Minggu, 13 Juni 2010

BERKAT ATAU KUTUK??

Seorang bapak yang mempunyai anak cacat bertanya padaku apakah anaknya itu suatu anugerah? Banyak orang mengatakan bahwa anak adalah anugerah Tuhan. Tapi bila cacat parah apakah pendapat itu masih berlaku. Anugerah adalah sesuatu yang membuat manusia bahagia dan bangga. Dimana kebahagiaan dan kebanggaan bila mempunyai anak cacat? Anugerah adalah sesuatu yang dinantikan dan diharapkan manusia. Apakah anak cacat dinantikan dan diharapkan oleh orang tua? Bila bukan anugerah apakah anak cacat ini adalah sebuah kutuk? Bila anak ini adalah kutuk apakah kesalahannya sehingga dia dikutuk seperti ini? Bukankah anak ini juga ciptaan Allah yang dibuat dengan penuh kasih? Bukankah dia juga citra Allah? Mengapa Allah menggambarkan DiriNya dalam wujud dan kondisi seperti ini?

Pertanyaan bapak ini bukan sebuah pertanyaan yang mudah. Harold S Kushner (3 April 1935 - ) seorang rabi Yahudi menulis buku dengan judul Berkat, Kutuk atau Rahmat. Menurutnya penderitaan dapat membuat seseorang berusaha untuk memahami Allah semakin mendalam, tapi lebih banyak lagi yang membuat orang menjadi sinis pada Tuhan. Mereka menjadi berontak sebab penderitaan menimbulkan konflik yang tajam mengenai konsep Allah yang Mahabaik dan situasi yang dihadapinya. Orang berontak sebab mereka juga terjebak oleh hukum sebab akibat. Padahal di dunia ini ada sesuatu yang terjadi diluar sebab akibat. Terjadi tanpa mengikuti jalur ketertiban. Mengapa Allah membuat sesuatu diluar jalur ketertiban? Matahari tertib dari timur ke barat. Tapi ada komet yang keluar dari jalurnya sehingga menabrak bumi dan menimbulkan bencana yang mengerikan. Mengapa komet itu bisa keluar dari jalurnya? Banyak penyebabnya.

Dalam penderitaan orang terdorong untuk mencari sebabnya. Ada penderitaan yang diakibatkan oleh ulah manusia. Ada pula yang disebabkan oleh diri sendiri. Tapi diluar itu ada yang disebabkan oleh adanya ketidaaturan. Seorang ibu yang sudah berusaha menjaga janin dalam rahimnya sedemikian rupa tapi ternyata saat lahir anaknya cacat. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dia lalu mencari penyebabnya dan siapa yang harus bertanggungjawab terhadap semua ini. Orang berusaha mencari kambing hitam dalam penderitaannya. Tuhan sering menjadi kambing hitam. Terkadang orang takut untuk menimpakan semua kesalahan pada Tuhan. Lalu siapa yang salah? Maka pertanyaan berubah menjadi mengapa ada penderitaan? Apakah Allah suka melihat penderitaan?

Allah tidak suka dengan penderitaan manusia. Yesus menangis ketika Lazarus mati. Tuhan pun menyesal atas musibah air bah "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.” (Kej 8:21). Dengan demikian Allah bukanlah Allah yang kejam dan suka menyiksa manusia. Bila Dia kejam maka Dia tidak akan menyerahkan putra tunggalnya untuk disalibkan. Wafat Yesus yang mengerikan adalah usahaNya untuk menanggung penderitaan manusia. "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." (Mat 8:17). Bila Allah tidak kejam lalu mengapa ada penderitaan di dunia? Mengapa menimpaku?

Ketika Yesus ditanya salah siapa sehingga ada orang buta maka Dia menjawab "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yoh 9:3). Yesus tidak berusaha mencari sebab kebutaan itu. Dia mengajak kita melihat penderitaan secara positip, bahwa dalam penderitaan kasih Allah semakin dinyatakan. Kasih yang murni sebab tidak mencari kesenangan dan kepuasan diri melainkan kasih yang rela memberikan diri bagi sesamanya. Harold melihat kematian Martin Luther King, pemimpin spiritual kulit hitam di AS yang dibunuh, adalah saat yang tepat baginya untuk menghadap Allah, sebab dia terlalu berat menanggung penderitaan. Harold berusaha mencari makna dalam penderitaan. Bila manusia menemukan makna dari penderitaan maka dia akan mampu bertahan. Yesus berani menjalani siksa dan memikul salib sebab Dia menemukan makna bahwa segala yang dialamiNya demi keselamatan kita.

0 komentar:

Posting Komentar