Senin, 22 Februari 2010

INKULTURASI


Seorang teman yang melayani di pedalaman Kalimantan Barat sharing bagaimana dia memberikan nilai baru dalam budaya yang sudah ada. Sebagian suku Dayak di Kalbar masih memegang budaya kayau atau budaya memenggal kepala. Kayau dari kata kayo yang artinya mencari. Dari beberapa cerita ada beberapa pemahaman tentang budaya kayau. Ada yang mengatakan bahwa mengkayau itu untuk menunjukkan kegagahan seseorang. Ada yang mengatakan sebagai tanda bakti kepada orang tua yang meninggal. Arwah orang tua diiringi oleh arwah orang dari desa lain yang dikayau. Memang pada jaman ini budaya kayau sudah nyaris tidak ada lagi. Namun bisa muncul lagi bila ada kerusuhan seperti pada kasus Sampit pada tahun 2001.

Temanku mengajarkan agar suku Dayak tetap menjalankan budaya kayau tapi diberi arti yang baru. Kayau yang berarti membunuh orang diberi nilai baru. Orang yang dikayau bukan dibunuh fisiknya melainkan jiwanya. Seperti Yesus yang dibunuh dan bangkit, maka orang yang dibunuh itu harus dibangkitkan lagi menjadi manusia baru yaitu sebagai pengikut Kristus. “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rm 6:4) Orang yang ingin mengkayau harus mencari orang untuk dikayau dalam arti baru. Dialah yang harus mengajar kurbannya untuk mengenal Kristus. Orang yang mengkayau itu pun mengatakan pada kurbannya bahwa sebetulnya dia adalah orang yang akan dikayau tapi sekarang dikayau dalam arti baru. Dengan demikian budaya kayau tetap ada tapi dalam nilai baru untuk pewartaan iman.

Yesus datang ke dunia bukan untuk meniadakan apa yang sudah diyakini oleh umat Yahudi pada jaman itu. "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat 5:17) Benturan Yesus dengan orang Farisi bukan soal Yesus berniat mengubah adat yang ada, tapi oleh karena orang Farisi membuat ajaran yang membebani orang miskin “Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” (Mat 23:4). Penggenapan yang dilakukan oleh Yesus memberikan nilai yang baru. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yoh 13:34). Perintah mengasihi bukanlah perintah baru dari Yesus sebab perintah itu sudah ada dalam Taurat. Kebaruan yang diberikan oleh Yesus adalah kalimat, sama seperti Aku telah mengasihi kamu. Dalam Taurat kasih dibatasi pada sebangsa dan tidak sampai mengurbankan nyawa.

Dalam setiap budaya ada nilai-nilai kebenaran yang tidak bertentangan dengan ajaran Katolik. Maka konsili Vatikan II menyerukan agar agama Katolik menghargai budaya lokal atau budaya setempat yang disebut sebagai inkulturasi atau masuk dalam budaya. Kalau toh ada budaya yang berlawanan dengan iman Katolik seperti kayau, maka dapat diubah dan diberi nilai Katolik. Hal ini membutuhkan usaha yang serius baik untuk memahami budaya setempat maupun nilai iman Katolik. Tapi salah satu dampak globalisasi adalah krisis budaya, dimana orang tidak lagi paham akan budayanya. Orang hanya tahu kulit luar atau kurang memahami nilai-nilai apa yang terkandung di dalamnya. Orang hanya melihat barongsai sebagai sebuah tarian, tapi apakah dia sudah mempelajari nilai dan filsafat dari tarian itu? Selain itu orang mudah mengadili sebuah budaya. Orang melihat reog adalah budaya yang menggunakan kekuatan setan maka harus disingkirkan dari lingkungan gereja. Maka perlu kerendahan hati untuk belajar dan terbuka akan budaya lokal dan bukan hanya menghakimi.

Tata cara liturgi yang ada dalam gereja saat ini sangat kental dengan budaya Romawi, sehingga banyak orang tidak memahami makna sebuah liturgi sebab dia tidak paham akan budaya Romawi. Maka perlu ada keberanian melakukan terobosan inkulturasi.

simak selanjutnya INKULTURASI disini...

