Rabu, 26 Mei 2010

GEREJA RAKYAT

Gustavo Guiterrez Merino OP (8 Juni 1928-) dikenal sebagai pencetus teologi pembebasan di Amerika Selatan. Teologi ini sangat berpihak pada rakyat miskin, sehingga dituduh berbau Marxis atau mengusung ideologi Marx ke dalam Gereja. Vatikan menjadi gerah dan melarang teologi ini, sebab dianggap dapat mengajak rakyat untuk mengangkat senjata seperti gerilyawan Sandinista di Nikaragua. Sandinista adalah partai yang didirikan oleh Augusto Ceasare Sandino pada tahun 1930. Mereka melawan kekuasaan Amerika yang menguasai Nikaragua. Gerakan ini menganut paham Marxis atau sosialis.

Gustavo yang hidup dalam kemiskinan rakyat Peru berusaha menafsirkan Kitab Suci sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Baginya iman adalah perbuatan untuk menegakkan keadilan dan membebaskan rakyat miskin dari penindasan. Yesus datang ke dunia untuk membebaskan rakyat miskin. Hal ini diungkapkan sejak awal sebelum Dia melakukan karyaNya. "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk 4:18-19). Selama hidup Yesus berpihak dan membela orang yang dikucilkan, ditindas, dan kelompok minoritas. Dia pun melawan sistem yang memberatkan rakyat. Akibatnya Dia sering bertengkar melawan para penguasa baik pemerintahan maupun agama, kaum Farisi yang menjaga adat istiadat Yahudi, para imam kepala dan tua-tua Yahudi. Mereka kuatir bahwa gerakan yang diajarkan Yesus akan mengguncangkan kedudukan mereka.

Menurut Gustavo, Gereja adalah, atau seharusnya, orang miskin yang menerima Injil. Mereka yang solider dengan kepentingan-kepentingan, aspirasi dan perlawanan orang-orang tertindas dan tertekan dalam dunia. Gereja adalah Gereja rakyat miskin yang berusaha menanggapi panggilan Yesus untuk membebaskan diri dari penindasan dan membangun persaudaraan yang setara. Injil tidak lagi berbicara hanya masa depan yang jauh tentang akhir jaman, neraka atau surga tapi juga berbicara situasi kongkrit yang sedang terjadi ditengah masyarakat. Injil itu menyejarah bukan kitab yang turun dari surga. Yesus adalah Firman Allah. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,” (Yoh 1:14). Firman yang membawa terang dan harapan bagi manusia yang tertindas akibat sistem yang tidak adil.

Di lain pihak Yesus dengan belas kasihNya mengajak orang untuk bertobat dengan mengubah perilaku tidak adil dan sewenang-wenang menjadi perilaku yang berbelas kasih terutama kepada kaum miskin. Seruan keadilan dimulai oleh Yohanes Pembaptis (Luk 3:10-14). Bila orang bertobat maka dia harus solider dengan orang miskin, tidak memeras dan merampas. Yesus pun dengan tegas menyatakan bahwa siapa yang ingin selamat dia harus berani berbagi dengan orang miskin, sebab Dia ada dalam diri orang miskin (Mat 25:31-46). Dengan demikian iman bukan sekedar percaya akan Yesus sebagai juruselamat melainkan terwujud dalam tindakan nyata yaitu berbelas kasih kepada kaum lemah dan terlibat dalam karya pembebasan kaum miskin.

“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” (Yak 2:19). Setan percaya pada Tuhan tapi tidak mewujudkan dalam tindakan, sedangkan orang beriman percaya pada Tuhan dan mewujudkan dalam tindakan belas kasih. Gustavo menekankan bahwa iman bukan sekedar berdoa dan percaya tapi iman adalah tindakan penyelamatan manusia dari kemiskinan seperti Allah yang berpihak dan terlibat dalam penderitaan manusia. Iman adalah mewartakan kabar gembira pada kaum miskin dalam perkataan dan perbuatan. Hal ini tidak mudah. Berpihak dan terlibat dalam perjuangan kaum miskin sering dituduh memberontak. Yesus pun dituduh menghasut rakyat untuk melawan kaisar. Tapi inilah pilihan kita. Mengikuti Yesus berarti siap untuk berjuang melawan ketidakadilan.

0 komentar:

Posting Komentar