Minggu, 17 April 2011

KEMISKINAN YANG TOTAL

Siang ini mendung tipis. Sinar matahari tidak menyengat seperti biasanya. Kami dapat duduk dengan nyaman di atas alas apa adanya tanpa merasa panasnya sinar matahari. Sekitar 100 lebih PSK berkumpul untuk membentuk organisasi. Sebuah wadah untuk memperjuangkan nasib mereka bila berhadapan dengan aparat pemerintah baik dari kepolisian maupun dinas sosial. Tidak jarang mereka ditangkap lalu dibawa ke rumah pembinaan milik dinas sosial yang dikenal sebagai liposos (lingkungan pondok sosial). Dari sana ada yang dipulangkan ke desanya. Ada pula yang dibawa ke Kediri untuk diberi pendidikan ketrampilan selama beberapa bulan. Maksud pemerintah adalah untuk mengurangi jumlah PSK bahkan menghilangkan PSK. Tapi usaha itu tampak tidak membuahkan hasil, sebab para PSK pada umumnya kembali lagi ke jalanan.

Aku terheran-heran ketika melihat data para PSK. Rata-rata umur mereka di atas 40 tahun. Umur yang paling muda 28 tahun sedangkan yang paling tua 69 tahun. Tidak sedikit yang sudah berumur di atas 50 tahun. Bagaimana mereka masih bekerja seperti ini pada usia yang sudah sangat tua? Bila melihat usia mereka maka dapat kupahami bahwa mereka tidak mempunyai alternatif lain untuk mendapatkan uang agar dapat menyambung hidupnya. Seandainya mereka dapat memperoleh uang dari pekerjaan lain mungkin mereka akan meninggalkan pekerjaan yang dianggap sangat hina oleh masyarakat. Pekerjaan yang membuat hati mereka selalu was-was bila sedang bekerja sebab harus waspada agar tidak ditangkap oleh aparat keamanan atau satpol PP. Hasil yang mereka peroleh pun tidak sebanding dengan perendahan martabat mereka.

Sebetulnya mereka malu dengan status pekerjaan ini, maka mereka selalu berusaha menyamarkan wajahnya. Bila bekerja mereka memilih tempat yang agak gelap agar tidak dikenali orang. Menutup wajah mereka dengan make up tebal untuk menutup dirinya selain untuk menambah kecantikannya. Mereka pun enggan difoto atau diajak berbicara soal pekerjaannya. Bekerja bukanlah hanya sebuah kegiatan untuk mengisi waktu luang melainkan mempunyai beberapa makna dan tujuan. Pada umumnya orang bekerja untuk mendapatkan hasil yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tapi dalam bekerja orang juga mengaktualisasikan dirinya, sehingga orang bangga pada hasil kerja. Seorang seniman akan menuangkan seluruh perasaan, keahliannnya atau seluruh dirinya dalam pekerjaannya.

Bekerja juga terkait dengan martabat manusia. Memang pada jaman dahulu pekerjaan dianggap sebagai tugas atau bagian dari orang rendahan. Dalam kisah pewayangan, para satria tidak pernah diceritakan bekerja. Mereka hanya berperang atau mencari kesaktian, sedangkan yang bekerja adalah para rakyat jelata atau hamba. Tapi pada jaman ini orang dihargai sesuai dengan pekerjaan yang dilakukannya. Maka orang bekerja bukan hanya sekedar mendapatkan uang atau hasil bagi hidupnya tapi juga mencari pengakuan akan martabatnya. Banyak kaum muda dari desa lebih memilih bekerja sebagai buruh daripada menjadi petani, sebab pekerjaan sebagai petani dianggap lebih rendah daripada sebagai buruh, meski mungkin penghasilan buruh lebih rendah daripada penghasilan seorang petani. Pekerjaan juga dapat dimaknai dalam bidang iman, dimana bekerja merupakan salah satu pelaksanaan perintah Tuhan sendiri untuk menjaga dan mengembangkan ciptaan Tuhan.