Minggu, 21 Februari 2010

SETIA PADA TUJUAN HIDUP

Seorang teman perempuan sharing bahwa dia baru saja mengambil keputusan yang sangat sulit dalam hidupnya. Sejak lama dia diberitahu oleh bos perusahaan tempatnya bekerja bahwa dia sedang dipromosikan untuk menjadi salah satu manager. Sebuah jabatan yang dikejar oleh banyak karyawan. Bila dia menjadi manager, maka dia akan mendapat fasilitas kendaraan dan kenaikan gaji. Semula hal itu kurang ditanggapinya, sebab dia merasa bahwa masih ada teman lain yang kemampuannya lebih dibanding dirinya. Tadi siang dia dipanggil oleh bos dan dinyatakan bahwa dia mulai bulan depan akan resmi menjadi manager. Mendengar itu temanku minta waktu untuk dibawa dalam doa. Akhirnya dia memutuskan untuk menolaknya.

Beberapa waktu lalu dia memang pernah sharing padaku akan kemungkinan untuk jadi manager. Sebagai manusia dia ingin menerima tapi dia bertimbang dengan suaminya yang karirnya tampak berhenti. Saat ini saja gajinya sudah lebih besar dibanding dengan suaminya. Dia kuatir bila dia menjadi manager dengan aneka fasilitas yang didapat maka ada kemungkinan membuat suaminya menjadi merasa rendah diri atau minder. Saat itu aku katakan bicara pada hati nurani dan melihat apa tujuan menikah. Dia pun mengatakan bahwa saat ini ekonomi keluarganya sudah dapat dibilang cukup meski tidak terlalu berlebihan. Aku kagum dengan keputusan temanku ini. Sebagai manusia dia ingin meraih apa yang dapat diraih, tapi dia tetap sadar akan tujuan hidup perkawinannya yaitu untuk saling membahagiakan. Maka dia memilih membuang kesempatan yang langka demi keutuhan dan kebahagiaan keluarga.

Saat ini banyak keretakan rumah tangga bahkan kehancuran rumah tangga disebabkan istri mempunyai karir atau penghasilan yang lebih besar dibandingkan suami. Hal ini disebabkan adanya perubahan jaman yang masih kurang dapat diterima oleh adat dan budaya. Jaman dahulu istri adalah bekerja dalam rumah sedang suami bekerja di luar rumah. Perubahan jaman memungkinkan perempuan bekerja diluar rumah dan meraih prestasi yang jauh lebih bagus dibandingkan suaminya. Hal ini tidak jarang membuat suami merasa dikalahkan oleh istri, sehingga menimbulkan masalah dalam keluarga.

Dalam Injil Yesus dicobai oleh iblis dengan aneka cobaan yang sebetulnya ingin diraih oleh manusia. Dia dicobai untuk membuktikan kehebatanNya, untuk meraih kekuasaan dan kekayaan dan untuk mendapat pengakuan diriNya. Tapi semua itu ditolaknya, sebab semua cobaan itu dapat menjauhkan Dia dari tujuannya datang ke dunia yaitu untuk membawa keselamatan bagi manusia. Apakah bila Dia menerima semua yang ditawarkan oleh iblis maka Dia tidak akan mampu menjadi penyelamat manusia? Pasti Dia dapat, sebab tidak ada yang mustahil bagi Allah. Tapi hal itu akan menjadi sulit. Bila Dia menjadi raja maka sulit baginya untuk bertemu dan bersekutu dengan manusia lemah dan tidak berdaya. Dia pasti akan dikelilingi oleh para pejabat. Selain itu bila Dia menuruti untuk melakukan hal hebat, maka tindakanNya itu sia-sia. Dia hanya menjadi tukang sulap yang dikagumi orang tanpa tujuan yang luhur yaitu untuk memuliakan Allah dan membuat manusia menjadi percaya bahwa Dia adalah utusan Allah.

Semua godaan iblis memang menyenangkan dan seolah-olah bagi kita sesuatu yang bagus dan ingin kita raih. Tapi godaan itu dapat menjauhkan kita dari tujuan hidup semula. Temanku berhasil mengalahkan godaan itu. Dia bertahan menjadi bawahan bukan karena senang menjadi bawahan tapi ingin suaminya tetap memiliki harga diri. Dia ingin rumah tangganya tetap utuh dan harmonis, meski dia harus mengurbankan kesempatan yang bagus. Yesus tidak menanggapi tantangan orang Israel demi setia pada tujuan hidupNya yaitu menjadi kurban penebusan, "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!" (Mat 27:40) Tapi sering kali kita lupa akan tujuan hidup kita, sehingga menerima begitu saja setiap kesempatan yang ada. Atau memang kita tidak sadar apa sebetulnya tujuan hidup kita.

simak selanjutnya SETIA PADA TUJUAN HIDUP disini...

