Rabu, 03 Maret 2010

JOYO


Pengantar:Catatan ini merupakan tulisan Joyo salah satu anak jalanan ketika masih tinggal di rumah singgah Yayasan Merah Merdeka. Saat menulis catatan ini Joyo masih berumur 11 tahun. Ketika bergabung dengan komunitas Yayasan Merah Merdeka Joyo sudah tidak sekolah lagi. Lalu kami sekolahkan tapi ternyata gagal. Dia melarikan diri ketika duduk di bangku SMP. Saat ini aku tidak pernah mendengar lagi kabarnya.

Orang tuaku kerja cari kodok. Ibuku, ibu rumah tangga. Aku anak yang terakhir dari empat bersaudara mati satu. Kakakku yang paling tinggi, namanya Slamet. Slamet waria. Iya orang yang paling saya sayangi adalah ibuku. Aku meyayangi ibuku karena yang melahirkan aku dan dia orang tuaku satu-satunya.

Aku sampai begini dulunya diajak Pur. Pur minta-minta ke Bambu Runcing terus Mitra, Joko Dolog, Tunjungan Plaza, Delta. Dan aku minta-minta dapat uang dua puluh kira-kira. Dan aku pergi ke sebuah warung beli mie makan sampai habis. Malam aku pergi lagi ngamen. Uang buat jajan, buat makan, buat ngasih ibuku.

Pengalamanku yang paling jelek adalah saat aku ketemu sama orang yang hampir-hampir membawaku ke club-club. Pulang aku hampir diculik, kalau nggak salah aku hampir dibunuh. Orangnya besar, hitam, rambutnya kribo. Bilangnya dia mau ngasih uang aku Rp 50.000 terus aku ikut. Habis itu aku hampir deket aku lari. Dicari dia.

Hidup di jalanan panas, capek. Ya ada senengnya juga banyak teman bisa bergurau. Biasa ya namanya anak ngamen, berguraunya tonjok-tonjokkan. Tapi tidak selalu sungguhan. Aku juga pernah ngobat. Biasanya pakai gotres. Ya seperti orang mabuklah. Telo-telo, terus aku membayang-bayangin, menghayal. Habis itu kapok sebab hampir ketabrak truk. Tinggal di Gubeng dapat baju dicolong.

Sekarang aku senang sebab tinggal di Simo. Dapat baju, disekolahkan, dapat makan. Di Simo banyak teman. Apalagi ceweknya cantik-cantik. Sekarang ini aku sudah 11 tahun. Nanti kalau sudah besar aku ingin jadi pilot. Ingin membangun rumah 2 tingkat atau 3 tingkat. Ya sekarang ini rumahku hampir roboh, berduyung-duyungan.

0 komentar:

Posting Komentar