Kamis, 06 Mei 2010

MENGAPA TUHAN?

Seorang teman berbicara dalam nada protes. Dia mengeluh bahwa Tuhan tidak adil. Temannya yang masih muda dan mempunyai anak-anak yang masih kecil divonis oleh dokter terkena kangker stadium 4. Dokter tampaknya sudah menyerah. Padahal teman itu menurut dia sangat aktif dalam pelayanan dan baik. Selain itu mengapa dia yang masih muda dan menjadi tempat bergantung anak-anaknya harus meninggal dunia? Mengapa Tuhan sewenang-wenang? Apakah Dia tidak memperhitungkan anak-anak yang masih kecil dan sangat membutuhkan sosok ibu?

Protes kepada Tuhan seperti ini memang sudah sering aku dengar. Dalam Kitab Suci orang-orang semacam ini diwakili oleh Ayub. Dia protes pada Tuhan bahkan sampai mempertanyakan mengapa dia harus dilahirkan bila hanya untuk menderita. Lebih baik dia mati dalam kandungan. Ayub sadar akan kekuasaan Allah yang sangat besar maka Dia dapat berlaku apa saja terhadap ciptaanNya. Dia kejam dan selalu mengawasi manusia sehingga bila salah sedikit saja maka akan dihukumNya. Dia tidak bisa dibantah dan manusia tidak akan menang melawanNya. Dalam rasa frustasi Ayub mempertanyakan lalu buat apa Allah menciptakan manusia bila akhirnya dihancurkan? “Tangan-Mulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku? Ingatlah, bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat, tetapi Engkau hendak menjadikan aku debu kembali?” (Ayb 10:8-9).

Banyak orang mempertanyakan Allah ketika dia mengalami penderitaan. Mereka protes akan situasi hidup yang dialami dan berujung pada pertanyaan tentang keadilan Allah. Orang mulai membandingkan dengan situasi orang lain. Mengapa orang jahat dan sudah tua tapi terhindar dari segala penyakit sedangkan yang masih muda, baik dan dibutuhkan oleh anak-anaknya harus menghadapi kematian yang begitu cepat? Apakah Allah adil dalam tindakanNya ini? Memang keadilan Allah tidak sama dengan keadilan manusia. Dalam perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur, tuan pemilik kebun anggur membayar yang sama terhadap orang yang bekerja dari pagi maupun yang bekerja satu jam saja. Ketika orang protes maka jawabannya, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati.” (Mat 20:15). Andai temanku bertemu Allah dan dia protes padaNya mungkin jawaban Allah “Bukankah Aku bebas memberi hidup sesuka hatiKu? Atau iri hatikah engkau karena Aku murah hati?”

Kasih Allah memang tidak terbatas pada orang baik. “Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat 5:45). Kasih semacam inilah yang tidak kita pahami. Kita meyakini adanya pahala dan petaka. Orang baik akan mendapat pahala sedangkan orang jahat akan mendapat petaka. Maka bila ada orang yang dianggap baik atau merasa diri baik mengalami penderitaan, dia akan kecewa pada Allah yang dianggap tidak adil. Allah dianggap tidak memperhitungkan apa yang sudah dilakukan di dunia.

Allah adalah misteri. Segala keputusannya adalah misteri, sesuatu yang gelap bagi kita. Kita protes sebab merasa diri tahu akan kehendak Allah atau merasa diri berjasa pada Allah. Untuk itu sebenarnya dibutuhkan kerendahanhati bahwa kita hanyalah hamba Allah. Hamba yang menerima apa yang ditentukan Allah. Menerima segala sesuatu yang dari Allah dengan pasrah. Ayub pun pada awalnya berusaha berserah, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN.” (Ayb 1:21). Mungkin juga Allah hendak menjadikan kita sebagai teladan. Seperti Yesus yang tetap setia meski harus menderita. Atau mungkin kita juga dijadikan sarana bagi Allah untuk menunjukkan belas kasihNya. Ketika para murid mempertanyakan salah siapa sehingga ada orang buta, maka Yesus menjawab "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yoh 9:3). Dengan adanya penderitaan karya Allah semakin nyata. Tapi semua misteri Allah. Kita hanya mampu berdoa seperti Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38)

0 komentar:

Posting Komentar