Selasa, 16 Maret 2010

ANDAI KAU TAHU NAK....

Dering bel mengejutkan Murni. Dia segera menutup novel yang sedang dibacanya. Hanya dalam hitungan detik halaman sekolah yang semula dikuasai oleh suara para ibu-ibu yang duduk bergerombol di beberapa tempat, kini tenggelam oleh suara riuh anak-anak. Mereka berebut keluar dari ruang kelas seperti kawanan lebah yang marah karena rumahnya diusik. Teriakan, tertawa dan panggilan nama-nama dengan nada kecil melengking bermunculan dari berbagai penjuru halaman. Beberapa anak berlarian saling mengejar sambil mengejek. Teriakkan marah terdengar dari beberapa anak karena merasa tubuhnya ditabrak anak yang berlarian. Mereka memukul dan balas dipukul. Tiada kemarahan mendalam. Bagi anak-anak semua hanya gurauan. Hidup tidak dihadapi dengan serius.

Murni memicingkan matanya. Mencoba mencari sosok wajah yang terus melekat di benaknya. Wajah yang polos tapi bagaikan sebuah samurai yang menusuk hati. Membongkar masa lalu yang sudah dimasukan dalam peti berkarat. Deretan peristiwa yang ingin disobek dari seluruh perjalanan hidupnya. Pengalaman yang membenamkan dirinya dalam dosa dan dosa yang tiada termaafkan. Murni menggelengkan kepalanya lemah. Dia ingin sejenak mengusir wajah polos yang dilihatnya beberapa waktu lalu. Tapi semakin diusir semakin kuat wajah itu terus menari-nari dalam alam khayalnya siang malam penuh ejekan. Membuat hatinya tercabik-cabik pedih sehingga tak kuasa membendung air mata yang selama ini disimpan rapat-rapat.

Satu demi satu anak-anak di lapangan sekolah mulai berkurang. Mereka pergi dijemput orang tua atau pembatunya atau orang-orang kepercayaan orang tuanya. Hati Murni cemas. Dimana wajah yang dinantikan? Apakah dia tidak masuk hari ini? Sakitkan dia? Siapa yang merawatnya ketika sakit? Air mata Murni meleleh. Dia mengangkat kaca mata minusnya dan berusaha menyeka air matanya. Ditariknya nafas dalam-dalam. Dicari sedikit kelegaan dari uap panas yang mengapung dari halaman. Angin lembut yang melintas menggoyangkan dedaunan pohon mangga yang berdiri rindang di belakang punggungnya.

Murni melirik jam tangan yang melingkari di lengannya. Sudah 10 menit sejak bel berbunyi tapi wajah itu masih belum muncul juga. Mata Murni melihat seorang bapak tua melintas halaman sambil mendorong sebuah becak. Dia berhenti di depan sebuah pintu kelas. Tidak lama kemudian muncul di pintu kelas seorang anak lelaki. Wajahnya tampan. Tingginya sudah sebahu bapak tua penarik becak. Hati Murni berdebar. Air matanya semakin deras meleleh. Bahunya bergoyang-goyang menahan isak tangis. Bapak tua pengemudi becak membantu anak lelaki itu duduk di bangku becak. Becak itu pun berjalan melintas di depan tempat Murni duduk. Ingin rasanya Murni lari menghampiri mereka. Tapi kakinya terpaku di tempatnya. Hanya isak tangis tertahan mengiringi kepergian mereka.

Murni bergegas menuju mobilnya. Dia keluar dari deretan mobil yang tidak seramai ketika dia datang. Perlahan-lahan dia mengikuti becak itu berjalan. Di depan sebuah gang kecil becak itu masuk. Murni memparkir mobil tidak jauh dari mulut gang. Dengan berjalan cepat dia berusaha mengejar becak yang didorong melintasi gang. Di depan sebuah halaman kecil becak itu berhenti. Anak lelaki itu dengan sigap meloncat turun dan berjalan bergegas masuk ke lorong kecil. Wajahnya tampak cerah. Sekilas dia menatap Murni yang berdiri tidak jauh darinya. Hanya sekilas dan sebuah senyum tipis. Dia tertatih berjalan melintasi deretan pintu-pintu kecil rumah bedeng. Bapak pengemudi becak itu menatap Murni sekilas. Sebuah senyum dan anggukan kepala menyadarkan Murni. Dia berjalan terus melintasi bapak pengemudi becak yang sibuk mengatur becaknya.

