ini belum menjawab pertanyaan “apakah untungnya bagiku?”. Perubahan yang terjadi padaku akan dinikmati oleh orang lain. Dorothy Law Nolte (1924-2005) menulis puisi dengan judul “Children learn what they live”. Dalam puisi itu Dorothy menuliskan bahwa anak-anak belajar dari hidupnya. “If children live with criticism, they learn to condemn. If children live with hostility, they learn to fight…” Dorothy melihat bahwa baik atau buruknya sikap seorang anak ditentukan oleh lingkungannya. Bila seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang buruk maka dia akan menjadi anak yang berperilaku buruk demikian pula sebaliknya. Anak-anak jalanan berkelakuan buruk sebab dia tumbuh dalam keluarga yang berantakan.

Lingkungan adalah tempat belajar bagi manusia secara nyata. Dalam lingkungan yang baik orang akan belajar tentang kebaikan demikian pula sebaliknya. Orang yang menerima Kristus maka dia akan mematikan dirinya sehingga Kristus bisa hidup dalam dirinya. Menurut Rasul Paulus, orang yang menerima Kristus akan meninggalkan kehidupan daging atau duniawi dan hidup dalam dorongan dan kekuatan Roh. Perkataan, tindakan dan sikapnya merupakan perwujudan buah-buah Roh seperti yang ditulis dalam Galatia 5:22. Buah Roh akan dirasakan oleh orang sekitarnya, sehingga mereka pun akan belajar hidup seperti yang dilihat dan dialaminya. Mereka pun akan secara perlahan mengubah hidupnya menjadi hidup yang baik. Bila semua orang hidup secara baik, maka kita pun akan tenang dan bahagia. Dengan demikian kebaikan yang kita berikan pada setiap orang akan berbalik pada diri kita sendiri. Saat ini kita sering melihat atau mendengar adanya aneka kejahatan. Keluhan dan kutukan tidak akan menyelesaikan kejahatan. Perlu adanya perubahan yang dimulai dari diri kita sendiri. .

simak selanjutnya APA UNTUNGNYA AKU BERTEMU KRISTUS? disini...

Rabu, 08 September 2010

APAKAH YANG KITA CARI?

Beberapa orang sedang asyik menggunjing seseorang yang dianggap menyebalkan. Teman yang sedang jadi obyek pembicaraan memang seorang yang aktif dan sangat semangat. Tapi dia mempunyai titik lemah yang membuat teman-temannya merasa jengkel yaitu dia suka menonjolkan diri. Bila ada aktifitas atau ide yang bagus sering kali dikatakan bahwa itu adalah ide atau karyanya. Dia selalu berusaha menonjolkan dirinya sendiri seolah dialah yang paling hebat. Akibatnya banyak teman yang merasa diremehkan atau jengkel sebab ide atau karyanya diklaim sebagai ide dan karya teman yang sedang digunjingkan. Beberapa teman mengusulkan agar memboikot setiap acara yang diselenggarakan oleh teman ini. Atau tidak membicarakan ide-ide aktifitas padanya agar dia tidak menceritakan pada banyak orang seolah itu idenya.

Orang semacam ini ada banyak dalam masyarakat. Mereka berusaha menonjolkan diri. Merasa seolah dialah yang paling hebat atau merasa bahwa setiap hal baik keluar dari dirinya. Orang semacam ini juga ada dalam komunitas-komunitas pelayanan. Dia terjun dalam pelayanan untuk menonjolkan diri. Sebuah tindakan yang sebetulnya berlawanan sebab pelayanan adalah tindakan pemberian diri kita pada orang lain yang menuntut perendahan diri bukan untuk mencari atau menonjolkan diri. Akibatnya terjadi benturan diantara sesama orang yang melayani atau tambah memiskinkan orang yang dilayani, sebab orang yang dilayani hanya dijadikan obyek untuk kepuasan diri.

