Selasa, 11 Mei 2010

HIDUP YANG BERUBAH

Suatu hari Saul disuruh ayahnya untuk mencari keledai yang hilang. Setelah mencari beberapa saat ternyata dia tidak menemukan. Dia memutuskan untuk pulang. Tapi bujangnya mengajak dia untuk bertanya pada seorang penglihat. Saul bertemu dengan Samuel yang atas kehendak Allah tengah menunggu hadirnya seorang raja yang akan memimpin bangsa Israel. Saul tidak percaya akan semua itu, sebab dia memiliki double minoritas, "Bukankah aku seorang suku Benyamin, suku yang terkecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin? Mengapa bapa berkata demikian kepadaku?” (1Sam 9:21). Perjalanan pencarian keledai yang hilang merupakan awal dari perubahan hidup Saul dari seorang pemuda biasa yang akhirnya menjadi raja pertama bangsa Israel.

James Redfield dalam novelnya yang berjudul “The Celestine Prophecy” mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semua yang terjadi dalam dunia sudah masuk dalam kerangka besar rencana Allah. Begitu pula yang terjadi dalam kehidupan Saul. Hilangnya keledai, kegagalan usahanya menemukan sehingga mempertemukan dia dengan Samuel sudah ada dalam rencana Allah. Demikian pula Saulus. Perjalanan ke Damsyik mempertemukan dia dengan Yesus sendiri dan Ananias sehingga Saulus yang semula seorang pembunuh kaum Kristen menjadi seorang tiang utama Gereja.

Masih banyak kisah perubahan drastis yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Pada umumnya perubahan dimulai dari sebuah perjalanan dan pertemuan. Setiap hari kita melakukan perjalanan baik dalam jarak dekat maupun jauh. Kita bertemu dengan orang dan mengalami aneka peristiwa. Apakah semua itu mampu mengubah perjalanan hidup kita secara drastis? Tidak semua perjalanan dan pertemuan akan mampu mengubah hidup seseorang. Sidarta Gautama melakukan perjalanan dan melihat orang menderita yang belum pernah dilihatnya. Dia lalu merenungkan dan berusaha mencari jawabnya. Akhirnya dia menjadi Budha. Dengan demikian meski kita melakukan perjalanan dan bertemu dengan aneka hal tapi bila tidak direfleksikan maka semua akan berlalu seiring dengan berlalunya kita dari satu tempat ke tempat yang lain.

Menurut James Redfield, Allah telah mempunyai rencana besar dalam hidup kita yang tidak kita ketahui. Tapi kita bukanlah wayang yang hidupnya digerakkan oleh rencana Allah. Kita adalah manusia yang dianugerahi akal budi, sehingga dapat menentukan arah hidup kita sendiri. Allah memang berperan tapi juga membutuhkan peran aktif kita untuk menanggapi rencana Allah. Dengan demikian perubahan dapat terjadi bila ada usaha manusia untuk menanggapi rencana Allah melalui refleksi mengenai peristiwa itu atau pertemuan dan apa yang dilihatnya. Bila tidak maka semua itu akan berlalu.

Perubahan drastis tidak jarang dimulai dari kegagalan dan kegelapan. Saul mengalami kegagalan. Saulus mengalami kegelapan. St. Ignatius dari Loyola (24 Desember 1491-31 Juli 1556) pendiri ordo Jesuit semula adalah seorang prajurit. Dia mengalami luka parah dalam pertempuran Pamplona. Dalam proses penyembuhan itu dia membaca tentang riwayat santo santa. Dia mengubah hidupnya menjadi prajurit Tuhan yang sangat gigih membela kekatolikan. Seandainya tidak terluka mungkin dia akan melanjutkan karirnya sebagai prajurit dan tidak mendirikan ordo Jesuit. Ibu Teresa dari Kalkuta semula menjadi suster yang mengajar di sekolah elit di India. Suatu hari dia keluar dari biara dan melihat kemiskinan orang India. Maka dia meninggalkan biaranya untuk melayani kaum miskin. Masih banyak lagi contoh orang yang mengubah hidupnya akibat mengalami suatu peristiwa yang tidak pernah diduganya.

Rencana Tuhan adalah misteri bagi hidup kita. Kegagalan hidup saat ini bukan akhir dari hidup kita, sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi di esok hari. Tapi kegagalan sering membuat kita merasa bahwa hidup telah berakhir. Disini dibutuhkan keberanian untuk terus berjuang. Merefleksikan setiap peristiwa dan mencari setiap peluang untuk dijalani. Kita tidak tahu apa rencana Allah bagi hidup kita pada esok hari.

0 komentar:

Posting Komentar