Senin, 31 Mei 2010

AGAMA WARISAN PENJAJAH??

Ketika saya menyatakan diri memeluk agama Katolik langsung seisi rumah ribut. Bapak adalah orang pertama yang menentang dengan keras. Alasan bapak menentang bukan soal iman, melainkan soal siapa yang beragama Katolik. Bagi bapak agama Katolik adalah agama orang Belanda. Agama kaum penjajah. Mengapa saya harus memeluk agama warisan para penjajah? Pendapat bapak ini bukan milik bapak sendiri, sebab nenek dan kakek dulu juga mengatakan hal yang sama. Mereka selalu mencibir bila pada hari minggu melihat orang pergi ke gereja. Mereka mengatakan bahwa orang Jawa yang memeluk agama Kristen itu adalah penghianat bangsa. Orang yang tidak pernah mengalami beratnya dijajah. Mereka adalah anteknya penjajah. Hal itu dikatakan pada tahun 1970 an, sebab saya sudah duduk di bangku SD.

Agama Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh orang Arab dari dinasti Umayyah pada tahun 674 di pantai barat Sumatra dan mendirikan kerajaan di Aceh yaitu kerajaan Pasai. Menurut kesaksian Marcopolo pada tahun 1292 sudah banyak orang Arab yang menyebarkan agama di Sumatra. Peninggalan paling tua yang masih ada berada di Gresik yaitu makam Fathimah binti Maimun yang bertahun 1082. Oleh karena Islam masuk ke Indonesia sudah sejak jaman kerajaan dan tidak melalui penjajahan maka tidak dianggap sebagai agama penjajah. Demikian pula Budha dan Hindu yang masuk jauh sebelum Islam masuk. Agama Hindu masuk melalui jalur perdagangan oleh golongan Waisya dari India. Raja Purnawarman yang memerintah Tarumannegara pada tahun 417, adalah raja Hindu yang pertama.

Pengkaitan antara agama Kristen dengan penjajah masih terus melekat pada banyak orang di jaman ini. Sekarang memang sudah sangat jarang para misionaris dari Eropa. Gedung gereja pun sudah dibangun sesuai dengan budaya Indonesia. Demikian pula liturgi dimana beberapa daerah sudah menggunakan nyanyian dan alat musik khas daerah tersebut. Tetapi pakaian liturgi yang digunakan oleh para imam masih menggunakan khas Romawi. Tata cara liturgi pun masih kental nuansa Romawinya. Beberapa orang berusaha untuk menanamkan Gereja dalam budaya lokal, tapi adanya patokan-patokan yang ketat dalam liturgi membuat Gereja masih tampak belum menyatu dengan budaya lokal. Bila Gereja belum menyatu dalam budaya lokal maka gambaran agama kolonial tetap akan terasa dan terlihat oleh masyarakat.

Untuk itu perlu adanya penggalian budaya lokal dan keberanian Gereja untuk menjadi Gereja lokal. Beberapa imam berusaha membuat terobosan dengan memakai baju adat Jawa ketika mempersembahkan misa dengan diiringi gamelan. Tapi masalahnya bukan hanya sekedar baju dan nyanyian melainkan keseluruhan liturgi mencerminkan budaya Jawa. Menurut Wikipedia budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Dengan demikian bila hanya mengambil baju dan lagu maka tampaknya masih belum cukup.

Yesus dalam mengajar para muridNya menggunakan hal-hal yang sangat dipahami oleh muridNya. Berhadapan dengan petani Yesus mengajarkan perumpamaan dari masalah pertanian seperti benih, ladang, masa panen dan sebagainya. Berhadapan dengan para nelayan, Yesus mengajarkan soal penjala, ikan dan sebagainya. Dengan berbicara “lokal” maka segala ajaranNya dapat lebih mudah dipahami oleh pendengar dan mereka menjadi terlibat. Bagaimana dengan Gereja saat ini? Apakah Gereja sudah berbicara secara lokal, sesuatu yang dipahami oleh masyarakat? Sesuatu yang tidak asing bagi masyarakat. Bagaimana orang Jawa dapat melihat Natal sebagai bagian dari dirinya bila Natal identik dengan salju, cemara dan Sinterklas? Masih banyak lagi tampilan Gereja yang terasa asing bagi penduduk lokal. Maka perlu adanya keberanian untuk mengubah budaya Gereja yang masih terasa Eropa menjadi budaya lokal yang dipahami oleh masyarakat setempat.

simak selanjutnya AGAMA WARISAN PENJAJAH?? disini...

Rabu, 26 Mei 2010

KEHADIRAN YANG MENGUBAH

Anthony de Mello menulis catatan pendek, “Bila uskup datang teh yang akan keluar, bila Yesus datang revolusi yang akan keluar.” Kalimat ini sangat menggelitik yang dapat membuat orang tersenyum atau terkejut. De Mello tidak menjelaskan apa-apa mengenai kalimat itu. Dia sengaja membiarkan orang untuk merenungkannya sendiri. Dengan demikian tulisan itu terbuka. Setiap orang boleh menafsirkan sesuai dengan cara pandangnya sendiri. Terlepas dari latar belakang dan tujuannya dari munculnya ide yang dituangkan dalam kalimat itu. Bagiku tidak mungkin orang menulis tanpa tujuan dan latar belakang yang mendorongnya untuk menulis.

Apakah kehadiran Yesus memunculkan revolusi? Menurut Wikipedia revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Hidup Yesus sangat pendek. Dia berkarya hanya 3 tahun. Selama berkarya Dia mengajarkan yang membawa perubahan mendasar dalam bangsa Yahudi. Dia mengubah cara pandang orang Yahudi terhadap orang lain. Bagi bangsa Yahudi sesama adalah sesama kaumnya. Tapi bagi Yesus sesama adalah orang yang mempunyai belas kasih dan kaum miskin. Tidak peduli itu Samaria atau Yahudi. Bagi bangsa Yahudi Sabat itu hari keramat. Bagi Yesus Sabat itu untuk manusia bukan manusia untuk Sabat. Bagi bangsa Yahudi Allah itu jauh dan tidak tersentuh. Bagi Yesus Allah itu Bapa yang penuh belas kasih. Bagi bangsa Yahudi orang berdosa itu harus dikucilkan. Bagi Yesus orang berdosa itu harus dicari dan diselamatkan, sebab mereka juga anak Abraham. Masih banyak perubahan mendasar yang dilakukan oleh Yesus untuk terbangunnya budaya baru yaitu budaya yang didasarkan pada hukum utama dan terutama yaitu kasih kepada Allah dan sesama. Tapi Yesus menentang revolusi berdarah. Maka Dia menegur Petrus yang membawa pedang. Dia juga menegur Yohanes yang ingin menghancurkan sebuah desa.

Kehadiran Yesus membawa perubahan mendasar dalam masyarakat. Kehadiran Yesus kini diwakili oleh Gereja. “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Mat 18:20). Dengan demikian bila Gereja hadir di suatu tempat maka akan terjadi revolusi dalam masyarakat itu. Tidak jarang kita mendengar penolakan gedung gereja di suatu tempat. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada masyarakat yang mempunyai pandangan sempit bahwa saudara atau sesama ialah mereka yang beragama sama, sehingga pemeluk agama lain dianggap musuh yang harus dihilangkan. Maka perlu ada revolusi yang mengubah cara pandang masyarakat. Apakah Gereja sudah melakukan revolusi dalam masyarakat?

