Jumat, 25 Juni 2010

MEMBELI KESELAMATAN

Beberapa tahun lalu ada seorang publik figur yang menikah. Ada beberapa pejabat tinggi Gereja yang hadir dalam pernikahan itu. Suatu hari aku bertemu dengan salah satu petinggi Gereja yang hadir. Aku tanya alasan kehadirannya sebab hal itu menjadi perbicaraan banyak umat. Beliau menceritakan jasa-jasa tokoh ini saat terjadi bencana di tempatnya. Sambil tersenyum aku mengatakan bahwa seorang temanku selama berbulan-bulan mendampingi kurban bencana itu, apakah bila dia menikah maka beliau juga akan datang? Pertanyaanku ini ternyata menimbulkan kemarahan. Menurut beliau datang atau tidak dalam sebuah pernikahan adalah hak beliau. Aku tidak punya hak untuk menghalanginya. Ketika aku akan menjawab seorang ibu, tokoh perempuan, datang dan mengajakku minum kopi. Kami berdua saling memandang dan tersenyum.

Kejadian itu bukan satu-satunya. Masih ada beberapa kali kejadian dimana seorang menikah dihadiri oleh sekian banyak petinggi Gereja. Jelas mereka bukan orang miskin. Setiap orang Katolik ingin dalam setiap acara yang diadakannya dapat dihadiri oleh petinggi Gereja. Apalagi bila ada beberapa petinggi Gereja yang hadir bersama dan merayakan sakramen bersama. Hal ini tentu akan menambah kebanggaan diri. Tapi tidak semua orang dapat melakukannya. Hanya publik figure atau tokoh yang kaya raya yang dapat melakukannya. Belum pernah ada seorang miskin yang menikah dihadiri oleh beberapa petinggi Gereja sekaligus. Mengundangpun mereka merasa tidak layak.

Dalam Injil diceritakan bahwa suatu hari ada hamba dari seorang perwira yang sakit. Beberapa tokoh Yahudi datang pada Yesus. Mereka meminta agar Yesus datang, sebab perwira itu berjasa. "Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” (Luk 7:4-5). Seandainya perwira itu bukan donatur rumah ibadat apakah para tokoh itu rela datang pada Yesus? Beberapa kali para tokoh itu melihat Yesus menyembuhkan seseorang. Mereka melihat hanya untuk mencari cara agar dapat menyalahkan Yesus. Tapi kali ini mereka yang datang dan meminta Yesus. Mereka mungkin sungkan ketika perwira itu meminta padanya agar mereka mengajak Yesus ke rumahnya untuk menyembuhkan hambanya. Mereka berhutang budi sehingga rela merendahkan diri untuk datang pada Yesus.

Yesus pun berangkat ke rumah perwira itu. Tapi perwira itu seorang yang tahu diri. Dia sekali lagi mengutus sahabatnya dengan pesan kepada Yesus, bahwa Yesus tidak perlu datang ke rumahnya, sebab dia percaya bahwa dengan mengucapkan satu kata saja maka hambanya akan sembuh. Yesus memuji iman perwira itu. Suatu bentuk iman yang sangat sederhana. Iman yang pasrah dan penuh ketaatan. Perkataan perwira itu digunakan oleh Yesus untuk membuka mata para tokoh tua. Keselamatan didapatkan bukan karena jasa kepada manusia atau menjadi donatur besar rumah ibadah, tapi karena iman. "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (Luk 7:50) Keselamatan tidak dapat dibeli. Keselamatan terjadi kalau ada iman. Perwira itu yang dapat membeli para tua-tua sadar bahwa keselamatan berasal dari iman bukan dari apa yang dia miliki dan telah dilakukannya, sehingga dia mengutus sahabatnya untuk meralat apa yang dikatakan oleh para tua-tua.

Saat ini uang menjadi tuan yang sangat berkuasa. Orang merasa kekayaan yang dimilikinya dapat membeli keselamatan. Orang kaya dapat meminta petinggi Gereja hadir dalam acara yang diadakan meski hal itu melanggar aturan. Di suatu tempat punya aturan tertulis bahwa bila ada orang meninggal maka imam hanya melayani satu kali. Tapi ketika ada orang kaya meninggal maka setiap acara dipimpin oleh imam atau petinggi Gereja. Aturan dapat dikalahkan oleh kekayaan. Seolah bila semua acara dipimpin oleh seorang atau beberapa imam maka orang itu dapat masuk surga. Kita harus belajar dari perwira itu bahwa keselamatan terjadi karena iman bukan jabatan atau kekayaan. “Emas dan peraknya tidak akan dapat menyelamatkan mereka pada hari kemurkaan TUHAN.” (Yeh 7:19). Sebaliknya imam pun harus berusaha adil agar tidak menyakiti hati umat yang miskin.

0 komentar:

Posting Komentar