Semua arti dan tujuan kerja itu tidak ditemui dalam pekerjaan yang digeluti oleh teman-teman yang saat ini sedang berkumpul. Mereka bekerja hanya melulu mencari uang. Demi mempertahankan hidupnya dan hidup anak-anaknya. Inilah cermin kemiskinan yang total. Mereka miskin materi dan keseluruhan diri. Mereka tidak memiliki hasil kerja yang dapat dibanggakan atau kehormatan dari status pekerjaannya. Hal ini diperparah dengan sikap yang harus mereka terima dari masyarakat. Mereka dihina dan dilecehkan bahkan oleh orang yang menggunakan jasanya. Tidak jarang mereka menjadi obyek perahan dari orang-orang yang lebih kuat. Mereka pun dianggap najis oleh orang beragama. Maka tidak heran bila Yesus mau berteman dengan mereka.

simak selanjutnya KEMISKINAN YANG TOTAL disini...

Sabtu, 16 April 2011

DITINGGALKAN

Seorang bapak bercerita dengan nada tinggi. Dia sangat marah pada anaknya yang telah memasukkan keluarga dalam kesulitan besar. Anaknya mempunyai hutang yang sangat besar dan tidak mampu membayarnya. Akibatnya para penagih hutang sering datang ke rumah dan memaksanya untuk melunasi hutang anaknya. Dia malu pada tetangga yang mendengar atau melihat bagaimana para penagih hutang itu datang dan pergi dengan kemarahan dan ancaman. Belum lagi ancaman penyitaan harta benda. Kalau toh semua hartanya dirampas pun belum cukup untuk melunasi hutang itu. Lalu bagaimana dengan nasib keluarganya? Dia masih mempunyai dua anak yang sedang kuliah dan membutuhkan dana yang cukup besar. Maka bapak ini ingin mengusir anaknya pergi dari rumah sebab membahayakan nasib keluarga.

Aku kenal dengan anak yang diceritakan itu. Dia anak yang baik. Semula dia punya usaha yang berkembang bagus. Bapak ini dulu sering menceritakan usaha anaknya dengan bangga. Tapi karena dia ingin mempunyai keuntungan yang sangat besar maka dia mengambil resiko. Ternyata gagal. Usahanya bangkrut dengan menyisakan hutang yang sangat besar. Dia sudah berupaya untuk melunasi hutangnya tapi karena sangat besar maka segala usahanya gagal bahkan semakin memperparah situasi hidupnya. Dia kini bukan lagi kebanggaan keluarga melainkan menjadi ancaman.

Dunia sering tidak adil. Banyak orang enggan menerima kekalahan atau kegagalan dari sesamanya. Saat orang berhasil maka dia akan dipuja dimana-mana dan diceritakan dengan rasa bangga, sebaliknya saat dia jatuh maka orang akan menyalahkannya. Semua kebanggaan yang pernah dimilikinya menjadi sirna. Padahal ketika orang jatuh dia lebih membutuhkan sesama untuk meneguhkannya tapi pada saat itulah orang merasa sendirian. Kehadiran sesama pada saat orang jatuh sangat penting artinya, meski dia mungkin tidak mampu menyelesaikan masalah itu. Tapi kehadiran dapat menjadi kekuatan untuk mampu bertahan dan terus berjalan menghadapi masalah.

Apa yang dialami oleh anak dari bapak itu hampir sama dengan apa yang dialami oleh Yesus ketika Dia menjalani kisah sengsara. Ketika Dia masuk Yerusalem banyak orang memuji dan memuliakan Dia. Semua orang bersorak sorai menyambutNya sebagai raja yang dinantikan. Tapi ketika Dia ditangkap maka semua orang meninggalkanNya. Bahkan mungkin ikut berteriak untuk menyalibkanNya. Petrus yang berjanji akan mati bersamaNya pun lebih memilih mengkhianatiNya. Murid yang lain pun lari tunggang langgang bahkan sampai ada yang telanjang. Mereka semua tidak ingin terlibat masalah yang dihadapi oleh Gurunya, padahal dulu mereka sangat bangga pada Gurunya dan berebut untuk dapat duduk disebelah kiri dan kananNya. Pertolongan Yesus datang dari orang-orang yang tidak diduga. Dari Simon orang Kirene yang dipaksa memanggul salib. Dari perempuan-perempuan Yerusalem meski mereka tidak berdaya tapi terus mengikuti Yesus sambil menangisi. Dari Veronika yang mengusap peluh dan darah Yesus. Kisah tentang orang yang ditinggalkan pada saat dia jatuh dan menderita terus terulang sampai saat ini.