Revolusi membutuhkan keteladanan pemimpin. Yesus membangun komunitas sebagai contoh komunitas yang telah berevolusi. Komunitas dengan hukum-hukum baru. Tapi semua dimulai dari diriNya sendiri. Dia memberikan teladan. “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13:15). Apakah keteladanan Yesus hanya untuk mencuci kaki orang lain? Seluruh hidup Yesus adalah keteladanan yang harus kita ikuti. Hanya masalahnya kita mengikuti keteladanan Yesus dengan mencari mana yang aman atau menguntungkan diri. Bila tidak maka pura-pura tidak tahu. Mengikuti Yesus adalah sebuah resiko dan kesiapan untuk memikul salib setiap hari.

Revolusi membutuhkan keberanian. Banyak orang Katolik yang penakut atau hanya jago kandang. Di dalam komunitas Katolik mereka seolah hebat dan berlaku keras terhadap umat dan sesama tapi di luar Gereja tidak berani menyerukan apa-apa. Mereka diam ketika ada keadilan diinjak-injak. Ketika kaum miskin ditindas. Bahkan ketika tempat ibadah dihancurkan. Alasan klasik adalah kita harus mengasihi atau kita tidak perlu terlibat hal itu, sebab dapat membahayakan. Maka benar apa kata de Mello di atas. Bila kita datang hanya teh yang muncul. Tidak ada perubahan.

simak selanjutnya KEHADIRAN YANG MENGUBAH disini...

GEREJA RAKYAT

Gustavo Guiterrez Merino OP (8 Juni 1928-) dikenal sebagai pencetus teologi pembebasan di Amerika Selatan. Teologi ini sangat berpihak pada rakyat miskin, sehingga dituduh berbau Marxis atau mengusung ideologi Marx ke dalam Gereja. Vatikan menjadi gerah dan melarang teologi ini, sebab dianggap dapat mengajak rakyat untuk mengangkat senjata seperti gerilyawan Sandinista di Nikaragua. Sandinista adalah partai yang didirikan oleh Augusto Ceasare Sandino pada tahun 1930. Mereka melawan kekuasaan Amerika yang menguasai Nikaragua. Gerakan ini menganut paham Marxis atau sosialis.

Gustavo yang hidup dalam kemiskinan rakyat Peru berusaha menafsirkan Kitab Suci sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Baginya iman adalah perbuatan untuk menegakkan keadilan dan membebaskan rakyat miskin dari penindasan. Yesus datang ke dunia untuk membebaskan rakyat miskin. Hal ini diungkapkan sejak awal sebelum Dia melakukan karyaNya. "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk 4:18-19). Selama hidup Yesus berpihak dan membela orang yang dikucilkan, ditindas, dan kelompok minoritas. Dia pun melawan sistem yang memberatkan rakyat. Akibatnya Dia sering bertengkar melawan para penguasa baik pemerintahan maupun agama, kaum Farisi yang menjaga adat istiadat Yahudi, para imam kepala dan tua-tua Yahudi. Mereka kuatir bahwa gerakan yang diajarkan Yesus akan mengguncangkan kedudukan mereka.

Menurut Gustavo, Gereja adalah, atau seharusnya, orang miskin yang menerima Injil. Mereka yang solider dengan kepentingan-kepentingan, aspirasi dan perlawanan orang-orang tertindas dan tertekan dalam dunia. Gereja adalah Gereja rakyat miskin yang berusaha menanggapi panggilan Yesus untuk membebaskan diri dari penindasan dan membangun persaudaraan yang setara. Injil tidak lagi berbicara hanya masa depan yang jauh tentang akhir jaman, neraka atau surga tapi juga berbicara situasi kongkrit yang sedang terjadi ditengah masyarakat. Injil itu menyejarah bukan kitab yang turun dari surga. Yesus adalah Firman Allah. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,” (Yoh 1:14). Firman yang membawa terang dan harapan bagi manusia yang tertindas akibat sistem yang tidak adil.

Di lain pihak Yesus dengan belas kasihNya mengajak orang untuk bertobat dengan mengubah perilaku tidak adil dan sewenang-wenang menjadi perilaku yang berbelas kasih terutama kepada kaum miskin. Seruan keadilan dimulai oleh Yohanes Pembaptis (Luk 3:10-14). Bila orang bertobat maka dia harus solider dengan orang miskin, tidak memeras dan merampas. Yesus pun dengan tegas menyatakan bahwa siapa yang ingin selamat dia harus berani berbagi dengan orang miskin, sebab Dia ada dalam diri orang miskin (Mat 25:31-46). Dengan demikian iman bukan sekedar percaya akan Yesus sebagai juruselamat melainkan terwujud dalam tindakan nyata yaitu berbelas kasih kepada kaum lemah dan terlibat dalam karya pembebasan kaum miskin.

“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” (Yak 2:19). Setan percaya pada Tuhan tapi tidak mewujudkan dalam tindakan, sedangkan orang beriman percaya pada Tuhan dan mewujudkan dalam tindakan belas kasih. Gustavo menekankan bahwa iman bukan sekedar berdoa dan percaya tapi iman adalah tindakan penyelamatan manusia dari kemiskinan seperti Allah yang berpihak dan terlibat dalam penderitaan manusia. Iman adalah mewartakan kabar gembira pada kaum miskin dalam perkataan dan perbuatan. Hal ini tidak mudah. Berpihak dan terlibat dalam perjuangan kaum miskin sering dituduh memberontak. Yesus pun dituduh menghasut rakyat untuk melawan kaisar. Tapi inilah pilihan kita. Mengikuti Yesus berarti siap untuk berjuang melawan ketidakadilan.

simak selanjutnya GEREJA RAKYAT disini...

REVOLUSI SOSIAL

Media akhir-akhir ini membuat aku dan banyak teman menjadi bingung. Ketika orang kagum pada kinerja KPK tiba-tiba pimpinan KPK tersangkut kasus pembunuhan dan perempuan. Belum lagi kasus itu selesai muncul kasus Century Bank. Muncul pansus DPR yang ditayangkan stasiun TV setiap hari. Belum tuntas kasus Century muncul kasus Susno Duaji lalu Gayus yang membuat orang terbelalak. Seorang pegawai golongan IIIA mempunyai uang dalam rekening 25 M, rumah sekitar 1,3 M, apartemen dan sebagainya. Belum selesai kasus Gayus muncul lagi kasus mundurnya Sri Mulyani dari kedudukannya sebagai menteri keuangan. Lalu diikuti terbentuknya sekber dengan Bakrie sebagai ketua, yang menimbulkan pro dan kontra. Belum lagi berita tentang penembakan terhadap para teroris yang semakin sering.

Rakyat seperti diajak menonton sebuah sinetron dengan cerita yang loncat-loncat. Mungkin memang dari semua kejadian itu ada benang merahnya tapi masih banyak orang yang tidak mampu melihat benang merah kecuali benang ruwet. Hal yang pasti adalah adanya ketidakberesan di pusat kekuasaan. Akibat ketidakberesan dalam waktu yang lama maka kasus demi kasus muncul berurutan. Rakyat seperti diajak melihat aneka borok yang sudah menahun di tubuh bangsa ini. Orang jadi bingung borok mana yang parah dan perlu diobati terlebih dahulu? Semua seperti borok yang kait mengkait membuat bangsa ini terpuruk. Banyak orang menjadi sadar bahwa selama ini telah terjadi pembodohan rakyat yang terus menerus dan sistematis.

