Senin, 13 September 2010

HP DALAM MISA

Sepasang suami istri setelah misa datang padaku. Wajah suaminya menunjukkan rasa ketidaknyaman hatinya. Tanpa basa basi dia lalu mengungkapkan kejengkelannya pada beberapa umat yang asyik mengoperasikan HP waktu misa berlangsung. Mereka mungkin sedang berkirim atau menerima SMS. Dia mengusulkan agar aku memasang pengacak signal HP di daerah sekitar gereja, sehingga tidak ada lagi umat yang sibuk dengan HPnya ketika sedang mengikuti misa. Itu sangat menganggu umat lain yang ingin sungguh berdoa. Beberapa gereja sudah memasang alat itu. Dia pun menyatakan akan membelikan kalau memang gereja tidak mempunyai dana untuk membeli alat itu. Aku pun mengatakan bahwa hal itu akan kami pertimbangkan.

Saat ini memang HP sudah menjadi bagian integral hidup manusia. Bagian yang tidak dapat dipisahkan atau sudah menyatu dengan manusia. Kemanapun dan dimana pun orang berada dia tidak dapat melepaskan HPnya. Apalagi sekarang HP bukan hanya menjadi alat komunikasi tapi juga alat hiburan sebab ada HP yang sekaligus TV, radio, musik dan game. Ada yang juga berfungsi sebagai kamera dan alat perekam. Bahkan ada juga yang diisi program Kitab Suci dan dapat dibuat untuk menyimpan catatan. Dengan demikian HP merupakan alat multi fungsi yang ringan, kecil, dan mudah pengoperasiannya sehingga dapat menunjang aktifitas seseorang.

Apakah bila mengikuti perayaan ekaristi orang membutuhkan HP? Misa adalah saat kita secara khusus berkumpul bersama semua jemaat untuk memuji dan memuliakan Tuhan serta mengenang karya penyelamatan yang telah dilakukan. Kita berkumpul untuk bersatu membangun tubuh Kristus, dimana kita adalah anggota dan Yesus sebagai kepalanya. Kesatuan tubuh itu demikian erat. Memang HP bisa menjadi penghalang kesatuan itu, sebab kita akan komunikasi dengan orang yang jauh. Bukan orang yang ada di dekat kita atau dengan Tuhan melalui doa-doa kita.

Mengikuti misa minggu bagai pulang ke rumah Allah. Setelah seminggu kita disibukkan aneka aktifitas dan tidak menutup kemungkinan jatuh dalam dosa, maka hari minggu adalah saat kita kembali menemui Allah. Memperbaiki relasi kita dengan Allah yang telah rusak oleh dosa. Memang kita dapat memperbaiki relasi pribadi dengan Tuhan dalam doa-doa pribadi. Tapi dosa yang kita lakukan tidak hanya merusak relasi dengan Allah tapi juga merusak relasi dengan sesama anggota Gereja. Bila aku mencuri, maka aku tidak hanya merusak hubungan dengan Allah tapi juga dengan keluargaku, sebab mereka akan malu. Mereka juga menanggung beban dosaku. Setiap dosa yang kita lakukan juga melukai Gereja. Maka saat misa kita berusaha memperbaikinya.

Kesadaran akan pentingnya memulihkan relasi dengan Allah dan sesama, seharusnya membuat kita berani meninggalkan apa saja yang dapat menghalangi terbangunnya relasi itu. Kita menggunakan HP pasti untuk membangun relasi dengan orang yang jauh atau orang yang tidak ada di sekitar kita. Padahal yang perlu dilakukan adalah menjalin kembali relasi dengan saudara yang ada di dekat kita dan Allah. Maka sebetulnya HP tidak diperlukan pada saat misa, sebab akan menjadi pembatas antara kita dengan saudara yang ada di dekat kita.

Tapi bagiku semua itu harus muncul dari kesadaran pribadi. Sebetulnya orang harus tahu bahwa dia datang ke gereja mengikuti misa untuk berdoa dan bersekutu. Jadi dia tidak membutuhkan HP. Memang orang dapat berpendapat bahwa mungkin orang itu belum dewasa imannya, maka perlu dilarang. Tapi larangan dapat membuat orang tidak dewasa. Orang menjadi budak yang melakukan segalanya dengan takut dan perintah bukan menjadi orang merdeka yang menjalankan segala sesuatu atas kesadaran diri dan pertimbangan yang matang. Yesus sendiri tidak membuat banyak larangan. Hal yang perlu dilakukan adalah penyadaran mengenai tujuan mengikuti misa. Bila orang sadar bahwa tujuanya adalah untuk menjalin relasi kembali dengan Allah dan sesama, maka dia tidak akan sibuk dengan HP saat misa. Ini membutuhkan waktu dan proses.

0 komentar:

Posting Komentar