Sabtu, 20 Februari 2010

KUCING SANG GURU

Anthony de Mello menulis cerita tentang kucing seorang guru. Ada seorang guru mempunyai seekor kucing. Ketika sang guru akan berdoa tiba-tiba kucingnya membuat keributan yang menganggunya. Maka dia mengikat kucing itu di dekatnya. Kemudian hal itu dilakukan setiap dia akan berdoa. Ketika sang guru meninggal, maka muridnya melakukan hal yang sama yaitu mengikat kucing sebelum berdoa. Cerita itu diangkat oleh deMello untuk menggambarkan liturgi.

Saat ini ada banyak asesoris dalam liturgi yang kurang dipahami tapi tetap saja harus ada bila orang merayakan liturgi. Banyak orang tidak tahu mengapa ketika misa harus ada lilin yang bernyala. Umat pun menjadi gelisah ketika sedang misa tiba-tiba lilin mati yang disebabkan oleh aneka hal. Bahkan umat rela misa dalam situasi yang gerah dan tidak mau menyalakan kipas angin, sebab kipas angin dapat memadamkan api lilin. Bagi umat lilin harus menyala, meski mereka tidak tahu mengapa dalam misa harus ada lilin yang menyala. Pada jaman dulu dimana listrik belum ada, maka lilin sangat penting. Seorang imam ketika akan misa dia menyalakan lilin agar dapat menerangi saat dia membaca Kitab Suci atau buku doa. Pada masa kini dimana listrik sudah ada tapi lilin tetap dinyalakan sebelum misa. Oleh karena fungsi lilin yang menyala sudah tidak ada lagi, maka dicari pemaknaan baru. Lilin yang bernyala menjadi lambang. Oleh karena Gereja tidak mempunyai patokan resmi maka seorang imam dapat menafsirkan sendiri makna lilin yang menyala pada saat misa. Ada banyak hal yang sebetulnya dapat dipertanyakan dalam liturgi. Tapi hal ini akan menimbulkan silang pendapat yang tidak ada habisnya.

Liturgi sebetulnya terkait dengan tempat dan jaman. Pakaian misa yang dikenakan oleh seorang imam pun terkait dengan jaman Eropa pada masa lalu. Bila kita merujuk pada Yesus maka Yesus hanya memakai jubah, sebuah pakaian yang umum dikenakan pada jaman itu di Yahudi. Tapi dalam perkembangannya pakaian imam menjadi megah. Bila perayaan Ekaristi adalah pengulangan perjamuan yang dilakukan oleh Yesus dengan para murid pada malam menjelang Dia ditangkap, maka apakah saat itu Yesus mengenakan pakaian seperti yang dipakai imam saat ini? Bila tidak darimanakah asal usul pakaian imam saat ini? Bila itu sebuah penambahan dikemudian hari mengapa tidak dapat diubah dan disesuaikan dengan pakaian yang ada saat ini disini?

Sacrosanctum Concilium yaitu dokumen hasil Konsili Vatikan II yang membahas tentang liturgi menjelaskan bahwa liturgi merupakan sarana karya penyelamatan manusia dan pemuliaan Allah. Dalam liturgi diwartakan karya keselamatan yang berpuncak pada Ekaristi yang merupakan pewujudnyataan karya keselamatan itu. Dalam Ekaristi kita dipersatukan dengan Yesus yang hadir dalam tubuh dan darahnya sekaligus kita dipersatukan dengan sesama, sehingga menjadi satu kesatuan bagai tubuh dimana Kristus sebagai kepalanya. Dengan demikian dalam liturgi ada 4 hal yang penting yaitu pewujudnyataan karya keselamatan, pewartaan karya keselamatan, memuliakan Allah dan kesatuan antara kita dengan Allah dan sesama. Tanda-tanda atau benda-benda liturgi hendaknya mampu membantu umat untuk masuk ke dalam situasi itu. Merasakan karya keselamatan dan kesatuan diantara mereka.

Bila semua benda itu adalah warisan dari jaman dulu maka apakah tidak boleh diganti atau dihilangkan? Apakah tidak menjadi kucing sang guru? Yesus pun beberapa kali bertengkar dengan orang Yahudi karena soal adat istiadat. Mereka menegur Yesus dan para rasul yang dianggap tidak taat pada adat istiadat. Bagi Yesus yang terpenting adalah ketaatan pada perintah Allah, bukan ketaatan pada adat istiadat, "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.” (Mrk 7:9). Apakah liturgi yang kita lakukan sudah dapat membuat 4 hal di atas menjadi nyata dan dirasakan oleh semua orang? Bila belum mengapa kita terpaku pada apa yang sudah ada?

simak selanjutnya KUCING SANG GURU disini...

