Jumat, 18 Juni 2010

OPTION FOR THE POOR

Di depan sebuah gereja pada hari minggu banyak pengemis yang duduk di jalan masuk ke gereja. Pakaian dan kondisi mereka sangat kontras dengan gedung dan umat yang mau mengikuti misa. Apalagi dengan bagian dalam gereja yang megah dan nyaman. Beberapa kali aku melihat para pengemis itu hanya seperti patung atau benda biasa yang memang sudah ada di tempat itu, sebab umat yang melewatinya berjalan begitu saja. Jarang ada yang menoleh atau tersenyum atau memberikan uang receh mereka. Seolah pengemis itu bukan manusia sehingga tidak perlu diperhitungkan keberadaan dan martabatnya sebagai manusia. Beberapa orang bahkan menunjukkan ekspresi wajah yang tidak senang melihat kehadiran pengemis itu disitu. Mereka mengatakan bahwa memberi uang pada pengemis itu sama saja kita turut melanggengkan apa yang mereka kerjakan. Sampai kapan kita harus memberi pengemis? Sampai uang di dompet habis pun tidak akan mampu membuat pengemis meninggalkan profesinya.

Di depan pasturan tempatku memang tidak ada pengemis. Tapi setiap hari selalu ada tukang becak yang berjajar menunggu penumpang. Bahkan ada tukang becak yang sudah puluhan tahun setiap hari mangkal di depan gereja. Melihat ada tukang becak di depan pasturan maka aku berusaha mengajak mereka untuk berkumpul membangun komunitas yang disepakati oleh mereka sebagai paguyuban. Mereka aku undang untuk makan siang bersama. Menjadi anggota koperasi. Mengadakan perlombaan pada hari raya nasional. Aku berusaha menyapa mereka setiap masuk atau keluar pasturan. Kadang aku memberi rokok satu dua bungkus. Aku memang tidak mampu membantu mereka untuk beralih profesi menjadi sopir taksi atau kerja yang lain. Maka aku berusaha menjadikan mereka sebagai sahabat. Orang yang semartabat.

Sudah lama Gereja mencanangkan option for the poor lalu diubah menjadi option with the poor. Dalam Konsili Vatikan II Gereja berusaha membangun kembali semangat awali yaitu kepedulian pada kaum miskin dan tertindas yang dituangkan dalam dekrit Gaudium et Spes. Gereja berusaha memposisikan diri untuk terlibat dalam situasi kaum miskin. Prihatin pada kondisi kemiskinan dan berjuang bersama kaum miskin agar mereka dapat keluar dari kemiskinannya atau mereka dipulihkan hak dan martabatnya. Seruan para pemimpin Gereja agar Gereja terlibat dan solider pada kaum miskin terus didengungkan. Ensiklik yang pertama dari Paus Benediktus XVI, Deus Caritas Est, pun menyerukan agar Gereja melakukan tindakan kasih yang nyata.

Tapi solidaritas dan keterlibatan pada kaum miskin sering kali masih dalam tahapan wacana dan bahan diskusi yang panjang. Masih ada batasan yang tegas antara kaum miskin dan Gereja. Tindakan kasih bagi kaum miskin masih berupa seruan belum menjadi kesadaran sebagai panggilan hidup Gereja. Untuk meanggapi seruan Gereja maka ada orang yang berusaha melakukan tindakan kasih pada kaum miskin, tapi masih dalam tindakan karitatif dan momental. Ketika Jogja diguncang gempa, maka banyak umat dalam waktu singkat menggalang dana. Seorang tokoh umat mengkritikku yang tidak berusaha menggalang dana bantuan untuk Jogja. Dia dengan bangga bercerita bahwa dia telah menggalang sekian puluh truk bahan bantuan bagi kurban.

Option for the poor atau sekarang option with the poor, bukanlah sebuah tindakan yang tergantung moment. Tapi sebuah tindakan yang berkelanjutan. Membantu kurban bencana merupakan hal mudah bila kita mempunyai dana. Biasanya kita datang lalu pergi setelah melakukan potret memotret. Kita tidak pernah mengenal dan dikenal oleh para kurban. Tidak ada relasi batin diantara kita dengan mereka. Mereka senang saat menerima bantuan tapi setelah itu mereka tidak tahu mau apa. Option with the poor adalah bila kita berani masuk dalam kehidupan mereka dan terlibat dalam masalahnya. Kita menjadi sahabat mereka dan bersama mereka kita berusaha mengubah hidupnya. Dalam pertemuan bersama para tukang becak untuk membagi tabungan beberapa waktu lalu, salah seorang tukang becak dengan bangga mengatakan bahwa dia mempunyai tabungan 6 juta dan akan diambil untuk membeli seekor sapi. Inilah langkah kecil option with the poor. Kaum miskin bukan keranjang belas kasih melainkan kita harus mampu memberdayakan mereka agar mampu keluar dari masalah hidupnya.

0 komentar:

Posting Komentar