Beberapa langkah kemudian Murni balik arah. Dia kembali ke mulut gang dimana mobilnya diparkir. Hatinya tidak kuasa menahan kepedihan. Dia menelungkupkan kepalanya di stir mobil. Menangis keras. Kepedihan yang disimpan rapat selama ini seperti mendapat pintu keluar. Pertahanan dirinya jebol. Segala kepalsuan yang disimpannya selama ini terbuka lebar. Senyum anak itu seperti sebuah palu pengadilan yang membuatnya tidak berdaya untuk membuat sebuah pembelaan. Murni menarik nafas berusaha mengontrol dirinya. Sebagai seorang wanita karir yang menduduki jabatan tinggi di sebuah perusahaan dia sudah terbiasa tidak melibatkan perasaan dalam mengambil keputusan. Dia terbiasa memakai topeng untuk menutupi kelemahan dirinya. Anak buahnya yang pada umumnya lelaki sering menjulukinya sebagai wanita besi yang sulit tersenyum. Kini dihadapan anak itu Murni menjadi perempuan lemah yang tidak berdaya.

Murni melihat wajahnya di kaca spion mobil. Dia mengoleskan bedak dan lipstick. Dia tidak ingin ada orang yang melihatnya lemah. Beberapa kali dia menarik nafas panjang untuk mengatasi kegalauan hatinya. Di liriknya selembar koran yang masih terbuka di jok sebelahnya. Foto anak itu terpampang besar. “Cacat Tidak Menghalangi Untuk Meraih Prestasi Dunia” judul artikel yang ditulis dalam huruf besar-besar. Tiga buah foto terpampang besar. Satu ketika anak itu sedang berdiri. Di sisinya ada foto ketika dia melukis. Di bawahnya ada foto hasil lukisannya yang meraih penghargaan dunia.

“Ah anakku,” kata Murni lirih. Air matanya turun kembali. Dia menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Matanya terpejam untuk memulihkan kekuatan dirinya. Tapi sebuah film usang memenuhi alam pikirannya. Tiga belas tahun lalu dia masih seorang mahasiswi tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi terkenal di ibu kota. Suatu hari dia bersama beberapa teman rekreasi ke Bali. Malam hari mereka habiskan di sebuah diskotik yang cukup terkenal. Ada seorang bule yang menatapnya penuh minat. Mereka berkenalan. Dia bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan asing. Perkenalan singkat berlanjut melalui telpon dan surat. Beberapa kali terjadi pertemuan bila bule itu datang ke ibu kota. Sampai akhirnya mereka melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan. Sebuah kebodohan yang didasarkan pada kepalsuan cinta dan ketidakpastian.

Bule itu kembali ke Amerika tanpa kabar berita meninggalkan sebuah janin dalam rahim Murni. Perusahaan tempat bule itu bekerja tidak memberikan alamat yang jelas padanya. Beberapa kali surat kembali dengan alamat tidak dikenal. Murni harus menghadapi masalah seorang diri. Bagaimana dia akan mengatakan semua ini pada orang tuanya yang tinggal jauh di luar pulau? Mereka begitu bangga padanya yang dianggap paling cerdas dan baik dalam keluarga. Apa yang akan terjadi bila mereka tahu bahwa sekarang gadisnya yang sangat dibanggakan hamil tanpa suami? Apakah dia tega melemparkan kotoran ke wajah ayah bundanya yang sudah tua? Apalagi ayahnya sudah sakit-sakitan. Sebuah batu besar menimpa dirinya. Dunia menjadi gelap dan sangat dibencinya. Dia tidak ingin ada orang yang tahu keadaannya. Teman-temannya pun tidak, sebab cerita mereka dapat sampai ke telinga orang tuanya.