Rabu, 17 Februari 2010

HIDUP BARU

Ketika naik pesawat dari Jakarta aku duduk dekat serombongan perempuan yang penampilannya sangat modis. Semula aku mengira mereka adalah rombongan artis yang hendak ke Surabaya. Ketika pesawat sudah take off, mereka ribut berbicara menggunakan bahasa Inggris yang pronunciation-nya aneh, dicampur Cina dan Indonesia dialek Jakarta. Orang yang duduk disebelahku tersenyum sinis sambil berbisik padaku, dasar TKI. Ketika kuamati memang dandanan dan gaya mereka cukup berlebihan dan ada yang kurang pas antara penampilan dan sikap mereka.

Orang dibentuk oleh suatu lingkungan dan bisa tetap menjadi dirinya seperti semula meski dia sudah berada dalam lingkungan yang berbeda. Seharusnya orang dapat beradaptasi dengan lingkungan, status, jabatan dan sebagainya. Tapi hal ini tidak mudah sebab membutuhkan proses. Bila perubahan begitu cepat seperti para TKI maka akan timbul ketidakseimbangan. Mereka berasal dari desa yang sangat terbatas, tiba-tiba hidup di Hongkong. Mereka biasanya direndahkan di tempat kerja tiba-tiba menjadi orang merdeka dan dianggap hebat sebab dapat hidup di luar negeri dan mempunyai uang yang banyak. Maka mereka berusaha untuk menunjukkan siapa dirinya dengan berbicara keras-keras menggunakan bahasa yang campur aduk. Perubahan yang cepat dan dratis ini membuat mereka bersikap yang “aneh”.

Kita hidup dalam lingkungan dunia dan terbentuk oleh nilai-nilai dunia. Tapi ketika kita dibaptis maka kita berubah menjadi anak Allah. Kita mendapat anugerah Roh Kudus bahkan bukan lagi kita yang hidup melainkan Yesus yang hidup dalam diri kita. Keduniawian kita dikuburkan dan bangkit manusia baru yaitu manusia yang dijiwai oleh Roh dan kebenaran. Dalam baptis kita ditandai dengan nama baru. Nama bukan hanya sekedar panggilan tapi menunjukkan keseluruhan diri kita. Maka perubahan nama berarti perubahan diri kita secara penuh. Maka seharusnya ada perubahan besar pada orang yang telah dibaptis. Dia bukan lagi si A yang dulu tapi si A yang baru.

“Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula." (Mrk 2:22). Hidup baru bukan hanya luar atau dalam tapi keseluruhan diri. Hal ini tidak mudah. Banyak orang setelah dibaptis tetap bersikap atau bertindak seperti sebelum baptis. Lalu dimana ke-baru-an pembaptisan? Untuk itu perlu ada kesadaran diri yang tinggi. Dia sadar bahwa sekarang dia bukan lagi manusia yang dulu. Dia sadar bahwa hidupnya sekarang digerakkan oleh Roh. Kesadaran hidup baru dalam Roh tidak tumbuh secara mendadak tapi membutuhkan proses dan keberanian diri untuk diubah. Tapi sering orang kurang menyadari hal ini. Mereka ingin cepat dibaptis sebab merasa bahwa dengan baptis dia sudah mengikuti Kristus dan akan memperoleh keselamatan. Padahal keselamatan ditentukan oleh ketaatan pada perintah Allah. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Mat 7:21).

Pem-baru-an diri membutuhkan sikap rendah hati yang siap diubah. Ada orang yang sombong dan mengatakan bahwa dirinya sudah seperti itu dan tidak dapat diubah. Seorang pemarah mengatakan bahwa dia adalah pemarah dan tidak bisa diubah. Lalu dimana ke-baru-an yang diterimanya? Apakah cukup dengan mempunyai nama baptis? Bila orang rendah hati maka dia memberikan ruang yang cukup lebar bagi Allah. Dia menyerahkan dirinya untuk diubah oleh Allah yang berbicara melalui aneka cara.

