Selasa, 21 September 2010

AGAMA SEBAGAI ORGANISASI

Seorang sahabat mengirim email berisi berita tentang masuknya Rianti Cartwright menjadi Katolik. Hal ini dilakukan sebab beberapa waktu lalu aku menulis tentang Jessica yang masuk Islam. Tulisanku itu mendapat tanggapan aneka macam dan beberapa menyoroti soal kepindahan agama. Padahal bagiku masalahnya bukan soal masuk Islam atau masuk Katolik, melainkan soal media yang kurang bijak dalam menayangkan berita. Pada masa yang kurang kondusif seperti saat ini sebaiknya berita semacam itu tidak perlu diungkapkan. Selain itu mengapa orang pindah agama saja perlu diberitakan? Agama adalah pilihan pribadi dan merupakan sesuatu yang sangat pribadi sebab mengkaitkan antara manusia dengan Allah jadi tidak perlu dipersoalkan.

Soren Kierkegaard (5 Mei 1813 – 11 November 1855) seorang filsuf Denmark yang hidup dalam lingkungan Kristen sehingga dia merasa semua orang adalah Kristen kecuali orang Yahudi. Kierkegaard mengkritik bahwa orang Kristen telah kehilangan kekristenannya sebab hidupnya sudah berbeda dengan apa yang diajarkan Injil. Mereka mengaku Kristen tetapi dalam hidupnya tidak pernah berpikir tentang Tuhan. Mereka tidak mau memikul salib dan mengatakan bahwa penderitaan adalah kejahatan. Mereka kehilangan perasaannya untuk berkorban dan melayani. Bahkan mereka telah hidup dalam kenikmatan dunia dan kekayaan padahal Yesus menyatakan bahwa kita harus melepaskan kekayaan.

Bagi Kierkegaard agama bukanlah suatu ajaran untuk dipelajari tapi lebih merupakan kehidupan untuk diikuti. Dihayati secara pribadi dan dijadikan miliknya sendiri. Orang harus terlibat mendalam dan pribadi dalam agama sehinga apa yang ditulis dalam Kitab Suci sesungguhnya tetang kita dan untuk kita saat ini dan disini. Allah berbicara pada kita dan tentang kita. Maka Kitab Suci tidak dapat dibaca sebagai kisah, sebab bila demikian maka kita hanya akan menjadi penonton dari segala kejadian yang terjadi pada umat Israel seperti kita membaca buku sejarah.

Membaca tulisan Kierkegaard memang ada yang kurang saya setujui, sebab dia pada akhirnya terlalu menekankan hubungan manusia dengan Allah sehingga mengabaikan hubungan dengan manusia. Dia mengatakan bahwa kesempurnaan manusia ialah bila dia mempunyai relasi personal dengan Allah maka dia bisa mengabaikan relasi dengan sesama. Menurut pendapat saya relasi pada Allah tidak boleh memisahkan diri kita dari relasi dengan sesama. Tapi bagaimana pun juga Kierkegaard menunjukkan bagaimana kita harus beriman. Iman adalah relasi pribadi manusia dengan Allah. Agama adalah jalan agar manusia bisa membangun relasi pribadi dengan Allah.

Saat ini agama lebih ditonjolkan sebagai organisasi, sehingga ada sebutan agama mayoritas dan minoritas. Tergantung berapa banyak jumlah pengikutnya. Mayoritas berarti agama besar, maka perlu diperhitungkan, mendapat fasilitas yang lebih, yang lebih parah adalah timbulnya arogansi mayoritas yang dapat memunculkan perilaku yang sewenang-wenang. Di Bali pada hari Nyepi semua orang tidak peduli agamanya apa harus berada dalam rumah. Di Aceh diterapkan hukum Islam sehingga ada polisi moral yang dapat menangkap orang yang dianggap melanggar hukum Islam. Di Samosir gereja ada dimana-mana sedangkan mushola sangat jarang sekali.

Akibat agama lebih sebagai organisasi maka jumlah pengikut menjadi sangat penting. Salah satu syarat sebuah organisasi yang besar ditentukan oleh jumlah anggotanya. Maka terjadilah perebutan anggota. Orang bangga bila ada anggota agama lain beralih menjadi pengikut agamanya. Tidak peduli apakah dia nanti akan jadi lebih baik atau tidak. Apalagi bila anggota baru itu adalah orang terkenal, maka menjadi kebanggaan sebab diharapkan dia akan menarik banyak anggota baru. Sama dengan partai politik yang merekrut artis dan orang terkenal untuk menarik orang agar mau menjadi anggotanya. Jika demikian maka agama kehilangan jati dirinya. Benar kata Kierkegaard bahwa agama sudah menjadi membosankan dan memuakkan.

0 komentar:

Posting Komentar