Senin, 07 Juni 2010

SEMANGAT MISKIN

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang ingin hidup miskin. Orang berlomba untuk menjadi kaya. Gereja juga tidak melarang umatnya menjadi kaya, sebab Gereja juga kaya. Tapi Gereja mengingatkan agar semua orang mempunyai semangat miskin. Semangat yang digali dari orang miskin. Orang miskin adalah orang yang tidak punya apa-apa. Kemiskinan membuatnya tidak mempunyai kekuasaan untuk menentukan aneka hal bahkan hidupnya. Dia berserah untuk diatur dan menerima apa saja tanpa pemberontakan dalam diri. Ketidakberdayaan ini membuatnya berserah, sehingga dia mudah bersyukur atas apa saja yang diterimanya. Sebaliknya bila orang merasa kaya dan mempunyai kuasa, maka dia akan mengatur banyak hal. Bahkan memaksakan pendapat dan keinginannya. Dia akan mudah menuntut bila merasa diperlakukan tidak sesuai dengan kepemilikannya.

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:3). Yesus mengatakan bahwa orang yang miskin di hadapan Allah sebagai orang berbahagia. Yesus berbicara bukan berdasarkan kepemilikan, sebab bila bicara kepemilikan, maka siapa yang akan merasa kaya dihadapan Allah? Ini adalah semangat miskin. Semangat miskin dihadapan Allah membuatnya memiliki Kerajaan Sorga, situasi penuh persaudaraan dan kasih yang akan memberikan rasa damai dan bahagia. Kerajaan Sorga sudah dimulai saat Yesus datang dan benihnya ada dalam Gereja yang akan sempurna pada akhir jaman. Memiliki bukan berarti dia menjadi penguasa Kerajaan Sorga tapi dapat hidup dalam dan merasakan Kerajaan Sorga. Dia akan bahagia dan merasa damai.

Semangat miskin dihadapan Allah membuat kita menyerahkan seluruh hidup kita pada Allah. Kita menerima semua pemberian Allah seperti Ayub. “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!.” (Ayb 1:21). Atau pasrah seperti Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38). Sikap ini membuat kita bahagia. Sering orang merasa tidak bahagia sebab hatinya penuh dengan tuntutan dan ketidakpuasan. Orang tidak puas akan situasi hidupnya. Orang merasa jengkel sebab doa-doanya terasa tidak didengar oleh Allah. Orang marah sebab merasa telah mentaati perintah Allah tapi hidupnya diterpa bencana. Orang kuatir akan hidupnya. Akibatnya jika dia berdoa maka isi doanya penuh tuntutan dan perintah agar Allah memenuhi apa yang diinginkannya.

Orang yang merasa kaya juga tidak bahagia di dunia dan tidak mampu masuk dalam Kerajaan Allah. Orang yang merasa kaya dan kuat, maka dia tidak membutuhkan orang lain. Padahal manusia adalah mahluk sosial yang sangat bergantung pada sesama. Dalam Gereja yang dihuni orang kaya, maka rasa persaudaraan menjadi tipis. Bila di desa maka semua anggota Gereja saling mengenal satu dengan yang lain. Tapi bila di daerah kaya, maka orang sulit mengenal satu dengan yang lain. Bagaimana mau membangung persaudaraan bila tidak saling mengenal? Bila orang miskin meninggal, maka keluarganya sudah merasa bersyukur bila tutup peti dilakukan oleh asisten imam atau prodiakon. Tapi bila orang kaya maka keluarganya menuntut setiap upacara harus dipimpin oleh seorang imam. Bila tidak maka keluarga itu akan marah.

Maka kebahagiaan hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai semangat miskin. Orang yang merasa dirinya tidak berkuasa dan tidak berarti, sehingga berserah pada banyak hal serta bersyukur atas segala yang dialaminya. Semangat miskin bukan hanya dimiliki oleh orang miskin materi, tapi semua orang dapat memilikinya. Orang yang memiliki banyak materi pun dapat memiliki semangat miskin. Yesus mempunyai semuanya. Dia adalah Putra Allah, tapi Dia berani melepaskan segalanya. “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Flp 2:6-7). Semangat miskin dapat kita pelajari bila kita mau terlibat dalam kehidupan orang miskin

0 komentar:

Posting Komentar