Senin, 22 Februari 2010

INKULTURASI


Seorang teman yang melayani di pedalaman Kalimantan Barat sharing bagaimana dia memberikan nilai baru dalam budaya yang sudah ada. Sebagian suku Dayak di Kalbar masih memegang budaya kayau atau budaya memenggal kepala. Kayau dari kata kayo yang artinya mencari. Dari beberapa cerita ada beberapa pemahaman tentang budaya kayau. Ada yang mengatakan bahwa mengkayau itu untuk menunjukkan kegagahan seseorang. Ada yang mengatakan sebagai tanda bakti kepada orang tua yang meninggal. Arwah orang tua diiringi oleh arwah orang dari desa lain yang dikayau. Memang pada jaman ini budaya kayau sudah nyaris tidak ada lagi. Namun bisa muncul lagi bila ada kerusuhan seperti pada kasus Sampit pada tahun 2001.

Temanku mengajarkan agar suku Dayak tetap menjalankan budaya kayau tapi diberi arti yang baru. Kayau yang berarti membunuh orang diberi nilai baru. Orang yang dikayau bukan dibunuh fisiknya melainkan jiwanya. Seperti Yesus yang dibunuh dan bangkit, maka orang yang dibunuh itu harus dibangkitkan lagi menjadi manusia baru yaitu sebagai pengikut Kristus. “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rm 6:4) Orang yang ingin mengkayau harus mencari orang untuk dikayau dalam arti baru. Dialah yang harus mengajar kurbannya untuk mengenal Kristus. Orang yang mengkayau itu pun mengatakan pada kurbannya bahwa sebetulnya dia adalah orang yang akan dikayau tapi sekarang dikayau dalam arti baru. Dengan demikian budaya kayau tetap ada tapi dalam nilai baru untuk pewartaan iman.

Yesus datang ke dunia bukan untuk meniadakan apa yang sudah diyakini oleh umat Yahudi pada jaman itu. "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat 5:17) Benturan Yesus dengan orang Farisi bukan soal Yesus berniat mengubah adat yang ada, tapi oleh karena orang Farisi membuat ajaran yang membebani orang miskin “Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” (Mat 23:4). Penggenapan yang dilakukan oleh Yesus memberikan nilai yang baru. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yoh 13:34). Perintah mengasihi bukanlah perintah baru dari Yesus sebab perintah itu sudah ada dalam Taurat. Kebaruan yang diberikan oleh Yesus adalah kalimat, sama seperti Aku telah mengasihi kamu. Dalam Taurat kasih dibatasi pada sebangsa dan tidak sampai mengurbankan nyawa.

Dalam setiap budaya ada nilai-nilai kebenaran yang tidak bertentangan dengan ajaran Katolik. Maka konsili Vatikan II menyerukan agar agama Katolik menghargai budaya lokal atau budaya setempat yang disebut sebagai inkulturasi atau masuk dalam budaya. Kalau toh ada budaya yang berlawanan dengan iman Katolik seperti kayau, maka dapat diubah dan diberi nilai Katolik. Hal ini membutuhkan usaha yang serius baik untuk memahami budaya setempat maupun nilai iman Katolik. Tapi salah satu dampak globalisasi adalah krisis budaya, dimana orang tidak lagi paham akan budayanya. Orang hanya tahu kulit luar atau kurang memahami nilai-nilai apa yang terkandung di dalamnya. Orang hanya melihat barongsai sebagai sebuah tarian, tapi apakah dia sudah mempelajari nilai dan filsafat dari tarian itu? Selain itu orang mudah mengadili sebuah budaya. Orang melihat reog adalah budaya yang menggunakan kekuatan setan maka harus disingkirkan dari lingkungan gereja. Maka perlu kerendahan hati untuk belajar dan terbuka akan budaya lokal dan bukan hanya menghakimi.

Tata cara liturgi yang ada dalam gereja saat ini sangat kental dengan budaya Romawi, sehingga banyak orang tidak memahami makna sebuah liturgi sebab dia tidak paham akan budaya Romawi. Maka perlu ada keberanian melakukan terobosan inkulturasi.

0 komentar:

Posting Komentar