Senin, 31 Mei 2010

AGAMA WARISAN PENJAJAH??

Ketika saya menyatakan diri memeluk agama Katolik langsung seisi rumah ribut. Bapak adalah orang pertama yang menentang dengan keras. Alasan bapak menentang bukan soal iman, melainkan soal siapa yang beragama Katolik. Bagi bapak agama Katolik adalah agama orang Belanda. Agama kaum penjajah. Mengapa saya harus memeluk agama warisan para penjajah? Pendapat bapak ini bukan milik bapak sendiri, sebab nenek dan kakek dulu juga mengatakan hal yang sama. Mereka selalu mencibir bila pada hari minggu melihat orang pergi ke gereja. Mereka mengatakan bahwa orang Jawa yang memeluk agama Kristen itu adalah penghianat bangsa. Orang yang tidak pernah mengalami beratnya dijajah. Mereka adalah anteknya penjajah. Hal itu dikatakan pada tahun 1970 an, sebab saya sudah duduk di bangku SD.

Agama Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh orang Arab dari dinasti Umayyah pada tahun 674 di pantai barat Sumatra dan mendirikan kerajaan di Aceh yaitu kerajaan Pasai. Menurut kesaksian Marcopolo pada tahun 1292 sudah banyak orang Arab yang menyebarkan agama di Sumatra. Peninggalan paling tua yang masih ada berada di Gresik yaitu makam Fathimah binti Maimun yang bertahun 1082. Oleh karena Islam masuk ke Indonesia sudah sejak jaman kerajaan dan tidak melalui penjajahan maka tidak dianggap sebagai agama penjajah. Demikian pula Budha dan Hindu yang masuk jauh sebelum Islam masuk. Agama Hindu masuk melalui jalur perdagangan oleh golongan Waisya dari India. Raja Purnawarman yang memerintah Tarumannegara pada tahun 417, adalah raja Hindu yang pertama.

Pengkaitan antara agama Kristen dengan penjajah masih terus melekat pada banyak orang di jaman ini. Sekarang memang sudah sangat jarang para misionaris dari Eropa. Gedung gereja pun sudah dibangun sesuai dengan budaya Indonesia. Demikian pula liturgi dimana beberapa daerah sudah menggunakan nyanyian dan alat musik khas daerah tersebut. Tetapi pakaian liturgi yang digunakan oleh para imam masih menggunakan khas Romawi. Tata cara liturgi pun masih kental nuansa Romawinya. Beberapa orang berusaha untuk menanamkan Gereja dalam budaya lokal, tapi adanya patokan-patokan yang ketat dalam liturgi membuat Gereja masih tampak belum menyatu dengan budaya lokal. Bila Gereja belum menyatu dalam budaya lokal maka gambaran agama kolonial tetap akan terasa dan terlihat oleh masyarakat.

Untuk itu perlu adanya penggalian budaya lokal dan keberanian Gereja untuk menjadi Gereja lokal. Beberapa imam berusaha membuat terobosan dengan memakai baju adat Jawa ketika mempersembahkan misa dengan diiringi gamelan. Tapi masalahnya bukan hanya sekedar baju dan nyanyian melainkan keseluruhan liturgi mencerminkan budaya Jawa. Menurut Wikipedia budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Dengan demikian bila hanya mengambil baju dan lagu maka tampaknya masih belum cukup.

Yesus dalam mengajar para muridNya menggunakan hal-hal yang sangat dipahami oleh muridNya. Berhadapan dengan petani Yesus mengajarkan perumpamaan dari masalah pertanian seperti benih, ladang, masa panen dan sebagainya. Berhadapan dengan para nelayan, Yesus mengajarkan soal penjala, ikan dan sebagainya. Dengan berbicara “lokal” maka segala ajaranNya dapat lebih mudah dipahami oleh pendengar dan mereka menjadi terlibat. Bagaimana dengan Gereja saat ini? Apakah Gereja sudah berbicara secara lokal, sesuatu yang dipahami oleh masyarakat? Sesuatu yang tidak asing bagi masyarakat. Bagaimana orang Jawa dapat melihat Natal sebagai bagian dari dirinya bila Natal identik dengan salju, cemara dan Sinterklas? Masih banyak lagi tampilan Gereja yang terasa asing bagi penduduk lokal. Maka perlu adanya keberanian untuk mengubah budaya Gereja yang masih terasa Eropa menjadi budaya lokal yang dipahami oleh masyarakat setempat.

1 komentar: