Minggu, 13 Juni 2010

MANAKAH YANG LEBIH BERHARGA?

Seorang datang padaku meminta doa. Dia bercerita bahwa sudah 2 minggu ini cincin emas kesayangannya hilang entah kemana. Dia sudah berusaha mencari ke seluruh pelosok rumah. Bertanya pada suami dan anak-anak serta pembantunya. Tapi tidak ada satu pun yang tahu dimana cincin itu berada. Dia pun sudah berdoa novena tapi hasilnya masih nihil. Maka dia berharap aku mau membantu doa agar cincin itu dapat ditemukan. Aku sarankan agar dia membeli lagi saja, sebab dia mampu membelinya. Usulku langsung ditolak. Cincin itu sangat berarti baginya sebab itu hadiah pernikahan dari almarhum ibunya. Cincin itu tidak akan tergantikan sebab sarat kenangan.

Cincin adalah benda yang dapat dibeli kapanpun kita mau. Kita pun dapat memesan pada pengrajin untuk membuatkan yang sama persis dengan yang hilang. Kesedihan disebabkan dalam cincin itu ada nilai kenangan yang tidak tergantikan. Kehilangan cincin menjadi kehilangan benda yang memuat kenangan terdalam dalam hidup. Nilai inilah yang tidak mungkin tergantikan oleh benda apapun di dunia. Memang kenangan akan almarhum ibu bisa tetap ada meski cincin pemberiannya hilang. Tapi cincin itu menjadi benda yang dapat mengkaitkan antara orang itu dengan almarhum ibunya.

Cincin bukan hanya sekedar benda, sebab didalamnya ada nilai, kenangan dan kasih yang tidak tergantikan. Tapi apakah kita juga gelisah ketika kehilangan sesama? Bukankah sesama adalah citra Allah yang jauh bernilai dari sebuah cincin? Dalam hidup sering terdengar kisah orang menyingkirkan teman bahkan saudaranya sendiri dari ingatan dan hidupnya. Dalam Luk 15:11-32 diceritakan tentang anak yang hilang. Anak sulung tidak peduli adiknya hilang, sebab dia merasa bahwa adiknya telah berlaku tidak baik terhadap bapa dan keluarganya. Dia pun marah melihat sikap bapanya yang peduli pada adiknya. Dia tidak melihat bahwa adiknya sangat bernilai sebaliknya bapa melihat anaknya sangat bernilai, maka dia menyambutnya penuh suka cita.

"Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?” (Mat 18:12). Yesus datang ke dunia untuk mencari manusia yang tersesat. Orang yang tersesat atau hilang dalam istilah Lukas, mungkin dia tidak paham akan kebenaran. Mungkin dia egois dan hidup hanya menuruti keinginannya sendiri. Mereka perlu dicari dan diselamatkan sebab mereka juga ciptaan Allah. Ketika Yesus dikritik sebab bergaul dengan Zakheus yang dicap sebagai orang berdosa, maka Yesus menjawab, "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” (Luk 19:9). Kita semua adalah citra Allah. Ciptaan Allah yang paling mulia. Maka manusia sangat berharga dan perlu diselamatkan agar mereka kembali menjadi citra Allah.

Pencarian manusia yang berdosa adalah usaha untuk memulihkan martabat manusia yang rusak akibat dosa. Tanggungjawab ini merupakan tanggungjawab kita semua. Setiap orang diajak oleh Yesus untuk mengembalikan manusia pada jalur hidupnya sebagai citra Allah. Para murid pun diutus untuk pergi memberitakan Kerajaan Allah dan membawa manusia pada pertobatan. “Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat,” (Mrk 6:12). Tapi tugas ini sering kali diabaikan. Kita sering tidak peduli bila ada orang berdosa. Bahkan mungkin kita pun tega menyingkirkan orang.

Pada akhir-akhir ini kita dihebohkan oleh video porno artis. Mulai dari anak kecil, orang tidak berpendidikan sampai pejabat membicarakannya. Orang hanya membicarakan tanpa rasa sedih yang mendalam mengapa ada artis yang berbuat demikian. Kita lebih suka menetertawakan orang yang jatuh dalam dosa dan memandangnya hina daripada melakukan usaha untuk mempertobatkannya. Bukankah mereka juga citra Allah yang membutuhkan pemulihan martabat yang telah dirusaknya. Bukankah kita pun terlibat merusak citranya bila turut menyebarkan keburukannya? Tapi inilah dunia dewasa ini. Orang lebih prihatin ketika cincinnya hilang daripada sesamanya hilang.

0 komentar:

Posting Komentar