Sabtu, 16 April 2011

DITINGGALKAN

Seorang bapak bercerita dengan nada tinggi. Dia sangat marah pada anaknya yang telah memasukkan keluarga dalam kesulitan besar. Anaknya mempunyai hutang yang sangat besar dan tidak mampu membayarnya. Akibatnya para penagih hutang sering datang ke rumah dan memaksanya untuk melunasi hutang anaknya. Dia malu pada tetangga yang mendengar atau melihat bagaimana para penagih hutang itu datang dan pergi dengan kemarahan dan ancaman. Belum lagi ancaman penyitaan harta benda. Kalau toh semua hartanya dirampas pun belum cukup untuk melunasi hutang itu. Lalu bagaimana dengan nasib keluarganya? Dia masih mempunyai dua anak yang sedang kuliah dan membutuhkan dana yang cukup besar. Maka bapak ini ingin mengusir anaknya pergi dari rumah sebab membahayakan nasib keluarga.

Aku kenal dengan anak yang diceritakan itu. Dia anak yang baik. Semula dia punya usaha yang berkembang bagus. Bapak ini dulu sering menceritakan usaha anaknya dengan bangga. Tapi karena dia ingin mempunyai keuntungan yang sangat besar maka dia mengambil resiko. Ternyata gagal. Usahanya bangkrut dengan menyisakan hutang yang sangat besar. Dia sudah berupaya untuk melunasi hutangnya tapi karena sangat besar maka segala usahanya gagal bahkan semakin memperparah situasi hidupnya. Dia kini bukan lagi kebanggaan keluarga melainkan menjadi ancaman.

Dunia sering tidak adil. Banyak orang enggan menerima kekalahan atau kegagalan dari sesamanya. Saat orang berhasil maka dia akan dipuja dimana-mana dan diceritakan dengan rasa bangga, sebaliknya saat dia jatuh maka orang akan menyalahkannya. Semua kebanggaan yang pernah dimilikinya menjadi sirna. Padahal ketika orang jatuh dia lebih membutuhkan sesama untuk meneguhkannya tapi pada saat itulah orang merasa sendirian. Kehadiran sesama pada saat orang jatuh sangat penting artinya, meski dia mungkin tidak mampu menyelesaikan masalah itu. Tapi kehadiran dapat menjadi kekuatan untuk mampu bertahan dan terus berjalan menghadapi masalah.

Apa yang dialami oleh anak dari bapak itu hampir sama dengan apa yang dialami oleh Yesus ketika Dia menjalani kisah sengsara. Ketika Dia masuk Yerusalem banyak orang memuji dan memuliakan Dia. Semua orang bersorak sorai menyambutNya sebagai raja yang dinantikan. Tapi ketika Dia ditangkap maka semua orang meninggalkanNya. Bahkan mungkin ikut berteriak untuk menyalibkanNya. Petrus yang berjanji akan mati bersamaNya pun lebih memilih mengkhianatiNya. Murid yang lain pun lari tunggang langgang bahkan sampai ada yang telanjang. Mereka semua tidak ingin terlibat masalah yang dihadapi oleh Gurunya, padahal dulu mereka sangat bangga pada Gurunya dan berebut untuk dapat duduk disebelah kiri dan kananNya. Pertolongan Yesus datang dari orang-orang yang tidak diduga. Dari Simon orang Kirene yang dipaksa memanggul salib. Dari perempuan-perempuan Yerusalem meski mereka tidak berdaya tapi terus mengikuti Yesus sambil menangisi. Dari Veronika yang mengusap peluh dan darah Yesus. Kisah tentang orang yang ditinggalkan pada saat dia jatuh dan menderita terus terulang sampai saat ini.

Kesetiaan sangat mahal harganya. Setia pada orang yang sedang jatuh dan terpuruk semakin sulit didapatkan pada jaman yang semakin egois. Di saat orang sedang membutuhkan teman pada saat itulah dia tidak menemukan teman. Bahkan mungkin dia akan menemukan semakin banyak orang yang menghujat dan menyalahkannya. Krisis kesetiaan melanda banyak orang. Kesetiaan terkait erat dengan kasih. Bila kasih hanya mencari kebahagiaan diri sendiri, maka kesetiaan akan luntur. Tapi bila kasih adalah sebuah usaha untuk membahagiakan orang lain maka kesetiaan akan tetap ada. Yesus datang ke dunia sebab banyak orang tenggelam dalam penderitaan dan dosa. Dia datang untuk menjadi sahabat bagi orang yang menderita dan kesepian. Orang yang dimarginalkan oleh sesamanya. Kita yang mengaku diri sebagai murid Kristus dituntut yang sama. Bila Yesus sudah datang ke dunia dan menjadi sahabat kita yang termarginalkan, mengapa kita meninggalkan teman kita yang menderita?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger