Jumat, 07 Mei 2010

HUGO TALE YAX

Hugo Tale Yax seorang pria berumur 31 adalah orang yang tidak penting bagi banyak orang. Bahkan mungkin kita baru pertama kali mendengar namanya. Dia hanyalah seorang imgran dari Guatemala yang hidup sebagai gelandangan di New York. Pada 26 April lalu diberitakan bahwa Hugo meninggal di trotoar sebuah jalan di New York. Menurut sebuah media di New York, Hugo berusaha menolong seorang perempuan yang dirampok. Akibatnya dia ditusuk beberapa kali oleh perampok itu. Menurut rekaman CCTV, Hugo terkapar bersimbah darah di trotoar selama 1 jam 40 menit. Banyak orang lewat di sekitarnya tapi mereka tidak peduli. Seorang datang hanya untuk memotretnya menggunakan ponsel. Orang lain hanya menguncang tubuhnya setelah itu berlalu. Polisi akhirnya datang tapi nyawa Hugo sudah tidak terselamatkan.

Peristiwa yang dialami Hugo memang jauh di New York, sebuah kota megametropolis dimana masyarakatnya mempunyai kultur yang berbeda dengan kultur kita disini. Tapi peristiwa ini merupakan sebuah cermin yang ditempatkan di hadapan kita sehingga kita bisa menilai diri sendiri. Hugo mengalami nasib yang tragis. Dia terluka ketika sedang berusaha menolong orang lemah dari kejahatan. Tapi ketika dia terluka tidak ada satu pun orang yang berusaha menolongnya. Dia sudah berani mengurbankan nyawanya bagi orang yang tidak dikenalnya.

Dari peristiwa ini kita bisa belajar tetang keberanian untuk terlibat dalam penderitaan sesama. Hugo berani terlibat dalam penderitaan sesama, sehingga sesamanya bebas dari penderitaan, meski dia harus mengganti dengan nyawanya. Keterlibatan dalam penderitaan sesama dapat membawa resiko pada diri sendiri. Uskup Oscar Romero (15 Agustus 1917-24 Maret 1980) terlibat dalam perjuangan rakyat miskin El Salvador dan akhirnya mati ditembak. Adanya resiko bila orang mau terlibat dalam penderitaan sesama membuat banyak orang berusaha menghindar dengan aneka alasan yang masuk akal bahkan dengan dasar-dasar keagamaan. Ketika terjadi ketidakadilan di Porong oleh Lapindo, maka banyak tokoh agama yang menolak terlibat membela rakyat Porong. Alasan praktis adalah masalah itu bukan masalah keagamaan. Kalau toh membantu hanya memberikan sumbangan makanan dan sebagainya yang tidak membawa resiko bagi dirinya.

Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Tapi nasib orang Samaria itu beda dengan Hugo. Dia selamat dan dapat melanjutkan aktifitasnya. Kurban diambil alih sendiri oleh Yesus. Dia terlibat dalam penderitaan manusia sampai mengurbankan diriNya. Dia berkurban bukan hanya bagi orang yang menderita akibat ditindas sesamanya, tapi Dia juga berkurban bagi para penindasNya. Keteladanan ini diwariskan bukan hanya untuk dikenang dan dikagumi melainkan dilaksanakan. Setiap murid Yesus harus mengikuti apa yang sudah dilakukanNya. “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1Yoh 3:16)

Hugo hanyalah gelandangan. Kita tidak tahu bagaimana dia hidup sebelumnya. Apakah dia seorang yang baik atau juga penjahat kelas teri. Tapi kita tahu bagaimana cara dia mati. Mati untuk sesama ditengah kuatnya rasa ketidakpedulian orang pada sesama yang menderita. Chairi Anwar (26 Juli 1922 – 28 April 1949) salah satu penyair besar Indonesia dalam sajaknya berjudul Diponegoro (Februari 1943) dia menulis “Ini barisan tak bergenderang-berpalu. Kepercayaan tanda menyerbu. Sekali berarti. Sudah itu mati.” Hugo sudah berarti, meski mungkin hanya sekali. Tapi yang sekali itu dia sudah menyelamatkan seseorang dengan mengurbankan dirinya. Situasi seperti yang dialami Hugo mungkin masih akan terus terulang, dimana ada orang yang sewenang-wenang menindas sesamanya. Ada orang menderita. Maka pertanyaan bagi kita adalah sejauh mana kita berani terlibat dalam masalah sesama? Tidak ada penyelamatan tanpa kurban. Disinilah dibutuhkan keberanian untuk mengambil resiko. Apakah kita berani menerima resiko dari masalah yang sebetulnya bukan masalah kita?

0 komentar:

Posting Komentar