Jumat, 25 Juni 2010

ANDAI LUNA MAYA ORANG KATOLIK

Ketika mendengar dua anak muda membicarakan Ariel dan Luna, aku iseng-iseng tanya. Bagaimana seandainya Luna seorang Katolik? Apakah dia boleh mengikuti misa dan menerima komuni? Mereka hanya tersenyum tanpa arti. Salah satu dari mereka lalu menjawab boleh saja asal mengaku dosa lebih dulu. Anak yang lain menjawab tidak boleh sebab dia sudah berdosa dan diketahui publik. Dia dapat menjadi batu sandungan. Aku desak lagi, seandainya dia maju waktu penerimaan komuni, apakah ada orang yang akan melarang? Mereka menjawab pasti tidak ada yang melarang. Dia hanya akan menjadi gunjingan saja. Setelah mendengar jawaban mereka aku lalu pergi sambil membayangkan seandainya Yesus disini saat ini apakah akan melarang juga?

Luna dianggap sudah melanggar moralitas yang dipegang oleh masyarakat. Aku yakin bahwa Gereja pun berpendapat yang sama. Tapi yang membuatku merenung adalah apakah Yesus pun akan bersikap sama? Peristiwa di Bait Allah saat Yesus dihadapkan perempuan yang tertangkap berbuah zinah menunjukkan bahwa Dia mempunyai pendapat yang berbeda dari pendapat masyarakat. “Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh 8:11). Dia tidak menghukum orang yang cacat moral dengan memberi syarat bahwa orang berdosa itu tidak boleh berbuat dosa lagi.

Aku merasa bahwa saat ini pasti Luna tenggelam dalam penyesalan. Dia mungkin telah kapok melakukan hal itu. Tapi apakah esok masyarakat sudah mampu mengampuni dia dan memberinya kesempatan untuk berkarya kembali? Aku tidak yakin. Peristiwa ini akan terus diingat oleh banyak orang sampai bertahun-tahun. Luna pun akan sulit mendapatkan kembali pekerjaan dan prestasi yang diperolehnya dengan susah payah, bahkan mungkin sampai bertahun-tahun kemudian. Masyarakat masih menghukumnya. Seandainya Luna telah mengaku dosa dan diijinkan menerima komuni kembali, apakah seluruh anggota Gereja mau menyambutnya dengan penuh suka cita? Aku ragu akan hal ini. Dia selamanya akan menanggung hukuman dari masyarakat.

Dalam Injil digambarkan Yesus adalah seorang yang berani melawan arus. Akibatnya Dia mempunyai banyak musuh. Dia dicaci maki dan dituduh gila. "Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?” (Yoh 10:20). Yesus pun bereaksi atas tuduhan banyak orang “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?” (Yoh 8:46). Tuduhan kegilaan dan kerasukan setan disebabkan orang tidak paham mengenai apa yang disampaikan oleh Yesus. “Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.” (Yoh 8:43). Dia menyampaikan Sabda Allah sedangkan para pendengarnya telah merasa tahu tentang Sabda Allah. Keyakinan bahwa mereka tahu Sabda Allah maka hati dan pikiran mereka menjadi tertutup akan sebuah kebenaran baru.

Saat ini banyak orang merasa sudah menguasai Sabda Allah. Mereka merasa yakin dengan apa yang mereka ketahui. Maka tidak jarang mereka melegitimasi tindakan dan perkataannya sebagai perkataan dan kehendak Allah. Mereka menciptakan Allah yang sesuai dengan keinginannya sendiri dan mengklaim bahwa kebenaran Allah hanya menjadi miliknya. Orang Farisi pun melakukan hal yang sama. Mereka mendasarkan hidupnya pada adat istiadat dan hukum yang bersumber dari Sabda Allah. Ketaatan total disatu sisi ada baiknya tapi bila ketaatan itu sudah menjadi benteng besar yang kokoh dan angkuh, maka akan tertutup dari segala kebenaran lain. "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 7:12). Allah adalah kasih. SabdaNya adalah ajaran tentang kasih. Kasih yang terbuka bagi siapa saja terutama orang berdosa. Seandainya Luna adalah orang Katolik apakah Gereja akan menerimanya dengan penuh suka cita seperti bapa yang baik dalam Lukas? Apakah Yesus akan memperlakukan Luna sama seperti perempuan di Bait Allah?

0 komentar:

Posting Komentar