Rabu, 03 Maret 2010

HAYIN


Pengantar: Tulisan ini merupakan sebuah catatan usang yang aku temukan dalam file tentang cerita yang ditulis oleh Hayin salah satu penghuni rumah singgah Yayasan Merah Merdeka. Saat ini Hayin sudah bekerja di sebuah warung kopi. Dia bukan hanya bekerja tapi juga sudah menanamkan modalnya di waruNg kopi itu. Ketika bertemu terakhir kali dia sudah naik motor yang cukup bagus dan katanya sudah kontrak rumah. Dia bersyukur bahwa dia bisa berubah. Catatan ini dibuat ketika dia masih hidup di jalanan.

Nama saya Hayin. Saya berasal dari Bali. Saya lahir di desa Pegayaman, Bali pada tanggal 17 Januari 1987. Saya sampai ke Surabaya ini karena atas kemauan hati saya bukan kemauan orang lain. Saya ke Surabaya punya tujuan tertentu. Bukan untuk hura-hura, tetapi untuk mencari dimana letak masa depan saya. Mungkin di Surabaya inilah saya mendapatkan masa depan yang cerah. Karena memang dari dulu hidup saya susah begini susah, tapi saya nggak pernah menyesali hidup susah, karena ini mungkin pemberian Tuhan. Dan mungkin dari dulu, saat inilah nikmat yang saya dapatkan. Dapat tempat tinggal, makan gratis, sekolah dibiayai. Itu sudah sangat cukup bagi saya.

Disini saya nggak pernah merasa kekurangan, karena kebutuhan-kebutuhan saya selalu terpenuhi. Tapi saya juga berharap agar saya tidak selamanya tergantung pada orang lain. Saya inginnya diri saya sendiri melakukan apa yang bisa saya lakukan. Dan apa yang bisa. Dan jika saya tidak bisa saya akan berusaha. Itulah prinsip hidup saya. Saya memiliki prinsip karena setiap manusia harus memiliki prinsip. Dan prinsip itu sangat penting bagi saya. Karena prinsip bisa mendorong kemauan saya dan apalagi saya sudah tidak memiliki orang tua. Pada siapa lagi saya tergantung kalau bukan pada diri saya sendiri.

Tapi saat ini belum cukup kalau tidak ada orang yang membantu kemajuan saya dan yang saya harapkan adalah kasih sayang, perhatian, pendidikan dari orang yang lebih tua dan apalagi yang dapat menggantikan kedua orang tua yang telah tiada. Dan saya di jalanan tidaklah enak, karena saya sudah merasakan bagaimana rasanya jadi anak jalanan. Selalau mendapatkan hidup yang keras. Selalu kurang perhatian dari orang-orang. Kadang menjadi bahan cacian bagi orang-orang yang lebih mampu dari saya . Dari itu saya ingin hidup saya cerah seperti orang-orang yang sukses dan tidak selalu menjadi baha cemoohan orang-orang.

0 komentar:

Posting Komentar