Rabu, 12 Mei 2010

APAKAH AKU MENCINTAI ALLAH???

Anthony de Mello menceritakan ada seorang lelaki pendek yang mencintai seorang gadis yang tinggi. Suatu malam mereka bertemu. Lelaki itu meminta agar diperbolehkan mencium kekasihnya. Gadis itu mengijinkan. Maka lelaki itu mengambil kotak besi. Dia naik di atasnya dan mencium gadis itu. Lalu mereka jalan kaki mengelilingi kota. Pada tengah malam sebelum berpisah, lelaki itu menyatakan ingin mencium lagi. Gadis itu menjawab bahwa cukup mencium sekali untuk satu malam. Lelaki itu berkata dengan marah, “Lalu buat apa aku membawa besi yang berat ini selama berjalan denganmu!”

Lelaki yang sedang jatuh cinta itu tidak merasakan beban berat ketika harus membawa kotak besi. Adanya cinta dalam hati membuat beban yang berat menjadi ringan. Tapi ketika sadar adanya penolakan, maka beban berat itu menjadi terasa. Cinta adalah daya atau kekuatan yang mendorong seseorang untuk senantiasa menyatu dengan yang dicintainya. Kekuatan itu begitu besar sehingga mampu memberikan tenaga lebih pada seseorang. Memberikan keberanian dan ketabahan dalam menjalani rintangan. Bahkan keberanian untuk mengurbankan segala sesuatu bagi yang dicintainya. Dalam legenda Jawa ada kisah tentang Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang. Oleh karena cintanya yang besar pada Roro Jongrang maka Bandung Bondowoso menyanggupi untuk membangun 1000 candi dalam satu malam. Tapi akibat kelicikan Roro Jongrang maka Bandung Bondowoso hanya mampu membangun 999 candi dan mengutuk Roro Jongrang menjadi patung batu yang dipasang pada candi ke 999. Adanya cinta membuat seseorang mampu melakukan hal mengagumkan. Tapi kekecewaan akibat cinta mampu membuat orang melakukan hal yang terburuk.

Semua ajaran agama membantu manusia untuk semakin mencintai Allah dan sesama serta cara-cara bagaimana mewujudkan cinta pada Allah. Yesus datang ke dunia untuk menunjukkan Allah pada manusia. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (Yoh 14:6-7). Tapi orang sering terjebak pada melihat jalan bukan arah jalan itu. Akibatnya orang akan bertengkar mengenai jalan. Para ahli liturgi ribut mengenai tata cara liturgi yang kerap berubah. Padahal liturgi adalah jalan untuk mempertemukan manusia dengan Allah dan merupakan ungkapan cinta manusia pada Allah serta tanggapan manusia atas cinta Allah padanya. Demikian pula keributan antar agama. Satu agama mewujudkan cinta pada Allah dengan melarang makan ini dan itu, sedang agama lain menginjinkan. Perbedaan ini menimbulkan pertengkaran.

Bila orang mencintai Allah maka dia senantiasa terdorong untuk menyatukan dirinya dengan Allah. Kesatuan itu begitu erat sehingga dia ada dalam Allah dan Allah ada dalam dirinya atau dalam budaya Jawa ada ajaran “manunggaling kawulo Gusti” atau kesatuan yang penuh antara manusia dengan Tuhan. “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:21). Bila Allah dan kita menyatu maka seluruh hidup, pikiran dan perkataan kita digerakkan oleh Allah. Segala sikap dan keputusan kita adalah usaha untuk menyatu dengan Allah semakin dalam atau mewujudkan kehendak Allah di dalam dunia. Bila Allah adalah kasih, maka segala yang terwujud dari kita adalah ungkapan kasih Allah pada dunia dan sesama.

Hal ini tidak mudah. Kita masih mencintai Allah secara terbatas. Dalam hidup sehari-hari kita tenggelam dalam kesibukan yang kita buat terpisah dari Allah. Kerja dipisahkan dari Allah. Kita merasa mencintai dan menyatu dengan Allah ketika berdoa. Akibatnya kita sering jatuh dalam dosa. Kita tidak mempunyai kekuatan untuk menolak tawaran kenikmatan duniawi. Bila cinta membuat kita berani dan mampu melakukan hal yang mengagumkan mengapa bila kita mencintai Allah tidak mampu menolak tawaran itu? Bila cinta mampu membuat kita berkurban mengapa kita sering menghindari kurban?

0 komentar:

Posting Komentar