Dalam melakukan sesuatu aktifitas sebetulnya kita perlu bertanya apa yang kita cari dari aktifitas itu? Ketika dua orang murid Yohanes Pembaptis mengikuti Yesus, maka Yesus berpaling dan bertanya pada mereka, “Apakah yang kamu cari?” (Yoh 1:38). Pertanyaan ini juga ditujukan kepada siapa saja yang mengikutiNya. Pertanyaan ini juga dapat diajukan dalam setiap aktifitas. Apakah yang kita cari dalam aktifitas kita? Bila kita bekerja maka yang kita cari adalah penghasilan untuk menunjang kehidupan. Bila kita melakukan pelayanan apakah yang kita cari? Hal yang kita cari inilah yang mendasari segala tingkah laku kita. Bila mencari uang, maka segala tindakan diarahkan agar menghasilkan uang. Bila melayani apa yang akan kita kejar?

Kedua murid menjawab "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?" Jawaban ini tidak menjawab pertanyaan Yesus. Mereka tidak mencari apa-apa selain ingin tinggal bersama Yesus. Mereka ingin menemukan siapa Yesus bagi hidupnya. Akhirnya mereka menemukan. "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” (Yoh 1:45). Pencarian Mesias bagi diri sendiri inilah yang kita kejar dalam pelayanan, sehingga seluruh usaha diarahkan untuk sampai pada penemuan siapakah Yesus bagi diri kita. Bukan Yesus yang menurut orang lain atau banyak orang. “Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" (Mat 16:15). Penemuan Yesus bagi diri sendiri membuat kita tidak berusaha mengejar popularitas, kehebatan dan sebagainya. Segala yang kita lakukan hanyalah sebuah jalan untuk semakin dekat dengan Yesus sehingga kita bisa menemukan Yesus bagi diri sendiri.

Pelayanan adalah saat kita tinggal bersama Yesus. Berusaha memahami Yesus yang kadang sangat asing bagi kita. Yesus ada dalam diri saudara kita yang miskin, yang membutuhkan pelayanan. Dia ada dalam suami, istri, anak, orang tua, saudara dan sesama yang membutuhkan. Melayani orang yang rewel dapat membuat kita jengkel. Yesus mengajak kedua murid untuk tinggal bersama agar mengenalNya lebih dalam lagi. Kejengkelan disebabkan kita kurang paham dengan keinginan mereka yang kita layani. Kita merasa bahwa tindakan kita sudah benar, tapi orang lain tidak berkenan. Hal disebabkan kita merasa sudah mengenal dan memahaminya tapi sebetulnya kita belum memahaminya. Lebih jauh lagi pelayanan tidak berhenti sampai pada pengenalan yang kita layani, melainkan sampai pada pengalanan akan Yesus. Pusat pelayanan adalah pencarian Yesus maka kita tidak berusaha untuk mengejar hal lain seperti prestasi, kesuksesan dan lainnya sebab kita mengarahkan diri pada pertemuan dengan Yesus, sehingga akhirnya kita mengatakan “Aku telah menemukan Mesias.”

simak selanjutnya APAKAH YANG KITA CARI? disini...

Minggu, 05 September 2010

BAPTIS INSTANT

Seorang datang dan protes padaku. Dia protes mengenai sulitnya untuk menjadi Katolik. Mengapa untuk menjadi Katolik harus melalui masa katekumen selama setahun? Mengapa tidak bisa diperpendek menjadi 3 atau 6 bulan saja? Menurutnya di gereja yang lain masa katekumen tidak terlalu lama. Beberapa kali pertemuan saja bisa langsung dibaptis. Aku katakan bahwa di Gereja Katolik ada aturan yang sama bahwa masa katekumen selama setahun. Orang ini membantah lagi bahwa di beberapa Gereja Katolik ada yang hanya 3 bulan saja. Dia lalu menyebut nama sebuah paroki dimana pegawai memberi penawaran mau memakai jalur lambat atau jalur cepat.

