Minggu, 21 Maret 2010

REFLEKSI DIRI

Masa Prapaskah adalah masa untuk merefleksi diri. Refleksi diri adalah cara untuk melihat perjalanan hidup dalam terang Allah. Apakah kita sudah berjalan sesuai dengan kehendak Allah atau sebaliknya menjauh dari kehendak Allah. Apakah sikap kita sudah mencerminkan kasih pada sesama atau masih cenderung egois dan mementingkan diri sendiri. Apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan kehendak Allah ataukah kita masih menuruti kehendak sendiri sehingga mengabaikan kehendak Allah. Masih banyak lagi yang dapat kita renungkan mengenai sikap, perkataan dan perbuatan kita dalam terang iman dan kehendak Allah.

Refleksi diri adalah usaha kita untuk mengetahui apa yang kurang dan perlu kita perbaiki dalam diri. Dalam bercermin kita harus mengambil jarak agar tidak terlalu dekat, sebab kalau kita terlalu dekat dengan cermin maka kita tidak akan melihat diri seutuhnya. Tapi kalau kita terlalu jauh dari cermin maka kita tidak akan jelas melihat diri meski dapat melihat diri seutuhnya. Maka perlu mengambil jarak yang tepat agar kita bisa melihat sebanyak mungkin diri kita namun tetap jelas. Kita mengambil jarak dari hidup secara tepat dan seimbang sehingga kita dapat melihat diri secara jelas dan tidak penuh dengan pembelaan diri.

Merefleksi diri dapat dilakukan kapan saja. Sejauh kita mau melihat diri sendiri. Salah satu contoh refleksi diri yang baik seperti dalam Injil Yoh 8:1-11. Dalam bagian itu diceritakan Yesus sedang berada di Bait Allah, lalu datang orang-orang membawa perempuan yang tertangkap berbuat zinah. Mereka bertanya pada Yesus apa yang harus dilakukan. Padahal mereka semua sudah tahu bahwa dalam hukum Musa kalau orang tertangkap berbuat zinah maka perempuan yang berbuat zinah harus dilempari batu sampai mati. Tapi mereka bertanya pada Yesus untuk mencobai Yesus. Bila Yesus mengijinkan mereka menerapkan hukum Musa, maka Dia melanggar ajaranNya sendiri agar orang saling mengampuni. Tapi bila Dia mengatakan agar mengampuni perempuan itu, maka Dia dapat disalahkan sebab melawan hukum Musa. Dalam situasi seperti ini Yesus mengajak orang untuk merefleksi diri. Maka Dia mengatakan "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Yesus seolah menempatkan sebuah cermin besar dihadapan semua orang. Yesus tidak lagi berbicara soal hukum tapi mengajak mereka untuk melihat diri sendiri. Apakah mereka tidak pernah berdosa sehingga mengadili orang lain yang dianggap berdosa? Pertanyaan Yesus membuat mereka sadar bahwa mereka pun orang berdosa. Akhirnya semua orang pergi mulai dari yang tua. Inilah contoh refleksi diri. Kita diajak untuk melihat diri kita sendiri.

Dalam hidup sehari-hari memang mudah sekali kita menyalahkan orang lain. Melemparkan tuduhan pada orang lain secara sewenang-wenang. Apalagi bila kita merasa kuat dan mempunyai kekuasaan. Dalam kasus perempuan yang tertangkap berbuat zinah itu, mengapa yang diadili hanya yang perempuan? Kemana pasangannya dalam berbuat zinah? Lelaki itu tidak diceritakan sebab memang dalam berbuat zinah yang disalahkan adalah pihak perempuan. Disinilah letak ketidakadilan hukum yang dibuat oleh lelaki. Pihak lelaki yang berkuasa dapat menuduhkan kejahatan pada orang lain sedang dia tidak menuduhkan pada diri sendiri. Kekuasaan dapat membuat orang menjadi sewenang-wenang sehingga mengadili orang lain dengan sesuka hati.

Kita pun mudah mengadili orang lain dengan sewenang-wenang. Seorang ibu dapat memarahi anaknya yang nonton TV padahal dirinya sendiri juga suka menonton TV. Seorang nyonya dapat mencaci maki pembantunya yang dianggap tidak bisa memasak, padahal dia sendiri yang seharusnya memasak bagi suami dan anaknya tidak bisa memasak dengan enak. Masih banyak contoh yang dapat kita temui dalam hidup sehari-hari dimana orang yang berkuasa mudah sekali melontarkan tuduhan dan pengadilan pada sesamanya yang dianggap lemah. Pengadilan dan tuduhan semakin kejam bila orang dianggap berbuat dosa yang melanggar susila. Orang mencibirkan bibirnya ketika melihat salah satu anak tetangga hamil sebelum menikah. Mereka ramai menggunjingkan dan mengejek gadis itu, padahal dirinya sendiri belum tentu tidak pernah melanggar norma susila.

Yesus mengingatkan bahwa bila kita menghakimi orang maka kita pun akan dihakimi yang sama. “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Mat 7:22) Perkataan Yesus ini sudah sangat jelas agar kita tidak mudah menghakimi orang lain. Memang kita belum pernah mengadili orang seperti orang-orang yang mengadili perempuan di Bait Allah, tapi kita sering kali menggunjing, mefitnah dan menggosip. Semua itu merupakan pengadilan terhadap orang lain. Dalam menggunjing kita menceritakan tentang keburukan orang. Kita sudah mengadili orang tanpa orang itu mampu membela diri atau menyatakan kebenaran. Bukankan ini pengadilan yang tidak adil sama sekali? Ketika menggunjing orang lain kita merasa diri benar dan orang yang kita bicarakan salah atau buruk. Maka kita dapat bertanya dalam diri sendiri apakah aku sudah cukup baik sehingga menjelekkan sesama dihadapan orang lain? Bila kita tidak pernah merefleksi diri maka kita akan terus merasa diri baik dan mudah mengadili orang lain. Sebaliknya bila sadar bahwa kita juga mempunyai banyak kesalahan, maka kita tidak akan mengunjingkan orang lain.

Refleksi membutuhkan sikap rendah hati. Dengan kerendahanhati maka kita akan mengakui kesalahan atau dosa yang telah kita perbuat dan menerimanya sebagai kelemahan diri lalu mohon ampun pada Tuhan. Bila kita tidak memiliki kerendahanhati maka ketika melihat kesalahan atau dosa, kita akan sibuk mencari pembenaran diri atau menyalahkan orang lain. Seorang anak sering menjadi sombong. Ketika dia mendapat nilai jelek dalam ulangan, maka dia mulai menyalahkan guru, teman, situasi belajar dan sebagainya. Seharusnya semakin tua kita semakin rendah hati. Berani mengakui kesalahan dan dosa. Dalam kisah perempuan tertangkap berbuat zinah dikatakan bahwa orang yang pergi dimulai dari yang tua. Hal ini bukan berarti orang tua mempunyai banyak dosa, melainkan orang tua mampu rendah hati sehingga dia cepat sadar akan kelehaman dirinya.

Maka dalam masa Prapaskah ini kita diajak untuk merefleksi diri dengan semangat rendah hati. Menyadari akan kedosaan diri sendiri. Bukan sibuk mencari-cari kesalahan sesama. Dalam hal ini dibutuhkan situasi tenang agar kita dapat sejenak melihat diri dengan jujur dan mengadili diri kita sendiri sebelum mengadili sesama.

0 komentar:

Posting Komentar