Sabtu, 26 Juni 2010

IMAN REMAH REMAH


Ketika masih mendampingi kaum pemulung di tepi sungai Wonokromo atau tepatnya di daerah Jagir, kami setiap minggu memberi pelajaran pada anak-anak. Selesai belajar anak-anak mendapat tambahan gizi. Suatu hari aku membawa kamera untuk memotret aktifitas kami yang berpusat di sebuah mushola. Saat itu ada seorang teman sedang membagi bubur kacang hijau. Beberapa anak duduk mengelilingi sebuah panci besar tempat bubur kacang hijau. Kejadian itu kupotret. Setelah selesai dicetak, sebab pada saat itu belum ada kamera digital, aku tersenyum melihat hasilnya. Pandangan semua anak yang mengelilingi panci itu terpusat pada panci yang berisi bubur kacang hijau.

Mereka memusatkan pandangannya pada panci sebab mereka sangat menginginkan bubur kacang hijau itu. Mungkin dalam pikiran mereka sudah terbayang makan bubur kacang hijau. Mereka ingin segera menikmatinya, hanya karena diminta sabar dan antri maka mereka hanya mampu memandang dengan penuh keinginan. Dalam hidup kita pun sering memusatkan perhatian pada apa yang kita inginkan. Apalagi bila yang kita inginkan itu sesuatu yang besar dan sulit kita peroleh lalu dihadapan kita ada yang hendak membagi barang itu. Maka kita tidak berani melepaskan pandangan dari orang itu agar apa yang menjadi keinginan kita tidak lepas atau diambil oleh orang lain.


Pada saat tertimpa penderitaan kita akan berdoa lebih khusuk. Kita mengarahkan seluruh pandangan kita pada Tuhan seperti yang digambarkan oleh pemazmur, “Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.” (Mzm 123:2). Kita berharap Tuhan memberikan yang terbaik bagi kita. Bila ternyata doa-doa kita seperti sebuah kesia-siaan maka kita mulai protes dan berontak pada Tuhan. Tidak jarang orang menjadi marah bahkan meninggalkan Tuhan.

Ketika Yesus sedang berjalan bersama murid-muridNya, tiba-tiba muncul seorang perempuan Kanaan yang berteriak-teriak memohon agar Yesus menyembuhkan anak perempuannya yang sedang sakit. Para murid tampaknya terganggu dengan ulah perempuan itu, maka mereka meminta agar Yesus mengusirnya. Yesus pun bereaksi dan mengatakan bahwa Dia hanya diutus untuk orang Israel. Bukan orang Kanaan. Penolakan Yesus ini tidak mengendurkan semangat ibu itu. Dia terus memohon. Sekali lagi Yesus berkata kasar dalam sebuah kiasan, bahwa tidak layak melemparkan roti pada anjing. Tapi ibu itu tidak menyerah. "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” (Mat 15:27). Jawaban itu membuat Yesus terkejut dan kagum. Dia lalu menyembuhkan anak ibu itu.

Setiap orang berharap yang terbaik baginya. Dalam beriman pun kita berharap akan mendapatkan yang terbaik dari Allah. Perempuan Kanaan itu memberikan pelajaran berharga bahwa iman adalah keberanian untuk menerima apa saja, meski hanya remah atau potongan yang sangat kecil dari sebuah roti. Baginya cukup remahan berkat bagi hidupnya. Dia tidak berharap yang besar apalagi terbesar dan terbaik. Inilah iman yang rendah hati. Iman yang senantiasa bersyukur meski mendapat hal yang sangat kecil dari anugerah Allah. Ibu itu berjuang demi anaknya. Dia rela merendahkan diri di depan banyak orang demi kesembuhan anaknya. Yesus mengagumi iman ibu itu.

Kita sering bertindak seperti anak-anak pemulung yang memusatkan seluruh perhatian untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Keterpusatan itu menyebabkan kita tidak memperhatikan sesama. Kita hanya melihat penderitaan kita sendiri dan memohon Allah mengabulkan apa yang kita inginkan. Maka kita perlu belajar dari perempuan Kanaan. Dia beriman dengan rendah hati. Rela menerima remah-remah berkat. Bukan menuntut Allah untuk memberi yang terbaik menurutnya. Iman yang mengarahkan seluruh diri pada Allah tapi siap menerima apa saja dari Allah meski tampaknya sangat kecil, sederhana dan tidak berarti.

0 komentar:

Posting Komentar