Jumat, 24 September 2010

KASIH DAN CEMBURU

Seorang tanya padaku apakah boleh orang Katolik menyantet (mengguna-guna atau meneluh) orang? Sambil tertawa aku tanya mengapa kok ada pikiran untuk melakukan hal itu? Dengan nada marah dia mengatakan ingin sekali menyantet orang. Dia lalu menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Dia merasa bahwa selama ini telah diperlakukan secara tidak adil oleh pimpinannya. Setiap hari selalu saja ada yang dianggap salah dan dapat dijadikan bahan untuk memarahinya dengan kata-kata yang sangat kasar dan kadang kala kemarahan itu diungkapkan dimuka umum. Dia sudah berusaha hati-hati dalam setiap tindakan tapi kesalahan kecil saja dapat membuat bos marah. Tidak jarang ketika marah dia menghina imannya. Dia sudah berdoa agar Allah menyadarkan bosnya tapi doanya tidak dikabulkan. Sebaliknya hidup bosnya semakin hari semakin kaya seolah dilindungi Allah. Melihat hal itu maka dia ingin sekali menyantet bosnya biar tahu rasa.

Hidup kadang dapat dianggap tidak adil. Orang yang kejam dan dapat dikatakan tidak beriman dapat hidup penuh kelimpahan, sebaliknya orang yang berusaha hidup baik ternyata terus menerus dirundung malapetaka. Situasi ini dapat membuat orang yang sedang menderita mempertanyakan keadilan Allah. Mengapa Allah melindungi orang yang jahat dan menghukum orang yang berusaha hidup baik? Padahal Allah berulang kali dikatakan bahwa Dia akan melindungi orang yang miskin dan menderita. Yesus datang ke dunia untuk membebaskan orang yang menderita dan tertindas. Dimana pembebasan yang dilakukan Yesus? Mana hukuman Allah bagi orang yang berdosa?

“Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.” (Mzm 73:3). Penulis Mazmur cemburu melihat orang fasik dapat hidup dengan penuh kemewahan, sehingga dia frustasi “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.” (13-14). Banyak orang mengalami seperti yang dialami oleh pemazmur, sehingga dia ingin mengambil jalan pintas untuk menghukum orang yang dianggapnya jahat itu. Dia tidak berharap pertolongan dari Allah lagi dan ingin menjadi Allah bagi sesamanya.

Keadilan Allah memang tidak dapat dipahami oleh manusia. Allah adalah Allah yang berkuasa. Dia dapat memberikan apa saja dan kepada siapa saja sesuai dengan kehendakNya. Dalam perumpamaan tentang orang yang bekerja di kebun anggur, orang yang bekerja sejak pagi dibayar sama dengan orang yang bekerja di sore hari. Memang semua itu sudah ada perjanjian yang disepakati bersama. Tapi bila kita yang menjadi pekerja itu mungkin kita juga akan mempertanyakan hal yang sama. Tapi tuan itu menjawab, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat 20:15)

Kita sering merasa iri hati melihat kemujuran orang, sebab kita pun ingin semujur orang itu tapi tidak bisa. Oleh karena tidak mampu maka kita pun protes pada Allah. Di sisi lain memang kita harus menyadari bahwa Allah adalah pribadi yang berkuasa. Dialah yang memiliki seluruh semesta bahkan manusia. Sebetulnya disinilah letak kehebatan Allah. Dia memiliki kasih yang sangat besar, sehingga Dia memberikan kasih kepada siapa saja secara adil “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat 5:45). Sedangkan kasih kita adalah kasih yang terbatas. Kasih yang ditujukan pada orang yang mengasihi kita. Andai orang itu memiliki kasih yang besar tentu dia akan dapat menerima bosnya dengan penuh kasih. Andai dia mengasihi Allah maka dia akan memberikan kebebasan pada Allah. Tidak memberiNya pagar agar Allah mengikuti keinginannya. Rasa cemburu dan iri hati disebabkan kurangnya kasih dalam hati. Kasih yang membebaskan orang yang dikasihi, sehingga tidak terlintas dalam benaknya untuk menyantet musuhnya yang telah bertindak tidak adil padanya.

0 komentar:

Posting Komentar