Sabtu, 18 September 2010

KOPI DARI MUK KAKEK

Dulu nenek dan kakek tinggal serumah dengan keluargaku. Setiap pagi ibu selalu menghidangkan segelas kopi untuk kakek. Gelas kopi kakek sangat spesial. Sebuah gelas besar terbuat dari seng dengan gambar bunga-bunga merah yang besar-besar. Kami biasanya menyebut muk. Aku tidak tahu sudah berapa tahun umur gelas itu, sebab kakek membawa gelas itu dari rumahnya di Semarang. Di bibir gelas itu tampak bentuk hitam-hitam yang tidak berarturan karena catnya mengelupas akibat jatuh atau berbenturan ketika dicuci. Beberapa cekungan akibat benturan juga ada di bagian bawahnya. Ibu sudah berulang kali meyarankan agar muk itu dibuang saja dan diganti yang baru. Tapi kakek bersikukuh tidak ingin membuangnya.

Entah berapa kali aku mencuri minum kopi kakek dari muk itu. Ibu selalu ngomel atau minimal melototkan matanya bila mengetahui aku sedang menikmati kopi kakek. Tapi kakek dan nenek hanya tertawa dan menegur ibu bila mengomel panjang lebar akan hal itu. Minum kopi dari muk kakek memang enak. Padahal aku bisa membuat kopi sendiri atau minum dari gelas milik bapak. Tapi entah mengapa aku suka sekali menikmati sedikit kopi dari muk kesayangannya meski harus tanpa sepengetahuan ibu.

Kopi dalam muk kakek adalah kopi yang sama dengan di gelas lain. Muk kakek sangat jelek. Ibu sering mengatakan bahwa muk itu seperti kaleng yang dibawa pengemis untuk minta-minta. Tapi bagiku ada kenikmatan yang tidak aku temukan bila minum kopi di gelas lain atau aku membuat sendiri. Jika demikian yang membuat nikmat bukan jenis kopi atau muk tempat kopi itu, melainkan ada sesuatu yang lain yang tidak dapat diuraikan oleh akal budi. Orang tuaku menyatakan itu sebagai bentuk kenakalan atau ketidaksopanan, sebab kadang aku sudah meminum sebelum kakek meminumnya.

Apa yang dikatakan orang tuaku benar. Tapi bagiku menikmati minum dari muk kakek bukan soal kenakalan atau kekurangajaran seorang cucu. Bila argumen itu yang digunakan maka kakek dan nenek juga akan marah. Tapi mereka hanya tertawa bahagia bila memergokiku sedang menikmati kopinya. Atau kadang kakek hanya batuk-batuk kecil untuk menunjukkan kehadirannya bila aku merasa dia tidak ada. Bila demikian ada suatu lain yang perlu dijelaskan. Sesuatu yang menyangkut rasa yang tidak dapat diuraikan. Suatu rasa kedekatan antara aku dan kakek. Kenikmatan itu muncul dari adanya relasi yang mendalam antara aku dan kakek.

Ketika minum kopi dari muk kakek, aku melepaskan apa yang tampak, yaitu muk yang jelek, kopi dan tata aturan sopan santun, tapi masuk pada apa yang tidak nampak yaitu hubungan batin antara cucu dan kakeknya. Kenikmatan itu muncul dari relasi yang mendalam. Bukan dari materialnya. Indra kita terbatas pada apa yang dapat diindrai yaitu materi atau non materi seperti bau, rasa dan sebagainya. Tapi dibalik semua itu ada sesuatu yang lain yang tidak dapat diindrai. Banyak bunga yang indah di pasar bunga. Tapi bunga yang diberikan oleh seorang yang kita cintai akan tampak lebih indah. Ini disebabkan adanya rasa relasi cinta yang mengkaitkan antara dua orang yang saling mencintai. Tidak dapat dijabarkan secara nalar hanya dapat dirasakan.

Dalam kehidupan beragama, sakramen adalah tanda. Hosti dalam misa adalah tanda. Bila hanya menggunakan indra maka hosti adalah sebuah roti kecil berwarna putih dan rasanya tawar. Tapi kita mengimaninya sebagai Tubuh Kristus. Orang dapat bertanya dimana tubuhnya? Atau inikah Kristus? Bila hanya mengindrai dan menggunakan nalar atau dalil-dalil ilmu pengetahuan atau aturan yang ada maka semua tidak akan ketemu. Penemuan hosti sebagai Tubuh Kristus bila ada cinta yang mendalam antara aku dan Yesus. Aku tidak lagi melihat hosti sebagai roti tapi sebagai TubuhNya. Hal ini tidak dapat dijelaskan tapi dirasakan. Filsafat berusaha memecahkan dengan mengatakan transubstansia (perubahan substansi atau hakekatnya), tapi itu pun tidak dapat diindrai. Menikmati kopi dari muk kakek pun tidak dapat dinalar. Hanya aku yang dapat merasakan dan kakek yang mengetahui perasaan itu. Inilah sakramen.

0 komentar:

Posting Komentar