Minggu, 23 Mei 2010

ALLAH DALAM PENDERITAAN

Banyak orang mulai serius bergulat dengan Allah ketika dia masuk dalam penderitaan. Orang mempertanyakan kaitan antara kekuasaan Allah dengan penderitaan atau kejahatan manusia yang membuat sesamanya menderita. Epikurus (341 SM-270 SM) seorang filsuf Yunani menulis, “Atau Allah mau untuk melenyapkan kejahatan tapi tidak mampu, atau Dia mampu tapi tidak mau atau Dia tidak mampu dan tidak mau. Jika Dia tidak mampu melenyapkan kejahatan berarti Dia lemah. Bila Dia tidak mau melenyapkan kejahatan berarti Dia jahat. Ini sesuatu yang asing bagi kita. Bila Dia tidak mampu sekaligus tidak mau maka Dia lemah sekaligus jahat.” Bila Dia mampu dan mau maka tidak akan ada kejahatan dan penderitaan di dunia sehingga orang tidak perlu lagi bergulat atau mempertanyakan Allah.

Bagi orang beriman yang menyakini bahwa Allah itu Mahakuasa dan penuh belas kasih, adanya penderitaan semakin membuatnya bergolak. Apalagi bila penderitaan itu menimpa atau orang saleh atau orang yang beriman pada Kristus. Sejak kekristenan muncul sudah jutaan orang dibunuh sebab mereka percaya pada Kristus. Stefanus adalah orang Kristen pertama yang dibunuh. Setelah para rasul yang dibunuh satu demi satu. Pada jaman Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus menjadi kaisar Roma tahun 54-68 ada banyak ribuan orang Kristen yang dibunuh termasuk Petrus dan Paulus hanya demi kepuasan diri. Pada abad XX ribuan orang Kristen dibunuh di Turki, Cina, Jepang dan sebagainya. Mengapa Tuhan membiarkan mereka dibunuh?

Shusaku Endo (27-3-1923 sampai 29-9-1996) menulis novel berjudul Silence (1966) yang menceritakan tentang pergulatan misionaris Portugis bernama Rodriques yang menjadi saksi pembunuhan banyak umat Katolik oleh gubernur Chikugo sampai akhirnya Rodriques sendiri ditangkap dan disiksa. Dia bergulat dimana Tuhan? Mengapa Tuhan diam saja melihat penderitaan umatNya? Siksaan membuat Rodriques terpaksa menginjak-injak gambar Yesus dan Maria dari perungu yang disebut fumie. Dia melakukan atas dorongan Yesus sendiri untuk menginjak-injakNya, sebab Dia memang lahir untuk dinjak-injak, untuk menanggung penderitaan manusia. Yesus tidak bersembunyi tapi ada di sebelah Rodriques untuk menanggung penderitaannya.

Kita mengikuti Yesus sering berharap bahwa kita akan mendapat banyak berkat dan kebahagiaan. Doa-doa akan dikabulkan dan kita dibebaskan dari segala penderitaan. Kita akan sukses dan bahagia. Pandangan ini ada benarnya, sebab Tuhan memang menjanjikan dan melakukan semua itu. Tapi ada tindakan-tindakan Tuhan yang penuh misteri yang tidak bisa kita pahami. Penderitaan, kegagalan, doa yang tidak dikabulkan dan aneka hal yang tidak kita harapkan. Pada saat itulah kita menjadi goyah dan bertanya-tanya. Sebetulnya bila kita memandang salib, kita melihat Tuhan yang rapuh. Tuhan yang kalah. Tuhan yang dihina. Bukan Tuhan yang kuat dan berkuasa. Orang-orang disekitar salib pun berharap ada kekuasaan yang akan muncul, tapi harapan mereka tidak terwujud. Yesus tetap tergantung disalib dengan mengerikan.

“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku.” (Mat 27:46). Penderitaan yang sedemikian hebat membuat Yesus merasa Allah telah meninggalkan Dia. Dia berteriak tapi Allah diam. Teriakan Yesus merupakan teriakan ribuan bahkan jutaan orang yang menderita sehingga mereka merasa Allah diam bahkan ada yang mengatakan Allah telah mati. Apakah Allah diam dan tidak menyelamatkan Yesus? Allah memberikan kemuliaan dengan kebangkitanNya yang mulia. Bila kuasa Allah menurunkan Yesus dari salib, mungkin kebangkitan tidak akan terjadi. Dia diam sebab mempunyai rencana lebih besar lagi yaitu kebangkitan yang mulia. Yesus pun tidak akan pernah meninggalkan kita. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:20). Dia akan tetap disamping kita dalam suka dan duka. Yesus ada disamping kita merasakan penderitaan kita.

0 komentar:

Posting Komentar