Rabu, 17 Februari 2010

HIDUP BARU

Ketika naik pesawat dari Jakarta aku duduk dekat serombongan perempuan yang penampilannya sangat modis. Semula aku mengira mereka adalah rombongan artis yang hendak ke Surabaya. Ketika pesawat sudah take off, mereka ribut berbicara menggunakan bahasa Inggris yang pronunciation-nya aneh, dicampur Cina dan Indonesia dialek Jakarta. Orang yang duduk disebelahku tersenyum sinis sambil berbisik padaku, dasar TKI. Ketika kuamati memang dandanan dan gaya mereka cukup berlebihan dan ada yang kurang pas antara penampilan dan sikap mereka.

Orang dibentuk oleh suatu lingkungan dan bisa tetap menjadi dirinya seperti semula meski dia sudah berada dalam lingkungan yang berbeda. Seharusnya orang dapat beradaptasi dengan lingkungan, status, jabatan dan sebagainya. Tapi hal ini tidak mudah sebab membutuhkan proses. Bila perubahan begitu cepat seperti para TKI maka akan timbul ketidakseimbangan. Mereka berasal dari desa yang sangat terbatas, tiba-tiba hidup di Hongkong. Mereka biasanya direndahkan di tempat kerja tiba-tiba menjadi orang merdeka dan dianggap hebat sebab dapat hidup di luar negeri dan mempunyai uang yang banyak. Maka mereka berusaha untuk menunjukkan siapa dirinya dengan berbicara keras-keras menggunakan bahasa yang campur aduk. Perubahan yang cepat dan dratis ini membuat mereka bersikap yang “aneh”.

Kita hidup dalam lingkungan dunia dan terbentuk oleh nilai-nilai dunia. Tapi ketika kita dibaptis maka kita berubah menjadi anak Allah. Kita mendapat anugerah Roh Kudus bahkan bukan lagi kita yang hidup melainkan Yesus yang hidup dalam diri kita. Keduniawian kita dikuburkan dan bangkit manusia baru yaitu manusia yang dijiwai oleh Roh dan kebenaran. Dalam baptis kita ditandai dengan nama baru. Nama bukan hanya sekedar panggilan tapi menunjukkan keseluruhan diri kita. Maka perubahan nama berarti perubahan diri kita secara penuh. Maka seharusnya ada perubahan besar pada orang yang telah dibaptis. Dia bukan lagi si A yang dulu tapi si A yang baru.

“Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula." (Mrk 2:22). Hidup baru bukan hanya luar atau dalam tapi keseluruhan diri. Hal ini tidak mudah. Banyak orang setelah dibaptis tetap bersikap atau bertindak seperti sebelum baptis. Lalu dimana ke-baru-an pembaptisan? Untuk itu perlu ada kesadaran diri yang tinggi. Dia sadar bahwa sekarang dia bukan lagi manusia yang dulu. Dia sadar bahwa hidupnya sekarang digerakkan oleh Roh. Kesadaran hidup baru dalam Roh tidak tumbuh secara mendadak tapi membutuhkan proses dan keberanian diri untuk diubah. Tapi sering orang kurang menyadari hal ini. Mereka ingin cepat dibaptis sebab merasa bahwa dengan baptis dia sudah mengikuti Kristus dan akan memperoleh keselamatan. Padahal keselamatan ditentukan oleh ketaatan pada perintah Allah. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Mat 7:21).

Pem-baru-an diri membutuhkan sikap rendah hati yang siap diubah. Ada orang yang sombong dan mengatakan bahwa dirinya sudah seperti itu dan tidak dapat diubah. Seorang pemarah mengatakan bahwa dia adalah pemarah dan tidak bisa diubah. Lalu dimana ke-baru-an yang diterimanya? Apakah cukup dengan mempunyai nama baptis? Bila orang rendah hati maka dia memberikan ruang yang cukup lebar bagi Allah. Dia menyerahkan dirinya untuk diubah oleh Allah yang berbicara melalui aneka cara.

Semua itu membutuhkan refleksi. Melihat dan menilai semua apa yang telah dikerjakan dalam terang iman. Bila tindakannya dirasa tidak sesuai dengan kehendak Allah maka dia bertobat untuk mengubah yang sesuai dengan kehendak Allah. Tapi hal ini tidak mudah, akibatnya seperti para TKI di pesawat. Mereka hanya berubah kulitnya saja tapi keseluruhan dirinya tetap manusia lama. Penampilan dan bahasa mereka berubah tapi mentalitas mereka tetap sama, sehingga kelihatan kurang pas dan hanya menjadi bahan tertawaan bagi orang sekitarnya saja.

0 komentar:

Posting Komentar