Kesetiaan sangat mahal harganya. Setia pada orang yang sedang jatuh dan terpuruk semakin sulit didapatkan pada jaman yang semakin egois. Di saat orang sedang membutuhkan teman pada saat itulah dia tidak menemukan teman. Bahkan mungkin dia akan menemukan semakin banyak orang yang menghujat dan menyalahkannya. Krisis kesetiaan melanda banyak orang. Kesetiaan terkait erat dengan kasih. Bila kasih hanya mencari kebahagiaan diri sendiri, maka kesetiaan akan luntur. Tapi bila kasih adalah sebuah usaha untuk membahagiakan orang lain maka kesetiaan akan tetap ada. Yesus datang ke dunia sebab banyak orang tenggelam dalam penderitaan dan dosa. Dia datang untuk menjadi sahabat bagi orang yang menderita dan kesepian. Orang yang dimarginalkan oleh sesamanya. Kita yang mengaku diri sebagai murid Kristus dituntut yang sama. Bila Yesus sudah datang ke dunia dan menjadi sahabat kita yang termarginalkan, mengapa kita meninggalkan teman kita yang menderita?

simak selanjutnya DITINGGALKAN disini...

Jumat, 08 April 2011

BELAJAR DARI HEWAN: LOVEBIRD YANG SALING MENGASIHI


Lovebird adalah burung yang berasal dari Afrika dan Madagaskar. Dia termasuk dalam genus agapornis (agape berarti cinta dan ornis berarti burung). Ada 9 jenis Lovebird satu jenis dari Madagaskar yaitu Madagascar Lovebird (Agapornis Cana) dan 8 jenis dari Afrika yaitu Red Face Lovebird (Agapornis Pullaria), Abyssinia Lovebird (Agapornis Taranta), Swidern’s Lovebird (Agapornis Swinderniana) ini termasuk yang langka, Peach Face Lovebird (Agapornis Roseicollis), Nyasa Lovebird (Agapornis Lilianae), Black-checked Lovebird (Agapornis Nigrigenis), Fischer Lovebird (Agapornis Fischeri) dan Masked Lovebird (Agapornis Personata). Lovebird termasuk keluarga burung berparuh bengkok yang memakan biji-bijian dan sayuran. Burung kecil ini dinamai Lovebird sebab termasuk hewan yang hidup monogami di alam bebas dan setiap saat tampak saling bercumbu mesra.

Pada jaman ini tingkat perceraian sangat tinggi. Data di kantor urusan agama beberapa kabupaten menunjukkan peningkatan angka perceraian yang sangat tinggi. Menurut data departemen agama tingkat perceraian di seluruh Indonesia setiap tahun naik rata-rata 10%. Belum dihitung yang masih dalam proses di pengadilan atau pisah ranjang yang masih belum dimasukkan dalam hitungan. Ada aneka alasan yang membuat orang memutuskan bercerai. Di kabupaten Sumenep sejak Januari hingga Februari 2010 sudah ada 248 orang yang cerai. Hal yang mengejutkan penyebab perceraian sebagian besar karena HP. Abdullah Cholil, Ketua PA Sumenep, mengatakan bahwa HP mempermudah orang untuk selingkuh sehingga terjadi perceraian. Menurut survey Akademi Pengacara Perkawinan Amerika (AAML) yang dirilis pada Februari 2010 meningkatkanya kasus perceraian disebabkan oleh facebook, twiter dan sebagainya. Angka perceraian yang disebabkan oleh facebook mencapai 66% sedangkan 15 % akibat Myspace dan 5% akibat Twiter. Kenneth Altshuller, wakil presiden AAML menyarakan kliennya untuk menutup akun facebooknya. Maka tidak mengherankan bila ada beberapa negara yang mengharamkan facebook sebab dianggap sebagai penghancur rumah tangga.

