Sabtu, 05 Juni 2010

MEMIKUL SALIB


Seorang datang padaku dan mengeluh mengapa dia harus memikul salib yang berat? Dia bercerita tentang penderitaannya yang tidak kunjung habis. Keluhan semacam ini sudah sering aku dengar. Aku pun sering protes pada Tuhan ketika penderitaan itu datang. Hampir semua orang di dunia menghindari penderitaan atau salib. Kita semua ingin hidup bahagia. Penderitaan menghilangkan kebahagiaan. Tapi mengapa salib itu datang juga meski kita sudah hidup hati-hati dan berusaha menghindarinya? Mengapa Yesus mengajak kita memanggul salib? "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk 9:23). Bahkan memikul salib setiap hari adalah prasyarat untuk mengikuti Dia.

Yesus memikul salib bukan karena kesalahan diriNya atau demi diriNya. Dia memikul salib demi keselamatan manusia. Dia memikul salib semua manusia. Semua beban dosa manusia baik yang sudah lalu maupun yang akan datang dipikulNya agar manusia diselamatkan. Dosa-dosaku pun baik yang sudah kulakukan maupun yang akan kulakukan telah dipikul oleh Yesus, sebab Dia sekali mengurbankan diri untuk selama-lamanya. Betapa berat salib yang harus dipikul Kristus. Bila aku mengeluh sebab harus memikul salibku sendiri bagaimana aku mampu bertahan bila harus memikul salib sesamaku? Apakah salib yang harus kupanggul untuk mengikuti Yesus adalah salibku sendiri atau salib orang lain yang harus kupanggul?

Dunia saat ini makin egois. Orang hanya berpikir mengenai dirinya sendiri. Memusatkan perhatian pada diri sendiri. Adanya kemiskinan dan penderitaan di dunia, sebab orang hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Menurut Mahatma Gandhi, dunia sudah cukup menyediakan makanan bagi semua orang. Kelaparan disebabkan adanya orang yang serakah. Ibu Teresa dari Kalkuta melihat bahwa penyakit kronis jaman ini bukan HIV atau kelaparan, tapi kurangnya kasih diantara manusia. Krisis kasih membuat banyak orang kesepian, frustasi, menderita aneka penyakit tubuh dan sebagainya. “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Gal 6:2). Jelaslah disini bahwa kita diminta untuk menanggung beban sesama. Keegoisan membuat kita tidak peduli dengan salib sesama.

Menanggung beban sesama atau memikul salib sesama adalah sebuah keberanian. Kita tidak memikirkan kepentingan diri bahkan mengabaikan salib kita sendiri yang sedang kita pikul. Pada saat aku lelah dan ingin tidur menjelang dini hari, tiba-tiba ada seorang teman yang menelpon bahwa seorang teman pekerja seks tertangkap dan meminta pertolongan, maka aku harus bangkit menolongnya. Aku harus meninggalkan kepentinganku untuk tidur dan mengabaikan sorotan orang yang menuduhku bergaul dengan pekerja seks di tepi jalan. Orang meminta tolong padaku sebab dia melihatku kuat meski sebenarnya aku lemah dan rapuh. Orang datang meminta pendapatku sebab dia merasa aku dapat membantu menyelesaikan masalahnya, meski sebenarnya aku bodoh dan tidak tahu jawab yang dibutuhkan.

“Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.” (Rm 15:1). Bila kita hanya melihat penderitaan kita sendiri maka kita akan senantiasa merasa diri rapuh dan tidak berdaya. Tapi bila kita berani mengabaikan salib kita, maka kita bisa melihat salib sesama dan siap untuk memikulnya. Keberanian ini bukan berarti kita sudah menjadi kuat. Kita tetap orang lemah dan menjalani hidup yang berat. Salib diri tetap masih tergantung dipundak, tapi Yesus mengingatkan agar kita berani menyangkal diri. Salib kita yang tertancap di bahu kita persatukan dengan salib sesama. Dalam kelemahan dan penderitaan kita berusaha menjadi kuat sehingga siap untuk menampung salib sesama. Apalagi bila kita kuat, maka kita wajib memikul salib sesama. Tuhan mengutus orang yang menderita datang pada kita sebab Dia tahu bahwa kita kuat. Dia tidak mungkin meletakkan beban yang terlalu berat sehingga tidak mampu kita tanggung. Kekuatan untuk memanggul salib sesama bila kita sadar bahwa Yesus telah lebih dulu memikul salib kita.

0 komentar:

Posting Komentar