Akibat pembodohan ini banyak orang menjadi apatis terhadap pemerintahan dan slogan pembangunan pemerintah yang bersih dan jujur. Apakah mungkin akan terjadi pemerintahan yang bersih? Melihat semua itu maka aku berpikir yang dibutuhkan bangsa ini bukan reformasi melainkan revolusi. Selama ini didengungkan adanya reformasi dalam aneka bidang. Janji beberapa tokoh bahwa reformasi ini membutuhkan puluhan tahun untuk sampai pada pemerintahan yang baik. Tapi pertanyaanya apakah reformasi akan berjalan sesuai dengan tahapan demi tahapan? Ada kemungkinan ditengah jalan reformasi ini macet dan kembali ke habitus lama.

Kita membutuhkan revolusi seperti yang dijalankan oleh Yesus. Revolusi biasanya dipahami sebagai revolusi politik yaitu usaha untuk merebut kekuasaan politik dan menggantikannya dengan orang yang baru. Negara kita pernah melakukan revolusi politik. Tapi hasilnya masih tetap seperti sekarang. Yesus menawarkan revolusi yang lain yaitu revolusi sosial. Sebuah perubahan mendasar dalam hukum, budaya, dan mentalitas manusia. Perubahan ini terarah pada akar masalah dan dilakukan secara cepat. Pokok sasaran bukan hanya sistem tapi terlebih manusianya. Setiap orang harus menjadi manusia baru. Bila hanya mengubah pemerintahan dengan melakukan kudeta, maka penggantinya tidak akan beda dengan yang digantikan, misalnya beberapa negara di Afrika yang kudeta berulang kali tapi tetap miskin.

Bagi Yesus reformasi tidak menyelesaikan masalah. Reformasi berarti pembaharuan dimana mentalitas lama tetap masih dipertahankan. “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.” (Mat 9:16). Reformasi bagaikan menambal kain baru pada baju yang tua. Di negara kita beberapa tokoh baru yang bagus masuk dalam pemerintahan yang tua, maka mereka menjadi terpental atau mereka menjadi sama dengan orang yang lama. Bila ingin mengadakan perubahan maka perlu membuang semuanya dan membuat baru.

Revolusi dimulai dari diri sendiri. Bagaimana mungkin kita akan mengubah pemerintah bila kita sendiri tidak berubah. Kita lebih suka membayar pada polisi di jalan daripada sidang atau membayar pegawai kelurahan daripada mengurus KTP sendiri. Mulai dari kita untuk hidup jujur dan adil. Apakah mungkin? Yesus pun dulu mengawali perubahan hanya dengan 12 rasul dan satu berkhianat, namun kini gerakanNya sudah mendunia.

simak selanjutnya REVOLUSI SOSIAL disini...

ALLAH YANG BERPIHAK

Sejak awal kisah penciptaan Allah sudah menunjukkan posisiNya yaitu berpihak pada kaum tertindas dan lemah. Ketika Kain membunuh Habel, maka Allah berpihak pada Habel. “Firman-Nya: "Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.” (Kej 4:10). Dalam perjalanan sejarah bangsa Israel selanjutnya Allah selalu menunjukkan posisiNya dengan tegas. Melalui orang-orang pilihanNya, Allah mengadakan pembelaan pada kaum tertindas. Musa diutus untuk membebaskan bangsa yang diperbudak oleh Mesir. Samson, Amos, Hosea, Yesaya dan semua nabi mendapat perutusan untuk membela kaum miskin dan lemah. Puncaknya adalah Yesus yang membongkar akar dari penindasan dan membangun komunitas yang lebih baik.

Para nabi dalam Perjanjian Lama mengecam para penguasa yang bertindak tidak adil. Misalnya Amos yang mengecam orang yang memperkaya dirinya sendiri, "Dengarlah firman ini, hai lembu-lembu Basan, yang ada di gunung Samaria, yang memeras orang lemah, yang menginjak orang miskin,” (Am 4:1) atau Yesaya yang mengecam pembuat aturan, “Celakalah mereka yang menentukan ketetapan-ketetapan yang tidak adil, dan mereka yang mengeluarkan keputusan-keputusan kelaliman,” (Yes 10:1). Para nabi menyerukan hukuman Allah yang akan menimpa orang yang berlaku kejam terhadap sesamanya. Gambaran hukuman Allah yang diserukan para nabi sangat mengerikan. Bahkan pembuangan Babel dianggap sebagai hukuman Allah terhadap Israel yang telah berlaku tidak adil dan rajanya tidak mau mendengarkan suara Allah.

Yesus tidak melakukan sama seperti para nabi terdahulu. Dia tidak mengecam para penindas atau mengancam hukuman yang mengerikan, melainkan mengubah sistem yang tidak adil. Bila yang diubah hanya orangnya sedangkan sistem tidak diubah maka penindasan akan terjadi lagi. Lebih jauh lagi Yesus mencabut akar kejahatan yaitu karena orang telah kehilangan kasih kepada Allah dan sesamanya. Hukum-hukum pun diberi pendasaran baru. Dalam Kotbah di bukit Yesus dengan jelas dan tegas memberi nilai baru pada hukum yang telah dimanipulasi. Dia memberi tafsiran baru. “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Mat 5:27-28). Disini orang tidak lagi berpatok pada hukum tertulis tapi pada hati nurani. Maka perubahan Yesus sangat mendasar yaitu dari hati nurani manusia. Segala hukum, sistem dan tata aturan ibadah dapat dimanipulasi atau disesuaikan demi kepentingan yang berkuasa. Sedangkan hati nurani tidak dapat dimanipulasi. Maka orang harus jujur. “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Mat 5:37)

Kehadiran Yesus bukan saja membongkar sistem dan hukum yang ada, tapi juga menunjukkan keterlibatan Allah dalam masalah manusia. Dia menunjukkan dalam hidupNya yang miskin dan keberpihakkannya pada orang-orang yang ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang. Dia berteman dengan Zakheus, membela perempuan yang tertangkap berbuat jinah, mengangkat Simon orang Zelot menjadi salah satu muridNya. Zelot adalah kelompok pemberontak melawan penjajah Romawi. Membela anak-anak yang dianggap warga kelas dua. Membela orang Samaria. Tindakan penyembuhannya juga untuk mengangkat martabat manusia. Akibatnya Dia banyak menuai kritik dan menciptakan permusuhan dengan para pemimpin yang ingin tetap mapan. Tapi Yesus tetap konsisten. Dia terus berjuang bersama rakyat miskin.

Gereja adalah kelanjutan komunitas yang dibangun oleh Yesus. Maka mau tidak mau Gereja harus secara nyata terlibat dalam penderitaan dan aneka masalah kaum miskin. Tidak bisa Gereja hanya menjadi penyeru seperti para nabi, tapi Gereja harus berada di tengah kaum miskin dan berjuang bersama kaum miskin melawan penindasan. Bila Gereja hanya sibuk membenahi tata cara ibadah, lagu-lagu atau gedung tapi tidak tegas berpihak pada kaum miskin, maka Gereja kehilangan semangat awalinya. Gereja menjadi mandul dan tidak mencerminkan kehadiran Allah yang berpihak.

simak selanjutnya ALLAH YANG BERPIHAK disini...

