Minggu, 20 Juni 2010

EKARISTI: PERWUJUDAN KASIH

Paus Benediktus XVI dalam ensiklik Deus Caritas Est mengajak kita untuk melihat kembali makna sakramen ekaristi. Paus menulis, “Dalam hal “ibadat” sendiri, dalam persekutuan ekaristi terkandung hal dikasihi dan terus mengasihi. Ekaristi yang tidak menjadi tindakan praksis kasih, terkoyak-koyak.” (art 15). Paus menjelaskan bahwa ekaristi mempunyai sifat sosial. Persatuan kita dengan Kristus dalam ekaristi hanya dapat terjadi bila kita bersatu dengan sesama. Kita menjadi milik Kristus hanya dalam persekutuan dengan sesama. Kita meleburkan diri dalam sesama sehingga menjadi satu tubuh. Peleburan ini didasari oleh kasih kepada Allah dan manusia. Keduanya tidak dapat dipisahkan dan sama. “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat 22:39).

Dalam ekaristi perwujudan kasih itu nyata. Allah mengasihi kita dengan mengurbankan diriNya. Inilah sumber kasih kita. Allah telah mendahului mengasihi kita secara nyata. Maka kita pun harus mengasihi sesama secara nyata. Allah mengasihi kita dengan terlibat dalam kehidupan kita. Dia menjadi manusia, merasakan penderitaan kita dan akhirnya wafat bagi kita. Dalam ekaristi kita diajak untuk melihat kembali pengurbanan Yesus bagi kita. Melalui hosti yang rapuh Yesus menyatu dengan kita. Maka Allah menutut kita untuk terlibat secara nyata dalam kehidupan sesama terutama yang lemah

Kasih adalah perasaan. Tidak dapat diciptakan atau diperintahkan. Perasaan muncul bila kita mau mengenal sesama, menjadikan mereka sebagai saudara dan terlibat dalam kehidupannya. Dunia saat ini didasari oleh sikap individualis, dimana kita merasa tidak membutuhkan sesama. Sikap ini sudah masuk dalam tubuh Gereja yang hari demi hari semakin menguat. Pada waktu merayakan ekaristi kita bisa duduk sebangku dengan orang yang asing bagi kita. Mungkin kita sudah mengenal wajahnya tapi belum pernah sekalipun saling menyapa. Bagaimana mungkin kita dapat mengasihi dia?

Banyak orang merasa bahwa mengikuti ekaristi adalah kewajiban sebagai umat Katolik atau juga untuk mengejar kesalehan pribadi. Seolah bila sudah mengikuti ekaristi setiap hari maka dia akan masuk surga. Dalam Injil jelas bahwa syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah bila orang memiliki kasih pada sesamanya terutama yang miskin. Paus Benediktus menyebut orang yang mengejar kesalehan pribadia adalah orang benar tapi tidak memiliki kasih. Orang semacam ini akan mengalami hubungan Allah yang kering. Kita akan merasakan kasih Allah dan memiliki hubungan dengan Allah yang hidup bila kita mengasihi sesama. “karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1Yoh 4:20). Kasih kita pada Allah menjadi nyata dalam kasih kepada sesama. Kita akan menjadi peka terhadap Allah bila kita peka terhadap sesama.

Dalam ekaristi kita mendengarkan sabda Allah. Kita dapat belajar dari Bapa dan Putra agar mampu mengasihi sesama. Kita diajak untuk merenungkan sejauh mana kita telah melakukan kasih kepada sesama. Dengan demikian semua firman Allah bukanlah sebuah penghiburan atau membuat kita merasa puas diri, melainkan sebuah tuntutan dan ajakan untuk melakukan tindakan kasih yang nyata disini dan saat ini. Kita belajar dari Yesus bagaimana Dia mewujudnyatakan kasih Allah pada manusia. “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” (1Ptr 2:21)

Oleh karena itu perlu adanya pembaharuan ekaristi. Bukan hanya tata liturginya seperti yang terjadi dalam Gereja selama ini. Pembaharuan-pembahuruan liturgi sering kali hanya mengubah gerakan tubuh, kalimat-kalimat doa, dan lagu-lagu. Belum menyentuh pembaharuan relasi manusia dengan sesamanya yang merupakan intinya. Ekaristi harus menjadi praksis kasih dan persatuan antar umat. Bila tidak maka ekaristi sudah terkoyak-koyak. Kasih pada sesama berlanjut pada kasih pada semua orang. Dengan demikian perlu adanya revolusi dalam bidang liturgi agar praksis kasih semakin nyata.

0 komentar:

Posting Komentar