Minggu, 26 September 2010

ANAK SEMIR SEPATU

Waktu masih SD kelas IV suatu sore aku dan dua adik diajak bapak ke pasar Blauran untuk membeli sepatu, sebab sepatuku sudah robek besar dan tidak mungkin dijahit lagi. Dari rumah ke pasar Blauran cukup jauh, tapi untuk menghemat pengeluaran maka kami jalan kaki sekitar 3 atau 4 km. Bagiku jalan sejauh itu tidak masalah sebab hatiku senang dapat sepatu baru. Sebuah sepatu merk Bata yang terbuat dari karet semuanya. Dari toko sepatu itu sudah kupakai, akibatnya kaki jadi lecet. Mungkin bapak melihatku jalan agak pincang, maka dia mengajak berhenti untuk beli es di warung tepi jalan. Ketika kami sedang menikmati es campur, yang merupakan sebuah kemewahan bagi kami, datang dua anak kecil membawa kotak semir sepatu. Mereka dengan wajah memelas menawarkan jasanya. Bapak menolak, sebab semua memakai sandal jepit dan sepatuku tidak mungkin di semir.

Sambil berjalan bapak bertanya bagaimana bila aku menjadi anak semir sepatu? Aku bingung menjawab bagaimana. Bapak menjelaskan tentang penderitaan anak semir sepatu dan mengajakku untuk senantiasa bersyukur meski hidup dalam kemiskinan. Intinya aku tidak boleh mengeluh atau malu bila sekolah memakai sepatu yang sudah robek. Jarang mempunyai uang saku. Atau harus memakai buku tulis yang dibuat sendiri dari gabungan kertas-kertas yang masih kosong dari buku-buku tulis yang sudah dipakai atau dari kertas-kertas yang didapat bapak dari kantor. Bagaimanapun aku masih dapat sekolah dan tidak menjadi tukang semir.

Pengalaman pertemuan dengan anak tukang semir sering diulang dalam cerita atau nasehat bila aku mulai mengeluh akan situasi hidup yang serba kurang. Lambat laun pengalaman itu membuatku untuk berusaha terus bertahan bila mengalami kekurangan atau menghadapi situasi hidup yang sulit. Seperti ada kekuatan dalam diri untuk terus berjuang. Tidak mudah mengeluh. Di lain pihak pengalaman itu juga membuatku untuk peduli pada orang miskin. Kepedulian ini lebih pada cerminan akan hidupku yang harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu meski untuk hal yang kecil. Terlebih pengalaman itu membuatku bersyukur. Meski miskin tapi tidak menjadi anak semir sepatu.

Dalam masyarakat saat ini jurang antara kaya dan miskin semakin lebar. Di satu sisi banyak orang kaya, sehingga tumbuh mall-mall besar. Konon Jakarta adalah kota yang paling banyak mempunyai mall di dunia. Hukum ekonomi yang paling dasar adalah dimana ada permintaan maka akan ada penambahan jumlah barang. Bertumbuhnya mall menunjukkan adanya banyak permintaan atau semakin menguatnya kebutuhan orang berbelanja di mall. Jika dilihat dari sini maka masyarakat sudah banyak yang menjadi kaya. Tapi disisi lain kemiskinan semakin meningkat, meski pemerintah selalu menyatakan bahwa ada penurunan angka kemiskinan. Hal ini disebabkan definisi dan patokan kemiskinan yang dibuat pemerintah sangat memprihatinkan.

Diantara dua kaya miskin ini kurang ada jembatan yang mampu menghubungkan keduanya. Banyak orang kaya yang terus berusaha memperkaya diri meski harus melalui cara-cara yang merugikan orang banyak. Pencurian merajalela dalam jumlah ratusan juta bahkan sudah mencapai milyardan rupiah. Para pencuri itu pada umumnya sudah termasuk orang kaya. Mereka mencuri bukan untuk mempertahankan hidup agar tidak mati tapi untuk menambah kekayaan mereka, sehingga dapat memboroskannya dalam aneka kenikmatan. Hal ini dapat terjadi sebab mereka tidak peduli pada sesamanya. Mereka tidak berpikir bahwa perbuatan mereka memiskinkan sesama.

Pencurian uang rakyat juga disebabkan orang hidup dalam keserakahan. Dia tidak mampu bersyukur atas apa yang menjadi miliknya. Mungkin mereka tidak punya pengalaman bertemu dengan anak semir sepatu atau kalau toh bertemu mereka tidak berusaha belajar dari anak semir sepatu. Mereka dapat makan yang cukup sedangkan dihadapan mereka ada jutaan orang yang tidak mampu makan. Aku bersyukur bertemu dengan anak semir sepatu dan selalu diingatkan akan pertemuan itu.

0 komentar:

Posting Komentar