TEOLOGI KAUM MISKIN

Teologi secara sederhana dapat diartiakan sebagai ilmu tentang refleksi rasional sistematis mengenai iman. Pemaknaan sederhana tentang teologi menunjukkan adanya 3 unsur dalam teologi yaitu refleksi, rasional dan iman. Refleksi adalah usaha manusia untuk melihat situasi yang dialami atau yang terjadi di sekitarnya dalam terang iman. Rasional adalah usaha manusia untuk mengungkapkan imannya dengan pertimbangan akal budi. Sedangkan iman adalah suatu pengalaman dimana kita menanggapi kabar gembira Allah dan mengakui Allah sebagai pencipta semesta serta mengakui apa yang dikerjakan bagi keselamatan kita.

Para teolog yang terlibat dalam kehidupan masyarakat berusaha merefleksi realitas yang ada dan berusaha membuat sistematisnya. Munculnya teologi pembebasan, teologi Minjung, teologi Dailit, teologi Hitam dan sebagainya disebabkan para teolognya terlibat dan bergulat dengan realitas masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, disingkirkan, ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang. Mereka merasa teologi yang ada tidak memberikan jawaban atas aneka masalah yang digulatinya. Maka mereka membangu sebuah konstrukis teologi yang baru. Teologi yang dilihat dari sudut pandang rakyat miskin dan menderita. Mereka bertanya apa yang akan dilakukan Yesus bila menghadapi situasi seperti ini. Mereka membangun harapan-harapan akan pembebasan seperti yang dikehendaki Allah. Mereka berusaha menterjemahkan tindakan Allah bagi manusia dalam situasi seperti ini. Maka meski semua teologi itu melihat dari sudut rakyat miskin tapi ada perbedaan satu dengan yang lain, sebab realitas kemiskinan masyarakatnya yang berbeda. Masalah kemiskinan masyarakat dan budaya masyarakat miskin di Amerika Selatan berbeda dengan India dan Korea. Dengan demikian teologi sangat kontekstual sebab muncul dari masyarakat dan berusaha menanggapi masalah masyarakat setempat.

Menurut DR Joseph Neetilal IMS (Serikat Misionaris India) munculnya teologi Dailit dari masyarakat kasta Avarna, masyarakat diluar keempat kasta. Orang yang paling rendah kedudukannya dalam strata kasta di India. Teologi ini berkembang bukan dari para pemimpin Gereja tapi dari masyarakat. Sebab para pemimpin Gereja di India berasal dari strata kasta atas dan menikmati rasa aman baik secara institusional maupun finansial. Mereka kurang terlibat dalam perjuangan kaum tertindas sehingga tidak mampu merefleksikan pengalaman penderitaan dan perjuangan masyarakat. Kotbah-kotbah mereka hanya menyatakan ada kemiskinan tapi pembebasan kaum miskin tidak menjadi pilihan utamanya. Pembelaan pada kaum miskin hanya dapat muncul bila seseorang mau terlibat secara penuh dalam kehidupan kaum miskin.

Kemiskinan ada dimana-mana dan dalam aneka bentuk. Indonesia pun mempunyai banyak realitas kemiskinan yang berbeda. Kemiskinan di Jawa berbeda dengan di Nusa Tenggara, Papua, Kalimantan dan sebagainya. Setiap daerah mempunyai bentuk kemiskinan yang berbeda meski intinya sama dimana manusia diperlakukan tidak adil oleh sesamanya. Ada manusia yang merasa dirinya memiliki kekuasaan lebih sehingga dapat merampas tanah, menindas sesama, memanipulasi dan membeli hukum dan aparat keamanan demi kepentingannya dan sebagainya. Untuk itu perlu digali teologi-teologi lokal. Untuk memunculkan teologi Papua, Kalimantan atau sebagianya, perlu ada komitmen dari orang-orang untuk terlibat dan sungguh berjuang bersama dan untuk rakyat miskin. Membuat metode-metode pembebasan dan mengorganisir rakyat.

Keterlibatan dalam masyarakat miskin bukanlah sebuah pilihan yang mudah. Orang akan dicurigai dan dicap sebagai orang kiri, revolusioner atau subversif. Dia akan berhadapan dengan aparat negara dan Gereja sendiri. Gereja yang sudah menikmati keamanan dan kenyamanan dapat merasa terganggu, sebab kuatir apa yang dinikmati saat ini akan hilang. Yesus memilih terlibat dalam perjuangan rakyat miskin daripada menjadi raja atau berkompromi dengan penguasa agama dan pemerintahan yang tidak adil. Sebuah pilihan yang membawaNya ke bukit Golgota.

simak selanjutnya TEOLOGI KAUM MISKIN disini...

Selasa, 25 Mei 2010

IMAM KOMUNIS (Renungan 4 tahun Lapindo)

Siang itu warga Renokenongo yang tinggal di Pasar Baru Porong mengadakan aksi di jalanan Porong. Mereka menuntut realisasi ganti rugi yang dijanjikan pihak Lapindo. Aku sudah lama terlibat dalam pendampingan kurban lumpur. Pada akhir pertemuan malam itu aku diberitahu oleh seorang warga agar hati-hati sebab namaku dan nama seorang teman sudah dicatat dan diawasi oleh pihak aparat. Beberapa aparat sudah mengenal wajahku, tapi belum mengenal wajah temanku.

Aksi dimulai pukul 9 dan dibuka dengan iring-iringan memakamkan seorang warga yang meninggal di pengungsian. Sejak pagi aparat sudah mengepung Pasar Baru Porong tempat para pengungsi kurban lumpur. Ratusan aparat keamanan dan intel menyebar di warung-warung makan dan setiap sudut pasar. Setelah pemakanan aksi dilanjutkan dengan menutup sebagian jalan. Ketika sedang berada di tengah aksi masa ada seorang berbadan gemuk datang menghampiriku. Dalam pembicaraan beberapa kali dia menyebut namaku. Aku semula berpikir dia adalah salah satu warga kurban lumpur. Tapi kemudian dia memegang tanganku dan membawaku ke asrama brimob yang tidak jauh dari sana. Ternyata dia seorang intel. Dia tanya dimana temanku. Aku jawab mungkin sedang memotret, padahal temanku berdiri hanya tiga langkah dariku.

Di asrama brimob aku berhadapan dengan beberapa aparat yang dipimpin kapolres. Mereka menegurku sebab terlibat dalam aksi perlawanan rakyat Porong. Menurut mereka tempatku bukan disini. Aku mengatakan bahwa aku akan berada di tempat orang tertindas dan miskin. Seorang aparat lalu menyebutku imam kiri, komunis. Aku terhenyak mengapa aku dikatakan komunis? Mengapa orang yang berjuang bersama kuam miskin disebut komunis? Setelah 30 menit ditahan untuk mendengarkan ceramah dan perintah agar menyingkir dari tempat ini, aku dilepas oleh mereka. Aku pun kembali ke tengah masa aksi dan terus diawasi oleh intel.