Tapi kita tidak dapat mempersalahkan alat atau tehnologi, sebab semua itu hanyalah sarana yang tergantung dari penggunanya. Penyebab perceraian dimulai dari krisis kasih dalam kehidupan rumah tangga lalu orang mencari di luar rumahnya melalui HP dan jejaring sosial lain. Bila di dalam rumah tangganya orang sudah mendapatkan kehangatan kasih dan kemesraan dari pasangannya maka meski mempunyai HP dan menjadi anggota jejaring sosial, mereka tetap akan mempertahankan rumah tangganya. Ada berbagai penyebab terjadinya krisis kasih dalam rumah tangga misalnya kesibukan pekerjaan dan kurangnya memahami satu dengan yang lain.

Kita dapat belajar dari Lovebird yang setiap saat selalu mengungkapkan kasihnya pada pasangannya. Terkadang kita lupa untuk mengungkapkan kasih sehingga semakin lama hidup perkawinan semakin hambar. Ungkapan kasih tidak perlu secara berlebihan tapi bisa dilakukan dalam hal-hal sederhana misalnya dengan pujian kecil, perhatian, hadiah sederhana, ucapan kasih dan sebagainya. Krisis kasih tidak hanya melanda suami istri melainkan juga terjadi antar saudara atau orang tua dan anak-anaknya. Bahkan krisis kasih ini merupakan bentuk kemiskinan yang jauh lebih parah dibanding kemiskinan akibat kekurangan materi, sebab kemiskinan ini melanda banyak orang dari berbagai kalangan entah kaya atau miskin materi.

Kita memang tidak dapat seperti Lovebird yang kemana-mana selalu berdua. Tapi kita tetap dapat menyatu dengan orang yang kita kasihi bila kita menghidupkan atau membawa orang yang kita kasihi dalam hidup kita. Kita akan terus merasa dekat meski tubuh kita berjauhan. Bila orang yang kita kasihi hidup dalam diri kita maka kita akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Menghindari larangannya dan melakukan kehendaknya. Semua ini hanya akan dapat terjadi bila ada kasih yang besar di dalam hati kita. Kasih yang hidup, sebab bukan lagi aku yang hidup tapi dia hidup di dalamku.

simak selanjutnya BELAJAR DARI HEWAN: LOVEBIRD YANG SALING MENGASIHI disini...

Sabtu, 02 April 2011

BELAJAR DARI HEWAN: PENYU SANG PEMBERANI


Penyu adalah salah satu hewan vertebrata yang masih tergolong reptil, sebab dia tidak sepenuhnya hidup di laut, meski menghabiskan hampir sepanjang hidupnya di lautan. Dia bernafas dengan paru-paru dan sebagian besar adalah pemakan tumbuhan, tapi ada juga yang carnivora atau omnivora. Penyu sudah hidup sejak jaman Jura (140-208 juta tahun lalu) atau sejaman dengan dinosaurus, meski mengalami perubahan bentuk. Penyu betina suatu saat akan turun ke pantai untuk bertelur. Setelah itu dia kembali ke laut dan membiarkan telurnya tertimbun pasir sampai menetas menjadi tukik. Seekor penyu betina akan menghasilkan 60-150 butir telur dalam sekali bertelur. Setelah dua bulan telur itu akan menetas. Tapi sebagian besar telur itu tidak sampai menetas, sebab dimakan oleh hewan predator seperti kepiting, biawak, burung dan sebagainya. Kalau toh sampai menetas diperkirakan hanya 11 tukik yang mampu mencapai laut dan memulai kehidupannya di laut. Maksimal hanya 50% tukik yang bertahan hidup.

Dengan demikian sejak lahir tukik tidak pernah mengetahui orang tuanya. Dia harus hidup dan berjuang sendiri. Menjelajahi lautan yang luas dan bergelora dengan aneka jenis hewan yang setiap saat dapat memangsanya. Penyu dikenal sebagai hewan yang tidak menetap di suatu tempat. Dia dapat mengarungi lautan yang luas. Bahkan ada pendapat bahwa penyu dapat berenang sejauh 3000 km dalam waktu 58-73 hari. Penyu yang menetas di Jawa dapat ditemukan di perairan Haiti dan sebagainya.