Semua itu membutuhkan refleksi. Melihat dan menilai semua apa yang telah dikerjakan dalam terang iman. Bila tindakannya dirasa tidak sesuai dengan kehendak Allah maka dia bertobat untuk mengubah yang sesuai dengan kehendak Allah. Tapi hal ini tidak mudah, akibatnya seperti para TKI di pesawat. Mereka hanya berubah kulitnya saja tapi keseluruhan dirinya tetap manusia lama. Penampilan dan bahasa mereka berubah tapi mentalitas mereka tetap sama, sehingga kelihatan kurang pas dan hanya menjadi bahan tertawaan bagi orang sekitarnya saja.

simak selanjutnya HIDUP BARU disini...

Kamis, 11 Februari 2010

TAAT ATAU KASIH?

Sering orang bertanya mengapa dia jenuh berdoa. Dia mengikuti ibadah atau misa pun tidak dapat menghayati apa yang terjadi dalam misa. Dia berdoa tapi pikirannya tidak mampu konsentrasi pada apa yang sedang didoakan sebab mengembara kemana-mana. Pernah aku mengatakan bila memang tidak bisa menghayati doa ya tidak usah berdoa saja. Bila tidak mampu menghayati misa maka tidak perlu misa. Ketika aku mengatakan demikian maka reaksi yang muncul adalah suatu penentangan atas pendapat itu. Mereka mengatakan bahwa doa dan misa itu sebuah kewajiban dan ketaatan pada Tuhan. Bagiku disitulah pokok masalahnya.

Semua agama memang mempunyai hukum. Dalam Perjanjian Lama banyak sekali hukum dan tata aturan. Bahkan kitab Imamat hampir semuanya adalah tentang hukum dan tata aturan. Umat wajib mentaati semua tata aturan itu agar selamat. “Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya.” (Im 26:3-4). Tapi bila tidak mentaati maka akan menderita (Im 26:14-..). Bahkan dengan taat pada perintah Tuhan, maka dia akan mencintaiNya dan mendapat berkat berlimpah “Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu,… maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu,” (Ul 11:13-14). Dari ayat ini jelaslah bahwa orang mentaati perintah Tuhan bukan karena dia mencintai Tuhan melainkan dia melakukan sehingga mencintaiNya.

Ketaatan pada aturan tetap dipertahankan oleh orang Farisi sampai pada jaman Yesus. Bagi mereka ketaatan pada hukum sangatlah penting dan akan membawa pada keselamtan. Maka mereka beberapa kali bertengkar dengan Yesus yang dianggap tidak mentaati hukum misalnya melanggar hari Sabat, tidak berpuasa dan sebagainya. Maka mereka ditegur oleh Yesus. “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Mat 15:8). Bagi Yesus orang melakukan perintah Tuhan karena dia mengasihi Tuhan "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yoh 14:15). Kasih menjadi dasar melaksanakan perintah Tuhan.

Doa adalah wujud kasih pada Tuhan. Kasih itu rasa yang tidak dapat digambarkan tapi hanya dapat dirasakan. Bila perbuatan muncul dari rasa kasih, maka perbuatan itu akan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan ketika melakukan maka tidak merasa capek atau membosankan. Sepasang muda mudi yang sedang mabok cinta, meski makan hanya sepiring nasi putih tanpa lauk dan duduk di tempat yang bau sekalipun baginya makanan itu akan terasa sangat enak. Sebaliknya bila tidak ada cinta maka makanan yang enak sekalipun akan terasa hambar. Bila doa bersumber dari rasa cinta pada Tuhan maka orang tidak akan merasa jenuh, bosan atau tidak mampu fokus. Bila orang sedang mabuk cinta dia akan memusatkan seluruh dirinya pada orang yang dicintainya.

Sebaliknya ketaatan itu lebih mengutamakan akal budi, kecuali taat membabi buta yang tidak berpikir sama sekali. Orang taat sebab dia telah bertimbang akan sebuah resiko. Orang taat berdoa sebab dia takut dihukum oleh Tuhan. Melakukan segala sesuatu bila dasarnya adalah ketakutan, maka semua itu dijalani dengan separo hati atau tanpa hati sama sekali. Dalam Gereja Katolik salah satu perintah adalah mengikuti misa pada hari minggu. Maka tidak jarang orang misa hanya karena ketaatan pada perintah Tuhan bukan karena kasih padaNya, sehingga mereka merasa tidak mendapatkan apa-apa.