Bagi banyak orang keterlibatan seorang imam dalam sebuah gerakan perjuangan rakyat miskin dianggap sebagai salah tempat. Mereka berpendapat bahwa tempat seorang imam adalah di dalam perayaan sakramen. Bukan di tempat demonstrasi. Pendapat ini bukan hanya muncul di antara orang non Katolik tapi juga di tengah umat Katolik. Banyak imam dan umat Katolik yang tidak setuju bila imam menyerukan ketidak adilan, penindasan, dan perjuangan rakyat miskin. Imam hanya boleh berbicara soal kesabaran, kasih, dan sebagainya. Apakah Yesus mengajarkan seperti itu?

Dom Helder Camara (7 Februari 1909-27 Agustus 1999) uskup Olinda dan Recife, Brasil menulis dalam Church and Colonialism, bila dia berkotbah dihadapan para buruh dalam misa yang diselengarakan oleh orang kaya agar buruh taat pada atasan, sabar dan menunaikan tugasnya untuk para majikan, maka dia akan disebut uskup yang saleh. Dia pun akan diundang untuk misa disana lagi. Tapi bila dia berkotbah agar para tuan tanah mengedepankan hak-hak buruh, maka dia akan dikatakan sebagai uskup progresif, revolusioner, komunis. Tulisan ini merupakan kritik keras bahwa Gereja pun sering terjebak oleh kekuasaan yang tidak adil, sehingga menindas kaum miskin.

Yesus datang ke dunia untuk berpihak pada kaum marginal. Orang yang disingkirkan dan kaum miskin. KeberpihakanNya pada kaum miskin membuat Dia menolak untuk menjadi penguasa. “Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.” (Yoh 6:15). Dia pun akhirnya harus berhadapan dengan penguasa dengan tuduhan menghasut rakyat. “Di situ mereka mulai menuduh Dia, katanya: "Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar.” (Luk 23:2). Bila Yesus tegas mengambil posisi bagaimana dengan Gereja terutama para imamNya? Apakah ingin menjadi imam saleh atau berani menjadi imam yang dicap sebagai progresif, revolusioner dan komunis?

simak selanjutnya IMAM KOMUNIS (Renungan 4 tahun Lapindo) disini...

Minggu, 23 Mei 2010

ALLAH DALAM PENDERITAAN

Banyak orang mulai serius bergulat dengan Allah ketika dia masuk dalam penderitaan. Orang mempertanyakan kaitan antara kekuasaan Allah dengan penderitaan atau kejahatan manusia yang membuat sesamanya menderita. Epikurus (341 SM-270 SM) seorang filsuf Yunani menulis, “Atau Allah mau untuk melenyapkan kejahatan tapi tidak mampu, atau Dia mampu tapi tidak mau atau Dia tidak mampu dan tidak mau. Jika Dia tidak mampu melenyapkan kejahatan berarti Dia lemah. Bila Dia tidak mau melenyapkan kejahatan berarti Dia jahat. Ini sesuatu yang asing bagi kita. Bila Dia tidak mampu sekaligus tidak mau maka Dia lemah sekaligus jahat.” Bila Dia mampu dan mau maka tidak akan ada kejahatan dan penderitaan di dunia sehingga orang tidak perlu lagi bergulat atau mempertanyakan Allah.

Bagi orang beriman yang menyakini bahwa Allah itu Mahakuasa dan penuh belas kasih, adanya penderitaan semakin membuatnya bergolak. Apalagi bila penderitaan itu menimpa atau orang saleh atau orang yang beriman pada Kristus. Sejak kekristenan muncul sudah jutaan orang dibunuh sebab mereka percaya pada Kristus. Stefanus adalah orang Kristen pertama yang dibunuh. Setelah para rasul yang dibunuh satu demi satu. Pada jaman Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus menjadi kaisar Roma tahun 54-68 ada banyak ribuan orang Kristen yang dibunuh termasuk Petrus dan Paulus hanya demi kepuasan diri. Pada abad XX ribuan orang Kristen dibunuh di Turki, Cina, Jepang dan sebagainya. Mengapa Tuhan membiarkan mereka dibunuh?

Shusaku Endo (27-3-1923 sampai 29-9-1996) menulis novel berjudul Silence (1966) yang menceritakan tentang pergulatan misionaris Portugis bernama Rodriques yang menjadi saksi pembunuhan banyak umat Katolik oleh gubernur Chikugo sampai akhirnya Rodriques sendiri ditangkap dan disiksa. Dia bergulat dimana Tuhan? Mengapa Tuhan diam saja melihat penderitaan umatNya? Siksaan membuat Rodriques terpaksa menginjak-injak gambar Yesus dan Maria dari perungu yang disebut fumie. Dia melakukan atas dorongan Yesus sendiri untuk menginjak-injakNya, sebab Dia memang lahir untuk dinjak-injak, untuk menanggung penderitaan manusia. Yesus tidak bersembunyi tapi ada di sebelah Rodriques untuk menanggung penderitaannya.

Kita mengikuti Yesus sering berharap bahwa kita akan mendapat banyak berkat dan kebahagiaan. Doa-doa akan dikabulkan dan kita dibebaskan dari segala penderitaan. Kita akan sukses dan bahagia. Pandangan ini ada benarnya, sebab Tuhan memang menjanjikan dan melakukan semua itu. Tapi ada tindakan-tindakan Tuhan yang penuh misteri yang tidak bisa kita pahami. Penderitaan, kegagalan, doa yang tidak dikabulkan dan aneka hal yang tidak kita harapkan. Pada saat itulah kita menjadi goyah dan bertanya-tanya. Sebetulnya bila kita memandang salib, kita melihat Tuhan yang rapuh. Tuhan yang kalah. Tuhan yang dihina. Bukan Tuhan yang kuat dan berkuasa. Orang-orang disekitar salib pun berharap ada kekuasaan yang akan muncul, tapi harapan mereka tidak terwujud. Yesus tetap tergantung disalib dengan mengerikan.

“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku.” (Mat 27:46). Penderitaan yang sedemikian hebat membuat Yesus merasa Allah telah meninggalkan Dia. Dia berteriak tapi Allah diam. Teriakan Yesus merupakan teriakan ribuan bahkan jutaan orang yang menderita sehingga mereka merasa Allah diam bahkan ada yang mengatakan Allah telah mati. Apakah Allah diam dan tidak menyelamatkan Yesus? Allah memberikan kemuliaan dengan kebangkitanNya yang mulia. Bila kuasa Allah menurunkan Yesus dari salib, mungkin kebangkitan tidak akan terjadi. Dia diam sebab mempunyai rencana lebih besar lagi yaitu kebangkitan yang mulia. Yesus pun tidak akan pernah meninggalkan kita. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:20). Dia akan tetap disamping kita dalam suka dan duka. Yesus ada disamping kita merasakan penderitaan kita.

simak selanjutnya ALLAH DALAM PENDERITAAN disini...

Rabu, 19 Mei 2010

PENGENDALIAN DIRI

Kisah pencucian kaki oleh Yesus kepada para muridNya senantiasa diulang setiap tahun dalam liturgi Kamis Putih. Hal yang sering diungkapkan dan dibahas dalam beberapa buku adalah tentang kerendahan hati seorang guru yang mencuci kaki para muridnya. Seorang guru yang mengosongkan dirinya dan melepaskan statusnya untuk menjadi hamba. Tapi dalam kasih ini ada hal yang sering dilupakan yaitu tentang kasih yang tidak berkesudahan. Yesus mengasihi semua muridNya sampai akhir hidupNya. “Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.” (Yoh 13:1). Semua murid termasuk Yudas.