Hidup kita sering seperti tukik yang harus bergerak perlahan menuju samudra luas. Kita kecil, lemah dan tidak berdaya sedang dihadapan kita ada samudra yang dalam dan luas dimana ada banyak binatang yang siap memangsa kita. Hal ini kerap membuat kita takut dan cemas akan kehidupan kita kelak. Persaingan dalam sekolah dan mendapat pekerjaan membuat kita sering mengalami frustasi. Kita dapat belajar dari tukik yang berani untuk bertahan hidup meski banyak dari mereka yang mati sebelum mencapai ke laut. Tapi dia tidak terus bersembunyi dalam cangkangnya yang merupakan rumah yang aman. Dia berani keluar, berjalan perlahan dan berenang di dalam samudra.

Kita sering merasakan bahwa diri kita mempunyai banyak kelemahan. Kemiskinan, tidak cerdas, tidak mempunyai banyak talenta dan sebagainya. Kesadaran ini membuat kita sering enggan untuk maju. Seorang anak ketika melihat temannya mendapat hadiah karena menjadi juara menggambar, dia mengatakan tentu saja anak itu bisa berprestasi sebab orang tuanya mendukung dan memberi fasilitas. Sedangkan dia tidak mempunyai sarana sebagus yang dimiliki temannya. Ini salah satu kelemahan yang membuat orang tidak bisa maju. Dia hanya mengeluh akan situasi dirinya dan bermimpi seandainya dia memiliki hal seperti orang lain. Masih banyak keluhan-keluhan tentang keterbatasan yang membuat orang tidak dapat maju.

Thomas Alva Edison (11 Februari 1847 – 18 Oktober 1931) pada saat duduk di bangku sekolah dasar dia dikeluarkan oleh gurunya, sebab dianggap bodoh dan sedikit tuli. Tapi Nancy Edison, ibunya tidak putus asa. Dia mendidik anaknya sehingga Thomas menjadi penemu pengusaha yang mengembangkan banyak peralatan penting. Untuk dapat maju orang hendaknya mempunyai visi hidup dan berani mulai aksi. Sering orang hanya terjebak dalam mimpi tapi tidak melakukan aksi, sebab takut gagal. Maka kita harus memiliki keberanian untuk memulai sebuah perbuatan. Dalam menciptakan lampu, Thomas A Edison melakukan seribu percobaan. Dia tidak putus asa dan terus mencoba sampai berhasil. Seorang yang kubantu dana untuk berjualan dalam waktu dua bulan dia sudah tidak berjualan lagi dengan alasan ada banyak saingan. Orang seperti ini tidak akan maju, sebab tidak mempunyai mental yang kuat dalam menghadapi masalah. Bila dia tahu orang lain dapat maju maka dia seharusnya belajar dari orang lain dan berani menerima kelemahan untuk diubahnya bukan hanya berlindung dibalik kelemahannya untuk tidak bergerak. Selain itu untuk maju kita perlu mendapat dukungan dari sesama. Maka kita perlu saling membantu dan mendukung. Bila tukik yang lemah saja akhirnya dapat hidup di lautan luas mengapa kita tidak?

simak selanjutnya BELAJAR DARI HEWAN: PENYU SANG PEMBERANI disini...

Jumat, 01 April 2011

BELAJAR DARI HEWAN: ULAT YANG BERJUANG


Ulat adalah hewan kecil yang melakukan metamorfosis. Dia menetas dari sebutir telur yang pada umumnya menempel di dedaunan atau batang-batang pohon. Setelah menetas dia lalu memakan cangkang telurnya untuk memperkuat diri kemudian mulai memakan dedaunan atau buah-buahan yang ada di sekitarnya. Hal yang menarik adalah ulat tidak pernah diasuh oleh induknya. Dia tidak pernah tahu siapa induknya. Sejak masih dalam bentuk telur dia sudah ditinggalkan oleh induknya. Begitu menetas dia sudah harus berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Dia harus mencari makan sendiri sampai tumbuh menjadi ulat dewasa. Sekitar 2 minggu dia menjadi ulat lalu dia mengubah dirinya menjadi kepompong. Selama 10 hari dia diam dalam bungkusan yang ketat sampai akhirnya terlahir kembali menjadi kupu-kupu. Dia mulai kawin dan bertelur untuk meneruskan spesiesnya selama 2 sampai 6 minggu lalu mati.

