Rabu, 03 Maret 2010

BABE


Belum lama ini kita dikejutkan oleh pengakuan Baekuni alias Babe yang mengaku telah membunuh 14 anak secara keji mulai tahun 1998-2010. Jumlah kurban Babe ini mengalahkan jumlah kurban dari pembunuh yang sangat terkenal yaitu Very Idham Hermansya alias Ryan yang membunuh 5 orang dan Siswanto alias Robot Gedek yang membunuh 6 anak jalanan bahkan Jack The Ripper, pembunuh berantai dari London yang membunuh 11 orang. Memang jumlah kurban Babe masih kalah jauh dibanding dengan Ahmad Suraji alias Datok yang membunuh 42 orang.

Aku memang belum pernah bertemu langsung dengan Babe. Andai aku bertemu Babe sebelum kasus ini terungkap pasti dalam pikiranku tidak akan terlintas sedikit pun akan kekejiannya. Bila melihat wajah Babe yang menyisakan ketampanan pada masa muda dan senyum yang ramah maka sulit bagiku untuk menduga bahwa dia seorang pembunuh yang keji. Bahkan sebaliknya aku mungkin akan kagum akan kesediaannya untuk merawat dan berbagi kasih pada anak jalanan. Anak yang sering kali kekurangan kasih sayang dan mendapat perlakuan kasar dari berbagai pihak. Tapi ternyata dari penampilannya yang kebapakan tersimpan kekejian.

Dalam pengakuannya Babe melakukan semua itu sebab dia pernah disodomi pada umur 12 tahun. Dalam dunia anak jalanan sodomi bukanlah hal asing. Beberapa anak yang pernah tinggal di rumah singgah kami juga memberikan pengakuan bahwa mereka pernah disodomi oleh anak yang lebih kuat. Maka suatu saat bila mereka merasa kuat maka mereka pun akan menyodomi anak yang dianggap lemah. Hal ini seperti sebuah lingkaran yang harus diputuskan. Maka aku ragu bahwa Babe adalah pelaku terakhir. Aku menduga ada Babe Babe lain yang masih belum terungkap.

Kekejian Babe muncul dari kebencian dan dendam yang mengeram dalam hatinya selama beberapa tahun. Dia menunggu saat yang tepat untuk meluapkan dendamnya. Apa yang dialami oleh Babe sebetulnya juga dialami oleh banyak orang meski pelampiasannya tidak sama. Seorang ibu yang benci pada suaminya menumpahkan kebencian itu pada anaknya. Dia tega menyiksa buah hatinya untuk melampiaskan dendam dan kebencian yang ditekan dalam hatinya selama ini. Seorang yang punya pengalaman buruk pada masa kecil menjadi orang yang kurang menyenangkan pada saat dewasa. Dia menjadi sewenang-wenang dan kasar bahkan pada keluarganya.

Salah satu ajaran Yesus yang sangat kuat adalah pengampunan. Orang diminta untuk mengampuni sesamanya. Gema pengampunan pun dimasukan dalam satu-satunya doa yang diajarkan olehNya. Bahkan ajaran pengampunan dikatakan lagi setelah Dia mengajarkan doa Bapa kami, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:14-15). Pengulangan ini menunjukkan betapa pentingnya pengampunan. Bahkan Yesus tidak memberi batasan sampai berapa kali kita harus mengampuni (bdk Mat 18:21-22). Dia pun memberikan teladan mengampuni semua orang yang telah menyiksa dan membunuhNya dan memohonkan ampun bagi mereka kepada Bapa. "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34).

Dalam hidup tidak jarang kita menjadi marah dan benci. Kita dendam pada orang, tapi sering kali tidak kuasa untuk melampiaskannya. Maka semua dendam dan kebencian itu kita simpan dalam hati. Bila hati penuh dendam dan kebencian maka yang keluar dari hati didasari oleh dendam dan kebencian. “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” (Luk 6:45). Untuk itu kita perlu mengampuni agar hati kita penuh kedamaian sehingga apa yang keluar dari diri kita, baik perkataan maupun tindakan, akan merupakan perwujudan damai yang ada dalam hati.

0 komentar:

Posting Komentar