Aku memang sudah mendengar dari beberapa orang bahwa di sebuah paroki, yang seharusnya menjadi panutan, pegawainy memberi penawaran pada orang yang ingin dibaptis apakah dia mau menempuh jalur lambat artinya masa katekumen selama setahun atau jalur cepat yang artinya masa katekumen hanya 3 bulan saja. Bagiku mengapa gereja tidak berbeda dengan kantor pemerintahan bila orang ingin mengurus KTP atau SIM? Bila ingin mengurus KTP atau SIM atau mungkin juga urusan lain ada petugas yang menawari apakah mau melalui jalur lambat atau cepat. Bila di kantor pemerintahan untuk bisa jalur cepat maka harus memberi uang lebih kepada petugas, aku tidak tahu apakah di paroki itu juga terjadi hal yang sama. Bila sungguh terjadi maka sangat memprihatinkan sebab Gereja sudah kembali ke jaman sebelum Luther dimana terjadi jual beli sakramen. Tapi kali ini jual beli waktu katekumenat.

Salah satu ciri jaman ini adalah menguatnya budaya atau mentalitas instant. Orang ingin melakukan segala sesuatu dengan cepat dan tanpa proses yang panjang. Ternyata hal ini juga sudah masuk dalam soal iman. Orang tidak ingin berproses lama untuk menjadi seorang Katolik. Masa katekumen bukanlah masa pembelajaran tentang iman saja, melainkan juga proses untuk mengubah diri menjadi seorang Katolik. Maka dalam masa ketekumenat seharusnya orang harus mulai berproses untuk hidup secara Katolik. Dia mengikuti doa lingkungan, perayaan sakramen, dan sebagainya. Dia mulai mengenal dan bersekutu dengan sesama orang Katolik. Masa katekumenat adalah masa pengenalan iman dan memproses diri untuk hidup sesuai dengan iman.

Ajaran Yesus berbeda dengan ajaran dunia. Dalam Kotbah di Bukit jelas sekali bahwa ajaran Yesus berbeda dengan ajaran dunia. Yesus membuka ajaranNya dengan bersabda “Kamu telah mendengar yang difirmankan…” lalu disusul dengan “Tetapi Aku berkata kepadamu…” bahkan kadang dipertegas dengan kata “sesungguhnya”. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang ada di dunia berbeda dengan yang dikehendaki Yesus. Maka mengikuti Yesus berarti berani mengubah diri. Perubahan ini tidak mudah, sebab menyangkut perubahan cara pandangan, cara hidup, cara berpikir dan keseluruhan diri kita. “Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.” (Luk 5:37-38). Ajaran Yesus adalah ajaran baru yang tidak dapat disimpan dalam ajaran yang lama, sebab akan saling merusak. Menjadi Katolik harus menjadi manusia baru.

Baptisan Katolik tidaklah sulit. Orang hanya perlu dituangi air di kepalanya oleh petugas Gereja maka dia sudah dibaptis. Tapi apakah setelah dibaptis maka dia akan berubah menjadi orang Katolik atau hanya orang yang dibaptis secara Katolik? Baptis adalah tanda nyata bahwa kita sungguh menjadi anggota Gereja yang sah, sedangkan benih iman sudah sejak awal ketika kita ingin dibaptis. Seperti benih yang tumbuh menjadi pohon demikian pula iman kita bertumbuh secara perlahan. Membutuhkan proses agar mengakar dalam diri, sehingga kita semakin yakin bahwa Yesuslah yang ingin kita ikuti. Kita secara perlahan berproses mengubah sikap, pandang hidup, dan sebagainya sesuai dengan Kristus. Tapi hal ini kurang dipahami. Orang hanya ingin dibaptis, maka setelah baptis tidak ada perubahan dari cara hidup lama menjadi cara hidup baru.

simak selanjutnya BAPTIS INSTANT disini...

Jumat, 03 September 2010

MENTALITAS INLANDER

Suara seorang perempuan memberitahu bahwa semua penumpang diharap mematikan telepon selular dan segala peralatan eletronik, memakai sabuk pengaman, melipat meja, membuka tirai di jendela dan sebagainya. Pemberitahuan standar sebelum pesawat tinggal landas. Dua baris di depanku duduk seorang perempuan berambut pirang dengan dandanan ala kadarnya. Earphone menempel di telinganya. Tangannya sibuk menekan-nekan layar telepon selular. Dia tidak peduli dengan peringatan agar mematikan semua peralatan elektronik. Padahal juga diucapkan dalam bahasa Inggris. Beberapa pramugari yang berlalu lalang memeriksa kesiapan terbang seolah tidak melihat perempuan yang sibuk dengan telepon selularnya. Sampai pesawat mendarat orang itu terus sibuk dengan telepon selularnya. Tidak ada satupun pramugari yang menegurnya. Tapi bila yang melakukan hal yang sama adalah penumpang Indonesia maka pramugari akan segera menegurnya.