Begitu besar kasih Yesus, maka meski Dia tahu bahwa Yudas akan menghianatiNya, Dia tetap membasuh kaki Yudas. Bila kita membayangkan situasi itu, betapa pedih hati Yesus. Sebentar lagi Yudas akan menyerahkan DiriNya kepada para imam dan tua-tua Yahudi, sehingga Dia akan ditangkap dan dihukum mati setelah menjalani penderitaan. Bila Yesus tidak tahu siapa yang akan mengkhianati dan apa yang akan dijalaniNya, mungkin hal itu tidak akan begitu tragis. Tapi sejak jauh hari Dia sudah tahu bahwa Dia akan menjalani kesengsaraan dan mati yang mengerikan. Dia pun tahu siapa yang akan menyerahkan DiriNya. Maka pencucian kaki Yudas merupakan pembuktian cinta Allah yang sangat besar kepada semua orang tanpa pandang bulu. “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat 5:45). Realisasi tentang ajaran untuk mengasihi musuh dan tidak berusaha membalas dendam.

Sering kali kita bila tidak suka pada seseorang, maka kita akan memperlakukan orang itu secara berbeda. Tidak jarang ada orang tua yang memperlakukan anaknya secara berbeda. Satu anak dimanjakan sedangkan yang lain tidak dihiraukan. Padahal mereka adalah anak-anaknya. Mereka tidak berkhianat seperti Yudas. Hanya mungkin mereka kurang taat atau memilih hidup yang tidak sesuai dengan pandangan orang tua. Demikian pula dalam menjalani hubungan dengan orang lain. Kita sering kali dipengaruhi rasa suka dan tidak suka. Bila kita suka pada seseorang maka semua akan kita berikan dengan suka cita. Sebaliknya bila tidak suka maka kita akan pelit padanya.

Untuk melakukan kasih seperti Yesus dibutuhkan rasa cinta dan pengendalian diri yang sempurna. Dalam Perjanjian Lama orang yang mampu mengendalikan diri secara sempurna adalah Abraham. Dia sudah lama menunggu seorang anak. Ketika tua dia baru mendapat anak dari istrinya. Tapi suatu hari Tuhan memerintahkan agar dia mengorbankan Ishak. “Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kej 22:2). Dalam ayat itu Tuhan secara jelas menyebutkan posisi Abraham tentang Ishak, yaitu anak tunggal yang dikasihi. Bagaimana perasaan Abraham ketika berjalan bersama Ishak berdua mendaki gunung? Mungkin dia sengaja meninggalkan hambanya agar dapat berdua bersama Ishak untuk menikmati saat-saat akhirnya. Bagaimana perasaan Abraham ketika Ishak bertanya dimana domba yang akan dikurbankan setelah melihat semua persiapan selesai? Andai kita menjadi Abraham apakah yang akan kita lakukan?

Kasih Abraham kepada Allah jauh lebih besar daripada kasihnya kepada Ishak. Maka meski dia sangat mencintai Ishak, tapi dia rela menyerahkan Ishak sebagai kurban. Demikian pula kasih Yesus kepada murid-muridnya sangat besar sehingga Dia rela menjadi hamba bagi musuhNya. Rasa kasih yang besar membuat Abraham dan Yesus mampu mengendalikan diri. Mereka melakukan dalam diam meski hati bergolak diliputi kecemasan dan kepedihan. Kita pun perlu belajar untuk mengendalikan diri sehingga tetap dapat melakukan segala sesuatu dengan tenang meski hati bergolak. Hal ini selain membutuhkan cinta yang besar juga kedewasaan dan kematangan seseorang.

simak selanjutnya PENGENDALIAN DIRI disini...

Rabu, 12 Mei 2010

APAKAH AKU MENCINTAI ALLAH???

Anthony de Mello menceritakan ada seorang lelaki pendek yang mencintai seorang gadis yang tinggi. Suatu malam mereka bertemu. Lelaki itu meminta agar diperbolehkan mencium kekasihnya. Gadis itu mengijinkan. Maka lelaki itu mengambil kotak besi. Dia naik di atasnya dan mencium gadis itu. Lalu mereka jalan kaki mengelilingi kota. Pada tengah malam sebelum berpisah, lelaki itu menyatakan ingin mencium lagi. Gadis itu menjawab bahwa cukup mencium sekali untuk satu malam. Lelaki itu berkata dengan marah, “Lalu buat apa aku membawa besi yang berat ini selama berjalan denganmu!”

Lelaki yang sedang jatuh cinta itu tidak merasakan beban berat ketika harus membawa kotak besi. Adanya cinta dalam hati membuat beban yang berat menjadi ringan. Tapi ketika sadar adanya penolakan, maka beban berat itu menjadi terasa. Cinta adalah daya atau kekuatan yang mendorong seseorang untuk senantiasa menyatu dengan yang dicintainya. Kekuatan itu begitu besar sehingga mampu memberikan tenaga lebih pada seseorang. Memberikan keberanian dan ketabahan dalam menjalani rintangan. Bahkan keberanian untuk mengurbankan segala sesuatu bagi yang dicintainya. Dalam legenda Jawa ada kisah tentang Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang. Oleh karena cintanya yang besar pada Roro Jongrang maka Bandung Bondowoso menyanggupi untuk membangun 1000 candi dalam satu malam. Tapi akibat kelicikan Roro Jongrang maka Bandung Bondowoso hanya mampu membangun 999 candi dan mengutuk Roro Jongrang menjadi patung batu yang dipasang pada candi ke 999. Adanya cinta membuat seseorang mampu melakukan hal mengagumkan. Tapi kekecewaan akibat cinta mampu membuat orang melakukan hal yang terburuk.

Semua ajaran agama membantu manusia untuk semakin mencintai Allah dan sesama serta cara-cara bagaimana mewujudkan cinta pada Allah. Yesus datang ke dunia untuk menunjukkan Allah pada manusia. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (Yoh 14:6-7). Tapi orang sering terjebak pada melihat jalan bukan arah jalan itu. Akibatnya orang akan bertengkar mengenai jalan. Para ahli liturgi ribut mengenai tata cara liturgi yang kerap berubah. Padahal liturgi adalah jalan untuk mempertemukan manusia dengan Allah dan merupakan ungkapan cinta manusia pada Allah serta tanggapan manusia atas cinta Allah padanya. Demikian pula keributan antar agama. Satu agama mewujudkan cinta pada Allah dengan melarang makan ini dan itu, sedang agama lain menginjinkan. Perbedaan ini menimbulkan pertengkaran.

Bila orang mencintai Allah maka dia senantiasa terdorong untuk menyatukan dirinya dengan Allah. Kesatuan itu begitu erat sehingga dia ada dalam Allah dan Allah ada dalam dirinya atau dalam budaya Jawa ada ajaran “manunggaling kawulo Gusti” atau kesatuan yang penuh antara manusia dengan Tuhan. “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:21). Bila Allah dan kita menyatu maka seluruh hidup, pikiran dan perkataan kita digerakkan oleh Allah. Segala sikap dan keputusan kita adalah usaha untuk menyatu dengan Allah semakin dalam atau mewujudkan kehendak Allah di dalam dunia. Bila Allah adalah kasih, maka segala yang terwujud dari kita adalah ungkapan kasih Allah pada dunia dan sesama.