Ulat termasuk binatang yang tidak mempunyai tulang. Kulitnya agak keras sehingga memungkinkan dia dapat bergerak. Dia termasuk hewan yang lemah sebab tidak mempunyai senjata untuk mempertahankan diri, sehingga banyak yang mati dimangsa hewan lain. Di dalam segala kelemahannya ulat tetap berusaha untuk mempertahankan hidupnya. Wujud tubuhnya yang semula dianggap menjijikkan oleh banyak orang tapi setelah melakukan metamorfosis berubah menjadi mahluk yang cantik, sehingga banyak diburu orang. Ulat sutra meski tetap berwujud menjijikkan tapi setelah menjadi kepompong dia mampu menghasilkan benang sutra yang sangat indah. Oleh manusia benang itu dipintal dan menjadi pakaian yang mahal.

Akhir-akhir ini sering terjadi kasus bunuh diri yang disebabkan orang tidak mampu lagi menanggung penderitaannya. Situasi hidup yang penuh persaingan dan semakin berat membuat banyak orang menjadi stress dan putus asa. Dia merasa tidak mampu lagi menghadapi beban hidup yang berat. Sebetulnya beban hidup yang jauh lebih banyak ditanggung manusia jaman ini dan sering terasa sangat menyakitkan adalah rasa kesepian dan tidak adanya kasih. Mereka menjadi kehilangan semangat hidup atau menjalankan hidup sekedar hidup atau dapat melakukan tindakan yang meresahkan sebagai ungkapan rasa frustasi akibat kekurangan kasih. Kita dapat belajar dari ulat yang terus bertahan meski dia tidak pernah merasakan kasih sayang sejak telur. Di dalam kelemahannya dia terus berjuang untuk melanjutkan hidupnya.

Manusia bukan mahluk metamorfosis Tapi kita dapat bermetamorforsis dalam sikap, hidup cara pandangan, pemikiran dan sebagainya. Yesus menghendaki kita lahir kembali seperti yang diajarkan pada Nicodemus. Metamorfosis manusia adalah bila dia hidup bukan lagi berdasar kedagingan seperti manusia lama melainkan mau hidup dalam Roh dan kebenaran. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma secara panjang lebar menjelaskan perbedaan antara hidup menurut daging dan hidup menurut Roh. Hidup menurut daging bila kita hidup hanya mengikuti keduniawian kita yang dapat menjauhkan diri dari Allah. Sedangkan hidup menurut Roh bila kita hidup sesuai dengan kehendak Allah yang dapat berlawanan dengan keinginan duniawi.

Setelah bermetamorfosis ulat menjadi mahluk yang indah, maka kita pun hendaknya bermetamorfosis sehingga menjadi manusia baru. Manusia yang hidupnya dikuasai oleh Roh dan kebenaran. Hidup dalam Roh akan membuat kita bersikap sesuai dengan dorongan Roh, “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Hal ini bukan berarti kita terbebas dari penderitaan dan kesepian melainkan kita melihatnya secara baru. Banyak penderitaan disebabkan kita dibelenggu oleh keinginan duniawi dan impian-impian yang kita bangun. Dengan hidup dalam Roh maka kita akan bersandar pada Allah dan percaya bahwa Allah tidak akan meninggalkannya. Kita akan mempersatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus dan belajar dari Kristus bagaimana Dia menyikapi kesepiaan dan penderitaanNya “belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan,” (Mat 11:29)

simak selanjutnya BELAJAR DARI HEWAN: ULAT YANG BERJUANG disini...