Kejadian semacam ini sudah sering aku lihat. Di sebuah supermarket ada tulisan besar agar pengunjung melepas jaketnya. Tapi seorang turis memakai jaket dibiarkan saja berjalan hilir mudik diantara deretan barang. Satpam dan pegawai supermarket hanya melihat saja. Tidak ada satu orang pun yang berusaha menegurnya. Seolah seorang berwajah asing dapat berbuat sesuka hatinya. Melanggar aturan yang sudah tertulis. Di negara kita tidak jarang orang asing menjadi orang yang mendapat prioritas dan perlakuan khusus. Seorang teman mengatakan bahwa itu sebuah kebijakan untuk menarik turis. Mereka adalah tamu yang perlu dihormati.

Bagiku hal ini bukan soal tamu atau turis, tapi lebih pada mentalitas kita. Banyak orang dan mungkin hampir seluruh penduduk negara ini masih bermental seorang inlander, pribumi. Inlander adalah sebutan yang diberikan oleh Belanda pada saat mereka menjajah negara ini untuk membedakan dalam arti merendahkan bangsa Indonesia. Belanda bukan hanya merendahkan dengan sebutan tapi juga berhasil untuk membentuk mentalitas bangsa kita menjadi bangsa rendah atau istilah saat kasarnya menjadi bangsa jongos. Beda dengan Inggris yang menghargai bangsa India meski mereka menjajahnya. Ratu Elisabet sangat menghargai Gandhi, bahkan dia pernah mengatakan bahwa hadiah yang paling berharga yang pernah diterimanya adalah kain tenunan hasil karya Mahatma Gandhi. Ratu juga mengundang Gandhi ke istananya. Sedangkan belum pernah sekalipun Soekarno diundang ratu Belanda untuk duduk di istananya. Perlakuan yang merendahkan selama berabad-abad membentuk mentalitas bangsa kita sampai saat ini. Maka turis yang melanggar pun tidak ditegur.

Mentalitas inlander membuat kita menjadi bangsa yang rendah diri, takut bersaing, kurang percaya diri, dan silau terhadap kesuksesan orang (bangsa) lain. Sikap ini terus terpelihara secara kolektif dan tidak pernah kita sadari pengaruhnya, penyakit ini mendorong pada sikap mental yang destruktif misalnya malas, boros, korup, tidak disiplin. Amin Rais dalam buku Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia, menyoroti bahwa kegagalan bangsa ini disebabkan mentalitas inlander, maka perlu reformasi dan perubahan mulai dari pemimpinnya. Konflik dengan Malaysia merupakan salah satu bukti akan kuatnya mentalitas inlander ini. Sudah berulang kali Malaysia melukai harga diri bangsa kita, tapi tidak ada sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa kita adalah bangsa bermartabat. Sebaliknya di dalam negara sangat penuh dengan korupsi dan tindakan yang tidak menunjukkan harga diri. Para pejabat tanpa malu memboroskan uang rakyat untuk gedung yang megah, mobil dinas, rekreasi ke luar negeri dengan alasan studi banding dan sebagainya.

Kita sudah merdeka 65 tahun tapi belum mampu mengubah mentalitas kita sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Bangsa yang mempunyai harga diri dan sejajar dengan bangsa lain dimanapun di dunia ini. Kita masih menjadi bangsa bermentalitas inlander yang menghargai orang asing secara berlebihan, sebab kita masih merasa bahwa kita adalah jongos penjajah.

simak selanjutnya MENTALITAS INLANDER disini...