Hal ini tidak mudah. Kita masih mencintai Allah secara terbatas. Dalam hidup sehari-hari kita tenggelam dalam kesibukan yang kita buat terpisah dari Allah. Kerja dipisahkan dari Allah. Kita merasa mencintai dan menyatu dengan Allah ketika berdoa. Akibatnya kita sering jatuh dalam dosa. Kita tidak mempunyai kekuatan untuk menolak tawaran kenikmatan duniawi. Bila cinta membuat kita berani dan mampu melakukan hal yang mengagumkan mengapa bila kita mencintai Allah tidak mampu menolak tawaran itu? Bila cinta mampu membuat kita berkurban mengapa kita sering menghindari kurban?

simak selanjutnya APAKAH AKU MENCINTAI ALLAH??? disini...

Selasa, 11 Mei 2010

HIDUP YANG BERUBAH

Suatu hari Saul disuruh ayahnya untuk mencari keledai yang hilang. Setelah mencari beberapa saat ternyata dia tidak menemukan. Dia memutuskan untuk pulang. Tapi bujangnya mengajak dia untuk bertanya pada seorang penglihat. Saul bertemu dengan Samuel yang atas kehendak Allah tengah menunggu hadirnya seorang raja yang akan memimpin bangsa Israel. Saul tidak percaya akan semua itu, sebab dia memiliki double minoritas, "Bukankah aku seorang suku Benyamin, suku yang terkecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin? Mengapa bapa berkata demikian kepadaku?” (1Sam 9:21). Perjalanan pencarian keledai yang hilang merupakan awal dari perubahan hidup Saul dari seorang pemuda biasa yang akhirnya menjadi raja pertama bangsa Israel.

James Redfield dalam novelnya yang berjudul “The Celestine Prophecy” mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semua yang terjadi dalam dunia sudah masuk dalam kerangka besar rencana Allah. Begitu pula yang terjadi dalam kehidupan Saul. Hilangnya keledai, kegagalan usahanya menemukan sehingga mempertemukan dia dengan Samuel sudah ada dalam rencana Allah. Demikian pula Saulus. Perjalanan ke Damsyik mempertemukan dia dengan Yesus sendiri dan Ananias sehingga Saulus yang semula seorang pembunuh kaum Kristen menjadi seorang tiang utama Gereja.

Masih banyak kisah perubahan drastis yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Pada umumnya perubahan dimulai dari sebuah perjalanan dan pertemuan. Setiap hari kita melakukan perjalanan baik dalam jarak dekat maupun jauh. Kita bertemu dengan orang dan mengalami aneka peristiwa. Apakah semua itu mampu mengubah perjalanan hidup kita secara drastis? Tidak semua perjalanan dan pertemuan akan mampu mengubah hidup seseorang. Sidarta Gautama melakukan perjalanan dan melihat orang menderita yang belum pernah dilihatnya. Dia lalu merenungkan dan berusaha mencari jawabnya. Akhirnya dia menjadi Budha. Dengan demikian meski kita melakukan perjalanan dan bertemu dengan aneka hal tapi bila tidak direfleksikan maka semua akan berlalu seiring dengan berlalunya kita dari satu tempat ke tempat yang lain.

Menurut James Redfield, Allah telah mempunyai rencana besar dalam hidup kita yang tidak kita ketahui. Tapi kita bukanlah wayang yang hidupnya digerakkan oleh rencana Allah. Kita adalah manusia yang dianugerahi akal budi, sehingga dapat menentukan arah hidup kita sendiri. Allah memang berperan tapi juga membutuhkan peran aktif kita untuk menanggapi rencana Allah. Dengan demikian perubahan dapat terjadi bila ada usaha manusia untuk menanggapi rencana Allah melalui refleksi mengenai peristiwa itu atau pertemuan dan apa yang dilihatnya. Bila tidak maka semua itu akan berlalu.

Perubahan drastis tidak jarang dimulai dari kegagalan dan kegelapan. Saul mengalami kegagalan. Saulus mengalami kegelapan. St. Ignatius dari Loyola (24 Desember 1491-31 Juli 1556) pendiri ordo Jesuit semula adalah seorang prajurit. Dia mengalami luka parah dalam pertempuran Pamplona. Dalam proses penyembuhan itu dia membaca tentang riwayat santo santa. Dia mengubah hidupnya menjadi prajurit Tuhan yang sangat gigih membela kekatolikan. Seandainya tidak terluka mungkin dia akan melanjutkan karirnya sebagai prajurit dan tidak mendirikan ordo Jesuit. Ibu Teresa dari Kalkuta semula menjadi suster yang mengajar di sekolah elit di India. Suatu hari dia keluar dari biara dan melihat kemiskinan orang India. Maka dia meninggalkan biaranya untuk melayani kaum miskin. Masih banyak lagi contoh orang yang mengubah hidupnya akibat mengalami suatu peristiwa yang tidak pernah diduganya.

Rencana Tuhan adalah misteri bagi hidup kita. Kegagalan hidup saat ini bukan akhir dari hidup kita, sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi di esok hari. Tapi kegagalan sering membuat kita merasa bahwa hidup telah berakhir. Disini dibutuhkan keberanian untuk terus berjuang. Merefleksikan setiap peristiwa dan mencari setiap peluang untuk dijalani. Kita tidak tahu apa rencana Allah bagi hidup kita pada esok hari.

simak selanjutnya HIDUP YANG BERUBAH disini...

Jumat, 07 Mei 2010

HUGO TALE YAX

Hugo Tale Yax seorang pria berumur 31 adalah orang yang tidak penting bagi banyak orang. Bahkan mungkin kita baru pertama kali mendengar namanya. Dia hanyalah seorang imgran dari Guatemala yang hidup sebagai gelandangan di New York. Pada 26 April lalu diberitakan bahwa Hugo meninggal di trotoar sebuah jalan di New York. Menurut sebuah media di New York, Hugo berusaha menolong seorang perempuan yang dirampok. Akibatnya dia ditusuk beberapa kali oleh perampok itu. Menurut rekaman CCTV, Hugo terkapar bersimbah darah di trotoar selama 1 jam 40 menit. Banyak orang lewat di sekitarnya tapi mereka tidak peduli. Seorang datang hanya untuk memotretnya menggunakan ponsel. Orang lain hanya menguncang tubuhnya setelah itu berlalu. Polisi akhirnya datang tapi nyawa Hugo sudah tidak terselamatkan.

Peristiwa yang dialami Hugo memang jauh di New York, sebuah kota megametropolis dimana masyarakatnya mempunyai kultur yang berbeda dengan kultur kita disini. Tapi peristiwa ini merupakan sebuah cermin yang ditempatkan di hadapan kita sehingga kita bisa menilai diri sendiri. Hugo mengalami nasib yang tragis. Dia terluka ketika sedang berusaha menolong orang lemah dari kejahatan. Tapi ketika dia terluka tidak ada satu pun orang yang berusaha menolongnya. Dia sudah berani mengurbankan nyawanya bagi orang yang tidak dikenalnya.

