Sabtu, 13 Maret 2010

PULANG

Pulang ke rumah setelah berpergian adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku dan mungkin juga bagi banyak orang. Memang ketika di rumah aku membayangkan enaknya pergi ke suatu tempat baru dan dapat melihat atau merasakan sesuatu yang baru. Tapi ketika di tempat baru itu aku merindukan rumah. Di tempat baru kadang kala aku menikmati aneka fasilitas yang jauh lebih bagus dibandingkan di rumah, tapi aku merasa ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman. Aku merasa tidak sebebas di rumah sendiri. Aku merasa asing dan ada suatu rasa di rumah yang tidak aku temukan di tempat baru atau di luar rumah. Maka setiap sampai di stasiun atau bandara ada rasa lega dalam hati dan aku ingin berteriak “Aku pulang!”.

Tapi tidak jarang kepulangan menjadi suatu yang berat bila sadar bahwa di rumah ada masalah yang tidak ingin kuhadapi. Ketika tahun-tahun pertama di seminari pulang ke rumah adalah sesuatu yang ingin kuhindari. Aku tahu bahwa di rumah pasti aku akan bertengkar dengan orang tuaku yang tidak setuju dengan keputusanku masuk seminari. Tapi meski demikian tetap saja ada dorongan yang kuat untuk pulang. Dorongan untuk menikmati suasana. Menikmati bantal dan tempat tidur yang ada di rumah. Masakan ibu yang khas dan suasana rumah. Hal ini yang menyebabkan pada masa lebaran ada ribuan orang berbondong-bondong untuk pulang, meski penuh dengan perjuangan dan susah payah. Mereka berani menempuh segala resiko asal dapat pulang.

Dalam perumpamaan tentang anak bungsu yang pergi untuk menghamburkan warisan dari bapanya, akhirnya si bungsu ingin pulang dalam kemiskinan dan kehinaan. Apakah seandainya dia menjadi kaya dan sukses maka dia tidak akan pulang? Aku rasa tidak. Dalam hikayat Malin Kundang, meski si Malin Kundang sudah kaya, tapi dia tetap ingin pulang. Masalah besar adalah dia tidak mampu menerima kemiskinan ibunya, sehingga dia tidak mau mengakuinya sehingga dikutuk menjadi batu. Dengan demikian si bungsu mungkin juga tetap ingin pulang meski dia telah menjadi kaya. Keinginan si bungsu pulang semakin kuat ketika dia sadar akan situasi hidupnya dan membandingkan dengan situasi bapanya. Dia ingin menikmati situasi yang ada di rumah bapanya meski dia sadar akan ketidakpantasan diri, maka dia rela menjadi apa saja asal dapat pulang.

Hidup adalah sebuah perjalanan. Dalam menempuh perjalanan hidup kita dapat berjalan menuju ke Allah atau sebaliknya menjauh dari Allah. Dosa adalah saat kita berjalan menjauh dari Allah. Pada saat kita berbuat dosa ada rasa ingin bertobat. Kita ingin kembali berjalan ke arah Allah. Tapi kita sering lemah sehingga dorongan untuk pulang ke rumah Allah sering kita bunuh dengan aneka alasan yang kita buat dan seolah masuk akal. Kadang kita malu untuk kembali ke Allah sebab sadar bahwa telah banyak dosa yang kita lakukan. Banyak orang tidak ke gereja sebab dia merasa bahwa dia tidak pantas untuk datang ke rumah Allah. Kerinduan untuk kembali ke rumah Bapa sering dibunuh sehingga membuat hati menjadi tidak nyaman.

Kembali ke rumah Allah membutuhkan keberanian untuk mengakui segala dosa kita. Semakin kita sadar akan dosa seharusnya semakin kita sadar akan pentingnya bantuan dari Allah. Hal ini memang membutuhkan kerendahanhati untuk meminta pertolongan Allah dan menyadari dosa. Banyak orang merasa dirinya tidak berdosa sehingga tidak membutuhkan pertolongan Allah. Di sisi lain kita juga menyakini akan belas kasih Allah yang tidak berkesudahan. Hal ini bukan berarti kita dapat berbuat seenaknya dengan keyakinan bahwa toh Allah akan mengampuni. Yesus bersabda “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Yoh 8:11). Belas kasih diberi Allah tapi bukan berarti kita menyalahgunakan anugerah itu. Kita sering ingin pulang terlebih ke rumah Bapa, maka dorongan itu perlu kita pupuk dan kembangkan setiap saat sehingga hidup kita selalu berjalan ke arah Bapa. Kalau toh suatu saat kita jatuh, kita masih mempunyai harapan untuk kembali ke rumah Bapa.

0 komentar:

Posting Komentar