Jumat, 01 April 2011

BELAJAR DARI HEWAN: ULAT YANG BERJUANG


Ulat adalah hewan kecil yang melakukan metamorfosis. Dia menetas dari sebutir telur yang pada umumnya menempel di dedaunan atau batang-batang pohon. Setelah menetas dia lalu memakan cangkang telurnya untuk memperkuat diri kemudian mulai memakan dedaunan atau buah-buahan yang ada di sekitarnya. Hal yang menarik adalah ulat tidak pernah diasuh oleh induknya. Dia tidak pernah tahu siapa induknya. Sejak masih dalam bentuk telur dia sudah ditinggalkan oleh induknya. Begitu menetas dia sudah harus berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Dia harus mencari makan sendiri sampai tumbuh menjadi ulat dewasa. Sekitar 2 minggu dia menjadi ulat lalu dia mengubah dirinya menjadi kepompong. Selama 10 hari dia diam dalam bungkusan yang ketat sampai akhirnya terlahir kembali menjadi kupu-kupu. Dia mulai kawin dan bertelur untuk meneruskan spesiesnya selama 2 sampai 6 minggu lalu mati.

Ulat termasuk binatang yang tidak mempunyai tulang. Kulitnya agak keras sehingga memungkinkan dia dapat bergerak. Dia termasuk hewan yang lemah sebab tidak mempunyai senjata untuk mempertahankan diri, sehingga banyak yang mati dimangsa hewan lain. Di dalam segala kelemahannya ulat tetap berusaha untuk mempertahankan hidupnya. Wujud tubuhnya yang semula dianggap menjijikkan oleh banyak orang tapi setelah melakukan metamorfosis berubah menjadi mahluk yang cantik, sehingga banyak diburu orang. Ulat sutra meski tetap berwujud menjijikkan tapi setelah menjadi kepompong dia mampu menghasilkan benang sutra yang sangat indah. Oleh manusia benang itu dipintal dan menjadi pakaian yang mahal.

Akhir-akhir ini sering terjadi kasus bunuh diri yang disebabkan orang tidak mampu lagi menanggung penderitaannya. Situasi hidup yang penuh persaingan dan semakin berat membuat banyak orang menjadi stress dan putus asa. Dia merasa tidak mampu lagi menghadapi beban hidup yang berat. Sebetulnya beban hidup yang jauh lebih banyak ditanggung manusia jaman ini dan sering terasa sangat menyakitkan adalah rasa kesepian dan tidak adanya kasih. Mereka menjadi kehilangan semangat hidup atau menjalankan hidup sekedar hidup atau dapat melakukan tindakan yang meresahkan sebagai ungkapan rasa frustasi akibat kekurangan kasih. Kita dapat belajar dari ulat yang terus bertahan meski dia tidak pernah merasakan kasih sayang sejak telur. Di dalam kelemahannya dia terus berjuang untuk melanjutkan hidupnya.

Manusia bukan mahluk metamorfosis Tapi kita dapat bermetamorforsis dalam sikap, hidup cara pandangan, pemikiran dan sebagainya. Yesus menghendaki kita lahir kembali seperti yang diajarkan pada Nicodemus. Metamorfosis manusia adalah bila dia hidup bukan lagi berdasar kedagingan seperti manusia lama melainkan mau hidup dalam Roh dan kebenaran. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma secara panjang lebar menjelaskan perbedaan antara hidup menurut daging dan hidup menurut Roh. Hidup menurut daging bila kita hidup hanya mengikuti keduniawian kita yang dapat menjauhkan diri dari Allah. Sedangkan hidup menurut Roh bila kita hidup sesuai dengan kehendak Allah yang dapat berlawanan dengan keinginan duniawi.

Setelah bermetamorfosis ulat menjadi mahluk yang indah, maka kita pun hendaknya bermetamorfosis sehingga menjadi manusia baru. Manusia yang hidupnya dikuasai oleh Roh dan kebenaran. Hidup dalam Roh akan membuat kita bersikap sesuai dengan dorongan Roh, “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Hal ini bukan berarti kita terbebas dari penderitaan dan kesepian melainkan kita melihatnya secara baru. Banyak penderitaan disebabkan kita dibelenggu oleh keinginan duniawi dan impian-impian yang kita bangun. Dengan hidup dalam Roh maka kita akan bersandar pada Allah dan percaya bahwa Allah tidak akan meninggalkannya. Kita akan mempersatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus dan belajar dari Kristus bagaimana Dia menyikapi kesepiaan dan penderitaanNya “belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan,” (Mat 11:29)

0 komentar:

Posting Komentar