Rabu, 16 Juni 2010

SALIB KEHINAAN ATAU KEMULIAAN???


Seorang temang mengatakan sambil bercanda bahwa Allah orang Kristen adalah Allah yang kalah dan mati. Dia melihat wafat Yesus disalib sebagai kekalahan. Dia kalah terhadap manusia. Dia pun kalah terhadap penderitaan sehingga menjelang wafat berteriak pada Allah yang telah meninggalkanNya. Temanku membandingkan dengan nabinya yang mampu membangun kerajaan besar dan mampu menaklukkan aneka kerajaan yang semula menguasai dunia. Dia seorang pemenang yang pantas dan layak diikuti oleh semua orang. Kemenangan adalah tanda perlindungan dan restu Tuhan atas gerakan kenabian yang dicanangkannya.

“Memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,” (1Kor 1:23) Rasul Paulus melihat bahwa pemberitaan tentang salib tidak mudah. Orang Yahudi percaya bahwa Mesias adalah orang yang mampu membebaskan bangsa Israel dari penjajahan dan mengembalikan kejayaan Daud. Bila Yesus adalah Mesias maka tidak mungkin Dia wafat di salib. Bila Dia adalah Mesias maka Allah akan menolongNya ketika disalibkan. Oleh karena itu pada saat disalibkan orang Yahudi menunggu apakah Allah akan menolongNya. Bila Allah menolongNya maka mereka akan percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Sedangkan bagi orang diluar bangsa Yahudi, salib merupakan lambang kehinaan. Hanya penjahat kelas berat yang dihukum salib. Bagaimana mungkin orang diajak untuk percaya bahwa orang yang disalibkan adalah penyelamat manusia?

Tapi kekristenan mempunyai pandangan lain. Salib yang dianggap hina dan lambang kekalahan diyakini sebagai bagian dari karya keselamatan dan kemuliaan. Salib adalah lambang kemenangan, sebab melalui salib Kristus segala dosa kita dihapuskan. “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” (1Ptr 2:24). Hal ini memang sulit dipahami bagaimana situasi kekalahan dianggap sebagai kemenangan. Kehinaan diyakini sebagai kemuliaan. Perbedaan mendasar terletak dari cara melihat. Iman melihat jauh menembus kenyataan atau realita. Bila berhenti pada realita maka kita hanya melihat kelemahan dan kekalahan. Untuk itu perlu melihat jauh dari realita.

Kemenangan Yesus bukan karena Dia turun dari salib melainkan keberanianNya untuk wafat disalib demi semua orang. Dia berani menyerahkan diri secara total mengikuti kehendak Allah. Bila Yesus menginginkan untuk turun dari salib pasti hal itu mampu dilakukanNya. Belum pernah ada orang yang mampu membangkitkan orang mati, bahkan orang yang telah berada dalam kubur. Tapi Yesus mampu melakukannya. Kematian adalah kekalahan manusia yang absolut. Manusia tidak akan pernah mampu mengalahkannya. Yesus telah menguasai maut dan mampu mengalahkan maut. “Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal!” (!Tim 6:16). Dengan demikian Yesus bukan orang yang kalah melainkan Dia orang yang taat pada kehendak Allah.

Salib lambang kemuliaan. Yesus adalah orang yang penuh kuasa. Tapi Dia tidak menggunakan kekuasaanNya itu untuk mengalahkan salib. Kemuliaan Yesus bukan sebab kematianNya disalib, tapi kerendahhatianNya yang rela menjalani kehinaan meski Dia sebetulnya tidak pantas menjalaninya dan mampu keluar dari kehinaan itu. KerendahhatianNya membuat Dia rela melepaskan martabat dan kekuasaan yang telah diberikan Allah padaNya. Dia rela menjalani penghinaan sebab terdorong rasa cinta yang sangat besar kepada manusia. Semua orang ingin dihargai setinggi mungkin, maka dia akan berontak bila dihina. Dia ingin membuktikan kemampuannya agar semua orang tahu bahwa dia bukan orang sehina itu. Sebaliknya Yesus memasrahkan diriNya untuk dihina. Dia mengosongkan diriNya. Dia tidak mempedulikan reputasiNya. Kemuliaan Yesus tampak dalam kerelaanNya untuk dihina demi keselamatan manusia.

2 komentar:

  1. Allahku memang luar biasa

    BalasHapus
  2. "Yes Us" Itulah Dia Tuhan yang mampu melalui kesengsaraan & kehinaan disitulah kemuliaannya.

    BalasHapus