Sabtu, 12 Juni 2010

BERTAHAN DALAM PENDERITAAN

C.S Lewis (29 November 1898 – 22 November 1963) seorang Irlandia kelahiran Inggris adalah seorang novelis, akedemikus, teolog dan kritikus sastra. Novelnya yang terkenal adalah The Chronicles of Narnia. Dalam salah satu tulisannya dia mengatakan, adalah sangat mengagumkan bahwa sampai tingkatan tertentu penderitaan manusia, orang dapat terus percaya bahwa Allah mencintainya. Dia membayangkan bahwa Allah adalah kasih. Allah seperti bapa yang mengasihi manusia. Memang Dia tidak memberi segala keinginan kita tapi Dia akan melindungi kita dari yang jahat. Bila kita tertimpa bencana maka Dialah yang pertama akan bertindak. Tapi mengapa di dunia ini banyak penderitaan yang ditanggung oleh manusia dan Allah tampaknya diam?

Yesus pun dalam doa Bapa Kami memohon agar Allah membebaskan manusia dari segala penderitaan. “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” (Mat 6:13). Pencobaan sering diartikan suatu yang dapat membuat seseorang meninggalkan imannya. Ada banyak hal yang dapat membuat orang meninggalkan iman, misalnya penderitaan, kekecawaan, harta atau kenikmatan dan sebagainya. Sedangkan “yang jahat” adalah sesuatu yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan manusia. Sesuatu yang membuat manusia menderita. Iblis dilambangkan sebagai si jahat. Dalam Ayub jelas sekali peran iblis yang membuat manusia menderita. Iblis juga membuat manusia menjadi jahat dan meninggalkan iman.

Harapan manusia untuk terlepas dari penderitaan atau kejahatan yang didukung oleh keyakinan bahwa Allah adalah kasih berbenturan dengan situasi hidup penuh dengan penderitaan. Penderitaan membuat orang mulai mencari Allah dan mempertanyakan keberadaanNya. Keyakinan orang dapat menjadi luntur bahkan berubah menjadi kebencian dan pemberontakan pada Allah bila penderitaan seperti jalan panjang yang tidak berujung. Maka C. S Lewis kagum bila dalam penderitaan orang masih percaya akan Allah yang mahakasih. Orang mampu bertahan dalam iman akan Allah sebagai Bapa yang baik meski situasi kondisi hidupnya sangat sulit.

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia” (Yak 1:12). Kekuatan manusia untuk bertahan dalam iman meski hidupnya penuh penderitaan berdasarkan pada cintanya pada Tuhan. Cinta membuat dia hanya mempunyai satu pilihan untuk terus bersandar pada Tuhan. Ketika banyak orang meninggalkan Yesus, maka Dia bertanya pada para muridNya apakah mereka juga akan meninggalkanNya? Petrus mewakili para murid menjawab, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah." (Yoh 6:68-69). Cinta Petrus pada Yesus membuatnya tidak mempunyai pilihan lagi. Dia percaya penuh pada Yesus meski situasi hidupnya sangat berat dan perkataan Yesus sulit dipahami.

Kekuatan seseorang untuk terus bertahan pada Allah adalah adanya harapan. Ketika aku tertimpa penderitaan aku hanya mengatakan pada diri sendiri, bahwa besok semua ini akan berlalu. Hal ini membuatku kuat dan memberi keberanian untuk terus berjuang. Harapan seperti bintang di tengah malam gelap. Dia meski kecil dan jauh tapi tetap dapat menjadi penuntun langkah kita. Ketakutan dan keputusaasaan dapat membuat kita tidak mampu lagi melihat harapan. Hal yang baik pun dapat berubah menjadi hal yang menakutkan. Ketika para murid melihat Yesus datang pada saat mereka diterjang badai, maka mereka mengira hantu. Kekalutan membutakan mata mereka.

Rasul Paulus mengatakan ada 3 hal yaitu iman, harapan dan kasih. Sebetulnya inilah yang membuat kita mampu bertahan pada saat yang sulit untuk terus bersandar pada Allah. Ketiganya merupakan satu kesatuan. Kasih adalah yang terbesar, sebab dari kasih itulah kita akan terus bergantung pada Allah dan yakin bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan kita sehingga muncul harapan untuk terus berjuang.

0 komentar:

Posting Komentar