Keputusan yang memedihkan diambil. Dia harus aborsi. Berbagai obat diminum. Tapi janin ini tidak mau gugur. Pertolongan seorang dukun yang memijat dan jamu juga tidak mampu menghancurkan janin yang sangat dibencinya. Kandungan semakin besar. Murni makin kalut. Semua jalan buntu. Akhirnya dia pergi ke sebuah kota kecil. Dia kost dan mengatakan pada para tetangga bahwa dia sedang mencari suaminya yang pergi ke kota itu. Kebohongan demi kebohongan dibuatnya sampai lupa apa itu kebenaran. Topeng dipakainya dan berganti peran. Anak itu lahir. Hati Murni bagai dilumat besi gilingan. Hancur luluh lantak. Wajah anak itu tampan. Hidungnya mancung. Matanya kebiruan. Kulitnya putih dan rambutnya hitam lebat. Tapi tanpa lengan. Hanya ada dua daging kecil seperti sayap sebagai pengganti lengannya. Akan aku apakan mahluk kecil ini? Teriak Murni dalam hati.

Keluar dari rumah sakit dia tidak tahu kemana jalan yang harus dituju. Kembali ke kost sampai kapan? Apakah dia akan menghabiskan hidupnya di kota kecil dalam kebohongan dan kepalsuan? Dalam keadaan kalut tukang becak yang ditumpangi mengulurkan tangan. Dia sudah lama menikah dan tidak punya anak. Dia mau merawat bayi cacat yang tidak dikehendakinya. Baginya ini berkah dari Tuhan. Tanpa pikir panjang Murni menyerahkan bayi itu pada tukang becak yang ditumpanginya.

Bertahun-tahun peristiwa itu tenggelam. Murni menyelesaikan kuliahnya dan bekerja. Karirnya melesat cepat. Dia menduduki sebuah jabatan tinggi di sebuah perusahaan. Hatinya yang sudah hancur tidak mampu menerima cinta dari pemuda manapun. Dia tidak ingin dikhianati kedua kalinya. Cukup sekali dia menderita. Desakan orang tua agar dia menikah ditolak halus. Keluarganya menyerah dan membiarkan dia hidup lajang. Sampai beberapa hari lalu dia membaca di sebuah koran kisah tentang seorang anak cacat yang berhasil menjuarai lomba lukis bagi penyandang cacat tingkat dunia. Dia melukis menggunakan kakinya, sebab kedua tanganya tidak ada. Melihat wajah anak itu Murni bergetar hebat. Wajahnya mirip dengan orang bule yang pernah mencintainya.

Dorongan rasa sesal seorang ibu menghantam dirinya. Hukuman nurani sebagai ibu berdosa yang membuang anaknya terus berdengung dalam hati yang terdalam siang malam. Mengapa anakku harus menanggung penderitaan akibat keputusanku yang ceroboh? Pertanyaan yang terus berputar berulang-ulang. Mengapa tega membuang buah cinta? Dia cacat dan tidak pernah melihat ayahnya mengapa aku satu-satunya orang tua tidak mau merawatnya? Dosa apakah yang dia pikul sehingga hidup dalam penderitaan dan kemiskinan sebagai anak tukang becak sedang aku hidup dalam berkelimpahan harta? Air mata Murni berderai. Tangisan di hati lebih terdengar pedih. Tusukan demi tusukan kesadaran membuatnya makin tidak berdaya.

Dia membenahi penampilannya. Membuka pintu mobil dan berjalan lunglai memasuki gang yang lurus dan sempit. Deretan rumah sederhana dilalui seperti deretan saksi yang mencibirkan bibir melihat segala kepalsuan yang dibangunnya. Di kejauhan tampak becak tua itu masih terongok disana. Tanpa penumpang dan pengemudi. Beberapa orang melihatnya dengan mata penuh heran. Jarang sekali ada perempuan cantik, bersih dan mengenakan gaun yang bagus tersesat di gang mereka. Murni tidak peduli. Hidup mereka lebih bersih daripada lembaran hidupku yang kelam. Katanya dalam hati sambil terus melangkah.

0 komentar:

Posting Komentar