Kamis, 02 September 2010

PEREMPUAN

Sejak kecil aku sudah diajari oleh orang tuaku agar menolong kakak perempuan, sebab aku sebagai lelaki dianggap lebih kuat daripada perempuan. Apa yang diajarkan dalam keluargaku ini merupakan pandangan yang sangat umum. Hampir di seluruh dunia orang berpendapat bahwa lelaki jauh lebih kuat dibandingkan dengan perempuan. Perempuan adalah mahluk lemah yang harus ditolong dan dilindungi. Ada gerakan perempuan yang berusaha menolak pendapat ini. Mereka berpendapat bahwa perempuan sama kuat perkasanya seperti pria. Mereka mempunyai hak yang sama dengan pria dan peluang yang sama dalam segala hal.

Maka pada tahun 2000 an di Indonesia booming istilah kesetaraan gender. Secara sederhana gender diartikan cara masyarakat membedakan lelaki dan perempuan dan memberikan pada mereka peran-peran sosial. Lelaki diberi peran oleh masyarakat sebagai kepala keluarga yang mengatur dan menentukan kebijakan-kebijakan dalam keluarga, sedangkan perempuan sebagai hanya mengikuti saja. Lelaki bekerja di luar rumah untuk menghidupi keluarga sedangkan perempuan bekerja di dalam rumah dan sebagainya. Peran ini dapat berubah sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Gerakan yang lebih hebat dari perempuan adalah feminisme yaitu gerakan yang berusaha membebaskan kaum perempuan dari aneka ketertindasan dan perlakuan yang tidak adil dari pihak lelaki. Perempuan sering kali dijadikan obyek dan martabatnya sebagai manusia kurang dihargai. Feminisme berusaha mengadakan perubahan bukan hanya karena peran yang harus dijalani oleh perempuan oleh tata aturan yang dibuat masyarakat tapi juga karena kesadaran akan adanya ketidakadilan.

Dalam kehidupan agama pun perempuan sering diperlakukan tidak adil. Ketika ada perempuan yang tertangkap berbuat zinah, maka yang dibawa kehadapan Yesus hanya orang perempuannya saja agar Yesus menentukan nasibnya apakah dilempari batu sampai mati atau tidak. Lelaki pasangannya tidak diceritakan. Rasul Paulus pun kurang menghargai perempuan, sehingga perempuan tidak bolah berbicara di rumah ibadat. “Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.” (1Kor 14:34). Maka kaum feminisme juga berusaha membongkar tata aturan agama bahkan Kitab Suci.

Sebetulnya dalam Injil peran perempuan cukup dihormati. Yesus “terpaksa” membuat mujijat di Kanaan sebab permintaan perempuan. Yesus memuji iman perempuan Kanaan yang sangat teguh, tak tergoyahkan oleh penolakan Yesus sendiri, untuk memohon bantuan bagi anaknya yang sakit (Mat 15:22-28). Perempuan pun yang menjadi misionaris pertama. Perempuan Samaria membawa pada Yesus orang-orang kotanya, orang-orang Samaria agar mereka bertemu langsung dengan Yesus (Yoh 4:2-43). Perempuan juga yang mendapat penampakan pertama kali ketika Yesus bangkit dan dia diutus untuk menjadi pewarta kepada para rasul (Mat 28:1-10). Perempuan-perempuan kaya melayani rombongan Yesus dengan hartanya (Luk 8:1-3). Perempuan juga yang setia sampai di bawah kaki salib Yesus. Dengan demikian perempuan sangat berjasa dalam perjalanan warta keselamatan yang dibawa oleh Yesus.

Perempuan sangat berjasa dalam kehidupan di dunia dan iman. Tapi karena kehidupan dunia dikuasai oleh lelaki, maka peran perempuan sering diabaikan. Masih banyak perempuan yang dijadikan obyek dan komoditi. Mereka dimarginalkan dan dianggap tidak berdaya. Feminisme dan kesetaraan gender berusaha membongkar dominasi lelaki. Tapi bila suatu saat gerakan ini berhasil maka akan terjadi kebalikannya lagi. Akan muncul maskulinisme. Tesis-antitesis-tesis yang baru. Terus berulang. Isme-isme itu tidak akan muncul bila dibangun kesetaraan dan penghargaan martabat. Dari sini akan muncul keadilan, sehingga tidak ada lagi orang yang dimarginalkan atau dikondisikan lemah atau kuat. Semua bermartabat sama sebagai citra Allah.

simak selanjutnya PEREMPUAN disini...