Selasa, 14 September 2010

AKU TIDAK PUNYA WAKTU


Aku menelpon seorang teman untuk mengajaknya melakukan aktifitas yang sering aku lakukan. Beberapa waktu lalu dia menyatakan tertarik dan ingin melihat aktifitasku. Dia mengatakan kalau aku ke tempat teman-teman agar memberinya kabar siapa tahu dia dapat ikut bersamaku. Ketika aku telpon dengan agak malu dia mengatakan bahwa hari ini dia tidak bisa ikut sebab sangat sibuk. Lalu dia mengeluh akan aneka aktifitas yang harus dijalani sehingga dia merasa tidak mempunyai waktu lagi. Dia menceritakan apa saja yang dikerjakan dalam sehari. Aku membayangkan apa yang diceritakan dan memahami bahwa dia sungguh orang yang sangat sibuk. Setelah beberapa saat kami berbicara akhirnya telpon aku tutup.

Aku sering mendengar orang mengeluh, tidak punya waktu atau jadwal acara yang padat. Dia tidak memiliki waktu pribadi untuk rekreasi (dari kata re creation atau penciptaan kembali) dalam arti bukan berpergian ke tempat yang indah saja, melainkan untuk menyegarkan diri kembali sehingga memunculkan daya cipta. Orang juga kehilangan waktu untuk membangun relasi dengan sesama bahkan dengan anggota keluarga. Banyak orang merasa rumah lebih menjadi house daripada home. Akibatnya semakin banyak muncul krisis dalam keluarga, orang yang kesepian, atau menurut J J Rousseau manusia menjadi molekul yang telah lengkap dari dirinya sendiri. Bukan seperti sel yang terkait satu dengan yang lain. Bahkan orang tidak punya waktu lagi untuk menjalin relasi dengan Tuhan. Waktunya telah habis untuk berbagai kesibukan.

Salah satu tanda jaman modern adalah perkembangan tehnologi, transportasi dan komunikasi. Kedua tehnologi itu sangat membantu manusia untuk membuat dunia menjadi sebuah area yang tanpa batas dan jarak lagi. Seorang misionaris Belanda bercerita bahwa dia datang dari Belanda ke Indonesia pada tahun 1930 an dengan naik kapal dari Marseilles ke Jakarta selama 3 bulan. Kini jarak itu hanya ditempuh selama beberapa jam saja. Pada tahun 1980 an jarang sekali orang naik pesawat terbang, tapi kini bandara penuh sesak, sebab harga tiket pesawat cukup murah. Pada tahun 1980 an masih sedikit sekali orang yang mempunyai telpon, tapi sekarang hampir semua orang menggenggam telpon kemana saja dia pergi. Penemuan aneka mesin membuat kerja manusia menjadi lebih ringan dan cepat.

Tapi anehnya ternyata kecanggihan segala tehnologi, yang seharusnya membuat kerja manusia menjadi lebih ringan dan cepat sehingga dia mempunyai waktu luang lebih banyak ternyata membuat manusia kehilangan waktu. Lalu kita bisa bertanya mengapa semakin banyak orang kehilangan waktu? Apakah segala penemuan tidak menolong manusia untuk memiliki waktu? Ataukah manusia sudah menjadi bagian dari mesin yang terus menerus dituntut untuk berproduksi menghasilkan uang? Ataukah semakin banyak orang yang menjadi workaholic atau gila kerja?

Pada umumnya orang tenggelam dalam kesibukan sebab berusaha mendapatkan uang sebanyak yang dapat diraihnya. Dengan uang yang cukup maka dia terbebas dari kemiskinan. Dia dapat memenuhi segala yang diinginkannya. Donald Trump menulis dalam biografinya bahwa uangnya jauh dari cukup untuk membiayai hidupnya, tapi dia terus melakukan transaksi bisnis sebab dia menemukan kesenangan disana. Transaksi bisnis dianggap sebagai rekreasi, sehingga sampai larut malam pun dia masih berbisnis. Jacob Needleman, seorang profesor filsafat di San Fransisco, mendefinisikan orang miskin sebagai orang yang ingin sesuatu tapi dia tidak mampu memperolehnya. Pada jaman ini industri bukan menawarkan apa yang dibutuhkan oleh orang melainkan berusaha menciptakan sesuatu agar dibutuhkan oleh orang. Industri mendorong orang untuk mempunyai kebutuhan yang baru. Akibatnya orang berusaha memenuhi kebutuhan itu. Agar dapat memenuhinya, maka dia harus mempunyai uang. Untuk mempunyai uang maka dia harus bekerja lebih keras lagi. Dengan demikian di dunia masih banyak orang miskin meski dia sudah mempunyai banyak uang. Kemiskinan itu sedemikian parah sehingga dia tidak mempunyai waktu. Dia tidak punya waktu pribadi.

0 komentar:

Posting Komentar