Minggu, 20 Juni 2010

SALIB: SEMANGAT UNTUK BERTAHAN DALAM DERITA

Situasi hidup yang sangat menekan pada jaman ini membuat banyak orang tegang. Ketatnya persaingan, tuntutan ekonomi, ketidakjelasan masa depan, kekecewaan pada berbagai sistem dan masih banyak lagi yang menekan manusia, maka mereka menjadi stress dan putus asa. Bila rasa itu tidak mampu diatasi dengan baik maka dapat muncul bentuk-bentuk pelarian yang cenderung negatif. Maka meskipun pengguna narkoba dihukum berat tapi kasus narkoba terus muncul. Banyaknya tawuran antar mahasiswa bahkan dalam satu universitas. Kasus bunuh diri yang semakin meningkat. Kasus orang tua yang membuang anaknya dan aneka kejahatan lain yang terus bertambah.

Semua orang berharap bahwa hidup dapat berjalan seperti yang diharapkan. Tapi situasi kehidupan yang jauh berbeda dari yang diharapkan membuat orang menjadi cemas dan putus asa. Beberapa orang datang padaku sharing tentang kehidupan yang berat. Aku mengatakan bahwa sebetulnya kita patut bersyukur bahwa kita mengikuti Yesus yang tersalib. Dia telah menanggung penderitaan yang jauh lebih berat daripada beban hidup kita. Memang orang bisa berdalih bahwa Yesus dapat kuat sebab Dia adalah Putra Allah. Sebetulnya dalih ini kurang tepat, sebab Yesus juga mengalami kecemasan dan ketakutan. "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Luk 22:42). Doa ini merupakan ungkapan dari kegelisahan dan ketakutan Yesus yang amat sangat. Begitu takutnya sampai ada malaikat yang menguatkan.

Pernah aku masuk dalam situasi yang berat. Aku lalu berdiri di depan jalan salib. Aku hanya melihat gambar Yesus yang memikul salib. Setelah lama memandang lalu timbul dalam hatiku. Bila Yesus kuat menangung salib yang sedemikian berat mengapa aku harus menyerah? Salib yang kupanggul tidak seberat salib Yesus. Bila Yesus harus sendirian memanggul salib, sehingga Dia merasa bahwa Allah pun telah meninggalkan sedang di sekitarku masih ada teman dan saudara yang dapat meneguhkan. Mereka memang tidak memanggul salibku, tapi mereka memberi kekuatan agar aku terus melangkah. Bila Yesus disiksa secara total baik fisik maupun psikologisnya, sedangkan tubuhku tetap utuh. Bila Yesus dihujat oleh seluruh warga Yerusalem sedangkan aku hanya dihujat oleh sedikit orang saja. Membandingkan situasi yang harus dijalani oleh Yesus dan situasi hidupku sendiri, maka aku bertanya pada diri sendiri mengapa harus mengeluh dan protes pada Tuhan seolah hidupku sudah berakhir?

Yesus sudah memberikan keteladanan tentang ketabahan. Ketabahan disebabkan Dia senantiasa bersandar pada Allah. Dia ingin menjalankan kehendak Allah meskipun kehendak Allah tidak sesuai dengan kehendakNya sendiri. Kehendak Allah begitu gelap bagiNya. Kepasrahan pada Allah membuatNya tenang dan berani menjalani situasi yang sangat berat sekalipun. Pemberontakan disebabkan kita kurang berserah pada kehendak Allah. Kegelisahan dan kemarahan disebabkan kita ingin semua berjalan seperti apa yang kita inginkan. Kita ingin Allah mengikuti kehendak kita. Melalui salib kita disadarkan bahwa Yesus yang Putra Allah saja taat kepada kehendak Bapa yang sangat berat. Lalu mengapa kita ingin mengatur Allah agar melakukan kehendak kita?

Penyaliban Yesus adalah tragedi akibat keculasan, pengkhianatan, ketidakadilan, dan aneka kebusukan manusia. Tapi penyaliban Yesus tidak berhenti sampai disitu. Dia bangkit. Para murid yang hatinya sudah hancur, putus asa dan penuh ketakutan setelah melihat Yesus bangkit maka semangatnya kembali berkobar. Penderitaan yang kita alami bukan akhir dari hidup kita. Masih ada kebangkitan yang kita nantikan. Masih ada harapan hari esok. Harapan sekecil apapun bahkan yang tampaknya tidak masuk akal seperti para murid yang melihat Yesus bangkit, merupakan kekuatan untuk bertahan. “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” (Yak 1:12). Keteguhan saat menderita juga merupakan wujud kecintaan kita pada Allah. Cinta sejati adalah jika kita tetap setia meski didera derita.

0 komentar:

Posting Komentar