Dari peristiwa ini kita bisa belajar tetang keberanian untuk terlibat dalam penderitaan sesama. Hugo berani terlibat dalam penderitaan sesama, sehingga sesamanya bebas dari penderitaan, meski dia harus mengganti dengan nyawanya. Keterlibatan dalam penderitaan sesama dapat membawa resiko pada diri sendiri. Uskup Oscar Romero (15 Agustus 1917-24 Maret 1980) terlibat dalam perjuangan rakyat miskin El Salvador dan akhirnya mati ditembak. Adanya resiko bila orang mau terlibat dalam penderitaan sesama membuat banyak orang berusaha menghindar dengan aneka alasan yang masuk akal bahkan dengan dasar-dasar keagamaan. Ketika terjadi ketidakadilan di Porong oleh Lapindo, maka banyak tokoh agama yang menolak terlibat membela rakyat Porong. Alasan praktis adalah masalah itu bukan masalah keagamaan. Kalau toh membantu hanya memberikan sumbangan makanan dan sebagainya yang tidak membawa resiko bagi dirinya.

Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Tapi nasib orang Samaria itu beda dengan Hugo. Dia selamat dan dapat melanjutkan aktifitasnya. Kurban diambil alih sendiri oleh Yesus. Dia terlibat dalam penderitaan manusia sampai mengurbankan diriNya. Dia berkurban bukan hanya bagi orang yang menderita akibat ditindas sesamanya, tapi Dia juga berkurban bagi para penindasNya. Keteladanan ini diwariskan bukan hanya untuk dikenang dan dikagumi melainkan dilaksanakan. Setiap murid Yesus harus mengikuti apa yang sudah dilakukanNya. “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1Yoh 3:16)

Hugo hanyalah gelandangan. Kita tidak tahu bagaimana dia hidup sebelumnya. Apakah dia seorang yang baik atau juga penjahat kelas teri. Tapi kita tahu bagaimana cara dia mati. Mati untuk sesama ditengah kuatnya rasa ketidakpedulian orang pada sesama yang menderita. Chairi Anwar (26 Juli 1922 – 28 April 1949) salah satu penyair besar Indonesia dalam sajaknya berjudul Diponegoro (Februari 1943) dia menulis “Ini barisan tak bergenderang-berpalu. Kepercayaan tanda menyerbu. Sekali berarti. Sudah itu mati.” Hugo sudah berarti, meski mungkin hanya sekali. Tapi yang sekali itu dia sudah menyelamatkan seseorang dengan mengurbankan dirinya. Situasi seperti yang dialami Hugo mungkin masih akan terus terulang, dimana ada orang yang sewenang-wenang menindas sesamanya. Ada orang menderita. Maka pertanyaan bagi kita adalah sejauh mana kita berani terlibat dalam masalah sesama? Tidak ada penyelamatan tanpa kurban. Disinilah dibutuhkan keberanian untuk mengambil resiko. Apakah kita berani menerima resiko dari masalah yang sebetulnya bukan masalah kita?

simak selanjutnya HUGO TALE YAX disini...

Kamis, 06 Mei 2010

MENGAPA TUHAN?

Seorang teman berbicara dalam nada protes. Dia mengeluh bahwa Tuhan tidak adil. Temannya yang masih muda dan mempunyai anak-anak yang masih kecil divonis oleh dokter terkena kangker stadium 4. Dokter tampaknya sudah menyerah. Padahal teman itu menurut dia sangat aktif dalam pelayanan dan baik. Selain itu mengapa dia yang masih muda dan menjadi tempat bergantung anak-anaknya harus meninggal dunia? Mengapa Tuhan sewenang-wenang? Apakah Dia tidak memperhitungkan anak-anak yang masih kecil dan sangat membutuhkan sosok ibu?

Protes kepada Tuhan seperti ini memang sudah sering aku dengar. Dalam Kitab Suci orang-orang semacam ini diwakili oleh Ayub. Dia protes pada Tuhan bahkan sampai mempertanyakan mengapa dia harus dilahirkan bila hanya untuk menderita. Lebih baik dia mati dalam kandungan. Ayub sadar akan kekuasaan Allah yang sangat besar maka Dia dapat berlaku apa saja terhadap ciptaanNya. Dia kejam dan selalu mengawasi manusia sehingga bila salah sedikit saja maka akan dihukumNya. Dia tidak bisa dibantah dan manusia tidak akan menang melawanNya. Dalam rasa frustasi Ayub mempertanyakan lalu buat apa Allah menciptakan manusia bila akhirnya dihancurkan? “Tangan-Mulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku? Ingatlah, bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat, tetapi Engkau hendak menjadikan aku debu kembali?” (Ayb 10:8-9).

Banyak orang mempertanyakan Allah ketika dia mengalami penderitaan. Mereka protes akan situasi hidup yang dialami dan berujung pada pertanyaan tentang keadilan Allah. Orang mulai membandingkan dengan situasi orang lain. Mengapa orang jahat dan sudah tua tapi terhindar dari segala penyakit sedangkan yang masih muda, baik dan dibutuhkan oleh anak-anaknya harus menghadapi kematian yang begitu cepat? Apakah Allah adil dalam tindakanNya ini? Memang keadilan Allah tidak sama dengan keadilan manusia. Dalam perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur, tuan pemilik kebun anggur membayar yang sama terhadap orang yang bekerja dari pagi maupun yang bekerja satu jam saja. Ketika orang protes maka jawabannya, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati.” (Mat 20:15). Andai temanku bertemu Allah dan dia protes padaNya mungkin jawaban Allah “Bukankah Aku bebas memberi hidup sesuka hatiKu? Atau iri hatikah engkau karena Aku murah hati?”

Kasih Allah memang tidak terbatas pada orang baik. “Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat 5:45). Kasih semacam inilah yang tidak kita pahami. Kita meyakini adanya pahala dan petaka. Orang baik akan mendapat pahala sedangkan orang jahat akan mendapat petaka. Maka bila ada orang yang dianggap baik atau merasa diri baik mengalami penderitaan, dia akan kecewa pada Allah yang dianggap tidak adil. Allah dianggap tidak memperhitungkan apa yang sudah dilakukan di dunia.

Allah adalah misteri. Segala keputusannya adalah misteri, sesuatu yang gelap bagi kita. Kita protes sebab merasa diri tahu akan kehendak Allah atau merasa diri berjasa pada Allah. Untuk itu sebenarnya dibutuhkan kerendahanhati bahwa kita hanyalah hamba Allah. Hamba yang menerima apa yang ditentukan Allah. Menerima segala sesuatu yang dari Allah dengan pasrah. Ayub pun pada awalnya berusaha berserah, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN.” (Ayb 1:21). Mungkin juga Allah hendak menjadikan kita sebagai teladan. Seperti Yesus yang tetap setia meski harus menderita. Atau mungkin kita juga dijadikan sarana bagi Allah untuk menunjukkan belas kasihNya. Ketika para murid mempertanyakan salah siapa sehingga ada orang buta, maka Yesus menjawab "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yoh 9:3). Dengan adanya penderitaan karya Allah semakin nyata. Tapi semua misteri Allah. Kita hanya mampu berdoa seperti Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38)

simak selanjutnya MENGAPA TUHAN? disini...