Oleh karena itu aku mengatakan bila doa dan misa hanya sebagai sebuah ketaatan sebaiknya tidak berdoa atau misa sebab semua itu akan membuat jenuh. Hatinya kering dan tidak mampu menghayatinya. Berdoa apapun tetap saja dia akan merasa kering. Hal ini akan berbeda bila doa merupakan wujud dari cintaku pada Tuhan.

simak selanjutnya TAAT ATAU KASIH? disini...

Jumat, 05 Februari 2010

APAKAH KAMU ORANG KATOLIK?

Aku punya seorang teman bernama Magdalena. Semula dia kukira adalah seorang Katolik, ternyata dia adalah seorang muslim. Dia mengatakan bahwa entah mengapa orang tuanya yang juga seorang muslim taat memberinya nama itu. Tapi dia senang sebab nama itu bagus. Ketika kujelaskan bahwa nama itu adalah nama baptis bagi seorang Katolik, maka dia bertanya apakah dia harus mengganti namanya? Bagiku apakah dia mau mengganti namanya atau tidak bukan urusanku. Tapi ternyata saat ini banyak sekali orang muslim yang memakai nama seperti nama baptis. Dengan demikian dari nama kita tidak tahu apakah agama orang itu. Teman seangkatanku dulu bernama Sochebul Arif dan biasa kami panggil Sokip.

Bila nama yang semula hanya dipakai oleh orang Katolik sudah digunakan oleh orang beragama lain, maka apakah yang dapat menunjukkan identitas kekatolikan kita? Beberapa orang Katolik memasang salib di rumah atau kendaraannya, tapi sekarang salib pun sudah digunakan oleh orang bukan Katolik untuk hiasan rumah atau asesoris tubuhnya. Beberapa anak muda memakai kalung dengan bandul salib padahal dia bukan Katolik. Mereka beralasan banyak bintang film luar negeri memakai itu. Dengan demikian lambang kekatolikan seperti salib pun belum tentu menunjukkan seseorang sebagai pemeluk agama Katolik.

Ada yang mengatakan bahwa orang Katolik membuka doanya dengan membuat tanda salib. Sebelum reformasi dulu aku pernah mengadakan acara untuk kaum muda. Ketika kami mengadakan rapat terakhir ternyata ada seorang penyusup yang ikut rapat. Ketika berdoa dia pun membuat tanda salib. Kami baru sadar bahwa dia adalah seorang penyusup ketika akhirnya kami tahu bahwa dia adalah orang utusan dari TNI dan tidak beragama Katolik. Dengan demikian tanda salib pun bukan milik orang Katolik. Lalu apakah yang dapat menjadi tanda bahwa seseorang adalah orang Katolik? Apakah yang dapat menunjukkan kekatolikan seseorang?

Bila aku berada di tengah orang banyak misalnya dalam sebuah plasa maka sulit bagiku untuk menentukan apakah orang yang ada di dekatku adalah seorang Katolik atau bukan. Kekatolikan memang tidak ditunjukkan dari tanda dan nama. Kekatolikan terpancar dari dalam diri orang itu sendiri. Dari sikap, cara berkata, tindakannya dan seluruh kepribadiannya. Kekatolikkan bukan berada di luar diri tapi ada dalam diri yang terpancar keluar. Ketika murid-murid Yohanes bertanya pada Yesus apakah Dia Mesias atau bukan, maka Yesus berkata, "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” (Mat 11:4-5). Kemesiasan Yesus tampak dari apa yang telah dikerjakanNya bukan dari keturunan atau pemberitaan orang lain.

Perbuatan untuk menunjukkan kekatolikan bukan hanya dari doa atau kehadiran dalam perayaan sakramen melainkan perbuatan belas kasih pada sesama. Dari perbuatanlah seseorang dapat dinilai apakah dia seorang beriman atau bukan. Ada banyak orang beriman pada Yesus, tapi tidak cukup bila dia hanya percaya pada Yesus. “Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.” (Tit 1:16). St. Paulus melihat bahwa dari perbuatan seseorang dapat dinilai apakah dia percaya atau menyangkal Allah. Iman bukan hanya sekedar percaya pada Allah tapi terungkap dalam perbuatan. Bila belajar dari Yesus bahwa kemesiasan tampak dari apa yang telah Dia lakukan bagi sesama, maka iman kita juga tampak dari apa yang telah kita lakukan bagi sesama. Bukan hanya sekedar duduk merenung di depan tabernakel atau bersorak sorai karena kasih karunia Allah yang telah dia terima di dalam sebuah komunitas. Inilah tantangan iman kita pada jaman ini.

simak selanjutnya APAKAH KAMU ORANG KATOLIK? disini...