Sabtu, 25 September 2010

BERBAGI

Mark Zuckerberg (14 Mei 1984) mungkin kurang dikenal orang, tapi orang mengenal situs sistem jejaring sosial “Facebook” (FB) yang merupakan ciptaannya. FB yang diciptakan 4 Februari 2004 dalam waktu singkat sudah menjadi situs jejaring sosial yang terbesar. Pada tahun 2007 anggota aktif FB sudah 34 juta yang tersebar di seluruh dunia. Tahun 2009 jumlah anggota meningkat tajam menjadi 200 juta. Anggota FB beragam mulai anak-anak, pengusaha, kaum relegius sampai presiden. Barack Obama, presiden AS dan Nicholas Sarkozy, presiden Perancis juga menggunakan FB untuk kampanye. Semakin banyak anggota aktif, maka keuntungan FB dari iklan semakin meningkat. Konon pada tahun ini FB meraup keuntungan sebesar $ 1 milyard.

Hal ini mengangkat Zuckerberg menjadi anak muda yang kaya raya dan berpengaruh. Tapi tampaknya dia tidak ingin menikmati semua kekayaan itu bagi dirinya sendiri. Situs yahoo.com, 25 September 2010, memuat berita bahwa Zuckerberg akan mendonasikan uangnya sebesar $ 100 juta atau hampir 1 milyard rupiah untuk pendidikan di kota Newark, California. Sebuah angka yang sangat fantastis bagi kita disini. Zuckerberg bukan satu-satunya orang yang rela membagikan kekayaannya untuk kemanusiaan. Bill Gates, orang terkaya di dunia nomor dua, juga akan menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk kemanusiaan. Anak-anak dan istrinya hanya diberi sedikit saja. Memang belum ada pengumuman resmi tentang jumlah nominal yang akan didonasikan untuk kemanusiaan. Tapi bila mengingat dia adalah orang terkaya kedua di dunia menurut versi majalah Forbes dengan total kekayaan $ 54 milyard, andai 50% saja disumbangkan untuk kemanusiaan sudah merupakan angka yang besar sekali.

Chow Yun Fat, aktor laga Cina memiliki kekayaan sekitar 1,15 trilyun rupiah. Dia pun akan menghibahkan 99% kekayaannya itu untuk kegiatan amal bila nanti dia meninggal dunia. Masih banyak lagi orang yang menyumbangkan ratusan juta bahkan milyardan rupiah untuk kemanusiaan atau orang miskin. Bukankah mereka bekerja keras untuk memperoleh kekayaan itu lalu mengapa setelah memperolehnya mereka memberikan pada orang lain? Menarik apa yang dikatakan oleh Chow Yun Fat pada Sun Daily, Hongkong, "Uang sebanyak itu bukanlah milik saya, namun dari hasil jerih payah. Ini bukanlah berarti saya ingin memilikinya selama-lamanya," Dia menyadari bahwa uang yang dimilikinya bukanlah miliknya dan tidak akan dimiliki selama-lamanya.

Orang berbagi dengan sesama bila dia menyadari bahwa apa yang ada padanya bukanlah miliknya sepenuhnya. Mungkin kita dapat mengatakan bahwa mereka sudah kaya dan sudah puas menikmati kekayaan itu. Tapi keberanian untuk berbagi bukan hanya milik orang yang kaya. Banyak orang miskin yang juga memberikan apa yang dimilikinya untuk orang lain. Ibu Teresa dari Kalkuta beberapa kali mensharingkan pengalamannya menerima sumbangan dari orang yang sangat miskin. Seorang pengemis yang sakit parah suatu hari memberikan penghasilannya untuk pelayanan Ibu Teresa. Dengan demikian berbagi bukan hanya kalau orang sudah kaya dan puas menikmati kekayaannya itu. Tapi keberanian berbagi adalah ketika orang mulai sadar bahwa segala kekayaan yang dimilikinya bukanlah miliknya sendiri.

Yesus mengajarkan lebih tegas lagi pada para muridNya. "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Luk 18:22). Bahkan orang yang tidak mau berbagi pada sesama dia akan masuk dalam neraka seperti dalam perumpamaan orang kaya dan Lazarus. Orang enggan berbagi sebab dia ingin memiliki sebanyak mungkin kekayaan. Dia hanya berpikir tentang dirinya sendiri, sehingga tega mengkorupsi milyardan rupiah meski dia sudah termasuk orang kaya. Koruptor di negara kita jumlahnya ribuan bahkan mungkin jutaan dan akan terus bertambah. Mereka merasa bahwa kekayaan negara ini harus dimiliki untuk dirinya sendiri. Maka sejauh ada kesempatan dia akan mengeruk sebanyak mungkin. Harusnya kita malu pada pemuda seperti Zuckerberg.

0 komentar:

Posting Komentar