Sabtu, 20 Februari 2010

KUCING SANG GURU

Anthony de Mello menulis cerita tentang kucing seorang guru. Ada seorang guru mempunyai seekor kucing. Ketika sang guru akan berdoa tiba-tiba kucingnya membuat keributan yang menganggunya. Maka dia mengikat kucing itu di dekatnya. Kemudian hal itu dilakukan setiap dia akan berdoa. Ketika sang guru meninggal, maka muridnya melakukan hal yang sama yaitu mengikat kucing sebelum berdoa. Cerita itu diangkat oleh deMello untuk menggambarkan liturgi.

Saat ini ada banyak asesoris dalam liturgi yang kurang dipahami tapi tetap saja harus ada bila orang merayakan liturgi. Banyak orang tidak tahu mengapa ketika misa harus ada lilin yang bernyala. Umat pun menjadi gelisah ketika sedang misa tiba-tiba lilin mati yang disebabkan oleh aneka hal. Bahkan umat rela misa dalam situasi yang gerah dan tidak mau menyalakan kipas angin, sebab kipas angin dapat memadamkan api lilin. Bagi umat lilin harus menyala, meski mereka tidak tahu mengapa dalam misa harus ada lilin yang menyala. Pada jaman dulu dimana listrik belum ada, maka lilin sangat penting. Seorang imam ketika akan misa dia menyalakan lilin agar dapat menerangi saat dia membaca Kitab Suci atau buku doa. Pada masa kini dimana listrik sudah ada tapi lilin tetap dinyalakan sebelum misa. Oleh karena fungsi lilin yang menyala sudah tidak ada lagi, maka dicari pemaknaan baru. Lilin yang bernyala menjadi lambang. Oleh karena Gereja tidak mempunyai patokan resmi maka seorang imam dapat menafsirkan sendiri makna lilin yang menyala pada saat misa. Ada banyak hal yang sebetulnya dapat dipertanyakan dalam liturgi. Tapi hal ini akan menimbulkan silang pendapat yang tidak ada habisnya.

Liturgi sebetulnya terkait dengan tempat dan jaman. Pakaian misa yang dikenakan oleh seorang imam pun terkait dengan jaman Eropa pada masa lalu. Bila kita merujuk pada Yesus maka Yesus hanya memakai jubah, sebuah pakaian yang umum dikenakan pada jaman itu di Yahudi. Tapi dalam perkembangannya pakaian imam menjadi megah. Bila perayaan Ekaristi adalah pengulangan perjamuan yang dilakukan oleh Yesus dengan para murid pada malam menjelang Dia ditangkap, maka apakah saat itu Yesus mengenakan pakaian seperti yang dipakai imam saat ini? Bila tidak darimanakah asal usul pakaian imam saat ini? Bila itu sebuah penambahan dikemudian hari mengapa tidak dapat diubah dan disesuaikan dengan pakaian yang ada saat ini disini?

Sacrosanctum Concilium yaitu dokumen hasil Konsili Vatikan II yang membahas tentang liturgi menjelaskan bahwa liturgi merupakan sarana karya penyelamatan manusia dan pemuliaan Allah. Dalam liturgi diwartakan karya keselamatan yang berpuncak pada Ekaristi yang merupakan pewujudnyataan karya keselamatan itu. Dalam Ekaristi kita dipersatukan dengan Yesus yang hadir dalam tubuh dan darahnya sekaligus kita dipersatukan dengan sesama, sehingga menjadi satu kesatuan bagai tubuh dimana Kristus sebagai kepalanya. Dengan demikian dalam liturgi ada 4 hal yang penting yaitu pewujudnyataan karya keselamatan, pewartaan karya keselamatan, memuliakan Allah dan kesatuan antara kita dengan Allah dan sesama. Tanda-tanda atau benda-benda liturgi hendaknya mampu membantu umat untuk masuk ke dalam situasi itu. Merasakan karya keselamatan dan kesatuan diantara mereka.

Bila semua benda itu adalah warisan dari jaman dulu maka apakah tidak boleh diganti atau dihilangkan? Apakah tidak menjadi kucing sang guru? Yesus pun beberapa kali bertengkar dengan orang Yahudi karena soal adat istiadat. Mereka menegur Yesus dan para rasul yang dianggap tidak taat pada adat istiadat. Bagi Yesus yang terpenting adalah ketaatan pada perintah Allah, bukan ketaatan pada adat istiadat, "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.” (Mrk 7:9). Apakah liturgi yang kita lakukan sudah dapat membuat 4 hal di atas menjadi nyata dan dirasakan oleh semua orang? Bila belum mengapa kita terpaku pada apa yang sudah ada?

0 komentar:

Posting Komentar